Search This Blog

Thursday, April 25, 2013

INDONESIA TANAH AIRKU

I
                                                         INDONESIA TANAH AIRKU


SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928

Teks Soempah Pemoeda dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di
Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928 1928.
Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :
Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :
  1. Abdul Muthalib Sangadji
  2. Purnama Wulan
  3. Abdul Rachman
  4. Raden Soeharto
  5. Abu Hanifah
  6. Raden Soekamso
  7. Adnan Kapau Gani
  8. Ramelan
  9. Amir (Dienaren van Indie)
  10. Saerun (Keng Po)
  11. Anta Permana
  12. Sahardjo
  13. Anwari
  14. Sarbini
  15. Arnold Manonutu
  16. Sarmidi Mangunsarkoro
  17. Assaat
  18. Sartono
  19. Bahder Djohan
  20. S.M. Kartosoewirjo
  21. Dali
  22. Setiawan
  23. Darsa
  24. Sigit (Indonesische Studieclub)
  25. Dien Pantouw
  26. Siti Sundari
  27. Djuanda
  28. Sjahpuddin Latif
  29. Dr.Pijper
  30. Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
  31. Emma Puradiredja
  32. Soejono Djoenoed Poeponegoro
  33. Halim
  34. R.M. Djoko Marsaid
  35. Hamami
  36. Soekamto
  37. Jo Tumbuhan
  38. Soekmono
  39. Joesoepadi
  40. Soekowati (Volksraad)
  41. Jos Masdani
  42. Soemanang
  43. Kadir
  44. Soemarto
  45. Karto Menggolo
  46. Soenario (PAPI & INPO)
  47. Kasman Singodimedjo
  48. Soerjadi
  49. Koentjoro Poerbopranoto
  50. Soewadji Prawirohardjo
  51. Martakusuma
  52. Soewirjo
  53. Masmoen Rasid
  54. Soeworo
  55. Mohammad Ali Hanafiah
  56. Suhara
  57. Mohammad Nazif
  58. Sujono (Volksraad)
  59. Mohammad Roem
  60. Sulaeman
  61. Mohammad Tabrani
  62. Suwarni
  63. Mohammad Tamzil
  64. Tjahija
  65. Muhidin (Pasundan)
  66. Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
  67. Mukarno
  68. Wilopo
  69. Muwardi
  70. Wage Rudolf Soepratman
  71. Nona Tumbel
Catatan :
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu"Indonesia Raya"
gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.
  1. Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat
    di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah
    Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie
    Kong Liong.
  2. 2. Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau
    Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang
    yaitu :
    a. Kwee Thiam Hong
    b. Oey Kay Siang
    c. John Lauw Tjoan Hok
    d. Tjio Djien kwie

GAYO Nusantara.

GAYOKITA CLUB

                                          Gayokita Club

                    Direktur Utama Gayokita Cooporation.


Beda Rasa, Satu Nanggroe


Kompas.com
Kamis, 25 April 2013 | 22:11 WIB
Beda Rasa, Satu Nanggroe
Minggu, 31 Maret 2013 | 10:18 WIB

                                                                KOMPAS/AGUS SUSANTOSenja di Sungai Alas di Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh.

Oleh Ahmad Arif & Budi Suwarna

HARUM
kari memudar begitu perjalanan menjauh dari pesisir pantai Aceh menuju Dataran Tinggi Gayo. Kami pun memasuki sisi lain Aceh yang penuh aroma kopi arabika, alam pegunungan, dan orang-orang yang hangat.

Langit yang semula cerah saat menyusuri pesisir timur Aceh tiba-tiba berganti mendung. Jalan berkelok tajam yang diapit jurang dan tebing itu terus menanjak. Melalui delapan jam perjalanan dari Banda Aceh, barulah kami tiba di batas kota Takengon. Ketika itu Maghrib belum tiba, tetapi hujan mempercepat kelam.

Kami memilih menyimpan gairah untuk menikmati pesona Danau Laut Tawar hingga esok paginya. Namun, kami tidak menunda mencicipi makanan khas Gayo sekaligus berkenalan dengan kebudayaannya. Kami memesan ikan ”bawal” masam jing di sebuah rumah makan. Namun, yang muncul justru sejenis ikan mas (Cyprinus carpio) digenangi kuah berwarna kuning kemerahan dan disajikan dalam kuali tanah. Orang Gayo ternyata menyebut ikan mas yang berwarna abu-abu dengan bawal (Bramidae). Mereka hanya menyebut ikan mas jika warnanya kuning.

Setelah berhari-hari makan kari Aceh berempah yang menerbitkan kantuk seusai menyantapnya, masam jing jadi semacam antitesanya. Kombinasi perasan air jeruk jering dan andaliman—sejenis lada khas dataran tinggi Sumatera—menciptakan rasa asam dan pedas menggigit.
Inti masakan Gayo itu cuma asin, pedas andaliman, dan asam jeruk jering. Ini tiga bumbu dasar masakan kami.
-- Emayati Kajet
”Inti masakan Gayo itu cuma asin, pedas andaliman, dan asam jeruk jering. Ini tiga bumbu dasar masakan kami,” kata Emayati Kajet (57), ibu rumah tangga di Takengon. Masakan Gayo relatif sederhana dan minim bumbu. Berbanding terbalik dengan masakan Aceh pesisir—untuk menyebut kawasan Banda Aceh, Aceh Barat hingga Aceh Timur—yang kaya bumbu. Untuk memasak kari Pidie, misalnya, perlu setidaknya 24 macam bumbu dan rempah.

Kami mengakhiri hari dengan secangkir kopi luwak arabika gayo. Walaupun telah lama menjadi penghasil kopi, tradisi minum kopi di kedai relatif baru di Gayo. Hingga lima tahun lalu, untuk mencicipi kopi Gayo mesti datang ke rumah warga. Begitulah, ada satu masa di mana kopi dianggap tanaman liar di Gayo.

Antropolog Belanda, Snouck Hurgronje, menceritakan, ketika itu orang Gayo minum sari daun kopi yang dikeringkan di atas api, bukan bijinya. Tanaman kopi dicangkok untuk pagar kebun. Buahnya diberikan kepada unggas. ”Hanya akhir-akhir ini beberapa orang telah mengetahui bahwa tanaman ini laku dijual,” tulis Hurgronje.

Sebaliknya, orang Aceh pesisir telah lama mengenal teknik pengolahan kopi. Kemampuan ini kemungkinan dipelajari dari pedagang Turki dan Arab sebelum abad ke-15 Masehi. Orang Aceh pesisir yang kosmopolit biasanya menggunakan jenis kopi robusta yang dipanen di sekitar Lamno dan Calang (Aceh Jaya).

Untuk mendapatkan rasa kopi yang legit, orang Aceh menambahkan gula, mentega, bahkan telur, saat menggongseng kopi. Teknik penyajiannya juga khas. Bubuk kopi direbus hingga mendidih lalu disaring kemudian dituang sambil ditarik ke atas (kopi tarik). Sebaliknya, kelezatan kopi gayo karena prosesnya yang alami mulai dari penanaman hingga teknik penggosengan.

Teknik penyajian pesisiran lebih canggih, khas pedagang, yang bisa mengolah sumber daya yang terbatas menjadi berkualitas. Sebaliknya, budaya masyarakat Gayo yang bertani lebih bersahaja.

Jantung Sumatera

Takengon, ibu kota Kabupaten Aceh Tengah, berjarak 315 kilometer dari Banda Aceh. Namun, bukan jarak yang memisahkan dua kota ini. Sejarah dan asal-usul yang membedakannya. Perbedaan itu telah ditangkap para penjelajah sedari dulu. Saat menjelajah ke Gayo pada 1901, Hurgronje menyebutkan tentang hutan lebat seperti ikat pinggang lebar yang memisahkan Gayo dengan Aceh. Hutan lebat dan sulitnya akses menuju dataran tinggi itulah yang menyebabkan kebudayaan Gayo terisolasi.

Pesisir Pulau Sumatera, termasuk Aceh, telah lama diketahui dunia. Bahkan, nama Barus di pantai barat Sumatera Utara telah diterakan dalam buku Ptolomeus. Buku yang dikarang abad ke-2 Masehi itu menyebut Barusoai sebagai penghasil kapur barus yang bernilai seharga emas. Namun, dataran tinggi Sumatera, yang membentang mulai dari Gayo hingga Lampung, belum banyak diketahui hingga akhir abad ke-19. Padahal, menurut sejarawan Anthony Reid dalam buku Menuju Sejarah Sumatra (2011), kawasan itu merupakan jantung peradaban Sumatera.

Dari daerah pedalaman ini, yang kerap digambarkan sebagai rumah kaum kanibal dan hutannya dipenuhi binatang aneh semacam unicorn—istilah penjelajah Italia, Marco Polo, untuk menggambarkan badak Sumatera—kekayaan pulau ini berasal. Dari sungai-sungai yang berhulu di gunung, emas yang memasyhurkan Swarna Dwipa (Pulau Emas) ditambang. Dari hutan-hutannya kapur barus, kemenyan, dan lada dipanen.

Lebih dari itu, menurut Reid, sawah-sawah telah lama dibuka di dataran tinggi yang menandakan peradaban telah lama disemai di sana. Sebaliknya, kota-kota di pesisir Sumatera yang terlihat gemerlap sebenarnya ”kosong.”

”... pertanian paling awal di Sumatera tidak lahir di delta sungai atau dataran rendah pesisir seperti kita perkirakan, tetapi di lembah-lembah tinggi di Pegunungan Bukit Barisan dan umumnya lebih dari 500 meter di atas permukaan laut,” kata Reid.

Silang budaya

Sawah-sawah yang tumbuh subur di dataran tinggi itu kami jumpai saat menelusuri tepi Danau Laut Tawar. Azan Subuh baru saja usai. Awan putih yang semula menutupi tebing yang memagari danau perlahan pergi. Pukul 09.00, kami meninggalkan Takengon melaju ke Blangkejeren, ibu kota Kabupaten Gayo Lues. Begitu meninggalkan kota, jalanan kian mendaki. Titik tertinggi yang tercatat di altimeter sekitar 1.700 meter dari permukaan laut.

Hutan mendominasi pemandangan berseling dengan hamparan ilalang dan pepohonan pinus. Namun, jejak penggundulan hutan terlihat di mana-mana. Pemandangan ini jauh berbeda dibandingkan akhir tahun 2004. Saat itu jalan aspal nyaris tak terlihat karena ditutupi lumut dan rerumputan tebal, sementara hutan lebat mengapitnya. Konflik menyebabkan rute Takengon-Gayo Lues seperti jalan mati. Beberapa kali penghadangan di jalan itu membuat orang enggan melewatinya. Hutan lebat pun tak tersentuh.

Sudah pukul 21.00 saat kami memasuki Kutacane, Kabupaten Alas. Ini masih wilayah Aceh, tetapi suasana kota yang dihuni Suku Alas dan berbatasan dengan Kabupaten Karo, Sumatera Utara, ini benar-benar berbeda. Di pinggir jalan, beberapa warung makan masih buka. Beberapa lelaki terlihat bermain catur dan kartu serta berdendang lagu-lagu Batak dan Karo diiringi gitar, khas suasana lapo tuak Sumatera Utara.

Keberagaman, kekhasan, dan sejarah yang berbeda, tetapi kemudian menyatu dalam Aceh itulah yang menjadi kekayaan tak ternilai negeri paling ujung Nusantara ini....
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
I Made Asdhiana

Kopi Gayo, Warisan yang Menghidupi


Kompas.com
Kamis, 25 April 2013 | 21:44 WIB
Tanah Air
Kopi Gayo, Warisan yang Menghidupi
Penulis : | Jumat, 9 September 2011 | 14:05 WIB
 
                                   Kompas/Mohamad Burhanudin Anak-anak di Desa Pondok Gajah, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Gayo, Aceh, membantu orangtuanya memetik biji kopi arabika gayo yang sudah memerah di pohon untuk dipanen, Jumat (12/8). Kopi gayo merupakan komoditas andalan warga di Dataran Tinggi Gayo yang sejak zaman Belanda sudah merambah pasar ekspor.

Oleh: M Burhanudin
    Menyebut nama kopi gayo, terbayang dalam benak kita nikmatnya kopi arabika pegunungan yang telah hampir seabad ini mendunia. Namun, bagi warga di Dataran Tinggi Gayo, Aceh, tempat kopi ini ditanam sejak 1918, kopi arabika itu bukan sekadar rasa, melainkan warisan jiwa.
   Di tanah bergunung itu, mereka menanam kopi bercita rasa tinggi yang menghidupi. Ada tiga kabupaten di dalamnya: Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Total luasan tanam pada tahun 2010 mencapai sekitar 94.500 hektar (ha), terdiri dari 48.500 ha di Aceh Tengah, 39.000 ha di Bener Meriah, dan 7.000 ha di Gayo Lues.
   Kopi gayo ibarat nyawa bagi Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Tercatat, jumlah petani kopi di Aceh Tengah 34.476 keluarga. Jika satu keluarga diasumsikan beranggotakan 4 orang, sebanyak 137.904 orang di sana yang menggantungkan hidup pada kebun kopi. Jumlah itu setara dengan hampir 90 persen total penduduk Aceh Tengah yang mencapai 149.145 jiwa (2010).
    Kondisi yang sama juga terjadi di Bener Meriah. Jumlah petani kopi mencapai sekitar 21.500 keluarga atau sekitar 84.000 jiwa orang. Itu artinya sekitar 75 persen penduduk di Bener Meriah (111.000 jiwa tahun 2010) menggantungkan hidup pada kebun kopi.

    ”Itu baru di petani, belum termasuk pedagang, tauke, agen kopi, dan warga yang bekerja di pengolahan kopi. Kopi memang nyawa di Gayo,” kata Kepala Bidang Produksi dan Perlindungan Tanaman Dinas Perkebunan dan Kehutanan Aceh Tengah Hermanto.

    Tak heran, dalam sosio-kultural masyarakat Gayo pun sangat dikenal petatah-petitih ini: ”Maman ilang maman ijo, beta pudaha, beta besilo”—siapa pun orang di Gayo tak akan pernah lepas hidupnya dari kopi pada awalnya. Kopi menghidupi mereka. ”Saya bisa menyekolahkan enam anak saya ke perguruan tinggi. Semuanya dari kopi,” tutur Surahman (57), petani kopi asal Desa Kebayakan, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah.

Sejarah dan cita rasa
    Rendah asam, aroma wangi, dan rasa gurih, itulah cita rasa yang melekat pada kopi arabika gayo. Dengan cita rasanya itulah, sejak dahulu, kopi gayo melanglang buana ke pasar mancanegara. Tanah yang tak asam dan ketinggian lahan yang rata-rata di atas 1.200 meter di atas permukaan laut membuat kopi gayo bercita rasa berbeda.

    Di hampir semua franchise kopi internasional, semacam Starbucks, kita akan mudah mendapati menu kopi gayo terpampang di sana. Bahkan, kopi gayo masuk kategori kopi kelas premium setingkat dengan kopi kenamaan dunia lainnya, seperti Brazilian blue mountain ataupun Ethiopian coffee.

    Win Ruhdi Bathin, tokoh Komunitas Penikmat Kopi Gayo Aceh Tengah, mengungkapkan, citra sebagai kopi berkelas dan permintaan pasar internasional yang masih mengalir itulah yang membuat eksistensi kopi gayo masih bertahan hingga saat ini. Sebagian besar produk kopi gayo pun berorientasi ekspor.

    ”Kopi gayo ini anugerah. Dari dulu hingga saat ini kualitasnya tak berubah. Permintaan dari luar selalu ada,” katanya.

    Keberadaan kopi gayo tak lepas dari kehadiran Belanda di Aceh bagian tengah pada awal abad XX. Menurut Deni Sutrisna, peneliti dari Balai Arkeologi Medan, dalam makalahnya, Komoditas Unggulan dari Masa Kolonial (2010), kopi arabika di Gayo sebenarnya sisa penanaman besar-besaran varietas kopi arabika di Sumatera yang masih bertahan dari hama penyakit pada masa itu.

    Pada tahun 1918, Belanda mulai mencanangkan kopi gayo sebagai produk masa depan seiring dengan tingginya minat pasar mancanegara terhadap rasa kopi gayo yang berbeda. Kopi kemudian sedikit demi sedikit menggeser tanaman lada, teh, getah pinus, dan sayuran yang semula menjadi sandaran warga di Dataran Tinggi Gayo.

    Seiring itu, ribuan pekerja perkebunan—yang sebagian besar dari Jawa—didatangkan. Sejak itu, Dataran Tinggi Gayo tak hanya mengalami perubahan pola ekonomi, tetapi juga budaya seiring dengan berubahnya komposisi etnis yang ada.

Produk kopi yang kian diminati pasar mancanegara dan tenaga kerja yang melimpah membuat pemerintah kolonial Belanda terus mendatangkan investor masuk ke Aceh Tengah. Pemerintah Belanda mengontrol setiap varietas yang ditanam dan mengontrol kualitas tanaman.

    Namun, orientasi pada kontrol kualitas tersebut justru hilang saat masa kemerdekaan tiba. Ladang kopi sempat terbengkalai lama. Apalagi saat masa pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) bergolak.

    Baru pada akhir 1950-an, perkebunan kopi mulai digarap kembali. Permintaan pasar internasional mendorong mereka terus membuka lahan baru. Hingga 1972, pembukaan lahan hutan untuk kebun kopi telah meluas hingga 19.962 ha di Aceh Tengah saja. Di Dataran Tinggi Gayo terdapat 94.500 ha lahan kopi arabika, meningkat hampir 19 kali lipat dibandingkan dengan kondisi tahun 1920-an.

    Sayangnya, tingginya permintaan pasar ekspor, potensi alam, dan kesuburan lahan yang menunjang produksi itu tak dibarengi peningkatan produksi dan penataan distribusi. Meski luasan tanam terus meningkat, kapasitas produksi per ha atas kopi gayo tergolong rendah. Hanya 721 kilogram per ha per tahun. Bandingkan dengan rata-rata produksi kopi arabika di Jember yang mencapai 1.500 kilogram per ha per tahun.

    Mustofa (34), petani di Desa Bandar, Kecamatan Bandar, Bener Meriah, mengaku tak pernah sekali pun mendapatkan penyuluhan, apalagi pengarahan, dari pemerintah mengenai kopi. Cara penanaman kopi yang dilakukan Mustofa murni dia pelajari dari orangtuanya.

    Citra yang tinggi dan tingginya produksi akibat pembukaan lahan yang semakin luas tersebut mendorong kian besarnya ekspansi kopi gayo. Dari 59 perusahaan pengekspor kopi via Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, sekitar 40 eksportir kopi berasal dari Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Volume ekspor kopi via Belawan tahun 2008 tercatat 54.402 ton dan lebih dari setengahnya berasal dari Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.

    ”Ini yang sekarang kami khawatirkan. Kami terus menanam. Hutan-hutan ditebang. Petani bekerja keras, tetapi yang menikmati kopi kami orang luar daerah, tauke-tauke besar. Sementara pemerintah diam saja. Padahal, kopi nyawa kami,” tutur Win Ruhdi.
 
Editor :
Desk Multimedia

Bendera Bulan Bintang ala GAM "Haram" Berkibar di Gayo


Kompas.com
Kamis, 25 April 2013 | 21:47 WIB

Bendera Bulan Bintang ala GAM "Haram" Berkibar di Gayo
Penulis : Kontributor Kompas TV, Raja Umar | Selasa, 26 Maret 2013 | 18:19 WIB

Bendera Bulan Bintang ala GAM "Haram" Berkibar di Gayo                                                                KOMPAS TV/ RAJA UMAR Jika bendera Aceh yang ala GAM tetap dikibarkan di wilayah Gayo, maka di sana akan terjadi penurunan secara paksa oleh Masyarakat Gayo. Ancaman itu disampaikan Aktivis Gayo Merdeka Waladan Yoga, di Banda Aceh, Selasa (26/3/2013).

BANDA ACEH, KOMPAS.com
       Jika bendera ala Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tetap dikibarkan di wilayah Gayo, maka di sana akan terjadi penurunan secara paksa oleh Masyarakat Gayo. Penegasan itu disampaikan aktivis Gayo Merdeka, Waladan Yoga, kepada wartawan di Banda Aceh, Selasa (26/3/2013).

Meski qanun bendera dan lambang Aceh sudah resmi disahkan oleh DPR Aceh melalui sidang paripurna pada Jumat lalu di Banda Aceh, tetapi sejumlah mahasiswa dari dataran tinggi Gayo menentang keras pengesahan qanun Bendera dan Lambang Aceh itu. Menurut mereka, masyarakat Gayo tidak setuju dengan lambang dan bendera separatis berkibar di Aceh.

Yoga mengatakan, jika bendera GAM dipaksakan berkibar di wilayah Gayo, maka akan terjadi penurunan secara paksa. "Dan kami dari Gayo Merdeka sudah melakukan konsolidasi kepada seluruh masyarakat Gayo mulai dari Kabupaten Aceh Tengah, Benermeriah, dan Gayo lues, haram bendera GAM berkibar di Gayo," tegas Yoga.

"Untuk itu kami meminta kepada Presiden, Mendagri, dan Menkopolhukam untuk serius menanggapi dengan serius permasalahan ini, sehingga tidak terjadi konflik antara masyarakat Aceh dan etnis Gayo," sambungnya.

Yoga juga menegaskan, jika Presiden tidak menanggapi dengan serius, maka masyarakat Gayo akan memisahkan diri dari Provinsi Aceh.
Editor :
Glori K. Wadrianto

21 Perempuan Bersepeda Tempuh Rute Aceh-Padang


Kompas.com
Kamis, 25 April 2013 | 21:41 WIB
BANDA ACEH
21 Perempuan Bersepeda Tempuh Rute Aceh-Padang
Penulis : Kontributor Banda Aceh, Daspriani Y Zamzami | Jumat, 5 April 2013 | 11:13 WIB
 
21 Perempuan Bersepeda Tempuh Rute Aceh-PadangKOMPAS.com/ Daspriani Y ZamzamiWakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal, melepas kontingen Srikandi Bersepeda yang akan menempuh rute Aceh-Padang, Jumat (5/4/2013).
BANDA ACEH, KOMPAS.com — Dengan stelan sporty, perempuan berdarah Asia dengan kulit sawo matang ini siap dengan sepedanya. Sebuah topi pet dan sedikit losion pelindung sinar matahari sudah dikenakan.

Dia adalah Megha Wangmo Hermann, istri Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Martin Bille Hermann. Mrs Hermann memang bersepeda pagi, Jumat (5/4/2013) ini.

Megha Wangmo akan mengiringi 21 pesepeda perempuan yang tergabung dalam Srikandi Bersepeda sejak dari garis start di Balaikota Banda Aceh hingga perbatasan Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar. Ini akan mengambil jarak tempuh 9 kilometer.

"Saya sangat senang bisa mengambil bagian dari kegiatan ini dan ini merupakan kegiatan yang luar biasa dan dilakukan oleh perempuan-perempuan yang hebat," sebut Megha Wangmo.

Sebanyak 21 perempuan hasil seleksi dari komunitas bersepeda Bike to Work akan melakukan touring bersepeda yang menempuh rute Banda Aceh-Padang sejauh lebih kurang 1.400 kilometer.

Tiga perempuan Aceh turut ambil bagian dalam ekspedisi Srikandi III yang digelar Bike to Work Indonesia. Ketiga perempuan Aceh itu adalah:
  1. Sunitalia, 27 tahun, mahasiswi Teknik Elektro Universitas Iskandar Muda Banda Aceh;
  2. Cut Murnita, 29 tahun, aktivis sosial;
  3. Ulfa Hidayati, 23 tahun, mahasiswi Universitas Gajah Putih, Takengon, Aceh Tengah.
Nurjannah Husien, panitia lokal Srikandi III, menyebutkan, mereka akan bersama 18 perempuan Indonesia lainnya untuk bersepeda menuju Padang.

Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Damal, saat melepas peserta Srikandi Bersepeda mengatakan, kegiatan yang baru pertama kali melibatkan Aceh ini telah memberi inspirasi banyak orang, khususnya perempuan.

"Dengan beraktivitas, perempuan akan lebih tercerahkan dan ini akan meningkatkan kualitas dari kaum perempuan itu sendiri dengan kualitas yang baik akan menciptakan kehidupan perempuan yang juga lebih baik," ujar Illiza saat melepas rombongan bersepeda, Jumat (5/4/2013).

Srikandi Bersepeda III ini diikuti 21 perempuan dari pelbagai provinsi di Indonesia, seperti Bali, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, Mataram. Rute yang ditempuh menuju Padang adalah Banda Aceh, Sigli, Bireuen, Lhokseumawe, Langsa, Pangkalan Brandang, Medan, Pematang Siantar, Parapat, Tarutung, Sipirok, Padang Sidempuan, Kotanopan, Lubuk Sikaping, Bukit Tinggi, dan finis di Padang.

Sementara itu, Ketua Bike To Work Indonesia, Toto Sugito, mengatakan, event Srikandi Bersepeda bertujuan selain memperingati semangat perjuangan pahlawan perempuan, juga untuk mengampanyekan sepeda sebagai kendaraan ramah lingkungan. 
Editor :
Glori K. Wadrianto

Priyo: Saya Sedih Ada yang Minta Aceh Dimekarkan


Kompas.com
Kamis, 25 April 2013 | 21:34 WIB

Priyo: Saya Sedih Ada yang Minta Aceh Dimekarkan
Penulis : Sabrina Asril | Jumat, 5 April 2013 | 16:19 WIB


Priyo: Saya Sedih Ada yang Minta Aceh Dimekarkan  KOMPAS.com/SABRINA ASRILPriyo Budi Santoso

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Priyo Budi Santoso mengaku, menerima sejumlah permintaan agar Aceh dimekarkan menjadi tiga provinsi. Hal ini menyusul penetapan bendera dan lambang Aceh yang menyerupai lambang Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
"Saya sedih menerima banyak SMS munculnya lagi keinginan Aceh dimekarkan tiga provinsi. Sekarang usulan itu muncul lagi karena mereka menjadi tidak hanya berada dalam bagian Aceh," ujar Priyo dalam jumpa pers di Kompleks Parlemen, Jumat (5/4/2013).
Priyo menggelar jumpa pers terkait bendera Aceh yang kini ramai diperbincangkan. Menurut Priyo, meski Aceh merupakan provinsi yang memiliki keistimewaan, tetapi Pemerintah Aceh tetap harus tunduk pada peraturan undang-undang.
Munculnya bendera Aceh baru itu, disebut Priyo, membuat warga Aceh ada yang tidak nyaman. Namun, ia menilai pemekaran wilayah bukanlah solusi terbaiknya.
"Saya anjurkan Aceh tetap harus satu, tidak perlu pemekaran atau menjadi provinsi baru, lebih baik konsen untuk membangun Aceh. Semua ini untuk kembalikan impian rakyat Aceh dalam memelihara kedamaian masyarakat Aceh," kata Priyo.
Dua pekan lalu, Dewan Perwakilan Rakyat Aceh mengesahkan dua qanun yakni mengenai wali Aceh serta bendera dan lambang Aceh. Qanun ini belakangan disorot lantaran bendera Aceh dibuat mirip bendera yang pernah dipakai GAM. Padahal, di dalam peraturan pemerintah terdapat larangan lambang daerah memuat atau memakai lambang gerakan separatis.
Kementerian Dalam Negeri memberi waktu 15 hari bagi pemerintah Provinsi Aceh untuk mengklarifikasi qanun bendera dan lambang Aceh. Selagi menunggu klarifikasi, pemerintah meminta warga tidak mengibarkan bendera tersebut.
Namun, Gubernur Aceh Zaini Abdullah mengisyaratkan akan tetap mempertahankan bendera itu. Menurutnya, bendera itu merupakan amanat segenap rakyat Aceh kepada pemimpinnya.
Editor :
Ana Shofiana Syatiri

Bahas Bendera Aceh, Presiden Undang Gubernur Aceh


Kompas.com
Kamis, 25 April 2013 | 21:28 WIB

Bahas Bendera Aceh, Presiden Undang Gubernur Aceh
Penulis : Sandro Gatra | Jumat, 5 April 2013 | 16:45 WIB

Bahas Bendera Aceh, Presiden Undang Gubernur AcehKompas/M.Hilmi FaiqWarga mengarak bendera bulan bintang di kota banda aceh, senin (1/4/2013)

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan mengundang Gubernur Aceh Zaini Abdullah untuk membicarakan polemik di Aceh, terutama masalah bendera dan lambang Aceh. Presiden berharap agar masalah tersebut selesai tak sampai dua pekan ke depan.
"Tidak ada lagi gangguan apa pun atas masalah-masalah itu. Yang jelas Merah Putih harus berkibar di seluruh Tanah Air. Daerah bisa saja memiliki lambang, tetapi sesuai ketentuan yang berlaku," kata Presiden SBY di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (5/4/2013).
Presiden berharap agar masalah bendera dan lambang Aceh tidak ditarik ke ranah politik. Polemik bendera Aceh merupakan ranah hukum. Oleh karena itu, Presiden menugaskan Menko Polhukam Djoko Suyanto dan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Mendagri dan para dirjen Kemendagri sudah ke Aceh bertemu dengan berbagai pihak. Mereka membicarakan hasil evaluasi Kemendagri terhadap Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh. Intinya, pemerintah meminta bendera dan lambang Aceh diubah lantaran mirip lambang Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
"Harapan saya, pembicaraan itu berakhir dengan baik sesuai dengan ketentuan undang-undang dan peraturan yang berlaku. Saya tidak ingin kita mundur ke belakang (konflik) dan saya tidak ingin ada masalah-masalah baru yang sebenarnya tidak diperlukan. Kita harus bersatu menyelesaikan pembangunan di Aceh menuju ke kehidupan masyarakat Aceh yang aman, tenteram, dan damai. Lebih spesifik lagi sejahtera," kata dia.
Sebelumnya, Zaini menyebut Pemerintah Aceh siap mencari solusi bersama dan menghindari gontok-gontokan yang tak perlu terkait polemik bendera dan lambang Aceh. Pasalnya, berlanjutnya perdamaian di Aceh jauh lebih penting.
Zaini meminta agar masyarakat Aceh bersabar dan tak mengibarkan bendera Aceh. "Saya sudah kali-kali minta supaya bersabar, sampai saatnya nanti akan berkibar, saya tak akan melarang," kata dia.
Editor :
Hindra

Tokoh Gayo Gelar Pertemuan di Mlaysia

Serambinews.com

Tokoh Gayo Gelar Pertemuan di Mlaysia

Sabtu, 6 Oktober 2012 14:51 WIB
JAKARTA - Puluhan tokoh Gayo hadir di Kedah Darul Aman, Malaysia, menghadiri Konferensi Internasional Kerajeen Linge Gayo, 7-9 Okober. Perhelatan besar itu diselenggarakan World Gayonese Association (WGA) dan Universiti Utara Malaysia (UUM).

“Ini adalah konferensi pertama yang membicarakan tentang sejarah Gayo, kebudayaan, dan pembangunannya yang berlangsung di luar negeri. Kami ingin menghimpun pendapat mengenai Gayo secara menyeluruh,” kata Koordinator Program, Sabela Gayo kepada Serambi di Jakarta, Kamis (4/10).

Di antara para tokoh Gayo yang hadir dalam konferensi itu terdiri atas politisi, kepala pemerintahan, tokoh budaya, sejarawan, pemuda dan lainnya.

Bangsa Gayo di Aceh bermukim di enam  kabupaten, Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Tamiang, Aceh Timur, Aceh Tenggara. Jauh sebelum penyerbuan Belanda ke Tanah Gayo pada 1904, di daerah itu telah terbebentuk pemerintahan kejurun, yaitu pemerintahan dari satu kerajaan kecil yang dipimpin seorang raja, yaitu Kejurun Bukit, Kejurun Linge, Kejurun Siah Utama, Kejurun Petiamang di Gayo Lues,  Kejurun Abuk di Serbejadi.

Di Tanah Gayo juga pernah berdiri Kerejeen Linge yang kelak salah seorang keturunannya, Sultan Johansyah, mendirikan Kerajaan Aceh Darussalam.

Politisi DPR RI berdarah Gayo, Nova Iriansyah merupakan salah seorang pembicara dalam konferensi itu.

Ia mengatakan, Gayo adalah bangsa tua.  Penjelajah dunia, Marco Polo dalam catatannya saat singgah di Perlak,  dari perjalanan dari Cina menuju Italia, 1292 menyebutkan tentang adanya “kerajaan kecil” dan “laut kecil” di pedalaman. Rakyat pedalaman menyebut daerahnya sebagai “Lainggow” dan menyebut rajanya dengan “Ghayo O Ghayo” atau raja gunung yang suci.

“Catatan itu mengkonfirmasikan kepada kita tentang komunitas Gayo yang bermukim di pedalaman,” kata Nova Iriansyah.(fik)

Editor : hasyim

Kolam Air Panas Simpang Balek

Kolam Air Panas Simpang Balek


Kolam air panas Simpang Balik Kolam Air Panas Simpang Balek
Mata air Tempat Pemandian Di Simpang Balik TANOH GAYO Central Ajeh.

Terletak di Simpang Balik sekitar 8 Km dari Kota Redelong, Kabupaten Bener Meriah. Kolam air panas ini diberi nama sesuai daerah oleh masyarakat sekitar. Kolam air panas ini sudah lama terkenal dan selalu ramai dikunjungi wisatawan ketika liburan.
Ada dua lokasi pemandian air panas di Simpang Balik, yang pertama di pusat pasar yang sering dikunjungi oleh penduduk dan yang satunya berada diatas yang dibangun oleh Pemerintah Aceh. Disini dibangun 2 kolam, satu untuk pria dan satu untuk wanita.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, bila mandi di kolam ini maka dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit.


GAYO Nusantara.

Perlombaan Pacuan kuda Khas Gayo

Perlombaan Pacuan kuda Khas Gayo


pacu kuda Perlombaan Pacuan kuda Khas Gayo
 Pacuan kuda khas gayo

Perlombaan Pacuan Kuda merupakan sebuah atraksi khas dari Tanah Gayo Aceh Tengah, sekaligus merupakan kegiatan event tahunan di  Kabupaten ini. Suasana event ini akan terasa sangat kental dengan berbagai budaya pesta rakyat karena memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi dan menjadikannya obyek wisata budaya yang atraktif. Ratusan ekor kuda setiap tahun ikut memeriahkan even pacuan kuda tradisional yang dibuka di Lapangan Blang Bebangka, Pegasing.
Pacuan Kuda Tradisional yang merupakan event resmi Pemda Aceh Tengah diikuti oleh empat kabupaten (Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues and Bireun), sekaligus melibatkan berbagai kuda lokal dataran tinggi Gayo dan kuda “Astaga” (hasil perkawinan silang antara kuda Australia dengan Gayo).
Arena pacuan kuda menggunakan lapangan Blang Bebangka dengan panjang lingkaran trek 1.000 meter. Kuda-kuda yang akan dipertandingkan meliputi empat kelas berdasarkan tinggi tubuh kuda.
Event pacuan kuda menjadi bagian budaya masyarakat dataran tinggi Gayo yang selalu digelar setiap bulan Agustus setiap tahunnya, yang diiringi dengan berbagai atraksi dan permainan rakyat lainnya, seperti sepak bola, bola voli, lomba lari, bola keranjang, sepak takraw, panjat tebing dan balap mobil.

GAYO Nusantara

" TANOH GAYO TEMPO DOLOE "









Buraq Menurut Hadis Nabi Muhammad SAW


Buraq Menurut Hadis Nabi Muhammad SAW



(Oleh: DR. H. Zulkarnain, MA)
Nomenklatur Buraq sangat erat dengan sebuah kisah besar yang monumental di dalam sejarah Islam, yaitu kisah Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke 11 kenabian (Sejarah Ringkas Nabi Muhammad SAW, dalam Kementerian Agama, Al-Quran dan Terjemahannya, hlm. 63, dan K.H. Munawar Chalil dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW, jilid I, hlm. 444)
Secara lughawiyyah atau kebahasaan, Buraq berasal dari fi’il madhi (kata kerja masa lampau) baraqa, fi’il mudhari’nya (kata kerja sedang atau akan) yabruqu dan mashdarnya (akar katanya) barqan – buruqan dan bariqan yang artinya kilat. Al-Barqu (kilat), bentuk jamaknya adalah buruqun (banyak kilat).
Al-Buraq secara bahasa juga diartikan farasun mujanahun yang artinya kuda yang bersayap (Kamus al-Bisri, hlm. 30), menurut Imam Jalaluddin Muhammad ibn Mukarram ibn Ali ibn Manzhur di dalam kitab Lisan al-Arab halaman 392, Buraq adalah nama hewan yang dikendarai oleh Rasul SAW pada malam Isra’ dan Mi’raj.
Secara bahasa, Buraq dengan harakat dhammah pada huruf ba diambil dari lafaz al-bariq yang artinya sangat putih. Dari sisi kebahasaan, dapat disimpulkan bahwa Buraq adalah hewan yang memiliki kecepatan gerak seperti kilat, memiliki warna yang sangat putih dan kuda yang memiliki sayap.
Di dalam hadis riwayat Imam Muslim yang nama lengkapnya al-Imam abi al-Husein Muslim ibn Hajjaj ibn Muslim al-Qusyairi al-Nisaburi, di dalam kitabnya al-Jami’ al-Sahih juz I halaman 99, yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik, ia berkata: adalah Rasulullah SAW. bersabda: didatangkan kepadaku Buraq, yaitu hewan (dabbah) yang berwarna putih (abyadh), bertubuh panjang (thawil), lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dan sekali ia menjejakkan kakinya yang berkuku bergerak sejauh mata memandang.
Menurut seorang ulama terkemuka dari kalangan mazhab Syafi’I dalam hal ini adalah Imam Abi Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi yang dikenal dengan sebutan Imam al-Nawawi di dalam kitabnya Sahih Muslim bi Syarhi al-Nawawi, jilid I, halaman 170-171 menerangkan tentang Buraq, bahwa menurut ahli bahasa Buraq adalah nama hewan yang dikendarai Rasulullah SAW pada malam Isra’ dan Mi’raj.
Menurut Imam al-Nawawi, mengutip al-Zubaidi di dalam kitabnya Mukhtasharul ‘ain dan  sahabat al-Tahriy, bahwa Buraq adalah hewan yang digunakan oleh para nabi sebagai kendaraan mereka. Menurut Imam al-Nawawi, dikatakan Buraq untuk menggambarkan kecepatannya (lisur’atihi) dan dikatakan seperti itu karena sifatnya yang cepat seperti cahaya dan kilat. Sedangkan al-abyadh (putih) menurut Imam Nawawi adalah warna bulunya.
Imam al-Baihagi dalam kitab al-Dalail memuat hadis tentang Buraq melalui jalur sanad Abdurrahman dari Hasyim bin Hasyim bin ‘Utbah bin Abi Waqqas dari Anas bin Malik ia berkata, ketika Jibril datang dengan Buraq kepada Rasul SAW, di mana seolah-olah Buraq itu menegakkan telinganya, maka JIbril berkata kepada Buraq, “Wahai Buraq jangan begitu, demi Allah engkau tidak pernah dikendarai oleh seorang seperti dia, kemudian Rasulullah SAW pun berangkat dengan Buraq itu.
Dalam hal ini, ibnu Dihyah dan al-Munir mengatakan bahwa Buraq sulit dikendarai karena ta’ajub dan gembira terhadap Nabi SAW yang akan mengendarainya (Tarikh al-Dimasyqi, karya Ibnu Asakir, jilid III, hlm 311). Di dalam hadis yang lain Imam al-Baihaqi, melalui jalur periwayatan sahabat Abu Said al-Khudri, Nabi SAW bersabda”Tiba-tiba ada seekor hewan yang menyerupai hewan kalian, yaitu baghal kalian ini, telinganya bergelombang (bergerigi)”.
Imam Jalaluddin al-Suyuti mengatakan, “Abu al-Fadhal bin Umar…. Dari Qonan bin Abdullah al-Nuhmi dari Abu Tibyan al-Janbi dari Abu ‘Ubaidah, yaitu Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, ” Jibril mendatangiku dengan seekor hewan yang tingginya di atas keledai dan di bawah baghal, lalu Jibril menaikkanku di atas hewan itu kemudian bergerak bersama kami, setiap kali naik maka kedua kakinya yang belakang sejajar dengan kedua kaki depannya, dan setiap kali turun kedua kaki depannya sejajar dengan kedua kaki belakangnya (al-Said ‘Alawi al-Maliki al-Hasani di dalam kitabnya al-Anwar al-Bahiyyah min Isra’ wa Mi’raj Khair al-Bariyyah, halaman 111)
Berdasarkan kutipan-kutipan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam al-Baihaqi di atas, dapat disimpulkan bahwa menurut hadis Nabi Muhammad SAW, Buraq itu adalah seekor hewan warna bulunya putih, tubuhnya panjang, tingginya melebihi keledai dan lebih kecil dari baghal, telinganya bergelombang atau bergerigi, kecepatannya seperti kilat atau cahaya, memiliki 4 kaki, jika naik kedua kaki belakangnya disejajarkan dengan dua kaki depannya, dan jika menurun kedua kaki depannya disejajarkan dengan kedua kaki belakangnya.
Adapun menurut sumber non-Muslim, misalnya di dalam Shorter Encyclopedia of Islam karya Hamilton Alexander Rusken Gibb dan J. H. Kramers yang diterbitkan oleh penerbit E. J. Brill – Leiden – Belanda dan Luzac and co – London – Inggris tahun 1961, jilid I halaman 65. Nama Buraq dikaitkan dengan Barqun yaitu lightning (kilat/cahaya).
Selanjutnya, Gibb dan Kramers mengutip T. W. Arnold di dalam bukunya painting in Islam (Oxford, 1928) mengatakan: There are long descriptions of Buraq, who is represented as a mare with a woman’s head and peacock’s tail (dalam waktu yang lama Buraq dipaparkan sebagai sesuatu yang mewakili seekor kuda betina dengan kepala seorang perempuan dan dengan ekor burung merak). Gerardy Saintine dalam bukunya trios ans en judèe (Paris, 1860)menyebutkan bahwa di dalam mesjid al-Shakhra di Yerusalem ada sebuah batu yang diziarahi yang dipandang sebagai saddle Buraq.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Buraq versi hadis-hadis Nabi SAW sangat berbeda dengan Buraq versi non islam (Yahudi). Sebagai seorang muslim, tentunya kita hanya meyakini Buraq yang di ceritakan oleh Nabi SAW saja dan bukan yang selain itu. Wallahu’alam bi shawwab. (op)
(Penulis adalah Dosen STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa)

9 Bulan Memimpin, ZIKIR ‘Mandul’


9 Bulan Memimpin, ZIKIR ‘Mandul’


Banda Aceh – Sembilan bulan sudah usia kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh yang terpilih pada Pemilukada tahun 2012 lalu. Usia kepemimpinan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf (ZIKIR) yang hampir memasuki satu tahun itu menimbulkan pertanyaan dari banyak pihak terkait sejauh apa gebrakan baru yang telah dilakukan oleh pemimpin Aceh periode ini.
Seperti diketahui bersama bahwa pada masa kampanye, ZIKIR memberikan janji-janji segar untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Aceh. Dan saat ini, wajar jika rakyat menagih janji ZIKIR tersebut.
Ada dua puluh satu janji yang disampaikan ZIKIR dalam 55 kali kampanye pada 22 Maret-5 April 2012 di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota di Aceh, sebagaimana dilansir Sermabi Indonesia (25 Juli 2012) dan beberapa media di Aceh, yaitu:
  1. Wewujudkan pemerintahan Aceh yang bermartabat dan amanah;
  2. Mengimplementasikan dan menyelesaikan turunan UUPA;
  3. Komit menjaga perdamaian Aceh sejalan dengan MoU Helsinki;
  4. Menerapkan nilai-nilai budaya Aceh dan Islam di semua sektor kehidupan masyarakat;
  5. Menyantuni anak yatim dan kaum duafa;
  6. Mengupayakan jumlah penambahan kuota haji Aceh;
  7. Pemberangkatan jamaah haji dengan kapal pesiar;
  8. Naik haji gratis bagi anak Aceh yang sudah akil baliq;
  9. Menginventarisir kekayaan dan sumber daya alam Aceh;
  10. Menata kembali sektor pertambangan di Aceh;
  11. Menjadikan Aceh layaknya Brunei Darussalam dan Singapura;
  12. Mewujudkan pelayanan kesehatan gratis yang lebih bagus;
  13. Mendatangkan dokter spesialis dari luar negeri;
  14. Pendidikan gratis dari SD sampai dengan Perguruan Tinggi;
  15. Pemberian Rp. 1.000.000 (satu juta) per Kartu Keluarga per bulan dari hasil dana minyak dan gas (migas);
  16. Mengangkat hononer PNS;
  17. Meningkatkan kesejahteraan rakyat Aceh;
  18. Membuka lapangan kerja baru;
  19. Meningkatkat pemberdayaan ekonomi rakyat;
  20. Memberantas kemiskinan dan menurunka angka pengangguran; serta
  21. Mengajak kandidat lain untuk bersama-sama membangun Aceh.
Namun sungguh mengecewakan, ternyata prestasi yang diukir Pemerintah Aceh saat ini tak sebanding dengan banyaknya janji yang telah disampaikan dulu. ZIKIR terkesan ‘mandul’ dalam merealisasikan janjinya. Ironisnya, bahkan pihak melihat Pemerintah Aceh sibuk dengan urusan-urusan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kepentingan dan kesejahteraan rakyat.
Ada kesan bahwa pemerintah Aceh mengutamakan kepentingan kelompoknya di atas segala-galanya, sementara kepentingan rakyat terbengkalai. Semua rakyat telah menyaksikan para elit daerah ini hanya fokus pada kepentingan politiknya menjelang pemilu 2014. Padahal tampuk kekuasaan di Aceh bukanlah sarana untuk memperlancar gerakan politik kelompok tertentu, ia mutlak untuk mengurus kepentingan masyarakat Aceh.
Setiap pemimpin tentu saja harus memenuhi janji politiknya terhadap rakyat. Beranjak dari hal tersebut, atas nama rakyat Aceh, kami dari Koalisi Mahasiswa Darussalam (PEMA Unsyiah, BEM F Tarbiyah IAIN, BEMF Syariah IAIN) meminta kepemimpinan ZIKIR untuk merealisasikan janji-janjinya tersebut.
Rakyat tidak ingin memiliki pemimpin yang munafik yang hanya manis di bibir saja. Ke dua puluh satu janji tersebut adalah harga mati yang harus di penuhi untuk menjaga reputasi kepemimpinan ZIKIR dimata masyarakat Aceh.
Jika ZIKIR tidak merealisasikan janji-janji tersebut, itu sama halnya mereka telah melakukan pembohongan publik yang layak menyandang gelar Pemimpin Munafik dan sebaiknya mundur saja dari tampuk kekuasaan.
Koalisi Mahasiswa Darussalam juga mengajak semua elemen sipil dan mahasiswa lainnya untuk sama-sama mengawal Pemerintahan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf, tidak ada kata lain selain LAWAN!
Demikian siaran pers Koalisi Mahasiswa Darussalam (PEMA Unsyiah, BEM F Tarbiyah IAIN, BEM F Syariah IAIN) yang diterima AtjehLINK, Selasa (23/4/2013). (sp)

Rekomendasi untuk Gubernur Aceh dan Dubes Turki

Rekomendasi untuk Gubernur Aceh dan Dubes Turki

Suasana Diskusi di Sultan Slim II. (Lintas Gayo | Aman Renggali)
Suasana Diskusi di Sultan Slim II. 
Banda Aceh.

        Fokus Diskusi Grup dalam rangka Memperingati 502 tahun Kesultanan Aceh Darussalam (1511-2013) dan hari pahlawan Aceh 23 April ke 140 (1873-2013) berlangsung dan sehingga melahirkan beberapa rekomendasi.
Diskusi terfokus tersebut dihadiri 39 orang yang terdiri dari pakar dan pencinta sejarah. Acara ini berlangsung pada hari Pahlawan Aceh ke 140 tahun yang jatuh pada hari Selasa 23 April 2013 di Meeting Room Aceh Community Center (ACC) Sultan II Selim, Banda Aceh.
Acara dibuka oleh kolektor manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid, dengan mempresentasikan manuskrip hasil koleksinya. Menurutnya, manuskrip yang ada padanya sekarang merupakan kitab-kitab karangan ulama Aceh yang menjadi acuan kebijakan Kesultanan Aceh Darussalam.
“Manuskrip merupakan peninggalan para ulama besar yang harus dikaji oleh para ahli supaya generasi muda bisa memahaminya. Manuskrip merupakan warisan peradaban yang sangat mahal. Ini merupakan karya para ulama dari segala aspek keilmuan. Diskusi ini dibuat dengan orang-orang yang sangat memperhatikan manuskrip terutama yang berisi sejarah agar kita tahu bagaimana kebudayaan Aceh yang sesungguhnya,” kata Tarmizi.
Seorang peserta yang merupakan pemerhati sejarah dari Kampung Pande, Ardian Yahya, menyatakan ketidaksetujuan tentang angka tahun kesultanan. Menurut Ardian, kesultanan Aceh Darussalam hampir seribu tahun, bukan 502.
Kepala Museum Aceh Nurdin AR menganjurkan acara serupa dikasanakan sebulan sekali. menjelaskan bahwa kenapa kenapa tahun ini Kesultanan Aceh Darussalam berusia 502 tahun.
“Kalau 502 tahun pada 2013 berarti dihitung saat Malaka jatuh ke Portugis, dan Sultan Ali Mughayatsyah menyatukan beberapa kerajaan menjadi Kesultanan Aceh Darussalam. Saat itulah potensi di Malaka berpindah ke Badar Aceh Darussalam sehingga menjadi menjadi pusat peradaban Islam terbesar di Asia Tenggara. Tergantung dari mana diambil, ini harus disepakati,” kata Nurdin.
Peserta diskusi Arkeolog dari Unsyiah Dr Husaini Ibrahim, mengatakan, tahun 1981 diadakan seminar yang menghasilkan keputusan dalam satu buku yang menegaskan Aceh hampir seribu tahun.
“Kalau hampir seribu tahun, berarti diambil dari penetapan Sultan Johansyah. di sana disebutkan temuan baru bahwa ketika di Aceh ada sebuah dinasti Hindu-budha, ada sekelompok pelarian dari Arabia Selatan datang mengislamkan seorang raja di Aceh sekitar bab ke enam. Jika sekarang disebutkan Aceh Darussalam berusia 502 tahun, itu sah-sah saja, karena setiap generasi berhak menulis sejarahnya sendiri,” kara Husaini.
Menurutnya, batu nisan menjadi sumber sejarah yang primer. Selama ini, kata dia, sejarah yang ditulis tanpa memakai metode sejarah kritis sehingga tak sesuai dengan data. Dalam penulisan sejarah, katanya, harus pakai metode sejarah kritis.
“Sumber sejarah primer seperti batu nisan, manusikrip harus dipelihara dengan baik. Harus adalah seminar yang besar agar sumua itu terungkat dengan jelas, mengingat, Aceh sebagai sebuah kerajaan punya landasan yang besar,” kata Husaini.
Guru Besar IAIN Prof. DR. Yusni Saby., MA mengatakan, kebanyakan orang Aceh berasal dari Persia, Semenanjung Hindia, dan Champa.
“Sarjana besar muslim kebanyakan dari Persia. Tradisi kuburan dan nisan di Aceh, besar pengaruh Persia,” kata Profesor mantan rektor IAIN yang merupakan peserta diskusi.
Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Aceh Adami Umar yang hadir sebagai peserta, mengatakan, manuskrip adalah warisan intelektual yang hanya dapat dihargai oleh intelektual juga. Ia menginginkan diskusi terarah seperti yang berlangsung hari itu terus dilaksanakan.
Seorang pegiat adat Zulfadli Kawom yang menghadiri acara itu menginginkan isi sejarah, adat, dan kebudayaan supaya dipraktikkan oleh penjabat-penjabat agar bisa diperintahkan kepada rakyat. Dengan mempraktikkan kembali, kata Zulfadli, kebudayaan Aceh dapat lestari.
Pemerhati sejarah dari Pidie, Teuku Abu Bakar, dalam acara tersebut menginginkan supaya ada rekomendasi kepada gubernur dari diskusi hari itu agar ada tindak lanjutnya.
Dalam diskusi yang berlangsung dua jam lebih tersebut, seorang pemerhati penulisan Aceh, Ayah Panton, menginginkan supaya diskusi dilaksanakan dengan waktu cukup serta membahas sebuah tema sampai selesai. Walaupun, kata dia, acara tersebut butuh waktu berhari-hari.
“Para akademisi harus meneliti. Pemerintah harus membangun sebuah museum khusus untuk menyimpan manuskrip koleksi Tarmizi A Hamid,” kata Ayah Panton.
Seorang pegiat seni, Ayi Sarjev, mengharapkan agar di diskusi selanjutnya, para hadirin memberikan ide-idenya, jangan hanya duduk dan dengar saja.
“Saya lihat diskusi ini dihadiri oleh para tokoh besar dan pengambil kebijakan, kita harus sampaikan semua ide-ide. Pendidikan sejarah dan budaya harus diterapkan di sekolah-sekolah mulai dari sejak usia dini. Dan saya harap pemerintah segera bertindak mengklaim produk Aceh dengan hak paten,” kata Sarjev.
Pemerhati sejarah asal Tamiang yang menghadiri acara, Darmansyah, menginginkan supaya penulis Aceh menulis sumber sejarahnya. Aceh, kata dia, dari dulu punya sejarah.
“Saya sudah temukan bukti sejarah Aceh ada di Kedah, Serawak Malaysia serta di Musol, Iran. Malikus Saleh telah berhasil mempersatukan Sunni dan Syiah di Aceh. Sekarang, pemerintah harus membuat jembatan kebudayan, yaitu bahasa. Dan, jangan lagi para penghuni wilayah ini saling mengklaim dengan masing-masing berkata, ‘aku lebih tua.’ Jangan lagi,” kata Darmansyah.
Pegiat Syariat Islam yang hadir, Teuku Zulkhairi, menginginkan supaya dalam mengambil kebijakannya, pemerintah harus merujuk pada sejarah tentang yang terjadi zaman ini.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kota Banda Aceh, Yudi Kurnia, mengatakan, perlu dilaksanakan diskusi berkala, dengan tema khusus. Lalu, kata dia, dibagi kelompok kecil, masing-asing kelompok melakukan bagiannya.
“Setelahnya hasil itu dibawa kembali dalam forum untuk direkomendasikan kepada pemerintah. Harus merekomendasikan hasil diskusi kepada pemerintah,” kata Yudi yang hadir sebagai peserta.
Setelah diskusi selesai, ketua Lembaga Swadaya Masyarat (LSM) Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT), Thayeb Loh Angen, mengatakan bahwa untuk menanggapi saran-saran peserta, pihaknya segera membuat rekomendasi.
“Hasil diskusi ini segera kami tulis dengan baik. Kita sesuaikan lagi dengan dengan beberapa peserta kunci, lalu kita kirim ke semua peserta yang hadir dalam Fokus Diskusi Grup, setelahnya kita serahkan kepada Gubernur Aceh dan DPR Aceh, Walikota dan DPRK Banda Aceh, serta ke Kedutaan Besar Turki di Jakarta,” kata Thayeb sebagai ketua panitia.
Dalam acara ini, penyair senior LK Ara membaca puisi tentang makam Syamsuddin As- Sumatrani, Rafly Kande menyanyikan lagu terbarunya.
Acara tersebut turut dihadiri peneliti manuskrip Hermansyah, Musisi Aceh Rafly Kande yang sempat membawakan dua lagu di sana, Salman yoga S, Zulfadli Kawom, Herman RN, Muhajir Al Fairusi, Said Fauzan Disbudpar Banda Aceh, LK Ara dan pemerihati sejarah lainnya.