Search This Blog

Tuesday, December 3, 2013

Bahasa (Gayo) ku Tergerus Waktu

 Bahasa (Gayo) ku Tergerus Waktu

Bahasa (Gayo) ku Tergerus Waktu

Oleh: M. Fadli Ferdiansyah Putra*
fadli ferdiansyahSEBAGAI warga Aceh Tengah, terutama bersuku Gayo. Terdengar aneh,  jika tidak pandai berbahasa Gayo.  Seperti saya sendiri, saya lahir di Tanoh Gayo tetapi saya kurang mahir berbahasa Gayo. Lucu memang, tetapi saya pikir mengapa saya tidak bisa berbahasa Gayo dengan baik dan benar mungkin karena pergaulan dan lingkungan.
Mengapa saya mengangkat judul ini? Karena selain saya ikut merasakannya, saya juga mulai merasa prihatin dengan nasib bahasa Gayo sekarang ini. Terutama di kalangan anak muda Gayo yang mulai gengsi menggunakan bahasa Gayo.
Contoh sederhana adalah banyaknya penggunaan bahasa Gayo yang melenceng dari tutur kata, tutur kepada orang tua, abang, kakak, adik, bahkan teman sebaya. Ironis memang, ketika sopan santun sudah tidak bisa dijaga. Misal dalam tutur memanggil adik laki-laki ayah atau ibu dari keluarga bersuku Gayo seperti pak cik, kil, cik, ama ucak. Berganti alur dengan masuknya budaya lain menjadi om atau paman.
Lainnya seperti panggilan untuk adik perempuan ibu seperti encu, ibi berganti alur menjadi bunda atau tante. Jika ini kita biarkan, bayangkan nasib bahasa Gayo di masa anak cucu kita. Para sejarawan Gayo, memprediksi 50 Tahun ke depan bahasa Gayo akan lenyap dari Tanoh Gayo.
Sama halnya dengan remaja di kota besar, remaja Gayo juga mulai terpengaruh dengan bahasa-bahasa alay (anak lebay). Jika sedang berkumpul, mereka suka menggunakan bahasa yang kerap ditampilkan di televisi seperti kata lo, gue, ente, cemungut, masbuloh, ilfil, jutek, jeles, cakep, bete dan masih banyak lagi.
Memang terdengar keren, jika anak Gayo sudah mulai ikut modern seperti anak kota metropolitan. Tetapi coba pikir ke depan, bila ini dibiarkan tidak menutup kemungkinan bahasa Gayo akan benar-benar hilang dari muka bumi.  Ini memang terdengar mengerikan, tetapi itulah kenyataannya.
Bahkan akan lebih mengerikan lagi, bila dari segi bahasa saja bisa lenyap, apalagi dari segi budaya? Coba kita perhatikan jika sedang ada acara didong Gayo. Para remaja Gayo hanya segelincir saja yang nampak antusias menontonnya, tetapi jika ada konser group band di lapangan Musara Alun, maka akan sesak dipenuhi dengan remaja yang saling berpasang-pasangan.
Hal lainnya yang bisa kita jadikan contoh, coba kita perhatikan di sekeliling kita. Banyak anak-anak sekolah dasar yang tak pandai berbahasa gayo dengan baik, bahkan  rata-ratanya mereka hanya tahu bahasa kotor hanya untuk sekedar mengejek temannya sendiri.
Mungkin di tingkat sekolah dasar masih ada pelajaran muatan lokal yang mempelajari bahasa Gayo dan bahasa Arab, tetapi bagaimana dengan yang di jenjang yang lebih tinggi seperti SMP dan SMA? Pelajaran tentang bahasa Gayo sudah tidak ada lagi. Mengapa demikian? Apakah karena tingkat SMP dan SMA sudah penuh mata pelajaran yang lebih penting dari sekadar bahasa Gayo?
Menurut saya, salah satu cara untuk mengembalikan dan melestarikan bahasa Gayo ke para remaja adalah melalui musik atau lagu-lagu Gayo. Dengan otomatis, mereka akan mencari tahu apa makna dan arti kata tersebut, seperti aliran-aliran musik Ervan ceh kul yang kini kebanyakan disukai oleh kalangan muda Gayo.
Intinya kita sebagai generasi penerus budaya Gayo, harus melestarikan bahasa kita sendiri.  Jangan sampai punah dari atas permukaan bumi Tanoh Gayo. Karena bahasa Gayo lah yang menyatukan kita yang menyokong budaya kita dan melindungi adat istiadat kita. Mari kita lestarikan bahasa kita, bahasa Gayo.(editor:  ZI)

Post a Comment