Search This Blog

Tuesday, April 30, 2013

31 Tahun Transmigran Jawa di Gayo

31 Tahun Transmigran Jawa di Gayo  

31 Tahun Transmigran Jawa di Gayo  
Kawasan transmigrasi yang baru dibuka di Desa Tinauka, Rio Pakava, Donggala, Sulawesi Tengah. ANTARA/Basri Marzuki
TEMPO.CO, Banda Aceh - Transmigran asal Jawa memperingati 31 tahun keberadaan mereka di Kecamatan Jagong Jeget, dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah. Kawasan yang dulunya rimba raya telah berubah menjadi daerah perkebunan kopi yang maju.

Anwar Syamsuddin, tokoh masyarakat setempat, mengenang betapa sulitnya kehidupan transmigran di sana pada tiga dekade lalu. Kini, Anwar dan keluarga transmigran yang lain telah merasakan hasil kerja keras mereka.

Menurutnya, dulu kehidupan transmigran relatif sulit tanpa dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Saat ini kehidupannya sudah maju dengan perkebunan kopi dan lainnya. "Gelombang pertama tiba di sana pada tahun 1982," kata Anwar dalam siaran pers kepada Tempo, Senin, 29 April 2013.

Anwar datang pertama kali bersama 51 orang lainnya. Kemudian disusul gelombang kedua berjumlah 50 orang, dan gelombang ketiga 48 orang, semuanya tiba di tahun yang sama.

Mereka gigih membuka hutan dan mulai merintis perkebunan. Semangat ini yang terus diwarisi dan diingat oleh generasi saat ini. "Inilah yang mendasari mengapa perlu diperingati hari jadi kawasan transmigrasi Jagong Jeget," katanya

Para transmigran cepat berbaur dengan masyarakat di sana, bahu-membahu membangun kawasan tersebut. Setelah berkembang, kawasan Jagong Jeget dimekarkan dari kecamatan Linge pada tahun 2006.

Menurut Camat Jagong Jeget, Fauzan, saat ini daerah perkebunan kopi itu memiliki jumlah penduduk sebanyak 9.439 jiwa yang tersebar di 12 kampung

Beberapa kegiatan yang menandai peringatan hari jadi transmigrasi Jagong di antaranya penaburan benih ikan sebanyak 3.000 ekor jenis nila dan 200 ekor lele bertempat di telaga Lut Kucak Jagong. Kemudian juga peletakan batu pertama pembangunan tugu monumen transmigrasi. "Juga penyerahan mesin penggiling padi kepada kelompok tani, serta pengobatan massal," ujarnya.

Wakil Bupati Aceh Tengah Khairul Asmara mengatakan peringatan yang diselenggarakan oleh warga transmigrasi Jagong menunjukkan eksistensi masyarakat yang telah mampu bertahan selama kurun waktu 31 tahun itu. “Kemampuan masyarakat beradaptasi, tidak hanya dari tinjauan ekonomi, tapi juga kehidupan sosial-kemasyarakatan," ujarnya.

ADI WARSIDI

No comments: