Search This Blog

Saturday, December 14, 2013

Kerajaan Lamuri

                                        Kerajaan Lamuri

Aceh sebagai salah satu pemegang peranan Penting dalam sejarah indonesia, juga mempunyai banyak aspek peninggalan histori serta kebudayaan, baik sebelum saat, sepanjang, ataupun setelah kesultanan aceh. satu pada warisan histori aceh yaitu bekas kerajaan lamuri, yang saat ini nasibnya terancam dipunahkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. menurut R.A Hoesein Djajadiningrat, pendiri Kesultanan Aceh darussalam yakni sultan ali mughayat syah pada pada tahun 1514M. dengan dikuasainya malaka oleh portugis pada tahun 1511M, mengakibatkan saudagar muslim datang ke aceh. Kerajaan Aceh lantas berkembang jadi area perdagangan yang ramai. saudagar-saudagar muslim, baik dari barat ataupun timur memakai aceh buat jadikan pengganti malaka untuk area berdagang serta area dengan intensif menyebarkan agama islam. kondisi itu tidak disia-siakan oleh sultan ali mughayat syah. dia memanfaatkannya untuk membina kesultanan supaya betul-betul kuat.  Aceh sudah dikenal sejak permulaan terbentuknya jaringan Lalu lintas internasional ( + abad I masehi ). Berita tertua dari dinasti Han ( abad i-vi masehi ) mengatakan negeri yang bernama huang-tsche. menurut catatan cina tersebut, masyarakat negeri itu sama juga dengan masyarakat hainan. mereka hidup dari berdagang. kaisar wang mang dari dinasti han Meminta terhadap penguasa negeri ini untuk kirim seekor badak. sesaat berita perihal Poli ditemui di dalam catatan cina. berita pertama ada dalamcatatan dinasti leang ( 502-556 m ), dinasti sui ( 581-617 m ), serta berita paling akhir dari catatan dinasti tang ( 618-908 m ).
berkaitan letak tersebut benar-benar belum ada kata setuju banyak pakar. de casparis menjelaskan bahwa poli tidak kurang pentingnya serta menggemparkan. poli bisa disamakan dengan puri, lengkapnya dalam-puri yang dimaksud kerajaan lamuri oleh orang-orang arab serta lambiri oleh marco polo. sejauh mana poli itu sama dengan Kerajaan lamuri, layaknya yang dikemukakan oleh de casparis, tetap butuh penelitian seterusnya. di dalam naskah-naskah aceh di sebutkan bahwa kerajaan lamuri yang dieja dengan l. m. r. i. pada m serta r tidak ada sinyal vokal, jadi seandainya dituruti langkah mengeja di dalam naskah, kemungkinan kecil bahwa nama itu bakal dibaca lamuri atau lamiri. sesaat di dalam buku histori melayu, lamuri dimaksud dengan lamiri ( l. m. y. r. y ). berita tertua berkaitan kerajaan lamuri datang dari ibnu khordadhbeh ( 844-848 ), sulaiman ( 955 ), mas'udi ( 943 ), serta buzurg bin shahriar ( 955 ). seluruhnya penulis arab. mereka mengatakan Kerjaan lamuri dengan nama ramni serta lamuri, sesuatu area yang membuahkan kapur barus serta hasil bumi perlu yang lain. mas'udi beri tambahan juga bahwa ramni pada masa itu takluk dibawah kerajaan sriwijaya. sesaat itu, sumber dari cina perihal kerajaan lamuri yang amat tua datang dari tahun 960m. di dalam catatan cina sudah di sebutkan dengan nama lanli, sesuatu area yang bisa disinggahi oleh utusan-utusan parsi yang kembali dari cina setelah berlayar 40 hari lamanya. di sana mereka menanti musim teduh untuk selanjutnya berlayar lagi ke negeri asal mereka. Seterusnya Chau-Yu-Kwa dalam bukunya Chu Fan-Shi yang terbit pada tahun 1225 M, menyebutkan bahwa di antara jajahan-jajahan San-fo-ts'i (Sriwijaya) termasuk juga Lan-wu-li, yang diperkirakan adalah Kerjaan Lamuri. Raja Lan-wu-li disebutkan belum beragama Islam, memiliki dua buah ruang penerimaan tamu di istananya. Apabila bepergian diusung atau mengendarai seekor gajah. Selanjutnya, apabila dari negeri ini seorang bertolak di musim timur laut maka ia akan tiba di Ceylon dalam waktu 20 hari. Pada tahun 1286, Lan-wu-li bersama-sama Su-wen-ta-la mengirim utusan ke negeri Cina dan berdiam di sana sambil menunggu kembalinya ekspedisi Kublai Khan dari Jawa. Ketika Marco Polo pada tahun 1292 M tiba di Jawa Minor (Sumatera), ia mendapatkan delapan buah kerajaan, di antaranya Kerajaan Lamuri. Kerajaan ini katanya tunduk kepada Kaisar Cina dan mereka diwajibkan membayar upeti. Pada tahun 1310 M, seorang penulis Parsi bernama Rashiduddin, menyebutkan untuk pertama kalinya bahwa tempat-tempat penting "di pulau Lumari yang besar itu" selain Peureulak dan Jawa adalah Aru dan Tamiang. Sejak tahun 1286, Lamri telah mengirim utusan-utusannya ke Cina. Dalam buku Dinasti Ming disebutkan bahwa pada tahun 1405 M telah dikirim ke Lam-bu-li sebuah cap dan surat, sementara pada tahun 1411M negeri ini mengirimkan utusan ke Cina untuk membawa upeti. Perutusan itu tiba bersamaan dengan kunjungan perutusan Klantan dan Cail, kemudian kembali bersama-sama ekspedisi Cheng Ho. Pada tahun 1412M, raja Maha-Ma-Shah (Muhammad Syah) dari Lam-bu-li bersama-sama Samudera mengutus sebuah delegasi ke Cina untuk membawa upeti.
Di antara utusan-utusan Lam-bu-li ke Cina yang secara teratur dikirim setiap tahun terdapat nama Sha-che-han putera Mu-ha-ma-sha. Ketika Cheng Ho pada tahun 1430 membawa hadiah-hadiah ke seluruh negeri, Kerajaan Lamuri pun memperoleh bagian pula. Ada kemungkinan bahwa pengiriman hadiah-hadiah itu bukan untuk pertama kalinya, karena lonceng Cakra Donya yang dahulunya tergantung di istana sultan Aceh dan sekarang disimpan di Museum Aceh dengan tulisan Cina dan Arab padanya dibubuhi angka tahun 1409M. Catatan yang tercantum dalam buku Ying-Yai-Sheng-lan oleh Ma-Huan, disebutkan bahwa Kerajaan lamuri terletak "Tiga hari berlayar dari Samudera pada waktu angin baik." Negeri itu bersebelahan pada sisi timur Litai, bagian utara dan barat berbatas dengan laut Lamri (laut Hindia), dan ke selatan berbatas dengan pegunungan. Berdasarkan berita Cina itu, Groenevelt mengambil kesimpulan bahwa letak Lamri di Sumatera bahagian utara, tepatnya di Aceh Besar. Berita dari Cina itu juga mengatakan bahwa Kerjaan Lamuri terletak di tepi laut. Di antara penelitian yang menyebutkan bahwa Kerajaan Lamuri merupakan sebuah kerajaan yang terletak di Aceh Besar adalah M. J. C. Lucardie dalam karangannya "Mevelies de Lindie", penerbitan van der Lith 1836M. Dia menyebutkan bahwa Lamreh yang terletak dekat Tungkop, besar kemungkinan adalah peninggalan dari kerajaan Lamuri. Tome Pires dalam karangannya mengenai pulau Sumatera menyebutkan bahwa di pantai utara daerah Aceh terdapat 6 reinos dan 2 terras, yaitu reino de Achey e Lambry, terra de Biar, reinos de Pedir, terra de Aeilabu, reino de Lide, reino de Pirada, reino de Pasee. Nama-nama tersebut dengan mudah dapat dikenal karena masih dipakai sampai sekarang, yaitu Aceh, Lamri, Biheue, Pidie, Ie Leubeue, Peudada, dan Pasee.
Post a Comment