GAYO Nusantara

" Muslim Itu Bersaudara "

Search This Blog

Monday, May 27, 2013

Kapolres Bandrol Rp500 Ribu bagi Penangkap Pelaku Curanmor

 
Media Online

Monday, May 27th, 2013 | Oleh Lintas Gayo

Kapolres Bandrol Rp500 Ribu bagi Penangkap Pelaku Curanmor

Kapolres Aceh Tengah, AKBP Artanto.
Kapolres Aceh Tengah, AKBP Artanto.
Takengon | Lintas Gayo – Kapolres Aceh Tengah, AKBP Artanto Sik, mengungkapkan, aksi tindak kriminal pencurian kendaraan bermotor (Curanmor), di Aceh Tengah, meningkat dalam satu bulan terakhir.
Untuk itu, Kapolres mengimbau kepada masyarakat pengguna sepeda motor di kota dingin itu, agar selalu mewaspadai aksi curanmor yang bisa terjadi kapan saja. Masyarakat juga diminta, cepat melapor ke petugas terdekat, jika terjadi aksi curanmor.
“Kasus yang sering terjadi, pelaku curanmor membawa kabur sepeda motor yang hanya memiliki kunci tunggal, untuk itu kita himbau kepada masyarakat agar bisa lebih mengamankan kendaraannya, bisa dengan menggunakan kunci ganda pada sepeda motor yang dimiliki,”ujar Kapolres, AKBP Artanto Sik, kepada wartawan, Senin (27/5/2013) di Mapolres.
Meningkatnya aksi curanmor di Aceh Tengah, sangat menyita perhatian. Karenanya, Artanto berjanji, akan memberikan imbalan hadiah kepada siapa saja yang berhasil menangkap pelaku curanmor, yang terjadi di wilayah hukumnya itu.
“Untuk curanmor saat ini memang menjadi atensi saya. Untuk itu, kalau ada yang bisa menangkap pelaku curanmor,  saya akan memberi hadiah uang Rp.500.000,” kata Artanto.(Muhady/red.04).
Diposkan oleh Unknown di Monday, May 27, 2013 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: GAYO NUSANTARA

Ini Pejabat Baru di Jajaran Pemkab Aceh Tengah

 
Media Online

Monday, May 27th, 2013 | Oleh Lintas Gayo

Ini Pejabat Baru di Jajaran Pemkab Aceh Tengah

Pemda c
Takengon | Lintas Gayo - Pasangan Bupati/WakilBupati Aceh Tengah, Ir. H. Nasaruddin, MM dan Khairul Asmara akhirnya melakukan mutasi dijajaran Pemerintah setempat setelah beberapa bulan menjadi tanda tanya. Prosesi pelantikan dilakukan Oproom Setdakab, Senin 27 Mei 2013 sekira pukul 15.00 Wib.
Dari informasi yang dihimpun Lintas Gayo, jabatan kepala Inspketorat dijabat Zulkarnain yang sebelumnya diduduki Tawar, SE. Lalu Syahrial Afri yang sebelumnya menjabat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dipercayakan menduduki jabatan Kadis Perhubungan, Komunikasi dan Informatika.
Camat Bebesen, Subhan Sahara dipercayakan menggantikan posisi Syahrial Afri. Kepala Inspektorat diisi Zulkarnain yang sebelumnya menjabat Kabag. Umum Setdakab Aceh Tengah.
Sementara Tawar, SE dipercayakan menjabat Kepala Bappeda. Kabag. Kesra Setdakab Aceh Tengah, T. Alaidinsyah dipercayakan menjadi Kadis Sosial.
Bupati Aceh Tengah juga mendefenitifkan 2 jabatan Kadis, Dinas Kesehatan dijabat dr. Syukri Maha dan Dinas Peternakan dan Perikanan diisi drh. Rahmandi.
Untuk Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga yang diduduki Nasiruddin. SK yang sebelumnya menjabat Dinas Pertanian Tanaman Pangan. Jabatan yang ditinggalkan Nasiruddin. SK digantikan Saifullah.
Camat Lut Tawar, Subhandhy AP dipercayakan menduduki jabatan baru sebagai Sekretaris Dewan Perwakilan Rakyat (DPRK) Aceh Tengah.
Dua pejabat lainnya, Mirda Alimi yang menjabat Dishubkominfo diperbantuan ke Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan. Sementara Hasbi Syam yang menjabat sebagai Sekretaris Baitul Mal dipercayakan sebagai staf ahli.
Prosesi pelantikan itu dipimpin oleh Wabup Khairul Asmara. (Tim LG)

Diposkan oleh Unknown di Monday, May 27, 2013 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Gayo Politic

150 Sites Hacked for Palestine by Aceh Cyber Team

150 Sites Hacked for Palestine by Aceh Cyber Team
Diposkan oleh Unknown di Monday, May 27, 2013 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

Saturday, May 25, 2013

GMNI Aceh Tengah Gelar Kaderisasi Tingkat Dasar

Suara Leuser Antara

GMNI Aceh Tengah Gelar Kaderisasi Tingkat Dasar

suaraleuserantara May 25, 2013 
Kaderisasi GMNI di Aceh Tengah.(Foto: Suara Leuser Antara)
Kaderisasi GMNI di Aceh Tengah.(Foto: Suara Leuser Antara)
TAKENGEN |SuaraLeuserAntara|: Pengurus Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Aceh Tengah gelar kaderisasi tingkat dasar, bagi mahasiswa di Posko Merah Putih, Kemili, Takengen, Sabtu (25/5/2013).
Aramiko yang juga sebagai pengurus GMNI menyebutkan, kegiatan pengkaderan tingkat dasar ini di ikuti oleh 60 mahasiswa dari sejumlah kampus di Aceh Tengah.” Mereka ada dari UGP, STAI, STIKES, STIHMAT dan Alwasliyah ,” terangnya.
” Acara ini sengaja kita gelar untuk memupuk semangat kebangsaan generasi muda yang kian pudar, apalagi di Aceh yang saat ini lagi eforia dengan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada ketidak setiaan terhadap negara “, ujar Aramiko.
Aramiko juga menegaskan bahwa, GMNI adalah organisasi pengkaderan bukan organisasi masa.  Hal ini sangat penting untuk mempertimbangkan kualitas kader daripada kuantitas. Hadir sebagai narasumber, Zulfan Diara Gayo, Edi Linting, Yunadi HR dan Aramiko dan mereka ini adalah bagian dari tokoh pemuda dan aktivis Aceh Tengah.
Kader-kader GMNI kedepan diharapkan mampu memberikan warna pergerakan mahasiswa di dataran tinggi Gayo dan wilayah ALA, pemikiran-pemikiran yang konstruktif bagi Bangsa dan Negara akan senantiasa didedikasikan untuk Indonesia . “ Kita sangat merindukan tokoh-tokoh pendiri bangsa ,” tegas Aramiko.
Acara pengkaderan tersebut dimulai pada pukul 09:00 – 18:00 WIB dan adapun materi yang diberikan pada acara pengkaderan tersebut diantaranya, keorganisasian, sejarah GMNI, sejarah politik Indonesia, wawasan kebangsaan dan nasionalisme serta sejarah kebudayaan Indonesia.(izq)
 
Diposkan oleh Unknown di Saturday, May 25, 2013 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: GAYO NUSANTARA

Perundingan Bendera Aceh Diperpanjang

AtjehLINK || Merdeka Mengabarkan

Perundingan Bendera Aceh Diperpanjang

Jakarta – Pembahasan persoalan bendera Aceh antara pemerintah pusat dan pemerintah Aceh diperpanjang menjadi 90 hari, karena sejauh ini belum ada titik temu.
Perundingan lanjutan tim Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Aceh di Bogor, Jawa Barat, yang berakhir Kamis (23/05) kemarin, belum membuahkan hasil, kecuali memperpanjang waktu pembicaraan menjadi 90 hari.
“Kita perpanjang sampai 90 hari kedepan, kira-kira sampai bulan Juli. Jangan buru-burulah, karena ini perlu waktu,” kata ketua tim pemerintah pusat, yang juga Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri, Djohermansyah Djohan, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Jumat (24/05) siang.
Sebelumnya, kedua pihak sepakat membahas persoalan bendera Aceh ini dapat diselesaikan dalam waktu 60 hari, yang menurut pemerintah Aceh, akan berakhir pada akhir Mei ini.
Dalam pertemuan di Bogor, menurut Djohermansyah, pemerintah pusat meminta bendera Aceh itu diubah sedikit agar tidak mirip bendera GAM. .
“Tolonglah diberikan perbaikan, atau penyempurnaan. Misalnya (dihilangkan) garis hitamnya atau (perubahan) warna atau ada penambahan-penambahan bintangnya, misalnya,” ungkap Djohermansyah.
Usai pertemuan di Bogor, Mendagri Gamawan Fauzi bertemu kembali dengan Gubernur Aceh Zaini Abdullah, Wali Nangroe Malek Mahmud, serta Ketua DPR Aceh, Hasbi Abdullah, pada Kamis malam di Jakarta.
Menurut Djohermansyah, pertemuan lanjutan akan digelar pada Juni nanti.
“Kita perpanjang sampai 90 hari kedepan, kira-kira sampai bulan Juli. Jangan buru-burulah, karena ini perlu waktu”.

Tolak perpanjangan

Menanggapi usulan tim Kemendagri agar bendera Aceh itu diubah sedikit gambarnya, Pemerintah Aceh sejauh ini tetap menolaknya.
“Masukan pemerintah pusat (agar bendera Aceh diubah sedikit) boleh-boleh saja, tetapi pemerintah Aceh tetap berpegang bahwa bendera yang dihasilkan persetujuan Gubernur dan DPR Aceh itu sudah sesuai prosedur,” kata Kepala Biro Hukum Pemerintah Aceh, Edrian, saat dihubungi BBC Indonesia pada Jumat (24/05) siang.
Edrian juga mempertanyakan perpanjangan waktu menjadi 90 hari untuk proses klarifikasi Kemendagri terhadap qanun bendera Aceh, yang menurutnya, sudah berakhir dalam waktu 60 hari.
“Kita tidak memberi ruang untuk memperpanjang waktu (klarifikasi), karena kalau diperpanjang, maka kita dianggap melanggar UU (pemerintahan daerah),” kata Edrian.
Menurutnya, jika waktu 60 hari itu berakhir pada akhir Mei ini, maka perda tentang bendera dan simbol Aceh itu “sudah punya kekuatan hukum tetap”.
Walaupun demikian, masih menurut Edrian, pihaknya akhirnya menyetujui persoalan bendera ini diserahkan langsung kepada Mendagri, Gubernur Aceh, Wali Nangroe Aceh serta Ketua DPR Aceh untuk diselesaikan.

Harga mati?

Ditanya apakah Pemerintah Aceh akan bersikukuh mempertahankan isi qanun tentang bendera Aceh, Edrian mengatakan: “Ini bukan persoalan harga mati, tapi haruslah dihargai setiap produk yang sudah disepakati legislatif dan eksekutuif daerah”.
Dia mengharapkan pemerintah pusat “menghargai produk hukum sesuai prosedur yang berlaku”.
Edrian mengkhawatirkan, kalau pemerintah pusat tidak mengubah sikapnya, akan menyebabkan “hubungan tidak harmonis antara daerah dan pusat, yang menyebabkan terjadinya gangguan.”
Sejak disetujui DPR Aceh dan disahkan Pemerintah Aceh Maret lalu, peraturan daerah tentang bendera Aceh ini ditolak oleh pemerintah pusat.
Bendera itu dianggap identik dengan bendera Gerakan Aceh Merdeka, sehingga harus diubah.
Pemerintah Aceh serta DPR Aceh menolaknya, dan menganggap persoalan separatis sudah selesai semenjak ada kesepakatan damai di Helsinki, 2005 lalu.
“Masukan pemerintah pusat (agar bendera Aceh diubah sedikit) boleh-boleh saja, tetapi pemerintah Aceh tetap berpegang bahwa bendera yang dihasilkan persetujuan Gubernur dan DPR Aceh itu sudah sesuai prosedur.”
Sumber: BBC
Diposkan oleh Unknown di Saturday, May 25, 2013 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Gayo Politic

Rapat Pra PORA Ricuh, Pengurus KONI ‘Walk Out’

 
Media Online

Saturday, May 25th, 2013 | Oleh Lintas Gayo

Rapat Pra PORA Ricuh, Pengurus KONI ‘Walk Out’

Rapat Pra PORA.(Lintas Gayo | Zan.KG)
Rapat Pra PORA.(Lintas Gayo | Zan.KG)
Takengen|Lintas Gayo – Rapat Pengurus KONI Aceh Tengah dengan para Pengurus Cabang Olahraga berakhir ricuh dan diwarnai walk out para pengurus KONUI setempat. Rapat yang dilakukan di Aula Disbudparpora Aceh Tengah Sabtu (25/5/2013) itu seharusnya membicarakan kesiapan berbagai cabang olahraga jelang Pra Pekan Olahraga Aceh (PORA).
Kericuhan tersebut berawal dari protes sejumlah Pengcab Olahraga yang memperotes kepengurusan KONI Aceh Tengah yang tidak pernah aktif. Dimana, keberadaan kepengurusan KONI Aceh Tengah yang di hadiri Bardan Sahidi dan Hardi Silirihmara tidak dianggap oleh hampir sebagian dari Pengcab olah raga.
Suasana yang ricuh tersebut membuat peserta rapat tidak lagi membicarakan persiapan PRA PORA tetapi kepengurusan KONI Aceh Tengah  yang selama ini mati suri sehingga pengurus KONI Aceh Tengah tersebut angkat kaki meninggalkan ruang rapat di Aula Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Aceh Tengah tersebut.
Mahdi, Ketua PBSI Aceh Tengah mengungkapkan, kepengurusan KONI Priode 2010 – 2014 tersebut tidak akitf dalam pengurusan kepengurusan seingga terkesan mati, KONI Aceh Tengah hasil Musorkab 2009 tersebut tidak pernah dilantik dan banyak yang mengundurkan diri sebab terlibat dalam jabatan pejabat publik termasuk Ketua Umum Drs. Amir Hamzah, MM.
Pengurus KONI Aceh biro Organisasi Maulisman yang dikonfirmasi Lintas Gayo via telepon selular mengusulkan untuk mengadakan Muslub apabila sudah memenuhi syarat dan kekentuan sehingga tidak menjadi permasalahan di kemudian hari, apalagi menghadapi PORA Aceh Timur.
“Menyangkut Pra PORA pengurus Cabang yang ada di Aceh Tengah cukup mengkonsultasikan ke pengurus Provinsi masing-masing,” ungkap Maulisman.
Rapat yang digagas oleh pengurus KONI tersebut tidak menemukan hasil, sehingga para peserta dari utusan masing-masing cabang olahraga mengadakan rapat kembali sehingga menemukan hasil dengan dituangkanya dalam bentuk berita acara yang di tanda tangani oleh 15 Pengurus Cabang olahraga yang hadir.
Berita acara dan absensi perserta.(Lintas Gayo | Zan.KG)
Berita acara dan absensi perserta.(Lintas Gayo | Zan.KG)
Adapun Hasil kesepakatan tersebut yakni: mengumpulkan Rencana Anggaran belanja untuk 2013 masing-masing cabang olahraga paling labat diserahkan pada 1 Juni 2013 kepada orang yang telah ditunjuk dan diteruskan kepada Pemerintah Daerah Aceh Tengah
Kemudian, merumuskan kembali KONI Aceh Tengah kedepanya pada Sabtu, Juni 2013 di Aula Dibudparpora Aceh Tengah pada jam 14.00 WIB sampai dengan selesai.
Pengurus Perbasi Aceh Tengah Eliyadi,SE mengharapkan hasil rapat yang tertuang dalam berita acara menyangkut anggaran tersebut dapat secepatnya terlaksana mengingat ajang Pra PORA sudah semakin dekat sehingga nantinya cabang olahraga tidak terkesan dipaksakan untuk ikut serta akibat kungnya persiapan.(Zan.KG/red.04)
Diposkan oleh Unknown di Saturday, May 25, 2013 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: GAYO NUSANTARA

Daftar Alat Tempur Baru yang Siap Perkuat TNI

AtjehLINK || Merdeka Mengabarkan

Daftar Alat Tempur Baru yang Siap Perkuat TNI

imagesAtjehLINK - Tentara Nasional Indonesia terus memperbaharui alat utama sistem persenjataannya. Alutista baru ini, kata Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, akan dikenalkan ke masyarakat di HUT TNI ke-69, 5 Oktober 2014.
“Kami jadwalkan pada awal tahun depan sudah ada dan ditampilkan pada HUT TNI di Mako Armatim Surabaya,” ujar Panglima usai menutup Latihan Gabungan TNI 2013 di Dermaga Ujung, Komplek Mako Armatim Surabaya.
Sejumlah alat pertahanan dan perang baru itu di antaranya, pesawat F-16, Tank Battle Mac, pesawat dan kapal “Landing Ship Tank” (LST) dari PT PAL, serta Kapal Fregat dari Inggris.
Selain menambah pesawat tempur, TNI juga akan menambah pesawat jenis Hercules. Sehingga, penerjun bisa menggunakan 14 pesawat sekaligus dari biasanya yang hanya 10 pesawat.
Mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) itu menjelaskan, sebelum dioperasikan, alutsista baru ini akan  terlebih dulu diuji coba sebagai evaluasi.
Sumber: VIVAnews

Diposkan oleh Unknown di Saturday, May 25, 2013 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: GAYO NUSANTARA

Friday, May 24, 2013

Kondisi pertanian Aceh abad 16 dari kacamata penjelajah Eropa



Kondisi pertanian Aceh abad 16 dari kacamata penjelajah Eropa

Kamis, 23 Mei 2013 11:20 WIB
BOY NASHRUDDIN AGUS | Foto : Ilustrasi

ORANG Aceh dikenal angkuh dan enggan menjadi petani kendati alam Aceh begitu subur sehingga ribuan hektar tanah terbengkalai begitu saja. Setidaknya inilah yang dicatat oleh Beaulieu, seorang pelayar dari Prancis yang datang ke Aceh seperti yang ditulis oleh Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh; Zaman Sultan Iskandar Muda.
“Tanahnya baik sekali, dapat menghasilkan segala macam padi-padian dan buah-buahan, ada rerumputan yang bagus sekali, tempat merumput banyak kerbau yang dipakai mengolah (membajak) tanah, menarik bajak dan muatan,” kata Beaulieu.
Masih dalam catatan Denys Lombard, Beaulieu mengatakan di Aceh biri-biri (domba) tidak begitu cocok hidup di alam Aceh namun sangat bagus untuk sapi, kuda serta unggas. Pelaut-pelaut berjiwa petani yang datang dari Benua Eropa kesal melihat tanah itu tidak digarap. “Yang mereka tanam hanyalah padi… dan hanya sedikit sayuran…”
“They plowe the ground with baffles of which there are great plenties but with small skill and less diligence.”
Menurut penjelajah Eropa di abad ke 16, orang-orang Aceh kerap menyewa budak untuk mengurusi lahan mereka. Namun tidak semua orang Aceh yang malas. Ada sebagian petani yang menanam padi. Jumlahnya sangat sedikit dan hasil sawahnya hanya dimakan untuk sendiri dan lebih bergantung pada hewan piaraannya. Terutama ayam dan itik yang telurnya kerap dijual ke kota.
“Daerah ibu kotanya tak cukup pertaniannya untuk member makan kepada penduduknya sehingga sebagian besar berasnya datang dari luar,” ujar Beaulieu.
Sultan Aceh, kata Beaulieu, harus memikirkan dua hal yaitu impor beras ke pusat kota dan bagaimana caranya budak-budak kerajaan tetap menanam padi di daerah sekitarnya. Kedua hal ini menjadi kewajiban yang harus dipikirkan sultan guna stabilitas politik di dalam negeri. Jika dua hal tersebut tidak terkontrol dengan baik maka akan berdampak pada kemarau dan bencana kelaparan.
Bencana kelaparan ini pernah diderita masyarakat Aceh di masa Sultan ‘Ali Riayat Syah sekitar tahun 1605 seperti yang dinukilkan Nuruddin dalam Bustanussalatin. Bencana tersebut tidak berlaku di masa Sultan Iskandar Muda yang berhasil memberikan kemakmuran kepada rakyatnya.
Semua penjelajah Eropa sama-sama menegaskan bahwa beras di Aceh jarang dan mahal. Lancaster, penjelajah dari Inggris salah satunya yang datang ke Aceh pada tahun 1602. “Rice is brought from other places, it is a good merchandise and is sold by the bambue six or seven bambues for nine pence,” kata Lancaster seperti dikutip Denys Lombard.
Kekurangan pangan di ibu kota juga terjadi 20 tahun sesudah kedatangan Lancaster ke Aceh. Beaulieu mencatat bahwa beras saat itu didatangkan dari Pedir yang menjadi lumbung Aceh dan dari Daya sama sekali tidak mencukupi kebutuhan ibukota. Beras turut diimpor dari Semenanjung untuk kebutuhan pangan di ibu kota.
Penjelajah dari Eropa memanfaatkan situasi tersebut dengan membawa beras yang nilainya tinggi. Mereka juga turut membawa budak-budak dari Koromandel untuk menanam padi. Budak-budak yang dibawa Inggris dan Denmark tersebut kemudian memperkenalkan jenis pertanian kepada orang Aceh. Namun padi yang mereka tanam sesudahnya masih belum mencukupi kebutuhan ibukota serta terpaksa mengimpor dari luar negeri.[] sumber : Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda karangan Denys Lombard
Diposkan oleh Unknown di Friday, May 24, 2013 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: GAYO NUSANTARA

Menyoal Muslihat Culas Elit Golkar Aceh


Games KompasKarier PasangIklan 
 

Muhamad Hamka

Jadikan Teman | Kirim Pesan
"Yang tertulis akan abadi"

Menyoal Muslihat Culas Elit Golkar Aceh OPINI | 20 April 2013

Muslihat culas kembali dilakonkan elit partai Golkar Aceh. Gagalnya Tagore Abu Bakar menjadi caleg DPR RI yang disebabkan oleh sikap paranoid elit DPD Golkar Provinsi Aceh, semakin menegaskan bahwa Gayo bukan di posisikan sebagai saudara oleh Aceh. Tapi tak lebih sebagai lawan yang harus di binasa dengan cara apapun.
Hal ini bukan tanpa alasan. Kapasitas Tagore sebagai Ketua KP3 ALA Pusat membuat elit politik Aceh kebakaran jenggot. Mereka takut ketika Tagore melenggang ke Senayan, maka peluang ALA menjadi provinsi kian terbuka lebar. Karena Tagore akan memiliki resonansi yang lebih luas dalam memperjuangkan ALA.
Sikap paranoid elit (Golkar) Aceh ini adalah mentalitas purba. Mentalitas para pecundang yang tak elok, dan lebih jauh lagi memperlihatkan nalar kekuasaan yang impoten. Kalau elit Golkar Aceh punya keberanian politik, maka berkompetensilah secara sehat bukan dengan cara politik tumpas kelor.
Dari sudut internal Golkar Aceh, keputusan ini juga hanya memperlihatkan nalar tumpul elit Golkar Aceh. Mengingat Tagore adalah tokoh Golkar wilayah tengah yang reputasi dan kontribusinya untuk Golkar tak perlu di ragukan lagi. Seharusnya, dengan majunya mantan bupati Bener Meriah ini, elit DPD Golkar Aceh harus memback-up secara penuh karena berpotensi mendulang suara bagi Golkar, bukan malah di rintangi
Kepentingan Primordial/Rasis.
Namun itulah kepentingan (primordial/rasis), akan dengan mudah menerabas nalar dan memperkosa nurani. Rasionalitas di jungkirbalikkan dengan irasionalitas, tujuanya hanya satu; yakni bagaimana Gayo tetap tiarap dalam “ketiak” kekuasaan Aceh (pesisir) yang penuh dengan bau busuk arogansi dan dominasi.
Persoalan ini seyogianya semakin menyadarkan orang Gayo bahwa konflik nilai yang sudah berurat akar ini hanya akan menemui harmoninya ketika Gayo sudah mandiri dalam provinsi sendiri. Selagi Gayo masih bernaung dalam provinsi Aceh, maka selama itu pula tindakan rasis dan diskriminasi akan selalu mewarnai hubungan Gayo dan Aceh (pesisir).
Konflik kepentingan Pemerintah Aceh (Partai Aceh) dengan Jakarta hari ini mestinya bisa dijadikan peluang oleh elit Gayo untuk melakukan bargaining politik dalam pembentukan provinsi ALA. Posisi tawar Gayo hari ini sangat baik di mata Jakarta. Tinggal bagaimana membangun strategi dan taktik untuk menyakinkan Presiden SBY.
Juga yang tak kalah urgen untuk mendapatkan perhatian serius dari pejuang ALA saat ini adalah membangun mind set yang sama soal landasan pemekaran ALA ini dari Aceh. Sehingga persepsi sebagaian masyarakat bahwa perjuangan ALA hanya untuk kepentingan orang-perorang dan elit politik bisa diluruskan.
Konspirasi Pembusukan
Karena ada indikasi, kekacauan mind set sebagaian masyarakat Gayo terhadap perjuangan ALA ini disebabkan oleh adanya konspirasi pembusukan sesama orang Gayo oleh elit Aceh. Konspirasi model “kolone kelima” ini adalah lewat propaganda dan wacana-wacana agitatif yang disusupkan secara sistematik ke dalam mind set sebagaian orang Gayo. Sehingga mereka hanya memahami perjuangan ALA ini sebagai kepentingan elit politik.
Nalar dan sukma mereka pun menjadi tandus melihat penindasan demi penindasan yang dilakukan oleh Aceh (pesisir) terhadap Gayo. Hal ini bisa di kikis ketika ada injeksi kesadaran yang dilakukan secara kontinyu ke segenap lapisan massa-rakyat, bahwa pemekaran provinsi ALA itu adalah ikhtiar kemanusiaan dalam memartabatkan kemanusiaan orang Gayo yang pelan tapi pasti di “bonsai” oleh Aceh (pesisir).
Kembali kepada persoalan Tagore di atas, inilah saatnya bagi elit Golkar wilayah Tengah untuk duduk semeja, membangun dialog yang jujur. Sampaikan kepada DPP Golkar persoalan ini dengan komunikasi yang jujur. Karena DPP pun tahu, bahwa basis Golkar di Aceh ada di dataran tinggi Gayo dan Barat-Selatan, bukan di Pidie atau di Aceh Utara. Tindakan “harakiri politik” elit Golkar Aceh ini tentunya tidak akan dipahamai oleh DPP tanpa ada komunikasi yang di bangun secara intens oleh elit Golkar wilayah Tengah dengan pengurus DPP Golkar.
Sekali lagi, kalau ada masyarakat Gayo yang masih menyerahkan dirinya dalam jebakkan konspirasi penuh pembusukan elit Aceh, maka selama itu pula martabat orang Gayo tetap di bonsai. Maka, bulatkan tekad dan satukan langkah menuju Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA).
Tulisan ini sudah pernah di muat di situs berita Lintas Gayo.com
Diposkan oleh Unknown di Friday, May 24, 2013 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Gayo Politic

Kopi Gayo Disukai Konsumen Eropa dan Amerika

Jumat, 17 Mei 2013 | 00:19

Kopi Gayo Disukai Konsumen Eropa dan Amerika

Ilustrasi kopi.
Ilustrasi biji kopi.
Ilustrasi kopi. (sumber: AFP)
Banda Aceh - Komoditas perkebunan kopi arabika asal dataran tinggi "Tanah Gayo" ternyata banyak disukai oleh kalangan konsumen di negara-negara Eropa, Amerika Serikat dan Asia.
Menurut Wakil Bupati Aceh Tengah, Khairul Asmara, kecintaan konsumen asing terhadap kopi Gayo menjadi bukti bahwa produk kopi ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.
"Dari uji cita rasa, kopi arabica 'Gayo' memiliki peringkat premium, dan saat ini telah di ekspor ke 17 negara di Eropa, selanjutnya Amerika Serikat dan sebagian negara-negara kawasan Asia," katanya di Takengon, Kamis.
Melalui Kabag Humas dan Protokol Sekdakab Aceh Tengah Mustafa Kamal saat menjamu peserta "Coffee Tour" dari Eropa yang difasilitasi oleh Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Wakil Bupati optimistis, pasar kopi arabika yang dihasilkan petani daerahnya terus membaik dimasa mendatang.
Dalam kesempatan tersebut, Wakul Bupati juga menjelaskan tentang kondisi perkebunan dan para petani kopi di Aceh Tengah kepada para peserta.
Hingga saat ini, lanjut Khairul, luas lahan kopi arabika Aceh Tengah mencapai 48.300 hektare, dengan rata-rata produksi 720 kg/hektare.
"Melalui sertifikat indikasi geografis pada 2010 itu semakin menguatkan merek kopi arabica Gayo berdasarkan daerah asal produk," katanya.
Sementara itu, konsultan YEL Medan Frey Regina mengatakan kedatangan mereka ke Aceh Tengah untuk melihat langsung kondisi tanaman kopi dan kawasan hutan daerah berhawa sejuk itu.
Selain itu pihak, YEL turut juga menyosialisasikan misi dalam rangka konservasi hutan dan pengembangan kopi, termasuk di kabupaten Aceh Tengah.
"YEL bergerak di bidang konservasi hutan, melindungi flora dan fauna dari kepunahan sekaligus memberdayakan para petani, termasuk petani kopi di Aceh Tengah agar mereka lebih fokus kepada pertanian organik," pungkasnya.
Penulis: Feriawan Hidayat/FER
Sumber:ANT
Diposkan oleh Unknown di Friday, May 24, 2013 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: GAYO NUSANTARA

PDIP Aceh: Tidak Perlu Referendum Bendera Aceh



Jumat, 24 Mei 2013


PDIP Aceh: Tidak Perlu Referendum Bendera Aceh

Lambang bendera Aceh yang mirip Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
Lambang bendera Aceh yang mirip Gerakan Aceh Merdeka (GAM) (sumber: Antara)
Banda Aceh – Pembahasan qanun atau peraturan daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) terkait lambang bendera yang mirip Gerakan Aceh Merdeka (GAM) belum menemui titik temu. Bahkan, rakyat Aceh mengancam akan melakukan referendum bila pemerintah pusat tak juga menyetujui bendera tersebut.
“Sebenarnya tidak perlu ada referenfdum, begitu ada referendum untuk bendera, maka efeknya lebih luas,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Karimun Usman kepada wartawan di Banda Aceh, NAD, Kamis (23/5).
Dia berpendapat, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus bersikap tegas terkait masalah bendera Aceh. Apalagi pada pemilihan presiden (pilpres) 2009 lalu, SBY mendapat dukungan 93 persen rakyat Aceh. “Solusinya ada di SBY. Jangan lupa, SBY itu dipilih 93 persen rakyat Aceh. Saya harap SBY yang tega selesaikan,” ujarnya.
Secara pribadi dia menuturkan, bendera Aceh bukanlah deklarasi untuk perang. “Bendera ini menurut saya pribadi bukan deklarasi akan perang. Tapi wujud perjanjian Helsinski, bendera ini perekat. Karena di Aceh ada keistimewaan,” tegasnya.
Dia menjelaskan, secara hukum, qanun dan bendera merupakan perintah dari UU Aceh. “Qanun ini dibuat dan disepakati DPR Aceh dan Pemerintah Aceh. Keputusan DPR Aceh dan Pemerintah Aceh harus dihormati kalau kita hidup di dalam demokrasi. Kenapa setelah baru disepakati baru jadi polemik,” tukasnya.
Sedangkan Pimpinan Simpang Lima Center, Kamaruddin Hasan mengatakan, bendera Aceh sebenarnya tidak perlu dipersoalkan. “Semua daerah punya bendera. Hanya saja yang tidak disukai rakyat Aceh karena memang warna dan lambangnya mirip dengan Partai Aceh,” kata Hasan.
Dia mengaku setuju dengan adanya bendera Aceh. “Kita setuju tapi jangan seperti yang sekarang benderanya,” tandasnya.

Penulis: C-6/AF
Sumber:Suara Pembaruan
Diposkan oleh Unknown di Friday, May 24, 2013 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Gayo Politic

Thursday, May 23, 2013

Aceh ala Abas

Bung Imam

9 March 2006

Aceh ala Abas

Oleh Imam Shofwan

Berbagai upaya ditempuh kelompok yang kecewa dengan RUU Aceh di Jakarta.

Sejak Febuari lalu banyak tokoh Aceh berada di Jakarta. Mereka orang-orang yang berkepentingan dengan lolosnya RUU Pemerintahan Aceh, namun pihak yang menentang juga datang ke Jakarta.

Di antaranya, lima ketua DPRD II dari Aceh, yaitu, Syukur Kobath, ketua DPRD II Aceh Tengah; Umuruddin, ketua DPRD II Aceh Tenggara; Chaliddin Munthe, ketua DPRD II Singkil; Mohammad Amru, ketua DPRD II Gayo Luewes; dan Tagore AB, ketua DPRD kabupaten Bener Meriah. Semuanya berasal dari Partai Golkar.

Selain kelimanya, ketua-ketua DPRD dari wilayah Aceh Barat Selatan juga terlibat. Mereka antara lain ketua DPRD II Aceh Barat, Aceh Jaya, Seumelu, Aceh Selatan dan Nagan Raya.

Mereka menginginkan wilayah Aceh Leuser Antara, kelima kabupaten pertama tadi, yang mereka singkat “ALA” dan Aceh Barat Selatan atau “Abas,” menjadi provinsi baru --terpisah dari Nanggroe Aceh Darussalam.

Sejak Minggu, 5 Maret, mereka meninggalkan pekerjaan mereka dan datang ke Jakarta khusus untuk memperjuangkan aspirasi mereka. Di Hotel Treva Jakarta mereka menginap, berkumpul dan menyusun strategi. Banyak acara yang mereka agendakan selama berada di Jakarta, mulai seminar sampai menemui tokoh-tokoh di Jakarta.

Seminar bertajuk “Penguatan Parlemen Lokal dalam RUU PA,” adalah acara pertama mereka. Acara tersebut digelar di lantai 12 Hotel Treva. Acara ini menghadirkan Hery Yuherman dari Departemen Dalam Negeri, Azhari dan Bivitri Susanti dari Jaringan Demokrasi Aceh.

RUU Aceh oleh kelompok “Ala dan Abas” dianggap tak mewakili aspirasi dari 11 kabupaten mereka karena dalam rancangan tidak ada klausul “pemekaran” Aceh. “Tanpa klausul tersebut kami tidak mengawal RUU PA,” tegas Syukur Kobath.

RUU ini adalah hasil dari rancangan para legislator Aceh yang diajukan kepada Departemen Dalam Negeri di Jakarta, dan setelah dipermak Departemen, RUU tersebut diserahkan ke parlemen untuk dibahas dan disahkan. Majalah Acehkita menyebut perubahan tersebut “pengkhianatan Jakarta” terhadap perjanjian Helsinki.

Mulai akhir Febuari, RUU ini pun dibahas di parlemen Indonesia, sebagai kelanjutan dari kesepahaman antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Sejak pembahasan RUU ini, banyak tokoh Aceh datang ke Jakarta, mulai dari pemimpin GAM hingga Gubernur Aceh Mustafa Abu Bakar, dari aktivis NGO hingga mahasiswa Aceh. Mereka mendukung RUU Aceh. Usaha mereka tidak mudah karena ditentang oleh banyak pensiunan jendral, politisi “nasionalis” Indonesia serta akademisi Pulau Jawa. Penentangan juga dilakukan oleh kelompok ketua-ketua DPRD II dari 11 kabupaten itu: Ala dan Abas.

Menurut mereka, Ala layak menjadi provinsi baru, dengan pertimbangan luas wilayah Aceh. Menurut Syukur Kobath, dari Banda Aceh ke Singkil jaraknya 1,000 km dan kalau menempuh jalur darat harus memutar lewat Sumatra Utara.

Begitu juga dari Gayo Luewes (Blangkejeren) ke Banda Aceh, harus lewat Medan. Kalau lewat darat, itu membutuhkan waktu delapan jam dan dari Medan ke Banda memakan waktu 12 Jam. Ini tidak efektif untuk koordinasi pemerintahan.

Masyarakat di Aceh Tengah dengan ibukota Takengon, menurut Syukur, jadinya lebih terbelakang, “Kita ingin memperpendek rentang kendali pemerintahan.”

Syukur lalu membandingkan dengan jarak di Pulau Jawa, antara Banten dan Banyuwangi, yang punya jarak sama-sama 1,000 km. “Dari Banten sampai Banyuwangi ada enam provinsi, kenapa di Aceh cuman satu?”

Rencana provinsi baru sebenarnya rencana lama Syukur dan kawan-kawan, sejak lahirnya UU No. 32/2004 tentang pemerintahan daerah. Puncaknya, pada 4 Desember 2005, mereka mengadakan deklarasi terbentuknya provinsi Ala dan Abas di stadion Senayan Jakarta.

Tanggal “4 Desember” adalah hari penting untuk kebanyakan orang Aceh karena pada 4 Desember 1976, Hasan di Tiro menyatakan juga kemerdekaan Aceh dari “Republik Jawa-Indonesia.”

Proses pemekaran ternyata tak mudah. Mereka hanya bisa mengajukan permohonan “mekar” ke Departemen Dalam Negeri bila ada tanda tangan persetujuan Gubernur Aceh dan ketua DPRD Aceh. Keduanya menolak. Maka, dua hari setelah deklarasi, Aliansi Mahasiswa Leuser Antara dan Masyarakat Aceh Leuser Antara melakukan demonstrasi Departemen Dalam Negeri dan menuntut pembagian Aceh jadi dua.

Sesudah tsunami, orang-orang Ala dan Abas ini juga kecewa, karena masyarakat internasional membantu GAM berunding dengan Indonesia di Helsinki. Perjanjiannya, mengamanatkan pembentukan UU Aceh. Maka rancangan pun dibuat, pertama oleh akademisi dari Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar Raniry di Banda Aceh serta Universitas Malikussaleh Lhokseumawe.

Draft disusun berdasarkan masukan dari masyarakat lewat seminar di tiga universitas itu. Para pejuang pemekaran tak mau ketinggalan. Mereka usul klausul pemekaran wilayah dimasukkan. “Saat seminar raya usulan kami diterima, namun ketika sudah menjadi draft, usulan tersebut tidak tertuang dalam draft.”

Alasannya, baik GAM maupun Indonesia tak mau membongkar kesepakatan Helsinki dimana batas wilayah Aceh sudah disepakati. Memecah Aceh, menurut Bahtiar Abdulah dari GAM, bisa dilakukan bila semua kesepakatan Helsinki sudah dijalankan.

Namun Syukur dan kawan-kawan tidak rela. Mereka meninggalkan kantornya di Aceh dan datang ke Jakarta serta bermarkas di Hotel Treva.

Wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah, daerah asal Syukur, adalah wilayah yang dianggap pro Indonesia. Sekitar 35 persen dari 270,000 penduduknya berasal dari Pulau Jawa atau keturunannya. Mereka sering dimusuhi GAM yang menganggap “bangsa Aceh” jajahan “bangsa Jawa.” Sekitar 120,000 orang Aceh keturunan Jawa mengungsi keluar dari Aceh antara 1999 dan 2005.

Memang Syukur memusuhi GAM. “Kami frontal terhadap GAM, kami sangat nasionalis dengan Jawa.”

Sejak tsunami, prioritas Jakarta adalah “wilayah GAM” dari Lhokseumawe hingga Banda Aceh. Padahal daerah Ala dan Abas, yang setia mengikuti Jawa, malah tidak diperhatikan. Dia merasa terpojok karena tidak diperhatikan Jakarta dan di Aceh sendiri dimusuhi GAM.

Pada Maret 2003, Takengon adalah kota pertama dimana kantor Henry Dunant Center diserang dan dibakar milisi pro Indonesia. HDC memulai proses perdamaian di Aceh zaman Presiden Abdurrahman Wahid. Pembakaran kantor mereka memicu keputusan Jakarta tarik mundur dari perdamaian. Jakarta menyatakan perang lagi dengan GAM pada Mei 2003.

Kini, bagi Syukur, satu-satunya jalan adalah memisahkan diri. Syukur datang ke Jakarta dengan banyak agenda, antara lain, memberi masukan kepada panitia RUU Aceh. Ternyata mereka ditolak dengan alasan teknis: belum ada jadwalnya.

Tidak puas, Syukur dan kawan-kawan mengagendakan ketemu Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Syukur juga ingin bertemu Habib Riziek Syihab dari Front Pembela Islam serta mantan presiden Megawati Soekarnoputri dan Abdurrahman Wahid.

Syukur dan kawan-kawannya telah mengambil posisi berseberangan dengan GAM dan dia tidak mau setengah-setengah. “Terlanjur basah, mandi sekalian,” tegas Syukur.

Naskah ini diterbitkan, pada 9 Maret 2006, di
Sindikasi Pantau
Diposkan oleh Unknown di Thursday, May 23, 2013 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Gayo Politic

Pemekaran Aceh Dideklarasikan - Ulang Tahun GAM Dirayakan Tanpa Atribut


logo
 
Jl. Tebet Barat Dalam III A no 02
Jakarta 12810, Indonesia
Phone: +62-21-83794469
Fax: +62-21-83791270
E-mail: resourcenter@yipd.or.id
Default
HomeTentang YIPDProgramAgendaGalleryTautanPublikasiKegiatan YIPDUnduh

ADVANCE SEARCH

 
Home » Kegiatan YIPD » Pemekaran Aceh Dideklarasikan - Ulang...

Pemekaran Aceh Dideklarasikan - Ulang Tahun GAM Dirayakan Tanpa Atribut

03 December 2005
Ribuan orang menghadiri Deklarasi Pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara dan Provinsi Aceh Barat Selatan di Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (4/12). Deklarasi tersebut ditandai pernyataan dan pengukuhan keluarnya 11 kabupaten dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.Jakarta, Kompas - Ribuan orang menghadiri Deklarasi Pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara dan Provinsi Aceh Barat Selatan di Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (4/12). Deklarasi tersebut ditandai pernyataan dan pengukuhan keluarnya 11 kabupaten dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Acara deklarasi itu berlangsung meriah, yel-yel dukungan ribuan masyarakat Aceh yang datang bergema. Setiap kali pembawa acara meneriakkan kata ALA (Aceh Leuser Antara), hadirin langsung menjawab insya Allah. Begitu pula ketika pembawa acara berteriak Abas (Aceh Barat Selatan), hadirin menjawab alhamdulillah. Acara ini juga dimeriahkan pertunjukan kesenian.
Provinsi ALA merupakan gabungan dari Kabupaten Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Singkil, sedangkan Provinsi Abas terdiri dari Kabupaten Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Aceh Jaya, dan Simeulue. Deklarasi dibacakan oleh pimpinan DPRD dari kesebelas kabupaten tersebut.
Deklarasi Provinsi ALA yang dikoordinasi Ketua DPRD Bener Meriah Tagore Abubakar memuat empat keputusan. Salah satu keputusan itu adalah menyerahkan kepada presiden di bawah pengawasan dan persetujuan DPR untuk melengkapi perangkat hukum dan administrasi berdirinya provinsi tersebut, dengan memerhatikan aspirasi masyarakat secara langsung maupun melalui DPRD masing-masing kabupaten.
Butir ketiga deklarasi itu menyebutkan selama administrasi dan perangkat Pemerintah Provinsi ALA belum lengkap, seluruh pertanggungjawaban pemerintah dan kepentingan hukum maupun administrasi pemda dipegang masing-masing kabupaten.
”Kami sudah tidak lagi membutuhkan rekomendasi gubernur dan DPRD Aceh karena kami sudah didukung oleh DPR,” kata Tagore.
Sementara itu, Ketua Harian Komite Persiapan Pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara Rahmat Salam mengungkapkan pemekaran provinsi menjadi ALA dan Abas ini diharapkan meringankan beban Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sehingga masyarakat pun dapat terlayani dengan baik.
”Selama ini kami jauh sekali dengan ibu kota provinsi, bahkan ada satu kabupaten yang harus melewati Sumut terlebih dahulu untuk sampai ke Banda Aceh,” kata Rahmat.
Milad GAM
Dari Banda Aceh diberitakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) memperingati hari jadinya yang ke-29, kemarin, tanpa diramaikan atribut gerakan sesuai dengan janji mereka sebelumnya. Peringatan dilakukan dengan doa syukuran bersama atas perdamaian di beberapa masjid di Aceh dalam suasana tenang.
Mantan Panglima GAM Aceh Besar Muharram mengatakan, mantan anggota GAM di wilayahnya hanya mengadakan doa syukuran atas perdamaian yang sudah terwujud di Aceh. Doa bersama itu dilakukan di beberapa masjid. (HAM/AIK/SIE)
Sumber: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0512/05/Politikhukum/2267042.htm
Diposkan oleh Unknown di Thursday, May 23, 2013 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Gayo Politic

Menyejarahkan Kembali Nasionalisme Kita

Kompetisi Esai Mahasiswa 2011 (KEM2011)
Menjadi-Indonesia

Menyejarahkan Kembali Nasionalisme Kita

11-Oct-2011 oleh ikhwanul huda    Tidak ada Komentar    Posting didalam : Naskah, Tahun 2009
Oleh: Fathan Mubarak, Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Nasionalisme kita itu proyek bersama. Dan sekalipun faktor-faktor yang membidani kelahirannya berbeda dengan nasionalisme yang terdapat di banyak kawasan Eropa sana, namun ia sama dengan yang lainnya: memuat sejumlah harapan dan keyakinan.
Ada banyak definisi bisa diajukan, tapi yang paling pokok di sini adalah bahwa cara pandang baru manusia dalam mengidentifikasi diri dan komunitas sosial yang melingkupinya, kemudian menjadi komoditas politik yang paling laris manis. Dalam Declaration of the Right of Man 1789 (oleh para pakar, deklarasi tersebut sering dianggap sebagai “wahyu” nasionalisme yang selama dua abad terakhir menjadi agen perubahan politik paling kuat), Majelis Nasional Perancis memunculkan klausul: “Bangsa pada dasarnya merupakan sumber semua kekuasaan; seorang individu atau sekelompok orang, tidak memiliki hak untuk memegang kekuasaan yang secara jelas tidak berasal dari bangsa”. Beberapa saat setelah itu segeralah semangat kebangsaan menduduki urutan pertama pada ruang-ruang berpikir orang Eropa. Tulisan seorang teoritisi nasionalisme Perancis, Abbe Sieyes (1748-1836) barangkali bisa mewakili: “bangsa mendahului segala sesuatu. Kehendak bangsa selalu absah: Bangsa adalah hukum itu sendiri.”
Namun hal lain yang juga berkembang di Eropa saat itu adalah kebesarkepalaan mereka dalam merefleksikan kapasitas kebangsaannya. Teori survival of the fittest-nya Darwin, dijadikan garis penegas antara yang superior dan inferior, yang ordinat dan sub ordinat, dan yang patron-yang klien, dimana itu hanya bisa didapat dari satu penaklukan ke penaklukan berikutnya. Alhasil, “hak menentukan nasib sendiri” hampir selalu dibarengi dengan semangat narsis yang cenderung agresif dan ekspansif. Tak mengherankan jika kemudian Eropa pernah menjadi benua yang paling mencekam. Benua yang terdiri dari “bangsa-bangsa yang saling ketakutan, intai-mengintai seperti hewan buas di malam hari”, kata Rabindranath Tagore, yang pada puncaknya, perang antarbangsa pun berkecamuk seperti yang pernah di uraikan oleh sejarawan A.J. Toynbee.
Kebangsaan Indonesia sendiri tidak terbentuk dengan cara seperti itu. Satu seperempat abad setelah kelahirannya di eropa sana, paham nasionalisme perlahan  menyinggahi alam pikir kaum terpelajar pribumi dan akhirnya termanifestasikan benar tapi justru dengan modus yang berlawanan. Kalau nasionalisme di Eropa banyak tampil dengan kecenderungan ingin menguasai, maka di sini ia lahir dan tumbuh dari semangat ketidakinginandikuasai. Dengan pertama-tama menyebut Sumpah Pemuda, maka kemudian Indische Vereeniging (Persatuan Hindia, organisasi para mahasiswa Indonsia di negeri Belanda), Indische Partij, Perserikatan Nasional Indonesia, Partindo, PNI-Baru (yang didirikan oleh Sjahrir dan Hatta), atau GAPI, semuanya adalah gerakan keindondesiaan yang berisikan cita-cita kemerdekaan. Dalam pembukaan UUD 45 pun terang disebutkan, “…kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan”.
Oleh karenanya, hal menarik dari kelahiran nasionalisme ke-Indonesiaan adalah bahwa ia merupakan reaksi kesadaran atas realitas sosial yang sedang berlangsung—bagaimana bangsa-bangsa yang berserakan di bumi nusantara meyakini kalau kemerdekaan, hanya dapat dicapai dengan cara mengesampingkan ke-aku-an mereka demi terbentuknya ke-aku-an yang secara kuantitas lebih besar. Dalam kata-kata Emha Ainun Nadjib, nasionalisme digunakan sebagai “perangkat keras” untuk menjalankan “perangkat lunak” yang disebut universalitas kemanusiaan. Karena memang, daripada ideologi tertutup yang sekeramat berhala, nasionalisme kita lebih merupakan suatu sikap politik yang berlandas pada prinsip-prinsip human dignity—suatu semangat yang kelak nyaris tak mendapatkan tempat di dada dan kepala para “pendiri-penjaga” bangsa.
Tapi di sini, saya juga ingin mengatakan bahwa pembebasan diri dari penjajahan sekalipun, itu hanyalah kausa prima yang dalam sejarah memiliki seribu wajah. Kalau saja, misalnya, nasionalisme lahir di abad-abad sebelum datangnya kolonialisme, niscaya ia akan dibidani oleh sesuatu yang lain, yang barangkali kita sendiri kurang begitu mengaguminya. Sehingga yang awal mula mesti diingat adalah fakta tak terbantahkan bahwa nasionalisme kita sebetulnya berada pada tataran historis, dan bukan normatif. Ia bukanlah sebentuk visi imajiner yang mengawang-ngawang di tinggi lazuardi, tapi barangkali semacam misi yang mendapat pembenaran-pembenaran dari data faktual sebagai representasi kebutuhan dan semangat jaman. Dan kita layak masygul, ketika ikrar satu bangsa, bangsa Indonesia, dan satu tanah air, tanah air Indonesia, tiba-tiba saja menjadi ideologi yang maha sakral yang dibela dengan membabi buta oleh para penguasa, karena hal tersebut ternyata memuat konsekuensi panjang dan mengerikan. Pendek kata, apa yang di awal disebut sebagai yang historis, sejak berdirinya republik ini berubah menjadi normatif. Dan dengan menjadikan perubahan tersebut sebagai titik tolak analisa, maka kita akan menemukan kesalahan berlapis yang sudah berlangsung lama di negeri ini.
Pertama, state Indonesia, pada beberapa kasus, dibentuk dalam pola-pola sentrifugal: integrasi yang terjadi di sini tidak merupakan sebuah proses—mengikuti alur pemikiran Ogburn dan Nimkof, penganut fungsionalisme struktural—akomodasi-kerja sama-koordinasi-asimilasi, melainkan ada penarikan paksa yang dilakukan oleh titik pusat terhadap daerah-daerah yang beredar di sekelilingnya. Dalam hal ini, gerak sentrifugal sendiri mengandung kelemahan pokok karena telah mengabaikan apa yang oleh Antonio Gramsci sebut sebagai kerelaan.
Tentu kita masih ingat “pertikaian” yang terjadi dalam sidang BPUPKI antara Bung Hatta dan Soekarno-Yamin mengenai wilayah kedaulatan Indonesia. Dan karena deadlock, beberapa opsi pun akhirnya dimunculkan. 1) Yang disebut Indonesia adalah bekas jajahan Hindia Belanda dahulu. 2) Yang disebut Indonesia adalah Hindia Belanda, Malaka (Malaysia), Borneo Utara (Brunei dan Sabah), Papua, Timor-Portugis (sekarang Republik Demokratik Timor) dan kepulauan sekitarnya. 3) Yang disebut Indonesia adalah Hindia Belanda Dahulu ditambah Malaka tanpa memasukkan Papua. Dari ketiga opsi tersebut, voting yang melibatkan 66 anggota BPUPKI itu kemudian menghasilkan; 16 suara untuk opsi pertama, 39 suara untuk opsi kedua, dan 6 suara untuk opsi ketiga. Dengan demikian, sejak awal, tidak saja Papua tetapi juga Timor-Portugis, Malaysia dan Brunai Darussalam pun dimasukkan dalam imajinasi teritorial nasional yang hendak dibangun oleh nasionalis Indonesia.
Dan jika sekali saja daerah-daerah yang telah berhasil diseret paksa masuk ke dalam kawasan NKRI itu kemudian mengalami ketidakpuasan terhadap institusi negara, maka ketakrelaan tersebut akan menjadi ingatan kolektif yang memanjang dalam waktu, karena tidak bisa dipungkiri, sebelum menjadi bagian dari NKRI, mereka telah dulu memiliki kualifikasi-kualifikasi sebagaimana layaknya sebuah nation-state. Bahkan untuk Papua, mereka memang pernah menjadi bangsa merdeka lengkap dengan atribut kebangsaan: bendera bintang kejora, lagu kebangsaan Hai Tanahku Papua, dan lambang negara Burung Mambruk. Simbol kenegaraan ini pernah ada dan dikumandangkan di atas tanah Papua. Sehingga wajar saja sebenarnya jika daerah-daerah tersebut di atas (yang merasa sudah dikecewakan oleh negara) terus berupaya untuk memisahkan diri dari NKRI.
Kedua, aspek kesejarahan yang inheren pada nasionalisme, perlahan luntur bersama menguatnya semangat patriotisme yang sama sekali tak berdasar.
NKRI Tidak Bisa Ditawar, demikian Presiden SBY. Kalimat tersebut sekaligus menjadi judul berita utama Kompas, 15 Agustus 2005. Selanjutnya—seperti yang selalu didengung-dengungkan oleh para pendahulunya—Presiden menyatakan, “kita akan bela dan pertahankan NKRI hingga akhir hayat!” yang lalu itu ditepuktangani oleh orang-orang kebanyakan sambil kurang lebih memasang suatu sikap right or wrong is my country.
Kalimat-kalimat di atas terkesan begitu patriotis, namun juga apriori. Sekecil apapun celah negosiasi terasa tak diperkenankan. Dan ketika itu sudah mencapai kerigidan tertentu, seseorang tak lagi membutuhkan alasan untuk membenarkan tindakan-tindakannya. Sebuah rangkaian konsistensi, yang menurut hemat saya, merupakan kelanjutan dari yang pertama.
Jadi kalau dulu nasionalisme dibentuk guna mencapai cita-cita bersama, maka pada masa-masa pendirian republik ini, nasionalisme adalah “cita-cita” itu sendiri. Dan lebih celaka lagi, kini orang-orang memperlakukan ”cita-cita” tersebut sebagai sesuatu yang seolah taken for granted.
Saya sendiri orang yang lahir dan dibesarkan di Jawa. Sementara Jawa (Jakarta?) adalah sebuah teritorial yang tak pernah benar-benar mengerti apa arti nasionalisme dalam kamus politik empirik. Tapi ketika menilik aksi-aksi militer di beberapa kawasan seperti Aceh, Timor Leste, Maluku, atau Papua, istilah “mempertahankan NKRI” atau “penumpasan separatisme”, tetap saja terkesan begitu dipaksakan dan diada-adakan.
Betapa tidak, di sana kita bisa menyaksikan militer datang, suara-suara senjata meletup di udara, ratusan ribu nyawa melayang, para tahanan disiksa, wanita-wanita diperkosa, dan sejumlah khasanah budaya dinetralisir. Bagaimanapun, kita akan sukar menemukan dalil-dalil yang dapat membenarkannya, sebab dalam peradaban manusia, hak dan martabat kemanusiaan tentu menjadi sesuatu yang taktertarai. Dan kita boleh tercengang ketika ternyata semuanya dilakukan dengan atas nama nasionalisme, atau yang belakangan biasa disebut sebagai Ideologi Negara Kesatuan. Di sisi lain, pada saat bersamaan, banyak orang yang ngotot ingin menjadikan mantan presiden Soeharto (seseorang yang ditengarai penjadi dalang atas penumpasan tiga setengah juta jiwa demi rezim yang dibangunnya) sebagai pahlawan nasional lantaran dianggap selalu bisa menjaga stabilitas negara demi tegaknya NKRI. Dari itu pun kita bisa melihat betapa kesalahan yang sudah disebutkan sudah mendarah-daging pada kita.
Namun demikian, sekalipun republik ini berdiri di atas fondasi yang bermasalah, bukan berarti win-win solution sudah tidak lagi bisa ditempuh, sebab ideologi bukanlah penyebab utama bagi keretakan bangunan nasionalisme kita. Ada hal lain yang lebih kongkrit dan mendasar yakni soal berlakunya struktur eksploitatif, dimana overdevelopment dan underdevelopment hidup berdampingan.
Pengiriman surat yang dilakukan oleh warga perbatasan Kecamatan Puring Kencana Kabupaten Kapuas Hulu Kalbar pada pemerintah pusat soal kemauan mereka untuk memisahkan diri NKRI lantaran merasa tidak diperhatikan oleh pemerintah Indonesia (Negara Malaysia justru lebih banyak memperhatikan mereka), harusnya menjadi tamparan keras bagi kita semua.
Suatu Pertimbangan
Upaya pengembalian nasionalisme pada tataran historis tidak bisa tidak mesti ditempuh dengan cara mendamaikan faham nasionalisme dengan kondisi sosio-masyarakat ke-kini-an dan tantangan jaman, agar bangunan nasionalisme bisa kembali kokoh tanpa harus merestrukturisasi NKRI (itu karena saya masih mau disebut sebagai saudara sebangsa dan setanah air dengan rakyat Papua, Aceh, Maluku, atau yang lainnya). Yang jadi persoalan adalah, bagaimana meyakinkan penduduk negeri akan kelayakan dan kepatutan mempertahankan nasionalisme, yang kemudian diteruskan pada tahap perbaikan pendekatan dalam menjaga keutuhannya.
Untuk yang pertama, globalisasi saya kira menjadi isu strategis yang dapat mendorong pernyataan ulang semangat kebangsaan kita. Dalam buku Kewarganegaraan yang ditulis oleh Edison A. Jamli dkk. disebutkan, globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia.
Darinya kita bisa menyimpulkan, kedepan interaksi antarnegara dalam rangka saling mengartikulasikan kepentingan-kepentingannya akan semakin intens, dan kompetisi pun akan kian mengentara. Di titik inilah sebuah negara yang besar dan kuat bisa menatap masa depannya dengan lebih optimis.
Berkaitan dengan itu, saya teringat dengan sejarah gerakan separatis di Ambon. Pada masa awal kemerdekaan RI, sebagian besar eks KNIL di sana kerap dijanjikan kemerdekaan dan dibantu mendirikan Republik Maluku Selatan (RMS) oleh Pemerintah Belanda. Sebuah fenomena yang menunjukan arti pentingnya nasionalisme ke-Indonesiaan, karena bagi Belanda, akan lebih mudah dan menguntungkan jika melakukan “klik” dengan negara-negara kecil pecahan RI ketimbang dengan Indonesia Raya yang kuat.
Selanjutnya, upaya-upaya yang dilakukan untuk mempertahankan kesatuan wilayah NKRI, tidak boleh lagi menggunakan cara-cara brutal, melainkan dengan mewujudkan pemerataan disegala bidang. Eksploitasi sumber daya alam tidak semata-mata digunakan untuk kepentingan pusat, akan tetapi pertama-tama untuk daerah yang bersangkutan, menciptakan lapangan pekerjaan yang seimbang dengan tenaga kerja yang tersedia, pendidikan dan kesehatan pun harus juga bisa dinikmati oleh segenap rakyat Indonesia, dan yang tidak kalah pentingnya adalah membentuk identitas kebangsaan kita berdasar keberagaman yang muncul secara ekspresif dari masyarakat, yang dalam konteks desentralisasi, semuanya bisa dirangkum dalam agenda peningkatan kualitas otonomi daerah.
Ketika sudah tidak ada lagi daerah-daerah yang merasa diabaikan oleh pusat, terlebih ditindas baik secara ekonomi, politik, dan budaya, maka saya yakin, isu-isu separatisme akan dengan sendirinya tenggelam bersama kian menguatnya bangunan nasionalisme yang dapat dibanggakan. Dengan begitu, nasionalisme yang kita bela bukanlah nasionalisme hampa, tapi nasionalisme yang dalam kacamata bersama tetap mengandung harapan dan keyakinan untuk kehidupan yang lebih baik.
Salam untuk sadara-saudaraku yang di Aceh dan Papua!

Penulis adalah mahasiswa Hubungan Internasional
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
ahan_cakep@yahoo.com.au
Diposkan oleh Unknown di Thursday, May 23, 2013 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: GAYO NUSANTARA

Tagore Deklarasikan Sebagai Caleg PDIP

Serambinews.com
home / politik

Tagore Deklarasikan Sebagai Caleg PDIP

Kamis, 23 Mei 2013 14:03 WIB

Laporan Gunawan | Aceh Tengah

SERAMBINEWS.COM, TAKENGON
- Ir Tagore Abubakar yang mundur dari Partai Golkar akhirnya mendeklarasikan dirinya sebagai Caleg DPR-RI Daerah Pemilihan NAD 2 dari PDI Perjuangan dengan nomor urut 6.

Proses Deklarasi dilaksanakan Tagore, Kamis (23/5/2013) di Umah Reje Ilang, Belang Kolak II, Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Tawar Sedenge. Dihadiri Ketua PDIP Aceh Tengah Arwin Mega, Ketua PDIP Bener Meriah Guntara Yadi, Perwakilan PDIP serta ratusan simpatisan dari kedua wilayah itu. Nampak juga mantan sesepuh GAM Linggadinsyah yang saat ini sebagai caleg DPRA dari PNA.

Dalam sambutannya, Tagore juga membahas perjuangannya membesarkan Partai Golkar di dataran tinggi Gayo, namun akhirnya hengkang dari partai berlambang pohon beringin itu. Intinya, ia merasa kecewa kepada Partai Golkar.

"Deklarasi ini merupakan perintah dari PDIP Pusat. Saya berterima kasih kepada Ibu Mega yang mengerti situasi politik di Aceh sehingga mengakomodir saya. Saya bersumpah akan memperjuangkan aspirasi semua suku dari dapil saya. Bukan hanya untuk satu suku," katanya.(*)

Editor : jalimin
Diposkan oleh Unknown di Thursday, May 23, 2013 No comments:
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Gayo Politic
Newer Posts Older Posts Home
Subscribe to: Posts (Atom)

Edy Linethink.Jr

Unknown
View my complete profile

GAYO POST

  • Pantun Kata Sambutan & Penutup Sambutan
  • PANTUN(Protokol) ACARA AKAD NIKAH MELAYU BENGKALIS
  • BENCANA ALAM MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’AN
  • Gayokita
  • Adat-Istiadat dalam Pergaulan Orang Melayu
  • Vanuatu Negara Pertama Akui Kemerdekaan Aceh
  • HUBUNGAN RAHASIA INDONESIA DENGAN YAHUDI
  • Gayo Music
  • Kekuatan Material Peraturan Hukum Adat
  • Masakan Khas Melayu Riau

GAYO DALAM BERITA

  • Gayo Entertaiment (33)
  • GAYO HISTORY (125)
  • GAYO NUSANTARA (492)
  • Gayo Politic (124)
  • GAYO RELIGI (48)

GAYO RECENT COMMENT

GAYO RECENT COMMENT

GAYO ARSIP

  • ►  2013 (808)
    • ►  April (174)
      • ►  Apr 23 (10)
      • ►  Apr 24 (21)
      • ►  Apr 25 (34)
      • ►  Apr 26 (24)
      • ►  Apr 27 (23)
      • ►  Apr 28 (12)
      • ►  Apr 29 (18)
      • ►  Apr 30 (32)
    • ►  May (131)
      • ►  May 01 (18)
      • ►  May 03 (4)
      • ►  May 04 (1)
      • ►  May 05 (12)
      • ►  May 06 (5)
      • ►  May 07 (6)
      • ►  May 08 (15)
      • ►  May 09 (2)
      • ►  May 10 (5)
      • ►  May 12 (5)
      • ►  May 13 (7)
      • ►  May 14 (2)
      • ►  May 16 (12)
      • ►  May 17 (1)
      • ►  May 19 (6)
      • ►  May 23 (8)
      • ►  May 24 (4)
      • ►  May 25 (4)
      • ►  May 27 (3)
      • ►  May 28 (4)
      • ►  May 29 (3)
      • ►  May 30 (1)
      • ►  May 31 (3)
    • ►  June (48)
      • ►  Jun 01 (1)
      • ►  Jun 02 (1)
      • ►  Jun 03 (1)
      • ►  Jun 07 (2)
      • ►  Jun 08 (1)
      • ►  Jun 09 (1)
      • ►  Jun 10 (5)
      • ►  Jun 12 (1)
      • ►  Jun 14 (8)
      • ►  Jun 15 (1)
      • ►  Jun 18 (5)
      • ►  Jun 19 (1)
      • ►  Jun 20 (4)
      • ►  Jun 21 (8)
      • ►  Jun 25 (1)
      • ►  Jun 26 (7)
    • ►  July (195)
      • ►  Jul 05 (18)
      • ►  Jul 07 (4)
      • ►  Jul 08 (20)
      • ►  Jul 09 (14)
      • ►  Jul 10 (22)
      • ►  Jul 11 (13)
      • ►  Jul 13 (4)
      • ►  Jul 14 (50)
      • ►  Jul 15 (1)
      • ►  Jul 16 (5)
      • ►  Jul 18 (10)
      • ►  Jul 20 (5)
      • ►  Jul 21 (6)
      • ►  Jul 26 (1)
      • ►  Jul 28 (1)
      • ►  Jul 29 (7)
      • ►  Jul 30 (1)
      • ►  Jul 31 (13)
    • ►  August (2)
      • ►  Aug 02 (1)
      • ►  Aug 24 (1)
    • ►  September (11)
      • ►  Sep 09 (4)
      • ►  Sep 13 (4)
      • ►  Sep 14 (1)
      • ►  Sep 21 (1)
      • ►  Sep 30 (1)
    • ►  October (10)
      • ►  Oct 03 (1)
      • ►  Oct 04 (5)
      • ►  Oct 05 (1)
      • ►  Oct 10 (1)
      • ►  Oct 13 (1)
      • ►  Oct 22 (1)
    • ►  November (117)
      • ►  Nov 15 (7)
      • ►  Nov 17 (11)
      • ►  Nov 19 (8)
      • ►  Nov 20 (4)
      • ►  Nov 23 (22)
      • ►  Nov 24 (10)
      • ►  Nov 25 (4)
      • ►  Nov 26 (24)
      • ►  Nov 27 (6)
      • ►  Nov 28 (10)
      • ►  Nov 29 (10)
      • ►  Nov 30 (1)
    • ►  December (120)
      • ►  Dec 01 (11)
      • ►  Dec 02 (13)
      • ►  Dec 03 (14)
      • ►  Dec 04 (1)
      • ►  Dec 05 (3)
      • ►  Dec 08 (2)
      • ►  Dec 09 (5)
      • ►  Dec 10 (2)
      • ►  Dec 12 (1)
      • ►  Dec 14 (24)
      • ►  Dec 16 (5)
      • ►  Dec 17 (6)
      • ►  Dec 19 (20)
      • ►  Dec 21 (4)
      • ►  Dec 22 (1)
      • ►  Dec 29 (8)
  • ►  2014 (44)
    • ►  January (19)
      • ►  Jan 02 (1)
      • ►  Jan 05 (5)
      • ►  Jan 06 (4)
      • ►  Jan 11 (2)
      • ►  Jan 12 (6)
      • ►  Jan 15 (1)
    • ►  May (5)
      • ►  May 05 (2)
      • ►  May 17 (1)
      • ►  May 25 (2)
    • ►  August (5)
      • ►  Aug 19 (5)
    • ►  September (6)
      • ►  Sep 01 (1)
      • ►  Sep 02 (1)
      • ►  Sep 03 (1)
      • ►  Sep 05 (1)
      • ►  Sep 29 (2)
    • ►  October (9)
      • ►  Oct 07 (2)
      • ►  Oct 28 (7)
  • ▼  2015 (1)
    • ▼  February (1)
      • ▼  Feb 22 (1)
        • http://lingepost.com/
GAYO Nusantara. Simple theme. Powered by Blogger.