Search This Blog

Sunday, July 14, 2013

PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT : PENGANTAR PERTOLONGAN PERTAMA

PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT : PENGANTAR PERTOLONGAN PERTAMA

Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)
Suatu jaringan antara sumber daya yang saling berhubungan guna memberikan pelayanan gawat darurat & transportasi kepada penderita yang me-ngalami musibah akibat kecelakaan atau penyakit mendadak.
SPGDT  dibagi dalam dua fase :
1. Fase Pra Rumah Sakit
2. Fase Rumah Sakit
Fase Pra Rumah Sakit
Keberhasilan fase ini sangat tergantung pada keberadaan & kemampuan dari :
• Akses & komunikasi
• Pelayanan gawat darurat di tempat kejadian
• Transportasi ke pelayanan medis
Akses & Komunikasi
Masyarakat tahu bagaimana cara mengakses  SPGDT.
• Ada nomor darurat yg. bebas & mudah dipanggil.
• Ada sarana untuk memanggil seperti telepon, radio komunikasi, bedug, kentongan dll.
Pelayanan Gawat Darurat di Tempat Kejadian
Adanya penolong di tempat kejadian yg idealnya memiliki kemampuan / terlatih memberikan pertolongan pertama.
•  Kategori awam
•  Kategori awam khusus
•  kategori khusus (medis/paramedis)
Transportasi Medis
Ada sarana transportasi  untuk membawa penderita ke fasilitas medis :
• Kendaraan khusus seperti  : ambulans  gawat darurat,  ambulans transport atau ambulans Jenasah
• kendaraan non medis yg ada pada saat itu.
Penanganan Pra Rumah Sakit
Konsep penanganan pra rumah sakit adalah memberikan bantuan hidup dasar dan mempertahankan nyawa penderita dengan melakukan tindakan pertolongan pertama secepatnya di tempat, sesaat setelah kejadian terjadi.
Pertolongan Pertama
Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau cedera yg. memerlukan penanganan medis dasar
Medis dasar : Tindakan pertolongan berdasarkan ilmu kedokteran yang dapat dimiliki oleh orang awam atau awam terlatih
Pelaku Pertolongan Pertama :
Penolong yang pertama berada di lokasi kejadian, memiliki kemampuan dan terlatih dalam tindakan penanganan medis dasar
Tujuan Pertolongan Pertama :
• Menyelamatkan jiwa
• Mencegah cacat
• Memberikan rasa nyaman & menunjang upaya penyembuhan
Persetujuan Pertolongan :
•Persetujuan tersirat (implied consent), ada isyarat yg diberikan
•Persetujuan yg dinyatakan (expressed consent), ada pernyataan lisan/tertulis
Kewajiban Pelaku PP:
o Menjaga keselamatan diri, tim, penderita & orang sekitarnya.
o Dapat menjangkau penderita.
o Dapat mengenali/menilai & mengatasi masalah yg. mengancam nyawa.
o Meminta bantuan / rujukan.
o Menolong dg.cepat & tepat sesuai keadaan penderita.
o Membantu & berkomunikasi dg. pelaku PP yg. lain.
o Mengatur pengangkatan & pemindahan penderita.
o Membuat laporan (catatan) pemberian PP
Kualifikasi Pelaku PP :
• Jujur & bertanggung jawab.
• Bersikap profesional
• Matang secara emosi
• Mampu bersosialisasi
• Kemampuan nyata terukur sesuai sertifikasi
• Kondisi fisik baik
• Percaya diri dan punya rasa bangga
Tindakan Pengamanan Diri Pelaku PP :
o Memperhitungkan resiko tindakan.
o Menggunakan alat pelindung diri. (APD)
o Membersihkan diri sebelum & setelah melakukan tindakan pertolongan.
o Membersihkan alat pertolongan.
Alat Perlindungan Diri (APD):
o Sarung tangan lateks + sarung tangan kerja.
o Kacamata pelindung.
o Baju pelindung.
o Masker penolong.
o Helm
*Dirangkum dari berbagai sumber
Referensi :
Diktat PMI Yogyakarta dan Diktat RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Bagikan ini:

PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT : PENGANGKATAN DAN PEMINDAHAN PENDERITA

PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT : PENGANGKATAN DAN PEMINDAHAN PENDERITA


Sebelum Mengangkat & Memindahkan Penderita…
Pertimbangkan…
o Kapan waktunya? (rawat dahulu atau segera diangkat & dipindahkan? )
o Nilai kesulitan yg mungkin terjadi akibat dari kondisi : medan, beban penderita & kemampuan (jumlah) penolong.
o Pilih teknik pengangkatan & pemindahan yg paling aman sesuai kondisi.
Ingat…
o Jangan lakukan pengang-katan/pemindahan jika tidak mutlak benar.
o Lakukan sesuai dengan teknik yang baik & benar.
o Kondisi fisik penolong harus baik & terlatih.
o Jangan sampai membuat cedera lebih lanjut pada penderita
o Hindari cedera pd. penolong
Mekanika Tubuh
Menggunakan gerakan tubuh penolong yang baik dan benar untuk memudahkan pengangkatan dalam pemindahan penderita dengan tujuan menghindari atau mencegah terjadinya cedera pada penolong
Prinsip Mengangkat
o  Nilai kemampuan diri & tim. Jangan coba paksakan mengangkat / menurunkan jika tidak yakin mampu mengendalikannya.
o  Gunakan otot tungkai, otot panggul & otot perut untuk mengangkat, bukan otot punggung.
o  Hindari gerakan membungkuk, upayakan punggung tetap dalam satu garis lurus.
o  Kaki menjadi tumpuan utama dalam mengangkat, jarak kedua kaki sebahu.
o  Jaga keseimbangan dg posisi satu kaki sedikit di depan dari kaki yang lain.
o  Tangan yg memegang menghadap depan.
o  Tubuh serapat mungkin dg beban. Itu akan mengurangi beban otot.
o  Jangan memutar tubuh saat mengangkat.
o  Prinsip ini digunakan juga untuk menarik / mendorong penderita
Prinsip Mengangkat
Macam Pemindahan
PEMINDAHAN DARURAT
o Berada pada situasi yang membahayakan keselamatan penderita / penolong.
o Menghalangi akses penolong ke penderita lain yg mungkin lebih parah.
o Lokasinya tidak memungkinkan untuk melakukan BHD-RJP kepada penderita.
PEMINDAHAN TIDAK DARURAT
o Situasinya tidak membahaya-kan diri penolong & penderita.
o Perawatan darurat di lapangan & pemeriksaan tanda vital telah diselesaikan.
o Korban dalam keadaan stabil, semua cedera telah ditangani dengan baik.
o Kecurigaan fraktur servikal & spinal telah diimobilisasi (dibidai).
Darurat disini bukan karena ketiadaan alat tetapi karena situasinya yang darurat.
Pemindahan Darurat


Teknik Sampir Pundak

Pemindahan Tidak Darurat Oleh Satu Orang Penolong

Pemindahan Tidak Darurat Oleh Dua Orang Penolong

Teknik Angkat Langsung


PERALATAN PEMINDAHAN
Tandu Beroda (wheeled stretcher)


Peralatan Ekstrikasi / Pemindahan
Tandu Improvisasi

Pemindahan Dengan Tandu Kursi

Teknik Log Roll (Flip & Strip)
o Manuver mengangkat & memindahkan penderita ke LSB (Long Spinal Board).
o Pemindaian dg. sinar x membuktikan bahwa bila teknik ini dilakukan dg baik,  kelurusan tulang belakang ketika korban dipindahkan tetap terjaga, walaupun dari posisi tengadah (supinasi), tengkurap (pronasi) atau miring (lateral).
Posisi Penderita
• Jika penderita syok, letakkan dalam posisi syok (jika tidak ada cedera di tungkai dan tulang belakang)
• Jika penderita dengan gangguan pernapasan posisikan dengan posisi duduk atau setengah duduk
• Penderita dengan nyeri perut, posisikan dengan tungkai ditekuk
• Penderita dengan muntah-muntah posisikan nyaman dan awasi jalan napas
• Penderita dengan trauma à curiga spine trauma à stabilkan dan imobilisasi dengan papan spinal panjang
• Jika penderita tidak ada respon dan tidak dicurigai ada cedera spinal atau cedera berat lain à posisi miring stabil
• Posisi nyaman, bila cedera tidak mengganggu
*Dirangkum dari berbagai sumber
Referensi :
Diktat PMI Yogyakarta dan Diktat RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta
About these ads

PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT : LUKA DAN PATAH TULANG

PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT : LUKA DAN PATAH TULANG


Jenis Perdarahan Luar :

Teknik Mengendalikan Perdarahan Luar

* Tekan langsung tepat diatas luka dengan penutup luka. Umumnya perdarahan akan berhenti ± 5 s.d.15 menit. Jika perdarahan belum berhenti, tambahkan penutup luka tanpa melepas penutup luka sebelumnya.
* Tinggikan daerah cedera lebih tinggi dari jantung. (biasanya hanya pada cedera alat gerak saja).
* Tekan pada pembuluh nadi diantara luka dengan jantung.
Teknik lain Mengendalikan Perdarahan Luar
* immobilisasi dengan atau tanpa bidai.
* Torniket (sebagai alternatif terakhir & hanya pada kasus tertentu saja)
* Kompres dingin
Cedera Jaringan Lunak (Luka)
* Jaringan lunak tubuh meliputi kulit, jaringan lemak, pembuluh darah, jaringan ikat, membran, kelenjar, otot & saraf.
* Cedera jaringan lunak (luka) berdasarkan keterlibatan jaringan kulit, dibagi menjadi :
* Luka Terbuka : cedera jaringan lunak disertai kerusakan/terputusnya jaringan kulit.
* Luka tertutup : cedera jaringan lunak tidak disertai dengan kerusakan jaringan kulit.
Jenis – Jenis Luka
Jenis Luka terbuka :
* Luka lecet
* Luka sayat / iris
* Luka robek
* Luka tusuk (termasuk dalam hal ini luka tembak)
* Luka sobek (avulsi)
* Luka amputir (amputasi)
* Luka gigitan & sengatan
* Cedera remuk terbuka
* Luka bakar
Jenis Luka Tertutup :
* Memar
* Hematoma
* Cedera remuk tertutup
Luka Lecet & Luka Sayat / Iris
Luka Sobek/Avulsi & Luka Robek
Luka Tusuk,  luka Tembus  & Luka Gigitan Binatang
Luka Amputir (Amputasi)
Luka memar & Hematoma
Perawatan Luka Terbuka
* Pastikan daerah luka terlihat.
* Bersihkan daerah sekitar luka.
* Kontrol perdarahan bila ada.
* Lakukan penatalaksanaan syok pada luka yang parah.
* Cegah kontaminasi lanjut.
* Beri penutup luka & balut bila perlu.
* Baringkan penderita bila kehilangan banyak darah dan lukanya cukup parah.
* Tenangkan penderita.
* Rujuk ke fasilitas kesehatan.
Perawatan Luka Tertutup
* Pastikan daerah cedera terlihat.
* Perawatan luka tertutup dilakukan seperti halnya perdarahan dalam.
* Khusus untuk memar dapat dilakukan :
   R  = rest
   I  = ice pack
   C  = compressed
   E  = elevation
* Tenangkan penderita.
* Rujuk ke fasilitas kesehatan.
Prinsip Penutupan & Pembalutan Luka
* Penutupan meliputi seluruh permukaan luka.
* Upayakan permukaan luka sebersih mungkin sebelum menutup luka, kecuali bila luka disertai perdarahan yang masih mengalir
* Pemasangannya harus memenuhi prinsip aseptik
* Jangan dipasang pembalut sebelum perdarahan terhenti, kecuali pembalutan penekanan.
* Balutan tidak terlalu kencang/longgar & jangan biarkan ujung sisa terurai.
* Jangan menutup ujung jari. Bagian itu bisa jadi petunjuk.
* Bila luka kecil upayakan untuk memperluas daerah pembalutan
* Untuk anggota gerak balut dari distal ke proksimal
* Lakukan pembalutan dalam posisi yang diinginkan
Cedera Sistem Otot Rangka : Jenis Patah Tulang
* Patah Tulang tertutup.
Tidak ada luka , permukaan kulit utuh, Fragmen tulang tidak berhubungan dengan udara luar.
* Patah tulang terbuka.
Ada luka terbuka, kulit di atas/dekat bagian yang patah rusak, fragmen tulang mungkin terlihat atau menonjol keluar.
Cedera Sistem Otot Rangka : Tanda & Gejalanya
Cedera Sistem Otot Rangka : Pertolongan Pertamanya 
1 .  Lakukan prosedur penilaian penderita.
2.   Kenali & atasi keadaan yang mengancam nyawa, jangan terpancing dengan cedera yang terlihat berat.
3.   Pasang bidai leher (neck collar) dan beri oksigen jika ada sesuai protokol.
4.   Ingat pada cedera alat gerak, lakukan pemeriksaan GSS sebelum & sesudah perawatan.
5.   Stabilkan bagian cedera secara manual sampai saat tindakan immobilisasi selesai dilakukan, jangan sampai menambah rasa sakit pada penderita.
6.   Paparkan seluruh bagian yang diduga cedera.
7.   Atasi perdarahan & rawat luka yang terjadi.
8.   Siapkan alat & bahan pembidaian selengkapnya.
9.   Lakukan pembidaian sesuai dengan prinsip-prinsip pembidaian.
10.Untuk mengurangi rasa sakit penderita, istirahatkan bagian yang cedera, kompres dingin (pada cedera tertutup) & pemberian analgetik bisa dipertimbangkan.
11. Letakan penderita pada posisi yang nyaman.
12. Bila ditemukan cedera terkilir, istirahatkan & tinggikan daerah yang cedera. Beri kompres dingin (maks. 30 menit) setiap jam jika perlu. Balut tekan & tetap tinggikan.
13. Lakukan pemeriksaan berkala & rujuk ke fasilitas kesehatan.
Pembidaian : Tujuan & Macamnya.
Pembidaian :
tindakan penggunaan alat bantu guna menstabilkan bagian tubuh yang cedera.
Tujuannya :
1. Mencegah pergerakan (immobilisasi) bagian yang cedera.
2. Menghindari terjadinya cedera baru.
3. Mengistirahatkan.
4. Mengurangi rasa nyeri.
Macam-macam bidai :
* Bidai keras
* Bidai yang dapat dibentuk.
* Bidai traksi.
* Gendongan/belat/bebat.
* Bidai improvisasi.
Alat bidai harus cukup kuat & ringan agar bisa difungsikan sebagai penopang.

Prinsip-Prinsip Pembidaian
1. Sedapat mungkin informasikan rencana tindakan kepada penderita.
2. Paparkan bagian yang cedera, rawat perdarahan yang terjadi.
3. Buka pakaian & perhiasan penderita yang sekiranya menutupi/mengganggu di daerah yang cedera.
4. Nilai GSS – gerakan, sensasi, sirkulasi – bagian distal yang cedera sebelum melakukan pembidaian.
5. Siapkan dahulu peralatan selengkapnya.
6. Jangan mencoba merubah posisi bagian yang cedera, usahakan bidai pada posisi saat ditemukan.
7. Jangan mencoba memasukan bagian tulang yang patah.
8. Sebelum dipasang, ukur dahulu bidai pada anggota tubuh penderita yang sehat.
9. Bila cederanya adalah patah tulang, bidai sepanjang dua sendi yang mengapit tulang yang patah tersebut.
10. Bila cederanya adalah sendi, bidai sepanjang tulang yang mengapit tulang yang patah tersebut, bidai pula sendi distalnya.
11. Bila memungkinkan, lapisi dahulu bidai dengan bahan yang lunak/lembut.
12. Isi bagian kosong diantara tubuh dan bidai dengan pelapis yang berbahan lunak/lembut.
13. Ikatan jangan  terlalu kuat atau terlalu longgar.
14. Ikatan cukup jumlahnya, dimulai dari sendi yang banyak bergerak, kemudian sendi atas dari tulang yang patah.
15. Satukan dengan tubuh atau alat gerak yang lain.
16. Nilai GSS setelah selesai pembidaian, bandingkan dengan GSS saat sebelum dibidai.
17. Melakukan pembidaian memerlukan waktu, meski begitu lakukan dengan efektif & efisien.
18. Jangan membidai berlebihan. Penggunaan papan spinal atau bidai tubuh akan sangat membantu menghindari banyaknya pembidaian & lamanya waktu pada satu penderita
Pembidaian Untuk Cedera Alat Gerak Atas
Pembidaian Untuk  Cedera Alat Gerak Bawah
Patah Tulang Iga
* Kemungkinan terjadi lebih besar pada usia tua.
* Penyulit yang mungkin terjadi adalah patahan tulang merobek lapisan pleura sehingga paru bocor & terjadi pneumothoraks, hemothoraks atau gabungan keduanya.
* Flail chest : terjadi patah tulang iga majemuk dimana satu atau lebih tulang iga patah menjadi tiga bagian atau lebih.
Tanda & Gejala
* Nyeri dada saat bernapas.
* Perubahan bentuk dada & dinding dadanya.
* Dinding dada tidak mengembang baik saat bernapas, bahkan terjadi gerakan paradoks (ada bagian dada yang bergerak berlawanan)
* Penderita terkesan melindungi bagian yg.cedera (guarding position).
* Memar yang jelas & luas di daerah dada.
* Pelebaran pembuluh balik leher, mata merah, sianosis, bagian tubuh atas bengkak.
* Batuk darah & muncul tanda syok.
Penanganan Patah Tulang Iga
* Lakukan prosedur penilaian, buka jalan napas.
* Berikan oksigen jika ada sesuai protokol. Bersiap melakukan BHD & RJP.
* Periksa fisik dada korban, temukan apakah ada tanda adanya perdarahan dalam.
* Hentikan perdarahan luar jika ada.
* Berikan bantalan pada bagian yang patah.
* Pada kasus flail chest, upayakan bagian yang patah terganjal sehingga tidak ikut bergerak saat bernapas
* Pasang gendongan lengan di sisi dada yang cedera.
* Biarkan penderita dalam posisi yang dianggap paling nyaman, yakni bisa memberi ruang gerak dada maksimal sesuai keadaannya.
* Pantau tanda vital secara berkala
* Tangani syok yang dialami & rujuk ke RS secepatnya.
*Dirangkum dari berbagai sumber
Referensi :
Diktat PMI Yogyakarta dan Diktat RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta

PENGENALAN SAR DASAR

PENGENALAN SAR DASAR


TUJUAN PENGETAHUAN SAR
Agar diperoleh pengertian yang benar oleh setiap insan dan potensi SAR untuk memudahkan dalam setiap pelaksanaan SAR
DEFINISI  SEARCH AND RESCUE
SEARCH AND RESCUE adalah pencarian dan pertolongan yang meliputi usaha mencari, menyelamatkan, memberian pertolongan terhadap orang atau material yang dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam suatu musibah. Baik musibah pelayaran, penerbangan, serta musibah / kecelakaan rekreatif atau bencana alam.

FALSAFAH  SEARCH AND RESCUE
SAR adalah kewajiban yang beraspek penuh kemanusiaan, karenanya dilaksanakan dengan suka rela tanpa pamrih apapun
SAR diberikan kepada siapa saja, kapan saja, dimana saja, tanpa membedakan kebangsaan, ras, kepercayaan,kedudukan, dan asal-usul mereka yang membutuhkan pertolongan
SASARAN  SEARCH AND RESCUE
Sasaran utamanya adalah keselamatan jiwa manusia, baru kemudian keselamatan harta benda
RUANG LINGKUP SAR
SAR mempunyai ruang lingkup Nasional dan Internasional
TUJUAN  SEARCH AND RESCUE
* Menyelamatkan jiwa manusia dan harta benda serta barang yang ditimpa musibah kecelakaan / bencana sebanyak mungkin dengan cara yang effisien dan effektif
* Memberi rasa aman. Rasa pasti , dan rasa tidak was-was pada orang yang terkena musibah.
* Memenuhi dan melaksanakan kewajiban internasional dalam rangka kerja sama dan  hubungan antar bangsa dan keluarga dunia
WEWENANG  SEARCH AND RESCUE
SAR mempunyai wewenang sebatas pada usaha pencarian, pertolongan, serta evakuasi, sampai korban musibah diserahkan kepada pihak yang lebih berwenang.
PENYELENGGARAAN OPERASI SAR
OPERASI SAR diaktifkan segera setelah diketahui adanya musibah atau diketahui adanya suatu keadaaan darurat
OPERASI SAR dihentikan bila korban musibah telah berhasil diselamatkan atau bila telah diyakini keadaaan darurat tidak terjadi atau bila hasil analisa / evaluasi bahwa harapan untuk menyelamatkan korban sudah tidak ada lagi
TINGKAT  KEADAAN DARURAT
Keadaan darurat suatu musibah dibagi menjadi 3 tingkat :
1.  Tingkat Meragukan (UNCAIRTAINITY PHASE – INCERFA)
2.  Tingkat Mengkhawatirkan (ALERT PHASE – ALERFA  ) merupakan  kelanjutan dari tingkat INCERFA atau jika diketahui dalam keadaan mengkhawatirkan karena adanya ancaman terhadap keselamatannya
3.  Tingkat Memerlukan bantuan ( DISTRESS PHASE – DISTRESFA ) merupakan kelanjutan dari tingkat ALERFA
TAHAP KEGIATAN OPERASI SAR
1. TAHAP MENYADARI ( AWARENESS STAGE )
Yaitu saat diketahui / disadari terjadinya keadaan darurat / musibah, tindakan yang dilakukan adalah pencatatan data musibah berupa :
a. Nama Korban / pesawat udara / kapal
b. Posisi Kejadian
c. Jenis Musibah
d. Waktu Kejadian
e. Keadaan Cuaca di tempat kejadian
f. Keterangan lain yang diperlukan
2. TAHAP TINDAKAN AWAL ( INITIAL ACTION STAGE )
Yaitu saat dilakukan suatu tindakan sebagai tanggapan adanya musibah yang terjadi, tindakan yang harus dilakukan adalah :
(1). Evaluasi informasi kejadian / musibah
(2). Penyiagaan fasilitas SAR
(3). Pencarian awal dengan komunikasi
(4). Pencarian lanjut  dengan komunikasi
(5). Penunjukan SMC ( SAR MISSION      COORDINATOR )
3. TAHAP PERENCANAAN OPERASI( PLANING STAGE )
Yaitu pembuatan rencana operasi yang effektif meliputi :
a. Penentuan titik duga
b. Perhitungan luas area pencarian
c. Pemilihan dan penggunaan unsur SAR
d. Metode dalam pelaksanaan
e. Koordinasi dengan unsur-unsur terkait
4. TAHAP OPERASI SAR ( OPERATION STAGE )
nYaitu tahap saat dilakukan kegiatan :
a. Operasi Pencarian
b. Operasi Pertolongan
c. Operasi Pencarian dengan Pertolongan
Dalam tahap Operasi, kegiatan yang dilakukan adalah :
a. Breifing SRU,
b. Pemberangkatan SRU,
c. Pelaksanaan  Pencarian / Pertolongan oleh SRU,
d. Penggantian SRU
e. Penarikan SRU ,
f.  Debriefing
5. TAHAP AKHIR PENUGASAN ( MISSION CONCLUSSION STAGE )
Yaitu saat Operasi SAR dinyatakan selesai dan seluruh unsur SAR dikembalikan ke kesatuan induk / organisasinya masing-masing. Kegiatan yang dilaksanakan adalah :
a. Pengembalian Unsur
b. Evaluasi  Hasil Operasi
c. Pembuatan Laporan
ORGANISASI MISI OPERASI SEARCH AND RESCUE
JABATAN DALAM OPERASI SAR
SC ( SAR COORDINATOR )
Dijabat oleh seorang pejabat kerena fungsi dan wewenangnya mampu memberikan dukungan kepada Kantor SAR untuk menggerakkan unsur-unsur SAR
SMC ( SEARCH MISSION COORDINATOR )
Dijabat oleh seseorang yang karena memiliki kemampuan  / kwalifikasi yang ditentukan. Dan tugasnya adalah melaksanakan evaluasi kejadian, perencanaan serta koordinasi pencarian. Tugas ini berlaku untuk satu kejadian SAR
OSC ( ON SCENE COMANDER )
Dijabat oleh seseorang yang ditunjuk SMC untuk mengkoordinasikan serta mengendalikan unsur SAR dilapangan, OSC ini ada bila SMC merasa perlu untuk kelancaran tugas.
SRU ( SEARCH RESCUE UNIT )
adalah unsur SAR / fasilitas personil SAR yang secara nyata melaksanakan OPERASI SAR
KOMPONEN PENUNJANG
GUNA KEBERHASILANN PELAKSANAAN DIATAS BILA DIDUKUNG DENGAN 5 KOMPONEN PENUNJANG DIBAWAH INI :
1. ORGANISASI, merupakan struktur  organisasi SAR  yang meliputi aspek pengerahan unsur Komando, Komando dan Pengendalian, Kewenangan, Lingkup Penugasan, dan Tanggung jawab untuk penanganan musibah
2. FASILITAS,adalah komponen berupa unsur, peralatan / peralatan, serta  fasilitas pendukung lainnya yang dapat digunakan dalam OPERASI SAR
3. KOMUNIKASI, adalah komponen berupa penyelenggaraan komunikasi     sebagai sarana pemantauan musibah / kejadian, komando pengendalian serta membina kerja sama / koordinasi selama operasi berlangsung
4. PERAWATAN DARURAT, adalah komponen berupa penyediaan fasilitas perawatan darurat yang bersifat sementara dalam mendukung terhadap korban.
5. DOKUMENTASI, adalah pendataan laporan / kegiatan analisa serta data kemampuan yang akan menunjang effesiensi pelaksanaan operasi dan pengembangan kegiatan misi SAR yang akan datang

SURVIVAL

SURVIVAL


Survival berasal dari kata survive yang berarti bertahan hidup. Survival adalah mempertahankan hidup di alam bebas dari hambatan alam sebelum mendapat pertolongan. Sedangkan menurut pengertian lain, survival adalah suatu kondisi dimana seseorang/kelompok orang dari kehidupan normal (masih sebagaimana direncanakan) baik tiba-tiba atau disadari masuk ke dalam situasi tidak normal (di luar garis rencananya).
Orang yang melakukan survival disebut survivor. Survival yang biasa dilakukan yaitu di hutan/alam bebas sehingga disebut jungle survival. Survival terjadi karena adanya kondisi darurat yang disebabkan alam, kecelakaan, gangguan satwa, atau kondisi lainnya.

Banyak orang menganggap, membawa benda-benda untuk alat bertahan hidup dialam bebas (Survival Kit) sewaktu bepergian, rasanya ribet atau bikin repot. Tapi bagi  yang mempunyai hobi di alam bebas sebagai penggiat pecinta alam, harus dapat mengantisipasi suatu keadaan darurat sampai hal yang kecil sekalipun sangat diperlukan. Telah banyak kejadian yang membuktikan pada peristiwa kecelakaan di laut dan udara, korban yang kebetulan selamat kebanyakan tidak siap bertahan hidup. Padahal upaya penyelamatan oleh tim SAR atau polisi belum tentu datang segera. Tak ada pilihan, korban harus bertahan hidup di alam yang sama sekali asing. Jika tanpa persiapan, ditambah kelelahan mental dan fisik, nyawa bisa jadi taruhannya.
Prinsip-prinsip yang harus dipegang oleh seorang survivor, yaitu;
S : (Size Up the Situation), pandailah dalam menilai situasi, setiap kondisi lingkungan dan perubahan-perubahannya harus betul-betul diperhatikan agar selamat.
U : (Undue Haste Make Taste), jangan tergesa-gesa, biar lambat asal selamat. Setiaptindakan hendaknya dipikirkan untung ruginya. Kesalahan dalam pengambilankeputusan dapat berakibat kematian.
R : (Remember Where You Are), Ingat dimana kamu berada. Baik posisi harfiah yang berarti lokasi dimana berada maupun posisi yang berarti kondisi dan kedudukan diri pada saat itu.
V : (Vanquish fear and panic), Kuasai diri dari rasa takut dan panik yang dapat menumpulkan nalar dan pikiran yang jernih.
I : (Improvise), Perbaiki diri dari kesulitan. Gunakan segenap kemampuan dan pengetahuan untuk keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi.
V : (Value living), Hargailah kehidupan. Jangan siasakan hidup dengan mengambil keputusan yang ceroboh. Buang pikiran jauh-jauh dari keinginan bunuh diri.
A : (Act like the native), Sesuaikan diri dengan penduduk setempat, sesuaikan dirimu dengan lingkungan disekitarmu.
L : (Learn basic skill), Pelajari dasar-dasar pengetahuan dan latihlah kemampuan dialam bebas.
Jika anda tersesat atau mengalami musibah, ingat-ingatlah arti survival tsb, agar dapat membantu anda keluar dari kesulitan. Dan yang perlu ditekankan jika anda tersesat yaitu istilah “STOP” yang artinya :
S    :    Stop & seating / berhenti dan duduklah
T   :    Thingking / berpikirlah
O   :    Observe / amati keadaan sekitar
P    :    Planning / buat rencana mengenai tindakan yang harus dilakukan
Ada beberapa permasalahan yang akan kita hadapi, yaitu masalah / bahaya yang ada di alam (bahaya obyektif), masalah yang menyangkut diri kita sendiri (bahaya subyektif).
Ada beberapa aspek yang akan muncul dalam menghadapi survival:
1. Psikologis : panik, takut, cemas, kesepian, bingung, tertekan,bosan, putus asa dll. Pengaruh psikologis yang disebabkan karena perasaan terasing.
2. Fisiologis : sakit, lapar, haus, luka, lelah, dll.Pengaruh Fisikologis yang disebabkan karena kelelahan, dan kurang tidur
3. Lingkungan : panas, dingin, kering, hujan, angin, vegetasi, fauna, dll. Pengaruh lingkungan yang disebabkan karena beratnya medan.
Ada faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan dalam melakukan survival, selain faktor keberuntungan (nasib baik/pertolongan Tuhan tentunya), yaitu:
• Semangat untuk mempertahankan hidup.
• Kesiapan diri.
• Alat pendukung.
Beberapa kebutuhan yang harus dipenuhi dalam menghadapi survival :
Perlindungan terhadap ancaman :
• cuaca,
• binatang,
• makanan/minuman
• penyakit
Menurut jumlah orangnya survival ada dua macam yaitu survival individu dan survival kelompok.
• Dalam survival individu atau sendiri, akan mengundang rasa kesepian dan bosan selain rasa takut dan panik. Kesepian dan bosan adalah masalah besar yang harus segera diatasi dan dihindarkan. Karena hal tersebut akan dapat membuat perasaan tertekan yang bisa menghilangkan semangat dan keinginan untuk hidup. Kesepian dan bosan hanya bisa ada dalam suatu lamunan yang disetujui oleh tindakan dan pikiran. Untuk mengatasinya selalu bekerjalah untuk hal yang perlu dikerjakan akan bisa menghindari rasa sepi dan bosan.
• Survival kelompok lebih baik dari pada survival sendiri, tersedianya banyak tenaga untuk melakukan pekerjaan dan adanya teman untuk berkomunikasi yang dapat menghilangkan rasa sepi dan bosan. Namun, setiap orang tidak akan sama dalam menghadapi sesuatu yang dihadapinya. Dalam keadaan ini kecenderungan orang akan bertindak untuk kepentingan dirinya sendiri dengan mengabaikan kepentingan bersama. Untuk menjaga hal tersebut, dan kebersamaan tetap terkontrol maka sebaiknya dipilih seorang pemimpin untuk mengkoordinasikan setiap anggota kelompok
Tugas dari pemimpin dalam survival ini adalah
o Menyusun rencana yang melibatkan seluruh anggota dan keselamatan menjadi milik bersama.
o Lakukan pembagian tugas pekerjaan kepada setiap anggota. Sesuaikan tugas dengan kondisi tiap anggota. Dengan pembagian tugas pekerjaan akan cepat diselesaikan dan membina rasa kebersamaan.
o Kembangkan rasa kebersamaan dan kepercayaan di dalam kelompok.
Sekali lagi, keputusan yang salah dalam menentukan suatu keputusan akan berakibat kematian. Untuk itu kita harus benar-benar dalam setiap mengambil keputusan. Ada beberapa langkah yang direkomendasikan dalam melakukan survival antara lain ;
1. Mengkoordinasikan anggota, bila beberapa orang, pilihlah salah seorang dari kelompok sebagai ketua. Seorang ketua sangat diperlukan untuk mengatur dan menentukan keputusan bila terjadi perselisihan.
2. Melakukan pertolongan pertama, obatilah anggota yang sakit agar tidak menjadi lebih parah. Dalam keadaan seperti ini penyakit yang ringan dapat berkembang bahkan dapat menyulitkan kita nantinya.
3. Melihat kemampuan dan keadaan anggota kelompok, hal ini akan berguna dalam pembagian tugas. Bedakan berdasarkan kondisi kesehatan, fisik dan mental. Karena jika salah memberikan tugas pada seseorang akan menghambat rencana bahkan dapat berakibat fatal.
4. Mengadakan orientasi medan, usahakan untuk mengetauhi posisi kita, kemungkinan pemukinan penduduk, dan perkiraan jalan keluar.
5. Mengadakan penjatahan makanan, perhitungkan jumlah makanan yang tersedia, jumlah anggota, perkiraan waktu. Disamping itu, mencari sumber makanan yang harus diusahakan dari luar rencana penjatahan. Mengenai cara mendapatkan makanan dan air akan dibahas lebih lanjut.
6. Membuat rencana kegiatan dan pembagian tugas, rencana yang dibuat se-rasionalmungkin dan berdasarkan pertimbangan yang matang. Pembagian tugas sesuaikan dengan kondisi saat itu.
7. Usahakan menyambung komunikasi dengan dunia luar, jangan melakukan hal-hal yang berlebihan terlebih menguras tenaga kita. Tandailah jalan yang telah kita lewati dan mencari perhatian dengan cara membuat asap, menjemur pakaian di tempat tinggi dan atau terbuka, memantulkan sinar matahari dengan cermin dan lain-lain.
8. Mencari pertolongan. Selalu dan selalu berusaha mencari pertolongan. Buatlah kode-kode dari darat ke udara yang dapat membantu tim penolong, khususnya yangmencari survivor lewat udara. Tanda-tanda yang diberikan harus berukuran cukup besar, menyolok, kontras dengan warna latar belakangnya, dan ditempatkan di tempat yang mudah terlihat dari udara atau dari kejauhan. Isyarat boleh dibuat dari benda atau bahan apa saja yang mudah diperoleh.
Survival Kit
Survival Kit adalah satu set peralatan atau suatu kotak/tas peralatan survival yang umumnya dapat digunakan untuk semua jenis daerah seperti gunung, hutan, padang pasir dan pantai serta laut. Perlengkapan yang harus ada dan di siapkan dalam Survival Kit adalah :
• Korek Api.
• Lilin.
• Batu api.
• Kaca pembesar.
• Jarum dan benang.
• Kail dan senar.
• Kompas.
• Senter kecil.
• Kawat jerat.
• Kawat gergaji.
• Pisau.
• Tali.
• Kondom.
• Obat – obatan, seperti : analgetik, anti mencret, anti gatal, anti malaria, anti biotik
Obat-obatan yang harus di persiapkan dalam survival kit diantaranya yaitu:
• Analgetik ; Ponstan, Antalgin, Metancuron, Naspro, Aspirin dll.
• Anti Mencret ; motilex, Lodya, Entrostop, dll.
• Anti Gatal ; CTM, benadryl tab/inj, Insidal, dll.
• Anti Malaria
• Anti Biotik ; Ampicilin Dll.
• Plester ; Plester Kupu-kupu, handiplas, dll
 Air
Dalam keadaan survival maka air merupakan faktor terpenting dan lebih penting dari faktor lainnya. Manusia dapat hidup dengan air saja hingga ± 3 minggu. Tapi manusia hanya bisa bertahan hidup tanpa air 3-5 hari. Jika kita kesulitan dalam memperoleh sumber air, maka cara dibawah ini dapat dicoba untuk mendapakan air.
Air dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Air yang tidak perlu dimurnikan
Ciri-cirinya : tidak berwarna, berasa, dan berbau.
Contoh air : air minum, dari tanaman rotan, dari tanaman bunga, lumut dan daun-daun yang lebar
b. Air yang perlu dimurnikan
Ciri-cirinya : berbau, berwarna, dan berasa
Contoh air : air sungai besar, air di daerah yang berbatu, air di daerah sungai yang kering, air dari batang pohon pisang.
1. Galilah lubang sedalam kira-kira 30-50 cm dengan diameter yang lebih besar dari nesting / rantang (apa pun yang dapat digunakan untuk menampung air)
2. Potonglah ranting kering dengan panjang kira-kira 50 cm, siapkan selembar plastik yang cukup lebar (bisa juga menggunakan ponco / jas hujan).
3.Letakkan nesting / rantang di dasar lubang, tegakkan batang / ranting tadi dan tutupi dengan pastik, jangan lupa letakkan batu disekelilingnya agar tidak mudah bergeser.
4.Tunggulah air menguap dari permukaan tanah.
Cara lain untuk mendapatkan air :
1. Hujan : tampung air hujan dengan daun-daun yang lebar alirkan ketempat minum kita / tampung dengan ponco/ juga memeras sapu tangan dan slayer bersih yang terkena hujan lalu teteskan kedalam mulut.
2. Tanah batu : carilah mata air pada tanah / yang berbatu namun hanya terdapat mataair. Kapur mudah di larutkan sehingga mudah dibentuk saluran air.
3. Tanah campur : carilah air di lembah dekat dengan permukaan air tanah. Carilah lubang air yang mengalir yang terdapat di sebelah atas permukaan tanah termasuk aliran sungai gembur tetapi ingat air ini dapat kotor sekali dan berbahaya.
4. Daerah pantai : tanah air dibukit-bukit /galilah air pasir lembah. Untuk mengurangi rasa air asin, saringlah dengan pasir. Jangan meminum air laut karena dapat menyebabkan dehidrasi dan merusak ginjal.
Sumber air yang dapat langsung diminum.
Pertama adalah air hujan. Meskipun kadang air hujan mengandung asam pada prinsipnya air hujan dapat diminum langsung, hanya diperlukan cara untuk mengumpulkannya. Cara mengumpulkan air hujan dapat dengan menggali lubang dandipulas dengan tanah liat atau dasarnya dilapisi dengan bahan-bahan yang dapat menampung air seperti ponco, daun, alumunium foil, kulit kayu, plastik dan lain-lain. Ada baiknya setelah mendapatkan air kita masak terlebih dahulu.
Sumber yang kedua adalah dari tumbuhan dan atau lumut. Kita dapat memanfaatkan proses respirasi tumbuhan untuk mendapatkan air. Caranya adalah selubungkan sebuah ranting dan daunnya dengan sebuah kantong plastik yang ujungnya diikat. Penguapan dari daun akan menyebabkan timbul pengembunan pada plastik bagian dalam. Pilih bagian daun yang sehat dan banyak daunnya. Pada lumut kita dapat langsung menyerap air pada lumut dengan bahan yang mudah menyerap air seperti kain.
Sumber yang ketiga adalah embun. Pada daerah yang memiliki iklim yang sangat ekstrim dimana sangat panas di siang hari dan sangat dingin di malam hari, kita dapat menampung embun sangat banyak. Untuk mendapatkan air kita dapat menggunakankain, busa, ponco, plastik dan lain-lain.
Sumber yang keempat adalah tanaman rambat atau rotan yang ada di hutan. Potonglah dengan pisau setinggi mungkin yang dapat dijangkau kemudian potong juga bagian bawahnya yang dekat dengan tanah. Air yang menetes dari batang tersebut dapat ditampung atau langsung diteteskan ke mulut.
Sumber yang kelima adalah air yang tertampung pada daun-daun yang lebar, biasanya setelah hujan ataupun embun di pagi hari, pada ruas bambu dan pada bunga kantong semar (Nephenthes sp) terdapat air. Untuk air yang dari kantung semar sebaiknya dimasak dulu karena sering terdapat serangga yang sudah mati dan berbau.
Sumber keenam adalah dengan memanfaatkan kondensi tanah. Dalam hal ini memanfaatkan uap air tanah yang ditahan kemudian ditampung kedalam suatutempat. Caranya adalah galilah tanah dengan kedalaman tertentu kemudian gelarkan plastik diatas lubang tersebut kemudian ujungnya ditahan. Beri pemberat di bagian tengah plastik penutup lubang hingga plastik agak masuk kedalam lubang. Sebelumnya telah diletakkan suatu wadah tepat dibagian tengah pemberat hingga nantinya air akan menetes di wadah tersebut.
Sumber air yang tidak dapat langsung diminum.
Air yang menggenang.
Walaupun kita kadang ragu akan kebersihannya, dalam keadaan darurat air seperti ini masih dapat dimanfaatkan. Cara paling aman untuk memanfaatkan air itu adalah dengan melakukan penyaringan. Misalnya air hasil galian di pantai dan atau sungai yang kering. Air tersebut harus mengalami proses lanjutan yaitu dengan dimurnikan terlebih dahulu. Caranya adalah ukur jarak sekitar 5 – 7 meter diatas air pasang untuk melakukan penggalian dengan cara membuat lubang kecil. Air yang didapat dengan cara ini biasanya tidak mengandung garam.  Sebagai catatan, air yang segar akan terletak diatas air yang asin dalam lubang galian tersebut. Air yang didapat dengan cara ini walaupun agak payau akan tetapi aman untuk dikonsumsi. Apabila air masih terlalu payau maka dapat dilakukan penggalian dengan penambahan jarak galian atau dilakukan penyaringan
Cara penyaringan air.
Pertama
penyaringan dapat dilakukan dengan menggunakan baju kaos yang berlapis. Lebih baik kaos yang berwarna putih karena akan lebih jelas terlihat apabila kaos penyaring tersebut kotor dapat dibersihkan terlebih dahulu sebelum dilakukan penyaringan kembali.
Kedua.
Dengan cara melewatkan air kedalam bambu. Tabung bambu bagian dasar dilapisi dengan kerikil dan ijuk atau bisa digunakan lapisan dedaunan kering dan rumput kering sebagai penyaringnya. Perlu diingat juga bahwa cara membersihkan air dapat dilakukan dengan mengendapkan selama 24 jam. Untuk menjaga kebersihannya, maka sebaiknya tempat pengendapan ditutup rapat.
“INGAT! APABILA INGIN MINUM AIR, ambillah sedikit demi sedikit/ isapan. Jangan langsung minum sebanyak-banyak apabila menemukan air. Meminum sekaligus banyak hanya akan membuat muntah seseorang yang sedang kekurangancairan (dehydrasi) sehingga akan membuat keadaan menjadi lebih parah.”
Tanda dari hewan ke sumber air.
Hewan bertulang belakang memerlukan air secara tetap. Hewan memamah biak  biasanya hidup didekat air dan akan selalu berusaha di dekat sumber air. Hewan ini memerlukan air setiap sore dan pagi hari, bekas jejak hewan ini akan sangat jelas menuju ke lembah ke arah sumber air
Burung pemakan buah tidak akan jauh dari sumber air. Binatang ini minum pada pagi dan sore hari. Apabila burung ini terbang langsung dan rendah maka itu tanda akan menuju air. Setelah minum burung tersebut akan terbang dari pohon ke pohon dan sering beristirahat. Pastikanlah lintasan terbang burung ini maka kemungkinan besar akan bertemu sumber air.
Serangga sebagai tanda yang baik terutama lebah. Mereka bisa terbang sekitar 6,5 Km dari sarang tetapi tidak mempunyai jadwal tetap mencari air. Semut sangat memerlukan air, sekumpulan semut yang berbaris menuju pucuk pohon untuk mengambil air yang terperangkap di sana. Seringkali penampungan air ini satu-satunya didaerah yang kering.
Api.
“Kecil jadi sahabat besar jadi musuh” itulah api. Perapian merupakan hal penting yang harus kita pelajari dalam survival. Fungsi api dalam survival diantaranya sebagai penghangat tubuh, penerangan, menjauhkan hewan berbahaya, memasak, memberi tanda-tanda atau kode dll. Bila mempunyai bahan membuat api yang perlu diperhatikan adalah jangan membuat api terlalu besar. Tapi buatlah api yang kecil beberapa buah. Hal ini lebih baik dan memberi panas yang lebih merata.
Teknik membuat api tanpa korek api.
A. Dengan lensa
B. Dengan bordi
C. Dengan 2 batang kayu
D. Dengan 2 buah batu
Membuat perapian merupakan salah satuteknik hidup di alam bebas yang sangat penting terutama dalam kondisi survival. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari membuat perapian. Memasak, menghangatkan badan serta menjauhkan kita dari binatang merupakan bagian darinya. Selain itu perapian juga memberikan suatu efek psikologi yang besar. Kita akan merasa tenang dan nyaman jika berada di dekatnya. Namun semakin besar perapian, pengawasannya juga harus lebih ketat karena kemungkinan terjadi kebakaran menjadi semakin besar juga. Selain itu kita dituntut untuk sebijaksana mungkin memilih bahan-bahan kayu yang diperlukan.
Selain membuat perapian dalam tungku (hawu) di rumahnya, beberapa penduduk  Cihanjawar yang punya kebiasaan berburu dan melewatkan beberapa hari di dalam hutan, memiliki teknik membuat api dan perapian. Mungkin bagi masyarakat Cihanjawar sendiri, membuat perapian seperti ini tentulah merupakan kebiasaan sehari-hari bagi mereka dan tidak ada yang menarik. Dari beberapa kali pengamatan, mereka ternyata telah melakukan prinsip-prinsip dasar dalam membuat suatu perapian yang baik. Namun, terlebih dulu kita harus kembali mengingat tiga unsur penting dalam membuat suatu perapian, yaitu panas, bahan bakar dan udara. Setelah ketiga hal ini terpenuhi maka unsur penyusunan bahan bakar perapian menjadi hal yang sangat penting. Selalu persiapkan terlebih dahulu bahan bakar yang cukup. Pisahkanlah bahan ini berdasarkan ukurannya. Pisahkan ranting-ranting kecil dengan ranting yang agak  besar dan batang kayu yang besar. Jika kayunya agak lembab ataupun basah, sisiklah terlebih dahulu bagian yang basah atau bisa juga dengan membuat cacahan-cacahan pada batangnya sehingga menyerupai bunga-bunga kayu.
Urutan kerjanya adalah sebagai berikut;
a. Siapkan bahan bakar yang cukup, ambilah sebatang kayu yang berukuran sedang sebagai tumpuan bawah(Gambar 1a).
b. Lalu dapat dipalangkan dua buah kayu yang juga berukuran sedang (Gambar 1b). Jangan sampai jarak antara tanah dengan kayu kedua terlalu tinggi sehingga menyulitkan panas api (pembakaran) sampai ke atas. Hal ini akan mengakibatkan kayu yang diatas sulit terbakar dan menjadi bara sedangkan kayu yang telah menjadi bara dibawah akan cepat habis jika tidak diberi “umpan” lagi.
c. Susun lagi ranting-ranting kecil dengan memalangkannya di atas kedua kayu yang dibuat diatas (Gambar 1c). Pastikan ranting-ranting ini tidak mudah terjatuh/menggelincir ke bawah. Oleh karena itu usahakan kedua palang kayu tersebut tidak terlalu miring.
d. Susunlah ranting-ranting yang paling kecil sehingga api yang muncul dapat dengan mudah membakar ranting tersebut. Jangan menumpuk ranting secara berlebihan(Gambar 1d).
e. Nyalakan api dengan bantuan korek, atau pemantik (dalam bahasan ini memang kita tidak akan membicarakan bagaimana membuat api dengan metode-metode yang ada tapi lebih mengarah pada pembuatan perapian) di bagian paling dasar. Gunakan bantuan daun-daun kering atau plastik sampah.
f. Jika api sudah menjilat ranting-ranting yang paling kecil, tetap lakukan perautan kayu menjadi bagian-bagian yang kecil dan digunakan sebagai umpan. Usahakan agar lidah api membakar ranting atau daun kering untuk memperbesar nyala api.
g. Apabila ranting terlalu ke sisi (sehingga tidak terbakar), pindahkanlah ke bagian yang “terjilat”oleh lidah api.
h. Terus tumpuk ranting-ranting kayu sambil tetap memberi lubang sebagai sirkulasi udarai. Perhatikan jarak antara sumber api dengan ranting/kayu yang dibakarnya. Jangan terlalu jauh dan juga jangan sangat berdekatan.

Dalam menyalakan api khususnya didaerah yang lembab, persiapkan tipe bahan sebagai berikut;
a. Tinder (penyala), material kering yang akan menyala dengan panas atau suatu percikan api.
b. Kindling (pemancing), material yang sudah disiapkan dan gampang menyala yang akan ditambahkan setelah bahan tinder menyala.
c. Fuel (bahan bakar), material ini diperlukan saat api sudah menyala besar dan baru dibutuhkan bahan pembakar yang agak besar dan terbakar secara pelahan-lahan.
Cara – cara lain membuat api
Tehnik mengergaji kayu (fire saw). Cara ini membutuhkan tenaga yang cukup besar dan kuat. Cara ini memanfaatkan efek panas akibat gesekan kayu. Metodenya seperti menggergaji kayu dengan kayu lainnya, sehingga menimbulkan bunga api. Biasanya kayu yang digunakan berbeda antara kayu satu dengan kayu yang lainya. Kayu yang dipilih adalah kayu yang empuk sehingga tidak terlalu sulit dalam melakukan penggergajian.

Tehnik menarik-narik dengan tali kayu (fire thong) Fire Thong adalah cara mendapatkan api dari sehelai kulit kayu atau rotan kering yang ditarik menyilang di atas sepotong kayu atau rotan kering. Kulit rotan tersebut dililitkan pada sebatang pohon yang empuk, lalu ditarik oleh tangan kanan dan kiri secara bergantian. Pada bagian bawahnya diberi sabut, kawul, atau dedaunan kering yang siap menangkap bunga api.

Tehnik mengebor dengan tangan (hand drill)
Tehnik dengan menggurat-gurat kayu (fire plow)

Tehnik membuat api dengan bor busur (fire bow)


Kita juga bisa memantik api dengan barang yang kita bawa, misalnya pemantik, atau jenis lensa (teropong,kaca pembesar, dsb)
dengan pemantik (flint)
dengan lensa
Setelah dapat membuat api, maka pengetahuan memasak dalam survival juga perlu untuk dipelajari. Memasak dalam survival adalah memberikan perlakuan terhadap bahan yangtersedia di alam untuk dimanfaatkan (dimakan). Tujuan dari memasak diantaranya : mengadakan sterilisasi, membuat bahan makanan agar mudah dicerna, menambah kenikmatan, dan lain-lain. Apabila kita membawa peralatan memasak lengkap tentu tidak akan menjadi masalah. Akan tetapi apabila peralatan kita minim atau bahkan tidak membawa peralatan masak, kita bisa menggunakan fasilitas dari alam sebagai sarana.
Cara memasak tersebut diantaranya;
a. Memasak dengan menggunakan kaleng bekas, pastikan kaleng yang akan kita gunakan bersih.

b. Dengan menggunakan bambu, ambillah batang bambu yang masih muda / masihhidup. Potong sesuai ukuran yang diperlukan. Masukkan beras atau bahan makanan kedalam lubang bambu, kalau perlu tambah air. Masukkan bambu tersebut ke dalam bara api.

c. Memasak dengan menggali lubang di tanah, buatlah lubang di tanah secukupnya. Lalu daun tersebut dialasi dengan daun yang lebar yang bisa menahan air. Masukkan beras yang telah di cuci dan direndam beberapa saat ke lubang tersebut. Tutup dengan daun yang telah kita sediakan, selanjutnya tutup kembali dengan tanah. Buat api unggun diatasnya yang tidak terlalu besar tetapi menyala dengan konstan. Tunggu beberapa saat, lalu kita buka lubang tadi dan selanjutnya nasi siap untuk dimakan.
d. Memasak dengan menggunakan kelapa muda, ambil buah kelapa yang masih muda. Lalu kupas ujung bagian atasnya yang berfungsi sebagai lubang. Masukkan beras yang kita cuci kedalam buah kelapa tadi. Masukkan buah kelapa yang telah diisi beras tersebut kedalam bara api, tunggu dan beberapa saat sampai nasi matang.
Banyak fasilitas dari alam yang dapat kita gunakan sebagai sarana memasak. Hal initergantung pada kreatifitas dari survivor.
Etika Membuat Perapian
Terkadang membuat perapian menjadi suatu perdebatan di kalangan penggiat alam terbuka dan pemerhati lingkungan.Beberapa hal yang perlu dijadikan perhatian dalam membuat perapian adalah:
1. Buatlah perapian yang secukupnya, tidak terlalu besar dan membutuhkan bahan bakar kayu yang banyak, sesuaikan dengan maksud kita membuat perapian.
2. Jangan menebang kayu sembarangan! Walaupun terkadang hal ini sangat kontradiktif dengan pembuatan perapian, bukan berarti membuat suatu perapian dilarang sama sekali. Yang diperlukan adalah kebijaksanaan kita saat membuat danmenggunakannya. Pilihlah kayu yang telah tumbang ataupun mati yang cukupkering/tidak mengandung banyak air. Cukup banyak ranting-ranting yang telah mati di dalam hutan dan dapat digunakan daripada melakukan penebangan. Daun-daun kering juga dapat dipergunakan sebagai “pemancing” dalam membuat perapian.
3. Pastikan perapian yang akan dipadamkan benar-benar telah mati/padam. Setelah itu dikubur dalam tanah. Perhatikan bagian dasar dari perapian terbuat dari gambut, tanah, atau akar-akar kayu yang menumpuk. Sebaiknya membuat api di atas tanah karena akar ataupun gambut dapat terbakar secara menjalar di lapisan bawah tanpaterlihat oleh kita.
“Membakar hutan lebih mudah dan cepat dibandingkan dengan menanam pohon”.
BIVOUAC/SHELTER
Hal yang perlu diperhatikan adalah perlindungan terhadap cuaca dingin karena hal ini yang paling sering mengakibatkan kematian para pendaki. Cara mengatasi ancaman terhadap cuaca dingin ini termasuk salah satu dari teknik survival. Tujuan pembuatan bivak adalah sebagai tempat perlindungan yang nyaman untuk melindungi diri kita dari faktor alam dan lingkungan yang ekstrim
 Macam-macam bivak :
1. Bivak alam, menggunakan sarana alam seperti kayu dan dedaunan. Atau denagn memanfaatkan kondisi alam (seperti, ceruk, pohon roboh, lubang pada tanah, dsb)
2. Bivak buatan, menggunakan peralatan seperti ponco, jas hujan, flysheet dll
3. Bivak perpaduan keduanya.
Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan bivak
- Kondisi medan-
- tempat harus datar / rata / enak buat tidur
 - kontruksinya kuat
- bukan merupakan jalan hewan,manusia atau air- jangan di bawah pohon yang sudah tua/lapuk atau di bawah tebing yang labil serta jangan terlalu merusak alam sekitar- dekat dengan sumber air, bukan sarang nyamuk / serangga juga tanaman busuk karena tempat itu tidak sehat dan kurang aman
- aman dari ancaman hewan atau keganasan alam (banjir, lahar,longsor)
Jebakan ( Trap )
Salah satu keterampilan yang mendukung dalam melakukan kegiatan survival adalah keahlian membuat trap. Trap ini digunakan survivor untuk menangkap binatang untuk diambil dagingnya untuk dimakan. Membuat trap kadangkala memerlukan bahan lainya, seperti : karet, kawat, tali, dan sebagainya. Maka dari itu barang-barang tersebut tersedia didalam survival kit. Dalam pembuatan trap, hendaknya diketahui hewan apa saja yang biasa lewat atau tinggal di daerah itu. Dengan mengetahui hewan apa yang akan ditangkap, kita dapat menyesuaikan jenis trap apa yang akan dibuat. Perlu diingat bahwa trap akan sia-sia jika binatang yang telah terperangkap dapat meloloskan diri. Maka dari itu, pembuatan trap biasanya dalam bentuk yang sederhana tetapi mempunyai kekuatan yang baik. Untuk mempermudah mendapatkan satwa ini maka kita memerlukan peralatan atau membuat peralatan sebagai berikut ;
• Tali, adakalanya dalam keadaan survival diperlukan tali untuk mengikat sesuatu atau sebagai alat bantu dalam pejalanan, sedangkan tali buatan tidak tersedia dalam perlengkapan yang dibawa, untuk itu tali dapat dibuat dari sobekan kain, rotan, akar, bambu atau pilinan/anyaman serat tumbuhan.
• Pisau, dapat dibuat dengan menggunakan kulit luar bambu ( sembilu ), pecahan kaca, tulang binatang atau batuan yang diruncingkan
• Memancing, untuk tali dapat dibuat dari benang kain / pakaian atau serat tumbuhan,sedangkan mata kail dibuat dari peniti, kawat, duri, kayu atau tulang
• Racun, selain dengan peralatan mancing, mencari ikan dapat dilakukan dengan menuba, di daerah pedalaman dilakukan dengan menggunakan akar tuba sedang kanuntuk daerah pantai dapat dilakukan dengan menggunakan buah Baringtonia yang ditumbuk dan ditebarkan ke perairan yang banyak mengandung ikan.
• Senjata, dalam keadaan survival terkadang kita memerlukan senjata untuk mempertahankan diri atau berburu binatang guna keperluan makan, ada bebera pacara diantaranya dengan memakai tongkat kayu, bambu runcing, tombak, boomerang, kapak atau panah yang kesemuanya dapat dibuat sendiri dari bahan yangtersedia.
• Jerat,/Jebakan dan Jaring. Selain menggunakan senjata, untuk menangkap hewan dalam kadaan survival, paling praktis adalah dengan membuat jerat hewan. Jenis jerat bermacam macam tergantung jenis serta ukuran hewan yang akan ditangkap. Jebakan diatas dibuat dengan cara melobangi tanah, jenis mamalia kecil akanterjebak di dalam lobang karena berbentuk seperti leher botol, hati-hati dalam mengambil tangkapan karena bisa jadi yang masuk malah ular berbisa. Jerat yang aman dalam artian, hewan yang kena tidak akan mati karena jebakannya adalah dengan membuat jerat kaki, hewan yang menginjak jebakan akan terjerat kakinya. Untuk jenis burung dapat menggunakan jaring yang dipasang diantara dua pohon yang biasa dilalui burung. Burung yang terbang akan tersangkut di jaring sehingga mudah untuk ditangkap.
Aturan dalam membuat perangkap:
1. hindari terlalu mencemari lingkungan, jangan pernah meninggalkan tanda-tanda pernah berada di sana.
2. hilangka segala bau-bauan, peganglah perangkap sedikit mungkin, jika bisa gunakan sarung tangan. Hilangkan bau manusia pada perangkap dengan cara mengasapi bahan-bahan perangkap dengan asap api.
3. kamuflase, samarkan bekas potongan yang baru pada kayu yang digunakan sebagai perangkap dengan lumpur. Tutupi tali atau kawat perangkap yang di tanah agar terlihat lebih alami.
4. Buatlah dengan kuat. Binatang yang terperangkap akan berjuang untuk hidupnya. Setiap bagian yang lemah dari perangkap akan segera rusak.
Trap sangat banyak jenis dan macamnya, karena dalam pembuatan trap tergantung kepada kreasi survivor. Kita akan membahas lima jenis trap yang sering digunakan.
1. Trap Menggantung (Hanging Snare)
Perangkap model menggantung ini biasanya memanfaatkan :
a) Kelenturan dahan pohon.
b) Patok yang diberi lekukan dan dihubungkan dengan tali.
c) Tali laso yang lalu menghubungkan dahan pohon yang lentur dengan patok, sehingga apabila laso goyang maka tali pada patok akan lepas dan dahan pohon akan menarik, hingga akhirnya tali akan menjerat. Perangkap ini ditujukan untuk menangkap binatang yang cukup besar seperti : kelinci, ayam, bebek, dan lain lain.
2. Trap Tali Sederhana
Untuk binatang yang berukuran kecil, seperti burung dapat digunakan perangkap tali sederhana yang diletakan di atas tanah ataupun digantung. Tali laso yang telah diberi umpan diikatkan pada dahan pohon atau batu yang berat. Sehingga apabila hewan telah terjerat, tidak bisa pergi kemana-mana lagi.
3. Trap Lubang Penjerat
Perangkap ini adalah modifikasi dari perangkap tali dan perangkap lubang. Perangkap ini terdiri dari :
a) Tali laso yang diikatkan pada dahan pohon yang kuat dan diletakan mendatar.
b) Lubang perangkap yang digali, kedalamannya disesuaikan dengan hewan yang akanditangkap. Mulut lubang disamarkan dengan dedaunan dan laso diletakan di atasdedaunan tersebut.
c) Diberi umpan di atas dedaunan, ditengah laso.
4. Trap Menimpa
Perangkap lain yang ditujukan untuk menangkap binatang kecil lainya adalah perangkap menimpa. Perangkap ini memanfaatkan berat kayu untuk menindih. Modelini dikenal dengan nama Deadfall Snare. Yang diperlukan dalam pembuatan perangkapini adalah :
a) Batang pohon besar ditumpukan pada kayu pohon lainya yang saling menopang. b) Kayu pohon penopang yang saling berhubungan dengan batang pohon besar dan jikasalah satu tersenggol, maka yang lain akan jatuh dan menimpa.c) Umpan yang diletakan dekat dengan kayu pohon penopang dan apabila tergerak,maka kayu pohon penopang akan bergeser sehingga batang pohon besar akan jatuhmenimpa.
5. Kombinasi Trap Lubang dengan Trap Menimpa.
Perangkap ini merupakan kombinasi bentuk lubang perangkap dan perangkap menimpa. Perangkap ini terdiri dari :
a) Batang pohon besar untuk menimpa mangsa.
b) Kayu pohon yang saling menopang.
c) Umpan.
d) Lubang perangkap lengkap dengan samarannya.
Cara kerjanya hampir sama dengan trap menimpa, tetapi ketika mangsa tertimpa batang, ia akan langsung masuk ke lubang.
6. Perangkap yang menusuk (spear)
Perangkap ini bekerja dengan menancapkan sesuatu yang tajam, hingga juga berbahaya bagi manusia.
7. Improvisasi
 Dalam kondisi survive, seorang survivor hendaknya juga dituntut dapt berimprovisasi. Terutama dalam tehnik mencari makanan dengan membuat perangkap. Misal membuat drill bow, mata kail, tombak, bubu (perangkap ikan tradisional) dsb
Referensi :
About these ads