Search This Blog

Thursday, December 19, 2013

Lambang Kolonialisme yang Gelap (Kasus Benteng Kuta Reh)

Rabu, 15 Agustus 2012

Lambang Kolonialisme yang Gelap (Kasus Benteng Kuta Reh)


Belanda selalu memandang diri sebagai negeri yang kalem dan cinta damai, dan seringkali merasa menjadi korban kekerasan brutal negeri-negeri  yang lebih adidaya, Jerman terutama. Namun sejarah mencatat, bagi bangsa-bangsa di kawasan Asia, Belanda adalah negeri adidaya. Di tahun 1900 Belanda adalah negeri adidaya ketiga setelah Inggris dan Perancis. Di kawasan ini Belanda juga bertingkah sebagaimana jamaknya negeri adidaya: penuh kekerasan dan haus kekuasaan.
Di tahun 1904, polisi militer Belanda di bawah pimpinan Letkol Van Daalen meluncurkan ekspedisi berdarah di daerah  Gayo dan Alas, kawasan yang dianggap memberontak di Aceh, Sumatera. Lebih dari tiga ribu penduduk setempat dihabisi, termasuk perempuan dan anak-anak. Duapuluh persen penduduk daerah Alas dibantai. Pertempuran berjalan tak imbang: pasukan Belanda dengan senapan otomatis, rakyat Aceh dengan pemuras atau terakul (senjata api rakitan yang hanya meletus sekali lalu harus diisi lagi, rh.), air cabe, pentung dan batu.
Ada sebuah foto dalam ekspedisi ini yang kemudian menjadi ikon wajah menyeramkan kolonialisme Belanda. Foto tersebut diambil setelah serangan di desa Koeto Reh. Komposisi dalam foto ini menunjukkan hirarki kolonial: tentara yang menang berdiri di atas tumpukan mayat rakyat yang berserakan. Seorang anak yang selamat dari pembantaian tersebut tampak  di sela puing-puing dan mayat yang bergelimpangan.
Foto tersebut segera terpublikasi setelah melewati perdebatan panas. “Foto tersebut biasanya menghilang (di perdebatan media) lalu kemudian muncul lagi. Bagai laut yang pasang surut,” kata ahli teori budaya Paul Bijl, yang minggu depan (minggu ini, rh.) akan mengajukan disertasi doktornya tentang peranan fotografi yang memperlihatkan kekejaman perang dalam memori kultural bangsa Belanda.
Di tahun 60-an sebuah foto berperan sangat penting. Ahli sejarah perang Loe de Jong mempresentasikan foto tersebut sebagai gambaran kecenderungan kekerasan pemerintah kolonial. Para pembangkang dan aktifis kiri membandingkan tentara-tentara kolonial tersebut dengan Nazi.  Kata Bijl: foto ini mewakili suatu debat tentang identitas bangsa Belanda. Apa yang menjadi karakter kolonialisme Belanda? Negeri semacam apa kita (Belanda) ini?
Di tahun 1901 pemerintah Belanda mencanangkan gerakan politik etis di Hindia Belanda. Hinda Belanda harus diberadabkan menurut model Barat. Kekuatan kolonial lain juga melakukan hal yang  sama: Inggris dengan gerakan White man’s burden dan Perancis dengan misi civilisatrice. Untuk masa sekarang, Bijl juga melihat adanya kesamaan dengan perang Afghanistan, di mana Barat mencoba membawa masuk demokrasi. Kenyataan bahwa tentara Belanda mempelajari sejarah peperangan Belanda di Aceh untuk persiapan misi di Uruzgan bukanlah sesuatu yang sia-sia dan kebetulan belaka.
“Kolonialisme belumlah berakhir. Paham ini masih terus hidup dalam bentuk pemikiran-pemikiran tertentu,” kata Bijl. “Bahkan dalam misi di Afghanistan, Barat memandang diri mereka sebagai pihak yang memberikan sumbangsih. Seperti kata seorang komandan Belanda, “jika tidak mesti,  kita tak akan melawan Taliban. Kita hanya membuat Taliban tak lagi dibutuhkan.”
Sikap ini tidak seluruhnya absurd, orang-orang Afghanistan akan hidup lebih baik dengan demokrasi daripada dengan Taliban. Para pendukung kolonialisme menunjukkan bahwa di masa kolonial, Belanda mengakhiri perang antar suku dan perdagangan budak. Namun misi etis ini juga menimbulkan ketegangan, sebab bukan hanya kepentingan Barat yang coba dipenuhi dengan bumbu etis ini, tapi juga karena penduduk setempat tak selamanya ingin dijadikan ‘beradab’ menurut model pemikiran orang lain. Sebelum mereka ‘diberadabkan’ mereka harus ditaklukkan lebih dulu. Seperti yang dikatakan oleh Idenburg, menteri urusan daerah-daerah koloni: “kadang-kadang pedang (meski kejam dan menyakitkan, rh.) adalah sesuatu yang paling dibutuhkan oleh orang-orang yang kita kasihi.”
Foto-foto eskpedisi Van Daalen segera terpublikasikan. Reporter dari Koran Deli yang menyertai misi itu menulis kisah tentang misi di Aceh ini. Kata Bijl: “saat itu kisah seperti ini menjadi genre yang akrab dengan pembaca: foto  dan lukisan tentang pembantaian di daerah koloni. Pemerintah saat itu ingin menunjukkan sejauh mana kemajuan yang dicapai pemerintah kolonial di Aceh-Belanda. Namun para pengkritik kebijakan kolonial, terutama dari kalangan sosialis, terkejut. Inikah yang dimaksud dengan politik etis bangsa kita (Belanda)?
Pemerintah (saat itu) membela penggunaan kekuatan militer. Orang-orang Aceh akan berpikir dua kali sebelum mereka mencoba bikin masalah, demikian pikir Abraham Kuyper, perdana menteri Belanda saat itu. Penembakan terhadap kaum perempuan dan anak-anak tentu saja disesalkan, namun para pemberontak Aceh itu punya kebiasaan jelek bersembunyi di antara penduduk. Kasus ini akhirnya mendingin begitu saja.
Namun foto Koeto Reh ini kembali muncul ke permukaaan. Di tahun 1961 Loe de Jong ahli sejarah perang menampilkannya di televisi dalam seri program berjudul Pendudukan. Foto ini juga dipublikasikan dalam bukunya: Kerajaan Belanda di Perang Dunia Kedua. Kata Bijl: “Secara implisit De Jong bertanya: bagaimana kekejaman kolonial kemudian menyebar ke holocaust dan ke berbagai tindak  kekerasan lain dalam sejarah umat manusia?”
Jong tidak menjawab pertanyaan itu, namun para pembangkang dan aktifis kiri  tahun 60-an menjawabnya. Menurut mereka semuanya sama saja: kolonialisme Belanda, Nazi, dan perang Vietnam. Di tahun 1965, dua pemuda, salah satunya adalah Relus ter Beek yang kelak menjadi perdana menteri Belanda dari PvDA, menulisi tembok monumen dan memasang teks yang merujuk ke swastika (lambang NAZI jerman, rh.) di patung Jenderal Van Heutsz  di Coevorden. Van Heutsz adalah orang yang bertanggung jawab untuk program pasifikasi Aceh.
Konsensus tak pernah tercapai. Banyak masyarakat Belanda  yang masih mengenang dengan indah masa-masa kolonial, contohnya adalah sebagian masayarakat Indo-Belanda yang menjalani program repatriasi. Mereka memandang diri mereka bukanlah  sebagai penjahat tapi sebagai korban teror Jepang dan gerakan Bersiap kaum nasionalis Indonesia di periode pasca-perang. Suatu perkumpulan Indo-Belanda bahkan pernah menuntut De Jong di pengadilan karena mempublikasikan foto-foto Koeto Reh, dan mengatakan bahwa satu kampung pernah ditumpas habis oleh tentara KNIL. Menurut mereka Koeto Reh bukanlah kampung, tapi benteng pertahanan. Dan pembantaian itu perlu untuk penaklukan benteng. Jong akhirnya setuju dengan pendapat mereka.
Sejak tahun 70-an, boleh dikata bukti-bukti kekejaman kolonialisme menghilang dari pandangan publik. Bijl menyebutnya sebagai afasia kultural (afasia: gangguan neurologis di mana kemampuan berbahasa seseorang menghilang, rh). Para pendukung dan penentang kolonialisme tak pernah bisa bermufakat. Hilangnya ‘bahasa’ yang mampu menjembatani dua kalangan ini malah menimbulkan senyap. Kata Bijl: “Ini seperti rahasia keluarga, semua orang tahu tapi tak ada yang membicarakannya. Sampai kemudian sesuatu yang baru terjadi atau kekuasaan berpindah, seperti kita lihat baru-baru ini di Perancis, di mana parlemen kanan berupaya mensahkan undang-undang yang melarang orang-orang untuk membicarakan kolonialisme. Rancangan undang-undang ini dengan segera dicabut, namun tak pelak rancangan undang-undang tersebut menimbulkan arus deras publikasi tentang sisi gelap masa kolonialisme. 
Post a Comment