Search This Blog

Wednesday, July 10, 2013

Satu Desa Pengungsi Gempa Aceh Direlokasi

Satu Desa Pengungsi Gempa Aceh Direlokasi

Satu Desa Pengungsi Gempa Aceh Direlokasi
Warga mengevakuasi barang-barang yang dapat diselamatkan dari reruntuhan rumahnya di Bener Meriah, Aceh (3/7). Tentara, polisi dan relawan dikerahkan untuk membantu evakuasi korban gempa. (AP Photo/Binsar Bakkara)
TEMPO.CO, Bener Meriah-Menjelang kedatangan Presiden Susilo Bambang Yodhoyono Enam ratus empat orang pengungsi atau 146 kepala keluarga pengungsi gempa desa Bah direlokasi ke areal Polsek kecamatan Ketol Kabupaten Aceh Tengah. Relokasi tersebut dilakukan karena desa dianggap masih rawan ditempati karena gunung retak dan sering terjadi gempa susulan.

"Situasi kampung kami tanah retak, kami tinggal dibawah gunung, tiap hari ada gempa susulan, lonsor, kami khawatir," ujar Rahmadsyah kepala desa Bah, Senin 8 Juli 2013. Namun informasi yang didapatkan TEMPO, sejumlah warga merasa heran dengan pemindahan tiba-tiba tersebut.

Tadi sore sekitar pukul 17:00 Wib para pengungsi desa Bah membawa semua peralatan masak dan pakaian, mereka dijemput dengan menggunakan truk reo TNI. Sesampai di lokasi kamp pengungsian di areal kantor Polsek ketol, ada pengungsi yang terlihat meneteskan air mata. "Kami heran dengan dipindah tiba-tiba, terus ada yang sedang sakit lagi," kata seorang warga kepada tempo di lokasi pengungsian baru.

Desa Bah merupakan desa kedua terparah setelah Serampah yang sebagian desanya lonsor . di Desa Bah sebanyak 146 rumah penduduk tidak bisa ditempati, sarana ibadah juga ikut, SDN juga bernasib sama. Meninggal tertimbun lonsor 5 orang. Dan jalan menuju kesana lonsor dan retak-retak.

Besok presiden SBY bersama rombongan direncanakan akan mengunjungi lokasi posko pengungsian korban gempa di Desa Rejewali, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Selain itu, SBY dan rombongan juga direncanakan akan melihat salah satu desa terparah dampak gempa, yakni Desa Serempah. Dan bila cuaca baik akan langsung kembali ke Jakarta, namun jika cuaca buruk akan menginap di Guest House PT. Arun Lhokseumawe.

IMRAN MA

SBY: Gempa Aceh Ditangani dengan Baik

SBY: Gempa Aceh Ditangani dengan Baik

SBY: Gempa Aceh Ditangani dengan Baik
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menghadiri Peringatan HUT Bhayangkara ke-67 di lapangan upacara Marko Brimob Kelapa Dua, Depok,Jawa Barat (1/7). TEMPO/Dian Triyuli Handoko

TEMPO.CO, JakartaPresiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai proses rehabilitasi dan rekonstruksi setelah gempa di Aceh Tengah lebih cepat dan lebih baik dibanding penanganan gempa di Aceh sebelumnya. Berdasarkan komunikasi langsung dengan pimpinan satuan tugas penanganan bencana gempa bumi di Aceh Tengah, SBY melihat langkah-langkah pascatanggap darurat gempa yang terjadi Selasa pekan lalu terus dilakukan.


Presiden SBY menyambung kunjungannya ke Aceh untuk memastikan semua upaya yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah berjalan dengan baik. "Insya Allah saya juga besok (Selasa) akan berangkat ke Aceh," kata SBY, saat membuka rapat kabinet paripurna persiapan menjelang Ramadan dan Idul Fitri, penanganan gempa Aceh dan kabut asap di kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin, 8 Juli 2013.

Adapun rapat kabinet ini juga ditujukan SBY untuk mendapatkan laporan dari Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono, ihwal penanganan kebakaran ladang dan hutan di Riau. "Saya ingin mendengar apa yang tengah dan akan dilakukan," ujar dia.

Ia mengatakan perkembangan upaya penanganan kebakaran yang mengakibatkan kabut asap di negara tetangga ini cukup baik dalam tempo dua minggu. "Hampir semua tempat sudah normal dan pulih," ucap SBY.

Dua kabupaten di Aceh diluluhlantakkan oleh gempa berkekuatan 6,2 Skala Richter pada 2 Juli lalu. Saat ini Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah sedang mengalami kesulitan menangani kebutuhan air bersih untuk 48.562 jiwa pengungsi. Selain masalah air, para pengungsi juga mengharapkan kedatangan SBY bisa membantu dibangun kembalinya tempat tinggal yang rusak akibat gempa.

PRIHANDOKO

SBY: Material Murah untuk Korban Gempa Aceh

SBY: Material Murah untuk Korban Gempa Aceh

SBY: Material Murah untuk Korban Gempa Aceh
Tim gabungan Basarnas, TNI, Polri dan relawan yang dibantu anjing pelacak dan alat berat mencari enam warga yang tertimbun longsor akibat gempa di Desa Serempah, Kec. Ketol, Kab. Aceh Tengah, Aceh, Senin (8/7). ANTARA/Irwansyah Putra

TEMPO.CO, Bener Meriah - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan membantu membangun rumah korban gempa Aceh yang roboh dan rusak akibat gempa 6,2 Skala Richter pada 2 Juli 2013 lalu. Korban akan dibantu dengan penjualan material bangunan murah.

"Kita tahu bahwa saat ini rumah saudara kita tidak bisa dihuni lagi. Maka kami datang untuk membantu berdasarkan keputusan kemarin. Nanti juga ada penjualan bangunan yang relatif murah. Insya Allah itu akan membantu mereka membangun kembali rumahnya," ujar SBY saat berkunjung ke korban gempa di Bener Meriah, Aceh, Selasa, 9 Juli 2013.

Menurut Presiden, alokasi dana untuk membangun kembali rumah korban yang luluh-lantak akibat gempa Aceh akan berbeda, tergantung dari kerusakannya. Untuk rumah dengan rusak ringan alokasi dananya adalah Rp 10 juta, rusak sedang Rp 20 juta, dan rusak berat Rp 40 juta.

Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan total rumah yang rusak akibat gempa Aceh adalah 13.862 unit dengan 5.516 rusak berat, 2.750 rusak sedang, dan 5.596 rusak ringan. Sedangkan fasilitas umum yang rusak ada 547 unit, seperti puskesmas, sekolah (TK, SD, SMP, SMA), masjid, musala, dan kantor pemerintahan.

Gempa Aceh terjadi di Bener Meriah dan Aceh Tengah itu juga telah menyebabkan korban jiwa 39 orang. Dari jumlah itu, masing-masing di Kabupaten Bener Meriah delapan orang dan Aceh Tengah 31 orang. Sebanyak enam orang masih dinyatakan hilang.

Gempa juga menyebabkan sejumlah daerah mengalami dampak langsung gempa. Di Kabupaten Aceh Tengah sebanyak 232 desa dari 352 desa mengalami dampak langsung gempa.

Di Kabupaten Bener Meriah, sebanyak delapam desa dari 233 desa mengalami dampak langsung gempa. Di desa-desa tersebut terdapat sembilan orang meninggal, 23 orang luka berat masih dirawat, dan pengungsi dari desa tersebut terdapat 2.265 orang.

IMRAN MA

Suasana Tarawih Pertama di Aceh


Rabu
10
Jul
2013

Suasana Tarawih Pertama di Aceh

Suasana Tarawih Pertama di Aceh
Sejumlah umat muslim korban gempa melaksanakan ibadah salat Tarawih pada malam pertama Ramadan di tenda darurat lokasi pengungsian Kute Glime, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Selasa (9/7). ANTARA/Rahmad

Tarawih, Jamaah Aceh Diajak Doakan Korban Gempa

Tarawih, Jamaah Aceh Diajak Doakan Korban Gempa

Selasa, 09 Juli 2013 | 23:46 WIB
Tarawih, Jamaah Aceh Diajak Doakan Korban Gempa
Reruntuhan masjid yang hancur akibat gempa 6,2 SR di Lampahan Timur, Aceh Tengah Provinsi Aceh (3/7). Diduga ada beberapa korban yang tertimbun puing masjid ini. ANTARA/Rahmad
TEMPO.CO, Banda Aceh--Tarawih malam pertama di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Selasa 9 Juli 2013, penceramah mengajak semua jamaah untuk mendoakan korban gempa di Aceh Tengah dan Bener Meriah.

"Malam ini mari mendoakan saudara kita di Aceh Tengah dan Bener Meriah, yang dicoba dengan bencana gempa," kata Prof Tgk Azman Ismail, Imam Besar Masjid terbesar di Aceh itu, dalam tausyiah tarawih.

"Supaya kehidupan mereka cepat normal kembali," sambungnya. Azman juga mengingatkan jamaah agar senantiasa memperbanyak ibadah di bulan suci ramadan. Banyak hikmah yang dapat diambil dari berpuasa, seperti disiplin akan waktu, misalnya kapan sahur dan berbuka yang rutin dijalani saat ibadah puasa.

Jamaah tarawih di masjid berlapasitas 13 ribu jamaah tersebut membludak. Sebagian jamaah terpaksa menggelar sajadah di luar masjid, kendati hujan gerimis turun membasahi kota Banda Aceh.

Suasana di Kota Banda Aceh sepi saat pelaksaan salat isya dan tarawih. Jalanan lenggang, pertokoaan dan warung-warung juga ditutup sampai jamaah pulang sekitar pukul 22.00 WIB.

ADI WARSIDI

Pengungsi Gempa Aceh Menangis di Pangkuan SBY

Pengungsi Gempa Aceh Menangis di Pangkuan SBY

Pengungsi Gempa Aceh Menangis di Pangkuan SBY
Tim gabungan Basarnas, TNI, Polri dan relawan yang dibantu anjing pelacak dan alat berat mencari enam warga yang tertimbun longsor akibat gempa di Desa Serempah, Kec. Ketol, Kab. Aceh Tengah, Aceh,

Senin (8/7). ANTARA/Irwansyah Putra
TEMPO.CO, Jakarta - Kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke kamp pengungsian gempa Aceh  di Desa Kute Geulime, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, pada Selasa, 9 Juli 2013, diwarnai isak tangis. Pengungsi minta SBY untuk menemukan enam anggota keluarga mereka yang diduga masih tertimbun longsor.

Nuraini, 45 tahun, pengungsi korban gempa Aceh dari Desa Serampah, langsung menangis di pangkuan SBY ketika Presiden masuk ke kamp pengungsian. Dia meminta suaminya, M. Jalil, 49 tahun, dan anak bungsunya, Ali Hashimi, 11 tahun, yang hingga kini hilang bisa segera ditemukan.

Pada kesempatan bertemu pengungsi tersebut, SBY mengatakan tim SAR akan berusaha mencari semua korban yang masih hilang. SBY lalu bertemu dengan sejumlah anak pengungsi. SBY bersama istrinya, Ani Yudhoyono, kemudian menghibur pengungsi dengan menyerukan yel-yel, "SBY punya siapa, Sby punya, siapa,...punya Indonesia."

SBY mendarat di helipad Desa Rajawali, kecamatan setempat, pukul 09.47 WIB. Kemudian dia menuju posko tanggap bencana Polda Aceh. SBY lalu mendapat penjelasan tentang proses penanganan bencana gempa di Bener Meriah dan Aceh Tengah. Tidak lama di sana, SBY langsung menuju kamp pengungsian.

Dan, sekitar 30 menit di kamp pengungsian, SBY dan rombongan kembali lagi dengan menggunakan heli Super Puma menuju Bandara Malikussaleh, Lhokseumawe.

IMRAN MA

Lembaga Mahasiswa Kesehatan Indonesia Buka Puasa Bersama Pengungsi Gempa


 Lembaga Mahasiswa Kesehatan Indonesia Buka Puasa Bersama Pengungsi Gempa

Lembaga Mahasiswa Kesehatan Indonesia Buka Puasa Bersama Pengungsi Gempa

Rizki Wan Okta Bina menyerahkan bantuan kepada perwakilan pengungsi.(LGco-Istimewa)
Rizki Wan Okta Bina menyerahkan bantuan kepada perwakilan pengungsi.(LGco-Istimewa)
Bener Meriah-LintasGayo: Perwakilan lembaga mahasiswa kesehatan Indonesia yang tergabung dalam “Koalisi Lembaga Mahasiswa Kesehatan Indonesia untuk Masyarakat Gayo”  yang terdiri dari PSMKGI (Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia), ILMIKI (Ikatan Lembaga Mahasiswa Keperawatan Indonesia).
Lalu, ILMPI (Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia) yang juga mewakili Himpunan Mahasiswa Kedokterann Gigi Unsyiah, Himpunan Mahasiswa Keperawatan Unsyiah dan juga Himpunan Mahasiswa Psikologi Unsyiah melakasanakan kegiatan buka puasa bersama dengan korban bencana gempa Aceh di Desa Kulamparakanis Kabupaten Bener Meriah.
Menurut Rizki Wan Okta Bina, salah seorang perwakilan mahasiswa tersebut mengatakan, kegiatan buka puasa bersama sekaligus penyerahan bantuan berupa alat tulis dan Al-Quran ini dilaksanakan mulai pukul 16.30 WIB terdiri dari beberapa rangkaian acara, diantaranya adalah nontan bersama film inspiratif “5 elang”.
“Ada juga beberapa permainan yang di berikan oleh beberapa mahasiswa kepada adik-adik di tenda pengungsian,” ujar Rizki dalam kegiatan amal kemanusiaan tersebut, Rabu (10/7/2013).
Para pengungsi buka puasa bersama dengan para koalisi mahasiswa kesehatan.(LGco-Rizki wan Okta Bina)
Para pengungsi buka puasa bersama dengan para koalisi mahasiswa kesehatan.(LGco-Rizki wan Okta Bina)
Dikatakan, kegiatan nonton bareng disertai dengan beberapa permainan ini dilakukan untuk mengalihkan perhatian serta kebosanan adik-adik agar tidak merasa bosan dan juga terlalu larut meikirkan bencana yang menimpa mereka.
Kegiatan buka puasa bersama ini diikuti oleh seluruh pengungsi di kamp pengungsian Desa Kulamparakanis yang berjumlah kurang lebih 150 orang. Kegiatan ini juga diramaikan dengan kehadiran perwakilan duta wisata Kabupaten Bener Meriah yang tergabung dalam Ikatan Beru Bujang Gayo Bener Meriah.(rilis)

Gayo Ku, Ramadhan Mu (dalam) Dekapan Luka


Gayo Ku, Ramadhan Mu (dalam) Dekapan Luka

Gayo Ku, Ramadhan Mu (dalam) Dekapan Luka

ramadhan 

MARHABAN ya Ramadhan…
Tidak terasa bulan Ramadhan kembali datang. Bahkan dikampung kelahiran saya Kabupaten Gayo Lues atau banyak orang menyebutnya dengan sebutan “Negeri Seribu Bukit”, sebagaian dari beberapa wilayah bagian timur seperti beberapa desa di Kecamatan Pining, Kecamatan Dabun Gelang sudah melaksanakan meugang hari ini, Senin 8 Juli 2013.
Sedangkan wilayah yang lain termasuk pusat Kota Blangkejeren sendiri menurut kabar disampaikan oleh keluarga saya, baru akan meugang besok, Selasa 9 Juli 2013. Hanya saja, meugang dan ramadhan kali ini, kita masih berduka.
Pada 2 Juli lalu, bumi Gayo, khususnya Aceh Tengah dan Bener Meriah diamuk gempa. Sedikitnya 40 orang meninggal dunia, puluhan ribu orang mengungsi, ratusan masjid dan meunasah rubuh.
Pada hari Meugang ini, saudara-saudara kita terpaksa merayakan meugang di kamp-kamp pengungsian. Mereka pasti bersyukur, karena masih dipertemukan dengan bulan yang mulia ini, namun ada juga saudara kita yang harus rela dan iklas, karena tak bisa lagi bertemu dengan ramadhan.
Meugang dalam kebiasaan masyarakat di Gayo khususnya di Gayo Lues para Ibu-ibu beserta anak perempuannya sejak pagi nampak disibukkan dengan berbelanja berbagai keperluan untuk memasak bermacam lauk dan kue tradisional Gayo. Seperti sup daging, apam, lepat, gutel, kemang loyang, dan lain-lain.
Dan setelah semua itu siap disajikan, satu keluarga atau bahkan beserta keluarga besar lainnya akan berkumpul bersama untuk menikmati masakan sang Ibu. Tapi sebelumnya Ayah sebagai kepala keluarga terlebih dahulu membacakan do’a-do’a syukur atas masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk mengikuti puasa tahun ini.
Biasanya, di Gayo Lues, setiap pada awal bulan puasa, suasana pagi hingga siang di Gayo Lues bahkan dipusat kota sendiri, Blangkejeren kerap sepi. Itu akan terjadi hingga 3-4 hari. Kecuali malamnya, para masyarakat akan terlihat ramai untuk melakukan shalat tarawih berjema’ah di masjid-masjid.
Namun selanjutnya, akitivitas masyarakat akan terlihat kembali seperti biasa. Bahkan lebih ramai, sebab, sejak pukul 4 sore, pada pedagang sudah sibuk mempersiapkan jajanan untuk berbuka, begitu juga dengan masyarakat khususnya para muda-mudi nampak sibuk keliling bersama teman-teman dan keluarga sambilan memilih jajanan untuk berbuka.
Selain itu, sama dengan daerah lain, pada bulan ramadhan Gayo Lues akan nampak lebih ramai dari biasannya. Wajar saja, selain karena semua mahasiswa yang merantau banyak yang pulang. begitu juga dengan warung-warung atau cafe-cafe yang ada di Gayo Lues jika di bulan ramadhan biasanya pengunjung akan bertambah. Sebab, banyak para pelajar, mahasiswa, bahkan para pemuda dan orang tua yang alumni yang memanfaatkan momen buka bersama untuk bertemu kawan-kawan lama.
Suasana itu, mungkin akan sulit dilihat di kamp-kamp pengusian para saudara-saudara kita korban gempa. Namun yang pasti, semua kenhendak Allah ini, ada hikmahnya. Pasti Allah sudah punya rencana terindah buat masyarakat Gayo.
Meski ramadhan di nenggri Gayo ku dalam dekapan luka, aku masih tetap berdoa untuk mu, agar kita semua bisa bangkit. Insya Allah. Marhaban ya Ramadhan.(Supri Ariu)

Dibalik Gempa (Gayo) Aceh Tengah-Bener Meriah



 Dibalik Gempa (Gayo) Aceh Tengah-Bener Meriah

Dibalik Gempa (Gayo) Aceh Tengah-Bener Meriah

Oleh: Susilawati*
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah sangat mudah bagi Allah.” (QS. 57: 22)
Desa Serempah pascagempa.(LGco-Susilawati)
Desa Serempah pascagempa.(LGco-Susilawati)
SELASA, 02 Juli 2013 pukul 14. 37 WIB , gempa bumi yang berkekuatan 6, 2 pada Skala Richter (SR) mengguncang dataran tinggi “Tanah Gayo” Aceh Tengah dan Bener Meriah, Provinsi Aceh. Gempa yang juga diiringi susulan pada pukul 20.55 WIB ini mengakibatkan ribuan rumah rusak, puluhan orang meninggal, dan ratusan orang luka- luka.(Antarnews)
Kepala Pusat data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, gempa berasal dari sesar aktif di daratan yang dikenal sebagai sesar Sumatera atau sesar Semangko. Sesar inilah yang memiliki 19 segmen dan membentang sejauh 1.900 Km dari Aceh hingga Lampung, melewati Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Bengkulu. (National Geographic Indonesia).
Merujuk kembali pada firman- Nya di atas, semua terjadi atas kehendak-Nya. Ilmu manusia memang telah mampu menelusuri penyebab segala kejadian di bumi. Akan tetapi, itulah ayat Kauniyah Allah, gempa bumi, angin, badai, panas, hujan, sebagai ujian, cobaan, teguran tentang apa- apa yang telah diperbuat di bumi- Nya ini, ayat ini sangat bermanfaat bagi orang- orang yang mau berpikir, yang tatkala ayat Qur’ aniyah-Nya tak lagi menjadi bendungan, juga pedoman, hingga Allah tunjuki dengan ayat Kauniyah-Nya, berbicara dengan ciptaan- ciptaan-Nya.
Sebagaimana ayat tersebut di atas, bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan atas kehendak Allah, yang memang telah tertulis di dalam kitab- Nya Lauhul Mahfuzh. Setiap apapun yang terjadi meski dalam hal individu sudah terdefinisi atas kehendak Allah. Bukan suatu kemungkinan tatkala ALLAH masih memberikan kesempatan bagi sebagian manusia untuk membenahi diri dengan menimpakan bencana kepadanya. Merujuk pada firman-Nya:
“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi”. (QS. An- Nisa: 79)
Penulis yang memang berdomisili di Tanah Gayo, tepatnya Bener Meriah, berkebetulan berstudy di Sumatera Utara, benar- benar telah merasakan gempa yang melanda Tanah Gayo tempat saya menetap ini. Yaa,,segala sesuatu yang terjadi memang atas kehendak Allah. Sehari sebelum gempa bumi melanda, saya telah beranjak menuju kampung halaman, hingga tepat pada Selasa (2/7/2013) itu saya juga ikut merasakan guncangannya.
Keberadaan saya di tanah kelahiran merupakan suatu rahmat bagi saya, dikarenakan keikutsertaan merasakan gempa bersama orang tua dan keluarga. Mungkin saja keberadaan saya di kampung halaman menyematkan kecemasan kepada keluarga yang tertimpa gempa saat berada di tanah rantauan. Benar, semuanya atas kehendak Allah.
Dahulu, di zaman Para Rasul, Allah pernah menimpakan bencana pada kaum Madyan, yakni kaumnya Nabi Syu’aib. Lantaran ketika berdakwah, Nabi Syu’aib menerima ejekan masyarakat yang tidak mau menerima ajarannya, karena mereka enggan meningggalkan sesembahan yang diwariskan dari nenek moyang kepada mereka. Nabi Syu’aib mengerti bahwa kaumnya telah ditutup hatinya. Ia berdoa kepada Allah agar diturunkan azab pada kaum Madyan. Allah mengabulkan doa Nabi Syu’aib dan menimpakan azab melalui beberapa tahap.A (8)
Kaum Madyan pada awalnya diberi siksa Allah melalui udara panas yang membakar kulit dan membuat dahaga. Saat itu, pohon dan bangunan tidak cukup untuk tempat berteduh mereka. Namun, Allah memberikan gumpalan awan gelap untuk kaum Madyan. Kaum Madyan pun menghampiri awan itu untuk berteduh sehingga mereka berdesak- desakan di bawah awan itu. Hingga semua penduduk terkumpul, Allah menurunkan petir dengan suaranya yang keras di atas mereka. Saat itu juga Allah menimpakan gempa bumi bagi mereka., menghancurkan kota dan Kaum Madyan.
Seminggu berlalu, berkisar hanya 15 detik saja Allah menghentakkan tangan-Nya, meluluh lantahkan tempat tinggal saudara kita di sana. Ya, memang Allah lah yang berkuasa. Tentunya tidak mensinergiskan bencana ini dengan bencana yang menimpa kaum Madyan di atas yang memang tergolong kaum yang notabene memiliki hati yang kian tertutup dengan kebenaran. Namun, berkaca pada apa yang telah menimpa mereka adalah cara kita dalam berbenah diri, melihat apa yang sedang menimpa kita saat ini.
Ini merupakan ujian yang Allah beri, bukankan setiap ujian dan cobaan yang diturunkan Allah terdapat beribu hikmah? Semoga ini menjadi alat untuk terus mengintrospeksi diri, berbenah diri menjadi hamba yang benar-benar hamba yang menjalankan perintah-Nya. Jangan salahkan orang lain, tapi salahkan diri sendiri, sudahkah merasa dekat dengan sang Pemilik Bumi? Menjalankan apa yang diwajibkan? Merasa semua yang terjadi pada diri adalah atas kehendak-Nya? Membuktikan bahwa label Aceh sebagai “Serambi Mekah” adalah benar? Sungguh memang hanya Allah yang mengetahui segala isi hati hamba-Nya.
Sekali lagi jangan salahkan orang lain, tapi diri sendiri, termasuk juga saya sendiri. Kini giliran mereka yang tertimpa, bukan mustahil esok atau nanti giliran kita yang akan tertimpa, karena sekali lagi, Allah lah yang menghendaki, sebagai pencipta dan pemilik bumi ini.
Allahummagfirlahu, semoga Allah mengampuni saudara yang telah wafat dalam bencana ini, juga sabar mengarungi hidup bagi saudara yang ditinggal pergi.  Aamiin..Wallahualam..(susilawati391@ymail.com)
*Pengurus Himpunan Mahasiswa Bener Meriah- Sumatera Utara (HIMABEM- SU)/Pengurus Komisariat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) UISU, Medan

Gubernur dan Wagub Aceh Kebanyakan Basa-Basi

Gubernur dan Wagub Aceh Kebanyakan Basa-Basi

suaraleuserantara July 10, 2013 
Kunjungan Gubernur Aceh ke lokasi bencana di Desa Belang Mancung.(Foto: Suara Leuser Antara)
Kunjungan Gubernur Aceh ke lokasi bencana di Desa Belang Mancung.(Foto: Suara Leuser Antara)
TAKENGEN |SuaraLeuserAntara| Toko muda Gayo menilai, Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan Wagub Muzakir Manaf terlalu banyak basa-basi saat meyikapi bencana gempa di Dataran Tinggi Gayo.
“ Mereka berkunjung, melihat lokasi bencana dan korban hanya sekedar basa-basi dan formalitas. Tidak kelihatan bermakna dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat .” Demikian singgung Zam-zam Mubarak, Rabu (10/7/2013).
Tokoh muda Gayo ini juga mempertanyakan, janji gubernur yang mengatakan akan berkantor di daerah musibah bencana. Namun kenyataannya menurut Zam-zam semua basa-basi belaka.
“ Bahkan yang lebih aneh lagi, Gubernur baru menetapkan status darurat bencana gempa gayo pada tanggal 7 Juli 2013. Padahal gempa sudah terjadi sejak 2 Juli 2013 ,” pungkas Zam-zam.
Sebelumnya, seperti yang telah diberitakan oleh media Serambi Indonesi, Gubernur Aceh dr H Zaini Abdullah menyatakan akan berkantor di lokasi bencana gempa bumi yang memorakporandakan Tanah Gayo, Selasa (2/7) lalu.
Kebijakan ini diambil untuk memudahkan koordinasi penanganan pascabencana di kawasan tersebut.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Aceh Zaini Abdullah melalui siaran pers yang dikirim Humas Pemerintah Aceh.
Siang kemarin, Gubernur melakukan pertemuan dengan Menkokesra Agung Laksono untuk membahas langkah-langkah penanganan pascabencana di Tanah Gayo.
Dalam kaitan itu, Minggu besok (7/7), Gubernur akan menetapkan status darurat bencana gempa Gayo. Keputusan ini akan ditandatangani Gubernur Aceh dan kemudian mengumumkannya ke publik.
“ Gubernur dipastikan akan menetapkan bencara gempa Tanah Gayo menjadi darurat skala Aceh, karena setelah Doto Zaini meninjau langsung pada hari kedua bencana, tercatat cakupan bencananya dinilai lebih luas,” kata Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh H Nurdin F Joes.(tim SLA/serambi indonesia)

Pengungsi Minta Agar Rumahnya Segera Diperbaiki

Pengungsi Minta Agar Rumahnya Segera Diperbaiki

suaraleuserantara July 10, 2013 
Ibu-ibu para pengungsi dari Desa Serempah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Mereka berharap agar rumahnya segera dibangun.(Foto: Suara Leuser Antara)
Ibu-ibu para pengungsi dari Desa Serempah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah. Mereka berharap agar rumahnya segera dibangun.(Foto: Suara Leuser Antara)
TAKENGEN |SuaraLeuserAntara| Kondisi korban Gempa di tanah Gayo masih tetap memprihatinkan, mereka masih terus berada di tenda pengungsi pasca kunjungan SBY kemarin.
Namun semua sarana sudah tersedia, walaupun serba keterbatasan, shalat terawih mengawali bulan suci Ramadhan terpaksa di laksanakan di tenda. Tampak masyarakat tetap antusias mengikuti shalat tarawih dengan perlengkapan seadanya.
Pasca kunjungan SBY, tim SLA, Kamis (10/7/2013), mencoba berkunjung ke barak pengungsi, di tenda No 4 posko pengungsian Desa Kute Gelime Kec Ketol.
Posko yang pimpinannya Rahmadinsyah tersebut di huni oleh 72 orang (19 kk) diantaranya 33 anak-anak dan 1 bayi, serta 18 orang laki – laki dewasa dan 23 orang perempuan dewasa, semuanya pengungsi yang berasal dari Kp Serempah.
Tampak kelompok ibu-ibu sedang menggendong anaknya, SLA memberanikan diri mendekat untuk menanyakan keluh kesah mereka ,‘’ Hendaknyar, umah kami yang rusak cepat di bangun pak, kami dari Desa serempah, tidak ada rumah yang utuh di sana, semua rusak. Karena di daerah itu yang paling parah ,” sebut Saidah dengan nada terbata-bata.
Amatan SLA, kampung Serempah adalah salah satu Kp yang akan di relokasi pemerintah, namun yang jelas masyarakat meminta tempat yang aman dan tidak lagi membahayakan jika musibah gempa kembali terjadi. (edo )

Kepala BNPB: Tidak Mudah Mencairkan Uang Negara

Kepala BNPB: Tidak Mudah Mencairkan Uang Negara

suaraleuserantara July 10, 2013 0
DR. Syamsul Maarif M.Si Kepala BNPB (Foto: Suara Leuser Antara)
DR. Syamsul Maarif M.Si Kepala BNPB (Foto: Suara Leuser Antara)
TAKENGEN |SuaraLeuserAntara]. Kalau diibaratkan, anggaran untuk bencana korban Gempa di Gayo ada disebuah danau. Maka, hari ini juga saya ambil uang tersebut dan saya serahkan kepada masyarakat ungkap kepala BNPB Syamsul Maarif dalam jumpa pers di lapangan sekdakab Aceh Tengah, Rabu (10/72013).
Menurut Syamsul pengambilan anggaran di negara kita tentu harus mengikuti prosudur, dari pembahasan diteruskan ke badan anggaran, departemen keungan yang kesemuanya butuh waktu ,” yang pasti jika anggaran itu berada pada kita, pasti akan segera diserahkan ke masyarakat ,” janji Samsul Maarif.
“ Kita tidak mau mengambil duit sembarangan, karena kita tidak ingin bermasalah dengan KPK ”. Tegas Syamsul Maarif.
Dalam masa darurat BNPB telah memberikan bantuan dana siap pakai untuk masing-masing kabupaten sebesar Rp 250.000.000. Dan bantuan logistik serta peralatan berupa tenda keluarga 25 unit, tenda pengungsi 4 unit tenda pengungsi paying 4 unit, tenda dapur umum 3 unit, selimut 5.000 lembar (BsG).

Mendagri: Gempa Aceh Mampu Ditangani Pemda Setempat

Mendagri: Gempa Aceh Mampu Ditangani Pemda Setempat

suaraleuserantara July 10, 2013 
Gamawan Fauzi - Mendagri
Gamawan Fauzi – Mendagri
Jakarta - Menteri Dalam Negeri (mendagri) Gamawan Fauzi menilai, skala gempa Aceh yang terjadi kemarin tidak sebesar gempa Padang yang terjadi beberapa waktu lalu. Oleh karena itu, kapasitas pemerintah daerah (pemda) dinilainya cukup menangani namun tetap mendapat bantuan dari Pusat.
“Tidak sebesar padang 2007 dan 2009, itu ribuan korbannya. Saya kira ini bisa ditangani oleh pemda yang kemudian nasional membantu,” kata Gamawan di Jakarta, Rabu petang (3/7).
Namun penanganan gempa kata dia akan terus dipantau pemerintah termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga sudah memberikan laporan kepada presiden.
“Ya tentu pertama, daerah yang terisolasi karena mereka perlu alat berat, yang luka, meninggal akan segera ditangani dan pemda mengambil langkah-langkah itu,” kata dia lagi mengenai penanganan gempa.
“Skalanya masih skala daerah,” tutup Gamawan.|berita1|

Dua Hari Kunjungi Korban Gempa Aceh, Presiden SBY Kembali ke Jakarta

SEKRETARIAT KABINET RI

Rabu, 10 Juli 2013 - 10:28 WIB

Dua Hari Kunjungi Korban Gempa Aceh, Presiden SBY Kembali ke Jakarta

Oleh : DESK INFORMASI
- Dibaca: 126 kali




Setelah meninjau korban gempa di  Aceh Tengah dan Bener Meriah, dan menginap di Wisma PT Arun,  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) didampingi Ibu Negara Hj. Ani Yudhoyono., Rabu (10/7) sekitar pukul 09.00 WIB, bertolak kembali ke Jakarta dengan Pesawat Kepresidenan dari Bandara Malikussaleh, Lhokseumawe, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Mengakhiri rangkaian kunjungan kerjanya, Presiden didampingi oleh beberapa Menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II di antaranya Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Kesra Agung Laksono, Mensesneg, Sudi Silalahi,  Menteri PU Djoko Kirmanto, Mensos Salim Segaf Aljufri, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kapolri Jendral Timur Pradopo, dan Kepala BIN Marciano Norman.

Presiden dilepas oleh Gubernur Provinsi Aceh, Pangdam Iskandar Muda, Kapolda Provinsi Aceh, Wali kota Lhokseumawe, dan jajaran pemerintahan Provinsi Aceh dan Kota Lhokseumawe. Presiden mengadakan kunjungan selama 2 (hari) untuk meninjau lokasi gempa serta memberikan dukungan baik moril maupun materiil kepada para korban Gempa di Tanah Rencong.

Presiden memberikan perhatian secara khusus terkait penanganan korban gempa dalam program tanggap darurat ini, dan berdialog dengan korban gempa di Posko bencana Polda Aceh di Kampung (desa) Genting Bulen Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.
Kepada para korban yang menempati lokasi pengungsian, Presiden SBY berpesan agar para korban tetap tabah dan sabar dalam menghadapi musibah gempa yang terjadi pada Selasa (2/7) lalu.
Presiden mengaku telah menginstruksikan kepada Badan SAR, TNI dan Polri untuk terus mencari korban yang diperkirakan masih tertimbun longsoran di Aceh Tengah.

"Saya sudah perintahkan agar terus dilakukan pencaharian korban yang tertimbun longsor. Namun jika Allah berkehendak lain maka kita juga harus sabar dan tabah dalam menghadapi ujian ini," kata Kepala Negara.
Dalam kesempatan mengunjungi para korban gempat di Aceh itu, Presiden dan Ibu Negara Ani Yudhoyono juga memberikan bantuan dalam bentuk bahan pangan, selimut, dan bahan bangunan.
Selain mengunjungi para korban gempa, Presiden SBY dan rombongan yang menginap semalam, melaksanakan salat Taraweh di Masjid Istiqomah, kompleks LNG Arun, Lhok Sumawe.

(EN/Is/Dm/ES)

Copyright © 2012 - 2013 Sekretariat Kabinet RI. All rights reserved.

Presiden: Aceh Sudah Damai dan Aman, Jangan Sia-Siakan Anugerah Allah Ini

  SEKRETARIAT KABINET RI

Rabu, 10 Juli 2013 - 05:09 WIB

Presiden: Aceh Sudah Damai dan Aman, Jangan Sia-Siakan Anugerah Allah Ini

Oleh : DESK INFORMASI
- Dibaca: 224 kali




Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengajak rakyat Aceh untuk tidak pernah berhenti bersyukur karena Aceh yang dicintainya telah menjadi tanah yang damai. Dengan keamanan dan kedamaian yang ini, semua elemen masyarakat bisa meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat Aceh. Sesuatu yang diidam-idamkan oleh semua pihak.
“Kita pernah memiliki hari-hari yang tidak menyenangkan, ketika konflik masih terjadi di bumi Aceh ini,” kata Presiden SBY ketika memberikan tausiah di depan jamaah salah Taraweh di Masjid Istiqamah PT Arun, Batuphat, Lhokseumawe, Selasa  (9/7) malam.
Presiden mengisahkan dirinya masih ingat mulai dari tahun 2000 hingga 2005, baik sebagai menteri yang kemudian sebagai Presiden. Tidak terhitung berapa kali banyak dirinya datang ke seluruh Aceh, dari kabupaten ke kabupaten, kota ke kota untuk mencari solusi yang damai dan bermartabat atas konflik Aceh yang telah berlangsung begitu lama waktu itu.
“Tidak mudah, banyak tantangan dan rintangan. Tapi Allah Maha Besar, atas kerja keras kita semua bersatunya hati kita semua, akhirnya konflik dapat kita akhiri. Konflik itu menjadi bagian masa lalu kita yang harus dipetik pelajarannya,” tutur Kepala Negara.
Kini dengan Aceh yang sudah aman dan damai, Kepala Negara meminta jangan disia-siakan. Ia mengajak semua komponen masyarakat untuk membangun dengan menggerakan perekonomian, meningkatkan kesejahteraan yang semuanya itu untuk kepentingan masyarakat Aceh yang tentu bangsa Indonesia.
Presiden berharap masyarakat Aceh jangan menyia-siakan anugerah Allah dan perjuangan panjang dalam mendapatkan perdamaian di bumi Aceh. Jangan sampai ada masalah-masalah kecil yang mengganggu.
“Mari kita dengan jiwa besar, penuh kearifan lebih melihat ke depan. Jangan melihat ke belakang lagi. Dengan melihat ke depan, Allah akan memberikan jalan, memberikan tuntunan kepada masyarakat Aceh untuk membangun hari esok menjadi lebih baik,” pinta Presiden SBY.
Sebelumnya saat menjenguk korba gempa di  lokasi pengungsian di Bener Meriah dan Aceh Tengah, Presiden SBY berpesan kepada para korban untuk bersabar. Presiden menegaskan, Pemerintah akan terus berupaya membantu selama para korban berada di penampungan. Selain itu, Pemerintah juga berkewajiban membantu membangun rumah, sarana ibadah dan sarana pendidikan yang telah rusak dan bantuan lainnya.
“Musibah tidak bisa dihindari karena merupakan takdir Allah. Namun setelah musibah kita dapat bersatu bahu-membahu untuk bangkit,” kata Presiden.
Mendampingi Presiden SBY dalam kesempatan memberikan tausiah di hadapan jemaah salat Taraweh di Masjid Istiqomah, Lhok Seumaweh itu, antara lain Menko Polhukam Djoko Suyanto, Menko Kesra Agung Laksono, Mensesneg Sudi Silalahi, Menteri PU Djoko Kirmanto, Mensos Salim Segaf Al Jufri, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kapolri Jendral Timur Pradopo, dan Kepala BIN Marciano Norman. Selain itu juga Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan Wali Kota Lhokseumawe Suaidi Yahya.
(EN/Is/Dm/ES)

 Copyright © 2012 - 2013 Sekretariat Kabinet RI. All rights reserved.