Search This Blog

Sunday, December 29, 2013

Kakekku Sang Seniman Gayo

 Kakekku Sang Seniman Gayo

Kakekku Sang Seniman Gayo

(Ibrahim Kadir)
*Catatan Ridho Nazila
Ibrahim Kadir (tengah)
Ibrahim Kadir (tengah)
ADALAH seorang seniman Gayo dan seorang kakek yang luar biasa bagiku. Beliau lahir pada tahun 1942. Pada saat umur kakek masih belia, kira-kira sepuluh tahun. Beliau telah  membuat syair dan lagu didong pertamanya. Saat itu, karya kakek belum terkenal di masyarakat Gayo. Tetapi sekitar 25-30 tahun kemudian, masyarakat Gayo terkejut setelah mendengar ulang karya kakek yang sebelumnya. Sehingga karya 25- 30 tahun yang lalu itu, menjadi sangat populer di telinga masyarakat Gayo. Hal yang menarik lainnya dari kakekku adalah sejak kecil hingga sekarang, beliau sangat hobi memancing.
“Alam ini sangat dekat dengan kakek. Kakek merasa tidak dapat dipisahkan dengan alam. Alam memberikan banyak hal, seperti ketenangan jiwa, refleksi untuk dapat menciptakan syair-syair yang kakek gali dari cerita rakyat Gayo dan terkadang pula, kakek menciptakan puisi- puisi didong pada saat kakek memancing di Danau Lut Tawar. Kakek terus saja menciptakan puisi-puisi. Bagi kakek, itu sangatlah penting. Di samping hal-hal lain seperti berkebun ataupun bersawah, kakek merasa terpanggil oleh gunung-gunung, burung-burung karena keindahannya.” Suatu ketika, kakek bercerita padaku saat kami sedang memancing di Danau Lut Tawar.
Hingga sekarang ini, kakek masih saja menulis puisi. Walaupun sudah tak serajin dulu, sebab kesibukan beliau yang mengurus masjid di kampung kami tepatnya di Kemili. Pernah suatu ketika, saya bertanya pada kakek mengenai pendapatnya mengenai didong sekarang ini dengan didong zaman beliau. Beliau menjawab dengan nada kecewa bahwa didong sekarang ini, tidaklah sama seperti didong pada masa beliau masih muda dulu. Jika sekarang ini kakek perhatikan, adab para pedidong sudah berkurang. Di dalam menembangkan sebuah lagu didong itu, sebenarnya haruslah memliki suatu ciri khas.  Menembangkan didong, harus ada ciri-ciri yang mengikutinya seperti Guk, Jangin, Denang, Sarik, dan Tuk. Tanpa kelima unsur itu, didong yang akan ditembangkan akan salah di mengerti. Misalnya didong yang seharusnya bernada sedih, akan terdengar gembira kalau tidak ada kelima unsur tersebut. Dan menurut kakek, kelima unsur inilah sekarang ini sudah sangat jarang terdengar ada digunakan oleh pedidong.
Juri Didong Jalu, Ibrahim Kadir
Juri Didong Jalu, Ibrahim Kadir
 Kakek banyak berbagi cerita pengalamannya padaku, seperti pengalaman beliau lainnya pada masa pemberontakan. Ketika beliau sedang berdidong, mengisi acara pernikahan di sebuah kampung. Tiba-tiba terdengar suara tembakan, dari pemberontak Pasukan Islam Merdeka. Saat itu, grup didong kakek dengan grup lawannya sontak berlarian. Para penonton menjerit histeris dan semuanya menunduk. Pengalaman itu, tidak akan pernah dilupakan kakek dan teman-teman kakek yang merupakan seniman Gayo juga seperti Sali Gobal, Ceh Tujuh, Ceh Semaun, Ceh Lakiki, Ceh Damha, Ceh Win Kul, Ceh Apit, M. Din, Abdul Rauf, dan Ceh To’et.  Selain berdidong dan penulis syair, kakek juga piawai dalam hal lainnya seperti menari (Tari Guel), membuat lagu, seperti lagu tingkis, batil, gere mukunah, emun beriring, bebalun berukir dan masih banyak lagi. Lagu-lagu kakek, sebagiannya lagi juga diaransement langsung oleh maestro Gayo Alm. Ar. Moese.
Kakekku adalah debar banggaku, selain kepiawaiannya dalam hal mencipta ternyata kakekku juga piawai dalam ber-acting. Hal ini dibuktikan dengan keterlibatannya dalam sebuah film. Film yang kakekku pernah mainkan yaitu film Tjoet Nya Dien dan Puisi Tak Terkuburkan, disutradarai oleh Garin Nugroho dan diperankan oleh berbagai artis bintang film Indonesia salah satunya seperti Christine Hakim. Film kakek lainnya ada juga Penyair dari Negeri Linge  yang distutradarai oleh  Aryo Danusiri.
Di film Puisi Tak Terkuburkan, khusus menceritakan tentang pengalaman kakek yang di penjara pada tanggal 12 Oktober 1965. Tanpa pengadilan karena dituduh sebagai komunis. Saat di penjara, kakek pertama kalinya menyaksikan bagaimana cara petugas di penjara tersebut membunuh para tahanan.
Saya melihat para tahanan yang dipancung, hingga mayatnya bertimbun dan kemudian saya melihat, kaki mereka yang menggelepar.”
Kupikir, kalau dia berpisah antara tubuh dengan kepala, sakit sekali rasanya. Kematian itu, memang semua. Kita mengalami mati, berpisah kepala dengan tubuh ini. Sedih rasanya, sedih, sedih sekali. Pada saat lahir, badannya utuh. Mulai dari kaki, sampai ke rambut. Diciptakan Tuhan lengkap, tapi kita menceraikannya. Ciptaan Tuhan itu! Heey, aku tidak suka dengan ciptaan ini katanya. Kemudian dia memotongnya..  Salah satu kutipan dalam film tersebut.  Kakekku juga menciptakan puisi ketika beliau berada di dalam penjara. Salah satu puisinya berbunyi:
Sudah renggaskah rumput di halaman?
Layukah sudah pucuk terinjak manusia?
Luruhkah sudah putik-putik bunga kembang di Telaga?
Akan tetapi film ini tidak selesai dibuat, lantaran kakek yang sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan syuting. Beliau tidak tahan, jika harus terus mengingat kejadian-kejadian yang dialaminya selama di penjara. Namun di Film Puisi Tak Terkuburkan ini, kakek telah berhasil mendapatkan penghargaan Silver Screen Award for Best Asian Actor pada festival Film Singapura (2001) dan kakek juga berhasil mendapat penghargaan The Best Actor dalam cinefan India (2001) serta penghargaan pemeran terbaik ke-2 dalam festival Film Jokarno, Italia (2000). Itulah sekerat kisah, jalan hidup kakekku yang penuh dengan inspirasi dan motivasi untukku.  Mengajarkanku untuk terus berkarya dan semoga bisa menjadi penerus untuk melestarikan budaya Gayoku.  (Editor: Ana)
 Ridho Nazila
*Ridho Nazila, siswa kelas XI SMA N 4 Takengon dan perwakilan provinsi Aceh, mengikuti Gita Bahana Nusantara di Istana Merdeka tahun 2012 lalu.
Post a Comment