Search This Blog

Tuesday, November 26, 2013

Banyak Situs Sejarah Dimusnahkan Seharusnya pelajaran sejarah aceh dimasukkan dalam kurikulum agar generasi aceh tak lupa akan sejarah

Banyak Situs Sejarah Dimusnahkan
Seharusnya pelajaran sejarah aceh dimasukkan dalam kurikulum agar generasi aceh tak lupa akan sejarah

Banyak Situs Sejarah DimusnahkanStasiun Kereta Api di Gle Kameng Tahun 1875. foto.ist
BANDA ACEH- LPSA (Lembaga Patner Survei Aceh) mengadakan seminar kebudayaan di Aula serbaguna Pasca Sarjana IAIN Ar Raniry, Selasa (8/10).
Kegiatan yang diikuti puluhan peserta ini mengangkat tema Mempertahankan budaya Aceh sebagai wujud adanya keberagaman budaya di Indonesia, dan kearifan lokal sebagai aset budaya bangsa dan implementasinya dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Menurut Muhajir Al Fahruzy pengurus MAA Provinsi Aceh, orang Aceh selama ini suka melupakan sejarah. Banyak gedung-gedung peninggalan sejarah seperti Hotel Aceh, rumah Snouck Hurgronje di Peulanggahan, tempat pembuatan sirup cap patung di depan Masjid Raya dan lain-lain dirusak.
“Banyak peninggalan sejarah hanya tinggal nama, tidak ada bentuk fisik yang dapat kita lihat lagi sekarang,” ujarnya.
Muhajir berharap, jangan terjebak dengan asimilasi budaya lain, kita orang Aceh harus bangga dengan budaya Aceh bukan dengan budaya Korea atau lainnya.
Selain itu ada beberapa kajian budaya yang juga dijelaskan dalam seminar tersebut. Bagaimana menjaga identitas ke-Aceh-an agar mendunia. Misalnya, bahwa Islam di Aceh memiliki kebudayaan tersendiri yang tidak mengambil budaya orang lain yang dijadikan dalam budayanya.
Seperti yang dijelaskan Thayeb Loh Angen, Islami tidak harus Arabi. “Aceh memiliki kebudayaan sendiri, seperti rumah, pakaian, kesenian, makanan yang asli dari kebudayaan Aceh tersendiri,” ujarnya.
Ia manambahkan, semua itu sudah terstruktur dengan baik sejak dulu. Jika diperhatikan, rumah Aceh didesain sedemikian mungkin dengan nilai-nilai Islami.
“Ini dapat kita lihat dengan adanya guci di sebelah kanan tangga, menunduk saat masuk ke rumah untuk menghormati pemilik rumah, serta tentunya rumah adat Aceh yang menghadap kiblat, dan masih banyak makna-makna lainnya,” jelas dia.
Untuk menjaga identitas ke Acehan agar tetap ada Thayeb berharap, kurikulum di sekolah sejak SD hingga ke Perguruan Tinggi agar memasukkan pelajaran tentang sejarah Aceh. Sehingga para generasi penerus tahu dan mengerti dengan baik akan budaya Aceh yang orisinil.
|ZULHADI SENTOSA
Berita Terkait:
  1. Kongres Kebudayaan: Budaya Mayoritas Dipaksa Jadi Budaya Indonesia
  2. Tangloeng Dance Festival Ke II Se-Aceh Digelar Februari Mendatang
  3. Ketua LPSK: Hak Korban HAM di Indonesia Belum Dipenuhi
  4. 7 rekomendasi perihal tata ruang Aceh
  5. Pemuda Aceh Ikut Kongres Budaya di Jogyakarta
  6. Sepekan dalam Sejarah Bersama Adab
Post a Comment