Search This Blog

Saturday, December 14, 2013

Penyebaran Islam ke Asia Tenggara

                                            Penyebaran Islam ke Asia Tenggara

Umat Islam merupakan penduduk mayoritas Asia Tenggara, menurut para ahli, islamisasi di kawasan ini berlangsung secara damai dan melalui proses panjang yang masih terus berlangsung sampai sekarang. Menurut sumber sejarah lain, masa awal sejarah Islam di Asia tenggara masih rumit. Karena, terdapat perbedaan-perbedaan dasar di kalangan para ahli dalam mengkaji Islam di Asia Tenggara, yang kadang-kadang sulit dipertemukan satu sama lain.
Ditinjau dari aspek daerah Asia Tenggara yang berperan sebagai salah satu jalur perdagangan yang diminati oleh para pedagang. Jalur perdagangan itu masyhur dikenal sebagai jalur sutra laut yang membentang dari mulai Laut Merah – Teluk Persia – Gujarat – Bergal – Malabar – Semenanjung Malaka – hingga ke Cina.
Keseluruhan perjalanan sejarah umat Islam di Asia Tenggara  telah menyebabkan terjadinya pergumulan sekaligus akulturasi dan asimilasi dengan budaya lokal. Ketidaksesuaian antara Islam dengan elemen-elemen adat atau tradisi lokal yang ada, telah menimbulkan konflik. Namun, dengan adanya konflik teersebut, juga membuahkan budaya baru yang dinamis dan unik yaitu peradapan Islam di Asia Tenggara.
Sejarah Penyebaran Islam di Asia Tenggara
Kawasan laut Asia Tenggara, khususnya Selat Malaka, telah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan internasional. Mulai abad VII dan VIII ( abad I dan II Hijriyah ), para muslim dari Persia dan Arab sudah turut serta dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan sampai ke negeri China.
Muslim pertama, Sa’ad bin Abi Waqash, adalah seorang mubaligh dan sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia adalah pembawa agama Islam sekaligus pendiri masjid di Canton.
Apabila gambaran tentang kedatangan Islam di Asia Tenggara sejak abad VII sampai abad XI banyak berdasarkan berita-berita Cina, bukti-bukti arkeologis mengenai hal yang sama dikuatkan oleh penemuan beberapa nisan yang diperkirakan berasal dari abad XI. Sebagaimana, nisan itu bertuliskan huruf Arab dan nisan yang lain tulisannnya mirip tulisan Jawi ( Arab-Melayu ). Dari bukti arkeologis itu terlihat bahwa Islam telah datang di daerah Campa dan membentuk komunitas muslim sekitar abad XI.
Kedatangan Islam sejak abad VII sampai abad XII di beberapa daerah Asia Tenggara dapat dikatakan baru pada tahab pembentukan komunitas muslim yang mayoritas terdiri dari para pedagang. Abad XIII sampai abad XVI, terutama munculnya kerajaan bercorak Islam, merupakan kelanjutan dari penyebaran Islam. Pada gelombang pertama, penyebaran Islam menghadapi masyarakat kerajaan yang bercorak Hindu-Budha, yang masyarakatnya masih memiliki struktur pemerintahan semacam desa atau kesatuan desa dengan kepercayaan dinamisme dan animisme. Pada gelombang kedua, yang dimulai sejak abad XIII, penyebaran Islam lebih mantab dan luas. Hal ini bisa dilihat pada berdirinya kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara pada abad XIII di pesisir Aceh Utara, tepatnya di Lhokseumawe.
Sejak kerajaan Samudera Pasai tubuh dan berkembang, yaitu sejak abad XIII sampai akhir abad XVI, pelayaran dan perdagagan antara muslim dari Arab, Persia, Irak, India Selatan, dan Sri langka semakin ramai. Mereka bukan hanya mendatangi ibukota Kerajaan Samuderai Pasai, tetapi juga meneruskan pelayaran dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara.
Penetrasi Islam secara kasar dapat dibagi ke dalam tiga tahap. Tahap pertama dimulai dengan kedatangan Islam yang kemudian diikuti dengan kemerosotan, akhirnya keruntuhan Kerajaan Majapahit dalam kurun abad ke-14 dan ke-15. Sejak datangnya kekuasaan kolonialisasi Belanda Indonesia, Inggris, di Semenanjung Malaya, dan Spanyol di Filipina, sampai awal abad ke – 19. Sedangkan tahap ketiga bermula awal abad ke 20 terjadi liberalisasi kebikjasanaan pemerintah kolonial, terutama Belanda di Indonesia. Dalam tahapan – tahapan ini kita akan melihat proses Islamisasi Asia Tenggara sampai mencapai tingkat seperti sekarang.
Setting Sejarah Sosial Penyebaran Islam di Asia Tenggara
Penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara merangkum 11 negara (states) yaitu Indonesia, Malaysia, Muangthai, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, Burma (Myanmar), Vietnam, Laos, Kamboja, dan Timor Leste. Dalam negara-negara tersebut terdapat lebih dari 378 etnis dan suku bangsa, 5 agama besar di dunia, beberapa bahasa ibu dan bahasa pengantar (Lingua Franca)
Kondisi sosial yang unik karena di dalamnya terkandung kultur yang beraneka warna adat budayanya. Bahkan, pada saat ini pun, kepercayaan nenek moyang atau sistem tradisional lainnya, seperti adat, masih kuat bertahan. Apa yang diambil masyarakat setempat dari sistem kepercayaan ini terutama unsur-unsur mistik dan metafisik. Demikian pula sistem adat dan tradisi pribumi sangat bersifat lokal, partikularistik dan divisif. Semua kenyataan ini membuat Islam yang bersifat universal itu lebih cepat diterima sebagai faktor integratif, identifikasi, dan mekanisme pertahanan diri dalam menghadapi penjajah.
Di dalam struktur kota semacam ini ( kota pelabuhan yang merupakan pusat Islam yang dinamis), dimana ulama’ borjuis bermukim, terdapat ketergantungan timbal balik antara kegiatan perdagangan (merkantil) dengan pembangunan dan pemeliharaan lembaga-lembaga pendidikan Islam. Lembaga ini sangat penting bagi bertahannya karakter kota Islam dan juga bagi penyebaran Islam ke pedalaman dan pedesaan.
Kondisi Pengetahuan Agama Pada Masa-masa Penyebaran Islam di Asia  Tenggara
Berdasarkan dari teori bahwa Islam pada dasarnya adalah urban ( perkotaan ) dan bahwa peradapan Islam pada hakikatnya adalah urban, Johns menyatakan bahwa Islamisasi Nusantara bermula dari kota – kota pelabuhan yang ada. ( perlu diketahui, kata “Nusantara” pada makalah ini bermaksud untuk menyebut seluruh wilayah Asia Tenggara) Di perkotaan itu sendiri, Islam adalah fenomena istana. Istana kerajaan menjadi pusat pengembangan intelektual Islam atas perlindungan peresmi, yang kemudian memunculkan tokoh-tokoh ulama  intelektual. Mereka mempunyai jaringan keilmuan yang luas baik dalam maupun luar negeri sehingga menunjang pengembangan Islam dan gagasan-gagasan mereka sendiri. Jaringan keilmuan semacam ini kemudian semakin diperkuat dan diperkaya terutama sejak abad ke-17 oleh tarekat-tarekat tasawuf yang berkembang luas di Nusantara. Karakter pengorganisasian yang inheren dalam jaringan semacam ini memberikan momentum yang terus menerus bagi pengembangan Islam.
Perkembangan dan Corak Tafsir Hadits pada Masa Penyebaran Islam di Asia Tenggara
Pada masa penyebaran Islam di Asia Tenggara, terdapat proses konversi terhadap Islam dan peningkatan kesadaran dan upaya untuk lebih memahami dan mengamalkan Islam sesuai dengan doktrin –doktrin yang sebenarnya, yang bersih dari bid’ah dan pertempuran dengan unsur – unsur non Islami lainnya. Dalam istilah yang lebih populer, proses ini disebut sebagai kembali kepada Al Qur’an dan Hadits atau mengikuti praktek-praktek yang diamalkan oleh kaum Salaf di zaman klasik Islam. Proses ini menimbulkan sikap kepengikutan yang ketat pada syari’ah, sebagaimana diperinci dalam fiqh.
Kalangan masyarakat merkantilisme muslim di kota-kota pelabuhan yang memerlukan kepastian hukum dalam menjalankan perdagangan mereka yang bersifat internasional itu. Ketentuan-ketentuan syari’ah mengenai perdagangan cukup memadai untuk memberikan kepastian hukum, dan lebih lanjut keamanan dalam perdagangan. Milner membuktikan bahwa sejak awal kehadiran Islam, syari’ah telah membuktikan bahwa sejak awal kehadiran Islam, syari’ah telah diterima dan diterapkan oleh masyarakat-masyarakat muslim setempat, terlepas dari perbedaan – perbedaan tingkat pengkampanyeannya dan motivasi penguasa lokal untuk mendukung penerapannya itu.
Analisis
Ditinjau dari berbagai faktor, baik yang inheren di dalam Islam itu sendiri ataupun faktor-faktor sosial dan lain-lain, yang ditempuh masyarakat Asia Tenggara sejak kedatangan Islam sampai sekarang secara bersama-sama baik secara langsung maupun tidak, mempunyai andil masing-masing dalam proses Islamisasi sekaligus intensifikasi kesadaran keislaman. Sekelompok faktor-faktor kesejarahan yang kompleks itu terlalu rumit untuk bisa dijelaskan dengan suatu teori dan argumen tertentu. Karena, dengan memaksakan penerimaan atau berpegang teguh pada suatu teori tertentu hanya akan mengakibatkan pemikiran yang dangkal, dan dapat menjerumuskan dalam distorsi kesejarahan. Yang paling penting, muslim di Asia Tenggara tumbuh dalam kepaduan dan keyakinan mereka. Walaupun pada akhirnya, mereka menemukan jalan lain tetapi masih disepakati dalam koridor keislaman.
Kesimpulan
Sejarah telah membuktikan bahwa Islam sebagai agama universal mempunyai mekanisme yang khas di dalam dirinya, yang mampu mengakomodasikan setiap perkembangan yang ada tanpa harus mengorbankan eksistensinya sebagai agama wahyu. Proses Islamisasi yang dinamis mampu diterima oleh mayoritas penduduk Asia Tenggara. Islam di kawasan ini menyesuaikan dengan latar belakang budaya masyarakatnya. Proses yang berliku-liku menyebabkan perbedaan dalam tingkat penetrasi Islam di wilayah Asia Tenggara. Hal ini juga menimbulkan perbedaan di dalam penghayatan, pengamalan Islam di kalangan penganutnya. Tapi, satu hal lagi yang pasti, dinamika Islamisasi dan intensifikasi keislaman itu tidak pernah berhenti sampai sekarang dalam berbagai bentuk perwujudannya. Didukung minat pemuda-pemudi Islam dengan selalu haus pada ilmu pengetahuan yang terus meneliti tentang agamanya melalui lembaga pendidikan Islam atau media lainnya.
Post a Comment