Search This Blog

Tuesday, November 26, 2013

Antara Kebon Jahe Hingga Kutaraja

Antara Kebon Jahe Hingga Kutaraja

 
 
 
 
 
 
1 Votes

Lokasi Museum Taman Prasasti (Dok. Pribadi) SEBENARNYA cerita ini sudah saya tulis sejak beberapa hari lalu, menyambung sekelumit sejarah seorang jenderal dari Belanda yang punya kisah misterius saat akhir hidupnya.
Johan Harmen Rudolf Köhler atau JH Köhler yang lebih banyak diketahui orang hingga kini belum jelas apakah benar dia mati tertembak atau tertusuk oleh pedang (klewang) warga Gampong Kleng pada masa itu.
Kisah itu telah saya tulis pada dalam tulisan sebelumnya, sampai-sampai saat saya berada di Jakarta tidak menyia-nyiakan waktu untuk berkunjung ke bekas kuburannya di Museum Taman Prasasti (MTP) atau dulunya disebut Kebon Jahe Kober, yang ada sekitar tahun 1795.
Mungkin bagi Anda yang telah familiar dengan wisata museum, tentu sudah sering mendengar sejarah MTP yang terletak di jalan Tanah Abang I, Jakarta Pusat ini. Dari sejumlah artikel dan tulisan di internet sangat banyak menceritakan kisah hadirnya tempat pemakaman kuno dunia ini dengan berbagai macam koleksi prasasti dan bangunan yang bergaya Doria.
MTP yang termasuk dalam Taman Pemakaman Umum resmi tertua di dunia tersebut memang telah menjadi warisan sejarah dan budaya Indonesia, jika kondisinya dulu yang mempunyai luas 5,5 hektar bertahan hingga saat ini tentu nilai-nilai sejarah masih sangat melekat dengan museum di pusat kota.
Namun, apa yang tertinggal kini dengan perlbagai koleksi nisan-nisan atau prasasti dengan gaya klasik, bahkan Hindu-Jawa serta Yahudi membuat kehilangan ‘roh’ aslinya jika dibandingkan dengan apa yang ada di Peutjut (Pocut) Kerkhoff (halaman gereja) Banda Aceh.
Semua kisah sejarah itu saat ini sangat mudah untuk Anda dapatkan, tinggal rajin-rajin mencari mana yang benar dan mana yang asli. Karena seperti apa yang terjadi sama JHR Köhler tentu membuat saya ingin tahu sedikit saja, bahwa rakyat Aceh memang tidak ingin sang jenderal di bawa pulang dan dikuburkan di Batavia waktu itu, sehingga akhirnya dari Kebon Jahe dibongkar lagi dan disemayamkan ulang di Kutaraja pada tanggal 19 Mei 1978.
Konon, kisah pembongkaran kuburan JHR Köhler yang sering beredar juga sering menyebutkan proses pemindahan dilakukan karena terjadi perluasan kota yang kini membuat MTP hanya meninggalkan sisa area 1,2 hektar.
Walaupun banyak kisah sejarah, tapi bagi saya perjalanan menyusuri kematian sang jenderal belum berakhir karena beberapa referensi baru masih perlu terus digali.
Sebelum kita menutup lembaran hidup, ada baiknya juga kita menulis sejarah apa yang pernah kita rasa, kita dengar, dan kita coba lihat dengan mata kepala sendiri.
Dalam bahasa Belanda kuno mengatakan SOO GY. NU SYT.WAS.IK VOOR DEESEN DAT.JK, NV BEN SVLT GY OOK WEESEN yang kira-kira artinya “Seperti Anda sekarang, demikianlah Aku sebelumnya. Seperti Aku sekarang, demikianlah juga Anda kelak”. Dan tulisan itu berukir pada salah satu prasasti yang memberikan arti, bahwa sebelum kita meninggalkan dunia fana ini akan terukir sejarah. Berarti atau tidak sejarahnya itu adalah kita yang bisa menentukan sekarang ini.[]
About these ads
Post a Comment