Search This Blog

Saturday, December 14, 2013

Peperangan Melawan Japan

Peperangan Melawan Japan

Rasa dendam rakyat Aceh yang begitu berakar terhadap Belanda telah dinyatakan dan dianjurkan dengan sangat jelas dalam salah satu bait Hikayat Prang Sabil atau Hikayat Perang Sabil. Bait yang berbunyi : "bek tameugot ngon Beulana'a kaphee, musoh sabee meupusaka" (jangan bersahabat dengan kafir Belanda, musuh kita turun temurun) itu mendorong rakyat Aceh untuk terus memusuhi kekuasaan Belanda (Sjamsuddin, Nazarudin, Revolusi Di Serambi Mekah, UI-Press, 1998. 42). Rasa dendam itu kemudian disalurkan ke dalam usaha untuk mendapat bantuan Jepang, begitu pasukan tersebut mendarat di Penang, Semenanjung Melayu, pada pertengahan Desember 1941.
Banyak sekali pihak yang terlibat dalam upaya ini, baik yang dilakukan secara perseorangan maupun kelompok. Mungkin karena banyaknya pihak yang terlibat di dalamnya, maka informasi mengenai hal ini dalam masyarakat Aceh sendiri sangat simpang siur. Timbulnya Perang Pasifik, antara Belanda serta sekutunya di satu pihak dan Jepang di pihak lain, memperbesar tekad PUSA (organisasi ulama di Aceh) mengusir Belanda dari Tanah Rencong.
Mengenai kontak dengan Jepang ini, baik sumber Jepang maupun Aceh lebih banyak mengungkapkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Sayid Abubakar, seorang anggota pemuda PUSA yang melarikan diri dari kerajaan Belanda dengan menetap di sebuah kampung Aceh di Kedah.
Pada bulan Desember 1941, Tgk Muhammad Daud Beureueh, Ketua Pengurus Besar PUSA, Tgk Abdul Wahab Seulimum, anggota PUSA dan Kepala Cabang PUSA Teuku Nyak Arif, Teuku Ahmad, Teuku M. Ali Panglima Polem mengadakan pertemuan di rumah T. Nyak Arif di Lamnyong pada malam hari. Mereka berjanji dan bersumpah setia kepada agama Islam, kepada bangsa dan tanah air, juga memutuskan untuk bekerjasama dengan Dai Nippon, melawan Pemerintah Belanda. Mereka menyusun pemberontakan atas nama PUSA. (Saleh, Hasan, Mengapa Aceh Bergejolak, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1992. hal 9)
Pada tanggal 12 Maret 1942, mendaratlah bala tentara Jepang di Ujung Batee, 8 km dari Kutaraja. Tanggal 13 Maret, kaum FPUSA menyerbu rumah Asisten Residen Belanda di Pidie yang terletak di pinggir taut dan agak jauh dari markas militer. Fasilitas-fasilitas strategis pun sudah disiapkan, termasuk lapangan terbang dan persediaan bahan bakar minyak, telah diamankan sehingga tidak sempat dihancurkan oleh Belanda. Bala tentara Jepang yang mendarat disambut dengan meriah di tepi pantai, dengan suguhan makanan dan minuman. Pada jam 7 pagi itu juga pasukan Jepang langsung memasuki Kutaraja dan disambut lebih meriah lagi oleh penduduk kota dengan teriakan "Banzai". Demikianlah,dua minggu kemudian Jepang sudah berhasil menguasai seluruh Aceh.( Sjamsuddin, Nazarudin, Revolusi Di Serambi Mekah, UI-Press, 1998. 42)
Bila kita perhatikan situasi politik di Aceh secara keseluruhan terutama dalam tahun-tahun terakhir pemerintahan Belanda yang ditandai oleh pertentangan yang kuat antara kaum ulama dan uleebalang, keputusan kedua pribumi Aceh itu untuk bekerjasama guna menghadapi Belanda tidaklah dapat dibayangkan sebelumnya.
Keterlibatan para Uleebalang yang bermusuhan dengan PUSA dalam pemberontakan itu, dan kesediaan mereka untuk bekerjasama dengan kaum ulama, sangat mungkin telah dipengaruhi juga oleh rasa takut mereka akan kedatangan Jepang. Boleh jadi kerjasama ini tercipta karena kaum uleebalang menyadari bahwa posisi serta keamanan pribadi mereka akan terancam bilamana mereka tidak mau bergabung dalam pemberontakan itu. Malahan jika mereka tidak ikut mengambil bagian dalam perjuangan itu bisa-bisa menyebabkan mereka nanti tersingkir dari singgasana tradisional mereka, yaitu apabila Jepang berhasil menaklukkan Belanda. Dan jika hal ini menjadi kenyataan, maka keseluruhan kegiatan politik pribumi di daerah itu akan berada di bawah kendali PUSA. Kaum Uleebalang tentunya sudah pula memperhitungkan bahwa keterlibatan pemimpin-pemimpin PUSA di dalam barisan tersebut semata-mata hanya sebagai batu loncatan dalam upaya mereka untuk memperkuat posisi politik PUSA setelah runtuhnya kolonialisme Belanda. Oleh karena itu, tampaknya tidak ada alternatif lain bagi kaum uleebalang selain daripada bekerjasama dengan seteru mereka.
Jepang telah melaksanakan politik bumi hangus seluruh prasarana ekonomi, hanya dengan alasan untuk memperlemah kekuasaan politik lawan (Belanda) yang diduga masih mengambil keuntungan dari sisa-sisa perekonomian yang ditinggalkannya. Maka surplus beras daerah Aceh pada tahun 1941 – satu tahun sebelum Jepang mendarat – telah mencapai 36.000 ton punah dengan sekejab mata. Kenyataan yang semacam ini semakin diperparah oleh tindakan-tindakan Jepang yang mewajibkan penyetoran beras – yang pada tahun 1943 mencapai angka 17.000 ton. Sebagai akibatnya banyak tanah rakyat yang disita Jepang karena tuntutan yang sangat berat tidak terpenuhi. (Djohan, Azhar, Ekonomi Masyarakat Aceh Selatan Dalam Perspektif Historis, Seminar sejarah dan Kebudayaan Masyarakat Aceh Selatan. 1989 hal 7)
Keadaan yang menyedihkan inilah yang membangkitkan kesadaran akan keterjajahan di kalangan masyarakat Aceh Selatan - seperti juga menggejala di seluruh masyarakat Aceh. Bukan saja terhadap kondisi perekonomian mereka yang semakin memburuk, tetapi juga terhadap kondisi politik. Dengan kata lain, baik kondisi ekonomi maupun politik yang memburuk pada masa itu, telah membentuk kembali kesadaran kebangsaan; bahwa baik Belanda maupun Jepang adalah sama tak punya hak memerintah di tanah air dan bahwa keduanya haruslah diusir dari tempat-tempat di mana mereka pernah berkuasa.

Ulama-Ulama dan kitab-kitab Aceh

                                    Ulama-Ulama dan kitab-kitab Aceh

Berkembangnya ilmu pengetahuan di Aceh pada masa terdahulu tidak terlepas dari peran ulama. Mereka berperan penting dalam mensosialisasikan pentingnya ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Menurut mereka menuntut ilmu merupakan  yang harus menjadi perhatian serius semua pihak. Untuk memotivasi masyarakat untuk itu mereka menyertai pesannya dengan hadits Nabi SAW, sehingga menuntut ilmu dalam masyarakat Aceh dilandasi oleh semangat mencari pahala dan beribadah, di samping itu partisipasi masyarakat luas dalam pengembangan pendidikan agama juga sangat besar.

Partisipasi itu bisa sebatas memberi dukungan baik moril maupun materi kepada orang yang menuntut ilmu, malah dengan menghadiri majelis ilmu saja sudah mendapat apresiasi dengan adanya janji pahala yang sangat besar dari Allah SWT.

Hal itu dapat dijumpai dalam beberapa kitab yang ditulis oleh ulama Aceh, salah satunya kitab Syifaul Qulub yang ditulis oleh Arif Billah Syeikh Abdullah, yang merupakan salah satu kitab yang terhimpun dalam kitab Jam’u al-jawamik. Kitab yang berisi 400 hadits itu menempatkan bab keutamaan ilmu dan ulama pada bagian pertama.

Ini menunjukkan seriusnya Syekh Abdullah dalam memandang pentingnya ilmu pengetahuan bagi masyarakat Aceh.

Kitab yang umumnya dibaca oleh murid pemula itu telah berdampak luas dalam masyarakat Aceh sehingga terbangunnya struktur masyarakat adat yang mengharuskan anak-anak untuk belajar agama dengan meunasah sebagai sentralnya.

Sementara bagi yang ingin meningkatkan ilmunya akan pergi ke dayah-dayah dengan sistem meudagang (mondok) hingga bertahun-tahun lamanya.

Dalam kurun waktu yang sangat lama Aceh menjadi pusat kajian Islam di nusantara berkat semangat keagamaan tersebut, sehingga ada adagium yang  berkembang seolah-olah kalau tidak bisa mengaji bukan orang Aceh namanya.

Walaupun ada masyarakat Aceh yang lahir sebelum kemerdekaan Indonesia yang buta aksara latin, tapi mereka umumnya sangat lancar membaca huruf Arab dan Arab Jawi, ini menandakan budaya keilmuan telah berkembang di zaman dahulu sesuai dengan konteks yang ada pada masanya. Karena sebelum Belanda Menjajah Aceh, kitab yang berkembang pada masa itu adalah Arab jawi.

Dalam kitab Syifaul Qulub, Syeikh Abdullah menuliskan:

“Barangsiapa menolong ia akan orang yang alim yakni orang yang mengajar, atau menolong ia akan orang yang mutaallim, yakni orang yang belajar, jikalau adanya dengan qalam yang patah sekalipun, maka serasa-rasa ia berbuat ka’bah tujuh puluh kali (hadits)”.

Kutipan-kutipan hadits seperti di atas telah menumbuhkan semangat infaq di kalangan masyarakat, sehingga banyak yang memberi sumbangan kepada lembaga pengajian agama, baik dalam bentuk uang maupun wakaf tanah. Sehingga dimana-mana dalam masyarakat sangat banyak didapatkan tanah wakaf yang dikelola oleh imum gampong selama masih menjabat dan mengajar Al-Quran untuk anak-anak.

Hal yang sama juga kita dapatkan pada lembaga yang lebih tinggi seperti dayah yang sering dibangun di atas tanah wakaf, dan pembangunan juga dilakukan dengan  sumbangan masyarakat sekitar, malah dalam waktu yang sangat lama dayah Aceh tidak mendapat dana dari pemerintah.

Di samping pentingnya ilmu pengetahuan, Syekh Abdullah juga menekankan pentingnya memberi penghormatan kepada para ulama.

“Siapa yang mempermuliakan ulama maka bahwasanya mereka itu pada Allah Ta’ala itu mulia ia (hadits)”.

Pesan-pesan tersebut membentuk karakter masyarakat Aceh yang cinta ulama serta menghormati mereka.

Apalagi dalam lembaga pendidikan seperti dayah rasa hormat kepada guru telah menjadi tatanan yang melekat erat bagi setiap santrinya. Bagi santri jika tidak hormat kepada guru akan dihantui oleh perasaan bersalah (ceumeureuka) dengan gurunya, dan itu akan sangat tabu bagi masyarakat Aceh.

Penghormatan kepada ulama juga disebabkan karena keterlibatan masyarakat yang sangat tinggi dalam pengembangan pendidikan agama di Aceh, sehingga lulusan dari lembaga pendidikan tersebut juga mendapat tempat yang terhormat. Bagi masyarakat awam, lulusan dari lembaga pendidikan merupakan kader yang telah dibesarkan oleh mereka sendiri secara bersama-sama.

Penghormatan kepada ulama yang telah mengakar tersebut menjadikan mereka sebagai pusat fatwa (peuneutoh) dalam berbagai persoalan sosial masyarakat.

Adab dan Perilaku

Adab lebih tinggi dari ilmu, demikian pemahaman masyarakat Aceh mengenai pentingnya adab dan sopan santun dalam kehidupan, adab itu sendiri berlaku bagi semua kalangan, baik masyarakat umum hingga ulama sekalipun.

Adab di Aceh sudah menjadi tata krama yang mentradisi dari generasi ke generasi, sehingga melahirkan kondisi sosial masyarakat yang santun, lembut dan menghormati orang lain.

Dalam dunia pendidikan juga sama, adab itu sangat dijunjung tinggi, seorang murid harus menghormati guru, demikian juga guru harus menghargai muridnya, sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan harmonis dan bebas dari beban psikologis.

Suasana penuh keakraban dapat kita lihat dalam lembaga pendidikan agama di Aceh, tidak pernah terjadi murid memprotes guru dengan cara yang tidak wajar apalagi demonstrasi tanpa kendali.

Hal itu dapat kita  baca dalam kitab karya Syeikh Muhammad anak dari Syeikh Khatib dalam kitabnya Dawaul Qulub yang juga merupakan salah satu kitab yang terkumpul dalam kitab Jam’u Jawami’ Al-Musannafat, karya Syeikh Ismail Bin Abdul Muthallib Al-Asyi.

Syeikh Muhammad juga menekankan pentingnya penampilan seorang yang berilmu dalam  masyarakat seperti style pakaian, dan tingkah laku. Berikut kutipannya:

“Inilah khatimah pada menyatakan segala perbuatan yang tak dapat tiada bagi murid”.

Disini syeikh Muhammad mengingatkan para murid agar tetap menjaga jati dirinya dimana pun berada, seperti menjaga pakaian agar sesuai sunnah Nabi saw., selalu mendahului dalam memberi salam kepada siapa pun, menyayangi semua orang tanpa pilih kasih, tidak berburuk sangka pada manusia walaupun ia bersifat fasiq sekalipun, tidak boleh menghina orang lanjut usia, serta selalu menuntut ilmu dimana pun  berada.

Perbedaan Mazhab

Persoalan khilafiah sebenarnya sudah selesai bagi masyarakat Aceh, seperti perbedaan mazhab yang akhir-akhir ini sering dipertentangkan. Menurut ulama Aceh tempo dulu, mazhab yang dianut di Aceh adalah empat mazhab sekaligus, yaitu, mazhab Syafii, Hanbali, Maliki dan Hanafi. Keempat mazhab tersebut diakui kebenarannya dan dijadikan standar kompetensi para imam, mufti dan ulama di Aceh.

Hal itu pula yang menyebabkan Aceh menjadi sentral peradaban Islam di Asia Tenggara kala itu, karena semua persengketaan dari lintas mazhab pun mampu diselesaikan disini.

Malah pengakuan terhadap empat mazhab tersebut tertuang dalam konstitusi Aceh kala itu, Qanun Meukuta Alam Al-Asyi. Sebagaimana yang tercantum dalam kitab tazkirah Tabaqat, karya Tgk. Di Mulek:

 “Maka peganglah dengan sungguh-sungguh hati Qanun Meukuta Alam al-Asyi dari karena mengikuti… Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i (dan) Imam Hanbali. Dan empat mazhab itu semuanya tunduk kepada Syari’at Rasullullah saw. … Yakni berhimpun empat, yaitu Islam dan Iman dan Tauhid dan Makrifat, maka barulah bernama agama.

Disni juga mencerminkan pemikiran mazhab ulama Aceh masa lalu yang multi mazhab dan toleran dengan dinamika persoalan umat. Bahkan mereka berani pindah mazhab jika suatu persoalan tidak bisa diselesaikan oleh salah satu mazhab.

“Yaitu jika tiada boleh hukumnya dalam mazhab Imam Syafi’i, maka dicari hukumnya dalam mazhab Ahmad Imam Hanbali. Dan jika tiada hukumnya dalam mazhab Imam Hanbali, maka dicari hukumnya dalam mazhab Imam Malik. Dan jika tiada dalam mazhab Imam Malik, maka dicari  hukumnya dalam mazhab Imam Abu Hanifah. Karena adalah Imam yang empat itu pangkat Mujtahid Mutlak yang sah dalam Ahlussunnah waljama’ah.

Keragaman mazhab disini hanya terbatas pada empat mazhab saja karena masih dalam koridor ahlus sunnah wal jamaah sebagaimana yang ditegaskan oleh Tgk. Di Mulek. Malah pada masa Iskandar Muda di Aceh dibentuk mufti empat mazhab yang disebut dengan Syaikh Al-Islam supaya dapat mengakomodir semua pemasalahan umat.

“Maka sebab itulah paduka Sri Sultan Sulaiman Meukuta Alam Iskandar Muda Perkasa Alam Syah mendirikan Mufti empat mazhab, yakni Syaikh al-Islam; Mufti Empat dalam negeri Aceh Darussalam. Karena menjaga dan memeliharakan hukum Syara’ Syari’at Rasulullah saw. dari kaum yang Tujuh Puluh Dua yang khianat kepada agama Islam.

Dan maka jika alim ulama yang Ahlus-Sunnah Waljama’ah masuk ke dalam negeri Aceh dari luar negeri, maka dipermuliakannya oleh Sultan Iskandar Muda serta diberikan surat ber-Cap Sembilan dan diberikan tadah. Jika alim ulama itu bermukim dalam negeri Aceh. Dan jika ia musafir maka diberikan belanja sekedar mencukupi yaitu makanan dan pakaian. Dan jika pulang ia ke negeri di mana pun negerinya maka diberikan hadiahnya dan ongkos kapal dibayar oleh kerajaan Aceh.

Disini disebutkan bahwa Iskandar Muda sangat hormat pada ulama berbagai mazhab ahlus sunnah wal jamaah, juga disediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan. Sehingga banyak terdapat ulama dari berbagai bangsa yang menetap dan ikut mengajar masyarakat Aceh.


  1.  Teungku Di Lueng Keueng
  2.  Abunek Krueng Kale
  3.  Teungku Gle Payong
  4.  Teungku Keuneu’eun
  5.  Teungku Di Anjong
  6.  Teungku Di  Li -eue
  7.  Teungku Lam Bhuek
  8.  Teungku Di Jurong
  9.  Teungku Lam Gut
  10.  Teungku Di Bitai
  11.  Teungku Gle Weueng
  12. Teungku Di Reuloh
  13.   Teungku Di Blang
  14.   Teungku Di Meugong
  15.   Teungku Di Jabo
  16.   Tuwan Di Pulo
  17.   Teungku Lhok Pawoh
  18.   Teungku Lhok Nibong
  19.   Teungku Di Pu-uek
  20.   Teungku Di Meuse
  21.   Teungku Syekh Saman
  22.   Syiah ‘Abdurrauf ( halaman 19 – 20 )
  23.    Teungku Di Ulee Gle
  24.    Teungku Awe Geutah
  25.     Teungku Batee Badan
  26.     Teungku Ulee Jurong ( sama dgn no. 8 di atas?)
  27.     Teungku Di Bathoh
  28.     Teungku Di Peulumat
  29.     Teungku Pante Peulumat
  30.     Teungku Tanoh Mirah
  31.     Teungku Tanoh Abee
  32.     Teungku Gunong Ijo
  33.      Teungku Di Baet
  34.     Teungku Bak Keureuma
  35.     Teungku Di Cot Bak Goeh
  36.    Tuwan Di Cantek
  37.     Teungku Salah Nama
  38.      Teungku Anoe Manyang
  39.      Tuwan Pulo Angkasa
  40.      Teungku Paya Duwa
  41.      Teungku Di Gandrien
  42.      Teungku Lam Guha ( gelar atau sekedar sebutan?)
  43.      Teungku Lam Duson ( ada orangnya atau hanya sebutan?)
  44.      Teungku Syik Krueng Kale ( sama dgn no. 2 di atas?)
  45.       Teungku Batu Bara
  46.       Teungku Di Aron ( halaman 142, 152 – 174 )
Catatan:   1).  Naskah asal Kitab Teungku Di Cucum yang berhuruf Arab Melayu atau Jawi alias Jawoe ini belum diberi nama/judul oleh pengarangnya. Teungku Di Cucum mempersilakan orang lain memberikan  nama yang ‘bagus’ bagi karya beliau. Setelah selesai saya alih aksara ke huruf Latin pada Selasa, 25 Jumadil Akhir 1423 H/ 3 September 2002 M,  pukul 15.00 Wib., hasil salinan itu saya beri judul sementara “Tambeh Gohna Nan”( Tambeh Belum Bernama). Tgk Di Cucum saya perkirakan hidup pada zaman awal kedatangan Belanda di Aceh. Banyak tanda-tanda zaman itu tersirat dalam kitab beliau  “Tambeh Gohna Nan”.
2). Dalam  deretan lebih 40 Ulama Aceh itu, hanya Teungku Syik Krueng Kale satu-satunya yang bergelar Teungku Syik.
3. Pertanyaan yang timbul, bagaimana kiprah dan sejarah dari para Ulama  Aceh ini  dan  dimana   kuburan  beliau  berada  sekarang !!!?????.
Bale Tambeh, 9 Desember 2011, T.A. S akti
Kata Pengantar Tuwanku Raja Keumala: Ketika Menyalin Hikayat Akhbarul Karim
47. Teungku Syekh Abbas Kuta  Karang
48. Teungku Muhammad Amin Dayah Cut
49. Teungku Zainul Abidin
50. Teungku Di Cot Plieng
51. Teungku Pante Kulu
52. Teungku Pante Ceureumen/Teungku Nyak Kob
53. Tuwanku Raja Keumala
( Sumber: Kata Pengantar Tuwanku Raja Keumala: Ketika Menyalin Kitab  Akhbarul Karim. Kisah lebih lanjut tentang karya-karya para Ulama Aceh ini dapat dibaca dalam blog tambeh/Bek Tuwo Budaya. Sejauh catatan yang saya baca, Tuwanku Raja Keumala hidup antara tahun 1880 – 1930 M.  Kitab Akhbarul Karim  selesai disalin beliau  di kampung Kedah, Kuta Raja, Aceh Besar pada  18 Ramadhan 1337 H. Bale Tambeh, Sabtu, 10 Desember 2011 pkl 10.33 malam, T.A. Sakti ).

Penyebaran Islam ke Asia Tenggara

                                            Penyebaran Islam ke Asia Tenggara

Umat Islam merupakan penduduk mayoritas Asia Tenggara, menurut para ahli, islamisasi di kawasan ini berlangsung secara damai dan melalui proses panjang yang masih terus berlangsung sampai sekarang. Menurut sumber sejarah lain, masa awal sejarah Islam di Asia tenggara masih rumit. Karena, terdapat perbedaan-perbedaan dasar di kalangan para ahli dalam mengkaji Islam di Asia Tenggara, yang kadang-kadang sulit dipertemukan satu sama lain.
Ditinjau dari aspek daerah Asia Tenggara yang berperan sebagai salah satu jalur perdagangan yang diminati oleh para pedagang. Jalur perdagangan itu masyhur dikenal sebagai jalur sutra laut yang membentang dari mulai Laut Merah – Teluk Persia – Gujarat – Bergal – Malabar – Semenanjung Malaka – hingga ke Cina.
Keseluruhan perjalanan sejarah umat Islam di Asia Tenggara  telah menyebabkan terjadinya pergumulan sekaligus akulturasi dan asimilasi dengan budaya lokal. Ketidaksesuaian antara Islam dengan elemen-elemen adat atau tradisi lokal yang ada, telah menimbulkan konflik. Namun, dengan adanya konflik teersebut, juga membuahkan budaya baru yang dinamis dan unik yaitu peradapan Islam di Asia Tenggara.
Sejarah Penyebaran Islam di Asia Tenggara
Kawasan laut Asia Tenggara, khususnya Selat Malaka, telah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan internasional. Mulai abad VII dan VIII ( abad I dan II Hijriyah ), para muslim dari Persia dan Arab sudah turut serta dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan sampai ke negeri China.
Muslim pertama, Sa’ad bin Abi Waqash, adalah seorang mubaligh dan sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia adalah pembawa agama Islam sekaligus pendiri masjid di Canton.
Apabila gambaran tentang kedatangan Islam di Asia Tenggara sejak abad VII sampai abad XI banyak berdasarkan berita-berita Cina, bukti-bukti arkeologis mengenai hal yang sama dikuatkan oleh penemuan beberapa nisan yang diperkirakan berasal dari abad XI. Sebagaimana, nisan itu bertuliskan huruf Arab dan nisan yang lain tulisannnya mirip tulisan Jawi ( Arab-Melayu ). Dari bukti arkeologis itu terlihat bahwa Islam telah datang di daerah Campa dan membentuk komunitas muslim sekitar abad XI.
Kedatangan Islam sejak abad VII sampai abad XII di beberapa daerah Asia Tenggara dapat dikatakan baru pada tahab pembentukan komunitas muslim yang mayoritas terdiri dari para pedagang. Abad XIII sampai abad XVI, terutama munculnya kerajaan bercorak Islam, merupakan kelanjutan dari penyebaran Islam. Pada gelombang pertama, penyebaran Islam menghadapi masyarakat kerajaan yang bercorak Hindu-Budha, yang masyarakatnya masih memiliki struktur pemerintahan semacam desa atau kesatuan desa dengan kepercayaan dinamisme dan animisme. Pada gelombang kedua, yang dimulai sejak abad XIII, penyebaran Islam lebih mantab dan luas. Hal ini bisa dilihat pada berdirinya kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara pada abad XIII di pesisir Aceh Utara, tepatnya di Lhokseumawe.
Sejak kerajaan Samudera Pasai tubuh dan berkembang, yaitu sejak abad XIII sampai akhir abad XVI, pelayaran dan perdagagan antara muslim dari Arab, Persia, Irak, India Selatan, dan Sri langka semakin ramai. Mereka bukan hanya mendatangi ibukota Kerajaan Samuderai Pasai, tetapi juga meneruskan pelayaran dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara.
Penetrasi Islam secara kasar dapat dibagi ke dalam tiga tahap. Tahap pertama dimulai dengan kedatangan Islam yang kemudian diikuti dengan kemerosotan, akhirnya keruntuhan Kerajaan Majapahit dalam kurun abad ke-14 dan ke-15. Sejak datangnya kekuasaan kolonialisasi Belanda Indonesia, Inggris, di Semenanjung Malaya, dan Spanyol di Filipina, sampai awal abad ke – 19. Sedangkan tahap ketiga bermula awal abad ke 20 terjadi liberalisasi kebikjasanaan pemerintah kolonial, terutama Belanda di Indonesia. Dalam tahapan – tahapan ini kita akan melihat proses Islamisasi Asia Tenggara sampai mencapai tingkat seperti sekarang.
Setting Sejarah Sosial Penyebaran Islam di Asia Tenggara
Penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara merangkum 11 negara (states) yaitu Indonesia, Malaysia, Muangthai, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, Burma (Myanmar), Vietnam, Laos, Kamboja, dan Timor Leste. Dalam negara-negara tersebut terdapat lebih dari 378 etnis dan suku bangsa, 5 agama besar di dunia, beberapa bahasa ibu dan bahasa pengantar (Lingua Franca)
Kondisi sosial yang unik karena di dalamnya terkandung kultur yang beraneka warna adat budayanya. Bahkan, pada saat ini pun, kepercayaan nenek moyang atau sistem tradisional lainnya, seperti adat, masih kuat bertahan. Apa yang diambil masyarakat setempat dari sistem kepercayaan ini terutama unsur-unsur mistik dan metafisik. Demikian pula sistem adat dan tradisi pribumi sangat bersifat lokal, partikularistik dan divisif. Semua kenyataan ini membuat Islam yang bersifat universal itu lebih cepat diterima sebagai faktor integratif, identifikasi, dan mekanisme pertahanan diri dalam menghadapi penjajah.
Di dalam struktur kota semacam ini ( kota pelabuhan yang merupakan pusat Islam yang dinamis), dimana ulama’ borjuis bermukim, terdapat ketergantungan timbal balik antara kegiatan perdagangan (merkantil) dengan pembangunan dan pemeliharaan lembaga-lembaga pendidikan Islam. Lembaga ini sangat penting bagi bertahannya karakter kota Islam dan juga bagi penyebaran Islam ke pedalaman dan pedesaan.
Kondisi Pengetahuan Agama Pada Masa-masa Penyebaran Islam di Asia  Tenggara
Berdasarkan dari teori bahwa Islam pada dasarnya adalah urban ( perkotaan ) dan bahwa peradapan Islam pada hakikatnya adalah urban, Johns menyatakan bahwa Islamisasi Nusantara bermula dari kota – kota pelabuhan yang ada. ( perlu diketahui, kata “Nusantara” pada makalah ini bermaksud untuk menyebut seluruh wilayah Asia Tenggara) Di perkotaan itu sendiri, Islam adalah fenomena istana. Istana kerajaan menjadi pusat pengembangan intelektual Islam atas perlindungan peresmi, yang kemudian memunculkan tokoh-tokoh ulama  intelektual. Mereka mempunyai jaringan keilmuan yang luas baik dalam maupun luar negeri sehingga menunjang pengembangan Islam dan gagasan-gagasan mereka sendiri. Jaringan keilmuan semacam ini kemudian semakin diperkuat dan diperkaya terutama sejak abad ke-17 oleh tarekat-tarekat tasawuf yang berkembang luas di Nusantara. Karakter pengorganisasian yang inheren dalam jaringan semacam ini memberikan momentum yang terus menerus bagi pengembangan Islam.
Perkembangan dan Corak Tafsir Hadits pada Masa Penyebaran Islam di Asia Tenggara
Pada masa penyebaran Islam di Asia Tenggara, terdapat proses konversi terhadap Islam dan peningkatan kesadaran dan upaya untuk lebih memahami dan mengamalkan Islam sesuai dengan doktrin –doktrin yang sebenarnya, yang bersih dari bid’ah dan pertempuran dengan unsur – unsur non Islami lainnya. Dalam istilah yang lebih populer, proses ini disebut sebagai kembali kepada Al Qur’an dan Hadits atau mengikuti praktek-praktek yang diamalkan oleh kaum Salaf di zaman klasik Islam. Proses ini menimbulkan sikap kepengikutan yang ketat pada syari’ah, sebagaimana diperinci dalam fiqh.
Kalangan masyarakat merkantilisme muslim di kota-kota pelabuhan yang memerlukan kepastian hukum dalam menjalankan perdagangan mereka yang bersifat internasional itu. Ketentuan-ketentuan syari’ah mengenai perdagangan cukup memadai untuk memberikan kepastian hukum, dan lebih lanjut keamanan dalam perdagangan. Milner membuktikan bahwa sejak awal kehadiran Islam, syari’ah telah membuktikan bahwa sejak awal kehadiran Islam, syari’ah telah diterima dan diterapkan oleh masyarakat-masyarakat muslim setempat, terlepas dari perbedaan – perbedaan tingkat pengkampanyeannya dan motivasi penguasa lokal untuk mendukung penerapannya itu.
Analisis
Ditinjau dari berbagai faktor, baik yang inheren di dalam Islam itu sendiri ataupun faktor-faktor sosial dan lain-lain, yang ditempuh masyarakat Asia Tenggara sejak kedatangan Islam sampai sekarang secara bersama-sama baik secara langsung maupun tidak, mempunyai andil masing-masing dalam proses Islamisasi sekaligus intensifikasi kesadaran keislaman. Sekelompok faktor-faktor kesejarahan yang kompleks itu terlalu rumit untuk bisa dijelaskan dengan suatu teori dan argumen tertentu. Karena, dengan memaksakan penerimaan atau berpegang teguh pada suatu teori tertentu hanya akan mengakibatkan pemikiran yang dangkal, dan dapat menjerumuskan dalam distorsi kesejarahan. Yang paling penting, muslim di Asia Tenggara tumbuh dalam kepaduan dan keyakinan mereka. Walaupun pada akhirnya, mereka menemukan jalan lain tetapi masih disepakati dalam koridor keislaman.
Kesimpulan
Sejarah telah membuktikan bahwa Islam sebagai agama universal mempunyai mekanisme yang khas di dalam dirinya, yang mampu mengakomodasikan setiap perkembangan yang ada tanpa harus mengorbankan eksistensinya sebagai agama wahyu. Proses Islamisasi yang dinamis mampu diterima oleh mayoritas penduduk Asia Tenggara. Islam di kawasan ini menyesuaikan dengan latar belakang budaya masyarakatnya. Proses yang berliku-liku menyebabkan perbedaan dalam tingkat penetrasi Islam di wilayah Asia Tenggara. Hal ini juga menimbulkan perbedaan di dalam penghayatan, pengamalan Islam di kalangan penganutnya. Tapi, satu hal lagi yang pasti, dinamika Islamisasi dan intensifikasi keislaman itu tidak pernah berhenti sampai sekarang dalam berbagai bentuk perwujudannya. Didukung minat pemuda-pemudi Islam dengan selalu haus pada ilmu pengetahuan yang terus meneliti tentang agamanya melalui lembaga pendidikan Islam atau media lainnya.

Masuknya Islam ke Aceh

                            Masuknya Islam ke Aceh


Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh
   Hampir semua ahli sejarah menyatakan bahwa dearah Indonesia yang mula-mula di masuki Islam ialah daerah Aceh.(Taufik Abdullah, 1983: 4). Berdasarkan kesimpulan seminar tentang masuknya Islam ke Indonesia yang berlangsung di Medan pada tanggal 17 – 20 Maret 1963, yaitu: 
-   Islam untuk pertama kalinya telah masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M, dan langsung dari Arab.
-   Daerah yang pertama kali didatangi oleh Islam adalah pesisir Sumatera, adapun kerajaan Islam yang pertama adalah di Pasai.
-   Dalam proses pengislaman selanjutnya, orang-orang Islam Indonesia ikut aktif mengambil peranan dan proses penyiaran Islam dilakukan secara damai. 
-   Keterangan Islam di Indonesia, ikut mencerdaskan rakyat dan membawa peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia.(Taufik Abdullah, 1983: 5)
Masuknya Islam ke Indonesia ada yang mengatakan dari India, dari Persia, atau dari Arab. (Musrifah, 2005: 10-11). Dan jalur yang digunakan adalah: 
a.   Perdagangan, yang mempergunakan sarana pelayaran 
b.   Dakwah, yang dilakukan oleh mubaligh yang berdatangan bersama para pedagang, para mubaligh itu bisa dikatakan sebagai sufi pengembara. 
c.   Perkawinan, yaitu perkawinan antara pedagang muslim, mubaligh dengan anak bangsawan Indonesia, yang menyebabkan terbentuknya inti sosial yaitu keluarga muslim dan masyarakat muslim.
d.   Pendidikan. Pusat-pusat perekonomian itu berkembang menjadi pusat pendidikan dan penyebaran Islam.
e.   Kesenian. Jalur yang banyak sekali dipakai untuk penyebaran Islam terutama di Jawa adalah seni. 
   Bentuk agama Islam itu sendiri mempercepat penyebaran Islam, apalagi sebelum masuk ke Indonesia telah tersebar terlebih dahulu ke daerah-daerah Persia dan India, dimana kedua daerah ini banyak memberi pengaruh kepada perkembangan kebudayaan Indonesia. Dalam perkembangan agama Islam di daerah Aceh, peranan mubaligh sangat besar, karena mubaligh tersebut tidak hanya berasal dari Arab, tetapi juga Persia, India, juga dari Negeri sendiri. 
   Ada dua faktor penting yang menyebabkan masyarakat Islam mudah berkembang di Aceh, yaitu: 
1.   Letaknya sangat strategis dalam hubungannya dengan jalur Timur Tengah dan Tiongkok. 
2.   Pengaruh Hindu – Budha dari Kerajaan Sriwijaya di Palembang tidak begitu berakar kuat dikalangan rakyat Aceh, karena jarak antara Palembang dan Aceh cukup jauh.(A.Mustofa, Abdullah, 1999: 53) 
   Sedangkan Hasbullah mengutip pendapat Prof. Mahmud Yunus, memperinci faktor-faktor yang menyebabkan Islam dapat cepat tersebar di seluruh Indonesia (Hasbullah, 2001: 19-20), antara lain:
a.   Agama Islam tidak sempit dan berat melakukan aturan-aturannya, bahkan mudah ditiru oleh segala golongan umat manusia, bahkan untuk masuk agama Islam saja cukup dengan mengucap dua kalimah syahadat saja. 
b.   Sedikit tugas dan kewajiban Islam
c.   Penyiaran Islam itu dilakukan dengan cara berangsur-angsur sedikit demi sedikit.
d.   Penyiaran Islam dilakukan dengan cara bijaksana. 
e.   Penyiaran Islam dilakukan dengan perkataan yang mudah dipahami umum, dapat dimengerti oleh golongan bawah dan golongan atas. 
   Konversi massal masyarakat Nusantara kepada Islam pada masa perdagangan terjadi karena beberapa sebab (Musrifah, 2005: 20-21), yaitu:
1.   Portilitas (siap pakai) sistem keimanan Islam.
2.   Asosiasi Islam dengan kekayaan. Ketika penduduk pribumi Nusantara bertemu dan berinteraksi dengan orang muslim pendatang di pelabuhan, mereka adalah pedagang yang kaya raya. Karena kekayaan dan kekuatan ekonomi, mereka bisa memainkan peranan penting dalam bidang politik dan diplomatik. 
3.   Kejayaan militer. Orang muslim dipandang perkasa dan tangguh dalam peperangan.
4.   Memperkenalkan tulisan. Agama Islam memperkenalkan tulisan ke berbagai wilayah Asia Tenggara yang sebagian besar belum mengenal tulisan. 
5.   Mengajarkan penghapalan Al-Qur’an. Hapalan menjadi sangat penting bagi penganut baru, khususnya untuk kepentingan ibadah, seperti sholat. 
6.   Kepandaian dalam penyembuhan. Tradisi tentang konversi kepada Islam berhubungan dengan kepercayaan bahwa tokoh-tokoh Islam pandai menyembuhkan. Sebagai contoh, Raja Patani menjadi muslim setelah disembuhkan dari penyakitnya oleh seorang Syaikh dari Pasai.
7.   Pengajaran tentang moral. Islam menawarkan keselamatan dari berbagai kekuatan jahat dan kebahagiaan di akhirat kelak. 
   Melalui faktor-faktor dan sebab-sebab tersebut, Islam cepat tersebar di seluruh Nusantara sehingga pada gilirannya nanti, menjadi agama utama dan mayoritas negeri ini. 
Pusat Keunggulan Pengkajian Islam Pada Tiga Kerajaan Islam di Aceh.
1. Zaman  Kerajaan Samudra Pasai
   Kerajaan Islam pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudra Pasai, yang didirikan pada abad ke-10 M dengan raja pertamanya Malik Ibrahim bin Mahdum. Yang kedua bernama Al-Malik Al-Shaleh dan yang terakhir bernama Al-Malik Sabar Syah (tahun 1444 M/ abad ke-15 H). (Mustofa Abdullah, 1999: 54)
   Pada tahun 1345, Ibnu Batutah dari Maroko sempat singgah di Kerajaan Pasai pada zaman pemerintahan Malik Az-Zahir, raja yang terkenal alim dalam ilmu agama dan bermazhab Syafi’i, mengadakan pengajian sampai waktu sholat Ashar dan fasih berbahasa Arab serta mempraktekkan pola hidup yang sederhana. (Zuhairini,et.al, 2000: 135)
   Keterangan Ibnu Batutah tersebut dapat ditarik kesimpulan pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Pasai sebagai berikut:
a.   Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syari’at adalah Fiqh mazhab Syafi’i
b.   Sistem pendidikannya secara informal berupa majlis ta’lim dan halaqoh
c.   Tokoh pemerintahan merangkap tokoh agama
d.   Biaya pendidikan bersumber dari negara.(Zuhairini, et.al., 2000: 136)
   Pada zaman kerajaan Samudra Pasai mencapai kejayaannya pada abad ke-14 M, maka pendidikan juga tentu mendapat tempat tersendiri. Mengutip keter

angan Tome Pires, yang menyatakan bahwa “di Samudra Pasai banyak terdapat kota, dimana antar warga kota tersebut terdapat orang-orang berpendidikan”.(M.Ibrahim, et.al, 1991: 61)
   Menurut Ibnu Batutah juga, Pasai pada abad ke-14 M, sudah merupakan pusat studi Islam di Asia Tenggara, dan banyak berkumpul ulama-ulama dari negara-negara Islam. Ibnu Batutah menyatakan bahwa Sultan Malikul Zahir adalah orang yang cinta kepada para ulama dan ilmu pengetahuan. Bila hari jum’at tiba, Sultan sembahyang di Masjid menggunakan pakaian ulama, setelah sembahyang mengadakan diskusi dengan para alim pengetahuan agama, antara lain: Amir Abdullah dari Delhi, dan Tajudin dari Ispahan. Bentuk pendidikan dengan cara diskusi disebut Majlis Ta’lim atau halaqoh. Sistem halaqoh yaitu para murid mengambil posisi melingkari guru. Guru duduk di tengah-tengah lingkaran murid dengan posisi seluruh wajah murid menghadap guru.
2.   Kerajaan Perlak
   Kerajaan Islam kedua di Indonesia adalah Perlak di Aceh. Rajanya yang pertama Sultan Alaudin (tahun 1161-1186 H/abad 12 M). Antara Pasai dan Perlak terjalin kerja sama yang baik sehingga seorang Raja Pasai menikah dengan Putri Raja Perlak. Perlak merupakan daerah yang terletak sangat strategis di Pantai Selat Malaka, dan bebas dari pengaruh Hindu.(Hasbullah, 2001: 29)
   Kerajaan Islam Perlak juga memiliki pusat pendidikan Islam Dayah Cot Kala. Dayah disamakan dengan Perguruan Tinggi, materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, tauhid, tasawuf, akhlak, ilmu bumi, ilmu bahasa dan sastra Arab, sejarah dan tata negara, mantiq, ilmu falaq dan filsafat. Daerahnya kira-kira dekat Aceh Timur sekarang. Pendirinya adalah ulama Pangeran Teungku Chik M.Amin, pada akhir abad ke-3 H, abad 10 M. Inilah pusat pendidikan pertama.
   Rajanya yang ke enam bernama Sultan Mahdum Alaudin Muhammad Amin yang memerintah antara tahun 1243-1267 M, terkenal sebagai seorang Sultan yang arif bijaksana lagi alim. Beliau adalah seorang ulama yang mendirikan Perguruan Tinggi Islam yaitu suatu Majlis Taklim tinggi dihadiri khusus oleh para murid yang sudah alim. Lembaga tersebut juga mengajarkan dan membacakan kitab-kitab agama yang berbobot pengetahuan tinggi, misalnya kitab Al-Umm karangan Imam Syafi’i.(A.Mustofa, Abdullah, 1999: 54)
   Dengan demikian pada kerajaan Perlak ini proses pendidikan Islam telah berjalan cukup baik.
3.   Kerajaan Aceh Darussalam
   Proklamasi kerajaan Aceh Darussalam adalah hasil peleburan kerajaan Islam Aceh di belahan Barat dan Kerajaan Islam Samudra Pasai di belahan Timur. Putra Sultan Abidin Syamsu Syah diangkat menjadi Raja dengan Sultan Alaudin Ali Mughayat Syah (1507-1522 M).
   Bentuk teritorial yang terkecil dari susunan pemerintahan Kerajaan Aceh adalah Gampong (Kampung), yang dikepalai oleh seorang Keucik dan Waki (wakil). Gampong-gampong yang letaknya berdekatan dan yang penduduknya melakukan ibadah bersama pada hari jum’at di sebuah masjid merupakan suatu kekuasaan wilayah yang disebut mukim, yang memegang peranan pimpinan mukim disebut Imeum mukim.(M. Ibrahim, et.al., 1991: 75)
  
 Jenjang pendidikan yang ada di Kerajaan Aceh Darussalam diawali pendidikan terendah Meunasah (Madrasah). Yang berarti tempat belajar atau sekolah, terdapat di setiap gampong dan mempunyai multi fungsi antara lain:
-   Sebagai tempat belajar Al-Qur’an
-   Sebagai Sekolah Dasar, dengan materi yang diajarkan yaitu menulis dan membaca huruf Arab, Ilmu agama, bahasa Melayu, akhlak dan sejarah Islam.
   Fungsi lainnya adalah sebagai berikut:
-   Sebagai tempat ibadah sholat 5 waktu untuk kampung itu.
-   Sebagai tempat sholat tarawih dan tempat membaca Al-Qur’an di bulan puasa.
-   Tempat kenduri Maulud pada bulan Mauludan.
-   Tempat menyerahkan zakat fitrah pada hari menjelang Idhul Fitri atau bulan puasa
-   Tempat mengadakan perdamaian bila terjadi sengketa antara anggota kampung.
-   Tempat bermusyawarah dalam segala urusan
-   Letak meunasah harus berbeda dengan letak rumah, supaya orang segera dapat mengetahui mana yang rumah atau meunasah dan mengetahui arah kiblat sholat. (M. Ibrahim, 1991: 76)
   Selanjutnya sistem pendidikan di Dayah (Pesantren) seperti di Meunasah tetapi materi yang diajarkan adalah kitab Nahu, yang diartikan kitab yang dalam Bahasa Arab, meskipun arti Nahu sendiri adalah tata bahasa (Arab). Dayah biasanya dekat masjid, meskipun ada juga di dekat Teungku yang memiliki dayah itu sendiri, terutama dayah yang tingkat pelajarannya sudah tinggi. Oleh karena itu orang yang ingin belajar nahu itu tidak dapat belajar sambilan, untuk itu mereka harus memilih dayah yang agak jauh sedikit dari kampungnya dan tinggal di dayah tersebut yang disebut Meudagang. Di dayah telah disediakan pondok-pondok kecil mamuat dua orang tiap rumah. Dalam buku karangan Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, istilah Rangkang merupakan madrasah seringkat Tsanawiyah, materi yang diajarkan yaitu bahasa Arab, ilmu bumi, sejarah, berhitung, dan akhlak. Rangkang juga diselenggarakan disetiap mukim. (Hasbullah, 2001: 32)
   Bidang pendidikan di kerajaan Aceh Darussalam benar-benar menjadi perhatian. Pada saat itu terdapat lembaga-lembaga negara yang bertugas dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan yaitu:
1.   Balai Seutia Hukama, merupakan lembaga ilmu pengetahuan, tempat berkumpulnya para ulama, ahli pikir dan cendikiawan untuk membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
2.   Balai Seutia Ulama, merupakan jawatan pendidikan yang bertugas mengurus masalah-masalah pendidikan dan pengajaran.
3.   Balai Jama’ah Himpunan Ulama, merupakan kelompok studi tempat para ulama dan sarjana berkumpul untuk bertukar fikiran membahas persoalan pendidikan dan ilmu pendidikannya.
   Aceh pada saat itu merupakan sumber ilmu pengetahuan dengan sarjana-sarjanaya yang terkenal di dalam dan luar negeri. Sehingga banyak orang luar datang ke Aceh untuk menuntut ilmu, bahkan ibukota Aceh Darussalam berkembang menjadi kota Internasional dan menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan.
   Kerajaan Aceh telah menjalin suatu hubungan persahabatan dengan kerajaan Islam terkemuka di Timur Tengah yaitu kerajaan Turki. Pada masa itu banyak pula ulama dan pujangga-pujangga dari berbagai negeri Islam yang datang ke Aceh. Para ulama dan pujangga ini mengajarkan ilmu agama Islam (Theologi Islam) dan berbagai ilmu pengetahuan serta menulis bermacam-macam kitab berisi ajaran agama. Karenanya pengajaran agama Islam di Aceh menjadi penting dan Aceh menjadi kerajaan Islam yang kuat di nusantara. Diantara para ulama dan pijangga yang pernah datang ke kerajaan Aceh antara lain Muhammad Azhari yang mengajar ilmu Metafisika, Syekh Abdul Khair Ibn Syekh Hajar ahli dalam bidang pogmatic dan mistik, Muhammad Yamani ahli dalam bidang ilmu usul fiqh dan Syekh Muhammad Jailani Ibn Hasan yang mengajar logika. (M.Ibrahim,et.al., 1991: 88)
   Tokoh pendidikan agama Islam lainnya yang berada di kerajaan Aceh adalah Hamzah Fansuri. Ia merupakan seorang pujangga dan guru agama yang terkenal dengan ajaran tasawuf yang beraliran wujudiyah. Diantara karya-karya Hamzah Fansuri adalah Asrar Al-Aufin, Syarab Al-Asyikin, dan Zuiat Al-Nuwahidin. Sebagai seorang pujangga ia menghasilkan karya-karya, Syair si burung pungguk, syair perahu.
   
Ulama penting lainnnya adalah Syamsuddin As-Samathrani atau lebih dikenal dengan Syamsuddin Pasai. Ia adalah murid dari Hamzah Fansuri yang mengembangkan paham wujudiyah di Aceh. Kitab yang ditulis, Mir’atul al-Qulub, Miratul Mukmin dan lainnya.
   Ulama dan pujangga lain yang pernah datang ke kerajaan Aceh ialah Syekh Nuruddin Ar-Raniri. Ia menentang paham wujudiyah dan menulis banyak kitab mengenai agama Islam dalam bahasa Arab maupun Melayu klasik. Kitab yang terbesar dan tertinggi mutu dalam kesustraan Melayu klasik dan berisi tentang sejarah kerajaan Aceh adalah kitab Bustanul Salatin.
   Pada masa kejayaan  kerajaan Aceh, masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636) oleh Sultannya banyak didirikan masjid sebagai tempat beribadah umat Islam, salah satu masjid yang terkenal Masjid Baitul Rahman, yang juga dijadikan sebagai Perguruan Tinggi dan mempunyai 17 daars (fakultas).
   Dengan melihat banyak para ulama dan pujangga yang datang ke Aceh, serta adanya Perguruan Tinggi, maka dapat dipastikan bahwa kerajaan Aceh menjadi pusat
studi Islam. Karena faktor agama Islam merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Aceh pada periode berikutnya. Menurut B.J. Boland, bahwa seorang Aceh adalah seorang Islam.(M.Ibrahim,et.al., 1991: 89)

 KESIMPULAN
Pendidikan merupakan suatu proses belajar engajar yang membiasakan kepada warga masyarakat sedini mungkin untuk menggali, memahami dan mengamalkan semua nilai yang disepakati sebagai nilai yang terpujikan dan dikehendaki, serta berguna bagi kehidupan dan perkembangan ciri pribadi, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan Islam sendiri adalah proses bimbingan terhadap peserta didik ke arah terbentuknya pribadi muslim yang baik (insan kamil)
Keberhasilan dan kemajuan pendidikan di masa kerajaan Islam di Aceh, tidak terlepas dari pengaruh Sultan yang berkuasa dan peran para ulama serta pujangga, baik dari luar maupun setempat, seperti peran Tokoh pendidikan Hazah Fansuri, Syamsudin As-Sumatrani, dan Syaeh Nuruddin A-Raniri, yang menghasilkan karya-karya besar sehingga menjadikan Aceh sebagai pusat pengkajian Islam.

Teungku Chik Di Tiro

                                      Teungku Chik Di Tiro

TEUNGKU CHIK DI TIRO

Salah satu daerah di Indonesia yang mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan dari penjajah adalah Aceh. Orang Aceh, baik pria maupun wanita, pada umumnya tergerak hatinya dengan ikhlas untuk bertempur maju ke medan perang. Mereka bersedia mati syahid untuk membela cita-cita nasional, dan demi tegaknya agama dan bangsa. Salah satu pahlawan nasional yang berasal dari Aceh adalah Tgk Chik Di Tiro. Ulama ini diangkat sebagai pahlawan nasional dengan Surat Keputusan Presiden Nomor 087/TK/Tahun 1973 tertanggal 6 November 1973.
Perang Kolonial Belanda di Aceh
Aceh yang merupakan propinsi yang paling ujung letaknya, di sebelah utara pulau Sumatra, bagian paling barat dan paling barat dan paling utara dari Kepulauan Indonesia. Secara astronomis, Aceh ini terletak di antara 950 13′ dan 980 17′ BT dan 20 8′ dan 50 40′ LU2 (JMBRAS, 1879: 129). Daerah ini mencakup daerah seluas 55.390 Km. Dengandemikian, secara geografis, Aceh mempunyai letak yang sangat strategis. Daerah ini terletak di tepi Selat Malaka. Karena letaknya di tepi Selat Malaka, maka daerah ini pentingpula dilihat dari sudut lalu lintas internasionai sehingga merupakan pintu gerbang sebelahbarat kepulauan Indonesia. Sejak zaman Neolithikum, Selat Malaka merupakan terusan penting dalam migrasi bangsa di Asia, gerak ekspansi kebudayaan India dan sebagai jalanniaga dunia selat Malaka adalah jalan penghubung antara dua pusat kebudayaan Cina dan India. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila wilayah sekitar Selat Malaka selalu mempunyai peranan penting sepanjang gerak sejarah Indonesia. Muncul dan berkembangnya kerajaan di sekitar wilayah ini tidak mungkin kita pisahkan dari letak geografisnya yang sangat strategis tersebut.
Karena keadaan geografis yang strategis ini membawa dampak Aceh banyak didatangi oleh berbagai bangsa asing dengan berbagai macam motif dan kepentingan, baik budaya, politis, maupun ekonomis. Dengan berbagai motif dan kepentingan tersebut akan dapat membawa dampak positif dan negatif pula bagi perkembangan sejarah Aceh itu sendiri. Di antara bangsa asing (Barat) terdapat bangsa yang bermaksud menancapkan kuku kekuasaannya di bumi Aceh, sehingga timbullah reaksi yang berupa perlawananperlawanan terhadap bangsa asing yang melakukan tindakan tersebut. Salah satu bangsa asing pertama yang menghadapi perlawanan rakyat Aceh adalah Portugis. Sejak Portugis menduduki Malaka pada tahun 1511 Aceh merasa kedudukannya terancam. Karenanya Aceh mencoba melawan dan mengusir Portugis dari Malaka. Konflik Aceh-Portugis ini berlangsung sepanjang abad XVI hingga akhir perempatan abad XVIl. Serangan terhadap kedudukan Portugis berulang kali dilakukan, yang pertama pada tahun 1537 dan yang terakhir pada tahun 1568. Pada serangan terakhir itu, Aceh telah menggunakan kekuatan yang terdiri atas 15.000 orang Aceh, 400 orang Turki, disertai pula dengan 200 buah meriam besar dan kecil (Djajadiningrat, 1961: 65). Bangsa Asing lain yang berusaha menancapkan kuku kekuasaannya di bumi Aceh adalah Belanda.
 Rintisan permakluman perang Aceh oleh Belanda diumumkan oleh komisaris pemerintah yang merangkap Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda F.N. Nieuwenhuijn, diawali dengan penandatanganan Traktat Sumatra antara Belanda dan Inggris dalam tahun 1871, yang antara lain “memberi kebebasan kepada Belanda untukmemperluas kekuasaannya di Pulau Sumatra” sehingga tidak ada kewajiban lagi bagi Belanda untuk menghormati hak dan kedaulatan Aceh yang sebelumnya telah diakui, baik oleh Belanda maupun lnggris seperti yang tercantum di dalam Traktat London yang ditandatangani pada tahun 1824. Pada hari Rabu tanggal 26 Maret 1873 dari geladak kapal perang Citadel Van Antwerpen – yang berlabuh di antara pulau Sabang dengan daratan Aceh – Belanda memaklumkan perang kepada Aceh. Mulai saat itu, Aceh tertimpa malapetaka dan Belanda sendiri menghadapi suatu peperangan yang paling dahsyat, terbesar, dan terlama semenjak kehadirannya di Nusantara. Namun demikian, permakluman perang tersebut tidak serta merta diikuti dengan kegiatan fisik militer karena Belanda masih menunggu terhimpunnya kekuatan perangnya yang sedang bergerak menuju Aceh dan kapal-kapal perang Belanda yang telah tiba di Aceh terus melakukan pengintaian dan provokasi di perairan Aceh. Selain itu, Belanda mengirim surat kepada Sultan yang meminta agar ia mengakui kedaulatan Belanda. Dinyatakan pula bahwa Aceh telah melanggar pasal-pasal perjanjian pada tahun 1857.
Batas waktu yang diberikan 1 x 24 jam oleh Belanda kepada Sultan Aceh menunjukkan bahwa Belanda benar-benar akan menyerang. Jawaban yang diberikan Sultan jauh dari memuaskan bahkan ditegaskan bahwa di dunia tidak seorang pun yang berdaulat kecuali Allah semata. (Said, 1961 : 397) Dihadapkan dengan kenyataan perang yang akan segera meletus, maka Aceh melakukan mobilisasi, baik di sekitar pantai yang berhadapan langsung dengan armada Belanda seperti di sekitar Ule Lheue. Pantai Ceureumen, Kuta Meugat, Kuala Aceh maupun di tempat strategis lainnya serta pusat-pusat kekuatan di Mesjid Raya, Peunayong, Meuraksa, Lam Paseh, Lam Jabat, Raja Umong, Punje, Seutuy, dan di sekitar Dalam (Kraton Sultan).
Akhirnya, tindak lanjut dari permakluman perang Belanda kepada Aceh menjadi kenyataan. Pada tanggal 6 April 1873 dengan kekuatan 3.200 prajurit dan 168 perwira yang dipimpin J.H.R. Kohler, Belanda mendaratkan pasukannya di Pantai Ceureumen (Sofyan, 1990 : 26). Dengan demikian, terlihatlah nyata niat jahat Belanda untuk menancapkan kekuasaannya di bumi Aceh. Suatu perang kolonial resmi telah dikibarkan oleh pihak Belanda. Perang ini kemudian dikenal oleh masyarakat Aceh sebagai “Perang Belanda atau Perang Kaphe Ulanda”, yang oleh Belanda dikenal dengan “Perang Aceh”.
Kemudian, pantai Ceureumen pun menjadi lautan darah. Banyak anggota pasukan Belanda dan rakyat Aceh yang gugur. Menurut catatan para pejuang Aceh yang gugur diperkirakan 900 orang (Reid, 1969: 21-35). Walaupun demikian, penyerangan pertama Belanda ini dianggap gagal karena serangan ini tidak berhasil menundukkan Aceh. Di samping kuatnya perlawanan, kurangnya informasi tentang Aceh serta keadaan musim yang tidak menguntungkan menjadi sebab serangan pertama Belanda ini gagal. J. H. R. Kohler sebagai panglima perang pun tewas tertembak oleh seorang anggota pasukan Aceh di dekat Masjid Raya. Belanda tidak dapat menguasai kraton. Mereka dipukul mundur dengan menderita kekalahan berat, 45 orang tewas termasuk 8 opsirnya serta 405 orang luka-luka diantaranya 23 opsir. Pada tanggal 29 April 1873 pasukan Belanda ditarik kembali ke Batavia (Sofyan, 1990: 85).
Hal ini menunjukkan bahwa Belanda tidak tahu kondisi Aceh secara menyeluruh. Semula Belanda menduga Aceh dapat ditaklukkan dengan mudah seperti daerah-daerah lain di Indonesia. Menurut Belanda pada saat itu Aceh berada dalam masa kemunduran apabila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya, baik dari segi politik maupun segi ekonomi. Tentang ini Kraijnhoof, misalnya, menyimpulkan bahwa situasi pemerintahan kesultanan Aceh lemah dan perlengkapan militer tidak berarti dibandingkan dengan Belanda. Oleh karena itu, Belanda berani menyerang Aceh. Namun kenyataanya perang Belanda di Aceh tidak hanya mencakup masalah ekonomi dan politik, tetapi ada segi-segi lain yang tidak diperhitungkan oleh Belanda, sehingga Belanda menelan kekalahan (Ahmad, dkk, 1993: 4).
Kegagalan ekspansi pertama ini menyebabkan pemerintah Belanda melipatgandakan pasukannya untuk menundukkan Aceh. Untuk itu, Pemerintah Hindia Belanda memanggil seorang pensiunan jenderal, J. Van Swieten. la diangkat sebagai panglima perang pada agresi kedua ini dengan kekuatan 249 perwira dan 6.950 tentara (Sofyan, 1990: 28). Dipundaknya terdapat tugas berat untuk menyerang dan merebut Aceh dan kepadanya juga diberi wewenang mengadakan perjanjian dengan sultan. Selain menjadi panglima perang, la diangkat pula sebagai Komisaris Pemerintah Hindia Belanda di Aceh. Dalam agresi kedua ini Belanda berhasil menduduki istana dan mesjid raya pada tanggal 24 Januari 1874. Namun Belanda tidak berhasil menangkap Sultan beserta keluarganya. Sementara itu, Sultan beserta keluarganya dan pengikutnya sudah lebih dulu menyingkir ke Longbata pada tanggal 15 Januari 1874 sehingga usaha Van Swieten untuk menangkap Sultan menemui kegagalan. Di tempat baru ini Sultan mendirikan markas pertahanannya. Bersama-sama dengan Panglima Polem dan para pengikutnya yang lain, sultan bertekad untuk meneruskan perjuangan melawan Belanda. Namun nasib buruk tidak dapat dihindari Sultan Mahmud Syah, ia diserang wabah kolera dan mangkat pada tanggal 29 Januari 1874 di Pagar Ayer dan dimakamkan di Cot Bada (Pusponegoro, dkk, 1992: 249). Sebagai penggantinya diangkatlah Sultan Muhammad Daud yang masih kecil sebagai Sultan Aceh.
Sejak itulah pemerintah Belanda dengan bermacam-macam siasat politiknya berusaha menaklukkan seluruh Aceh seperti yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Pembesar kerajaan. panglima dan rakyat Aceh yang masih mencintai kemerdekaan mengungsi ke pedalaman dan mengadakan perlawanan. Pada waktu Seulimum jatuh pada tahun 1879 dapat dikatakan seluruh Aceh Tiga Sagi berada dalam kekuasaan Belanda dan pemerintahan sipil pun berjalan dengan lancar (Jakub, 1952: 21). Kaum pejuang mundur ke daerah yang masih merdeka. Sultan Muhammad Daud yang masih kecil itu serta pengiringnya mengungsi ke pedalaman di Keumala, daerah Pidie, sedangkan rakyat pejuang mundur ke Gunung Biram Lamtamot, di kaki Gunung Seulawah. Mereka tidak mau menyerah, biar mati dalam hutan, asal jangan ditangkap musuh. Namun perlawanan secara teratur tidak ada lagi.
Kaum pejuang yang berada di kaki Gunung Selawah tersebut lama-kelamaan tidak sabar dan menderita terus-menerus dalam hutan menahan gigitan nyamuk Malaria dan kekurangan makanan. Oleh karena itu, muncullah kemudian dua golongan di kalangan kaum pejuang tersebut, ada yang terpaksa menyerah pulang ke kampung halaman karena tidak tahan  menderita lebih lama. Ada pula yang mendaki Seulawah menuju daerah Pidie mencari batuan untuk meneruskan perjuangan. Pada awal tahun 1881, mereka tiba di Tiro menjumpai Tgk  Chik Muhammad AminDayah Tjut, seorang ulama Tiro yang mempunyai pengaruh besar. Dua kali diadakan musyawarah antara pemimpin-pemimpin dan ulama-ulama seluruh Pidie. Keputusannya diangkatlah Tgk Sjech Saman, yang terkenal kemudian dengan Tgk Chik Di Tiro, menjadi panglima perang untuk merebut kembali tanah air yang telah jatuh ke tangan musuh.
Dengan demikian, dalam kondisi yang amat genting di mana kraton, mesjid raya, wilayah lainnya dikuasai Belanda serta semangat pejuang yang mulai menurun amatlah tepat kalau kemudian muncul kepemimpinan Tgk Sjech Muhammad Saman. Dia seorang pejuang yang mendengungkan perang di jalan Allah, Perang Sabil. Siapa pun yang mati di medan perang, maka disebut mati syahid, surgalah ganjarannya. Pada akhirnya, perang dikumandangkan menyebar ke seluruh wilayah Aceh. Seluruh lapisan masyarakat bahumembahu mengangkat senjata untuk mengusir Belanda dari bumi Aceh.
Masa Kecil-Remaja
Muhamad Saman yang kemudian terkenal dengan nama Tgk Chik Di Tiro, adalah putra dari Tengku Sjech Abdullah, anak Tgk Sjech Ubaidillah dari kampung Garot negeri Samaindra, Sigli. Ibunya bernama Siti Aisyah, putri dari Tgk Sjech Abdussalam Muda Tiro anak Leube Polem Tjot Rheum, kakak dari Tgk Chik Muhammad Amin Dajah Tjut. Ia lahir pada tahun 1836 Masehi, bertepatan dengan 1251 Hijriah di Dajah Krueng kenegerian Tjombok Lamlo (Kota Bakti) (Zentgraff, 1982: 29). Teungku Chik Di Tiro mempunyai lima orang putra yaitu Tgk Mat Amin, Tgk Mahidin, Tgk di Tungkob, Tgk di Buket (Tgk Muhammad Ali Zainulabidin), dan Tgk Lambada. Teungku Chik Di Tiro semasa kecilnya hidup dalam masyarakat kaum agama dan bergaul dengan ayahnya yang mengajar bermacam-macam ilmu di Garot. Setelah berusia 15 tahun la pindah belajar pada pamannya Tgk Chik Dayah Tjut di Tiro dalam bermacammacam ilmu. Kemudian, la pindah belajar pada Tgk Muhammad Arsyad (Tgk Chik di Jan di Ie Leubeu). Setelah itu, ia menuntut ilmu lagi pada Tgk Abdullah Dajah Meunasah Blang. Akhirnya, ia belajar pada Tgk Chik Tanjung Bungong di Tanjung Bungong. Namun Tgk Chik Di Tiro belum puas terhadap ilmu yang didapatnya selama ini. Oleh karena itu, ia kemudian pergi ke Lam Krak, Aceh Besar untuk memperluas wawasan dan pandangannya.
Setelah dua tahun berada di sana, ia pulang kembali ke Tiro dan mengajar bersama pamannya Tgk Dayah Tjut. Dengan kedatangan Muhammad Saman di Tiro dan mengajar di pesantren tersebut menyebabkan pesantren menjadi semakin terkenal di kalangan masyarakat Aceh. Setelah beberapa tahun di Tiro hatinya tergerak untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam lagi ilmu agama serta menambah wawasannya di Mekkah. Sebelum keberangkatannya ke Mekkah ia minta restu pada pamannya yang sekaligus gurunya Tgk Dayah TJut di Lam Krak. Selama di Lam Krak Tgk Chik Di Tiro sempat berjuang melawan Belanda karena ia diajak oleh kawan-kawannya. Oleh karena ada surat dari parnannya agar ia pulang ke Tiro dan segera menunaikan ibadah haji, maka Tgk Chik Di Tiro meninggalkan ternan-teman seperjuangannya dan pergi menunaikan ibadah haji. Di Mekkah seIain menunaikan haji, Tgk Chik Di Tiro juga mempergunakan waktunya untuk menjumpai pemimpin-pemimpin Islam yang ada di sana. Dari mereka, Tgk Chik Di Tiro tahu tentang perjuangan para pemimpin tersebut dalam berjuang melawan imprialisme dan kolonialisme. Selain itu, ia juga bertemu dengan pejuang Islam lainnya yang berasal dari Jawa, Sumatra, Kalimantan dan pulau-pulau lain di Indonesia. Dari hasil pendidikan agama dan pengalaman selama berada di Mekkah dan ikut perjuangan di Lam Krak itulah tertanam di dalam jiwanya yang berakar dalam dan teguh. Sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya, Tgk Chik Di Tiro sanggup berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan, maupun nyawanya demi tegaknya agama dan bangsa. Keyakinan ini dibuktikannya dalam kehidupan nyata. Tgk Chik Di Tiro menerima penunjukkan menjadi panglima perang oleh rakyat dan para ulama.
Masa Perjuangannya
Ketika awal pertama kali Tgk Chik Di Tiro berjuang, ia tidak mernpunyai apa-apa. Tanggapan terhadap perjuangannya pun ada yang bersikap sinis kepadanya. Teungku Chik Di Tiro bukan keturunan panglima, ia hanya seorang haji dan ulama. Menghadapi sikap sinis sebagian orang tersebut, Tgk Chik Di Tiro menerima dengan sabar. Hal tersebut malah menjadikan sebuah tantangan yang harus ditaklukkan. Usaha pertama yang dilakukannya adalah membangkitkan semangat para pejuang dan mengumpulkan para pejuang dalam satu kesatuan yang kokoh yang tidak dapat dipecah belah. Untuk itu, iamengadakan perjalanan keliling Aceh. Pada setiap kesempatan la singgah di suatu tempat, ia mengadakan ceramah di masjid atau mengadakan kenduri. Pada kesempatan itu ia pergunakan untuk menyebarluaskan ajarannya mengenai perang Sabil, menyadarkan orang-orang untuk memerangi kaum kafir, berjuang di jalan yang diridhoi oleh Allah, serta untuk memperoleh segala informasi dari mereka yang hadir.
Selain itu, ia juga mengirim surat kepada para uleebalang dan keuchik yang tidak dapat dihubungi secara lisan yang berisi panggilan suci kepada mereka untuk berjuang di jalan Allah, baik kepada mereka yang telah mengakul kedaulatan dan memihak kepada Belanda maupun kepada mereka yang karena suatu hal kembali lagi ke kampung halaman. Seruan tersebut ditujukan kepada imam-imam negeri, Teungku-teungku, keuchik, panglima dan akhirnya kepada semua kaum muslimin dan terutama juga untuk Teuku Nek Meuraxa, Tengku Panglima Masjid Raya dan Teuku Malikul Adil. Seruan yang berisi ajakan Perang Sabil ini diperkuat lagi dengan Hikayat Perang Sabil. Idiologi Perang Sabii ini muncul sejak abad XVII dihidupkan kembali melalui Hikayat Perang Sabil pada pertengahan kedua abad XIX ketika negeri ini dilanda serangan kaum kafir sehingga banyak rakyat umum tertarik kepada gerakan Perang sabil yang didengungkan oleh Tgk Chik Di Tiro. Seruan Perang Sabil yang dikumandangkan oleh Tgk Chik Di Tiro mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, baik kaum ulama maupun panglima. Dengan adanya bantuan tersebut, Tgk Chik Di Tiro semakin kuat dan siap menghadapi Belanda. Hasil usaha menghimpun kekuatan tidak lah sia-sia. Ulama ini berhasil menghimpun kekuatan sebanyak 6000 orang pasukan (sofyan, 1990: 36).
Gerakan angkatan Perang Sabil Tgk Chik Di Tiro mulai menampakkan pengaruhnya. Pemerintah Hindia Belanda di Aceh pun mulai mendengar gerakan perang ini. Namun mereka belum tahu siapa sebenarnya Tgk Chik Di Tiro. Gubernur Van der Heyden menyebut keadaan Aceh dalam sebuah laporannya sebagai berikut “Suasana Aceh sekarang seperti api dalam sekam ….” (Sofyan, 1990 : 49). Setelah persiapan dirasa cukup, maka segera diambil langkah pertama yaitu memutuskan hubungan antar benteng Belanda Pasukan Perang Sabil memotong kawat telepon antar benteng agar mereka tidak dapat saling berhubungan. Sebagai markas besar, Tgk Chik Di Tiro membangun sebuah benteng yang kuat di Mureu. Lokasi benteng ini mempunyai letak yang sangat strategis yaitu terletak di tepi Krueng Inong.
Kemudian, serangan terbuka dilaksanakan dengan menyerang kedudukan bentengbenteng Belanda di Krueng Jreu, Gle Kameng, dan Indrapuri. Ketiga benteng tersebut diserang habis-habisan oleh pasukan Perang Sabil. Akhirnya ketiga benteng tersebut dapat direbut oleh pasukan Perang Sabil pada tahun 1881. Belanda dapat dipukul mundur dari ketiga benteng tersebut dan akhirnya memperkuat benteng-benteng di Lambaro, Aneuk Galong, dan Samahani. Selama kurun waktu 1882-1883 terjadi pertempuran yang dahsyat antara kedua pihak. Pasukan Tgk Chik Di Tiro mengalami banyak kemajuan. Beberapa benteng dapat direbutnya dari Belanda seperti benteng di Krueng Raja dan Kadju. Karena kuatnya tekanan pasukan Tgk Chik Di Tiro, maka akhirnya Belanda pun menarik diri dari salah satu benteng terkuatnya selama ini di Aneuk Galong dan mundur ke Lambaro dan Keutapang dua. Untuk mempertahankan diri Belanda membuat garis konsentrasi yang terbentang dari Kuta Pohama ke Keutapang Dua. Tgk Chik Di Tiro berusaha merebutnya dari arah laut, tetapi belum berhasil.
Pada 5 Maret 1883 Gubemur Van Der Hoeven memberitahukan kepada pemerintah pusat di Jawa tentang kondisi Aceh tersebut. Namun kemudian gubernur ini malah diganti oleh P.F Laging Tobias pada 16 Maret 1883. Pada masa pemerintahannya Belanda menghadapi masalah yang berat sampai pada ia mengeluarkan laporan yang mengatakan bahwa Belanda di Aceh hampir putus asa (Sofyan, 1990: 57). Pada masa itu, Tgk Chik Di Tiro sempat pula menyerang Kutaraja, walaupun tidak berhasil merebutnya. Seorang controuler Belanda J.P. Van der Lith menemui ajalnya sedangkan Panglima Pang Nyak Hasan dari pihak Aceh tewas (Sofyan, 1990: 35). Melihat Belanda hampir jatuh, Tgk Chik Di Tiro memberi ultimatum kepada Belanda dengan mengirim surat kepada Asisten Residen Van Langen pada tahun 1885 untuk mengadakan perdamaian. Tgk Chik Di Tiro bersedia berdamai dengan Belanda apabila Belanda bersedia memeluk agama Islam. Namun surat ini tidak mendapat reaksi apa-apa dari pihak Belanda. Selama tiga tahun, surat perdamaian yang diajukan oleh Tgk Chik Di Tiro tidak berbalas. Pada Mei 1888, ia mengirim surat lagi dengan nada yang sama kepada pihak Belanda. Namun kali ini pun usaha Tgk Chik Di Tiro mengajak Belanda untuk berdamai dengan mengajak mereka masuk Islam tidak berhasil. Demikian pula usaha Belanda mengajak ulama ini berdamai dan bersedia berdiam di Kutaraja tidak berhasil. Akhirnya Tgk Chik Di Tiro pun setelah itu tidak pernah lagi mengajak berdamai kepada Belanda. Sejak kegagalan Tgk Chik Di Tiro mengajak damai dengan Belanda telah berlangsung pertempuran di berbagai tempat seperti di sekeliling Kota Tuanku dan Peukan Krueng Tjut. Dari pertempuran-pertempuran yang telah berlangsung di berbagai tempat tidak tahu berapa kerugian yang jatuh di pihak Belanda, tidak ada angka pasti. Selama Gubernur Van Teijn berkuasa Belanda mempergunakan strategi “Wait and See” yaitu menunggu sampai keadaan berubah. Kenyataannya strategi yang diterapkan Belanda ini hasilnya jauh dari yang diharapkan. Belanda sering terpukul mundur pada banyak pertempuran. Akhirnya, untuk mengimbangi pasukarr Aceh Belanda membentuk satu korps tentara baru yang disebut Korps Marsose di bawah pimpinan J. Notten pada tanggal 2 April 1890.
Walaupun Belanda membentuk korps Marsose Tgk Chik Di Tiro terus bertempur melawan Belanda tidak kurang dahsyatnya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Semangat pasukan pun tidak pernah pupus menghadapi Belanda. Selama tahun 1890 Tgk Muhammad Amin putera Tgk Chik Di Tiro yang tertua sudah ikut memimpin pasukan. Beberapa kali ia mendapat luka dan terpaksa diangkut ke Aneuk Galong.
Akhir Perjuangannya
Mengetahui bahwa jiwa Perang Sabil terdapat pada Tgk Chik Di Tiro, maka Belanda berusaha membunuh ulama ini. Belanda kembali mempergunakan siasat adu domba di mana salah seorang bangsawan yang berambisi menjadi panglima sagi diperalat untuk membunuh ulama tersebut. Tgk Chik Di Tiro diundang ke Tui Seilemeung dan di dalam benteng itu ulama ini diberi makanan beracun. Tgk Chik Di Tiro kemudian jatuh sakit. Pada tanggal 25 Januari 1891 ulama ini wafat di Aneuk Galong. Perjuangannya diteruskan oleh anak-anaknya yang lain. Dapat dikatakan tidak satupun diantara anak-anaknya yang tidak terlibat di dalam perang melawan Belanda. Kebesaran dan pengaruh keluarga ini dapat digambarkan seperti yang dikatakan oleh Zentgraaf (1982) sebagai berikut. “Tak ada satu keluarga Acehpun yang waktu itu, yang begitu besar dalam Perang Aceh, selain keluarga ulama Tiro, dan tidak pula ada keluarga Aceh lainnya, yang meneruskan Perjuangan sampai kepada titik darah penghabisan, selain keluarga itu. Keluarga inilah dalam peperangan itu, merupakan sasaran operasi penyerangan bala tentara kita, yang merupakan bahagian yang paling mengesankan dalam sejarah perang Aceh dan dapat menjadi sumber cerita-cerita kepahlawanan”
.

Laksamana Malahayati

                                                   Laksamana Malahayati

Laksamana Keumalahayati merupakan wanita pertama di dunia yang pernah menjadi seorang laksamana. Ia lahir pada masa kejayaan Aceh, tepatnya pada akhir abad ke-XV. Berdasarkan bukti sejarah (manuskrip) yang tersimpan di University Kebangsaan Malaysia dan berangka tahun 1254 H atau sekitar tahun 1875 M, Keumalahayati berasal dari keluarga bangsawan Aceh. Belum ditemukan catatan sejarah secara pasti yang menyebutkan kapan tahun kelahiran dan tahun kematiannya. Diperkirakan, masa hidupnya sekitar akhir abad XV dan awal abad XVI.

Laksamana Keumalahayati adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya bernama Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah Kesultanan Aceh Darussalam sekitar tahun 1530-1539 M. Sultan Salahuddin Syah merupakan putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M) yang merupakan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam.

Jika dilihat dari silsilah tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Laksamana Keumalahayati merupakan keturunan darah biru atau keluarga bangsawan keraton. Ayah dan kakeknya pernah menjadi laksamana angkatan laut. Jiwa bahari yang dimiliki ayah dan kakeknya tersebut kelak berpengaruh besar terhadap kepribadiannya. Meski sebagai seorang wanita, ia tetap ingin menjadi seorang pelaut yang gagah berani seperti ayah dan kakeknya tersebut.

Ketika menginjak usia remaja, Laksamana Keumalahayati mendapatkan kebebasan untuk memilih pendidikan yang diinginkannya. Ketika itu Kesultanan Aceh Darussalam memiliki Akademi Militer yang bernama Mahad Baitul Makdis, yang terdiri dari jurusan Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Setelah menempuh pendidikan agamanya di Meunasah, Rangkang, dan Dayah, oleh karena ia ingin mengikuti karir ayahnya sebagai laksamana, maka ia mendaftarkan diri dalam penerimaan taruna di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis. Ia diterima di akademi ini dan dapat menempuh pendidikan militernya dengan sangat baik. Bahkan, ia berprestasi dengan hasil yang sangat memuaskan.

Sebagai siswa yang berprestasi, Laksamana Keumalahayati berhak memiliki jurusan yang diinginkannya. Ia memilih jurusan Angkatan Laut. Ketika menempuh pendidikan di akademi ini ia pernah berkenalan dengan seorang calon perwira laut yang lebih senior (data tentang namanya belum diketahui). Perkenalan tersebut berlanjut hingga benih-benih kasih sayang terbangun di antara mereka. Mereka berdua akhirnya bersepakat untuk saling memadu kasih dan menyatukan diri ke dalam cinta. Setelah tamat dari Akademi Militer Mahad Baitul Makdis, keduanya melangsungkan pernikahan.

Setelah menamatkan studinya di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis, Laksamana Keumalahayati berkonsentrasi pada dunia pergerakan dan perjuangan. Ia diangkat oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil (1589-1604 M) sebagai Komandan Protokol Istana Darud-Dunia di Kesultanan Aceh Darussalam. Jabatan tersebut merupakan kepercayaan sultan terhadap dirinya, sehingga ia perlu menguasai banyak pengetahuan tentang etika dan keprotokolan.


Riwayat Perjuangan

Kisah perjuangan Laksamana Keumalahayati dimulai dari sebuah perang di perairan Selat Malaka, yaitu antara armada pasukan Portugis dengan Kesultanan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil dan dibantu oleh dua orang laksamana. Pertempuran sengit terjadi di Teluk Haru dan dimenangkan oleh armada Aceh, meski harus kehilangan dua laksamananya dan ribuan prajuritnya yang tewas di medan perang. Salah satu laksamana yang tewas tersebut adalah suami Laksamana Keumalahayati sendiri yang menjabat sebagai Komandan Protokol Istana Darud-Dunia. Setelah suaminya meninggal dunia dalam peperangan tersebut, ia berjanji akan menuntut balas dan bertekad meneruskan perjuangan suaminya meski secara sendirian.

Untuk memenuhi tujuannya tersebut, Laksamana Keumalahayati meminta kepada Sultan al-Mukammil untuk membentuk armada Aceh yang semua prajuritnya adalah wanita-wanita janda karena suami mereka gugur dalam Perang Teluk Haru. Permintaan Keumalahayati akhirnya dikabulkan. Ia diserahi tugas memimpin Armada Inong Balee dan diangkat sebagai laksamananya. Ia merupakan wanita Aceh pertama yang berpangkat laksamana (admiral) di Kesultanan Aceh Darussalam. Armada ini awalnya hanya berkekuatan 1000 orang, namun kemudian diperkuat lagi menjadi 2000 orang. Teluk Lamreh Krueng Raya dijadikan sebagai pangkalan militernya. Di sekitar teluk ini, ia membangun Benteng Inong Balee yang letaknya di perbukitan.

Setelah memangku jabatan sebagai laksamana, Keumlahayati mengkoordinir pasukannya di laut, mengawasi berbagai pelabuhan-pelabuhan yang berada di bawah penguasaan syahbandar, dan mengawasi kapal-kapal jenis galey milik Kesultanan Aceh Darussalam. Seorang nahkoda kapal Belanda yang berkebangsaan Inggris, John Davis, mengungkapkan fakta bahwa pada masa kepemimpinan militer Laksanana Keumalahayati, Kesultanan Aceh Darussalam memiliki perlengkapan armada laut yang di antaranya terdiri dari 100 buah kapal (galey) dengan kapasitas penumpang 400-500 orang.

Kisah perjuangan Laksamana Keumalahayati tidak berhenti di sini. Ia pernah terlibat dalam pertempuran melawan kolonialisme Belanda. Ceritanya, pada tanggal 22 Juni 1586, Cornelis de Houtman memimpin pelayaran pertamanya bersama empat buah kapal Belanda dan berlabuh di Pelabuhan Banten. Setelah kembali ke Belanda, pada pelayaran yang kedua, ia memimpin armada dagang Belanda yang juga dilengkapi dengan kapal perang. Hal itu dilakukan untuk menghadapi kontak senjata dengan Kesultanan Aceh Darussalam pada tanggal 21 Juni 1599. Dua buah kapal Belanda bernama de Leeuw dan de Leeuwin yang dipimpin oleh dua orang bersaudara, Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman, berlabuh di ibukota Kesultanan Aceh Darussalam. Pada awalnya, kedatangan rombongan tersebut mendapat perlakuan yang baik dari pihak kesultanan karena adanya kepentingan hubungan perdagangan.

Namun, dalam perkembangan selanjutnya Sultan al-Mukammil tidak senang dengan kehadiran rombongan tersebut dan memerintahkan untuk menyerang orang-orang Belanda yang masih ada di kapal-kapalnya. Ada dugaan bahwa sikap Sultan tersebut banyak dipengaruhi oleh hasutan seseorang berkebangsaan Portugis yang kebetulan menjadi penerjemahnya. Serangan tersebut dipimpin sendiri oleh Laksamana Keumalahayati. Alhasil, Cornelis de Houtman dan beberapa anak buahnya terbunuh, sedangkan Frederick de Houtman tertangkap dan dimasukkan ke dalam penjara (selama 2 tahun). Keberhasilan Laksamana Keumalahayati merupakan sebuah prestasi yang sungguh luar biasa.

Keumalahayati ternyata bukan hanya sebagai seorang Laksamana dan Panglima Angkatan Laut Kesultanan Aceh Darussalam, namun ia juga pernah menjabat sebagai Komandan Pasukan Wanita Pengawal Istana. Jabatan ini merupakan tugas kesultanan dalam bidang diplomasi dan ia bertindak sebagai juru runding dalam urusan-urusan luar negeri. Ia sendiri telah menunjukkan bakatnya dan menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Ia memiliki sifat dan karakter yang tegas sekaligus berani dalam menghadapi berbagai momen perundingan, baik dengan Belanda maupun Inggris. Meski begitu, sebagai diplomat yang cerdas, ia dapat bersikap ramah dan luwes dalam melakukan berbagai perundingan.

Pada tanggal 21 November 1600, rombongan bangsa Belanda yang dipimpin Paulus van Caerden datang ke Kesultanan Aceh Darussalam. Sebelum memasuki pelabuhan, rombongan ini menenggelamkan sebuah kapal dagang Aceh dengan terlebih dahulu memindahkan segala muatan lada yang ada di dalamnya ke kapal mereka. Setelah itu datang lagi rombongan bangsa Belanda kedua yang dipimpin oleh Laksamana Yacob van Neck. Mereka mendarat di Pelabuhan Aceh pada tanggal 31 Juni 1601. Mereka memperkenalkan diri sebagai bangsa Belanda yang datang ke Aceh untuk membeli lada. Setelah mengetahui bahwa yang datang adalah bangsa Belanda, Laksamana Keumalahayati langsung memerintahkan anak buahnya untuk menahan mereka. Tindakan tersebut mendapat persetujuan Sultan al-Mukammil karena sebagai ganti rugi atas tindakan rombongan Belanda sebelumnya.

Pada tanggal 23 Agustus 1601, tiba rombongan bangsa Belanda ketiga yang dipimpin oleh Komisaris Gerard de Roy dan Laksamana Laurens Bicker dengan empat buah kapal (Zeelandia, Middelborg, Langhe Bracke, dan Sonne) di Pelabuhan Aceh. Kedatangan mereka memang telah disengaja dan atas perintah Pangeran Maurits. Kedua pimpinan rombongan mendapat perintah untuk memberikan sepucuk surat dan beberapa hadiah kepada Sultan al-Mukammil. Sebelum surat diberikan, sebenarnya telah terjadi perundingan antara Laksamana Keumalahayati dengan dua pimpinan rombongan Belanda. Isi perundingan tersebut adalah terwujudnya perdamaian antara Belanda dan Kesultanan Aceh, dibebaskannya Frederick de Houtman, dan sebagai imbalannya Belanda harus membayar segala kerugian atas dibajaknya kapal Aceh oleh Paulus van Caerden (akhirnya Belanda mau membayar kerugian sebesar 50.000 golden).

Setelah itu hubungan antara Belanda dan Kesultanan Aceh berlangsung cukup baik. Kehadiran bangsa Belanda dapat diterima secara baik di istana kesultanan dan mereka diperbolehkan berdagang di Aceh. Sebagai lanjutan dari hubungan baik antara Belanda dan Kesultanan Aceh, maka diutuslah tiga orang untuk menghadap Pangeran Maurits dan Majelis Wakil Rakyat Belanda. Ketiga orang itu adalah Abdoel Hamid, Sri Muhammad (salah seorang perwira armada laut di bawah Laksamana Keumalahayati), dan Mir Hasan (bangsawan kesultanan). Meski sedang dilanda perang melawan kolonialisme Spanyol, pihak Belanda menyambut utusan Aceh tersebut dengan upacara kenegaraan.

Peran diplomatik Laksamana Keumalahayati masih berlanjut. Hal ini bermula dari keinginan Inggris untuk menjalin hubungan dagang dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Ratu Elizabeth I (1558-1603 M) mengirim utusan untuk membawa sepucuk suratnya kepada Sultan Aceh al-Mukammil. Rombongan yang dipimpin oleh James Lancaster, seorang perwira dari Angkatan Laut Inggris ini, tiba di Pelabuhan Aceh pada tanggal 6 Juni 1602. Sebelum bertemu dengan Sultan al-Mukammil, Lancaster mengadakan perundingan dengan Laksamana Keumalahayati. Dalam perundingan itu, Lancaster menyampaikan keinginan Inggris untuk menjalin kerjasama dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Ia juga berpesan agar Laksamana Keumalahayati memusuhi Portugis dan berbaik hati dengan Inggris. Laksamana Keumalahayati meminta agar keinginan tersebut dibuat secara tertulis dan diatasnamakan Ratu Inggris. Setelah surat tersebut selesai dibuat, Lancaster diperkenankan menghadap Sultan al-Mukammil.

Laksamana Keumalahayati juga berperan besar dalam menyelesaikan intrik kesultanan. Hal ini bermula dari peristiwa penting perihal suksesi kepemimpinan di Kesultanan Aceh Darussalam. Pada tahun 1603 M, Sultan al-Mukammil menempatkan anak lekaki tertuanya sebagai pendamping dirinya. Namun, rupanya putra tersebut berkhianat terhadap ayahnya dan mengangkat dirinya sebagai Sultan Aceh dengan gelar Sultan Ali Riayat Syah (1604-1607 M).

Pada masa awal kepemimpinannya, berbagai macam bencana menimpa Kesultanan Aceh Darussalam, seperti kemarau yang berkepanjangan, pertikaian berdarah antar saudara, dan ancaman dari pihak Portugis. Tidak ada keinginan kuat dari Sultan Ali Riayat Syah untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan serius. Maka banyak timbul rasa kekecewaan dari punggawa kesultanan, salah satu di antaranya adalah Darmawangsa Tun Pangkat, kemenakannya sendiri. Darmawangsa ditangkap dan dipenjara atas perintah Sultan.

Pada bulan Juni 1606, Portugis menyerang Kesultanan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Alfonso de Castro. Ketika itu Darmawangsa masih berada di penjara. Ia memohon kepada Sultan Ali Riayat Syah agar dirinya dapat dibebaskan dan dapat ikut bertempur melawan Portugis. Dengan didukung adanya pemintaan Laksamana Keumalahayati, Darmawangsa akhirnya dapat dibebaskan. Mereka berdua akhirnya berjuang bersama dan dapat menghancurkan pasukan Portugis.

Oleh karena Sultan Ali Riayat Syah dianggap banyak kalangan tidak cakap lagi memimpin kesultanan, maka Laksamana Keumalahayati melakukan manuver dengan cara menurunkan Sultan Ali Riayat Syah dari tahta kekuasaan. Darmawangsa akhirnya terpilih sebagai Sultan Aceh dengan gelar Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Pada masanya, Kesultanan Aceh Darussalam mencapai zaman keemasan.