Search This Blog

Monday, December 16, 2013

Ini Pidato Pertama Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haytar

 Ini Pidato Pertama Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haytar

Ini Pidato Pertama Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al-Haytar

Menyambut Wali Nanggroe dengan tarisilat Beuso (foto:atjehlink)
Menyambut Wali Nanggroe dengan tarisilat Beuso (foto:atjehlink)
Sambutan Pertama Wali Nanggroe
“Jalan panjang menggerakkan kebangkitan Peradaban Aceh menjadi Peradaban Dunia”
dalam sidang Paripurna Istimewa DPR Aceh untuk Pengukuhan Wali Nanggroe, 16/12/13.

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikumwarahmatullahi wabarakatuh.
HAMDAN WA SYUKRAN LILLAH, SHALATAN
WASALAMAN ‘ALA RASULILLAH, WA ‘ALA ALIHI
WASHAHBIHI WAMAUWALAH.
Saudara Ketua, Para Wakil Ketua dan seluruh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh yang saya hormati.
Saudara Gubernur dan Wakil Gubernur beserta seluruh jajaran Pemerintah Aceh yang Saya hormati dan banggakan.
Saudara-saudara Pimpinan DPRK, Para Bupati/Wakil Bupati dan Walikota/Wakil Walikota seluruh Aceh yang sangat Saya banggakan.
Saudara-saudara Wakil dari Pemerintah Pusat yang saya hormati.
Dan Kehadapan hadirin dan hadirat Sidang Paripurna Istimewa DPR Aceh yang saya hormati, serta seluruh rakyat Aceh yang dimuliakan Allah SWT.
Mengawali sambutan pertama Saya selaku Wali Nanggroe, saya ingin menyampaikan rasa haru, bangga, dan penghargaan yang tulus ikhlas kepada sahabat Saya, Bapak Presiden Soesilo Bambang Yoedoyono dan Bapak Muhammad Jusuf Kalla Wakil Presiden Periode (2004 – 2009) yang telah mengutus sahabat karib Saya,  DR. Hamid Awaludin bersama timnya sebagai wakil Pemerintah Republik Indonesia dalam perundingan damai dan penanda-tangan MoU di Helsinki tanggal 15 Agustus 2005, serta mengawal pelaksanaan implementasi MoU Helsinki sampai saat ini.
Terimakasih saya sampaikan kepada seluruh Rakyat Aceh yang selalu memberikan dukungan kepada Pemerintahan Aceh dalam mengisi pembangunan perdamaian sebagai mana amanah Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.
Secara khusus saya patut pula sampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh Pemangku adat dan Peradaban Aceh, Para Alim ulama dan cerdik pandai Aceh yang telah memberikan dukungan penuh kepada Pemerintah dan DPR Aceh dalam menjalankan dan merumuskan berbagai kebijakan dan program-pragram pembangunan Aceh sejak 2006 sampai saat ini dan seterusnya.
Saya juga menyampaikan rasa simpati, pernghargaan dan kebanggaan Saya kepada seluruh Pimpinan lembaga-lembaga vertical Negara; TNI, POLRI, Kejaksanaan, Pengadilan, Kehakiman,  dan lain-lain  beserta jajarannya yang dengan penuh tanggungjawab dan tanpa pamrih menjalankan tugasnya dalam mengawal keseluruhan proses perdamaian ini.
Pada hari ini dihadapan majelis sidang Paripurna Istimewa DPR Aceh yang terhormat ini, Kita kembali mengukir sejarah baru yakni dimulainya kebangkitan peradaban Aceh sebagai wujud dari komitment seluruh Pemangku Kepentingan  Aceh dalam menjalankan amanah MoU Helsinki dan UU Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006. Semoga dihari yang berbahagia ini menjadi hari yang mulia bagi kita semua, khususnya Rakyat Aceh tercinta.
Mengutip amanah Alm. DR. Tengku Hasan Muhammad Ditiro; “Di dalam perang kita telah sangat banyak pengorbanan, akan tetapi, dalam kedamaian kita harus bersedia berkorban lebih banyak lagi. Memang, biaya perang sangat mahal akan tetapi biaya memelihara perdamain jauh lebih mahal. Peliharalah kedamaian ini untuk kesejahtraan kita semua”
Sejalan dengan amanah tersebut, dalam pandangan saya, Kebebasan dan perdamaian yang menyeluruh di Aceh saat ini adalah merupakan rahmat dan nikmat yang diberikan Allah SWT kepada rakyat Aceh secara khusus dan seluruh rakyat Indonesia secara umum, yang dapat menjadi contoh baik bagi perdamaian dunia. Kesemuanya ini adalah hasil jerih payah dari perjuangan para syuhada yang telah disumbangkan termasuk seluruh pejuang perdamaian, yang tak boleh dilupakan. Untuk ini marilah kita membacakan ummul qur’an agar para syuhada bangsa dapat berada disisiNya, Alfatihah, Bismillahhirahmannirahim, Alhamdulillah … Amin.
Hadirin-hadirat Majelis sidang Paripurna Istimewa yang budiman.
Seiring dengan kemajuan paradaban Aceh, pada tahun 1630 Masehi, akulturasi adat-istidat Aceh telah melahirkan pranata sosial, pranata hukum dan pranata politik yang kemudian menjadi system pemerintahaan kerajaan Islam di Aceh. Dan kini sudah seharusnya Kita menatap kedepan untuk merajut kembali peradaban Aceh yang pernah Berjaya tersebut.
Keragaman budaya, tamadun dan adat-istiadat dari pada suku-suku bangsa yang berada di Aceh harus kita jadikan sebagai khazanah utama kebangkitan peradaban Aceh. Kita harus saling menghargai, menghormati, dan melindungi sesama kita atas nilai-nilai peradaban Kita. Mengutip firman Allah dalam Alqur’an yang artinya bahwa “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian selalu menjadi orang-orang yang menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi yang adil, dan janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap sesuatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah: 8)”.
Itu artinya bahwa setiap kita berkewajiban untuk saling menghormati,  melindungi, dan berlaku adil pada semua dengan tanpa melihat asal-muasal kita. Dan hal ini jelas bahwa semua orang harus diberikan hak yang sama tanpa diskriminasi dan atau berburuk sangka. Inilah sesungguhnya kunci dan prinsip emas yang meletakkan dasar untuk harmoni kehidupan atas dasar nilai-nilai peradaban Aceh.
Pada bagian lain Allah juga memerintah pada Kita “Jika ada dua golongan dari orang-orang yang beriman saling berperang, maka damaikanlah kedua-duanya. Jika salah satu dari dua golongan itu bertindak zalim terhadap golongan yang lain, maka perangilah mereka hingga mereka kembali kepada perintah Allah.” (QS. Al-Hujarat: 9).
Itu artinya, akan hilang maknanya kebebasan, perdamaian dan kemartaban serta peradaban sebuah bangsa, jika kita tidak saling percaya dan menghormati atas nilai-nilai perdaban Kita dan menjadikannya sebagai landasan dan ciri-ciri khas tamadun Aceh. Tidak ada artinya status kekhususan dan keistimewaan Aceh jika pranata peradaban Aceh tidak lagi berfungsi sebagai PILAR pembangunan Aceh. Mendasari pada hal tersebut, Saya memandang Kita perlu melakukan revitalisasi seluruh pranata peradaban Aceh dan menjadikannya sebagai bagian dari Peradaban Indonesia dan Dunia.
Hadirian dan hadirat sidang Majelis yang budiman.
Ada tiga tantangan besar kedepan dalam mengurangi kesenjangan social, ketidak-adilan ekonomi dan kesenjangan antara wilayah yang perlu segera kita temnukan resolusinya dalam membangun Aceh secara utuh berbasiskan nila-nilai Peradaban Aceh;
Pertama: bagaimana kita berdaya menghadapi ancaman global atas perdamaian dunia yang berdampak pada keberlanjutan perdamaian Aceh?
Kedua: bagaimana Kita merespon ancaman liberalisasi kebudayaan? dan,
Ketiga: bagaimana kita juga harus merespon ancaman sekaligus meraih peluang leberalisasi ekonomi yang ditandai dengan lonjakan harga pangan dan energi yang terus meningkat secara cepat, pemanasan global yang menyebabkan perubahan cuaca secara ekstrim yang berdampak pada keberlanjutan ekosistem bumi.
Bagi Kita di Aceh dalam pandangan Saya, kita perlu melakukan terobosan dan atau perubahan secara fundamental yang dimulai dari bangku sekolah/madrasah sejak usia dini hingga perguruan tinggi atau dalam bahasa lainnya kita perlu melakukan revolusi pendidikan, sejalan dengan proses transformasi pengetahuan yang saat ini sedang berjalan di Aceh.
Mengapa Saya berpadangan kita harus melakukan revolusi Pendidikan, sesungguhnya hakekat pendidikan itu adalah membebaskan seseorang untuk berinovasi dan berkreativitas sesuai dengan potensi dan atau keunggulan yang dimilikinya. Sehingga nantinya pendidikan tidak semata-mata untuk mempersiapkan seseorang menjadi pegawai pemerintah, melainkan anak-anak Aceh yang sejak usia dini sampai perguruan tinggi sudah dididik berdaya dalam menumbuhkan budaya inovasi kreatifitas dalam mengelola sumbertdaya alam, berkemampuan dalam persaingan kewira-usahawan (entrepreneurship) dengan menciptakan lapangan kerja serta berdaya guna dalam mengembakan Peradaban Aceh sebagai peradaban dunia.
Hal lain yang juga dapat dilakukan adalah dengan berlandaskan pada keberhasilan kita menyelesaikan konflik secara damai, sejarah Peradaban Aceh yang pernah menjadi bagian dari peradaban dunia dengan kualitas sumberdaya manusianya yang cerdas, bernurani, bermartabat dan inovatif, maka Kita bisa menjadi pengawal perdamaian dunia sebagaimana yang dilakukan oleh para pendahulu kita. Dengan kita bisa kita berperan dalam proses perdamaian dunia, maka secara tidak langsung Kita dapat melindungi rakyat Aceh dari ancaman globalisasi budaya dan merebut peluang ekonomi global seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN ditahun 2015 nanti. Insya Allah.
Ketua, Para Wakil Ketua dan seluruh Anggota DPR Aceh yang hormati dan hadirin/hadirat yang dmuliakan Allah.
Mengakhiri sambutan ini, saya mengutip pernyataan sahabat baik saya Presiden Soesilo Bambang Yoedoyono bahwa “yang lebih penting dari menciptakan perdamaian adalah menjaganya. Menjaga dan menyelamatkan perdamaian memerlukan upaya yang serius, sistematik dan berkelanjutan. Diperlukan pula keteguhan dan “political will” dari para pemimpinnya.  Jangan terganggu dan koyak oleh sebab apapun. Perjalanan sudah amat jauh, korban sudah terlalu banyak. Kita ingin melihat Aceh yang makin maju, makin damai, makin adil dan makin sejahtera”
Demikian sambutan dan harapan besar Saya mengawali tugas yang diamanahkan kepada Saya selaku Wali Nanggroe, semoga dengan semangat kebangkitan peradaban Aceh sebagai bagian dari peradaban dunia, Insja Allah jalan panjang yang kita tempuh selama ini dapat mengembalikan kejayaan Aceh dalam iklim kebebasan dan perdamaian secara utuh dan bermartabat.
Wabillahhi taufiq walhidayah assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Teungku Malik Mahmud
sumber: tgj
Post a Comment