Search This Blog

Loading...

Wednesday, April 24, 2013

JEJAK MISTERIUS MASJID ASAL DI TANOH GAYO

JEJAK MISTERIUS MASJID ASAL DITANOH GAYO


BLANGKEJEREN-Insetgalus.com : Mesjid Asal Penampaan, tak jauh dari sudut kota Blangkejeren, tepatnya di Desa Penampaan, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Menurut perkiraan masyarakat setempat bangunan masjid ini telah berusia sekira 800 tahun, walau sudah tua tapi masih tampak kokoh, kini masjid itu telah direnovasi bagian depan dan belakang diperlebar sehingga tampak indah dan anggun, namun bangunan lama tetap terjaga keasliannya.
Dari cerita rakyat turun temurun yang dikutif, masjid ini dilatarbelakangi dengan masuknya Islam ke Aceh oleh para bangsa Persia melalui jalur perdagangan kala itu, ketika Islam jaya di Negeri Aceh, masyarakat antusias membangun sarana ibadah, mulai dari Masjid hingga ke Pondok tempat pengajian. Bahkan, masjid asal ini diyakini dibangun oleh sejumlah para wali Allah, dan masjid ini juga erat hubungannya dengan Kerajaan Linge, karena Kerajaan Linge tempat berkumpulnya para Aulia Allah ketika itu.
Bentuk bangunan masjid seluruh Aceh memiliki kesamaan, pantas saja anggapan masyarakat Gayo Lues, antara Masjid Asal Penampaan dengan Masjid Demak dan Masjid Tgk. Di Kandang ( Peulanggahan- Banda Aceh) ada kemiripan, yang atapnya terdiri dari rajutan ijok, dan seluruh tiang-tiang bangunan dari bahan kayu yang sama.
Bercerita tentang asal - muasal masjid ini, sedikit agak misterius, bahkan para bilal masjid hanya dapat memberikan keterangan cerita turun temurun, tanpa dilengkapi dengan bukti-bukti sejarah, dan ceritanyapun banyak versi dimasyarakat Gayo Lues, menurut keterangan M. Arwan (41) masyarakat setempat, masjid ini dibangun oleh empat para wali ( misterius) dalam tenggat waktu yang singkat, setelah masjid berdiri, lalu ditinggal pergi tanpa diketahui jejak para wali itu.
Sedangkan versi lain, cerita yang berkembang di era – 70 an, masjid asal ini dibangun oleh para aulia, setiap hari jum’at, mereka terkadang berjumlah empat hingga tujuh orang untuk menunaikan shalat jum’at di masjid asal itu, dengan mengenakan pakaian serba putih berjubah ala busana Tanah Arab. Ketika shalat jum’at usai, seketika mereka hilang dari keramaian, begitu seterusnya dari jum’at ke jum’at, dan cerita itu pudar di era – 90  an.
Masyarakat setempat hingga sekarang mengkramatkan masjid itu, diyakini bisa menyembuhkan segala macam penyakit, dengan berbagai macam permohonan , misalnya “ kesuksesan usaha, mendapatkan  pekerjaan, sembuh dari penyakit, cepat dapat jodoh dan lain-lain yang tak dapat disebutkan satu persatu. Sedangkan bilal masjid, yang melayani atau mendo’akan para tamu  yang berkunjung ke masjid itu setiap jum’at, diambil dari dua kampung yakni, kampung Penampaan dan Kampung Gele, hal ini merupakan kesepakatan leluhur terdahulu.
Konstruksi bangunan itu, berukuran 20 x 20 meter berlantai tanah dan dindingnya terbuat dari bahan tanah liat, dengan 16 tiang dari kayu, sedangkan atapnya terbuat dari ijok yang dirajut dengan rotan dan flaponnya terdiri dari pelepah ijok. Bentuk masjid asal itu ada kemiripan dengan beberapa masjid yang ada di Nusantara ini, masjid Demak, Masjid Peulanggahan (Banda Aceh), Masjid Isaq ( Aceh Tengah). Dibagian depan masjid itu terdapat, makam para ulama terdahulu, dan didalam masjid terdapat sumur tua, airnya diyakini masyarakat dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dan segala macam bentuk permohonan  yang baik kepada Allah SWT, akan dikabulkan – Nya.
Setiap kali, sebelum memasuki shalat jum’at, masyarakat telah berduyun-duyun hadir  usai shalat subuh tepatnya pukul 05.00 pagi. Bukan saja, masyarakat setempat, banyak dari luar daerah  yang berkunjung ke masjid ini, seperti dari luar pulau Jawa, Sumatera dan daerah lain. Dengan beragam do’a seraya memohon kepada Allah SWT, agar hajat dikabulkan.
Kini masjid itu, telah diperluas dari para donatur, sedangkan bentuk asli peninggalan sejarahnya hingga kini tidak ada yang dirombak. Kecuali itu, lantainya telah disemen. Selain suasana didalam masjid ini terasa sejuk dan menenangkan hati, disamping itu juga terdapat dua buah kitab suci Al-Qur’an peninggalan sejarah yang kini tetap terjaga bersamaan dengan masjid Asal ini
Bukan itu saja, masih cerita versi rakyat mengatakan, ketika perang bergejolak dengan penjajah, pasukan Belanda pernah melemparkan bom ke masjid, tanpa terjadi letusan, sedangkan pada tiang-tiang masjid terdapat bukti sayatan-sayatan bekas Marsose Belanda yang ingin menghancurkan masjid Asal ini. (Mustafa Kamal)