Kisah Wali Nanggroe, Sang “Tuhan” Haram Jadah di Aceh
REP | 15 February 2013 | 18:21 Dibaca: 3751 Komentar: 5 2
KOMPAS.COM - Tgk Muhammad Hasan Di
Tiro mendapat anugerah Wali Nanggroe “entah dari mana?” namun atas
keinginan dan tekat untuk melawan imprealis Indones
ia beliau diakui oleh seluruh rakyat Aceh, kepulangannya sangat dinanti-nantikan oleh rakyat Aceh.
Setelah Hasan Tiro Almarhum gelar Wali
disematkan oleh elit GAM yang tergabung dalam PA kepada seorang anak
yang tidak jelas status dan asal-usulnya, namun apa yang terjadi setelah
dan sebelumnya dia menjadi Wali Nanggroe?
Orang tersebut berinisial MM sempat
dituding oleh publik sebagai aktor intelektual aksi terorisme di Aceh
beberapa waktu lalu. Pemangku Wali Nanggroe itu juga dikatakan oleh GAM
diluar negeri sana sebagai konspirator perpecahan ditubuh GAM luar
negeri dan pelebelan “MP”, begitu juga perpecahan GAM di Aceh
dan pelebelan “penghianat” pada pemilu perebutan kekuasaan tahun lalu.
Sehingga beberapa eks GAM termasuk
Panglima Wilayah Bate Iliek dibunuh juga ada sangkut pautnya dengan
“MM”. Hal tersebut dibuktikan oleh sebuah rekaman yang menyebar dari
hanphone ke hp, rekaman tersebut jelas merecord suara
“Abang/Saiful/Cagee”: hai Malek cineupeugah uroe nyoe pue merdeka pue
han? Nyoe meunyoe lage nyoe buet meunyoe mate lon bak muprang jadeh mate
caheung ken syahid.
Hal senada sebenarnya juga telah
dilontarkan oleh seorang GAM yang bermukim di Norway, yang berujuang
pada pencabutan nyawa (ditembak mati oleh “malaikat”Malek), taktik
penembakan yang bermodus beli kopi, beli rokok sebagai trik memastikan
target, sama dengan strategi “pencabut nyawa” Abang alias Cagee bermodus
beli sate untuk memastikan kebenaran target oleh “malaikat” pencabut
nyawa yang kini mendekam dipenjara Jakarta sebagai tersangka teroris.
Alm Tgk Hanafiah alias Tgk Piah dalam rekaman video yang menyebar di you tube
itu protes atas perintah penembakan seenaknya saat perang Aceh melawan
desentralisasi Jakarta, termasuk senjata yang telah dibeli sebelumnya
diperjualbelikan kembali di Aceh.
Tidak hanya itu, konspirasi pengepungan
Panglima GAM Wilayah Peureulak Tgk Ishaq Daod juga tak terlepas dari
tudingan dan klaim “MM” setelah pembukaan Kedubes Aceh di Malaya serta
pelenyapan Tgk Don di Malaya.
Menurut seorang elit GAM pengepungan
Ishak Daod akibat klaim “MP” menggelar rapat tanpa perintah (peuneutoeh,
yang mengatasnamakan Wali oleh MM). Gerakan tanpa peuneutoh karena
ketahuan belang “MM” atas kelihaian Ishak Daod mampu menyedot perhatian
media nasinonal dan internasional membuat marah besar “MM” yang berada
diluar negeri, sehingga keberadaan Panglima GAM paling sehat setelah
Abdullah Syafi’e itu dibocorkan dengan misi pemusnahan.
“wate lon telpon Malek lon peugah panglima ka Alm geuseoe enteuk neutelpon jinoe teungoh siboek”
Hal demikian juga terjadi pada Panglima GAM Aceh sumatra Meurdehka, Tgk Abdullah Syafe’i, beliau juga
dimusnahkankarena dianggap telah
melenceng dan membuat kesalahan fatal setelah membuat pertemuan dengan
Bondan Gunawan bak rangkang blang.
“Tgk Lah geupeugah kasalah buet,
kageujak peugoet hubungan diplomasi bak rangkang yang seharusnya menjadi
tugas diplomat dilua nanggroe”
Akibat tidak menjalankan “peuneutoh”
Tgk Lah pun harus pulang kerahmatullah yang diganti oleh “boneka” baru
yang nurut, Syahrial alias ekpam adalah sopir Lori Hantu di Malaysia itu
dipamerkan sebagai eks kamp militer Tajura Libya yang sempat menjadi
keamanan khusus presiden Libya, Muammar Khadafi, dan mampu menerbankan
pesawat perang F16.
Setelah Mualem resmi jadi Panglima GAM
seluruh kontrol dikuasa diberbagai lini politik Aceh sehingga haluan
perjuangan bisa dibelokkan kemana saja sesukanya termasuk perjanjian di
meja judi Helsinki yang menjamak seluruh sendi perjuangan,baik
pengalihan militer, decomisioning/koh beudee, dan kembali ke pangkuan
ibu pertiwi mengalihkan perjuangan bersenjata ke kota suara pada
akhirnya menguasa pemerintahan dan parlemen Aceh.
Menurut pepatah “meunyoe sulet keu
pangkai kanjai keu laba, meunyoe awai sulet dudoe meupalet-palet” saat
ini pepatah tersebut sudah mulai terbukti sedikit demi sedikit. Remote
control perjuangan Aceh Merdeka (MM) setelah berjuang begitu lama,
bersusah payah diluar negeri kini mulai memetik hasil perjuangan.
Fasilitas empuk Qanun Wali Nanggroe
yang sempat diprotes dari berbagai penjuru Aceh dan belum mendapat
legalisasi dari Mendagri RI dan belum menjadi lembaran nanggroe, namun
diktator mayoritas berkuasa di Aceh baik pemerintah dan parlemen
saban-saban bekerja ekstra keras mencari uang puluhan miliar untuk
membangun “rumah tuhan” (istana Wali Nanggroe) di Kuta Radja dan
operasionalnya sanggup membuat ratusan rumah korban perang dan kaum
dhuafa.
Meskipun Wali Nanggroe Tgk Muhammad Hasan Tiro mampu mempersatukan tekat hasrat dan
membukamata seluruh rakyat Aceh yang
terdiri dari berbagai suku bangsa dan bahasa untuk bangkit melawan
ketidak adilan yang diperbuat oleh Indonesia, namun keberadaan Wali
Nanggroe ke X Malek Malek Mahmud Al Haytar justru menimbulkan perpecahan
antar suku.
Setelah ALA ABAS mampus diredam oleh
Irwandi Yusuf semasa dia menjabat sebagai gubernur Aceh, dengan agenda
pembangunan yang berkeadilan dan merata, kini muncul kembali ratusan
anak muda berumur belia siap menghadang keberadaan Qanun Wali Nanggroe
dan alokasi dana operasional serta pembangunan istana “tuhan” tersebut
dengan berbagai nama organisasi buffer baik Gayo Merdeka, GAAM, dll,
begitu juga dengan sejumlah anak muda kampus yang menolak ikut politik
praktis juga menentang keberadaan “tuhan baru” itu.
Wallahu’alam, Wa qul ja’al‑haqqu wa zahaq‑al‑batilu, innal batila kana zahuqa