Search This Blog

Sunday, May 12, 2013

International Crisis Gropu : Ditolak atau Diterima Pusat, Partai Aceh Tetap Untung Soal Bendera Aceh




Foto: International Crisis Gropu : Ditolak atau Diterima Pusat, Partai Aceh Tetap Untung Soal Bendera Aceh

“Aceh semakin lama semakin kelihatan seperti daerah kekuasaan satu partai,” kata Jim Della-Giacoma, Direktur Program Asia untuk Crisis Group.

“Pertanyaannya adalah apakah mereka menggunakan kekuasaannya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, atau hanya untuk membangun elit baru,” tambah Giacoma. 
 
Jakarta - Kontroversi soal bendera Aceh saat ini tak hanya sedang menguji sejauh mana batas otonomi khusus tetapi juga membuat geram pemerintah pusat. Disamping itu polemik bendera ini juga meningkatkan ketegangan antar suku, menghidupkan kembali semangat pemekaran propinsi, dan menambah kekhawatiran munculnya kekerasan menjelang pemilu nasional 2014.

Untuk itu Internasional Crisis Group sebuah group yang memberikan kebijikan bagi negera-negara asing menerbitkan sebuah laporan dengan judul: Indonesia: Tensions over Aceh’s Flag (Ketegangan Seputar Bendera Aceh).

International Crisis Group (ICG) mengkaji dampak politik dari disahkannya sebuah qanun tentang Bendera dan Lambang Aceh oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) pada 25 Maret 2013. Laporan ICG biasanya dipakai para kepala negara, diplomat, inteligen, analis, serta pebisnis untuk mengetahui situasi terakhir sebuah wilayah di dunia ini.

Menurut ICG pengesahan bendera merupakan peresmikan bendera bekas gerakan pemberontak GAM (Gerakan Aceh Merdeka) menjadi bendera resmi propinsi Aceh. Pemerintah pusat menganggap qanun ini bertentangan dengan sebuah peraturan pemerintah yang melarang penggunaan simbol-simbol separatis, oleh karena itu harus diubah.

Sementara itu, Partai Aceh, partai politik lokal yang dibentuk oleh para petinggi GAM, mengatakan bendera itu tidak dapat dikatakan bendera separatis sejak pemimpin GAM menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah Indonesia di Helsinki tahun 2005 dimana tercantum pengakuan terhadap kedaulatan Republik Indonesia di Aceh.

Berikut beberapa point penting dalam laporan ICG:

1. Partai Aceh merasa tidak perlu berkompromi karena para petingginya yakin Jakarta akan tunduk pada keinginannya seperti tatkala pilkada gubernur tahun lalu. Partai Aceh juga ingin memanfaatkan kekuatan emosional yang sangat besar dari bendera Aceh untuk memobilisasi pemilih untuk pemilu 2014.

2. Apapun yang dilakukan Jakarta, Partai Aceh akan menang. Kalau Jakarta menolak bendera Aceh, Partai Aceh bisa menjadi populer di mata para pendukungnya, karena menentang pemerintah pusat. Sebaliknya, kalau pemerintah pusat menerima bendera Aceh, Partai Aceh menjadi yakin bahwa bersikap ngotot akan membawa hasil, dan kemungkinan para petingginya kemudian akan menuntut untuk mendapat lebih banyak wewenang.

3. Partai Aceh saat ini sedang membangun kendalinya secara sistematis terhadap lembaga-lembaga politik di propinsi Aceh, sehingga  makin susah mendepak mereka melalui pilkada di masa depan. Mereka sudah menguasai lembaga eksekutif dan legislatif di tingkat propinsi, dan di banyak kota dan kabupaten.

4. Partai Aceh juga sedang mengerahkan pengaruhnya terhadap  pegawai negeri sipil dan Komisi independen Pemilu (KIP) Aceh. Partai ini juga mengendalikan sebuah lembaga baru, yaitu Wali Nanggroe, yang dibentuk untuk melindungi nilai-nilai dan budaya masyarakat Aceh.

“Perdebatan ini lebih dari sekedar soal apakah bendera Aceh merupakan simbol separatis. Sesungguhnya perdebatan ini adalah tentang kemana Aceh akan menuju dan akan seperti apa hubungannya dengan Jakarta,” kata Sidney Jones, penasihat senior program Asia untuk Crisis Group. 

GAYO Nusantara.

Tuntutan Sosial Ekonomi dan Dampak Global Warming

Tuntutan Sosial Ekonomi dan Dampak Global Warming

(Oleh: Lentina Sitohang)
Kesehatan akan tercipta jika kita hidup di lingkungan yang bersih. Namun, di era globalisasi ini, kita sulit untuk menemukan lingkungan yang bersih  tersebut dan kebanyakan masalah lingkungan sekarang ini datangnya dari diri kita sendiri. Kita terlalu berambisi dengan kegiatan sosial ekonomi yang kita kerjakan, sehingga kita lupa atau bahkan tidak tahu-menahu mengenai dampak terhadap lingkungan. Buruknya lingkungan tersebut akan berpengaruh terhadap bumi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Persoalan global yang dihadapi masyarakat di dunia sekarang ini adalah global warming. Di saat bumi menerima energi yang dipancarkan oleh matahari akan menjadi hangat dan akan menjadi dingin jika melepaskan energi ke ruang angkasa. Apabila energi berada dalam keseimbangan, suhu bumi juga akan tetap stabil. Jika konsentrasi gas di udara (gas rumah kaca) yang berfungsi mencegah lepasnya energi ke ruang angkasa meningkat, terjadilah ketidakseimbangan dan suhu permukaan bumi akan meningkat. Meningkatnya  suhu rata-rata bumi berakibat pada melonjaknya jumlah penyakit menular seperti malaria, flu, demam kuning, dan lain-lain.
Global warming disebabkan oleh kegiatan manusia yang mengasilkan emisi gas rumah kaca dari industri, kendaraan bermotor, pembangkit listrik bahkan menggunaan listrik berlebihan. Sadar atau tidak, pemanasan global dan dampaknya bagi kesehatan kita terjadi atas perbuatan kita sendiri. Kita dapat menilik lingkungan sekitar kita pada saat ini. Hampir semua orang telah memiliki kendaraan bermotor mulai dari perkotaan hingga pedesaan, dan mulai dari para pekerja hingga para pelajar. Kendaraan bermotor kini tidak hanya digunakan untuk bepergian jauh, bahkan untuk pergi ke rumah tetangga sebelah saja harus menggunakan kendaraan bermotor. Sungguh boros, dan cueknya kita akan kebersihan lingkungan.
Kita juga telah melihat begitu banyak gedung yang berlomba-lomba untuk mencapai langit biru, dan begitu banyak lahan pepohonan yang ditebang hanya untuk dijadikan lahan pembangunan perusahaan/pabrik. Tidak masalah jika perusahaan/pabrik tersebut bersenyawa dengan alam, akan tetapi jarang sekali ada perusahaan yang demikian. Karena rata-rata perusahaan di negara kita ini, pasti mengakibatkan polusi atau limbah.
Nitrogen oksida dan hidrokarbon  yang dilepaskan dari kendaraan bermotor dan pabrik merupakan polutan primer dimana oksidan foto kimia ini memiliki sifat keasaman yang tinggi, dalam konsentrasi tinggi memberikan rangsangan pada mata atau tenggorokan, mengganggu organ pernafasan, dan juga pada produk pertanian.
Selain itu, asap rokok dan kotoran hewan juga sangat berpengaruh dalam pemanasan global. Asap rokok kini banyak ditemui di lingkungan kita, karena mulai dari orang dewasa hingga anak-anak sudah mengkonsumsi rokok. Padahal rokok  mengandung berbagai zat berbahaya seperti benzo-α-pyrene dan formaldehid yang dapat menimbulkan bermacam-macam penyakit seperti gangguan pernafasan, penyakit jantung dan kanker paru-paru. Kotoran hewan membantu meningkatkan efek rumah kaca dan mengakibatkan pemanasan global yang sangat berdampak besar bagi lingkungan dan kesehatan kita.
Beberapa  hal di atas merupakan sedikit penyebab pemanasan global dalam kehidupan kita sehari-hari, dan yang harus segera dicari jalan keluar guna mengatasinya. Apakah pernah terpikir dalam benak kita bagaimana cara mencegah atau meminimalisasi pemanasan global ini? Atau kita hanya berpikir bagaimana cara termudah untuk mencari kebahagiaan semata tanpa mengingat kesehatan kita?
Pemanasan global sudah dianggap oleh banyak orang sebagai masalah besar yang harus segera diatasi secara kolektif, pemerintah harus bekerja sama dengan mempromosikan kesadaran lingkungan kepada masyarakat, bagaimana mereka memberikan kontribusi dalam upaya mengatasi situasi yang amat serius ini tanpa mementingkan diri sendiri. Karena pemerintah juga memiliki tanggung jawab dalam melindungi bumi dan generasi kita mendatang.
Dalam tulisan (Belantara Indonesia.2013. 10 Dampak Pemanasan Global. 25 April 2013) dikatakan bahwa : “Akibat Global Warming, sedikitnya 2000 pulau kecil di kepulauan Indonesia mungkin akan hilang sebelum yahun 2030 dan hal ini diperparah sebagai konsekuensi penambangan liar dan aktivitas lain yang merusak lingkungan. Indonesia hingga saat ini telah kehilangan sedikitnya 24 dari 17.500 pulau – pulau di wilayahnya.”
Setiap orang dapat memberikan kontribusi dengan cara sederhana kita masing-masing dalam mencegah atau meminimalisasi pemanasan global ini. Kita harus memulainya dari diri kita sendiri, lingkungan kecil kita sendiri, misalnya mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, merokok lah jika tidak mengganggu orang-orang di dekat kita, dan manfaatkanlah kotoran hewan sebagai pupuk organik.
Andaikan saja kita dapat mendengar jerit tangis generasi penerus kita, dan andai saja kita dapat menerawang kondisi bumi kita di masa yang akan datang, kita pasti akan segera mencegah akibat dari pemanasan globalisasi ini. Jikalau pun tidak demikian, seharusnya kita tetap bertindak mencegah atau meminimalisasikannya, Ibarat pepatah mengatakan “sediakan payung sebelum hujan”.
Indonesia terletak di garis khatulistiwa, merupakan negara yang pertama sekali akan merasakan dampak global warming. Dampak tersebut telah dirasakan yaitu pada 1998 menjadi tahun dengan suhu udara terpanas dan semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Banyak orang memperkirakan bahwa 20 tahun ke depan Indonesia akan tenggalam akibat kenaikan permukaan air laut.
Nah, sebelum hal itu terjadi, mari kita bersama-sama atasi global warming dengan melakukan penghematan energi listrik, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, menghentikan penebangan dan pembakaran hutan, mengurangi hisap rokok bagi pecandu, dan menjaga kelestarian lingkungan kita, agar tercipta kesehatan yang baik.
Dalam penyerahan 5.000 bibit pohon di Aceh Timur pada Jumat, 28 April 2013, Aris Jatmiko mengatakan; “Mengatasi global warming jangan hanya didengungkan saja tanpa berbuat sesuatu”. Maka dari itu, mari kita melakukan gerakan perubahan. Kebahagiaan tanpa memikirkan kesehatan hanya dapat kita rasakan sekejap saja. Untuk apa kita bersusah payah mencari kekayaan atau kesuksesan, jika kesehatan kita harus kita pertaruhkan. Semua yang kita kerjakan sama saja dengan nihil. (op)
(Penulis adalah Mahasiswi Teknik Kimia, Universitas Malikussaleh)

Mantan Gerilyawan GAM Asal Papua

Mantan Gerilyawan GAM Asal Papua

Abdul Halim alias Ayah Papua

KONFLIK Aceh telah 7 tahun berakhir. Namun masih banyak kisah haru, heroik, dan sisi-sisi kemanusiaan yang belum terungkap. Salah satunya adalah tentang sosok Abdul Halim (52) alias Bang Yan alias Ayah Papua. Mungkin ia menjadi satu-satunya putra Papua yang berjuang di hutan Aceh.

Kini, saat Aceh mulai damai, ia memendam hasrat untuk memberi contoh kepada keluarga dan teman-temannya di tanah Papua, tentang bagaimana berjuang mengangkat harkat dan martabat rakyat Papua, tanpa harus lagi mengorbankan nyawa manusia.

Terlahir dari Keluarga Pendiri OPM

GAYA bicaranya blak-blakan, logat bahasa Indonesianya masih seperti orang Papua. Jika bukan dari gaya bicaranya, orang tidak menyangka kalau pria berperawakan kecil ini adalah orang Papua asli. Apalagi, rambut kriwil khas Papua, tertutup oleh topi pet berbahan campuran kain dan karet di kepalanya.

"Saya lahir di Manokwari, tanggal 21 Juli 1950, dari keluarga pejuang OPM (Organisasi Papua Merdeka). Ayah saya, Pieter Bonsapia adalah salah satu pendiri OPM," ujar Abdul Halim alias Ayah Papua, dalam bincang-bincang dengan Serambi di sebuah warung kopi, di Uleekareng, Banda Aceh, Sabtu (21/1).

Ia menyeruput kopi dalam-dalam. Rokok kretek merek Dunhill nyaris tidak pernah lepas dari celah dua bibirnya. Padahal, asbak di depan kami nyaris sudah penuh dengan puntung rokok miliknya.

Baru setengah jam duduk, dia sudah minta tambah satu gelas kopi lagi kepada pelayan warung. "Kami di Papua biasanya minum kopi dalam gelas besar," kata dia sambil memeragakan ukuran gelas dengan tangannya.

"Bukan 'kopi' dalam botol?" goda temannya yang juga mantan aktivis GAM. "Kadang-kadang juga," sahut Ayah Papua sambil cengar cengir.

Ayah Papua memang sosok yang enak diajak bicara. Meski baru kenal, dia langsung bisa akrab dan bercerita panjang lebar tentang kisah hidupnya. Mulai dari saat SMA di Sorong, hingga kisah-kisah heroik saat harus bergerilya di Aceh masa konflik dulu.

Sebagai putra pejuang, Ayah Papua sudah biasa ditinggal pergi oleh ayahnya. "Pada tahun 1974, ayah saya hijrah ke Vanuatu, dan mulai saat itu beliau kerap keluar masuk Papua-Vanuatu melalui jalur ilegal," ungkapnya.

Meski kerap ditinggal pergi ayahnya, tak membuat Abdul Halim tertinggal dari segi pendidikan. Selepas SMA di Sorong (kini Papua Barat), Abdul Halim melanjutkan pendidikannya ke Akademi Ilmu Pelayaran Surabaya. Namun, Halim hanya bertahan selama dua tahun. Ia kemudian memutuskan pindah ke Institut Ilmu Pemerintah (IIP) di Jakarta. Namun, lagi-lagi Halim hanya sanggup bertahan selama dua tahun. "Saya baru mendapat sarjana setelah ambil persamaan di Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang," ujarnya.

Ijazah S-1 dari Politeknik Semarang itu tidak disia-siakannya. Dengan dasar tersebut, Halim melanjutkan kuliah untuk mengambil spesialisasi bidang Well Control di University Austin Texas, Amerika Serikat.

Selepas dari Texas, Abdul Halim alias Ayah Papua, mulai bekerja di Continental Oil Company (Conoco), sebagai tenaga bidang pengeboran minyak lepas pantai. Pekerjaan ini lah yang mengantarnya bersentuhan dengan Aceh. "Tahun 1979, saya menikah dengan gadis Aceh Rosdiana Juned, di Tapanuli Selatan. Kami kenal di sana (Tapsel)," ujarnya.

Setahun di Tapsel, Abdul Halim dikontrak oleh perusahaan pengeboran minyak Mobil Oil untuk ditugaskan di wilayah Aceh Timur. Di sinilah dia mulai bersentuhan dengan para aktivis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). "Saat itu saya mulai tertarik dengan perjuangan mereka (GAM), tapi saya belum terlibat aktif," ujarnya.

Bergerilya di Rimba Aceh

Baru pada tahun 1986, dia mulai mencoba-coba aktif di GAM dengan tugas pertama sebagai petugas di bidang komunikasi (radio). Meski mulai aktif di GAM, Abdul Halim tetap menjalani tugas rutinnya yang pada tahun 1987 menjadi staf pengeboran di perusahaan Medco, subkontrak Mobil Oil di bidang pengeboran.

"Keterlibatan saya di GAM bukan serta merta, melainkan melalui sebuah pemikiran cukup panjang. Akhirnya saya ambil kesimpulan bergabung karena menurut saya ini adalah perjuangan mulia, untuk mengembalikan harkat dan martabat rakyat Aceh," ujarnya.

Keputusan Ayah Papua bergabung dengan GAM bukan tanpa konsekwensi, saat pemberlakuan status Daerah Operasi Militer (DOM) pada tahun 1989, Ayah Papua harus meninggalkan pekerjaan yang baru satu tahun digelutinya di Medco.

"Pada tahun 1989 saya hijrah ke Malaysia, dan baru kembali menjelang satu tahun pencabutan status DOM (1998). Setelah status DOM dicabut, kami kembali aktif membangun kekuatan dengan di bawah komando Analfiah Julok.

Sejak itu, berbagai kisah heroik dialaminya. Sebagai pejuang Ayah Papua, jarang berkumpul dengan keluarganya. Kondisi Ayah Papua Cs semakin terjepit saat pemerintah RI menetapkan status Darurat Militer pada tahun 2003.

"Saat itu kami kerap keluar masuk Aceh. Kebanyakan dari kami membuat basis di Kerinci, Jambi. Banyak dari teman-teman kami meninggal di medan perang. Alhamdulillah, saya masih dilindungi, hingga bisa menikmati perdamaian saat ini," ujarnya mengenang.

Dua dari tujuh anaknya (2 perempuan 5 laki-laki), juga aktif di GAM. "Satu orang TNA (tentara GAM) dan satu lainnya sipil," terang dia.

Panggilan Ayah Papua

Saat tsunami menerjang Aceh 26 Desember 2004, Ayah Papua menjadi salah satu orang pertama yang paling terpukul. Tanpa memedulikan statusnya sebagai buronan aparat keamanan, Ayah Papua bekerja keras untuk mengevakuasi mayat-mayat yang berserakan di seputar Banda Aceh dan Aceh Besar.

"Saat itu, banyak relawan datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka lebih suka memanggil saya Ayah Papua. Padahal nama saya Abdul Halim, sementara saat konflik dulu, saya dikenal dengan nama Sofyan atau Bang Yan," ujarnya.

Aceh dan Papua Kerangka Indonesia

SEJAK menetap di Aceh pada tahun 1980, Abdul Halim alias Ayah Pupua telah melewati berbagai pengalaman hidup yang akan diceritakan kepada anak cucunya kelak. Tentang bagaimana ia meninggalkan pekerjaannya di perusahaan minyak, untuk kemudian keluar masuk hutan dengan memanggul senjata. Juga tentang bagaimana ia memunguti mayat para korban konflik dan korban bencana tsunami terdahsyat di abad ini.

Meski usianya sudah berkepala lima, bukan berarti Ayah Papua tidak lagi punya cita-cita. "Saya memendam hasrat untuk membagikan ilmu tentang perdamaian di Aceh ini kepada teman-teman di Papua. Bahwa berjuang itu tidak mutlak dengan senjata. Sudah cukup mereka berjuang puluhan tahun dengan senjata, kini saatnya mereka harus berjuang melalui jalur politik, seperti yang dilakukan teman-teman saya di Aceh," ujarnya.


Ia berpendapat, perdamaian Aceh yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, bukan saja telah menyelamatkan nyawa ribuan rakyat Aceh dan Indonesia. Tapi, perdamaian yang melahirkan butir-butir kesepahaman (MoU) Helsinki dan Undang-undang Pemerintah Aceh (UUPA), juga telah mengangkat harkat dan martabat rakyat Aceh.

"Orang-orang Aceh yang dulu terpinggirkan dan tinggal di desa-desa, kini telah bisa menjadi pemimpin formal yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia. Hasil perjuangan ini juga melahirkan para pemuda kritis dan pintar. Ini merupakan aset bagi Aceh untuk bisa berbicara lebih banyak lagi di tingkat nasional," ujarnya.

"Saat delegasi masyarakat adat Papua dan DPR Papua berkunjung ke Aceh beberapa waktu lalu, saya menyerahkan dokumen MoU Helsinki dan UUPA. Saya bilang, generasi Papua harus banyak belajar ke Aceh, harus banyak orang Papua datang melihat Sabang. Jangan hanya melihat Mereuke saja. Mereka harus sadar bahwa Aceh dan Papua adalah kerangka berdirinya Indonesia," tambah dia.

Pendapat bahwa Aceh dan Papua adalah kerangka Indonesia, kata Ayah Papua, didasarkan pada lirik lagu "Dari Sabang Sampai Mereuke" ciptaan R. Surarjo. Lirik yang dimaksudnya;

"Dari Sabang sampai Merauke, Berjajar pulau-pulau,...
"Sambung-menyambung menjadi satu Itulah Indonesia...."

"Dari lagu itu jelas bahwa pemilik Indonesia sesungguhnya adalah Aceh dan Papua, yang lainnya numpang. Makanya, saya selalu bilang, kalau mau memperbaiki Indonesia, maka perhatikan dulu Aceh dan Papua. Selama ini pemerintah hanya membangun wilayah tengah saja. Sedangkan kerangkanya (Aceh dan Papua) diabaikan. Apa tidak hancur bangsa ini," ujarnya penuh semangat.

Atas dasar itu pula, saat ini Ayah Papua sedang mencoba menjajaki memfasilitasi perdamaian di Papua melalui Interpeace, lembaga yang hingga kini masih mengawal perdamaian di Aceh. Dia akan mengajak para pemuda Aceh untuk menurunkan ilmunya kepada masyarakat di Papua.

"Mereka (warga Papua) harus meningkatkan harkat dan martabat bangsa Papua, tidak hanya sekedar berani mati. Kalau modal nekat, sudah dimiliki pejuang di Papua. Sekarang tinggal dikombinasikan dengan ilmu politik yang mumpuni," katanya.

Lalu apakah kondisi Aceh saat ini sudah cukup ideal?

"Belum, masih butuh perjuangan panjang. Tapi saya pikir, Aceh sudah lebih baik daripada Papua. Saya pikir, yang perlu dilakukan di Aceh setelah proses reintegrasi selesai, adalah regenerasi. Secara perlahan, para pemimpin Aceh harus menyerahkan tongkat kepemimpinan di beberapa bidang kepada para pemuda. Sehingga suatu hari nanti, mereka benar-benar telah siap memimpin dan mewujudkan kesejahteraan, serta mengangkat harkat dan martabat rakyat Aceh," ujarnya.

Ayah Papua yang kini aktif di Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Aceh ini juga punya saran kepada pemerintah pusat untuk tidak mengabaikan aspirasi dari para mantan kombatan GAM.

"Perjuangan hari ini adalah perjuangan dengan konsentrasi dan penuh perdamaian. Jadi bangsa ini tolong hargai aspirasi mereka. Sebab kalau tidak dihargai, kita akan membuka ruang bagi terjadinya upaya penghancuran kerangka Republik ini," tukas Ayah Papua.

Mengomentari tentang aksi penembakan yang marak terjadi di Aceh beberapa waktu lalu, Ayah Papua mengaku tidak yakin kalau aksi itu dilakukan oleh para mantan kombatan. Apalagi sampai dikait-kaitkan dengan sentimen anti-Jawa di Aceh.

"Saya sudah merasakan saat bergabung dengan GAM, tidak ada perbedaan ras dan warna kulit. Semua penduduk ber- KTP Aceh punya kesempatan yang sama untuk berkiprah di partai Aceh. Jadi kami para mantan kombatan, tidak pernah anti dengan pendatang. Bahkan banyak kombatan berasal dari suku Jawa," tukas Ayah Papua.[]

(*/Laporan Wartawan Serambi Indonesia Zainal Arifin M. Nur) | Minggu, 22 Januari '12

Teroris Sengaja Diciptakan?

Teroris Sengaja Diciptakan?

Jakarta - Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Indra mengkritisi operasi pemberantasan terorisme yang dilakukan tim Densus 88 Anti Teror. Indra menuding Densus selama ini sengaja menciptakan terorisme lantaran jaringan kelompok teroris tidak pernah berkurang dari waktu ke waktu.
“Sejak program terorisme digulirkan, teroris itu malah makin banyak, bukannya berkurang. Ini ada apa. Salah penanganan atau teroris memang sengaja diciptakan?” ujar Indra di Jakarta, Sabtu (11/5/2013).
Indra melihat, penggerebekan teroris layaknya drama yang sengaja dipertontonkan. Aksi tembak menembak selama delapan jam dalam penggerebekan di Bandung, Jawa Barat pun dinilainya sangat ganjil lantaran ketika itu Densus dipersenjatai lengkap dibandingkan kelompok teror yang bersembunyi.
Adanya dugaan bahwa sel-sel teroris sengaja diciptakan, kata Indra, juga dibuktikan dari banyak laporan masyarakat kepada Komisi III DPR yang memprotes aksi yang dilakukan Densus 88. Masyarakat protes sanak keluarganya dilibatkan dalam jaringan teroris.
“Apalagi Densus juga melakukan penembakan terhadap terduga teroris, jadi kita tidak tahu apa itu benar teroris atau bukan. Dengan dia tertangkap hidup-hidup, maka polemik publik akan terjawab,” tukas Indra.
Diberitakan sebelumnya, Densus 88 melakukan penangkapan di sejumlah lokasi sejak Selasa (7/5/2013). Lokasi tersebut antara lain Jakarta, Tangerang Selatan, Bandung, Kendal, dan Kebumen. Total terduga teroris yang diringkus sebanyak 20 orang, dan 7 orang di antaranya tewas. Penangkapan kemudian berlanjut di Lampung sebanyak empat terduga teroris.
Dari serangkaian penangkapan itu, Densus 88 juga menyita sejumlah senjata api, bom rakitan, hingga uang tunai. Pimpinan kelompok teror ini adalah Abu Roban alias Untung alias Bambang Nangka. Abu Roban juga disebut terlibat perampokan di BRI Batang, Jawa Tengah. Hasil perampokan diduga untuk mendanai aksi teror.
Abu Roban diketahui terkait DPO teroris Poso yang saat ini paling dicari Densus 88, yakni Santoso. Abu Roban tewas ditembak dalam penangkapan di Batang, Jawa Tengah, Rabu (8/5/2013).
Sumber: Kompas.com

85% Produksi Migas RI dikuasai Perusahaaan Asing

85% Produksi Migas RI dikuasai Perusahaaan Asing


Banyak tudingan lahan minyak dan gas bumi (Migas) di Indonesia dikuasai perusahaan asing. Namun ternyata, sebanyak 49% sumur migas Indonesia dikuasai oleh Pertamina dan semuanya masih perawan alias belum digali maksimal.

"Sebanyak 49% lahan migas yang ada di Indonesia saat ini dikuasai semua oleh Pertamina, dan semua lapangan migasnya saat ini masih virgin (perawan)," kata Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini ketika berkunjung ke Kantor Trans Corp, Jakarta.

Tapi, ujar Rudi, saat ini 85% produksi migas nasional masih disumbang oleh kontraktor-kontraktor multinasional atau asing seperti Chevron, Total E&P, Conoco, Mobil Cepu, Vico, dan lainnya.

"Dari produksi minyak nasional 840.000 barel per hari, sebanyak 39,7% disumbangkan oleh Chevron. Di gas bumi, terbesar dari Total sebesar 20,8% atau 1.93,98 juta kaki kubik per hari (mmscfd)," ungkapnya.

Mengapa Pertamina menguasai 49% ladang migas di Indonesia, namun produksinya baru 15% atau baru 120.000 barel per hari?

"Ya karena ladang migasnya masih virgin semua, semua sumur-sumur migas yang diproduksi Pertamina baru 20-30% saja (digali), sedangkan sumur minyak kontraktor multinasional seperti Chevron, Cepu dan lainnya sudah 70-80% jadi pantas produksinya besar," ungkap Rudi lagi.

Rudi mengatakan, apabila Pertamina menerapkan teknologi pengeboran lebih canggih seperti menggunakan teknologi EOR (injeksi sumur dengan gas), maka produksi migas Pertamina bisa lebih besar.

"Makanya kedepannya hanya kepada Pertamina produksi minyak nasional bisa berharap, sementara kontraktor lainnya hanya mempertahankan produksi minyak saja, kalau pakai teknologi EOR produksi minyak Pertamina bisa naik dari 120.000 barel per hari bisa mencapai 250.000-300.000 barel per hari," tandasnya. Demikian lansir detikfinance.