Search This Blog
Monday, May 5, 2014
https://www.facebook.com/profile.php?id=100004114983595
https://www.facebook.com/profile.php?id=100004114983595
Wednesday, January 15, 2014
Hukum Menerima Uang dari Caleg
Hukum Menerima Uang dari Caleg
Hukum Menerima Uang dari Caleg
Tanya: Bagaimana hukum menerima uang untuk memilih salah satu caleg,apa uang tersebut halal atau haram, syukron jazakallohu khoeronDari: Abdul Latif via Tanya Ustadz for Android
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Tujuan utama money politic, nyebar duit ketika pemilu adalah membeli suara. Uang yang diberikan oleh caleg kepada masyarakat, tujuannya menggiring mereka untuk mendukung mereka, tanpa memandang baik dan buruknya karakter mereka. Karena itu bisa jadi uang ini diterima dalam rangka membela dan membenarkan kebatilan. Dan ini semakna dengan risywah (suap).
Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan:
الرشوة ما يعطى لإبطال حق، أو لإحقاق باطل
Risywah (suap) adalah sesuatu yang diberikan (oleh seseorang) untuk
menyalahkan yang benar atau membenarkan yang salah. (al-Mausu’ah
al-Fiqhiyah, 24/256).Sementara Ibnu Abidin menjelaskan:
الرشوة: ما يعطيه الشخص الحاكم وغيره ليحكم له أو يحمله على ما يريد
Risywah (suap) adalah sesuatu yang diberikan oleh seseorang kepada
hakim atau yang lainnya, agar memberi keputusan yang menguntungkan
dirinya atau memaksanya untuk melakukan apa yang dia inginkan. (Hasyiyah
Ibn Abidin, 5/502)Syaikh Ibnu Baz dalam fatwanya menjelaskan keterangan Ibn Abidin di atas,
“Dari apa yang disampaikan Ibn Abidin, jelaslah bahwa suap bentuknya lebih umum, tidak hanya berupa harta atau jasa tertentu, untuk mempengaruhi hakim agar memutuskan sesuai keinginannya. Sementara yang menjadi sasaran suap adalah semua orang yang diharapkan bisa membantu kepentingan penyuap. Baik kepala pemerintahan, maupun para pegawainya. Maksud Ibn Abidin: “agar memberi keputusan yang menguntungkan dirinya atau memaksanya untuk melakukan apa yang dia inginkan” adalah mewujudkan apa yang menjadi tujuan dan keinginan penyuap. Baik dengan alasan yang benar maupun salah.” (Majmu’ Fatawa Ibn Baz, 23/223 – 224)
Untuk itulah, para ahli fikih kontemporer, terutama ulama Mesir, menyebut praktek money politic dengan istilah ar-Risywah al-Intikhabiyah[arab: الرشوة الانتخابية], sogok pemilu. Dan mereka menegaskan bahwa praktek semacam ini termasuk tindakan haram dan melanggar aturan syariat.
Allahu a’lam
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.
Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.
- SPONSOR hubungi: 081 326 333 328
- DONASI hubungi: 087 882 888 727
- Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial
- Keterangan lebih lengkap: Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur
Mari
berbagi kebaikan dan pahala dengan menyebarkan artikel ini melalui akun
Facebook, Twitter, dan Google+ Anda. Upaya yang kecil dan ringan namun
bernilai besar di mata Allah. Anda juga dapat berlangganan melalui RSS feed untuk mendapatkan update terbaru artikel KonsultasiSyariah.com
Sunday, January 12, 2014
MubMubaligh Seluruh Aceh Deklarasikan
POSTED On :
― EDITOR By : el-Asyi

SEBANYAK 70 Muballigh (da'i) dari seluruh Aceh membentuk dan
mendeklarasikan wadah pemersatu para muballigh di Aceh (Ittihadul
Muballighin Aceh).
Proses pembentukan dan deklarasi Persatuan Muballigh Aceh ini
dilangsungkan di Dayah Babussalam Al-Aziziyah Kecamatan Jeunieb,
Bireuen, Kamis siang (2/1/2014).
Hadir dalam deklarasi persatuan Muballigh Aceh diantaranya Tgk Yusri
Puteh, Tgk Mulyadi, dan para muballigh kondang lainnya. Selain itu juga
dihadiri oleh para ulama Aceh lainnya.
Untuk menjalankan roda organisasi, para muballigh ini memilih Tgk Munir
Qiran sebagai ketua Tanfiziyah atau ketua pelaksana. Sementara Tgk
Nasruddin Judon Jeunib dan Tgk H Zulkarnen Blang Panyang masing-masing
terpilih sebagai sekretaris dan bendahara.
Selain itu, para muballigh tersebut juga memilih Abu H Mustafa Paloh
Gadeng sebagai ketua dewan syura dan Tgk H.Muhammad Yusuf A.Wahab
sebagai wakil ketua dewan syura.
Tgk H.Muhammad Yusuf A.Wahab yang akrab disapa Tusop dalam tausiahnya
menjelaskan bahwa dengan terbentuknya wadah Persatuan Muballighin Aceh
hendaknya dapat meningkatkan kualitas para muballigh di Aceh dalam
memberikan pencerahan-pencerahan dan pencerdasan bagi masyarakat Aceh.
“Ini merupakan amanah dari undang-undang dan syari’at Islam di Aceh,”
ujar ulama muda yang juga salah satu ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh
(HUDA) ini.
“Kita berharap, bahwa dengan terbentuknya organsiasi persatuan muballigh
maka akan terbangun konsolidasi dan memperkuat soliditas dalam
menyukseskan penerapan syari’at Islam di Aceh.”
“Organisasi ini kita harapkan juga bukan hanya sekedar formalitas
semata, akan tetapi benar-benar dapat memperdalam rasa damaian di Aceh
sehingga Aceh lebih kondusif dan harmonis lagi,” kata Tusop lagi
menambahkan.
Menurut Ust Junaidi, Lc, pimpinan Dayah Multimedia Aceh yang juga salah
satu peserta dan muballigh, acara ini seyogianya dilaksanakan pada hari
Kamis 2 Januari 2014 Jam 09.00 Pagi, namun dikarenakan beberapa
muballighin datang dari jauh, dari berbagai kabupaten di Aceh maka di
undur sehingga jam 14.00 WIB. (Teuku Zulkhairi)
Minuman Keras, FUI: “SBY ‘Ngeledek’ Tuhan”
POSTED On :
― EDITOR By : el-Asyi

Sekjen Forum Umat Islam (FUI), KH. Muhammad al-Khaththath mengatakan, Presiden SBY telah melakukan pelecehan dimana telah membawa nama 'Tuhan' dalam menetapkan sesuatu yang diharamkan oleh Tuhan adalah bentuk pelecehan.
"Itu Perpres Miras sudah bertentangan dengan Tuhan. Kalau itu (SBY) meledek Tuhan Yang Maha Kuasa," jelasnya.
Sekjen FUI ini juga menyebutkan ayat yang berkaitan dengan haramnya khamr (minuman keras), sembari mengutip ayat dalam surat Al Maidah 90-91.
“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya khamr (minuman keras), berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. Al Maidah 90-91).
Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali membuat keputusan yang kontroversial. SBY menerbitkan peraturan presiden (perpres) baru tentang pengendalian minuman beralkohol (mihol) no 74 tahun 2013.
Peraturan tersebut untuk mengganti keputusan presiden (keppres) sebelumnya yang dibatalkan Mahkamah Agung (MA) pada Juni.
Regulasi baru tersebut dicantumkan dalam Perpres Nomor 74 Tahun 2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol yang ditandatangani SBY pada 6 Desember 2013. Melalui peraturan itu, pemerintah kembali mengategorikan minuman beralkohol sebagai barang dalam pengawasan.
Mengapa Umar ‘Pura-Pura’ Menyerah?
POSTED On : 01 -Dec - 2013
― EDITOR By : Atjehcyber Team
“Sebenarnya Teuku Umar adalah seorang tokoh yang sulit
dimengerti baik oleh lawan maupun oleh kawannya...”
dimengerti baik oleh lawan maupun oleh kawannya...”
Margono Dwi .S
Benarkah Teuku Umar hanya “pura-pura” menyerah? Atau sebenarnya itu
adalah cerminan jiwa oportunis? Atau ingin menjadi Sultan Aceh dengan
bantuan Belanda? Tidak ada kepastian, yang jelas sumber sejarah resmi
kita dari SD sampai perguruan tinggi meyakini bahwa Umar hanya
“pura-pura” menyerah untuk memperoleh senjata dan mempelajari siasat
Belanda.
Anthony Reid dalam bukunya menuduh Umar sebagai “oportunis brilian yang
memilih saat-saat seperti ini untuk berpihak kepada Belanda.” Reid
mendiskripsikan perilaku Umar tersebut pada peristiwa S.S Nisero. Lebih
jauh Reid juga memberi catatan “Teuku Umar adalah sebuah contoh klasik
dari seorang petualang berbakat yang melihat perang sebagai sebuah
peluang besar” (Reid, 2005 : catatan kaki bab 7 no.65).
Tanggal 8 April 1873 di lepas pantai Ceureumen Banda Aceh, kapal perang
Belanda, Citadel van Antwerpen buang sauh. Lalu tanggal 11 April 1873
dengan penuh percaya diri pasukan Belanda yang terdiri dari 3.198
pasukan termasuk 168 perwira KNIL, didukung oleh kurang lebih 1000 kuli,
diturunkan dari kapal untuk menggempur kedudukan pejuang Aceh
(Kawilarang, 2008 : 60).
Bagi bangsa Aceh tidak ada kata lain: Lawan!. Dokumen Belanda
sendiri menyebutkan bahwa Aceh bukan petarung sembarangan. Berbeda
dengan suku bangsa lain di Indonesia, Aceh menerapkan taktik jitu,
termasuk memasang sniper di ketinggingan bangunan.
Malang bagi Belanda karena sang panglima, Jenderal JHR Kohler, tewas
pada 14 April 1873 terkena bidikan senapan mauser yang beberapa tahun
sebelumnya diimpor dari Penang. Penggantinya, Kolonel van Daalen gagal
mengangkat moral pasukan sehingga memaksanya mundur pada 25 April 1873.
Berita perang dan kekalahan Belanda diulas di London Time (edisi 22
April 1873) dan The New York Time (edisi 15 Mei 1873). Batavia
tersentak. Tetapi orang Aceh juga tahu bahwa Belanda bukan kolonialis
sembarangan. Artinya Aceh tetap butuh bantuan. Tetapi siapa yang bisa
membantu? Inggris, Perancis atau Amerika?
Tidak! Sesama kolonial tidak akan saling menghancurkan. Satu-satunya
jalan adalah meminta perlindungan pada pusat kekuasaan islam, khilafah
Turki Utsmaniah. Sultan Aceh (Mahmud) bersegera memerintahkan
diplomatnya Habib Abdul Rahman Az-Zahir – yang waktu itu di Mekah (saat
itu Arabia adalah propinsi Turki) — menuju Istambul. Pada tanggal 27
April 1873 Habib tiba di Istambul (Reid, 2005 : 129).
Belanda sempat gemetar tatkala tersiar kabar bahwa kapal perang Turki
“Ertogrul” beserta beberapa kapal pendamping bergerak cepat menuju Aceh.
Tetapi kabar itu ternyata bohong. Turki abad-19 berbeda dengan Turki
Abad-15. Turki abad-19 adalah imperium yang tengah menggali liang kubur
dalam-dalam. Misi Habib gagal total.
Dari Istambul ia mendengar kabar bahwa Kutaraja (Banda Aceh) telah jatuh
ketangan Belanda, sedangkan Sultan dan para pejuang mengungsi ke
Indrapuri kemudian Keumala.
Saat Citadel menembakan meriam pertamanya, Teuku Umar baru menginjak 19
tahun (lahir 1854 di Meulaboh, Wikipedia). Seperti layaknya orang Aceh,
Umar muda juga terimbas gejolak perang. Waktu itu sebagai Keuchik
(Kepala Gampong) ia adalah pemimpin perlawanan di Kampungnya. Ia dikenal
cerdas dan pandai mempengaruhi orang. Umarpun menyaksikan bahwa perang
itu telah berlangsung lama dan belum ada tanda-tanda selesai. Satu hal
yang pasti perang menimbulkan penderitaan.
Tetapi perangpun di mata Umar pada akhirnya membuka peluang. Setidaknya
ia melihat banyak ulee balang (bangsawan, penguasa daerah) yang telah
berdamai dengan Belanda mendapatkan perlindungan dan keuntungan
finansial, berupa gaji dan izin untuk berdagang.
Pada tahun-tahun tersebut Aceh terkenal dengan perdagangan lada.
Komuditas ekonomi ini yang menjadikan kaum ulee balang menangguk
keuntungan. Berbeda dengan kaum ulama dan santri yang menganjurkan
perang total tanpa kompromi demi kehormatan, kaum ulee balang dan
serdadunya tidak senantiasa demikian. Baginya kehormatan perlu, tetapi
uang juga penting.
Setelah bermain kucing-kucingan dengan Belanda, pada akhirnya, Teuku
Umar beserta pasukannya berdamai dengan Belanda tahun 1883 (Rusdi Sufi,
1994 : 88) dan menyerah secara resmi pada Maret 1984 (Reid, 2005 : 256).
Hal ini menimbulkan kemarahan besar dari pejuang Aceh.
Penyerahan tersebut sangat menyakinkan karena Teuku Umar akhirnya ikut
aktif bertempur untuk Belanda. Anthony Reid dalam bukunya menuduh Umar
sebagai “oportunis brilian yang memilih saat-saat seperti ini untuk
berpihak kepada Belanda.” Reid mendiskripsikan perilaku Umar tersebut
pada peristiwa S.S Nisero. Lebih jauh Reid juga memberi catatan “Teuku
Umar adalah sebuah contoh klasik dari seorang petualang berbakat yang
melihat perang sebagai sebuah peluang besar” (Reid, 2005 : catatan kaki
bab 7 no.65).
Saat perang Aceh memasuki masa yang rumit, pada 8 Nopember 1883 kapal
dagang Inggris S.S Nisero berisi 29 ABK kandas di dekat Panga (40 mil di
utara Meulaboh) dan disandera oleh penguasa Teunom, Teuku Imam. Upaya
Belanda untuk membebaskan sandera tidak mudah sehingga menimbulkan
perselisihan di Amsterdam dan London. Belanda tahu bahwa Teuku Imam dari
Teunom ini adalah musuh bebuyutan Teuku Umar.
Akhirnya Umar yang telah menyerah dipilih untuk menjadi pimpinan pasukan
komando membebaskan sandera. Pada tanggal 3 Juli 1884 pasukan komando
itu bergerak menuju Rigas (dekat Teunom) dengan membawa senjata, amunisi
dan uang tebusan.
Di perjalanan rupanya Teuku Umar dan pasukannya mendapat perlakuan
diskriminatif dari kapten dan awak kapal perang Belanda. Umar dan
pasukannya disuruh tidur digeladak dan dilarang mondar-mandir. Sebagai
orang Aceh yang menjunjung kehormatan, Umar tersinggung.
Pada saat kapal mendarat di Rigas maka Umar dan anak buahnya membunuh seluruh awak kapal belanda dan membawa lari senjata, amunisi dan uang. Hal ini membawa kemarahan Belanda. Sejak itu Umar dan Belanda pecah kongsi. Tetapi perlu diingat ini bukan yang terakhir Umar menyerah lalu pecah kongsi dengan Belanda.
Pada saat kapal mendarat di Rigas maka Umar dan anak buahnya membunuh seluruh awak kapal belanda dan membawa lari senjata, amunisi dan uang. Hal ini membawa kemarahan Belanda. Sejak itu Umar dan Belanda pecah kongsi. Tetapi perlu diingat ini bukan yang terakhir Umar menyerah lalu pecah kongsi dengan Belanda.
Setidaknya Kawilarang mencatat bahwa tahun 1885 Teuku Umar ditengarai
kembali berdamai dengan Belanda. Mungkin saja Umar telah berhasil
menjelaskan tragedi pasukan komando S.S Nisero, bahwa ia terpaksa
membunuh karena dilecehkan, sehingga akhirnya ia diterima kembali oleh
Belanda.
Menyerahnya Umar tahun 1885 ini perlu diklarifikasi ulang, karena Kawilarang tidak secara tegas menyertakan sumbernya. Justru Kawilarang melakukan kesalahan pengutipan “mendengar ayahnya berkhianat Cut Gambang – anak Teuku Umar dengan Cut Nyak Dhien – menangis tersedu.
Menyerahnya Umar tahun 1885 ini perlu diklarifikasi ulang, karena Kawilarang tidak secara tegas menyertakan sumbernya. Justru Kawilarang melakukan kesalahan pengutipan “mendengar ayahnya berkhianat Cut Gambang – anak Teuku Umar dengan Cut Nyak Dhien – menangis tersedu.
Sang Ibu (Cut Nyak Dhien) langsung menghardik : Seorang perempuan Aceh
tidak pernah menangis kepada siapapun yang syahid” (Kawilarang, 2008 :
129). Setahu saya hardikan Cut Nyak Dhien ini dilakukan saat Teuku Umar
tewas tahun 1899, bukan pengkhianatan 1885.
Hal yang paling mungkin adalah bahwa sejak peristiwa pasukan komando S.S
Nisero, Teuku Umar menerapkan strategi “dua muka” untuk meraih
keuntungan pribadi. Ini masuk akal karena Umar mempunyai naluri bisnis
yang kuat, “di beberapa daerah daerah ia (Teuku Umar) mempersatukan
ekspor lada yang menguntungkan itu dalam satu tangan, yakni tangannya
sendiri; di daerah lain ia memungut hasil sebesar $0,25 per pikul, di
atas kertas atas nama Sultan. Kekayaan ini dengan murah hati ia
bagi-bagikan kepada para pengikutnya, dan juga kepada istana dan kaum
ulama di Keumala” (Reid, 2005 : 282).
Reid juga menjelaskan bahwa kapal Hok Kanton membuang sauh di Rigas pada 14 Juni 1886 “untuk berdagang seperti biasa dengan Teuku Umar”.
Reid juga menjelaskan bahwa kapal Hok Kanton membuang sauh di Rigas pada 14 Juni 1886 “untuk berdagang seperti biasa dengan Teuku Umar”.
***
SEJAK 1891 perang Aceh memasuki babak baru, ditandai dengan peran
Snouck Hoergronye, yang terkenal dengan rekomendasinya: agar dilakukan
pengejaran tidak kenal ampun terhadap pejuang Aceh. Untuk itulah pasukan
khusus marsose dibentuk. Hasilnya jelas, pejuang Aceh mengalami tekanan
hebat.
Snouck dengan jeli juga menyimpulkan bahwa kekuatan utama perang Aceh
ada pada ulama, bukan Sultan, bukan pula kaum ulee balang. Belanda
mencoba mengadu domba antara golongan ulama dan ulee balang.
Hasilnya segera nampak, Aceh pecah. Harry Kawilarang, dengan merangkum
berbagai sumber menjelaskan : “Pada tahun 1891, Aceh berduka karena
Teungku Chik Di Tiro wafat (diracun oleh anak buah sendiri-Pen)…Serangan
gerilya oleh pasukan aceh berkurang.
Aceh mengalami krisis kepemimpinan. Habib Samalanga yang memperoleh
wewenang dari Sultan gagal menggalang kekuatan. Begitu juga usaha Chik
Kutakarang atau Mat Amin, putra Teungku Chik Ditiro. Semua dikalahkan
oleh pemimpin-pemimpin setempat yang kecil-kecil hingga timbul
perpecahan” (Kawilarang, 2008 : 119).
Siapakah pemimpin-pemimpin setempat yang kecil-kecil itu? Tidak lain ulee balang yang bersedia kompromi dengan Belanda.
Dalam situasi seperti ini Teuku Umar pada akhirnya kembali menyerah pada
Belanda pada September 1893 beserta 13 orang panglima bawahan dan 250
pasukannya. Buku sejarah kita menyebutkan bahwa penyerahan ini hanya
“pura-pura” untuk memperoleh senjata dan mempelajari siasat Belanda.
Setelah melakukan tugas-tugas penumpasan perlawanan Aceh dan melakukan
sumpah setia pada tanggal 1 Januari 1894 Teuku Umar memperoleh gelar
Tuanku Johan Pahlawan, dengan jabatan Panglima Besar Nedherland.
Rumahnya di Lampisang juga diperindah oleh Belanda. Sejak itu pakaian
yang dikenakan adalah pakaian seorang Jenderal dengan beberapa buah
bintang emas didadanya (T.umar mengutip Hazil, 1955:97).
Cut Nyak Dhien sangat marah terhadap Teuku Umar sebab ia tidak setuju
dengan sikap suaminya yang nampak hanya mementingkan diri sendiri, yang
hanya mengejar kemewahan dan kedudukan dengan mengorbankan kepentingan
bangsa.
Paul van T. Veer dalam buku Perang Aceh penerbit Grafitti Press, menceritakan bahwa Umar mampu berkomunikasi dan menyerap informasi dalam bahasa Belanda dan Inggris, hidup dengan gaya seorang Baron Eropa. Lebih jauh Paul van T.Veer juga mengatakan bahwa Umar pernah bercita-cita menjadi Sultan Aceh, ketika ia mendapatkan kepercayaan penuh dari Belanda.
Paul van T. Veer dalam buku Perang Aceh penerbit Grafitti Press, menceritakan bahwa Umar mampu berkomunikasi dan menyerap informasi dalam bahasa Belanda dan Inggris, hidup dengan gaya seorang Baron Eropa. Lebih jauh Paul van T.Veer juga mengatakan bahwa Umar pernah bercita-cita menjadi Sultan Aceh, ketika ia mendapatkan kepercayaan penuh dari Belanda.
Hal ini membuktikan bahwa Umar punya ambisi politik. Melihat situasi
saat itu, hanya Belandalah yang mampu mewujudkan ambisi tersebut. Hal
ini penting untuk diketahui, untuk menelaah lebih lanjut motif Umar
sebenarnya.
Benarkah Teuku Umar hanya “pura-pura” menyerah? Atau sebenarnya itu
adalah cerminan jiwa oportunis? Atau ingin menjadi Sultan Aceh dengan
bantuan Belanda? Tidak ada kepastian, yang jelas sumber sejarah resmi
kita dari SD sampai perguruan tinggi meyakini bahwa Umar hanya
“pura-pura” menyerah untuk memperoleh senjata dan mempelajari siasat
Belanda.
Tetapi segera timbul pertanyaan? Apakah Belanda sebodoh itu dengan bisa
ditipu Teuku Umar berkali-kali? Atau mengapa Cut Nyak Dhien sendiri
begitu kecewa dengan menyerahnya Teuku Umar?
Sumber lokal (Anonim, 1995 : 74), “mencurigai” motif Teuku Umar, dikatakan “sebenarnya Teuku Umar adalah seorang tokoh yang sulit dimengerti baik oleh lawan maupun oleh kawannya. Dalam perjuangannya ia mempunyai cara tersendiri yang sering kali sulit dipahami. Oleh karena itu, ia dianggap oleh teman-teman seperjuangannya sebagai tokoh yang kontroversial.”
Sumber lokal (Anonim, 1995 : 74), “mencurigai” motif Teuku Umar, dikatakan “sebenarnya Teuku Umar adalah seorang tokoh yang sulit dimengerti baik oleh lawan maupun oleh kawannya. Dalam perjuangannya ia mempunyai cara tersendiri yang sering kali sulit dipahami. Oleh karena itu, ia dianggap oleh teman-teman seperjuangannya sebagai tokoh yang kontroversial.”
Setelah memperoleh jabatan Jenderal, Umar diberi senjata dan uang untuk
membersihkan musuh-musuh Belanda di bagian wilayah XXV Mukim dan XXVI
Mukim. Umar sukses, sebagian memang bukan karena kemampuan bertempur
tetapi lebih karena kemampuan diplomasi.
Umar membentuk persekutuan dengan Teungku Kutakarang, guru agama
terkemuka XXV Mukim. Umar dan Kutakarang sangat menentang
kelompok-kelompok gerilya pimpinan putra-putra Tengku Chik Ditiro yang
berusaha menegakkan hak sabil (Pajak perang) di XXV Mukim, yang
merugikan Teungku Kutakarang. Teungku inilah yang menyebarkan fatwa
bahwa melawan Teuku Umar tidak dapat dianggap sebagai perang suci.
![]() |
| Gelang T. Umar, Koleksi Tropen Museum, Belanda |
Melihat prestasi tersebut Deijkerhoff — Gubernur Sipil dan Militer Aceh periode 1892-1896—memberikan kepercayaan yang lebih besar kepada Umar.
Hal tersebut memicu rasa iri dari tokoh Aceh yang terlebih dahulu
menyerah, seperti Panglima Muhammad Tibang dan Teuku Nek Meuraxa. Namun
ada perkembangan situasi di lapangan, pada November 1895 Teungku
Kutakarang meninggal dunia, ini adalah pukulan berat bagi Teuku Umar,
karena sejak itu para ulama di XXV Mukim mulai berani memprotes
cara-cara Umar.
Pada suatu hari Umar mengajukan proposal untuk menaklukkan benteng Lam
Krak, benteng yang dipertahankan oleh pejuang perempuan Aceh. Proposal
disetujui, dan Teuku Umar beserta pasukannya mendapatkan perlengkapan
berupa 880 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg peledak dan uang
tunai 18.000 dollar.
Tetapi rupanya pihak Aceh telah menyebarkan perang urat syaraf berupa
ramalan, bahwa Umar akan tewas saat penyerbuan ke benteng perempuan.
Saya bisa memahami jika Umar terkejut bukan main, terkait dengan
hubungan proposal dan ramalan itu.
Dari mana orang aceh tahu tentang proposal Lam Krak itu? Umar yang
seorang muslim dan kuyup tradisi Aceh tentu percaya akan ramalan
tersebut, apalagi konon ramalan tersebut datang dari ulama besar.
Umar tentu berpikir keras dan menyimpulkan, amatlah celaka jika ia
sebagai muslim mati saat membela Belanda (kafir). Keislaman Umarpun
bangkit, apalagi protes dari Cut Nyak Dhien semakin tak tertahankan.
Akhirnya Teuku Umar membangkang dari Belanda dan berbalik ke kaum
muslimin Aceh pada tanggal 30 Maret 1896. Aceh bersorak, Belanda
meradang. Sejak itu prestasi tempur Teuku Umar sungguh mengagumkan.
Anthony Reid sendiri mencatat bahwa sejak itu perlawanan Aceh berada
dalam satu komando, yakni Teuku Umar.
Penulis mendapati kisah tentang ramalan ini berdasarkan TRADISI LISAN
yang dimuat dalam komik Aceh. Penulis tambah yakin tentang cerita komik
itu saat Anthony Reid sendiri juga memberikan catatan tentang
keberadaan ramalan tersebut dan protes Cut Nyak Dhien (Reid, 2005 : 297
catatan kaki no.64).
Motif inilah yang tidak diungkap dalam sejarah kita. Padahal hal ini penting untuk mengungkap karakter pahlawan kita ini.
Pada titik ini penulis menyimpulkan bahwa Teuku Umar sebelum membangkang
dari Belanda telah mengalami proses psikologis yang berliku, dimulai
dari meninggalnya Teungku Kutakarang (guru sekaligus pelindungnya),
kritikan dari istrinya (Cut Nyak Dhien) yang bertubi-tubi, dan ketakutan
akan kebenaran ramalan yang bermuara pada bangkitnya rasa keislaman.
Apapun motif dan ambisi Teuku Umar, Penulis tetap menghargai perannya.
Disaat tokoh lain di seluruh Nusantara selalu dikibuli Belanda, Umarlah
satu-satunya yang mampu menipu Belanda, bukan sekali, tetapi beberapa
kali. Disinilah letak kehebatan pahlawan kita yang satu ini, selebihnya wallahualam...
***
Diplomat Aceh, Habib Abdur Rahman Az-Zahir, setelah gagal meyakinkan
Turki Utsmaniah akhirnya kembali ke Aceh dan memimpin perlawanan, namun
gagal, putus asa dan menyerah pada Belanda tanggal 13 Oktober 1878,
sebagai imbalannya Belanda mengangkutnya ke Jeddah dan memberinya uang
pensiun sebesar $1.000 per bulan.
Pemimpin Teunom, Teuku Imam akhirnya memperoleh uang tebusan $10.000
dalam kasus S.S Nissero, dan sejak itu menjadi kaki tangan setia
Belanda.
Sejak pembangkangannya tanggal 30 Maret 1896, Belanda memutuskan Teuku
Umar tidak bisa dipercaya lagi. Perang sengit terjadi sampai akhirnya
Umar terbunuh oleh penyergapan pasukan marsose pada 11 Februari 1899.
Snouck Horgronye akhirnya menjadi ‘muslim’, setidaknya ia pernah dua
kali menikah secara islam dengan mojang Sunda. Dr. P.S. Koningsvled
(wawancara Kompas 6 Februari 1983, saya mengutipnya dari Seri Buku
Tempo, 2011) menuturkan bahwa keluarga Kalifah Apo –mertua Snouck– yakin
benar dengan keislaman Snouck lahir batin.
Koningsvled juga sempat bertemu dengan Raden Yusuf – anak Snouck dari
perkawinan dengan Siti Saidah – yang menuturkan bahwa ibunya yakin
dengan mutlak bahwa Snouck telah menjadi muslim ‘sejati’. Snouck disebut
rajin sembahyang, puasa dan juga telah disunat.
Apakah juga sebuah kebetulan, jika jumlah senjata Gerakan Aceh Merdeka
(GAM) yang diserahkan kepada AMM untuk mengakhiri konflik dengan
Indonesia ternyata sama dengan jumlah senjata Teuku Umar saat membelot
dari Belanda, yakni 880 pucuk?
Sekali lagi, Wallahu’alam...
Sekali lagi, Wallahu’alam...
‘THE ACEH CODE’ DAN 21 WASIAT PARA SULTAN ACEH
POSTED On : 15 -May - 2011
― EDITOR By : Atjehcyber Team

Penulis: Oleh Tan Sri Sanusi Junid (*
![]() |
Isi buku tersebut ialah sebuah kunci untuk rakyat yg di simpan oleh
Raja-Raja aceh terdahulu untuk generasi Aceh di masa yang akan datang,
isi dalam buku tersebut hanyalah seuntaian wasiat sekaligus nasehat yg
dipersembahkan kepada anak cucu generasi Aceh selanjutnya.
Inilah pesan Wasiat Raja Aceh di masa silam untuk rakyat aceh dan
generasi saat ini, sedangkan dalam manuskrip tersebut masih sangat
banyak nasehat-nasehat lain dan hikayat Aceh dimasa silam.
Sebagai mana seorang ulama yg disebutkan dalam buku tsb, telah menulis sebuah hikayat yg intinya dalam hikayat tsb ulama itu memprediksi akan kondisi aceh di masa akan datang akhir dari hikayat ulama tsb mengatakan yang intinya:
Sebagai mana seorang ulama yg disebutkan dalam buku tsb, telah menulis sebuah hikayat yg intinya dalam hikayat tsb ulama itu memprediksi akan kondisi aceh di masa akan datang akhir dari hikayat ulama tsb mengatakan yang intinya:
“Aceh akan kembali maju pada suatu masa, Pada saat itu jika lamiet
akan kembali kepada lamiet dan yang hak akan kembali kepada mereka
yang berhak menerimanya”
Apa yang dilakukan oleh Rakyat Aceh dahulu dalam keseharian mereka
sehingga Aceh punya hari yang indah nan gemilang. Satu hal yang perlu
dicermati bersama adalah pada saat Kerajaan Aceh Bandar Darussalam
berdiri, Sultan Ali Mughayat Syah mengistiharkan “The Aceh Code” atau "Dasar Kerajaan Aceh".
"The Aceh Code" ini merupakan 21 kewajiban yang harus dilakukan oleh seluruh rakyat Rakyat Aceh pada saat itu. Seperti inilah transliterasi manuskrip dari Kerajaan Islam Aceh Bandar Darussalam yang bertajuk :
"The Aceh Code" ini merupakan 21 kewajiban yang harus dilakukan oleh seluruh rakyat Rakyat Aceh pada saat itu. Seperti inilah transliterasi manuskrip dari Kerajaan Islam Aceh Bandar Darussalam yang bertajuk :
KEWAJIBAN RAKYAT KERAJAAN ISLAM ACEH BANDAR DARUSSALAM
INILAH DASAR KERAJAAN ACEH BANDAR DARUSSALAM
Bismillahirrahmanirrahim, Amma Ba'du...
Mulai terdiri Kerajaan Aceh Bandar Darussalam iaitu pada tahun 913 Hijriah pada tanggal 12 Rabi'ul Awwal Hari Ahad bersamaan 23 Julai, 1507. Atas nama yang berbangsawan bangsa Aceh iaitu Paduka Seri Sultan Alauddin Johan Ali Ibrahim Mughayat Syah Johan Berdaulat...;
Maka pohon kerajaan mulai tersusun oleh yang berbangsawan tersebut hingga sampai pada kerajaan puteranya yang kuat iaitu Paduka Seri Sultan Alauddin Mahmud Al-Qahhar Ali Riayat Syah...;
Kemudian hingga sampai pada masa kerajaan cicitnya iaitu Raja yang lang-gemilang gagah perkasa yang masyhur al-mulaqaab Paduka Seri Sultan Al-Mukarram Sultan Alauddin Mahkota Alam Iskandar Muda Perkasa Alam Syah Johan Berdaulat Zilullah Fil Alam...;
Iatiu telah ijmak keputusan sabda muafakat Kerajaan Aceh Bandar Darussalam beserta alim ulamak dan hulubalang dan menteri-menteri...;
Iaitu telah ditetapkan dia dan telah difaftarkan dan iaitu dengan sahih sah dan muktamad dengan memberitahu dan diperintahkan dia dengan mengikut dan menurut menjalankan dan melaksanakan oleh seluruh pegawai-pegawai Kerajaan Aceh Bandar Darussalam dan jajahan takluknya iaitu diwajib difayahkan di atas seluruh rakyat Aceh Bandar Darussalam dan jajahan takluknya...;
Bahawasanya kita semuanya satu negeri bernama Aceh dan berbangsa Aceh dan berbahasa Aceh dan kerajaan Aceh dan alam Aceh...;
Yakni satu negeri satu bangsa dan satu kerajaan dan satu alam dan satu agama yakni Islam dengan mengikut syariah Nabi Muhammad SAW...;
Atas jalan ahlu-Sunnah wal Jamaah dengan mengambil hukum daripada Qur'an dan Hadis dan qias dan ijmak ulamak ahlu-sunnah wal jamaah...;
Dengan hukum dengan adat dengan resam dengan kanun iaitu syarak Allah dan syarak Rasullulllah dan syarak kami...;
Bernaung di bawah Alam Merah Cap Peudeung lukisan warna putih yang berlindung di bawah panji-panji Syariat Nabi Muhammad SAW...;
Dari dunia sampai ke akhirat dalam dunia sepanjang masa :
Pertama, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh yang lelaki lagi mukaallaf dan bukan gila iaitu hendaklah membawa senjata ke mana-mana pergi berjalan siang-malam iaitu pedang atau sikin panjang atau sekurang-kurangnya rincong tiap-tiap yang bernama senjata.
Kedua, tiap-tiap rakyat mendirikan rumah atau masjid atau baleeh-baleeh atau meunasah maka pada tiap-tiap tihang di atas puting di bawah bara hendaklah di pakai kain merah dan putih sedikit yakni kain putih.
Ketiga, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh iaitu bertani utama lada dan barang sebagainya.
Keempat, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh mengajar dan berlajar pandai emas dan pandai besi dan pandai tembaga beserta ukiran bunga-bungaan.
Kelima, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh yang perempuan iaitu mengajar dan belajar membikin tepun (tenun) bikin kain sutera dan kain benang dan menjaid dan menyulam dan melukis bunga-bunga pada kain pakaian dan barang sebagainya.
Keenam, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh belajar dan mengajar jual-beli dalam negeri dan luar negeri dengan bangsa asing.
Ketujuh, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh belajar dan mengajar ilmu kebal.
Kedelapan, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh yang laki-laki mulai taklif syarak umur lima belas tahun belajar dan mengajar main senjata dengan pendekar silek dan barang sebagainya.
Kesembilan, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh dengan wajib ain belajar dan megajar ilmu agama Islam syariah Nabi Muhammad SAW atas almariq ( berpakaian ) mazhab ahlu-sunnah wal jamaah r. ah ajmain.
Kesepuluh, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh menjauhkan diri daripada belajar dan mengajar ilmu kaum tujuh puluh dua yang di luar ahli sunnah wal jamaah r. ah ajmain.
Kesebelas, sekalian hukum syarak yang dalam negeri Aceh diwajibkan memegang atas jalan Mazhab Imam Syafi'i r.a. di dalam sekalian hal ehwal hukum syarak syariat Nabi Muhammad SAW. Maka mazhab yang tiga itu apabila mudarat maka dibolehkan dengan cukup syartan ( syarat ). Maka dalam negeri Aceh yang sahih-sah muktamad memegang kepada Mazhab Syafi'i yang jadid.
Keduabelas, sekalian zakat dan fitrah di dalam negeri Aceh tidak boleh pindah dan tidak diambil untuk buat bikin masjid-masjid dan balee-balee dan meunasah-meunasah maka zakat dan fitrah itu hendaklah dibahagi lapan bahagian ada yang mustahak menerimanya masing-masing daerah pada tiap-tiap kampung maka janganlah sekali-kali tuan-tuan zalim merampas zakat dan fitrah hak milik yang mustahak dibahagi lapan.
Ketigabelas, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh membantu kerajaan berupa apa pun apabila fardhu sampai waktu datang meminta bantu.
Keempatbelas, diwajibkan diatas sekalian rakyat Aceh belajar dan mengajar mengukir kayu-kayu dengan tulisan dan bunga-bungaan dan mencetak batu-batu dengan berapa banyak pasir dan tanah liat dan kapur dan air kulit dan tanah bata yang ditumbok serta batu-batu karang dihancur semuanya dan tanah diayak itulah adanya.
Kelimabelas, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh belajar dan mengajar Indang Mas di mana-mana tempatnya dalam negeri.
Keenambelas, diwajibkan di atass sekalian rakyat Aceh memelihara ternakan seperti kerbau dan sapi dan kambing dan itik dan ayam tiap-tiap yang halal dalam syarak agama Islam yang ada memberi manfaaf pada umat manusia diambil ubat.
Ketujuhbelas, diwajibkan ke atas sekalian rakyat Aceh mengerjakan khanduri Maulud akan Nabi SAW, tiga bulan sepuluh hari waktunya supaya dapat menyambung silaturrahmi kampung dengan kampung datang mendatangi kunjung mengunjung ganti-berganti makan khanduri maulut.
Kedelapanbelas, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh bahawa hendaklah pada tiap-tiap tahun mengadakan Khaduri Laut iaitu di bawah perintah Amirul Bah yakni Panglima Laot.
Kesembilanbelas, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh mengerjakan Khanduri Blang pada tiap-tiap kampung dan mukim masing-masing di bawah perintah Penglima Meugoe dengan Kejrun Blang pada tiap-tiap tempat mereka itu.
Keduapuluh, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh bahawa tiap-tiap pakaian kain sutera atau benang atau payung dan barang sebagainya yang berupa warna kuning atau warna hijau tidak boleh memakainya kecuali yang boleh memakainya iaitu Kaum Bani Hasyim dan Bani Muthalib yakni sekalian syarif-syarif dan sayed-sayed yang turun menurun silsilahnya daripada Saidina Hasan dan Saidina Husin keduanya anak Saidatina Fatima Zahra Nisa' Al-Alamin alaihassalam binti Saidina Rasulullah Nabi Muhammad SAW; dan warna kuning dan warna hijau yang tersebut yang dibolehkan memakainya iaitu sekalian kaum keluarga ahli waris Kerajaan Aceh Sultan yang raja-raja dan kepada yang telah diberi izin oleh kerajaan dibolehkan memakainya; kepada siapapun.
Keduapuluhsatu, diwajibkan di atas sekalian rakyat Aceh bahawa jangan sekali-kali memakai perkataan yang hak kerajaan: Pertama titah kedua sabda ketiga Karunia keempat Nugerahi kelima Murka keenam Daulat ketujuh Seri Pada ( Paduka ) kedelapan Harap Mulia kesembilan Paduka Seri kesepuluh Singgahsana kesebelas Takhta keduabelas Duli Hadrat ketigabelas Syah Alam keempatbelas Seri Baginda kelimabesar Permaisuri keenambelas Ta.
Maka demikianlah sabda muafakat yang sahih-sah muktamad daripada Kerajaan Aceh Bandar Darussalam adanya.
Maka hendaklah menyampaikan sabda muafakat keputusan kerajaan kami oleh Hulubalang Menteri kami kepada sekalian rakyat kami ke seluruh Aceh iaitu daerah-daerah dan mukim-mukim dan kampung-kampung dan dusun-dusun timur dan barat tunong dan baruh kepada sekalian imam-imam dan kejrun-kejrun dan datuk-datuk dan kechik-kechik dan wakil-wakil dan sekalian orang yang tuha-tuha dan muda-muda dan sekalian orang yang ada jabatan masing-masing besar dan kecil menurut kadarnya dan ilmunya;
Iaitu mudah-mudahan insya Allah ta'ala dapat selamat bahagia sekalian umat manusia dalam negeri Aceh Bandar Darussalam khasnya dan Aceh jajahan takluk amnya iaitu siapa menjadi manusia yang baik dan berkelakuan yang baik serta tertib sopan majlis dan hormat mulia yang sempurna dengan berkat syafaat Nabi SAW supaya terpeliharalah bangsa kami Aceh dan negeri kami Aceh daripada mara dan bahaya dengan selamat sejahtera bahagia sepanjang masa dan jauh daripada lembah kehinaan dan kesusahan sepanjang hidup;
Supaya terpeliharalah negeri kami Aceh dan alam kami Aceh dan bangsa kami Aceh dengan usaha yang banyak supaya dapat mesra kesenangan bersama-sama iaitu antara rakyat dengan kerajaan dengan bersatu seperti nyawa dengan jasaad serta dengan taqwa dan tawakkal kepada Allah ta'alaa dengan menahan sabar daripada kepayahan maka tentu akhirnya insya Allah ta'ala dapat jadi kebajikan bersama-sama dengan saudara-saudara-saudara Islam yang dalam negeri Aceh dengan berkasih-kasihan dengan mengikut Syarak Allah dan Syarak Rasul dan Syarak Kerajaan.
Sanah 1272 Hijriah ( 1855 Masehi )
Makna dan Falsafah
1. AMANAH (Amanah direpresentasikan dalam pasal 17, 18 dan 19.)
2. BERANI (Berani terangkum dalam pasal 1, 7 dan 8)
3. DISIPLIN (Disiplin terkandung dalam pasal 2, 9, 10, 11, 12 dan 13.)
4. RAJIN ( Rajin ditemukan dalam pasal 3, 4, 5, 6, 14, 15 dan 16. )
5. SETIA (Setia pula dapat kita lihat pada pasal 20 dan 21.)
Dari kelima pesan inilah terlukiskan seberapa sayangnya raja-raja dan
ulama-ulama atjeh di masa silam dalam menjaga Hak tanah yg suci yg sudah
lama mereka perjuangkan dan sebagai rasa cintanya kepada generasi
selanjutnya mereka mempersembahkan untaian nasehat yg sangat bermanfaat
dan yang tak ternilai harganya.
Maka sesudah habis mendengar khabar maka ulamak telah bertanya apakah
padahnya jika wasiat itu diabaikan. Maka menangislah Seri Baginda Sultan
sebab kerana sayangnya kepada umat manusia pada masa akan datang serta
Seri Baginda dalam tangisannya mengucap sabda dengan kata syair yang
amat dalam maksudnya lagi nasihat yang sangat baik tujuannya dan amat
luas maknanya, iaitu inilah bunyinya syair nazamnya:
Bismillahirrahmanirrahim.....
Jituka alim dengan jahil; Jituka adee dengan inaya
Jituka murah dengan bakhil; Cita akan zahir bak raja-raja
Jituka taat dengan maksiat; Jiboh aniek mit keu ureung tuha
Jituka yang la jimita yang mit; Tamsee aneuk mit yang tuha-tuha
Jituka iman jitung murtad; Asai na pangkaat megah ngon kaya
Jituka yang trang jitung yang seupot; Jitem meureubot tuwo keu desya
Jituka makmu jitem tung deuk troe; Ureng yang bako tekala wala
Jituka senang jitem tung susah; Peuget fitnah meuseunoh kada
Jituka megah jitung hinaan; Inong ngon agam male jih hana
Jituka luwah jitem tung picek; Tanda mubaligh keurajeun raja
Jituka qanaah jitem lubha; Alamat tanda akai tan lisik
Jituka sihat jitung peunyaket; Jitem meusaket dengan hareuta
Jituka aman jitem tung kacho; Nibak bala pebala dengan saudara
Ouh akhee nanggroe lee that ban macam; Saboh yang asai saboh yang hana
Dalam syuruga hideh yang asai; Penolong Tuhan keu mukmin dumna
Yang dalam donya sinoe tan asai; Meunajih badan meu ubah rupa
Sejarah telah membuktikan tatkala Aceh Code diimplementasikan secara terus menerus, ia membawa kegemilangan bagi Aceh. Manakala Aceh Code diabaikan, sedikit demi sedikit Aceh mengalami kemunduran sampai pada titik nadir.
Melihat situasi di Aceh sekarang, saya merasa sudah waktunya Aceh Code sebagai warisan endatu kita yang sangat berharga untuk kembali disosialisasikan dan diaplikasikan –tentunya setelah dimodifikasi dan disesuaikan dengan kondisi terkini- dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat Aceh.
Bila hal ini dilakukan, Insya Allah kegemilangan yang telah dicapai Aceh dalam bidang politik, ekonomi, agama dan budaya di masa lampau akan kembali terulang.
Melihat situasi di Aceh sekarang, saya merasa sudah waktunya Aceh Code sebagai warisan endatu kita yang sangat berharga untuk kembali disosialisasikan dan diaplikasikan –tentunya setelah dimodifikasi dan disesuaikan dengan kondisi terkini- dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat Aceh.
Bila hal ini dilakukan, Insya Allah kegemilangan yang telah dicapai Aceh dalam bidang politik, ekonomi, agama dan budaya di masa lampau akan kembali terulang.
Ini Bukti Yahudi Pernah Perangi Aceh
POSTED On : 24 -Jan - 2013
― EDITOR By : Atjehcyber Team

TAK banyak orang tahu jika Museum Prasasti Kebon Jahe, Tanah
Abang, Jakarta Pusat yang dulunya dibangun pemerintah Batavia pada 28
September 1795, merupakan salah satu taman pemakaman umum modern tertua
di dunia. Lebih tua dari Fort Canning Park (1926) di Singapura, Gore
Hill Cemetery (1868) di Sidney, La Chaise Cemetery (1803) di Paris,
Mount Auburn Cemetery (1831) di Cambridge-Massachusstes yang mengklaim
sebagai taman makam modern pertama di dunia, atau Arlington National
Cemetery (1864) di Washington DC.
Tepatnya di Kerkhof Laan atau Tempat Pemakaman Umum Kebon Jahe Kober. Sekarang resmi dinamakan Museum Taman Prasasti. Letaknya persis diapit Kantor Walikota Jakarta Pusat di sebelah selatan dan Gelanggang Remaja Jakarta Pusat di sebelah utaranya. Berbeda dengan museum lainnya, Museum Taman Prasasti ini menyajikan The Dark Tourism, Wisata Kematian.
Kedengarannya menakutkan, namun hal ini diyakini malah akan menyedot banyak pengunjung seperti halnya wisata kuburan di New Orleans, AS, yang karena kepiawaiannya menjual wisata taman makam kota akhirnya mendapat julukan “The City of The Dead”.
Tepatnya di Kerkhof Laan atau Tempat Pemakaman Umum Kebon Jahe Kober. Sekarang resmi dinamakan Museum Taman Prasasti. Letaknya persis diapit Kantor Walikota Jakarta Pusat di sebelah selatan dan Gelanggang Remaja Jakarta Pusat di sebelah utaranya. Berbeda dengan museum lainnya, Museum Taman Prasasti ini menyajikan The Dark Tourism, Wisata Kematian.
Kedengarannya menakutkan, namun hal ini diyakini malah akan menyedot banyak pengunjung seperti halnya wisata kuburan di New Orleans, AS, yang karena kepiawaiannya menjual wisata taman makam kota akhirnya mendapat julukan “The City of The Dead”.
Banyak nama beken dikubur di sana. Di antaranya Olivia Marianne Raffles
(1814), isteri Gubernur Jenderal Inggris dan juga pendiri Singapura, Sir
Thomas Stamford Raffles; lalu Dr. H. F. Roll (1935), pendiri Sekolah
Kedokteran Stovia; Dr. J. L. A. Brandes (1905), pakar sejarah purbakala
Hindu Jawa di Indonesia; Soe Hoek Gie, aktivis mahasiswa di tahun
1960-an yang terkenal dengan catatan hariannya.
Dan yang terakhir, Mayor Jenderal J. H. R. Kohler, komandan tentara kolonial Belanda yang ditembak mati oleh sniper Aceh berusia belia di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Konon, sniper Aceh itu juga ditembak sniper Belanda sesaat setelah menewaskan Kohler. Mungkin inilah perang antara sniper pertama yang terjadi dalam sejarah Nusantara.
Dan yang terakhir, Mayor Jenderal J. H. R. Kohler, komandan tentara kolonial Belanda yang ditembak mati oleh sniper Aceh berusia belia di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Konon, sniper Aceh itu juga ditembak sniper Belanda sesaat setelah menewaskan Kohler. Mungkin inilah perang antara sniper pertama yang terjadi dalam sejarah Nusantara.
Perang menundukkan Aceh merupakan perang terlama, lebih dari tiga puluh
lima tahun, dan perang termahal yang harus dilakukan Belanda untuk bisa
menundukkan Serambi Mekkah ini.
Ceritanya, tak sampai tiga pekan setelah mendarat di pantai Aceh pada tanggal 8 April 1873 itu, serdadu Belanda sudah tidak kuat menghadapi gempuran gerilyawan Mujahidin Aceh yang dibantu pasukan leit dari Turki Utsmaniyah dan beberapa negeri Islam sahabat. Para serdadu Belanda kembali lagi naik kapal setelah menghadapi perlawanan paling sengit yang pernah dialami militer Belanda di Timur.
Ceritanya, tak sampai tiga pekan setelah mendarat di pantai Aceh pada tanggal 8 April 1873 itu, serdadu Belanda sudah tidak kuat menghadapi gempuran gerilyawan Mujahidin Aceh yang dibantu pasukan leit dari Turki Utsmaniyah dan beberapa negeri Islam sahabat. Para serdadu Belanda kembali lagi naik kapal setelah menghadapi perlawanan paling sengit yang pernah dialami militer Belanda di Timur.
Jenderal Kohler, panglima Belanda, yang sedang berada di halaman depan
Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, tiba-tiba rubuh bemandikan darah.
Dadanya bolong ditembus peluru sniper Aceh. Hari itu tanggal 14 April
1873. Kohler adalah komandan serdadu Belanda yang memimpin penyerangan
ke Banda Aceh.
Dalam serangan dua hari yang sia-sia itu di dalam kota Banda Aceh,
Belanda menderita kerugian yang luar biasa besar. Setelah Indonesia
merdeka, tempat ambruknya Jenderal Kohler di halaman depan Masjid Raya
Baiturrahman itu dibuat sebuah monumen. Hari ini monumen itu masih tegak
berdiri, selamat dari sapuan tsunami. Salah satu diorama di Museum TNI
Satria Mandala Jakarta juga telah melukiskan peristiwa bersejarah ini.
Mayor Jenderal J. H. R. Kohler dimakamkan di Kerkhof Laan di Batavia.
Kohler seorang Perwira Yahudi
Sampai
sekarang, nisan makam Kohler masih bisa kita saksikan di Museum Taman
Prasasti. Kondisinya cukup baik walau ada beberapa bagian kecil yang
sudah tidak lengkap. Idak terlalu sulit mencarinya. Setelah masuk pintu
gerbang utama museum, kita berjalan ke arah kanan dan akan dengan mudah
menemukan prasasti makam Kohler yang agak tinggi dan besar.
Bagi mata awam mungkin kita akan terkagum-kagum dengan prasasti makam
yang berbentuk kotak dengan tinggi sekitar dua meteran yang dipahat
dengan aneka simbol. Namun bagi mereka yang sedikit banyak mengetahui
makna simbol-simbol yang terdapat di prasasti makam tersebut, maka
simbol-simbol itu bisa berbicara banyak tentang sosok yang dikubur di
dalamnya.
Di atas prasasti Kohler terdapat simbol Hexagram atau Bintang
David di tiap sisinya, di tiap-tiap rusuk prasasti secara vertikal
terdapat obor yang terbalik di mana apinya yang menyala terletak di
bawah, lalu di tiap sisi terdapat simbol-simbol dan tulisan yang
berbeda, di antaranya simbol The Iron Cross atau juga dikenal
sebagai Salib Templar, dan simbol ular melingkar dengan mulut yang
menggigit ujung ekornya, atau dalam dunia simbol disebut sebagai Ouroboros Symbol (A Snake Bitting is Tail) .
Hanya orang Yahudi yang dimakamkan dengan Simbol Bintang David di
prasastinya. Dengan demikian jelas, penyerangan Belanda atas Banda Aceh
dipimpin oleh seorang perwira Yahudi-Belanda. Dan tentang simbol Salib
Templar, hal ini memperkuat jika Kohler bukanlah ‘Yahudi biasa”
melainkan seorang Yahudi yang sedikit banyak bersinggungan dengan
kelompok-kelompok rahasia Luciferian seperti halnya Templar, Freemasonry
(Vrijmetselarij), Rosikrusian, dan sebagainya. Apalagi dengan adanya
simbol Ular, Ouroboros.
Dalam
kamus simbol dunia, Ouroboros yang termasuk ke dalam ‘Satanic Symbols’
ini memiliki arti sebagai keabadian, kesemestaan, yang juga mewakili
kekuatan Lucifer itu sendiri.Dalam dunia modern, sejumlah perusahaan dunia juga menggunakan simbol Ouroboros sebagai logo perusahaannya, semisal Vodafone, Lucient Technologies (Lucifer Teknologi), Order Trust, Philly.com, termasuk kelompok rasis kulit putih Ku Klux Kan (KKK). Simbol ini sesungguhnya berasal dari kelompok persaudaraan ular, Brotherhood of the Snake.
Jika seorang Yahudi Kabbalah juga menggunakan simbol Ouroboros di
makamnya, maka itu kian memperjelas dan membuktikan jika seorang Mayor
Jenderal Kohler bukan seorang Yahudi biasa. Dengan logika sederhana,
kita bisa menarik lebih jauh lagi jika atasan Kohler tentu lebih
istimewa kedudukannya. Dan secara keseluruhan, hal ini membuktikan jika
VOC memang bukan sekadar sebuah maskapai perdagangan biasa, namun
sesungguhnya sebuah ‘perahu besar kelompok Yahudi Luciferian’.
Selain makam Kohler, terdapat banyak lagi makam-makam pejabat Belanda
dan orang terkenal lainnya di Museum Taman Prasasti. Jika ada waktu, ada
baiknya sesekali berlibur ke sana menikmati ratusan simbol yang ada.
[*/ermus]
Bronbeek: Museum ‘Aceh’ yang Tercecer dari Belanda
POSTED On : 06 -Jan - 2014
― EDITOR By : Atjehcyber Team

HASRAT untuk berlibur sambil memburu fakta sejarah ke Belanda
sudah lama terpendam. Jika dari Swedia sangatlah murah dan mudah tanpa
perlu menggunakan visa karena sesama negara anggota Uni Eropa. Ibarat
kata pepatah, "Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui".
Setelah mengikuti acara International Human Rights Training SpeakOut2012
dari UNPO di Belanda, penulis beserta dua orang warga Aceh di Swedia
dengan dipandu seorang warga Aceh di Belanda, mengunjungi sebuah museum
yang menyimpan harta peninggalan Aceh masa berperang dengan Belanda.
Museum Bronbeek namanya, terletak di kota Arnhem, dan hanya 80 menit
perjalanan kereta api dari ibukota Belanda, Amsterdam.
Membaca literatur sejarah dengan melihat langsung fakta sejarah adalah
berbeda. Perbedaan sangat kentara jika menyentuh langsung barang-barang
warisan peninggalan perang Aceh ketika melawan arogansi kolonialisme
Belanda sejak 1873 dan hampir kesemua tersimpan rapi di museum Bronbeek
itu!
Di depan museum terpampang dua patung KNIL (Koninklijk Nederlands
Indisch Leger) atau tentara Belanda di Indonesia. Begitu masuk pintu
utama terlihat sebuah meriam besar memanjang yang diketahui berasal dari
Aceh. Sontak saja, penulis beserta warga Aceh lainnya bergegas
mengeluarkan smartphone untuk memotret, namun seorang petugas penjaga
museum mencegahnya dengan meminta untuk membeli tiket masuk terlebih
dahulu.
"Anda semua berasal dari Aceh?" tebak seorang perempuan satpam yang
berpakaian Diens Kieren (pakaian dinas biru) di loket pintu masuk.
Haris Abdullah, putra Aceh yang lama bermukim di Belanda menjelaskan
dalam bahasa Belanda kepada petugas museum.
![]() |
| Di depan kantor museum Bronbeek, Arnhem, Belanda |
Kini, foto bahkan kamera video pun sudah boleh digunakan, terutama mengabadikan meriam besar milik Aceh yang bertuliskan "The Pepper Piece"
(Lada Secupak) dan aksara besar "Geschenk Van Z.M Koning Willem III"
yang diberikan hadiah oleh Sultan Sulaiman Tukri untuk Aceh. Namun,
pada tahun 1873 dirampas oleh Belanda dan kemudian disimpan di museum
Bronbeek.
Diketahui pula, semenjak Belanda kembali ke negerinya meninggalkan tanah Netherland East Indies (Hindia Belanda), setiap pegunjung yang datang ke Bronbeek sudah tentu pasti melihat meriam milik Aceh itu karena terletak persis dipintu utama masuk museum.
Diketahui pula, semenjak Belanda kembali ke negerinya meninggalkan tanah Netherland East Indies (Hindia Belanda), setiap pegunjung yang datang ke Bronbeek sudah tentu pasti melihat meriam milik Aceh itu karena terletak persis dipintu utama masuk museum.
Bangunan museum bertingkat dua. Sebelah kanan dan kiri tingkat pertama
terlihat puluhan pakaian seragam KNIL beserta bedil bekas yang dibungkus
dengan kaca. Sedangkan di dinding, terpajang ratusan galeri foto yang
dibingkai, gambar wajah campuran tentara bule dan asia, poster
perjuangan masa perang.
Masuk kelebih dalam sebelah kiri, lorong kecil memanjang yang disebelah
kanan berbaris beberapa meriam besar milik Aceh, disamping meriam
tertulis keterangan dalam bahasa Belanda. 15 menit berlalu, tiba-tiba
saja datang seorang bule Belanda berkaca mata dengan berpakaian kantor
seragam biru langit sambil memperenalkan diri sebagai musuem gids
(pemandu museum).
Diduga, penjaga loket telah memberikan keterangan sebelumnya jika ada empat warga Aceh tiba di museum itu dan pemandu museum menawarkan jasanya secara gratis. Kesempatan ini tidak di sia-siakan. Sebagai warga Aceh di Belanda, Harris Abdullah bertanya banyak kepada pemandu tentang isi museum, terutamanya yang berkaitan dengan hubungan Aceh dan Belanda di masa lampau, sambil memberikan contoh kompleks perkuburan militer Belanda Kerkhof ada di Banda Aceh.
Diduga, penjaga loket telah memberikan keterangan sebelumnya jika ada empat warga Aceh tiba di museum itu dan pemandu museum menawarkan jasanya secara gratis. Kesempatan ini tidak di sia-siakan. Sebagai warga Aceh di Belanda, Harris Abdullah bertanya banyak kepada pemandu tentang isi museum, terutamanya yang berkaitan dengan hubungan Aceh dan Belanda di masa lampau, sambil memberikan contoh kompleks perkuburan militer Belanda Kerkhof ada di Banda Aceh.
Meriam Aceh
![]() |
| Meriam The "Pepper Piece" Didepan Pintu masuk Museum Bronbeek |
Harris memancing percakapan dengan berumpama misalnya adakah cara untuk mengambil kembali pulang semua meriam.
"Bagaimana jika seandainya orang Aceh di Aceh meminta untuk
memulangkan semua meriam ini, tambah Harris, minimal hanya enam bulan
saja untuk memperlihatkan bukti sejarah kepada generasi baru".
Pria berseragam museum itu terlihat terdiam sejenak. Agar tampak makin
serius, Harris malah menambahkan sambil memberikan tamsil.
Pria bule yang berpakain dinas itu malah terkejut. Seperti ingin
mengalihkan jawaban, menurutnya sangat sulit karena perlu ada perjanjian
terlebih dahulu antara dua pemerintah.
"Jika memungkinkan, maka kami akan membongkar semua jendela kaca besar dibelakang museum karena dulu saat dimasukan belum ada jendela memanjang," terang pemandu museum.
"Jika memungkinkan, maka kami akan membongkar semua jendela kaca besar dibelakang museum karena dulu saat dimasukan belum ada jendela memanjang," terang pemandu museum.
Benar juga, lorong kecil tidak memungkinkan untuk mengangkat meriam.
Meriam tersebut sangat berat, lebih praktis jika menggunakan kapal laut
untuk dibawa pulang, sama seperti ketika dibawa dahulu. Dari penuturan
pemandu museum tersebut, total semua meriam ada sepuluh buah, yang kecil
2.600 Kg dan yang besar 7.000 kg.

Walaupun demikian, banyak orang Aceh luar negeri yang pesimis
realisasinya, apalagi sangat sulit memegang janji Belanda. Contohnya,
perjanjian maklumat perang dengan Aceh saja dulu Belanda ingkar karena
mengembalikan kedaulatan bangsa Aceh kepada bangsa lain.
Museum Tingkat Dua
Naik ke tingkat dua museum, dari anak tangga sudah terdengar rekaman
suara pidato Soekarno dari sebuah tape recorder yang diulang-ulang. Ada
foto yang hitam putih bergambar tulisan spanduk masa zaman Soekarno
berpidato ”Amerika Kita Setrika – Inggris Kita Linggis”.
Disebelahnya, layar tancap mini memperlihatkan kapal laut tentara Belanda berlabuh, dentuman meriam mengiringinya seakan mengajak pengunjung larut dalam masa lampau, layaknya fragmen sandiwara, persis seperti sebuah film dokumenter.
Disebelahnya, layar tancap mini memperlihatkan kapal laut tentara Belanda berlabuh, dentuman meriam mengiringinya seakan mengajak pengunjung larut dalam masa lampau, layaknya fragmen sandiwara, persis seperti sebuah film dokumenter.
Kembali tanpa di undang, seorang pria bule berbahasa Melayu menghampiri
kami sambil bersalaman hangat sambil menawarkan sebagai pemandu.
"Apa kabar, saya tahu kalian dari Aceh, pasti ingin melihat dokumen
peninggalan sejarah Aceh kan?" ujar bule rambut putih tersebut yang
bercampur dengan logat Belanda.
Dari percakapan basa basinya, dia mengetahui kami dari penjaga museum di
lantai bawah. Orang tuanya sebagai tentara KNIL yang ditugaskan di
Sumatera sehingga dia sendiri kelahiran Minang. Meskipun pertama sekali
berjumpa orangnya sangat ramah.
"Mari ikut saya sekarang, tapi terlebih dahulu jangan marah ya.....jangan marah ya" ujarnya berkali-kali mengingatkan.
Ternyata, ada sebuah kamar yang khusus memperlihatkan foto dan barang
perang Aceh yang dirampas oleh Belanda seperti rencong, pedang, senapan
kuno, balai mini, pakaian adat lengkap, buku hikayat prang sabi, foto
hitam putih suasana perang, foto sadis gelimpangan ribuan mayat hasil
pembantaian di Kuta Reh, hingga sebuah sampul buku karikatur Van Daalen
sedang menunggang kuda putih berlatar belakang barisan tengkorak.
Van Daalen saat itu menjabat gubernur militer yang memerintahkan untuk membantai ribuan orang di Kuta Reh pada 14 Juni 1904.
Van Daalen saat itu menjabat gubernur militer yang memerintahkan untuk membantai ribuan orang di Kuta Reh pada 14 Juni 1904.
![]() |
| Patung panglima Belanda untuk Aceh tahun 1876, Jendral Van Der Heijden |
Di atas lemari kaca yang transparan terdapat beberapa patung jenderal
militer yang pernah bertugas di Aceh. Uniknya, patung tersebut hanya
kepala hingga kebahu saja yang tampak, namun didadanya penuh dengan
bintang jasa.
Dalam perjumpaan dengan pemandu sukarela itu, katanya Hasan Tiro acap kali ke museum ini dulu untuk mencari dokumen perang Aceh - Belanda sebagai referensi tulisannya, bahkan dia ikut membantu menjadi pemandu museum gratis.
Dalam perjumpaan dengan pemandu sukarela itu, katanya Hasan Tiro acap kali ke museum ini dulu untuk mencari dokumen perang Aceh - Belanda sebagai referensi tulisannya, bahkan dia ikut membantu menjadi pemandu museum gratis.
Saya yakin, siapa pun yang berkunjung ke museum Bronbeek itu akan
menambah rasa cinta nasionalisme keacehannya karena fakta sejarah hitam
diatas putih ada di depan mata. Begitu juga seperti fakta lainnya yang
tiada terbantahkan;
”Orang Aceh dulu tidak ke Belanda untuk berperang, tetapi Belanda-lah
yang datang untuk mengobarkan perang, bahkan hingga saat ini maklumat
perang tersebut tidak pernah dicabutnya”.
Di tulis oleh Asnawi Ali, warga Aceh di Swedia
Saturday, January 11, 2014
Gubernur Jabar Respon Kerja Sama Dengan Perwakilan Gayo di Amerika
Ketua Perwakilan Gayo di Amerika Najib banta
Cut (kiri) bersama Gubernur Jabar Ahmad Heriawan. (Foto Tim Delegasi
perwakilan Gayo di Amerika)
Ahmad Heriawan menawarkan kepada perwakilan gayo Amerika agar bisa turut mempromosikan produk-produk dari Jawa Barat.
“ Saya menilai, langkah ini adalah langkah positif untuk mempromosikan produk dari dari Takengon Aceh Tengah, seperti kopi Arabika gayo yang sudah dikenal memiliki citra rasa, selain kopi, tentu masih banyak yang harus dipromosikan di Amerika” Ungkap orang nomor satu di Jabar ini.
Semantara ketua Perwakilan gayo Amerika Najib Banta Cut yang dihubungi melalui telephon selulernya mengatakan, saat ini, tim sedang mempersiapkan pematangan (action plan ) sebagai tindak lanjut program program yang sudah direncanakan
Najib menambahkan wadah ini diharapkan mampu menjadi penggerak mempromosikan Gayo di Negara paman sam (Uncle Sam) dan juga menjadi tempat masyarakat gayo yang berkunjung ke Amerika.
“Jika masyarakat gayo berkunjung ke Amerika sudah ada “Tenelen” (Tempat tinggal) sebut Najib.
Seperti diberitakan LeuserAntara.com sebelumnya , Najib banta Cut asal gayo yang sudah lama menetap di Amerika menghibahkan 5000 M2. tanah miliknya untuk dijadikan pusat Gayo trade center dan asrama International (BsG)
Ketua Komisi VIII minta Presiden cabut Perpres 74/2013
“Saya minta Presiden SBY menarik kembali Perpres tersebut. Saya tak setuju adanya Perpres tersebut karena adanya Perpres tersebut, sama artinya melegalisasi peredaran minuman keras,” kata Ida Fauziah di Jakarta, Jumat.
Keberadaan Perpres itu, tambah politisi PKB itu, akan semakin memperbanyak jatuh korban terhadap generasi muda.
“Sudah banyak anak-anak kita yang jadi korban akibat minuman keras. Adanya Perpres semakin mendapatkan peluang bagi anak-anak kita untuk meneguk minuman keras. Dilarang saja, masih mengkonsumsi, apalagi dilegalkan,” kata Ida.
Seharusnya pemerintah memikirkan bagaimana menyelamatkan generasi muda, yang telah terkontaminasi dengan narkoba, judi dan lain sebagainya.
“Seharusnya pemerintah selamatkan generasi muda dengan cara tidak menandatangani Perpres. Peredaran minuman keras justru harusnya dipersulit. Saya heran dengan keputusan Presiden itu,” kata Ida.
Sebelumnya, Presiden SBY menandatangani Perpres Nomor 74 Tahun 2013 tentang Peredaran Minuman Beralkohol. Presiden menandatangani Perpres pada tanggal 6 Desember 2013.(*)
Monday, January 6, 2014
Tabloid LINTAS GAYO Segera Terbit
Tabloid LINTAS GAYO Segera Terbit
“Insya Allah 8 Januari sudah beredar di pasaran,” kata pemimpin umum tabloid LINTAS GAYO Khalisuddin ketika dihubungi di Medan Senin sore (6/1/2014).
Edisi perdana Tabloid LINTAS GAYO terbit 16 halaman dengan menyugukan berita total soal Gayo,terutama menyangkut Ekonomi, sosial, budaya, dan politik yang dikemas dalam bentuk tulisan “news” bercerita.
“Mudah-mudahan media LINTASGAYO dapat menjadi media alternatif Gayo. sekaligus memperkuat pendokumentasian Gayo itu sendiri,” ujar Khalis.
Media berpenampilan dengan tulisan “LINTAS GAYO” berwarna putih yang di blok warna hijau.terlihat sangat sederhana tapi moderen. Dan Tabloid LINTAS GAYO ini rencananya beredar di Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Banda Aceh, serta sebagian di Medan dan Jakarta. (tarina)
Subscribe to:
Posts (Atom)









