Search This Blog

Tuesday, December 3, 2013

Inilah Gambaran Singkat Kondisi Pasar Kopi Indonesia Saat Ini


Inilah Gambaran Singkat Kondisi Pasar Kopi Indonesia Saat Ini

Coffee Latte | Macehat Coffee
Coffee Latte | Macehat Coffee
Sebagai salah satu di antara 10 komoditas unggulan penyumbang devisa negara, kopi telah menjadi simbol yang melekat bagi Indonesia yang merupakan produsen kopi terbesar di dunia setelah Brazil dan Vietnam. Meski demikian, nilai devisa negara dari ekspor komoditas ini masih fluktuatif meski menunjukkan trend peningkatan. Karena itu peningkatan produksi kopi nasional masih berpeluang besar untuk ditingkatkan.
Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), Irfan Anwar, menjelaskan, rata-rata nilai ekspor kopi pada tahun 2012 telah mencapai di atas 1,5 juta US$. Atau, menyumbang sebesar 1,18% devisa negara dari non migas.
“Peran kopi dalam peningkatan devisa negara masih dapat ditingkatkan karena potensi ke arah tersebut masih terbuka sangat lebar. Faktor utama dalam meningkatkan peran kopi untuk devisa ialah dengan meningkatkan produksi kopi nasional,” kata Irfan Anwar, kepada Kopibrik ketika ditemui di kantornya, PT. Coffindo di Jalan Tani Asli, Binjai KM 9, Deli Serdang, baru-baru ini.
Irfan menjelaskan, luas areal produktif perkebunan kopi Indonesia dewasa ini mencapai 950.000 hektar dari luas areal perkebunan kopi sebesar 1,3 juta hektar. Dari luar areal produktif tersebut dihasilkan kopi dengan produksi rara-rata 750.000 ton per tahun. Artinya, dari sekitar 5 juta keluarga petani kopi, dihasilkan 780 kilogram per hektarnya.
Sementara itu, Vietnam yang hanya memiliki lahan produktif seluas 550.000 hektar mampu menghasilkan 2.000 – 3.000 kilogram per hektar. Juga Brazil yang mampu memproduksi 3.000 – 4.000 kilogram per hektar.
Dijelaskan Irfan, peningkatan produksi kopi nasional bisa dilalukan dengan program intersifikasi yang meliputi beberapa langkah. Antara lain pemberian pupuk yang ramah lingkungan dengan harga terjangkau bagi para petani. Perlu juga dilakukan penggantian tanaman tua dengan tanaman bibit unggul yang diberikan secara gratis kepada petani. Dan, penyuluhan kepada petani untuk melakukan budidaya kopi dengan benar.
Sementara, program ekstensifikasi dapat dilakukan dengan cara pembukaan lahan baru untuk kopi arabika pada lahan-lahan yang sesuai di wilayah Aceh Tengah (Aceh), Cangkringan (Yogyakarta), Tana Toraja (Sulawesi Selatan), Flores dan Papua.
Langkah lain ialah penanaman kopi arabika di areal kehutanan tanpa menggangu ekosistem hutan. “Hal ini telah dilakukan oleh pihak inhutani di Kabupaten Bandung Barat, Sukabumi, Cianjur dan beberapa kabupaten di Jawa Barat,” terang Irfan.
Selama beberapa tahun belakangan ini, jelas Irfan, volume eskpor kopi nasional juga mengalami fluktuasi meski mulai mengalami peningkatan hingga pada tahun 2012. Tahun 2010, volume ekspor sempat mengalami penurunan. Total ekspor saat itu hanya mencapai 440,241 ton. Penurunan itu berdampak pada tahun berikutnya menjadi sebesar 353,698 ton atau turun sebesar 25% . Namun, pada tahun 2012 mulai membaik menjadi 510.000 ton atau naik 45%.
Hal lain yang cukup menggembirakan ialah, selain ekspor kopi biji, ekspor kopi instan juga meningkat menjadi 70.000 ton. “Ini merupakan peningkatan signifikan dibanding tahun 2011 sebesar 7.196 ton. Hal ini membuktikan bahwa industri pengolahan kopi dalam negeri terus bergairah,” ujarnya.
Dari sisi devisa negara, nilai ekspor kopi Indonesia tahun 2012 diperkirakan mencapai di atas 1,5 juta US$. Menurut Irfan, angka tertinggi yang pernah dicapai sejauh ini. Namun, yang tidak kalah menarik ialah, konsumsi kopi dalam negeri yang juga mengalami kenaikan yang cukup berarti.
“Jumlah penduduk Indonesia yang telah mencapai 240 juta merupakan potensi yang sangat luar biasa dalam menyerap produk-produk yang dihasilkan oleh industri dalam negeri termasuk produk olahan berbahan baku kopi,” ungkapnya.

Baca Juga...

Post a Comment