Search This Blog

Friday, November 29, 2013

Mengenal Bahasa dan Dialeg Melayu yang Ada di Riau

Mengenal Bahasa dan Dialeg Melayu yang Ada di Riau

Salam ta'zim,


Sahabat muda-mudi, bahasa merupakan ciri khas budaya dan menunjukkan jati diri suatu bangsa. Bahasa melayu merupakan bahasa ibu yang berasal dari Nusantara tercinta kita ini. Dari sini lah bahasa melayu tersebut terus berkembang sesuai dengan sub-sub dialek lokal yang ada di Nusantara

Jumlah penutur bahasa Melayu di Indonesia sangat banyak, bahkan dari segi jumlah sebetulnya melampaui jumlah penutur Bahasa Melayu di Malaysia, maupun di Brunei Darussalam. Bahasa Melayu dituturkan mulai sepanjang pantai timur Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu hingga pesisir Pulau Kalimantan dan kota Negara, Bali.


Riau merupakan negeri pusat perkembangannya budaya dan sastra melayu. Dari negeri inilah berkembang bahasa melayu Riau yangmerupakan pokok dari bahasa-bahasa negeri-negeri di Nusantara. Sebut saja Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan negeri-negeri lainnya.
Perkembangan bahasa dan sastra melayu mencapai puncak kejayaannya pada masa kerajaan Riau-Lingga yang diangkat dan dikembangkan oleh Raja Ali Haji di Pulau Penyengat. Dari Pulau Penyengat lah bahasa melayu itu menjadi gemilang di negeri Nusantara.

Negeri berbudaya melayu membuat orang sering menjadi penasaran akan ke khas annya. Salah satunya ialah bahasa melayu. Lalu bagaimanakah bahasa dan dialeg melayu di Riau sendiri?


Dalam jurnal kali ini saya akan membahasa secara umum mengenai bahasa melayu yang berkembang di provinsi Riau dan Kepulauan Riau.



PROVINSI RIAU DAN KEPULAUAN RIAU


Bahasa melayu Riau ada sejak dahulu kala, perkembangannya semakin cemerlang mana kala dibukanya ada banyaknya bandar-bandar baru di negeri ini seiring berkembangnya kerajaan-kerajaan melayu yang terdapat di negeri ini. Seperti Kerajaan Siak, Kerajaan Pekan Tua, Kerajaan Pelalawan, Kerjaan Indragiri, Kerajaan Kandis, Kerajaan Rokan, Kerjaan Kampar, Gunung Sahilan, Kuntu Darussalam, dan lain-lain.


Pada hakikatnya, pengucapan Bahasa melayu Riau sama dengan bahasa Indonesia sekarang. Masyarakat,para cendekiawan, tokoh, raja ataupun sultan yang memerintah negeri ini pun juga demikian.
Misalnya :

Daulat Tuanku

Kamu hendak kemana?

Hamba hendak pergi ke seberang

Saya nak pergi ke Pekan

Apabila banyak berkata-kata ,disitulah jalan masuk dusta

Sehingga lafal, dialeg yang digunakan disini ialah benar-benar lafal yang sebenarnya, dan tentunya menggunakan loghat melayu.

Dialeg Melayu Riau dengan bahasa pergaulan dalam masyarakat sama dengan dialek Johor-Riau kini menjadi asas kepada pembentukan Bahasa Melayu standard di Malaysia. Ciri utama dialek ini adalah akhiran ‘a’ yang dibunyikan sebagai ‘ě’. Seperti contoh:


Saya - disebut sayě

Apa – disebut Apě

Berapa – disebut Berapě


Bagaimanapun akhiran ‘a’ untuk kata-kata yang diadotasi dari perkataan Indonesia dikekalkan seperti sebutan asal :

Anda – disebut anda

Merdeka - disebut Merdeka



bunyi akhiran ‘r’ tergugur pada kata-kata seperti berikut:


Besar - disebut Besa (dengan sebutan a yang betul)


lebar - disebut Leba (dengan sebutan a yang betul)


sabar - disebut Saba (dengan sebutan a yang betul)




Bunyi ‘o’ diguna menggantikan kata-kata yang berakhir dengan sebutan ‘ur”

Tidur – disebut Tido


Telur – disebut Telo




Pengguguran bunyi ‘r’ ditengah kata sebelum huruf konsonen seperti berikut:

Kerja - disebut Keja (a menjadi sebutan ě)


Pergi - disebut Pegi


Berjalan - disebut Bejalan




Bagaimanapun terdapat viarasi kecil di dalam dialek ini mengikut kawaan-kawasan tertentu. Di Provinsi Riau (Riau daratan) bahasa melayu Riau dapat dibedakan menjadi dialeg Riau pesisir dan dialeg Riau pedalaman.

Perlu diketahui, bahasa melayu di riau daratan sebetulnya tidak kenal dengan kata "dang" atau "do".. misal : "wuiih,, mantap dang!" atau "Bukunya gak ada do..."

kata-kata tersebut berasala dari bahasa minang yang dibawa oleh para perantau minang ke Riau. Sehingga kata-kata itu ikut terserap di dalam bahasa masyarakat dan generasi mudanya.



Dialeg Riau Pesisir

Bahasa melayu Riau pesisir atau Riau bahagian hilir berkembang sangat mirip dengan bahasa melayu Riau kepulauan dan semenanjung atau dilage loghat melayu Riau utama seperti yang saya bahas diatas. Dimana loghat dan dialeg kata-kata yang berakhiran 'a' menjadi 'e' lemah.

Misal contoh gampang sejagad raya :D


Bahasa Indonesia : Kamu hendak pergi kemana?


Bahasa melayu Riau : awak anak pergi kemana (dibaca : awak nak pegi kemane?)


Bahasa Indonesia : saya mau pergi jalan-jalan ke kota, tak sabar rasanya


Bahasa melayu Riau : saya nak pergi jalan ke kota ( dibaca :saye nak pegi ke kote)


Bahasa Indonesia : "Harus kutonton tuh film! Gak sabar rasanya!"


Bahasa melayu Riau : "Mestilah kutonton film itu! Tak sabarpon rasanye "



Bahasa Riau yang kental dengan melayu nya dan menjadi standar bahasa-bahasa di negeri semenanjung ini dapat anda jumpai di :



* Bengkalis dan Kepulauan Meranti (Bengkalis, Selat Panjang, Bukit Batu)


Di Bengkalis merupakan urat nadi daripada perkembangan tradisi dan bahasa melayu di Riau. Dialeg nya kental seperti bahasa melayu Riau-Johor.

Contoh nama-nama daerah yang ada di Kabupaten Bengkalis :


buket batu, paret rodi, mangkopot, sungai pakneng, lubok alam, ae puteh, ketam puteh, penampi. disana masih asli bahasanya. mirip sama melayu yang di malaka malah.


Namun di beberapa tempat terutama daerah pasar, dialeg melayu Bengkalis pun kita jumpai sedikit perbedaan, dimana kata halus yang berakhiran 'e' lemah menjadi 'o'.

contoh :

Saya - disebut sayě disebut juga sayo

Apa – disebut Apě disebut juga apo

Berapa– disebut Berapě disebut juga berapo

Bunga - Bungě disebut juga bungo


Yah kurang lebih mirip bahasa melayu Riau pedalaman. Kuat dugaan saya ini terjadi akibat akulturasi di tanah Bengkalis,apakah itu dari Riau pedalaman, bahasa Sumatera (ex : minang, jambi, Palembang, dll.). Pemakai dialeg ini biasanya para pedagang dan muda-mudi nya. Sementara bagi yang tua - tua masih asli kental dengan 'e' lemah.


Di Bengkalis, dialeg dan bahasa melayu juga dipengaruhi sedikit oleh Bugis , karena masyarakat Bugis juga yang umumnya perantau juga banyak bermukin di Bengkalis.


Namun , pemandangan tradisi dan bahasa ini akan berbeda bila kita berada di Duri ataupun daerah-daerah poros Pekanbaru-Duri-Dumai. Daerah di sekitaran itu merupakan kawasan urban. Di situ memang bilangan orang Melayu nya udah OUTNUMBER. Kalau mau mendengar dialek asli melayu di kawasan Duri, Mandau ataupun poros Pekabaru-Duri-Dumai, komunitasnya terlalu terbatas ke perkampungan tertentu dan tentu saja kantor-kantor pemerintahan.




* Rokan Hilir



Di Rokan Hilir hampir sama dengan di Bengkalis, bahasa melayunya kental mirip dengan bahasa melayu Johor - Riau - Lingga. Namun juga tak sedikit yang kata-katanya berakhiran dengan 'o' seperti halnya bahasa Riau Pedalaman (Kampar dan Rokan Hulu). Asumsi saya ,mungkin dialeg ini dipergunakan oleh masyarakat Rokan Hilir yang wilayahnya dekat atau berbatasan langsung dengan Rokan Hulu

Seperti :

Orang - Uyang

Tidak hendak - Tak ondak

Berlayar - Belaya

Beli - Boli

Barang - Ba ang

Jemur - Jemor

Rumah - Umah

Cukup - Cukuik

Lihat - Tengok

Esok - Isok

Selain dipengaruhi oleh bahasa melayu Riau pedalaman, Rokan Hilir juga dipengaruhi sedikit oleh bahasa melayu deli, batak dan pesisir timur.





* Siak




Sama dengan Bahasa melayu di Bengkalis, selain banyak terdapat kata-kata berakhiran 'e' lemah juga cukup banyak kata-kata yang berakhiran 'o'. Di Siak juga pernah ada kerajaan Siak yang merupakan kerajaan melayu islam terbesar di Sumatera yang turut andil dalam mengembangkan tradisi, adat-isitadat, budaya dan bahasa melayu secara luas keseluruh pelosok-pelosok negeri-negeri yang di bawah naungan kerajaan Siak, seperti Siak,Bengkalis, Rokan, Pekanbaru, dan Kampar.

Kalau di Bengkalis dan Siak juga terdapat perubahan kata-kata sapaan tertentu, contoh : Kamu = "Miko"




* Dumai


Juga sama dengan Bengkalis. Bahasa Melayu juga masih kental disini bahkan di kota pelabuhan di pesisir timur Sumatea ini juga masih terdapat perkampungan masyarakat melayu yang masih melestarikan tradisi dan budayanya.

Di Dumai, bahasa melayu nya kayak melayu kepulauan dengan perubahan kata-kata tertentu pada kata sapaan


contoh : Kamu = "Mike"




* Pelalawan



Di Pelalawan pernah terdapat kerajaan Pekantua dan Kerajaan Pelalawan. Dua Kerajaan ini merupakan satu galur daripada kerajaan Melaka. Sehingga bahasa melayu yang mirip dengan bahasa melaka juga berkembang disini. Namun bahasa dan tradisi di Pelalawan juga turut di pengaruhi oleh tradisi dan budaya dari ranah Kampar. Dan disini pula pertama kalinya nenek moyang orang Kampar bermula merantau dari kampar ke Semenanjung dan kembali lagi ke Kampar melalui Semenanjung Kampar di Pekantua.




* Indragiri Hulu



Di Indragiri Hulu dahulunya merupakan bahagian negeri dari Kerajaan Indragiri yang bermula dari Keritang Indragiri Hulu. Bahasa melayu Riau yang kental dengan loghat dan dialeg yang mirip dengan bahasa melayu Johor-Riau-Lingga masih lestari hingga saat ini. Jika anda pergi ke Rengat ataupun sekitarnya ,dan menemukan anak-anak bermain bercengkrama seperti halnya tokoh serial kartun Malaysia, Upin dan Ipin. Di Bahagian Indragiri Hulu di pedalaman maka bahasa nya pun dipengaruhi oleh bahasa Kuantan.

contoh :

Saya - saye - awak

kecil - kecik - kocik

kedai - kedai - kodai



* Indragiri Hilir



Sama dengan Indragiri Hulu, Indragiri Hilir dan Indragiri Hulu merupakan wilayah satu kesatuan di bawah kerajaan Idnragiri. bahasa melayu riau yang kental namun juga dipengaruhi oleh bahasa Banjar, khususnya di Tembilahan. Karena masyarakat perantau asal Banjar juga banyak berada disini. Namun apabila anda ke Mandah ataupun ke pantai solop bahasa melayu yang dipakai adalah standar bahasa melayu Riau terutama di desa-desa yang masih teguh memegang adat dan tradisi budaya nenek moyangnya.

Bahasa di Indragiri Hilir merupakan campuran antara komunitas banjar dengan melayu pesisir dan kepulauan.



* Pekanbaru

Pekanbaru merupakan ibukota provinsi Riau. Jantung dari segala denyut nadi perekonomian dan pemerintahan dari segala penjuru negeri. Tentulah saat ini Pekanbaru berkembang menjadi kota besar yang pesat perkembangannya. Tidak lagi kita temukan mayoritas masyarakat yang berbahasa melayu disini. Seperti halnya kota-kota besar lainnya di Indonesia, Pekanbaru merupakan kota yang masyarakatnya heterogen. Selain daripada masyarakat Riau sendiri, Pekanbaru asli, juga ada masyarakat minangkabau, jawa, batak, Medan, Sunda, Bugis, Banjar, Palembang, Aceh, dan sebagainya.

Bahasa melayu Riau asli Pekanbaru juga masih ada meski Pekanbaru juga diramaikan oleh bahasa-bahasa warga pendatang, karena pada hakikatnya Pekanbaru zaman dulunya merupakan daerah kampung melayu yang didiami penduduk melayu Siak yang sangat sedikit populasinya pada saat itu.

Seperti yang kita ketahui, Pekanbaru dahulunya adalah negeri bahagian dari Kerajaan Siak, dan sebagai negeri pembatas antara Riau pesisir dan Riau pedalaman sehinngga budaya tradisi Riau daratan bercampur baur disini terlebih ketika bandar Pekan telah dibuka oleh Sultan Siak. Karena dibawah naungan Kerajaan Siak kala itu yang memindahkan pusat pemerintahannya di Senapelan , maka tentulah segala budaya,adat istiadat, tradisi dan budaya Siak berkembang di Senapelan,Pekanbaru.
BACA : SEJARAH BAHASA DAN TRADISI ASLI PEKANBARU


Betul, bahasa dan tradisi melayu di Pekanbaru yang ditutur oleh penduduk asli Pekanbaru sangat mirip dengan bahasa asli Siak, Perawang, dan Gasib.

Seperti : (pakai frasa paling gampang sejagat aja,,, "Kamu Hendak Pergi Ke mana?")

Bahasa melayu Pekanbaru : "Awak tuh nak pegi kemane?" atau "Awak nak pegi kemano?" atau bisa juga "Kau nak pegi kemana?"

Selain bahasa melayu Pekanbaru, juga banyak terdapat bahasa melayu Kampar, karena Pekanbaru juga merupakan daerah yang sangat dekat dan dikelilingi oleh daerah Kampar ,sehingga perpaduan tradisi dan bahasa itu juga berkembang terutama daerah-daeah Pekanbaru di kawasan daratan atas, barat dan selatan.

Pekanbaru sekarang adalah kawasan urban seperti halnya dengan kota-kota besar yang lain, penduduknyapun heterogen. Di situ memang bilangan orang Melayu nya udah OUTNUMBER. Kalau mau mendengar dialek asli melayu di Pekanbaru, komunitasnya terlalu terbatas ke perkampungan tertentu di pinggir sungai (dan tentu saja kantor2 pemerintahan).


Dialek Riau Pedalaman


* KAMPAR , ROKAN HULU , KUANTAN SINGINGI


Sekilah sejarah , di Rokan Hulu terdapat kerajaan Rokan, Di Kampar terdapat kerajaan Kampar, Kuntu Darussalam, Kerajaan Gunung Sahilan. Di Kuatan juga terdapat kerajaan Kuantan.

Kawasan Riau bahagian Hulu atau Riau pedalaman meliputi Kampar, Rokan Hulu, dan Kuantan Singingi. Bahasa Riau pedalaman ini, merupakan bahasa asli melayu Sumatera dan mirip dengan dialek minangkabau.
Secara adat juga mirip dengan minangkabau. Namun bisa dikatakan pula bahwsannya daerah-daerah ini adalah daerah dengan bahasa dan adat asli melayu darat di Sumatera.

Dan untuk diketahui juga bahasa melayu di Riau pedalaman juga mirip dengan bahasa melayu di Negeri Sembilan dan Pahang. Bahkan nenek moyang atau tetua masyarakat di Negeri Sembilan, Pahang, Kuantan, Perak di Malaysia selain berasal dari minangkabau,  mereka juga ada yg berasal dari atau perantau-perantau atau masyarakat dari Kampar, Kuantan dan Rokan Hulu. Paling banyak adalah perantau dari Kampar.

Namun sangat berbeda dengan bahasa minangkabau sesungguhnya.Bahkan bila kita tarik lagi lebih ke dalam lagi hingga ke daerah Pangkalan di perbatasan Riau-Sumbar juga hampir sama dialeknya dengan masyarakat Kampar. Disana masyarakatnya juga lebih condong ke Pekanbaru.

Namun, bila kita lebih menulusuri lebih dalam ke ranah Kampar,Kuantan dan Rokan Hulu, ternyata di setiap desa atau kampung masih terdapat perbedaan bahasa-bahasa di negeri itu sendiri. Di Kuantan, misalnya, di setiap kampung itu berbeda bahasanya.


* Kampar


Kampar sangat identik dengan sebutan Kampar Limo Koto. Limo Koto terdiri dari Kuok, Bangkinang, Air Tiris, Salo, dan Rumbio. Terdapat banyakpersukuan yang masih dilestarikan hingga kini. Sangat penting rasanya anak kemenakan mendapat penjelaskan posisi adat kampar sebagai sebuah budaya asli masyarakat kampar bukan saduran dari minangkabau . Karena budaya suku turun ke ibu adalah produk hindu..bukan produk minang, ungkap situs-situs sejarah yang menjadi jati diri suku ocu.
Dijelaskan bahwa minanga tamwan dalam prasasti kedukan bukit bukan berarti minang, tapi pertemuan dua sungai kampar kanan dan kiri yang menjadi pusat kerajaan sriwijaya, masyarakat kampar harus tahu bahwasanya pagaruyung adalah kerjaan yang jauh lebih muda (zaman maja pahit) dan bukan pusat budaya Kampar.
Kaji dan analisis dua keterangan sejarah melalui BAKABA TAMBO ADAT MINANG KABAU dan buat perbandingan dengan kajian SULALAT AL-TSALATSIN, itu jati diri suku ocu.
Bahasa yang dipakai di Limo Koto, yang juga kemudian menjadi bahasa Kampar adalah bahasa Ocu. Di samping itu, Limo Koto juga memiliki semacam alat musik tradisional Calempong dan Oguong.

Di samping julukan BUMI SARIMADU kabupaten Kampar juga terkenal dengan julukan SERAMBI MEKKAH di propinsi Riau,ini disebabkan masyarakatnya yang 100% beragama Islam (etnis ocu),demikian juga dengan pakaian yang sehari-hari yang dipakai bernuansa melayu muslim.

Masyarakatnya sendiri merupakan masyarakat dari suku Ocu yang merupakan salah satu bagian dari suku yang ada dalam imperium Melayu Riau, Suku Ocu mempunyai ciri dan kateristik yang khas. Bahasa Ocu juga menjadi bahasa sehari hari, dalam kosa katanya banyak kemiripan dengan bahasa Minang Sumatra Barat namun dalam vocal dan dialek sangat kental dengan Melayu lagi lagi ini menjadikan bahasa Ocu khas.

Selain mengikuti pemerintahan yang ada, masyarakat Kampar juga patuh dan diatur oleh sistim pemerintahan adat yang diatur dalam kelembagaan adat mulai dari tingkat kampuong, nagohi (negeri) hingga koto dan Andiko 44 sebagai federasi yang memerintah Kampar secara keseluruhan, dan perangkat pemerintahan ini disebut dengan Ninik Mamak yang dipimpin oleh Penghulu.

contoh :

saya - awak - deyen
anda - kau
pergi - poyi
pekan - pokan
kecil - kocik
kedai - kodai
mau - mo
abang - Ochu atau abang
kakak - kakak
abang lelaki tertua - onshu



* Kuantan Singingi


Menurut sejarah, daerah ini dikenal dengan sebutan Rantau Nan Kurang Oso Duo Pulua”, artinya negeri tempat perantauan yang mempunyai sembilan belas koto (negeri) atau dua puluh kurang satu koto. Daerah Kuantan pada bagian barat (hulu) berbatasan dengan Provinsi Sumatera barat, pada bagian timur (hilir) berbatasan dengan Desa Batu Sawa, pada bagian selatan berbatasan dengan Provinsi Jambi, dan bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Kampar.

Bahasa Kuantan namanya. Dan sukunya disebut Melayu Kuantan dan beradat juga dekat ke minangkabau.
Di Kuantan Singingi bahasa Kuantan boleh jadi berbeda dialek antara tiap-tiap desa. Bahasa dan dialek Kuantan mirip dengan bahasa minang

Harap dipahami bahwa adat-budaya di Kuansing itu merupakan perbancuhan dari pengaruh Datuk Perbatih dengan Datuk Tumenggung. Kerajaan Kuantan ada pada abad ke-7 Masehi sedangkan Pagaruyung antara abad ke13 dan 14. Jadi, tak bisa disimpulkan secara sempit bahwa adat-budaya Kuansing itu berasal dari Minangkabaiu dan sebagainya. Dan arsitektur digambar ini merupakan 100% Minang, karena merupakan tempat tinggal Keluarga Raja Pagaruyung

Ada juga di beberapa daerah Kuantan yang berbatasan dengan daerah Indragiri juga ada mix bahasa Kuantan dan bahasa melayu Indragiri.

Bahasa Kuantan , misalnya :

 - hampir sama dengan bahasa Kampar
ada pula tata ucap seperti ini :
 "Kamu Hendak Pergi Ke mana?" -  "Kau Nak Poii Ka Mano?"
Jalur, disebut "Jalu" atau "Jalue"
Teluk, disebut "Taluk" dan "Toluk"



* Rokan Hulu


Di Pasirpengaraian dan Dalu-dalu saja (bukan yang Ujungbatu ), tidak akan ada orang Melayu Rohul (yang mengamalkan sistem patrialisme) mau dibilang bahasanya mirip bahasa Minang. Kalau pun harus mengalah pada akulturasi, memang betul bahasa Melayu Rohul itu "mix 3 bahasa" antara Mandailing, Melayu, dan Minang. Bahkan orang Mandailing pun banyak yang lebih mengakui diri mereka sebagai melayu ketimbang batak. Contohnya saja Soeman Hasibuan mengaku kalau dirinya seorang melayu.



kesimpulan (pakai frasa paling gampang sejagat aja,,, "Kamu Hendak Pergi Ke mana?")

ROKAN dan KAMPAR : "Awak Nak Poii Ka Mano?" atau "Kau Nak Poii Ka Mano"

Panggilan sapaan :

Saya ,disebut "awak" atau "ambo"

Panggilan abang , disebut "abang" , "Ochu" , atau "Udo"

panggilan kakak , disebut "kakak" namun ada juga yang memanggil dengan "uni"

Panggilan adik, "adek" , "adiak".


Di Rokan Hulu,

Saya = "Aku"
Istilah "pemanis kata" seperti "Ojeee", "Ondee", dan "do" jg sering dipakai..
Dan walaupun mirip bahasa minang, daerah ini tidak menggunakan kata "Ciek" untuk mengacu angka "Satu".

Orang (dalam melayu : oghang) = "Ughang"
Pasar = "Pokan"
Kedai = "Kodai"


"Tak Ada"


Rokan Hulu : Indoww laiii / indak laiii (Lai di baca panjang di vokal "iii" )

Kampar dan Kuantan : Indak ado

Namun secara adat upacara , semisal kalau perkawinan memakai pantun adat berbahasa Melayu Pesisir ... Yang logat "e" lemah itu.


Perbedaan bahasa melayu di Riau daratan batasnya di Pekanbaru. Disini semua tercampur.

Anggap lah siak, dumai, bengkalis, kepulauan mempunyai dialek yang sama.

sedangkan untuk Kampar Raya kebanyakan berbahasa "ocu"..

kenapa bahasa melayu Riau pedalaman(Kampar, Rohul, Kuansing) dibilang mirip bahasa minang?

jawabannya simpel aja. karena telinga orang melayu pesisir dan kepulauan mendengar bahasa orang Riau Pedalaman sangat mirip dengan bahasa minang.

Saya ketika pertama kali mendengar juga berpikir seperti itu, setelah punya temen banyak orang Kampar, Kuansing,dan Rohul dan sedikit bisa bahasa itu baru saya mengerti perbedaannya.

kasus ini sama halnya kalo kita berbahasa melayu di jawa.. akan dianggap berbahasa minang karena memakai akhiran "o". karena itu asing ditelinga mereka.
walaupun ga semua yang memakai akhiran "o" itu orang minang.

Bangga Berbahasa Melayu





catatan : Penulisan ini merupakan kesimpulan sementara dan tidak bisa dijadikan kajian ilmiah, terimakasih
Post a Comment