Search This Blog

Monday, May 6, 2013

Aceh Bakal Buka Kantor di Negara-negara Strategis


BADAN Investasi dan Promosi Aceh mendapat undangan menghadiri acara Annual Investment Meeting (AIM) yang dilaksanakan Pemerintah Dubai. Acara ini dihadiri seluruh negara terutama Eropa dan Asia Tengah sejak 30 April 2013 hingga 3 Mei 2013.

"Aceh bagi investor dunia bukanlah daerah yang asing lagi," ujar Kepala BIP Aceh Iskandar, Jumat, 3 Mei 2013.

Menurut Iskandar, disamping melaksanakan forum bisnis acara ini juga melaksanakan pameran. Untuk itu, kata Iskandar, tahun 2014 nanti Pemerintah Aceh akan ikut serta dalam pameran promotion investmen dengan menyediakan suatu ruangan yang besar.

"Sehingga investor asing bisa langsung menanyakan segala potensi investasi dengan data-data yang lengkap," katanya.

Dia mengatakan, untuk meningkatkan investasi tersebut Wakil Gubernur Muzakir Manaf meminta supaya seluruh rakyat Aceh mendukungnya. Bupati dan wali kota, kata dia, juga diminta untuk membantu kenyamanan investasi di masing-masing kabupaten dan kota.

"Investor adalah mitra utama," katanya.

Selain itu, kata Iskandar, Pemerintah Aceh juga mempunyai cita-cita untuk mendirikan satu Kantor Perwakilan Promotion Investmen Center di negara-negara strategis.

"Sehingga dengan adanya birokrasi Aceh yang cakap dan mampu menjelaskan peluang investasi akan lebih tertarik," ujarnya. | atjehco

Gayo, Bangsa Kuno yang Tersisa*

 

|

Gayo, Bangsa Kuno yang Tersisa*

=bagian terakhir dari dua tulisan =
Oleh: Hammaddin Aman Fatih*
foto penulisMENURUT sebuah  informasi yang di sampaikan secara turun temurun dari satu genarasi Gayo ke generasi Gayo selanjutnya (baca: kekeberen/bahasa Gayo). Bahwa kata Gayo berasal dari kata “Garib “ atau  “Gaib “. Hal ini dihubungkan dengan datangnya pertama kali leluhur orang Gayo ke wilayah ini,  yaitu pemimpin rombangan yang datang tidak nampak wujudnya tapi suaranya kedengaran. Ada lagi yang menghubungkan kata Gayo dengan “dagroian“ berasal dari kata–kata “drang–gayu“ yang artinya orang Gayo. Dan ada juga menyebut dengan sebutan pegayon yang artinya mata air yang jernih.
Hal diatas mungkin bisa kita anggap sebuah kebenaran sementara. Kalau kita melihat dari sudut lingguistik. Karena makanan yang dikonsumsi berubah setiap generasinya, yang pada akhir berpengaruh kepada konstruksi gigi yang bisa mempengaruhi dialek suara.
Mereka pertama kali menetap di bagian pesisir pulau sumatera. Seterusnya mereka bermigrasi menyelusuri sungai –sungai yang berada di pedalaman Aceh. Makanya setiap perkampungan kuno, yang pasti berada dipinggiran alur sungai, karena melalui sungailah mereka bermigrasi.
Yang menjadi sebuah pertanyaan, mengapa mereka memilik  dataran tinggi yang berada di pedalaman Aceh (baca: Tanah Gayo)? Menurut sebuah sumber, kenapa mereka memilih Dataran Tinggi Tanah Gayo adalah karena diyakini daerah tersebut merupakan daerah yang aman secara geografis dan iklim yang sangat bersahabat dengan penghuninya, sejak era pra sejarah.
Menurut beberapa sumber, dataran tinggi tanah Gayo dari dulu diyakini sebagai daerah yang paling aman dari geteran gempa dengan gaya gratifikasi lebih tinggi dibandingkan dari daerah–daerah yang ada di Indonesia, terutama daerah Linge sekarang. Sehingga daerah tersebut menjadi tujuan utama untuk menetap dan berkembang. Sehingga dalam konteks budaya, setiap anggota yang sudah berkeluarga di tanah Gayo diberi gelar “aman”.
Secara umum, mereka masuk ke tanoh Gayo melalui jalur–jalur sungai besar, antara lain: Pertama, dari muara Sungai Peusangan yang berhulu ke Danau Laut Tawar. Sehingga mereka di sebut pegayon (air mata yang jernih). Hal ini juga di perkuat dengan diketemukannya kehidupan di dataran  tinggi Tanoh Gayo di zaman pra sejarah. Bukti ini dapat kita lihat dari hasil penelitian Madya Bidang prasejarah Balai Arkeologi Medan yang menemukan adanya sebuah kehidupan manusia purba di Ceruk Mendale dan Loyang Putri Pukes. Bahwa proses hunian telah berlangsung dikawasan ini sejak periode mesolitik pada masa 3.580 tahun yang lalu. Dan dalam penelitian tersebut mereka juga menemukan kerangka manusia purba yang diyakini sebagai salah satu leluhur rakyat Gayo. Hal masih dilakukan pengetesan DNA (Deoxyribonucleic Acid) untuk menguji hipotesa tersebut.
Kedua, jalur Sungai Jambu Aye kira-kira baru pada tahun 300 SM menyingkir kepedalaman wilayah Aceh. Hal ini disebabkan kedatangan Melayu Muda dari Kincir dan Kamboja. Dan juga dilatar belakangi ekonomi, yaitu karena masyarakat tersebut bermata pencaharian  mencari ikan dan bercocok tanaman. Sebahagian dari mereka untuk memperluas usaha dan  menambah penghasilan, terus menyelusuri sungai tersebut, terus menyelusuri sampai ke muara sungai yang ada di pedalaman di daerah Samarkilang atau orang Belanda menyebut dengan sebutan Samarlang bukan Samalanga. Akhirnya ada sebahagian yang terus menetap di sana tidak pulang lagi menata kehidupan baru yang terus berkembang dari hari ke hari.
Beberapa periode kemudian (baca: abad Masehi) terjadi pembauran dengan pendatang–pendatang baru berikutnya yang menetap dan berkembang di tanah Gayo. Yaitu:
Pertama: ini berhubungan masuknya pengaruh budaya Islam (baca: aliran Syiah maupun Suni) di lingkungan Kerajaan Linge. Konon kabarnya dibawa oleh oleh orang–orang keturunan Persia yang datang ke tanah Gayo. Ada sebuah informasi yang mengatakan bahwa orang Gayo yang berada di daerah Serule merupakan keturunan mereka, yang mempunyai ciri–ciri fisik tinggi kurus dengan warna mata coklat gelap dengan hidung mancung. Mereka ini berbeda dengan bentuk fisik orang Gayo kebanyakan.
Kedua: berhubungan dengan pelarian politik dari daerah Peurlak, yaitu ketika Raja Linge mengizinkan rombongan Malik Ishak yang berjumlah 300 orang untuk tinggal dan sekaligus diberi hak untuk mendirikan kerajaan Islam di Isaq.
Ketiga: ada sebuah informasi yang mengatakan, bahwa dulunya ada rombongan pengungsi dari wilayah kerajaan Majopahit yang menetap di sekitar daerah yang sekarang di kenal dengan sebutan daerah Penarun. Raut wajah mereka lebih mirip kejawaan. Informasi ini berhubungan dengan cerita yang berkembang di masyarakat tentang “Legenda Keris Majapahit”.
Ke-empat: berhubungan dengan kedatangan orang–orang dari tanah Batak yang menuntut hak warisan sebagai keturunan Gayo yang dulunya merantau ke tanah Batak (Lihat legenda anak Reje Linge yang lari ke tanah Karo). Dan hal ini diperkuat dengan penelitian Ketut Wiradanyana yang memunculkan hipotesa bahwa Orang Batak Berasal Dari Tanoh Gayo (Serambi Indonesia  hal 18, Kajian Arkeologis ; Suku Batak dari Gayo, terbitan 12 Desember 2011).
Kelima: Menurut Akmal yang pernah menjadi seorang interprerter peneliti Asing era Gubernur Aceh Ali Hasjmy, hal ini berhubungan dengan pembangkang politik pada masa pemerintahan Hindia Belanda yang dibuang ke luar Pulau Jawa, yaitu ke Digul, Suriname, Aceh (tanah Gayo).
Ke-enam: era tahun 1900–an yang itu dengan dibukanya lahan perkebunan di dataran tinggi tanah Gayo oleh Belanda. Karena kekurangan tenaga pekerja maka pemerintahan kolonialisme Belanda mendatang pekerjanya dari daerah luar tanah Gayo, khususnya dari Pulau Jawa.
Dengan perjalanan waktu (periode) dan adanya interaksi antara mereka terjadilah pembauran (melalui jalur perkawinan). Beberapa generasi kemudian sampai sekarang. Mereka inilah cekal bekal masyarakat Gayo yang sekarang. Masyarakat tumbuh dan berkembang dari waktu ke waktu di dataran tinggi tanah Gayo yang berada di pedalaman Aceh.
Penutup
Alangkah naifnya sekarang, kita bertanya kepada orang lain, siapa kita sebenarnya? Banyak penulis Gayo menggunakan referensi yang bersumber dari orang asing yang notabene mempunyai kepentingan tersendiri. Malahan hal yang sangat sensitif dalam budaya Gayo menggunakan literatur asing, khususnya  Snock Hurgranje seorang antropolog asal Belanda.
Menurut  Surahman, seorang Sarjana Ilmu Politik sekarang dosen Fisip UGP Takengon, bahwa Snock Hurgranje merupakan spionase (mata-mata) asing yang membuat dua buku tentang Budaya Masyarakat Gayo. Yang asli dikirim langsung ke Amesterdam  Belanda dengan tujuan untuk menaklukan Gayo. Sedangkan satu lagi (buku palsu) beredar di Indonesia yang bertujuan untuk menyenangkan masyarakat Gayo. Dan dia melakukan penelitian hanya 6 bulan di Meulaboh dengan metode wawancara.
Yang menjadi sebuah pertanyaan, apakah bisa dikatakan data itu valid? hanya melakukan penelitian dengan rentang waktu yang sesingkat itu?. Adakah cerita Ikan Depik merupakan salah satu ikan khas yang hidup di Danau Laut Tawar dalam catatan penelitiannya? Mungkin kasus ini sama dengan Marco Pola yang katanya penjelajah yang bercerita tentang Budaya Cina. Dia tidak sedikitpun menyinggung tentang “Tembok Cina”. Tembok ini merupakan salah satu karya manusia yang bisa dilihat telanjang dari bulan (tanpa alat). Percayakah kita dengan karyanya itu?
Untuk  penulisan deskripsi sejarah Gayo, sah–sah saja kita menggunakan literatur lokal. Tapi, jangan terlalu berlebih-lebihan, sehingga tidak terjadi pembenaran yang membabi-buta. Marilah kita cari bandingan dengan literatur luar yang mungkin nilai ilmiahnya lebih kuat dibandingan lokal yang sering terlalu berbau mistik yang cenderung berbentuk isu (kekeberen-bahasa Gayo).
Penulis mengajak seluruh komponen lapisan masyarakat rakyat Gayo untuk melihat dan mengkaji kembali serta memperkenalkan kepada rakyat Gayo khususnya, kepada dunia luar pada umumnya tentang sejarah yang telah lama terkoyak dan terkubur oleh arus perjalanan peradaban zaman.
Mencari mana yang benar serta mana yang salah, mana yang relevan dan mana yang tidak, perlu diberi baju atau dengan kata lain berangkat dari yang aslinya, dihiasi dan diserasikan sesuai serta sejalan dengan tuntunan zaman dengan rekontruksi ulang. Jangan sampai sejarah – sejarah di tanoh Gayo menjadi dongeng di masa yang akan datang karena kita tidak membudayakan budaya menulis. Orang di luar dongeng menjadi catatan sejarah, karena mereka mau menulis.(antro_madin[at]yahoo.co.id)
*Suntingan dari Isi Buku “People of the Coffee” yang masih dalam proses penerbitan sekaligus rivisi tulisan dengan judul Rekonstruksi Jejak Leluhur Rakyat Gayo yang pernah di muat Lintas Gayo.
**Seorang antropolog, guru biasa di SMAN 1 Timang Gajah dan Ketua P3M  Fisip UGP.

Akhir Pekan Ini, Riri Gunung Teritit Bela Indonesia di China

|

Akhir Pekan Ini, Riri Gunung Teritit Bela Indonesia di China

Riri, bersama mantan kepala sekolahnya di SMA Negeri 8 Takengon, Suryani, sebelum keberangkatan ke Riau tahun 2012 lalu. (Lintas Gayo | Kha A Zaghlul)
Riri, bersama kepala sekolahnya di SMA Negeri 8 Takengon, Suryani, sebelum keberangkatan ke Riau tahun 2012 lalu. (Lintas Gayo | Kha A Zaghlul)
Bandung | Lintas Gayo - Atlit balap sepeda putri Indonesia asal dataran tinggi Gayo yang sempat dibina Pengurus Cabang (Pengcab) Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Aceh Tengah, Nur Wahyu Afriana dipastikan akan turut bertanding di ajang Kejuaraan Asian Mountain Bike (MTB) di Cina pada 11-12 Mei 2013 mendatang.
Informasi ini diterima Lintas Gayo dari Nur Wahyu Afriana, Minggu 5 Mei 2013 setelah menerima informasi awal dari salah seorang rekan satu timnya di beberapa kejuaraan di Indonesia, Adi yang kini berada di Takengon.
Riri, panggilan akrab gadis belia kelahiran Gunung Teritit Kabupaten Bener Meriah ini saat ditanyai mengiyakan jika dirinya turut serta membela Indonesia di ajang dunia tersebut.
“Benar pak, saya diikutsertakan berangkat ke China bersama sejumlah rekan-rekan saya di Pelatnas. Dan ini akan jadi balapan pertama saya di luar negeri ,” kata Riri.
Keberangkatan Tim Pelatnas balap sepeda ini, kata Riri, adalah untuk mematangkan kemampuan sebelum terjun di SEA Games XXVII/2013 di Myanmar.
“Selaku putri asal Gayo saya berharap dukungan do’a dari masyarakat Gayo umumnya, terutama para pelatih dan rekan-rekan satu tim saat Porprov Aceh tahun 201o dan sederetan pertandingan beberapa waktu lalu,” kata Riri anak kedua dari Nasir, seorang petani di Gunung Teritit ini.
Riri saat berlatih MTB Down Hill di Paya Serngi Takengon. (Lintas Gayo | Kha A Zaghlul)
Riri saat berlatih MTB Down Hill di Paya Serngi Takengon. (Lintas Gayo | Kha A Zaghlul)
Seperti diberitakan goriau.com,  saat ini, Nur Wahyu Afriana, merupakan atlit yang paling dibanggakan Provinsi Riau setelah memperoleh medali perak pada PON 2012 lalu di Siak, Riau dan terpilih sebagai salah seorang atlit membela Indonesia di SEA GAMES XXVII 2013 di Myanmar.
Ini dinyatakan Ketua Pengprov Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) Riau, H Ilyas Labay SSos, MSi kepada wartawan di Pekanbaru beberapa waktu lalu. Dan seperti diberitakan sejumlah media nasional, dalam beberapa kali pertandingan balap sepeda kategori MTB XC, Riri selalu berhasil raih prestasi papan atas nasional. (LG003)

Di Rawe, Makam 9 Pang Gayo Terbengkalai

 
|

Di Rawe, Makam 9 Pang Gayo Terbengkalai

Masjid Rawe. (Foto : Khalisuddin)
Masjid Rawe. (Foto : Khalisuddin)
Takengon | Lintas Gayo - Tokoh masyarakat Kecamatan Lut Tawar Kabupaten Aceh Tengah minta pihak terkait di Aceh Tengah memberi perhatian khusus terhadap sejumlah peninggalan sejarah di Gayo, khususnya di Rawe Kecamatan Lut Tawar.
“Di kampung kami ada beberapa peninggalan sejarah berharga, namun kami belum bisa mengelolanya dengan baik jika tidak didukung pihak terkait,” kata Reje Kampung Rawe, Darmawi, kepada Lintas Gayo Sabtu 4 Mei 2013 malam.
Diantara tempat bersejarah tersebut, disebutkan diantaranya gua tempat pertahanan tentara Muslimin saat melawan penjajah Belanda. Selanjutnya lokasi tempat disembunyikannya salah seorang Raja Aceh saat dikejar-kejar tentara Belanda, Masjid Tue Rawe serta 9 (sembilan) makam Pang Gayo yang syahid ditembak Belanda.
“Jika tidak segera dikelola dan dikenalkan kembali kepada generasi muda saat ini, bukti sejarah Gayo akan hilang,” keluh Reje Rawe ini.
Daulat Aceh
Jalan Daulat Aceh. (Lintas Gayo | Kha A Zaghlul)
Pernyataan ini dibenarkan Imam Mukim Lut Tawar, Tgk. Haikal Sadiq. “Saya merasa sangat berhutang kepada generasi penerus jika bukti sejarah ini hilang. Namun saya tidak punya daya untuk merubah situasi ini,” kata Haikal Sadiq.
Pengakuannya, dirinya hampir setiap tahun berziarah ke komplek makam 9 Pang Gayo yang syahid melawan penjajah Belanda tersebut. Dan membersihkan lokasi tersebut bersama kerabat Pang-Pang tersebut yang datang berziarah.
Nama-nama Pang yang masih diingat Haikal Sadiq diantaranya Pang Muge, Pang Pendawa, Pang Penjet, Pang Akub dan Pang Sampe. “Itu saja yang saya ingat, 4 lainnya saya tidak ingat lagi siapa namanya,” kata Haikal.
Dikisahkan, para pang tersebut syahid setelah bertempur dengan Belanda di Rawe. Sebanyak 2 orang tentara Belanda tewas saat itu di Atu Gong Rawe.
“Perang tersebut terjadi sebelum salah seorang Raja Aceh disembunyikan di Rawe di tahun 1873 kalau saya tidak khilaf,” kata Haikal Sadiq. (Kha A Zaghlul)

Sunday, May 5, 2013

Vanuatu Negara Pertama Akui Kemerdekaan Aceh

Vanuatu Negara Pertama Akui Kemerdekaan Aceh
 
Semarang, CyberNews. Negara Republik Vanuatu menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Aceh dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengakuan itu ditandai dengan peresmian hubungan diplomatik antara Pemerintah Republik Vanuatu dan Pemerintah Negara Aceh serta pembukaan kantor Kedutaan Negara Aceh di Port Villa, ibu kota Vanuatu, Minggu (17/8), bertepatan dengan peringatan kemerdekaan RI ke-58.

Perdana Menteri Negara Aceh Malik Mahmud dalam siaran pers yang diterima SM CyberNews, Minggu malam, mengungkapkan, bagi rakyat Aceh, peristiwa ini merupakan pengakuan pertama oleh negara lain atas hak bangsa Aceh untuk menentukan masa depan politik mereka sejak Belanda menyatakan perang dan mendaratkan pasukan kolonialnya di bumi Aceh pada 26 Maret 1873. Selain Negara Aceh, dua wilayah NKRI yang hari ini diakui kemerdekaannya oleh Pemerintah Vanuatu adalah Papua dan Maluku. Peresmian dilakukan oleh Wakil Perdana Menteri Vanuatu Serge R Vohor.

Atas nama rakyat Aceh dan Kepala Negara Aceh Tengku Hasan Tiro, Malik Mahmud mengungkapkan penghargaan setinggi-tingginya atas langkah bijaksana dan berani yang diambil oleh Presiden dan Perdana Menteri Republik Vanuatu dalam mendukung perjuangan bangsa Aceh untuk melepaskan diri dari Indonesia.

"Perwakilan diplomatik kami akan melakukan usaha-usaha khusus untuk lebih meningkatkan lagi hubungan-hubungan bilateral unik yang telah ada antara rakyat Aceh dan Vanuatu, dan untuk memperkuat persahabatan dan kerja sama strategis ke tingkat yang lebih tinggi di masa depan. Kami menyatakan seikhlas-ikhlasnya komitmen kami untuk menghormati undang-undang, nilai-nilai serta norma-norma kehidupan yang berlaku di negara tuan rumah kami (Vanuatu)," papar Malik Mahmud.

Dengan pengakuan kedaulatan ini, Malik menilai pemerintah dan rakyat Vanuatu telah memberikan harapan kepada bangsa Aceh bahwa masih ada pemerintah-pemerintah yang bersedia bertindak berani mengakui kedaulatan bangsa Aceh. "Kami memandang masa depan dengan keyakinan akan hubungan bersahabat yang berkepanjangan dan untuk kebaikan bersama, serta mengambil kesempatan ini untuk menyerukan kepada seluruh bangsa Aceh supaya terus berjuang hingga kemerdekaan tercapai," ujarnya.

Awal Maret 2003 lalu, Pemerintah Indonesia pernah melakukan protes keras kepada Pemerintah Vanuatu yang memberikan dukungan politik terhadap Organisasi Papua Merdeka (OPM). Apalagi dikabarkan negara itu telah mengizinkan OPM membuat kantor perwakilan di sana.

Nama Vanuatu memang asing di telinga orang Indonesia. Negara kepulauan di lautan Pasifik ini termasuk negara miskin yang dahulunya dikenal dengan nama "Hebrida Baru". Negara ini ditemukan oleh Pedro Fernandez dari Portugal tahun 1606, kemudian diberi nama oleh navigator Inggris James Cook tahun 1774. Luas Vanuatu kurang lebih sama dengan luas Kabupaten Sarolangun Bangko di Provinsi Jambi.

Negara Vanuatu bernama asli Republic Blong Vanuatu dengan luas wilayah 14.763 Km2. Negara berbentuk republik ini beribu kota di Villa. Negara dikepalai oleh seorang presiden dan pemerintahannya dipimpin oleh seorang perdana menteri. Penduduknya beragama Presbyterian, Kristen dan Animisme. Bahasa nasional ada tiga: Bilasma, Prancis dan Inggris. Mata uang Vanuatu adalah Vatu. Lagu kebangsaannya "Umi Yumi; Man Blong". Mangan menjadi sumber alam utama, dengan hasil tani seperti kelapa, coklat, kopi dan ternak.
 

Vanuatu Negara Pertama Akui Kemerdekaan Aceh


Semarang, CyberNews. Negara Republik Vanuatu menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Aceh dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengakuan itu ditandai dengan peresmian hubungan diplomatik antara Pemerintah Republik Vanuatu dan Pemerintah Negara Aceh serta pembukaan kantor Kedutaan Negara Aceh di Port Villa, ibu kota Vanuatu, Minggu (17/8), bertepatan dengan peringatan kemerdekaan RI ke-58.

Perdana Menteri Negara Aceh Malik Mahmud dalam siaran pers yang diterima SM CyberNews, Minggu malam, mengungkapkan, bagi rakyat Aceh, peristiwa ini merupakan pengakuan pertama oleh negara lain atas hak bangsa Aceh untuk menentukan masa depan politik mereka sejak Belanda menyatakan perang dan mendaratkan pasukan kolonialnya di bumi Aceh pada 26 Maret 1873. Selain Negara Aceh, dua wilayah NKRI yang hari ini diakui kemerdekaannya oleh Pemerintah Vanuatu adalah Papua dan Maluku. Peresmian dilakukan oleh Wakil Perdana Menteri Vanuatu Serge R Vohor.

Atas nama rakyat Aceh dan Kepala Negara Aceh Tengku Hasan Tiro, Malik Mahmud mengungkapkan penghargaan setinggi-tingginya atas langkah bijaksana dan berani yang diambil oleh Presiden dan Perdana Menteri Republik Vanuatu dalam mendukung perjuangan bangsa Aceh untuk melepaskan diri dari Indonesia.

"Perwakilan diplomatik kami akan melakukan usaha-usaha khusus untuk lebih meningkatkan lagi hubungan-hubungan bilateral unik yang telah ada antara rakyat Aceh dan Vanuatu, dan untuk memperkuat persahabatan dan kerja sama strategis ke tingkat yang lebih tinggi di masa depan. Kami menyatakan seikhlas-ikhlasnya komitmen kami untuk menghormati undang-undang, nilai-nilai serta norma-norma kehidupan yang berlaku di negara tuan rumah kami (Vanuatu)," papar Malik Mahmud.

Dengan pengakuan kedaulatan ini, Malik menilai pemerintah dan rakyat Vanuatu telah memberikan harapan kepada bangsa Aceh bahwa masih ada pemerintah-pemerintah yang bersedia bertindak berani mengakui kedaulatan bangsa Aceh. "Kami memandang masa depan dengan keyakinan akan hubungan bersahabat yang berkepanjangan dan untuk kebaikan bersama, serta mengambil kesempatan ini untuk menyerukan kepada seluruh bangsa Aceh supaya terus berjuang hingga kemerdekaan tercapai," ujarnya.

Awal Maret 2003 lalu, Pemerintah Indonesia pernah melakukan protes keras kepada Pemerintah Vanuatu yang memberikan dukungan politik terhadap Organisasi Papua Merdeka (OPM). Apalagi dikabarkan negara itu telah mengizinkan OPM membuat kantor perwakilan di sana.

Nama Vanuatu memang asing di telinga orang Indonesia. Negara kepulauan di lautan Pasifik ini termasuk negara miskin yang dahulunya dikenal dengan nama "Hebrida Baru". Negara ini ditemukan oleh Pedro Fernandez dari Portugal tahun 1606, kemudian diberi nama oleh navigator Inggris James Cook tahun 1774. Luas Vanuatu kurang lebih sama dengan luas Kabupaten Sarolangun Bangko di Provinsi Jambi.

Negara Vanuatu bernama asli Republic Blong Vanuatu dengan luas wilayah 14.763 Km2. Negara berbentuk republik ini beribu kota di Villa. Negara dikepalai oleh seorang presiden dan pemerintahannya dipimpin oleh seorang perdana menteri. Penduduknya beragama Presbyterian, Kristen dan Animisme. Bahasa nasional ada tiga: Bilasma, Prancis dan Inggris. Mata uang Vanuatu adalah Vatu. Lagu kebangsaannya "Umi Yumi; Man Blong". Mangan menjadi sumber alam utama, dengan hasil tani seperti kelapa, coklat, kopi dan ternak.

HUBUNGAN RAHASIA INDONESIA DENGAN YAHUDI


HUBUNGAN RAHASIA INDONESIA DENGAN YAHUDI

Pemerintah boleh bilang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Tapi fakta di lapangan, menunjukkan hal yang sebaliknya. Pemerintah RI dan Israel justru membina hubungan baik dengan Israel. Sebuah pengkhianatan?

Hubungan ‘mesra’ Indonesia-Israel dimulai sejak pemerintahan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Tahun 1999, Gus Dur merencanakan untuk membuka kembali hubungan perdagangan dengan negeri penjajah itu, yang telah terputus sejak tahun 1967. Rencana itu pun diwujudkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan Luhut Binsar Pandjaitan pada tahun 2001. Menteri ini menandatangani Surat Keputusan Menperindag No.23/MPP/01/2001 tertanggal 10 Januari 2001 yang melegalkan hubungan dagang antara RI dengan Zionis-Israel.

Kemesraan itu pun terus berlanjut pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada 13 September 2005, Menteri Luar Negeri Hassan Wirayudha bertemu dengan Menlu Israel, Silvan Shalom, di New York, AS. Hassan mengaku pertemuan itu tidak membahas pemulihan hubungan diplomatik. “Kami tidak bicara masalah hubungan diplomatik. Israel sangat tahu posisi Indonesia seperti apa,” katanya. Saat itu pemberitaan di sejumlah media massa asing ramai menyiarkan keinginan Israel untuk membangun hubungan diplomatik dengan Indonesia. Menurut media asing itu, Jerusalem (Israel) telah mengirimkan surat tentang hal itu kepada Jakarta.

Fakta itu sempat membuat SBY kelimpungan. Dengan gerakan tangan dan bahasa tubuh khas, SBY, berkata, “Tidak ada yang gelap, karena, sekali lagi, kita ingin membantu perjuangan bangsa dan rakyat Palestina,” ujar SBY di kantor Perwakilan Tetap Republik Indonesia di New York waktu itu. Sayang jawaban itu tak bisa memberikan makna apa-apa dari pertemuan rahasia tersebut. Sejak itu hubungan kedua negara makin intensif. Memang hubungan ini tidak dijalankan oleh para eksekutif/pejabat negara tapi oleh para pengusaha. Tahun 2006 lalu misalnya, sebuah misi dagang Kamar Dagang dan Industri Indonesia berkun-jung ke Israel. Saat itu Ketua Kadin Indonesia Mohammad Hidayat menan-datangani perjanjian ekonomi kedua negara. ”Indonesia bisa menjadi pasar utama bagi ekspor barang-barang Israel ke Asia Tenggara,” kata Presiden Israel Manufacturers Association, Shraga Brosh dalam acara itu. Sedangkan Hidayat mengatakan kerja sama ini bisa membantu perusahaan-perusahaan Israel untuk melakukan kegiatan di Indonesia.

Kunjungan ini sekaligus menegaskan bahwa telah terjalin kontak yang intensif antara kedua negara di sektor perdagangan. Lihat saja data volume data volume perdagangan Indonesia-Israel selama tahun 2005 mencapai 154 juta dolar. Dari nilai ini, Israel hanya mengekspor 14 juta dolar, sedang Indonesia mengekspor 140 juta dolar ke Israel terutama, terutama untuk barang elektronika, plastik, dan karet. Negara Zionis itu menargetkan volume perdagangan kedua negara bakal mencapai 600 juta dolar di tahun 2010.
Zionis mengincar berbagai proyek penting di Indonesia misalnya proyek pembangunan PLT-Geothermal di Sumatera senilai 200 juta dolar yang dimenangkan oleh Ormat Technology, perusahaan engineering Israel di bidang energi geothermal. Selain itu, Indonesia menjadi sasaran pemasaran produk-produk teknologi biomedik.

Seorang dokter bedah Indonesia yang sering bepergian ke medan konflik di seluruh dunia seperti Afghanistan, Irak, Lebanon, Palestina, Somalia, dan lain-lain mengungkapkan banyak peralatan ICU yang ada di rumah-rumah sakit besar di negeri ini dibeli dari Israel. Dalam kaitan itu, lanjutnya,  pemerintah Indonesia telah mengirimkan tenaga-tenaga medis Indonesia ke sana untuk pelatihan ICU (Intensive Care Unit). Menurutnya, seperti dikutip eramuslim,  rumah-rumah sakit besar yang ada di Indonesia, terutama di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, sudah lazim mengirim tenaga-tenaga medisnya untuk mendapat pelatihan ICU di Israel.

Selain dunia medis, menurut data yang didapatkan situs tersebut, TNI juga telah melakukan pembelian sejumlah senjata api jenis senapan sniper seperti Galil-Galatz keluaran Israeli Military Industries (IMI) beberapa tahun lalu. Kasus ini pernah mengemuka dan menjadi perdebatan publik beberapa waktu lalu namun isunya menguap begitu saja seiring berjalannya waktu.

Bahkan, menurut Jenderal (Pur) Soemitro dalam memoarnya berjudul, ”Soemitro dari Pangdam Mulawarman sampai Pangkopkaptib,” menegaskan hubungan yang harmonis antara intelijen Israel, Mossad, dan TNI. Ia menulis: ”David, Raviv, dan Yosi Melman dalam buku mereka Every Spy Prince menulis bahwa Indonesia pernah mengadakan hubungan dengan Mossad. Katanya, Mossad mengirimkan utusan, satu tim dari posnya di Singapura ke Jakarta lalu mengadakan pembicaraan yang berbuah: Pihak Israel menyeleng-garakan latihan buat tentara Indonesia dan intelijennya. Mossad, katanya, telah menganggap pilihan yang bagus, dan intelijen Israel membuka perwakilan-nya di Jakarta dengan ‘berwajah dagang’. Indonesia mengirimkan tenaganya ke Israel untuk mendapatkan pelatihan di sana. Saya sendiri tidak pernah punya hubungan langsung dengan pihak Israel, tidak pernah. Paling-paling, saya ingat, saya pernah datang ke Jl Tosari (kalau tidak salah) memenuhi undangan mata rantai Israel yang ada di Jakarta. Yang saya benar-kan waktu itu mengdakan hubungan dengan Israel, dan itu sehubungan dengan penumpasan PKI, adalah intelijen kita. Dalam hal ini Pak Sutopo Yuwono, Pak Kharis Suhud, dan Nicklany. Tiga orang ini yang saya izinkan. Kami mengadakan hubungan dengan Mossad dan dengan MI-6 (Inggris). Kedua-duanya amat peka mengenai masalah komunis. Amerika (CIA) kalah dalam hal ini. Apalagi setelah terjadinya Water-gate. Hancur intelijen Amerika waktu itu. Kerja sama Indonesia waktu itu dengan intelijen itu (Mossad dan MI-6) adalah meliputi komunisme, dan itu berjalan baik.”

Sebuah blog intelijen di internet mengungkapkan bahwa saat ini malah intelijen Israel telah masuk ke Indonesia. ”Mereka bergerak tidak dalam jumlah yang besar, tetapi sangat efektif karena beberapa agen yang telah mendapat pelatihan melalui “paket wisata rohani” sehingga bisa masuk Israel. Keberadaan beberapa agen lokal yang telah dilatih tersebut kemudian membina beberapa informan, tanpa si informan tahu untuk siapa sebenarnya dia bekerja, karena yang penting mereka menerima bayaran. Dalam pengamatan saya, jumlah agen Mossad yang aktif di Indonesia hanya sekitar 2-3 orang saja, saling bergantian dan hampir selalu berjalan minimal berdua. Pusat komunikasi dan komando tetap berada di Singapura, lagi pula mereka secara mobile bisa bermarkas di mana saja,” tulisnya. Tujuan infiltrasi itu, menurutnya, secara umum memang ditargetkan untuk memperoleh pengaku-an atau pembukaan hubungan diploma-tik. Meski Indonesia bukan negara Islam, tetapi pengakuan keberadaan Israel sa-ngatlah penting dan strategis.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa telah ada hubungan yang ‘harmo-nis’ antara Indonesia dan Israel dengan bungkus di luar masalah diplomatik. Bisa perdagangan, pariwisata atau yang lainnya. Hanya saja hubungan itu disem-bunyikan karena jelas hubungan itu tidak sesuai dengan prinsip bangsa Indonesia khususnya umat Islam yang anti penja-jahan. Bagaimana pun bentuk hubungan itu tidak dapat dibenarkan.

Dalam perkembangannya, prinsip itu dikalahkan oleh mereka yang menjadikan bisnis/uang sebagai segalanya dalam hidup. Para pengkhianat bangsa seakan tak peduli lagi dengan nilai-nilai. Inilah jebakan sukses yang ditanamkan oleh kaum Zionis di negeri ini: menghalalkan segala cara!

***jejak yahudi di indonesia*****

Jauh sebelum Indonesia merdeka kaum Zionis sebenarnya telah masuk ke Indonesia. Ridwan Saidi, salah tokoh yang peduli terhadap sejarah Indonesia, dalam bukunya Fakta & Data Yahudi di Indonesia II, menyatakan masuknya Zionis ke Indonesia dibawa oleh kaum Freemansonry. Mereka masuk dengan mendirikan perkumpulan teosofi pada tahun 1875 yang bernama Nederlandsch Indische Theosofische Vereeniging (Perkumpulan teosofi Hindia Belanda).

Karenanya, warga Yahudi sudah ada sejak masa kolonial Belanda, khususnya di Jakarta. Pada abad ke-19 dan 20 sampai menjelang Belanda hengkang dari Indonesia, ada sejumlah Yahudi yang membuka toko-toko di Noordwijk (kini Jl Juanda) dan Risjwijk (Jl Veteran) — dua kawasan elite di Batavia kala itu–seperti Olislaeger, Goldenberg, Jacobson van den Berg, Ezekiel & Sons dan Goodwordh Company. Situs swaramuslim menyebutkan, sejumlah kecil pengusaha Yahudi pernah meraih sukses. Mereka adalah pedagang-pedagang tangguh yang menjual berlian, emas dan intan, perak, jam tangan, kaca mata dan berbagai komoditas lainnya. Jumlah kaum Yahudi ini ratusan. Karena mereka pandai berbahasa Arab, mereka sering dianggap keturunan Arab. Apalagi memang banyak di antara mereka yang datang dari Negara Arab karena Negara Israel belum ada. Mereka memiliki persatuan yang kuat. Setiap Sabat (hari suci umat Yahudi), mereka berkumpul bersama di Mangga Besar, yang kala itu merupakan tempat pertemuannya.

Kaum Yahudi ini umumnya memakai paspor Belanda dan mengaku sebagai warga kincir angin. Tak heran di masa kolonial, warga Yahudi ada yang mendapat posisi tinggi di pemerintahan, termasuk gubernur jenderal AWL Tjandra van Starkemborgh Stachouwer (1936-1942).

Dalam buku Jejak Freemason & Zionis di Indonesia disebutkan bahwa gedung Bappenas di Taman Surapati dulunya merupakan tempat para anggota Freemason melakukan peribadatan dan pertemuan. Mereka bernyanyi sambil membaca kitab Talmut dan Zabur, dua kitab suci mereka. Menurut Herry Nurdy, penulis buku tersebut, Gedung Bappenas di kawasan elit Menteng, dulunya bernama gedung Adhuc Stat dengan logo Freemasonry di kiri kanan atas gedung-nya, terpampang jelas ketika itu. Anggota Freemason menyebutnya sebagai loji atau rumah syetan. Disebut rumah syetan, karena dalam peribadatannya anggota gerakan ini memanggil arwah-arwah atau jin dan syetan. Dalam buku “Menteng Kota Taman Pertama di Indo-nesia” karangan Adolf Hueken, SJ, disebutkan, awalnya gedung yang kini berperan penting merencanakan pemb-angunan Indonesia itu adalah bekas loge-gebouw, tempat pertemuan mereka. Loge-gebouw atau rumah arloji sendiri adalah sebuah sinagog, tempat peribadatan kaum Yahudi. Jejak mereka juga tampak di sepanjang Jalan Medan Merdeka Barat dengan berbagai gedung pencakar langitnya. Menurut Ridwan Saidi, semasa kolonial Belanda, Jalan Medan Merdeka Barat bernama Jalan Blavatsky Boulevard. Nama Blavatsky berasal dari nama Helena Blavatsky, seorang tokoh Zionis-Yahudi asal Rusia yang giat mendukung gerakan Freema-sonry. Wanita yang lahir tahun 1875, oleh pusat gerakan Zionis di Inggris, Fremasonry, diutus ke New York. Di sana  ia mendirikan perhimpunan kaum Theosofi. Blavatsky dikenal sebagai propagandis utama ajaran Theosofi. Pada tahun 1853, saat perjalanannya dari Tibet ke Inggris, Madame Blavatsky pernah mampir ke Jawa (Batavia). Selama satu tahun di Batavia, ia mengajarkan Theosofi kepada para elit kolonial dan masyarakat Hindia Belanda. Sejak itu, Teosofi menjadi salah satu ajaran yang berkembang di Indonesia. Salah satu ajaran Theosofi yang utama adalah menganggap semua ajaran agama sama. Ajaran ini sangat mirip dan sebangun dengan pemahaman kaum liberal yang ada di Indonesia.  Menurut cerita Ridwan Saidi, di era tahun 1950-an, di Jalan Blavatsky Boulevard pernah berdiri sebuah loge atau sinagog. Gedung itu tak lain adalah gedung Indosat. Tak heran jika perusahaan itu dikuasai oleh Singtel, sebuah perusahaan telekomunikasi Yahudi asal Singapura. Bisa jadi sekarang menjadi sinagog lagi.

Selain di Jakarta, kaum Yahudi membangun komunitas di Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Khusus di Surabaya, kaum Yahudi membentuk komunitas sendiri di beberapa kawasan kota lama, seperti Bubutan dan Jalan Kayon. Di Jalan Kayon No 4, Surabaya, hingga kini berdiri sebuah sinagog, tempat peribadatan kaum Yahudi. Selama ini gerakan mereka tidak gampang terdeteksi masyarakat karena berkedok yayasan sosial dan amal.

Pada 1957, ketika hubungan antara RI-Belanda putus akibat kasus Irian Barat (Papua), tidak diketahui apakah seluruh warga Yahudi meninggalkan Indonesia. Konon, mereka masih terdapat di Indonesia meski jumlahnya tidak lagi seperti dulu. Yang pasti Yahudi dan jaringan gerakannya sudah lama menancapkan kukunya di Indonesia. Mereka ingin menaklukkan Indonesia, sebagai negeri dengan mayoritas Muslim terbesar. 

=====like/share  berbagi bagi ilmu pengetahuan tiada kerugian nya=======

PENULIS berbasis di jakarta dari GARDA REVOLUSIONER SUMATRA.
by:bioarabasta.

HUBUNGAN RAHASIA INDONESIA DENGAN YAHUDI


Pemerintah boleh bilang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Tapi fakta di lapangan, menunjukkan hal yang sebaliknya. Pemerintah RI dan Israel justru membina hubungan baik dengan Israel. Sebuah pengkhianatan?

Hubungan ‘mesra’ Indonesia-Israel dimulai sejak pemerintahan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Tahun 1999, Gus Dur merencanakan untuk membuka kembali hubungan perdagangan dengan negeri penjajah itu, yang telah terputus sejak tahun 1967. Rencana itu pun diwujudkan oleh Menteri Perindustrian dan Perdagangan Luhut Binsar Pandjaitan pada tahun 2001. Menteri ini menandatangani Surat Keputusan Menperindag No.23/MPP/01/2001 tertanggal 10 Januari 2001 yang melegalkan hubungan dagang antara RI dengan Zionis-Israel.

Kemesraan itu pun terus berlanjut pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada 13 September 2005, Menteri Luar Negeri Hassan Wirayudha bertemu dengan Menlu Israel, Silvan Shalom, di New York, AS. Hassan mengaku pertemuan itu tidak membahas pemulihan hubungan diplomatik. “Kami tidak bicara masalah hubungan diplomatik. Israel sangat tahu posisi Indonesia seperti apa,” katanya. Saat itu pemberitaan di sejumlah media massa asing ramai menyiarkan keinginan Israel untuk membangun hubungan diplomatik dengan Indonesia. Menurut media asing itu, Jerusalem (Israel) telah mengirimkan surat tentang hal itu kepada Jakarta.

Fakta itu sempat membuat SBY kelimpungan. Dengan gerakan tangan dan bahasa tubuh khas, SBY, berkata, “Tidak ada yang gelap, karena, sekali lagi, kita ingin membantu perjuangan bangsa dan rakyat Palestina,” ujar SBY di kantor Perwakilan Tetap Republik Indonesia di New York waktu itu. Sayang jawaban itu tak bisa memberikan makna apa-apa dari pertemuan rahasia tersebut. Sejak itu hubungan kedua negara makin intensif. Memang hubungan ini tidak dijalankan oleh para eksekutif/pejabat negara tapi oleh para pengusaha. Tahun 2006 lalu misalnya, sebuah misi dagang Kamar Dagang dan Industri Indonesia berkun-jung ke Israel. Saat itu Ketua Kadin Indonesia Mohammad Hidayat menan-datangani perjanjian ekonomi kedua negara. ”Indonesia bisa menjadi pasar utama bagi ekspor barang-barang Israel ke Asia Tenggara,” kata Presiden Israel Manufacturers Association, Shraga Brosh dalam acara itu. Sedangkan Hidayat mengatakan kerja sama ini bisa membantu perusahaan-perusahaan Israel untuk melakukan kegiatan di Indonesia.

Kunjungan ini sekaligus menegaskan bahwa telah terjalin kontak yang intensif antara kedua negara di sektor perdagangan. Lihat saja data volume data volume perdagangan Indonesia-Israel selama tahun 2005 mencapai 154 juta dolar. Dari nilai ini, Israel hanya mengekspor 14 juta dolar, sedang Indonesia mengekspor 140 juta dolar ke Israel terutama, terutama untuk barang elektronika, plastik, dan karet. Negara Zionis itu menargetkan volume perdagangan kedua negara bakal mencapai 600 juta dolar di tahun 2010.
Zionis mengincar berbagai proyek penting di Indonesia misalnya proyek pembangunan PLT-Geothermal di Sumatera senilai 200 juta dolar yang dimenangkan oleh Ormat Technology, perusahaan engineering Israel di bidang energi geothermal. Selain itu, Indonesia menjadi sasaran pemasaran produk-produk teknologi biomedik.

Seorang dokter bedah Indonesia yang sering bepergian ke medan konflik di seluruh dunia seperti Afghanistan, Irak, Lebanon, Palestina, Somalia, dan lain-lain mengungkapkan banyak peralatan ICU yang ada di rumah-rumah sakit besar di negeri ini dibeli dari Israel. Dalam kaitan itu, lanjutnya, pemerintah Indonesia telah mengirimkan tenaga-tenaga medis Indonesia ke sana untuk pelatihan ICU (Intensive Care Unit). Menurutnya, seperti dikutip eramuslim, rumah-rumah sakit besar yang ada di Indonesia, terutama di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, sudah lazim mengirim tenaga-tenaga medisnya untuk mendapat pelatihan ICU di Israel.

Selain dunia medis, menurut data yang didapatkan situs tersebut, TNI juga telah melakukan pembelian sejumlah senjata api jenis senapan sniper seperti Galil-Galatz keluaran Israeli Military Industries (IMI) beberapa tahun lalu. Kasus ini pernah mengemuka dan menjadi perdebatan publik beberapa waktu lalu namun isunya menguap begitu saja seiring berjalannya waktu.

Bahkan, menurut Jenderal (Pur) Soemitro dalam memoarnya berjudul, ”Soemitro dari Pangdam Mulawarman sampai Pangkopkaptib,” menegaskan hubungan yang harmonis antara intelijen Israel, Mossad, dan TNI. Ia menulis: ”David, Raviv, dan Yosi Melman dalam buku mereka Every Spy Prince menulis bahwa Indonesia pernah mengadakan hubungan dengan Mossad. Katanya, Mossad mengirimkan utusan, satu tim dari posnya di Singapura ke Jakarta lalu mengadakan pembicaraan yang berbuah: Pihak Israel menyeleng-garakan latihan buat tentara Indonesia dan intelijennya. Mossad, katanya, telah menganggap pilihan yang bagus, dan intelijen Israel membuka perwakilan-nya di Jakarta dengan ‘berwajah dagang’. Indonesia mengirimkan tenaganya ke Israel untuk mendapatkan pelatihan di sana. Saya sendiri tidak pernah punya hubungan langsung dengan pihak Israel, tidak pernah. Paling-paling, saya ingat, saya pernah datang ke Jl Tosari (kalau tidak salah) memenuhi undangan mata rantai Israel yang ada di Jakarta. Yang saya benar-kan waktu itu mengdakan hubungan dengan Israel, dan itu sehubungan dengan penumpasan PKI, adalah intelijen kita. Dalam hal ini Pak Sutopo Yuwono, Pak Kharis Suhud, dan Nicklany. Tiga orang ini yang saya izinkan. Kami mengadakan hubungan dengan Mossad dan dengan MI-6 (Inggris). Kedua-duanya amat peka mengenai masalah komunis. Amerika (CIA) kalah dalam hal ini. Apalagi setelah terjadinya Water-gate. Hancur intelijen Amerika waktu itu. Kerja sama Indonesia waktu itu dengan intelijen itu (Mossad dan MI-6) adalah meliputi komunisme, dan itu berjalan baik.”

Sebuah blog intelijen di internet mengungkapkan bahwa saat ini malah intelijen Israel telah masuk ke Indonesia. ”Mereka bergerak tidak dalam jumlah yang besar, tetapi sangat efektif karena beberapa agen yang telah mendapat pelatihan melalui “paket wisata rohani” sehingga bisa masuk Israel. Keberadaan beberapa agen lokal yang telah dilatih tersebut kemudian membina beberapa informan, tanpa si informan tahu untuk siapa sebenarnya dia bekerja, karena yang penting mereka menerima bayaran. Dalam pengamatan saya, jumlah agen Mossad yang aktif di Indonesia hanya sekitar 2-3 orang saja, saling bergantian dan hampir selalu berjalan minimal berdua. Pusat komunikasi dan komando tetap berada di Singapura, lagi pula mereka secara mobile bisa bermarkas di mana saja,” tulisnya. Tujuan infiltrasi itu, menurutnya, secara umum memang ditargetkan untuk memperoleh pengaku-an atau pembukaan hubungan diploma-tik. Meski Indonesia bukan negara Islam, tetapi pengakuan keberadaan Israel sa-ngatlah penting dan strategis.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa telah ada hubungan yang ‘harmo-nis’ antara Indonesia dan Israel dengan bungkus di luar masalah diplomatik. Bisa perdagangan, pariwisata atau yang lainnya. Hanya saja hubungan itu disem-bunyikan karena jelas hubungan itu tidak sesuai dengan prinsip bangsa Indonesia khususnya umat Islam yang anti penja-jahan. Bagaimana pun bentuk hubungan itu tidak dapat dibenarkan.

Dalam perkembangannya, prinsip itu dikalahkan oleh mereka yang menjadikan bisnis/uang sebagai segalanya dalam hidup. Para pengkhianat bangsa seakan tak peduli lagi dengan nilai-nilai. Inilah jebakan sukses yang ditanamkan oleh kaum Zionis di negeri ini: menghalalkan segala cara!

***jejak yahudi di indonesia*****

Jauh sebelum Indonesia merdeka kaum Zionis sebenarnya telah masuk ke Indonesia. Ridwan Saidi, salah tokoh yang peduli terhadap sejarah Indonesia, dalam bukunya Fakta & Data Yahudi di Indonesia II, menyatakan masuknya Zionis ke Indonesia dibawa oleh kaum Freemansonry. Mereka masuk dengan mendirikan perkumpulan teosofi pada tahun 1875 yang bernama Nederlandsch Indische Theosofische Vereeniging (Perkumpulan teosofi Hindia Belanda).

Karenanya, warga Yahudi sudah ada sejak masa kolonial Belanda, khususnya di Jakarta. Pada abad ke-19 dan 20 sampai menjelang Belanda hengkang dari Indonesia, ada sejumlah Yahudi yang membuka toko-toko di Noordwijk (kini Jl Juanda) dan Risjwijk (Jl Veteran) — dua kawasan elite di Batavia kala itu–seperti Olislaeger, Goldenberg, Jacobson van den Berg, Ezekiel & Sons dan Goodwordh Company. Situs swaramuslim menyebutkan, sejumlah kecil pengusaha Yahudi pernah meraih sukses. Mereka adalah pedagang-pedagang tangguh yang menjual berlian, emas dan intan, perak, jam tangan, kaca mata dan berbagai komoditas lainnya. Jumlah kaum Yahudi ini ratusan. Karena mereka pandai berbahasa Arab, mereka sering dianggap keturunan Arab. Apalagi memang banyak di antara mereka yang datang dari Negara Arab karena Negara Israel belum ada. Mereka memiliki persatuan yang kuat. Setiap Sabat (hari suci umat Yahudi), mereka berkumpul bersama di Mangga Besar, yang kala itu merupakan tempat pertemuannya.

Kaum Yahudi ini umumnya memakai paspor Belanda dan mengaku sebagai warga kincir angin. Tak heran di masa kolonial, warga Yahudi ada yang mendapat posisi tinggi di pemerintahan, termasuk gubernur jenderal AWL Tjandra van Starkemborgh Stachouwer (1936-1942).

Dalam buku Jejak Freemason & Zionis di Indonesia disebutkan bahwa gedung Bappenas di Taman Surapati dulunya merupakan tempat para anggota Freemason melakukan peribadatan dan pertemuan. Mereka bernyanyi sambil membaca kitab Talmut dan Zabur, dua kitab suci mereka. Menurut Herry Nurdy, penulis buku tersebut, Gedung Bappenas di kawasan elit Menteng, dulunya bernama gedung Adhuc Stat dengan logo Freemasonry di kiri kanan atas gedung-nya, terpampang jelas ketika itu. Anggota Freemason menyebutnya sebagai loji atau rumah syetan. Disebut rumah syetan, karena dalam peribadatannya anggota gerakan ini memanggil arwah-arwah atau jin dan syetan. Dalam buku “Menteng Kota Taman Pertama di Indo-nesia” karangan Adolf Hueken, SJ, disebutkan, awalnya gedung yang kini berperan penting merencanakan pemb-angunan Indonesia itu adalah bekas loge-gebouw, tempat pertemuan mereka. Loge-gebouw atau rumah arloji sendiri adalah sebuah sinagog, tempat peribadatan kaum Yahudi. Jejak mereka juga tampak di sepanjang Jalan Medan Merdeka Barat dengan berbagai gedung pencakar langitnya. Menurut Ridwan Saidi, semasa kolonial Belanda, Jalan Medan Merdeka Barat bernama Jalan Blavatsky Boulevard. Nama Blavatsky berasal dari nama Helena Blavatsky, seorang tokoh Zionis-Yahudi asal Rusia yang giat mendukung gerakan Freema-sonry. Wanita yang lahir tahun 1875, oleh pusat gerakan Zionis di Inggris, Fremasonry, diutus ke New York. Di sana ia mendirikan perhimpunan kaum Theosofi. Blavatsky dikenal sebagai propagandis utama ajaran Theosofi. Pada tahun 1853, saat perjalanannya dari Tibet ke Inggris, Madame Blavatsky pernah mampir ke Jawa (Batavia). Selama satu tahun di Batavia, ia mengajarkan Theosofi kepada para elit kolonial dan masyarakat Hindia Belanda. Sejak itu, Teosofi menjadi salah satu ajaran yang berkembang di Indonesia. Salah satu ajaran Theosofi yang utama adalah menganggap semua ajaran agama sama. Ajaran ini sangat mirip dan sebangun dengan pemahaman kaum liberal yang ada di Indonesia. Menurut cerita Ridwan Saidi, di era tahun 1950-an, di Jalan Blavatsky Boulevard pernah berdiri sebuah loge atau sinagog. Gedung itu tak lain adalah gedung Indosat. Tak heran jika perusahaan itu dikuasai oleh Singtel, sebuah perusahaan telekomunikasi Yahudi asal Singapura. Bisa jadi sekarang menjadi sinagog lagi.

Selain di Jakarta, kaum Yahudi membangun komunitas di Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Khusus di Surabaya, kaum Yahudi membentuk komunitas sendiri di beberapa kawasan kota lama, seperti Bubutan dan Jalan Kayon. Di Jalan Kayon No 4, Surabaya, hingga kini berdiri sebuah sinagog, tempat peribadatan kaum Yahudi. Selama ini gerakan mereka tidak gampang terdeteksi masyarakat karena berkedok yayasan sosial dan amal.

Pada 1957, ketika hubungan antara RI-Belanda putus akibat kasus Irian Barat (Papua), tidak diketahui apakah seluruh warga Yahudi meninggalkan Indonesia. Konon, mereka masih terdapat di Indonesia meski jumlahnya tidak lagi seperti dulu. Yang pasti Yahudi dan jaringan gerakannya sudah lama menancapkan kukunya di Indonesia. Mereka ingin menaklukkan Indonesia, sebagai negeri dengan mayoritas Muslim terbesar.

=====like/share berbagi bagi ilmu pengetahuan tiada kerugian nya=======

PENULIS berbasis di jakarta dari GARDA REVOLUSIONER SUMATRA.
by:bioarabasta.

Semangat Mengibarkan Merah Putih di Pedalaman Gayo

Semangat Mengibarkan Merah Putih di Pedalaman Gayo

suaraleuserantara May 4, 2013 0
Kampung Perdamaian, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah.(Foto: Suara Leuser Antara/BsG)
Kampung Perdamaian, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah.(Foto: Suara Leuser Antara/BsG)
REDELONG |SuaraLeuserAntara|: Meski berada didaerah pedalaman, semangat masyarakat setempat untuk mengibarkan merah putih terlihat di Kampung Perdamaian, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah.
Menurut warga setempat, semenjak seruan mengibarkan merah putih sebagai bentuk penolakan terhadap bendera dan lambang Aceh, sampai saat ini kami masih mengibarkan Merah putih siang dan malam ungkap Nasri, warga setempat kepada Susra Leuaer Antara, Sabtu (4/5/2013).
“ Kami sebenarnya tidak paham dengan kisruh bendera dan lambang Aceh saat ini, karena kekurangan informasi dan tak ada informasi apapun tentang bendera tersebut ”. Ujarnya.
“ Namun demikian sebagai warga negara Indonesia, mengibarkan merah putih, menurut saya pasti tidak salah. Kecuali bendera lain yang melanggar hukum.” Ungkap Nasri.
“ Kami tidak menurunkan bendera ini sebelum ada pemberitahuan untuk diturunkan” jelas Nasri.
Kampung Perdamain berjarak 20 kilo meter dari Kampung Belang Rakal, mayoritas masyarakatnya untuk menopang ekonomi keluarga sebagai petani kopi. Meski kampung tersebut masih terisolir namun semangat kecintaan terhadap NKRI masih mereka tunjukan.
Semasa konplik Aceh kampung tersebut banyak ditinggalkan para warga petani disana, akibatnya banyak kebun terlantar. Menurut Nasri kampung ini dulunya sudah ramai, namun sekarang tidak seramai dahulu kenang Nasri.
“ Awalnya saya juga bertanya-tanya dalam hati, kenapa mengibarkan bendera siang dan malam ? Hal ini mengingatkan saya semasa konflik Aceh. Akhirnya seorang tetangga yang mengetahui alasan mengibarkan bendera ini adalah bentuk penolakan terhadap bendera dan lambang Aceh.” Pungkas Nasri. (BsG)

Zaini dan Muzakir Jangan Mimpi Bisa Redam ALA

Zaini dan Muzakir Jangan Mimpi Bisa Redam ALA

suaraleuserantara May 4, 2013 1
407425_493362170716058_1209807487_n
TAKENGEN |SuaraLeuserAntara|: Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf jangan pernah bermimpi bisa meredam atau menghentikan keinginan rakyat di wilayah Aceh Leuser Antara untuk berjuang demi pemekaran.
“ Walau puluhan miliar Gubernur Aceh menggelontorkan uang “suap” ke kabupaten di wilayah ALA dengan alasan untuk pembangunan dan kesejahteraan daerah, namun itu tidak bisa meredakan rakyat untuk terus meneriakkan pemekaran ALA. Gubernur jangan mimpi, berniat aja tidak boleh, apalagi mimpi meredam ALA ,” ungkap aktivis mahasiswa Aramiko kepada Suara Leuser Antara, Sabtu (4/5/2013).
Walaupun bagaimana Zaini dan Muzakir harus membagi uang tersebut ke kabupaten kota di Aceh, karena itu bukan uang mereka, Itu adalah uang Negara Indonesia.” Alah, mereka nggak usah lah sok-sok berjuang untuk rakyat ALA dan ABAS, bohong semua. Kalau cuma bagi-bagi uang negara, anak kecil juga bisa ,” ungkap Aramiko.
Persoalannya saat ini mekarnya ALA dan ABAS harus terjadi. Karena pemimpin di Aceh telah mengkotak-kotakan rakyat, sehingga dihawatirkan terjadi konflik horizontal.” Pemimpin Aceh jauh dari harapan dan tidak bisa dijadikan contoh untuk persatuan. Mereka hanya mementingkan kelompknya sendiri ,” pungkas Aramiko Aritonang.
Aramiko juga mengatakan, adapun yang mengaku mantan pengurus KP3-ALA Gayo Lues yang saat ini menolak ALA adalah orang yang sudah tidak sehat lagi, karena mendapat iming-iming dari propinsi.” Penghianat itu selalu ada dalam perjuangan, jadi kami anggap biasa saja ,” ahir Aramiko.(MF)

Seruan Gubernur: “Hormati Bendera, Kibarkan ditempat Muslihat”

GUBERNUR Aceh, Zaini Abdullah di sela-sela melayat ke kediaman Almarhum Abu Panton sekaligus ziarah ke makam ulama kharismatik tersebut di Pantonlabu, Aceh Utara. 
Menyerukan masyarakat untuk menghormati bendera Bulan-bintang dengan tidak mengibarkan di sembarang tempat seperti di hutan atau di atas pepohonan.
“Kibarkan bendera Aceh pada tempat-tempat muslihat dan pada saat diperlukan, lebih baik tunggu keputusan final (yang mengatur tentang bendera Aceh),” kata Gubernur.
“Mari kita jaga dan hormati bendera Aceh. Tak perlu gegabah, tunggu keputusan dulu lebih baik, bagi yang sudah dikibarkan, ya sudah karena itu antusias masyarakat sendiri,” kata Doto Zaini.
050513_5.jpg
Zaini Abdullah ziarah ke makam ulama Aceh, Abu Panton
Kehadiran Gubernur Aceh bersama rombongan ke rumah duka Abu Panton disambut istri almarhum, Ummi Zainabon, serta adik kandung almarhum yaitu Tgk Zainal Abidin, Tgk H Abubakar, dan Tgk Usman.
Setelah jamuan makan bersama, Gubernur menuju ke Makam Abu Panton yang letaknya di belakang Musalla Asrama Putra Dayah Malikussaleh. 
Saat Gubernur datang, banyak peziarah larut sambil membaca Alquran di makam Abu Panton.
Gubernur Zaini Abdullah mengatakan, Abu Panton adalah ulama yang paling peduli terhadap sosial dan perdamaian Aceh.
“Saya sudah lama kenal dengan Abu Panton, beliau adalah ulama berkharisma tinggi, punya hubungan baik dengan pemerintah RI dan juga dengan ulama di Malaysia,” kata Dato Zaini.
“Abu Panton juga bagian dari perintis perdamaian Aceh yang patut dihargai jasanya,” demikian Gubernur Aceh. (*/serambi)

Warga Aceh di Norwegia Gelar Takziah untuk Abu Panton

Warga Aceh di Norwegia Gelar Takziah untuk Abu Panton

mesjid mevlana, norwayStavanger – Seratusan warga Aceh yang menetap di Rogaland, Norwegia melakukan takziah dan doa bersama untuk Almarhum Tgk H Ibrahim Bardan atau Abu Panton, ulama kharismatik asal Aceh Utara yang meninggal dunia di Rumah Sakit Herna, Medan, Senin 29 April 2013 lalu.
Acara takziah dan doa bersama ini digelar di Mesjid Mevlana, Stavanger setelah Shalat Ashar jam 18.00 WIB waktu Norwegia, Rabu (01/05/13). Acara yang dipimpin oleh Tgk Qadir Abdullah ini berlangsung tertib dan lancar.
Sebelum acara takziah dan doa bersama dimulai, Tgk Qadir Abdullah sedikit menceritakan kisah tentang almarhum Tgk H Ibrahim Bardan atau Abu Panton. Ia menceritakan dari awal Abu Panton memimpin dayah Dayah Malikussaleh di Gampong (desa) Rawa Itek. “Abu Panton merupakan salah satu ulama besar yang ada di Aceh dan banyak sekali jasa-jasa beliau untuk Aceh,” ujarnya.
Di Mesjid Mevlana ini, warga Aceh yang menetap di Rogaland selalu mengadakan acara doa bersama dan berbagai acara lain yang berkenaan dengan agama Islam. (Bahar_Nor/sp)

TPM: Libatkan Ulama dan Tokoh Masyarakat dalam Pembahasan Bendera dan Lambang

TPM: Libatkan Ulama dan Tokoh Masyarakat dalam Pembahasan Bendera dan Lambang

Banda Aceh – Tim Pengacara Muslim Aceh, meminta Pemerintah Aceh dan Kemendagri melibatkan ulama dan tokoh masyarakat Aceh dari berbagai unsur, yang merefleksikan keterwakilan islam, sejarah, adat istiadat dan ke ciri khas Aceh dalam membahas koreksi Mendagri atas  Qanun Aceh No 3 tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh.
“Qanun adalah sebuah regulasi yang mengikat seluruh masyarakat Aceh, untuk itu peraturan dimaksud  harus dapat diterima secara baik oleh masyarakat Aceh,” ujar salah satu Tim Pengacara Muslim Aceh, Safaruddin S.H, Minggu (05/05/2013).
Safaruddin menuturkan, dalam setiap penyusunan regulasi untuk Aceh, harus selalu mendahulukan nilai nilai keislaman dan baru di ikuti dengan norma lainnya.
Menurut Safruddin, Qanun bendera dan lambang Aceh yang disahkan DPRA beberapa waktu lalu, selain bertentangan dengan PP 77 tahun 2007, juga dinilai bertentangan dengan nilai- nilai islam yang telah digariskan dalam Al Qur’an, serta menjadi pedoman hidup seluruh umat Islam di dunia.
Penggambaran Buraq pada lambang Aceh kata Safar, termasuk dalam kategori mendustai ayat- ayat Al Qur’an, dan melecehkan Nabi Muhammad SAW. Hal itu lanjut Safar,  sama seperti kaum musrikin mendustakan Malaikat- Malaikat Allah.
Safaruddin juga mengutip salah satu Firman Allah SWT yang maknanya  ‘Mereka menjadikan malaikat malaikat yang mereka itu adalah hamba Allah Yang Maha Permurah, sebagai seorang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban” [QS.az-Zukhruf (43):19]
Lebih jauh Safaruddin menyebutkan, permasalahan yang timbul dan menjadi dalam Qanun bendera dan lambang Aceh, akibat dalam penyusunannya tidak melibatkan unsur Ulama dan tokoh masyarakat Aceh dari beragam unsur.
“DPRA mengedepankan arogansinya dalam penyusunan Qanun itu, ini juga tidak sejalan dengan sejarah kejayaan Kerajaan Aceh masa lalu, di mana kala itu, sebuah aturan publik selalu melibatkan para ulama dan tokoh masyarakat dari beragam unsur,” kata Safar.
Dalam Al Qur’an kata Safar, menolak keyakinan seperti itu sebagaimana tersebut  antara lain dengan firman- Nya  “Tanyakanlah kepada mereka (orang orang kafir Mekkah): ‘Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan anak-anak laki-laki, atau apakah kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan menyaksikan (nya). Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: ‘Allah beranak. Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak perempuan daripada anak laki-laki? Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan? Maka,apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu memunyai bukti yang nyata?”. [QS.ash-Shaffat (37): 149-156].
“Aceh sebagai daerah khusus dan ber syariat Islam serta  disebut Serambi Mekkah, karena ketaqwaannya rakyatnya kepada Allah SWT, maka itu harus dihormati oleh semua pihak. Termasuk dalam setiap kebijakan menyangkut publik Aceh,” imbuhnya.
Beranjak dari polemik yang berpotensi menimbulkan konflik baru,  TPM Aceh menyeru kepada Pemerintah Aceh dan Mendagri, agar dalam pembahasan hasil evaluasi Qanun Bendera dan Lambang Aceh, sebaiknya melibatkan multi unsur. Terpenting juga menurut Safaruddin, hasil pembahasan, Bendera dan Lambang Aceh harus mampu mencerminkan nilai- nilai ke- Acehan berazaskan islam, dan mampu menjadi pemersatu , bukan malah menjadi pemicu perpecahan umat di Aceh, yang sedang menikmati perdamaian setelah sekian lama hidup dalam suasana konflik. (Sp)

Berita Pembukaan Kantor OPM di Papua Cuma Cari Sensasi

Berita Pembukaan Kantor OPM di Papua Cuma Cari Sensasi

Jakarta –  Kabar pembukaan Kantor Perwakilan Papua Merdeka di Inggris hanya untuk mencari sensasi. Ini dilakukan agar berita tentang Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan gerakan separatisnya mendapat perhatian publik.
Demikian disampaikan Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nasir Djamil kepada Aktual.co, Minggu (5/5).
“Ya seperti itu. Tapi, sensasi atau tidak, Indonesia harus tetap waspada,” imbuh anggota Komisi VIII DPR RI ini.
Pemerintah harus membenahi hubungan diplomatik dengan Inggris.
“Atau jangan-jangan ini merupakan cara Inggris menekan Indonesia,” tambahnya.
Sumber: Aktual.co

Dubes Inggris Berikan Klarifikasi Terkait Pembukaan Kantor OPM

Dubes Inggris Berikan Klarifikasi Terkait Pembukaan Kantor OPM

Jakarta – Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Mark Canning, memberikan penjelasan terkait dibukanya kantor Organisasi Papua Merdeka di Oxford, Inggris. Dalam rilisnya kepada wartawan, Sabtu (4/5/2013), Canning menegaskan Pemerintah Inggris tidak terlibat kejadian itu.
“Dewan Kota Oxford seperti halnya dewan-dewan lainnya di Inggris, bebas mendukung tujuan apapun yang mereka inginkan. Mereka bukan bagian dari pemerintah. Segala bentuk tindakan mereka tidak ada hubungannya dengan pemerintah Inggris dalam hal ini,” ujarnya.
Canning menegaskan posisi pemerintah Inggris cukup jelas, yaitu menghargai Papua sebagai bagian dari Indonesia dan ingin Papua mencapai kesejahteraan dan perdamaian, sama seperti provinsi-provinsi lainnya diseluruh Indonesia.
Namun, Canning melanjutkan, pemerintah Inggris juga sependapat dengan pernyataan perwakilan Komisi HAM PBB Navi Pilay yang pada Jumat lalu, 3 Maret 2013, bahwa masih ada beberapa keprihatinan dugaan pelanggaran HAM di Papua yang harus ditangani.
Secara pribadi, Canning pun menyadari bahwa ada usaha-usaha yang dilakukan untuk memperbaiki keadaan, seperti mengatasi masalah ekonomi dan pembangunan sosial. Inggris pun dalam hal ini sepenuhnya mendukung usaha-usaha tersebut.
“Kami terus berkoordinasi dengan pihak-pihak yang ingin memajukan Papua termasuk Gubernur Papua yang baru, Bapak Lukas Enembe, yang minggu lalu saya temui,” kata Canning.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto, Jumat 3 Mei 2013, menyatakan pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri akan segera memanggil Dubes Inggris untuk Indonesia terkait gerakan Organisasi Papua Merdeka yang membuka kantor resmi di Oxford, Inggris. (Pz/Islampos)
Sumber: Islampos.com

7 Mei, Tim 14 Mulai Bahas Bendera dan Lambang Aceh di Batam

7 Mei, Tim 14 Mulai Bahas Bendera dan Lambang Aceh di Batam

Jakarta – Pemerintah pusat dan Aceh telah sepakat untuk membahas kembali polemik Qanun Aceh Nomor 3 tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh. Tim khusus dari Aceh dan Jakarta masing- masing berjumlah 7 orang, dijadwalkan melakukan pembahasan bersama mulai Selasa (07/05/2013) di Batam.
Sebagaimana dikutip Rakyat Merdeka Online, Minggu (05/05/2013), setelah pertemuan Menteri Dalam Negeri dan Gubernur Aceh pada Rabu (01/05/2013) lalu, disepakati pembahasan secara berturut-turut dilaksanakan pada tanggal 7 Mei, 14, 24 dan 31 Mei di Batam melalui tim 7 masing -masing.
Pada pertemuan itu nantinya, tim dari Aceh dan Jakarta akan membahas satu persatu dari 11 poin klarifikasi Kemendagri terhadap Qanun Bendera dan Lambang Aceh yang masih terjadi beda persepsi.
“Kedua, mereka (Pemprov Aceh) juga sepakat dengan koreksi kita, bahwa azan itu tidak diperlukan dalam pengibaran bendera. Sedangkan 11 item lainnya itu yang terus kita diskusikan untuk mencapai titik temu,” kata Jurubicara Kemendagri Donny Moenek Sahmen kepada Rakyat Merdeka Online, (Sabtu, 04/05/2013).
Dari beberapa kali pertemuan antara Pemerintah Aceh dan pusat, baru dua poin klarifikasi atas Qanun Aceh Nomor 3 tahun 2013 yang telah diaminkan Pemerintah Aceh yakni,  tidak dicantumkan Mou Helsinki dalam konsideran Qanun tersebut, karena sudah ditampung dalam UU 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh. Serta pengibaran bendera tidak boleh diiringi kumandang azan.
Polemik Bendera dan Lambang Aceh terus berlangsung sejak DPR Aceh mengesahkan Qanun tersebut pada 22 Maret lalu. Kemudian Kemendagri berpandangan bahwa, format dan design bendera yang  diinginkan Pemerintah Aceh, sebagaimana tertuang dalam Qanun itu bertentangan denganPP Nomor 77/2007 tentang Lambang Daerah.
Sementara Pemerintah Aceh sampai kini terus bersikukuh, bahwa Bendera dan Lambang yang dulunya dipakai oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), tidak dimaksudkan sebagai simbol kedaulatan atau sebagai usaha memerdekakan Aceh dari NKRI, melainkan sebagai lambang daerah. (Sd)