Search This Blog

Wednesday, June 19, 2013

Kisah Wali Nanggroe, Sang “Tuhan” Haram Jadah di Aceh



Kisah Wali Nanggroe, Sang “Tuhan” Haram Jadah di Aceh

REP | 15 February 2013 | 18:21 Dibaca: 3751   Komentar: 5   2
KOMPAS.COM - Tgk Muhammad Hasan Di Tiro mendapat anugerah Wali Nanggroe “entah dari mana?” namun atas keinginan dan tekat untuk melawan imprealis Indones
ia beliau diakui oleh seluruh rakyat Aceh, kepulangannya sangat dinanti-nantikan oleh rakyat Aceh.
Setelah Hasan Tiro Almarhum gelar Wali disematkan oleh elit GAM yang tergabung dalam PA kepada seorang anak yang tidak jelas status dan asal-usulnya, namun apa yang terjadi setelah dan sebelumnya dia menjadi Wali Nanggroe?
Orang tersebut berinisial MM sempat dituding oleh publik sebagai aktor intelektual aksi terorisme di Aceh beberapa waktu lalu. Pemangku Wali Nanggroe itu juga dikatakan oleh GAM diluar negeri sana sebagai konspirator perpecahan ditubuh GAM luar negeri dan pelebelan “MP”, begitu juga perpecahan GAM di Aceh dan pelebelan “penghianat” pada pemilu perebutan kekuasaan tahun lalu.
Sehingga beberapa eks GAM termasuk Panglima Wilayah Bate Iliek dibunuh juga ada sangkut pautnya dengan “MM”. Hal tersebut dibuktikan oleh sebuah rekaman yang menyebar dari hanphone ke hp, rekaman tersebut jelas merecord suara “Abang/Saiful/Cagee”: hai Malek cineupeugah uroe nyoe pue merdeka pue han? Nyoe meunyoe lage nyoe buet meunyoe mate lon bak muprang jadeh mate caheung ken syahid.
Hal senada sebenarnya juga telah dilontarkan oleh seorang GAM yang bermukim di Norway, yang berujuang pada pencabutan nyawa (ditembak mati oleh “malaikat”Malek), taktik penembakan yang bermodus beli kopi, beli rokok sebagai trik memastikan target, sama dengan strategi “pencabut nyawa” Abang alias Cagee bermodus beli sate untuk memastikan kebenaran target oleh “malaikat” pencabut nyawa yang kini mendekam dipenjara Jakarta sebagai tersangka teroris.
Alm Tgk Hanafiah alias Tgk Piah dalam rekaman video yang menyebar di you tube itu protes atas perintah penembakan seenaknya saat perang Aceh melawan desentralisasi Jakarta, termasuk senjata yang telah dibeli sebelumnya diperjualbelikan kembali di Aceh.
Tidak hanya itu, konspirasi pengepungan Panglima GAM Wilayah Peureulak Tgk Ishaq Daod juga tak terlepas dari tudingan dan klaim “MM” setelah pembukaan Kedubes Aceh di Malaya serta pelenyapan Tgk Don di Malaya.
Menurut seorang elit GAM pengepungan Ishak Daod akibat klaim “MP” menggelar rapat tanpa perintah (peuneutoeh, yang mengatasnamakan Wali oleh MM). Gerakan tanpa peuneutoh karena ketahuan belang “MM” atas kelihaian Ishak Daod mampu menyedot perhatian media nasinonal dan internasional membuat marah besar “MM” yang berada diluar negeri, sehingga keberadaan Panglima GAM paling sehat setelah Abdullah Syafi’e itu dibocorkan dengan misi pemusnahan.
“wate lon telpon Malek lon peugah panglima ka Alm geuseoe  enteuk neutelpon jinoe teungoh siboek”
Hal demikian juga terjadi pada Panglima GAM Aceh sumatra Meurdehka, Tgk Abdullah Syafe’i, beliau juga
dimusnahkankarena dianggap telah melenceng dan membuat kesalahan fatal setelah membuat pertemuan dengan Bondan Gunawan bak rangkang blang.
“Tgk Lah geupeugah kasalah buet, kageujak peugoet hubungan diplomasi bak rangkang yang seharusnya menjadi tugas diplomat dilua nanggroe”
Akibat tidak menjalankan “peuneutoh” Tgk Lah pun harus pulang kerahmatullah yang diganti oleh “boneka” baru yang nurut, Syahrial alias ekpam adalah sopir Lori Hantu di Malaysia itu dipamerkan sebagai eks kamp militer Tajura Libya yang sempat menjadi keamanan khusus presiden Libya, Muammar Khadafi, dan mampu menerbankan pesawat perang F16.
Setelah Mualem resmi jadi Panglima GAM seluruh kontrol dikuasa diberbagai lini politik Aceh sehingga haluan perjuangan bisa dibelokkan kemana saja sesukanya termasuk perjanjian di meja judi Helsinki yang menjamak seluruh sendi perjuangan,baik pengalihan militer, decomisioning/koh beudee, dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi mengalihkan perjuangan bersenjata ke kota suara pada akhirnya menguasa pemerintahan dan parlemen Aceh.
Menurut pepatah “meunyoe sulet keu pangkai kanjai keu laba, meunyoe awai sulet dudoe meupalet-palet” saat ini pepatah tersebut sudah mulai terbukti sedikit demi sedikit. Remote control perjuangan Aceh Merdeka (MM) setelah berjuang begitu lama, bersusah payah diluar negeri kini mulai memetik hasil perjuangan.
Fasilitas empuk Qanun Wali Nanggroe yang sempat diprotes dari berbagai penjuru Aceh dan belum mendapat legalisasi dari Mendagri RI dan belum menjadi lembaran nanggroe, namun diktator mayoritas berkuasa di Aceh baik pemerintah dan parlemen saban-saban bekerja ekstra keras mencari uang puluhan miliar untuk membangun “rumah tuhan” (istana Wali Nanggroe) di Kuta Radja dan operasionalnya sanggup membuat ratusan rumah korban perang dan kaum dhuafa.
Meskipun Wali Nanggroe Tgk Muhammad Hasan Tiro mampu mempersatukan tekat hasrat dan
membukamata seluruh rakyat Aceh yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan bahasa untuk bangkit melawan ketidak adilan yang diperbuat oleh Indonesia, namun keberadaan Wali Nanggroe ke X Malek Malek Mahmud Al Haytar justru menimbulkan perpecahan antar suku.
Setelah ALA ABAS mampus diredam oleh Irwandi Yusuf semasa dia menjabat sebagai gubernur Aceh, dengan agenda pembangunan yang berkeadilan dan merata, kini muncul kembali ratusan anak muda berumur belia siap menghadang keberadaan Qanun Wali Nanggroe dan alokasi dana operasional serta pembangunan istana “tuhan” tersebut dengan berbagai nama organisasi buffer baik Gayo Merdeka, GAAM, dll, begitu juga dengan sejumlah anak muda kampus yang menolak ikut politik praktis juga menentang keberadaan “tuhan baru” itu.
Wallahu’alam, Wa qul ja’al‑haqqu wa zahaq‑al‑batilu, innal batila kana zahuqa

Tuesday, June 18, 2013

Hasbi Melakukan Pemurtadan Mulai Dari Keluarga Terdekat


Hasbi Melakukan Pemurtadan Mulai Dari Keluarga Terdekat

suaraleuserantara June 17, 2013 1
index
REDELONG |SuaraLeuserAntara|: Cara Hasbi aman Saidi melakukan pemurtadan dimulai dari keluarga terdekat, kemudian kerabat dan teman. Strategi yang dilakukannya itu agar operasinya berjalan mulus, lancar dan itu terbukti. Belum sampai setahun tiga korban terjerumus dengan rayuannya.
Dari sejumlah sumber yang terpercaya, kepada Suara Leuser Antara mengatakan, Senin (17/6/2013). Hasbi aman Saidi merekrut saudara terdekatnya, agar kelakuannya sebagai agen pemurtadan tidak terendus.
Adapun nama tiga orang saudara Hasbi aman Saidi yang berhasil diajak masuk kristen adalah, Sawaludin (adik ipar), Ucak aman Suharni (adik satu nenek), Edi saudara dari istri Hasbi.
“ Mereka semua adalah warga Tunyang, serta sering di ajak ke Medan dengan alasan bisnis. Namanya aja orang kampung. Ketika mendengar di ajak jalan-jalan ke Medan mereka kegirangan ,” sebut sumber yang tidak ingin disebutkan namanya.
Ditempat terpisah, Tgk Syarqawi Abdus Samad Ketua MPU Bener Meriah juga menjelaskan. Timbul persoalan baru saat ini, masyarakat hendak mengusir agen pemurtadan tersebut dari Kampung Tunyang,” hal itu adalah sebagai sanksi adat terhadapnya (Hasbi aman Saidi-Red) ,” ungkapnya.
Bahkan, sejak diketahui masyarakat. Mushala yang sering ditempati Saidi untuk shalat dan azan kini sudah disamak (disucikan), serta dia (Saidi-Red) tidak dibolehkan shalat di masjid-masjid di Tunyang walaupun dia sudah di Syahadatkan oleh pihak MPU Bener Meriah.
“ Apalagi sejak Hasbi masuk Kristen, dia sangat sering berpergian. Ke Medan, Jakarta bahkan ke luar negeri seperti Singapura. Kemungkinan beliau memperdalam ilmu nasrani di daerah tersebut ,” sebut Ketua MPU mengutip pengakuan Saidi.
Bahkan dari sejumlah data yang dihimpun SLA, setiap Hasbi aman Saidi mengajak orang ke Medan, pulangnya selalu membawa uang. Karena dia selalu mengatakan, mengajak orang jalan-jalan sembari berbisnis.
“ Banyak orang yang tergiur, setiap ada tetangga yang ikut bersamanya ke Medan. Sepulang dari sana membawa uang, karena di iming-imingi bisnis yang menguntungkan. Sehingga membuat orang lain tertarik ,” ungkap tetangga Saidi aman Hasbi yang namanya enggan disebutkan.
Namun, kelakuan Hasbi aman Saidi tidak berjalan lama. Labat laun anak-anaknya curiga melihat kelakuan Saidi. Agen pemurtadan yang selama ini kurang suka membaca, tiba-tiba rajin membuka buku pada tengah malam, di saat orang sudah tidur.
“ Lalu kepergok sama anaknya yang curiga, ternyata Saidi membaca kitab injil. Sejak saat itu, kelakuan Saidi mulai menyebar keluar, sehingga pihak MPU bertindak ,” sebut sumber tersebut.(tim)

Kadisbudpar Aceh: Ratu Kopi Nasional Wajib Kunjungi Gayo


 Kadisbudpar Aceh: Ratu Kopi Nasional Wajib Kunjungi Gayo

Kadisbudpar Aceh: Ratu Kopi Nasional Wajib Kunjungi Gayo

adami_umar
Banda Aceh-LintasGayo : Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Adami Umar berharap nantinya Ratu Kopi nasional wajib mengunjungi kebun kopi Gayo, mereka harus memahami dan melihat langsung perkebunan kopi yang berkualitas tinggi.
“Setidaknya mereka harus menikmati kopi dari tiga tempat,” kata Adami Umar pada acara malam silaturahmi seni (Musik,Puisi, dan Kopi) di Haba Cafe, Lampriet, Banda Aceh, Senin 17 Juni 2013.
Menurutnya, ketiga tempat itu adalah minum kopi dibawah pohon kopi, minum kopi langsung dari pabrik kopi, dan meminum kopi di warung kopi.
“Supaya mereka betul-betul menemukan khas kopi yang sebenarnya,” lanjut Adami.
Silaturahmi seni (musik, puisi, dan kopi) penyair Fikar W Eda, Yoppi Nandong, dan Jasin Sello. Turut hadir Kepala Bappeda Aceh Profesor Abubakar Karim, budayawan Risman A Rachman, dan Kepala Penghubung pemerintahan Aceh Badri Ismail.(boby mulya)

Abang Aka Takengon 2013


 Abang Aka Takengon 2013

Abang Aka Takengon 2013


Pemilihan Abang Aka Takengon : Perhelatan Pemilihan Duta Wisata Aceh Tengah atau Abang Aka Takengon 2013 telah berlalu dengan baik, bahkan menurut beberapa pengamat penyelenggaraan ajang itu jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Berikut foto-foto yang direkam Eed, Zen Angkasa dan Kha A Zaghlul pada acara yang berlangsung di ballroom hotel Bayu Hill, Sabtu 15 Juni 2013.
Para finalis Duta Wisata Aceh Tengah berikrar bantu promosi wisata Aceh Tengah. (LGco | Eed)
Para finalis Duta Wisata Aceh Tengah berikrar bantu promosi wisata Aceh Tengah. (LGco | Eed)

Bersama unjuk bakat "Peteri Bensu" bermodalkan latihan sesaat. (LGco | Zen Angkasa)
Bersama unjuk bakat “Peteri Bensu” bermodalkan latihan sesaat. (LGco | Zen Angkasa)

Para dewan Juri saat memberi penilaian terhadap para finalis Abang dan Aka Takengon 2013. (LGco | Kha A Zaghlul)
Para dewan Juri saat memberi penilaian terhadap para finalis Abang dan Aka Takengon 2013. (LGco | Kha A Zaghlul)

Pasangan Duta Wisata Aceh Tengah, Rizki Hawailaina dan Rahmat Akbar bersama Wakil Bupati Aceh Tengah beserta Nyonya Faridah Hanum.
Pasangan Duta Wisata Aceh Tengah, Rizki Hawailaina dan Rahmat Akbar bersama Wakil Bupati Aceh Tengah beserta Nyonya Faridah Hanum.(LGco | Kha A Zaghlul)

Antara Gayo dan Iwan Fals


Antara Gayo dan Iwan Fals

Antara Gayo dan Iwan Fals

Catatan: Ir. andinova
MApesga-dan-Iwan-FalsSABTU, 15 Juni 2013 kemarin, artis top Indonesia Iwan Fals menyambangi fans nya di Banda Aceh. Tak tamggung-tanggung, Bang Iwan melantunkan satu album (15 lagu) guna memuaskan rasa dahaga para penggemarnya.
Lagu-lagu yang telah melegenda dan nyaris dihafal para penggemarnya seperti Bento, Bongkar, Pesawat Tempur mampu membuat suasana hingar-bingar di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Tak terbayang, malam minggu itu, rumah Pangdam IM, Kapolda, Wagub Aceh, Ketua DPRA, Walikota yang rumahnya di seputaran Blang Padang, disuguhi live music.
Apakah mereka bisa menikmatinya atau tidak, namun penampilan prima Bang Iwan malam itu cukup memberi warna tersendiri bagi penggemarnya yang sudah teramat lama merindukan sang legend bisa tampil didepan mereka.
Dibalik semua itu, ada satu yang spesial di malam yang diselimuti hujan dan genangan air yang membeceki lapangan Blang Padang. Dimana anak-anak Gayo berbakat, menyuguhkan kesenian tradisional asal Aceh Tengah yakni Didong.
Didong yang sempat masuk museum rekor Indonesia (MURI) saat ditampilkan secara massal di Bener Meriah beberpa waktu lalu, menjadi pembuka konser Bang Iwan. Tentunya, ini sangat membanggakan bagi Urang Gayo. Sebab, mengapa bukan tarian lain, mengapa harus Didong?
Tidak tahu apa sebabnya Didong yang terpilih. Namun yang pasti, dengan tampilnya Didong dipentas dalam sebuah konser musik oleh penyanyi kawakan Indonesia ini membuktikan, bahwa memang kesenian Gayo itu sudah sangat menasional bahkan mendunia.
Berbagai tampilan kesenian Gayo dalam berbagai kesepatan di berbagai acara di sejumlah daerah di Indonesia, perlu kita apresiasi yang mendalam. Banyak pihak yang berusaha memperkenalkan Gayo di tataran nasional dan internasional.
Karenanya, sebagai Urang Gayo, kitapun jangan pernah berhenti untuk terus memperkenalkan Gayo, terutama seni dan budaya Gayo.***

Iwan Fals & Perjuangan Gayo


Iwan Fals & Perjuangan Gayo

Iwan Fals & Perjuangan Gayo

Oleh: Waladan Yoga*
Konser Iwan Fals yang diiringi Didong.(dok. atjehlink.com)
Konser Iwan Fals yang diiringi Didong.(dok. atjehlink.com)
ADA satu suguhan menarik di konser Iwan Fals yang digelar di Blang Padang Banda Aceh (15/6/2013). Diawali dengan Pertunjukan didong yang dipersembahkan oleh Mahasiswa Peduli Sejarah Gayo (Mapesga), diluar dugaan ternyata antara iwan fals dan Mapesga sama sekali tidak pernah latihan untuk perform malam itu. Iwan Fals Berujar “semoga angin dan cuaca malam Banda Aceh yang akan menyatuka irama kita diatas Panggung ini”.
Sungguh menakjubkan iringan tepukan Didong mampu mengiringi setiap petikan gitar dan nada-nada dari nyanyian Iwan Fals, diantara ribuan penonton yang hadir larut dalam lantunan lagu-lagu Iwan Fals. Tepukan Didong mengiringi Iwan Fals diatas panggung, disaat lagu ketiga pembuka iringan tepukan didongpun disudahi dan sambil meneriakan “Bongkar”. Sebelum turun panggung iwan Fals menyalami satu persatu para penepuk didong diatas panggung yang turut disaksikan ribuan padang mata.
Mental dan semangat pemuda Gayo diatas panggung yang megah tersebut haruslah diberikan jempol. Berkolaborasi dengan penyanyi sekelas Iwan Fals bukanlah pekerjaan mudah, terlebih didong ditampilkan diantara ribuan masayarakat pesisir yang hadir. Saya menyaksikan diantara kerumunan penonton yang hadir.
Didong yang ditampilkan ternyat tidak  mendepat tempat dihati para penonton sehingga ejekan dan hinaanpun terus bergema serta meneriakan hal yang tidak pantas, semakin lama teriakan dan hinaan itu semakin kuat. Sempat khawatir, namun iwan fals muncul dan berkolaborasi dengan pemuda Gayo yang tangguh itu sangat menakjubkan. Hinaan dan cacian mereka perlahan tenggelam. Saya dan beberapa teman-teman malam itu, mencari siasat untuk mendiamkan orang yang melontarkan hinaan, saya dan teman-teman lain menyaringkan suara dalam Bahasa Gayo, setidaknya cara ini ampuh untuk mendiamkan orang pesiri disekeliling kami.
Ya… itulah karakter manusia-manusia pesisir yang tidak menghargai budaya Gayo dan tidak peduli terhadapa keberagaman yang ada di Aceh, setidaknya itulah bisikan hati yang terus menggerutu.
Harusnya masyarakat pesisisr yang hadir pada malam konser tersebut bisa lebih menghargai budaya Gayo yang sedang ditampilkan. Bukan, malah mencacinya. Ada juga orang disekitar saya yang berbisik dengan teman-temannya “nyan awak Gayo yang dilakee pemekaran dan yang ditulak Qanun Wali Nanggroe dan Bendera (itu orang-orang Gayo yang minta pemekaran daerah dan yang nolak Qanun Wali Nanggro dan Bendera).
Ternyata perjuangan rakyat Gayo selama ini menjadi ingatan yang sangat luar biasa dibawah alam sadar masyarakat pesisir. Setidaknya contoh sederhana, orang yang menikamati pertunjukan musikpun, jika melihat Budaya dan orang Gayo langsung mengkaitkannya dengan Perlawan Rakyat Gayo terhadap Pemerintahan Aceh. Luar biasa bukan!
Lirik didong yang dimainkan malam itu banyak bercerita tentang tanaman Kopi di Gayo, sehingga Iwan Fals berkali-kali mengucapkan nama Gayo. Bagi saya ini adalah Entri point malam pertunjukan tersebut, sekelas iwan Fals memperkenalkan Gayo dihadapan ribuan penonton yang notabene adalah masyarakat Pesisir, yang awalnya mengejek suguhan didong.
Saya hanya berfikir sederhana, tidak mudah memang mempertahankan Nama dan eksistensi Gayo, terbukti malam konser tersebut penolakan itu selalu muncul ditengah-tengah masyarakat pesisir. Namun demikian jika hanya gara-gara hinaan dan ejekan kemdian kita berhenti mengkampanyekan Gayo adalah sesuatu yang sangat keliru. Pembagian tugas menjadi sangat natural dan penting dalam mensyi’arkan Gayo. Ada teman-teman yang mengkampanyekan Gayo dengan seni, ada yang mengkampanyekan Gayo lewat aksi dan nada yang mengkampanyekan Gayo lewat forum-forum diskusi. Sampaikan pada titik bangsa Gayo tidaklah sehina dan serendah yang difikirkan oleh kebanyakan Masyarakat Pesisir selama ini. Mari Kita Lawan!
Disadari atau tidak perjuangan kolektif Rakyat Gayo sedang tumbuh dan harus terus dikelola dengan baik. Siapapun Bangsa Gayo yang hadir malam konser tersebut pasti akann terbawa emosi saat melihat ejekan kaum pesisir yang hadir dimalam konser tersebut dan terimakasih kepada Bang Iwan Fals yang telah mengajari arti penting sebuah perbedaan dan cara menghargai orang lain. Salam Takjim!(yoga_fh@yahoo.com)
*Pemuda Gayo Berdomisili di Banda Aceh, sehari-hari aktif sebagai Penggiat Gayo Merdeka.

Saturday, June 15, 2013

Membendung Arus Pemurtadan di Bener Meriah dan Aceh Tengah

Suara Leuser Antara

Membendung Arus Pemurtadan di Bener Meriah dan Aceh Tengah

suaraleuserantara June 15, 2013 0
images
“ Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman…” (QS. Al Baqarah 109).
” Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka .” (QS. Al-Baqarah: 120).
Ayat-ayat di atas mengingatkan kita untuk selalu waspada terhadap semua makar musuh-musuh Islam. Sampai hari ini pun mereka tak kenal menyerah untuk memurtadkan kaum muslimin.
Pemurtadan itu bukan isu belaka, namun benar-benar nyata dan terjadi di dunia Kabupaten Bener Meriah dan Islam. Dan gerakan pemurtadan yang terorganisir sebenarnya sudah berkembang sejak puluhan tahun yang silam.
Namun, sebagian besar ummat Islam masih menganggapnya sebagai “angin lalu”. Padahal belakangan ini, gerakan pemurtadan kian gencar dan makin berani.
Gerakan pemurtadan dilakukan dengan berbagai cara/pola, diantaranya dengan bantuan ekonomi, misi kemanusiaan, pengelabuan/penipuan dengan aneka kamuflase, hipnosis, mistik dan lain sebagainya.
Menyadari hal ini seharusnya ummat Islam mulai memasang “kuda-kuda” untuk menghadapi gerakan yang membahayakan aqidah ini.
Pemurtadan merupakan suatu gerakan mengajak orang lain yang sudah beragama untuk memeluk agama lain. Dan hal ini mungkin bisa disamakan dengan dakwah (dalam Islam), Namun pada hakekatnya istilah pemurtadan memiliki konotasi yang negatif, berbeda dengan istilah dakwah.
Dakwah dalam Islam hanya sebatas menyeru/mengajak pada orang Islam atau non Islam dengan tanpa adanya unsur penipuan, pengelabuhan, pemaksaan atau cara-cara lain yang tidak jujur.
Dan dalam berdakwah, ummat Islam selalu berpegang teguh pada firman Allah, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)…” (QS. Al Baqarah 256). Sehingga dalam praktek dakwah, ummat Islam hanya memberikan penjelasan tentang ajaran agamanya dengan cara-cara yang jujur dan sportif (istilah olah raga).
Sedangkan gerakan pemurtadan adalah gerakan menyimpang yang melanggar ketentuan-ketentuan agama dan undang-undang yang berlaku. Sebagai bukti bahwa gerakan pemurtadan adalah gerakan menyimpang, diantaranya dengan alasan sebagai berikut :
Pertama, mengajak orang yang sudah beragama (Biasanya dilakukan door to door di daerah-daerah terpencil).
Kedua, dilakukan dengan cara-cara yang tidak jujur (misalnya, menyamar jadi pemeluk agama tertentu, dengan tujuan memurtadkan. Cara seperti ini pernah ditempuh oleh C Snouck Hurgronje di zaman penjajahan dalam mengadu domba umat Islam.).
Ketiga, menyusupkan, menambah atau mengurangi isi dari kitab suci agama tertentu dan memasukkan isi dari ajaran agama lain. (Seperti kasus pemalsuan Al Qur’an yang dilakukan oleh Misionaris Anis Shorros yang sempat menggegerkan publik Jawa Timur di tahun 2003 lalu).
Keempat, membodohi umat lain dengan doktrin-doktrin yang menyesatkan.
Kelima, target utama adalah anak-anak atau remaja yang belum tahu banyak tentang agamanya.
Mengantisipasi Gerakan Pemurtadan;
Gerakan pemurtadan termasuk masalah yang besar karena mengancam aqidah ummat. Oleh karena itu diperlukan suatu strategi untuk menghadapinya supaya tidak terjadi kehancuran aqidah yang lebih besar di tubuh ummat Islam. Ada beberapa langkah untuk mengantisipasi gerakan pemurtadan ini, antara lain :
Pertama, Menguatkan aqidah.
Para da’i harus menggencarkan dakwah Tauhid kepada ummat dengan berbagai cara yang dibenarkan. Sehingga ummat meyakini bahwa Allah SWT telah menetapkan bahwa Islam adalah agama yang paling benar dan diridhai oleh-Nya.
Allah SWT berfirman: ” Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS. Al-Imran:19)
Dalam ayat 89 Allah kembali menegaskan: “Barang siapa yang mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima agama itu darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.”
Ayat-ayat di atas sekaligus bantahan terhadap orang yang menyatakan bahwa “semua agama itu sama”. Karena pandangan seperti ini akan berakibat kurangnya keyakinan terhadap kebenaran agama yang telah dianutnya.
Kedua, Membekali generasi muda dengan ilmu agama.
Para orang tua hendaknya membekali anak-anaknya dengan ilmu agama. Karena saat sekarang ini “pemurtadan” mengincar generasi muda yang merupakan generasi emas.
Mengapa mereka menargetkan generasi muda? Karena gerakan ini memiliki orientasi masa depan. Sehingga, bila misi mereka berhasil pada hari ini, maka mereka akan menuai hasilnya nanti.
Maka sudah menjadi kewajiban para orang tua untuk mengantisipasi hal ini. Jika orang tua tidak memiliki kepedulian terhadap masalah ini, justru akan memberikan jalan yang mulus bagi upaya pemurtadan.
Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya meninggalkaan anak-anak mereka dalam keadaan lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan dengan perkataan yang benar.” (An-Nisa’ 9)
Ketiga, Menumbuhkan semangat berzakat, infaq atau shodaqoh.
Hari ini, gerakan pemurtadan banyak menggunakan pola bantuan ekonomi. Karena kesusahan dan lemahnya iman, akhirnya agama pun tergadai.
Dengan mengamalkan zakat, infaq atau shodaqoh, insya Allah kesulitan ekonomi yang membelenggu sebagian besar ummat Islam akan teratasi.
Keempat, menjaga muslimah.
Gerakan pemurtadan sangat mengincar para muslimah dengan metode “Pacari, hamili, murtadkan”. Oleh karena itu para muslimah wajib menjaga dirinya dari pergaulan dan menjaga diri dengan busana syar’i (menutup aurat).
Kelima, menggalang persatuan ummat dan sikap pro-aktif dalam menentang pemurtadan.
Dan meminta kepada pemerintah supaya melakukan tindakan tegas terhadap pelaku-pelaku tersebut.
Keenam, selalu waspada.
Ummat islam harus senantiasa mewaspadai setiap gerakan yang mencurigakan dengan bersikap hati-hati. Karena mereka mempunyai 1001 cara untuk memurtadkan umat Islam. Jika sudah menemukan bukti-bukti penyimpangan dalam penyebaran agama, hendaknya segera melapor kepada pihak yang berwenang agar segera diselesaikan sesuai hukum yang berlaku.
Insya Allah masih banyak strategi lain yang bisa dipakai dalam membendung arus gerakan pemurtadan. Marilah kita bahu membahu membentengi umat ini dari berbagai macam upaya penghancuran aqidah, dengan lebih banyak berkarya.
Lebih banyak melakukan amal sholeh dan tidak berpangku tangan dan dengan meyakini akan kekuatan dan pertolongan Allah, sebab Allah akan melihat siapa yang menolong agamanya, dan barang siapa menolong agama Allah niscaya Allah akan menolongnya dan menguatkan kedudukannya. Wallahu a’lamu.
(Sumber: Majalah Islam Al Kautsar)

Friday, June 14, 2013

Atek Menghilang, Empat Orang Yang Sudah Murtad Kembali Disyahadatkan

Atek Menghilang, Empat Orang Yang Sudah Murtad Kembali Disyahadatkan

suaraleuserantara June 14, 2013 0
Ketua MPU Bener Meriah, Tgk Syaqawi Abdussamad membimbing kembali empat warga tunyang untuk masuk Islam.(Foto: Suara Leuser Antara)
Ketua MPU Bener Meriah, Tgk Syaqawi Abdussamad membimbing kembali empat warga tunyang untuk masuk Islam.(Foto: Suara Leuser Antara)
REDELONG |SuaraLeuserAntara|: Atek alias Alek warga keturunan Cina (Tionghwa) yang tinggal di Kampung Ronga-Ronga, Kecamatan Gajah Putih, Kab Bener Meriah diduga adalah otak pelaku kristenisasi atau pemurtadan terhadap Hasbi aman Saidi warga Kampung Tunyang Induk, Kec Timang Gajah, Bener Meriah.
Hasil penelusuran SLA pada, Jumat (14/6/2013), pria keturunan Tionghwa ini menghilang dan dikabarkan lari ke Medan. Menurut sumber SLA, kepergian Atek tidak diketahui, karena sebelumnya dia dan istrinya ditimpa masalah keluarga yakni persoalan perceraian.
“ Tapi jejak Atek masih dapat ditelusuri. Karena adiknya masih tinggal di Reronga dengan bisnis berdagang ,” ungkap salah seorang nara sumber kepada SLA.
Ketua MPU Bener Meriah Tgk. Syarqawi Abdussamad juga mengakui, bahwa dari hasil interogasi mereka kepada Hasbi aman Saidi (agen pemurtadan-Red) bahwa cara mereka dalam menyebarkan kristenisasi dengan cara berantai.
Oleh karena Hasbi aman Saidi orang Gayo yang berhasil dimasukan pindah ke agama kristen, maka dia menjadi “agen” penyebaran agama tersebut di wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah.
Kepada SLA, Tgk Syaqawi Abdussamad mengatakan, Hasbi aman Saidi dan tiga warga kampung tunyang lainnya, dituntun untuk ber-syahadat. “ Proses pensyahadatan berlangsung, Kamis (13/6) petang, sekira pukul 18.00WIB dilaksanakan di kediaman Hasbi di Kampung Tunyang Induk, Kecamatan Timang Gajah.
Diungkapkan ketua MPU. Awalnya Hasbi disyahadatkan bersama dua orang warga lainnya oleh pihak MPU dihadapan Muspika Timang Gajah, aparat kampung serta tokoh masyarakat setempat.
Dalam proses pensyahadatan yang disaksikan sejumlah masyarakat itu, HSB mengaku akan kembali memeluk agama Islam, termasuk dua orang korbannya juga kembali mengucapkan dua kalimat syahadat. Secara terpisah, seorang pengikut HSB, juga disyahadatkan dalam waktu yang berbeda.
Tak pernah disangka, HSB ,55, warga Kampung Tunyang yang dikenal taat beribadah bahkan sering menjadi muazin di kampungnya, diam-diam sedang menjalankan misi pemurtadan di kampung itu.
Bahkan HSB telah mengajak tiga warga di kampung itu, untuk berpindah agama. HSB sendiri telah pindah agama sejak tahun 2012 lalu. MPU menemukan satu kitab injil yang disimpan oleh HSB. Namun banyak orang yang tidak tahu.
Selama setahun memeluk agama Kristen secara diam-diam, HSB telah berhasil mengajak tiga orang warga setempat, untuk masuk ke agama barunya yakni nasrani.
Ketua MPU Bener Meriah ini, menghimbau kepada seluruh masyarakat di daerah itu, maupun daerah lain untuk mewaspadai praktik-praktik pemurtadan seperti yang terjadi di Kampung Tunyang. Aksi ini, rata-rata berkedok bisnis tetapi digiring ke masalah pemurtadan.(izq)

Pidato “Murka” Nasir AK, Saat Musdalub Golkar Bener Meriah


Pidato “Murka” Nasir AK, Saat Musdalub Golkar Bener Meriah

suaraleuserantara June 14, 2013 1
Logo Partai Golkar.
Logo Partai Golkar.
REDELONG |SuaraLeuserAntara|: Nasir AK Ketua Panitia Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) Golkar di Bener Meriah, membacakan isi pidato yang cukup mengagetkan. Karena dalam pidato tersebut, Nasir terkesan emosi dan tergambar, bahwa Musdalub Golkar di Bener Meriah terkesan dipaksakan dan di bawah pengaruh pihak ke tiga.
Tak tanggung-tanggung dalam kalimat pidato yang dibacakan Nasir AK sebagai ketua Panitia Pelaksana Musdalub pada, Kamis (13/6/2013) kemarin, menyebutkan.” Seorang pemimpin yang menjalankan organisasi dengan kekuasaan maka akan menemukan kebiadaban. Serta, bila seorang pemimpin yang menjalankan kepemimpinannya dengan santun dan amanah, maka akan mewariskan pula kader yang baik dan bertanggungjawab ,” demikian sebagian isi pidato Nasir AK yang juga Ketua DPRK Bener Meriah ini.
Selanjutnya, Nasir juga mengatakan dalam pidatonya. Di sisi lain ada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab berusaha merusak kekompakan yang ada pada partai ini, itulah yang namanya politik. Setiap ada kesempatan dan peluang untuk merugikan lawan maka semua dilakukan.
“ Kita partai besar, lawan politik tetap mengintip kelemahan yang ada pada kita. Kita harus tetap solid dalam membesarkan partai, jangan ada yang berkhianat di antara kita, karena pihak-pihak akan mempergunakan kesempatan untuk merusak, mulai dari dalam tubuh kita sendiri dengan cara memprovokasi, sehingga terjadi perpecahan ,” ungkap Nasir.
Namun, pidato Nasir AK tersebut di atas mengisaratkan ada sesuatu di partai tersebut. Ketua DPRK Bener Meriah ini tidak menunjukkan siapa sebenarnya orang yang dimaksud dalam sentilan pidato yang dibacakannya itu. Tapi, saat pidato, semua peserta Musdalub terdiam dan tak kelihatan tertawa maupun tersenyum.
Ketika itu situasi agak tegang, kembali Nasir mengucapkan.” Dengan mundurnya Ir. H. Tagore AB, terjadi gelombang yang kurang menguntungkan bagi partai ini. Disatu sisi kita disibukkan dengan melengkapi proses administrasi caleg, dilain pihak ada yang menggoyang partai ini, agar kekuasaan dapat mereka rebut pasca ditinggal Tagore ,” ungkap Nasir.
Ditempat terpisah, Anggota DPRK Bener Meriah Darwinsyah yang juga kader Golkar kepada Suara Leuser Antara mengungkapkan. Sesuai rencana semula, Musdalub Golkar akan dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 2013.” Ini sesuai hasil rapat bersama pengurus Golkar Bener Meriah. Entah mengapa tiba-tiba acara Musdalub tersebut dimajukan pada tanggal 13 Juni 2013 ,” kata Darwin dan hanya mengangguk (Iya-Red) ketika ditanya pelaksanaan Musdalub ini ada intevensi pihak luar.
Seperti yang telah diberikan SLA sebelumnya, sejak partai berlambang pohon beringin ini ditinggal oleh Ir. H. Tagore AB. Didalam partai tersebut langsung terpecah menjadi dua kubu. Pertama adalah kubu yang ingin meyelamatkan Golkar hingga dilaksanakannnya Musdalub sesuai AD/ART Partai.
Kemudian kubu yang ke-dua adalah, yang ingin segera dilaksanakan Musdalub Golkar serta mengabaikan AD/ART partai yang ada. Bagi kelompok ini, partai tersebut di arahkan kepada salah seorang yang berpengaruh di kabupaten tersebut. Bahkan, melanggar AD/ART partai menjadi halal.
Akhirnya, dari amatan Suara Leuser Antara, kelompok ke-dua memenangkan pertarungan perebutan kursi Ketua DPD II Golkar Bener Meriah. Karena kelompok ini dibeking oleh pengurus DPD tingkat satu, serta dengan deal tertentu, ahirnya kelompok pertama “bertekuk lutut” juga.(tim)

Foto Kunjungan Siswa SMAN 1 Takengon ke PLTA Peusangan


 Foto Kunjungan Siswa SMAN 1 Takengon ke PLTA Peusangan

Foto Kunjungan Siswa SMAN 1 Takengon ke PLTA Peusangan

Sebanyak 15 siswa dan 6 orang guru berkunjung ke proyek PLTA Peusangan, Kamis 14 Mei 2013, kunjungan tersebut merupakan kunjungan pertama yang dilakukan sekolah yang ada di Kabupaten Aceh Tengah, selain melakukan kunjungan hal tersebut dijadikan sebagai pelajaran tambahan bagi siswa SMA tertua di Aceh Tengah.

PT. PLN Persero, Samuel Sitohang mempresentasikan pengerjaan proyek PLTA Peusangan 1 dan 2
PT. PLN Persero, Samuel Sitohang mempresentasikan pengerjaan proyek PLTA Peusangan 1 dan 2

Siswa SMAN 1 Takengon melihat pengerjaan proyek PLTA  Weir 1, di Sanehen Kecamatan Silih Nara
Siswa SMAN 1 Takengon melihat pengerjaan proyek PLTA Weir 1, di Sanehen Kecamatan Silih Nara
Siswa dan guru diberi kesempatan memasuki terowongan di Kampung Remesen Kecamatan Silih Nara
Siswa dan guru diberi kesempatan memasuki terowongan di Kampung Remesen Kecamatan Silih Nara

Pengerjaan Terowongan di Kampung Remesen, yang telah dikerjakan sejauh lebih dari 500 meter dari 2,5 KM yang direncanakan
Pengerjaan Terowongan di Kampung Remesen, yang telah dikerjakan sejauh lebih dari 500 meter dari 2,5 KM yang direncanakan
Weir 3 di Kampung Sikiren Kecamatan Silih Nara, tempat dimana turbin PLTA akan dibangun
Weir 3 di Kampung Sikiren Kecamatan Silih Nara, tempat dimana turbin PLTA akan dibangun


(Darmawan Masri)

SMAN 1 Takengon Kunjungan ke PLTA Peusangan


SMAN 1 Takengon Kunjungan ke PLTA Peusangan

SMAN 1 Takengon Kunjungan ke PLTA Peusangan

Siswa SMAN 1 Takengon diberi Kesempatan Memasuki Terowongan di Kampung Remesen Kecamatan Silih Nara (LintasGayo | Darmawan Masri)Takengon-LintasGayo – SMAN 1 Takengon melakukan kunjungan ke proyek pembangunan PLTA Peusangan 1 dan 2, Kamis 14 Mei 2013. Kunjungan ini didasari atas undangan dari pihak PLTA dengan mensosialisasikan pengerjaan proyek pembangkit listrik yang memanfaatkan arus sungai Peusangan kepada masyarakat Aceh Tengah pada khususnya termasuk para siswa.
Tercatat, 15 siswa dan 6 orang guru SMAN 1 Takengon ikut serta dalam rombongan tersebut, yang disambut oleh staff PT. PLT Persero, Samuel Sitohang, dikantor mereka dikawasan Bur Ni Bius Kecamatan Silih Nara, kata salah seorang guru pembina M.Kandar S.Pd.
Dilanjutkannya, dalam kunjungan tersebut, pihak PLN mempresentasikan pengerjaan proyek yang sedang mereka kerjakan dimana pengerjaannya dilakukan oleh dua perusahaan di Asia timur, Nyundai dari Korea Selatan dan Nippon Koil dari Jepang.
“Mereka menjelaskan kepada kami dan siswa, mengenai apa yang telah mereka bangun, ini sangat positif karena banyak anak-anak yang tidak tahu mengenai pengerjaan proyek tersebut”, terang M. Kandar.
Dilanjutkan, selain mepresentasikan apa yang sedang dikerjakan, pihaknya juga diajak kebeberapa titik pembangunan PLTA Peusangan I dan 2.
“Kami juga diajak mengunjungi beberapa titik pengerjaan, mulai dari kampung Sanehen, Remesen dan terakhir di kampung Singkiren”, ungkapnya.
Disamping, dapat melihat secara langsung pengerjaan proyek PLTA Peusangan, M. Kandar menambahkan pihaknya juga diajak memasuki terowongan yang dibuat dikawasan Remesen.
“Anak-anak dan kami diberi kesempatan memasuki terowongan di kampung Remesen, hal ini menghilangkan rasa penasaran kami selama ini, ternyata terowongan tersebut telah dikerjakan lebih dari 500 meter, dan pihak PLN mengatakan pengerjaan proyek tersebut secara keseluruhan telah mencapai 15,56 persen dan diperkirakan rampung tahun 2016″, pungkasnya.
Sementara itu, kepala SMAN 1 Takengon, Uswatuddin kepada Lintas Gayo, Jum’at (15/05/2013) mengatakan, kunjungan ke PLTA Peusangan juga dijadikan oleh siswa SMA tertua di Aceh Tengah tersebut sebagai pelajaran tambahan dalam masa ekstrakurikuler setelah melaksanakan ujian kenaikan kelas sekaligus sebagai perjalanan pembelajaran.
“Selain melakukan perjalanan, hal ini merupak perjalanan pembelajaran bagi siswa-siswa kami untuk lebih mengetahui apa yang sedang dikerjakan didaerah mereka”, katanya.
Ditambahkan, menurut keterangan dari pihak PLTA, SMAN 1 Takengon, merupakan sekolah yang pertama mengunjungi proyek milyaran rupiah tersebut.
“Beruntung sekali, kita adalah sekolah pertama yang diberi kesempatan untuk berkunjung, semoga dengan kunjungan tersebut, siswa kita pangalamannya akan lebih bertambah terutama sekali disaat mereka nantinya akan kuliah, mereka bisa memilih jurusan yang sesuai, dimana peluang kerjanya ada di kampung halamannya sendiri, bukan hanya sekedar menjadi penonton, melainkan akan menjadi pemain”, demikian kata Uswatuddin.
(Darmawan Masri)

Good Governance untuk Negeri Gayo


Good Governance untuk Negeri Gayo

Good Governance untuk Negeri Gayo

Muhammad-Rusydi-dr
penulis bersama Gubernur dr Zaini Abdullah

BERBAGAI penelitian menunjukkan bahwa baik dan buruknya tata pemerintahan yang dijalankan memiliki hubungan yang erat dengan hasil pembangunannya. Definisi governance adalah tradisi dan institusi yang dijalankan dengan kekuasaaan di dalam suatu daerah, termasuk proses pemerintahannya yang dipilih atau proses politik, pemantauan, dan pergantian.
Kapasitas pemerintah untuk merumuskan dan merealisaikan kebijakan secara efektif dan pengakuan dari masyarakat terhadap tradisi dan institusi yang mengatur interaksi antar masyarakat dan pemerintah dianggap sangat perlu.
Selain hal itu untuk menunjang good governance ada hal lain yang tak kalah penting dan menarik yaitu kewenangan,legitimasi dan representasi.Kewenangan adalah hak pemerintah untuk membuat kebijakan yang dirasa perlu, Walaupun ini merupaka dari  suatu hak pemerintahan modern, namun bagaimana melibatkan rasa keterlibatan dan keterwakilan aspirasi masyarakat tentang kebijakan yang akan di buat.
Legitimasi didapatkan karena masyarakat mengakui bahwa pemerintah telah  melaksanakan peran dan funsinya dengan baik dalam membuat suatu kebijakan. Representatif diartikan sebagai hak dan rasa akan keterwakilan dalam pengambilan kebijakanbagi kepentingan bersama dalam kaitannya alokasi sumber daya.
Dari sini terlihat bahwa good governance di negeri Gayo masih jauh dari yang diharapkan dengan bukti kenyataan yang kita lihat, dan good governance tidaklah terbatas atas bagaimana pemerintah menjalankan peran dan fungsinya dengan baik, tetapi ada juga hal yang vital yaitu ketika masyarakat ambil adil dalam dan mengawasi jalannya pemerintahan yang baik di negeri serpihan tanah surga,sehingga munculnya sistem accoutable yang baik sehingga perlu adanya peran dan fungsi masyarakat Gayo dalam pengawasan dan partisipasi yang baik.(Muhammad Rusydi DR/email: muhammadrusydidr@yahoo.com)

Loyang Mendale kembali Di Teliti

\
Loyang Mendale kembali Di Teliti

Loyang Mendale kembali Di Teliti

Arkeolog Ketut Wiradnyana bersama tokoh masyarakat Gayo, Tagore AB di Loyang Ujung Karang beberapa waktu lalu. (Kha A Zaghlul)
Arkeolog Ketut Wiradnyana bersama tokoh masyarakat Gayo, Tagore AB di Loyang Ujung Karang beberapa waktu lalu. (Kha A Zaghlul)
Takengon-LintasGayo: Penelitian arkeologi di Loyang Mendale Kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah akan kembali dilanjutkan oleh tim arkeolog dari Balai Arkeologi (Balar) Medan Sumatera Utara.
“Kami kembali ditugaskan meneruskan penelitian di Loyang Mendale dan akan mulai bekerja besok,” kata Taufiqurrahman Setiawan, salah seorang arkeolog, Jum’at 14 Juni 2013 di Takengon.
Dijelaskan, mereka akan meneruskan penelitian-penelitian sebelumnya dengan tujuan mempertegas kembali hasil penelitian sebelumnya.
Tim tersebut, kata Taufiq dipimpin oleh Ketut Wiradnyana dan akan bekerja untuk beberapa hari kedepan. (LG003)

Putra Gayo Pimpin Himapol Unsyiah


Putra Gayo Pimpin Himapol Unsyiah

Putra Gayo Pimpin Himapol Unsyiah

Himapol
Banda Aceh-LintasGayo: Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HIMAPOL) Unsyiah, Jum’at 14 Juni 2013 melakukan pelantikan dan serah terima jabatan dari kepengurusan lama dengan kepengurusan yang baru di Aula gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unsyiah lantai 3 serbaguna.
Acara yang di buka oleh Dekan Fisipol ini berlangsung lancar termasuk saat pengambilan sumpah pengurus himpunan oleh Pembantu Dekan III.
Sejumlah personil kepengurusan himpunan ini yaitu  ketua himpunan dan sebagian besar anggotanya adalah mahasiswa yang berasal dari Gayo Takengon dan Bener Meriah  dan merupakan mahasiswa aktif dan berprestasi dalam berbagai banyak bidang.
Salah seorang diantara mereka adalah Usman Kari Linge bin Abdul Wahab. Mahasiswa pemangku jabatan ketua Himapol ini mengatakan bahwa ini merupakan suatu kebanggaan dan sebagai ajang penggerak mahasiswa Gayo untuk berkreasi dan mengembangkan dirinya dalam berorganisasi.
Kedepan Usman berharap, agar semua putra daerah Gayo dapat belajar memimpin dan berkreasi dalam organisai sehingga tidak ada hal yang tidak mungkin bila orang Gayo dan khususnya mahasiswa sebagai generasi penerus bisa mengambil alih pemegang estafet roda pembangunan yang bersih dan berjalan maksimal.(SP)

Wali Nanggroe; Pemersatu atau Pemecah?

Wali Nanggroe; Pemersatu atau Pemecah?

Kamis, 13 Juni 2013 09:56 WIB
Oleh Safaruddin

DEMONSTRASI menuntut pemisahan wilayahnya dari Provinsi Aceh terus bergulir di dataran tanah tinggi Gayo yang meliputi Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues hingga Aceh Tenggara. Demo serupa juga menjangkiti Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan hingga Singkil dan Subulussalam. Satu tuntutan mereka; memisahkan tanah Gayo dan pantai barat dari Provinsi Aceh. Jika perjuangan mereka berhasil, maka Aceh akan terdiri dari tiga provinsi yang dipimpin tiga orang gubernur; Aceh, Aceh Leuser Antara (ALA), dan Aceh Barat Selatan (ABAS).

Jika pada 4 Desember 1976 Aceh di bawah kampanye Dr Hasan Muhammad di Tiro menyuarakan kemerdekaan Aceh dari NKRI, maka kini giliran mantan pengikut Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang harus meredakan gelora merdeka dari dua belahan bumi Aceh. Ini adalah fenomena menarik dan dibenarkan dalam panggung demokrasi jika ditempuh melalui jalur-jalur damai dan demokratis. Oleh sebab itu, para penguasa Aceh (eksekutif dan legislatif) yang sebagian besar berasal dari kalangan mantan kombatan agar mempertimbangkan dengan jernih suara merdeka dari wilayah tengah dan pantai barat selatan Aceh.

Dianggap angin lalu
Sebenarnya rakyat tanah tinggi Gayo dan pantai barat selatan adalah orang-orang yang waras, santun dan cerdas dalam menjalani hidup bersama warga Aceh daratan. Mereka sangat mencintai Aceh, dan itu terlihat dari masukan-masukan yang mereka utarakan saat berbagai kebijakan disusun di ibukota provinsi. Terakhir, mereka menyampaikan aspirasi tentang isi rancangan qanun (raqan) Wali Nanggroe sebelum disahkan menjadi qanun. Tapi, apa hendak dikata, suara mereka dianggap bagai angin lalu. Pembuat kebijakan tetap pada keputusannya, seakan menutup mata dan telinga atas masukan rakyatnya itu.

Sejak dulu sering terdengar suara ketidakmerataan pembangunan antara wilayah Aceh daratan dengan Aceh pedalaman dan barat selatan. Kini, di era pascadamai suara miring itu tetap menggema. Penduduk wilayah tengah dan barat selatan merasa diperlakukan bagai anak tiri. Baik dari segi komposisi kepemimpinan provinsi, pemerataan pembangunan, hingga kebijakan soal Wali Nanggroe yang dinilai memarginalkan budaya Gayo dan budaya-budaya lain di Aceh. Akhirnya, mereka menjadikan momen ini sebagai pijakan menuju terwujudnya ALA dan ABAS.

Pencantuman nama Aceh pada kedua bakal provinsi baru ini menunjukkan bahwa mereka sangat mencintai Aceh dan tak hendak terpisah dari Aceh. Kalaupun harus berpisah, maka nama Aceh tak boleh dihapuskan pada identitas mereka. Pada sisi lain, andai Provinsi Aceh harus terbelah tiga, itu bukanlah dosa dalam hidup bersama NKRI. Toh, wilayah-wilayah lain di Indonesia satu per satu memekarkan diri; dari 26 provinsi (tanpa Timtim) menjadi 33 provinsi sekarang.

Yang namanya pemekaran pasti akan ada jabatan yang ikut dimerkarkan. Para kandidat calon gubernur, calon anggota legislatif, calon kepala dinas tidak rebut-rebutan pada kursi yang terbatas di sebuah provinsi. Konsentrasi mereka akan terpecah ke daerah-daerah baru yang dimekarkan sehingga cenderung dapat menciptakan kondisi yang lebih sehat dan pembangunan pun lebih merata. Dan, terbukti daerah-daerah pemekaran semakin berkembang karena adanya sentuhan khusus dari pemerintah pusat dan pemerintah pemekaran.

Gugat ke MA dan MK
Lembaga Wali Nanggroe merupakan kekhususan Aceh yang diberikan oleh konstitusi dalam pasal 18 B UUD 1945, yang kemudian dituang dalam pasal 96 dan 97 UU No.11/2006 tentang Pemerintahan Aceh. Namun kehadirannya yang diharapkan menjadi pemersatu Aceh justru menimbulkan pro dan kontra yang mengarah pada perpecahan teritorial Aceh.

Jika dilihat dari aspek yuridis, fungsi Lembaga Wali Nanggroe seperti tertuang dalam UUPA Pasal 96 (1) merupakan kepemimpinan adat sebagai pemersatu masyarakat yang independen, berwibawa dan berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan kehidupan lembaga-lembaga adat, adat-istiadat dan pemberian gelar dan upacara-upacara adat lainnya; (2) bukan merupakan lembaga politik dan lembaga pemerintahan di Aceh; (3) dipimpin oleh seorang Wali Nanggroe yang bersifat personal dan independen; (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat-syarat calon, tata cara pemilihan, peserta pemilihan, masa jabatan, kedudukan protokoler, keuangan, dan ketentuan lain yang menyangkut Wali Nanggroe diatur dengan Qanun Aceh.

Jika dilihat dari aspek sosiologis empiris, terjadi penolakan yang luar biasa dari elemen masyarakat, bahkan penolakan oleh lembaga negara seperti beberapa DPRK di dataran tinggi Gayo dan Aceh Barat-Selatan menolak isi Qanun Wali Nanggroe yang disusun oleh DPRA karena tidak menampung aspirasi etnis mereka yang juga merupakan bagian wilayah Aceh, dan penolakan tersebut telah mengarah pada disintegrasi Aceh.

Ada beberapa langkah hukum yang dapat ditempuh oleh masyarakat yang tidak sependapat dengan Qanun Wali Nanggroe: Pertama, melakukan Judicial Review terhadap Qanun tersebut ke Mahkamah Agung (MA) karena MA punya kewenangan untuk menguji peraturan perundangan di bawah UU jika suatu UU bertentangan dengan UU yang lebih tinggi ataupun peraturan perundangan tersebut merugikan hak konstitusionalitasnya sebagai warga negara, dan; Kedua, melakukan judicial review Pasal 96 dan 97 UUPA ke Mahakamah Konstitusi (MK) sebagai landasan hukum dari Lembaga Wali Nanggroe, karena MK diberikan kewenangan oleh konstitusi untuk menguji UU jika bertentangan dengan UUD 1945.

Berharap bijaksana
Kita tentu tidak berharap Aceh terpecah-belah hanya karena substansi Qanun Wali Nanggroe yang disusun oleh DPRA yang dinilai tidak aspiratif dan tidak akomodatif, bahkan terkesan eksklusif. Kita berharap kepada DPRA dan Gubenur Aceh agar lebih bijaksana dalam memimpin Aceh, cakap dalam menyerap aspirasi rakyat, tidak ego kelompok dan menentang kepentingan publik, jangan melakukan makar terhadap mandat rakyat untuk kepentingan kelompok. Kita tak inginkan Aceh terbelah gara-gara pemaksaan kursi untuk orang tertentu.

Dalam tulisan terdahulu “Menggugat Wali Nanggroe” penulis pernah mengusulkan agar qanun WN direferendumkan (Serambi, 4/9/2012). Maka, sudah seharusnya Pemerintah Aceh dan DPRA menggelar referendum untuk qanun ini agar rakyat dapat memberikan persetujuan secara demokratis sehingga Qanun WN menjadi pemersatu Aceh, bukan justru menjadi pemecah belah Aceh. Lembaga WN adalah konstitusional dalam kekhususan Aceh, tapi jangan dilaksanakan dengan cara yang inkonstitusional. Jika tidak, maka jangan salahkan saudara-saudara kita di dataran tinggi Gayo dan pantai Barat-Selatan menuntut pemisahan diri. Semoga!

* Safaruddin, SH, Direktur Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Banda Aceh. Email: nyaktafar@yahoo.com