Search This Blog

Thursday, December 19, 2013

Hilversum vs Radio Rimba Raya

Sebab zaman baru-baru merdeka itu, apa lagi dalam keadaan darurat, televisi sama sekali tidak membumi. REZA MUSTAFA
Sabtu 02 Maret 2013 08:00 WIB
Dalam sejarah perjuangan Indonesia, sudah jelas Serangan Umum 1 Maret 1949 akan tidak ada jika Belanda tak melancarkan agresi keduanya. Setelah agresi militer jilid II Belanda berhasil menguasai Yogyakarta pada 19 Desember 1948, Republik Indonesia yang baru seumur jagung itu linglung.
Presiden dan Wakil Presiden dengan segenap pembesar revolusi lainnya ditawan. Saat itu Indonesia memang benar-benar dalam keadaan rawan.
Untung saja, walaupun kondisi negara sedang di ujung tanduk, sebelum tentara Belanda belum sempat masuk; Panglima Besar Soedirman yang dalam keadaan sakit melapor ke Presiden. Setelah itu ia mengumumkan perintah singkat ke seluruh Indonesia.
Itu pesan di siar melalui radio saja. Sebab zaman baru-baru merdeka itu, apa lagi dalam keadaan darurat, televisi sama sekali tidak membumi.
Empat butir perintah singkat, yaitu: 1. Kita telah diserang, 2. Pada tanggal 19 Desember 1948 angkatan perang Belanda menyerang kota Yogyakarta dan lapangan terbang Maguwo, 3. Pemerintah Belanda telah membatalkan persetujuan gencatan senjata, 4. Semua angkatan perang menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk mengahadapi serangan musuh.
Pesan ini akhirnya sampai juga ke telinga pejuang-pejuang di Aceh. Mereka menyebarkannya ke segala penjuru. Agar angkatan perang, rakyat yang rela berjuang mesti siap-siap. Mesti cepat tanggap.
Sementara sebelum ditawan, Soekarno, Mohd. Hatta, Syahrir dan beberapa pembesar lainnya telah mengirimkan dua kawat. Satu ke Sumatera, tempat Dr. Sjafruddin Prawiranegara melakukan kunjungan kerja, satunya lagi ke India. Di India, Dr. Soedarsono, Dubes RI untuk India, L.N Palar, staf kedutaan, dan A. A. Maramis, Menteri Keuangan sedang dalam usaha lobi politik.
Inti kedua kawat tersebut untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia. Agar di mata dunia, walaupun ibukota Yogyakarta telah diduduki agressor, Republik Indonesia tetap saja masih ada.
Tapi zaman perang dipenuhi propaganda. Pada zaman penuh desing peluru itu, Belanda sangat gencar berpropaganda. Gencar membolak-balikkan haba.
Melalui siaran radionya, Radio Nederland Wereldomroep (RNW) atau dikenal orang ramai dengan sebutan Hilversum, berkabar bahwa Indonesia telah tamat. Berita itu sekejap tersiar setelah angkatan perangnya berhasil menduduki Yogyakarta dan menawan para pembesar negara. Dunia pun hampir saja percaya.
Di Aceh, para pejuang bertindak cepat. Serangan melalui media harus dibalas dengan media. Itu makanya perangkat radio beserta alat pemancarnya, tanggal 20 Desember 1948 diangkut diam-diam. Dari Banda Aceh ke Rime Raya. Kawasan hutan belantara di dataran Gayo sana.
Hingga dalam keadaan yang serba genting, Radio Rimba Raya pun buka suara. Ada banyak catatan berbeda tentang tanggal berapa mulai pertama siarannya. Yang jelas, corongnya sampai juga ke negara-negara tetangga. Bahkan dengan bantuan relay radio-radio negara luar, suara Indonesia sampai juga ke negara-negara Eropa.
“Republik Indonesia masih ada. Karena pemimpin Republik Indonesia masih ada. Tentara Republik masih ada. Pemerintah republik masih ada. Wilayah republik masih ada. Dan di sini adalah Aceh.”*
Sampai di sini, dunia tergugah. Di India, Konferensi Asia untuk membicarakan status Republik Indonesia digelar dan diikuti 19 negara. Hasilnya? Satu dari sekian butir-butir konferensi berbunyi: Belanda harus angkat kaki dari tanah Republik Indonesia.
Zaman itu Hilversum kalah. Propagandanya tidak mempan membenamkan Indonesia. Radio Rimba Raya yang letaknya jauh di pedalaman Aceh terus mengudara. Sampai dunia tergugah mengakui kedaulatan Republik Indonesia.
Sekarang, Radio Rimba Raya hanya ditemukan dalam buku sejarah. Tugunya tegak berdiri. Tapi siarannya nihil. Sementara Hilversum yang sempat dikalahkan isunya itu masih saja mengudara dalam media dengar dunia. Jika tak dihidupkan lagi, mungkin tidak aneh kalau sejarah Radio Rimba Raya hanya akan dianggap mitos belaka. Tragis betul!
*Ilustrasi dalam film dokumenter Sejarah Perjuangan Radio Rimba Raya, karya Ikmal Gopi.
Sumber : berdasarkan bacaan-bacaan buku sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Reza Mustafa, anggota Komunitas Kanot Bu, Banda Aceh.
Posted 2 days ago by
Post a Comment