Search This Blog

Thursday, May 16, 2013

Wabup Aceh Tengah Terima Kunjungan Coffee Tour dari Eropa

Wabup Aceh Tengah Terima Kunjungan Coffee Tour dari Eropa

suaraleuserantara May 16, 2013 
Tour Kopui dari manca negara mulai sering dilakukan oleh sejumlah biro perjalanan.(Foto:Suara Leuser Antara)
Tour Kopi dari manca negara mulai sering dilakukan oleh sejumlah biro perjalanan.(Foto:Suara Leuser Antara)
TAKENGEN |SuaraLeuserAntara|: Wakil Bupati Aceh Tengah Drs. H. Khairul Asmara menerima kunjungan rombongan Coffee Tour yang berasal dari beberapa negara di  Eropa, Rabu (15/5/2013) sore bertempat di ruang kerja Wakil Bupati Aceh Tengah.
Kunjungan rombongan ini di fasilitasi oleh Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) Medan. Dalam kesempatan itu, konsultan YEL, Mrs Frey Regina mengutarakan kedatangan mereka ke Aceh Tengah untuk melihat langsung kondisi tanaman kopi berikut kawasan hutan di daerah itu.
Selain melakukan Coffee Tour, pihak YEL turut melakukan sosialisasi misi yayasan dalam rangka konservasi hutan dan pengembangan kopi, termasuk di kabupaten Aceh Tengah.
“ YEL berkedudukan di Medan dan kami bergerak di bidang konservasi hutan, melindungi flora dan fauna dari kepunahan sekaligus memberdayakan para petani, termasuk petani kopi di Aceh Tengah dengan tujuan untuk lebih fokus kepada pertanian organik ,” katanya.
Lebih lanjut Mrs Frey mengungkapkan bahwa mereka tertarik membawa rombongan Coffee Tour datang ke Aceh Tengah karena daerah ini terkenal memiliki hutan tropis serta kopi yang berkualitas. “ Kita ingin melihat bagaimana kelestarian hutan yang mendukung kualitas tanaman kopi ”, imbuhnya.
Mrs Frey merupakan wanita berkebangsaan Swiss, dalam coffee tour tersebut, ia membawa serta rombongan dari berbagai negara Eropa diantaranya berasal dari Swiss, Jerman, Italia dan Inggris.
Salah seorang peserta rombongan asal Italia Mrs Antonella Cutrona menuturkan bahwa ia juga tertarik dengan topografi lahan dan tanaman kopi yang ada di Aceh Tengah. Wanita asal Milan Italia ini juga aktif memberikan konsultasi dan penyuluhan pemrosesan kopi (Coffee Processing) kepada para petani.
Sementara Wakil Bupati Aceh Tengah, Khairul Asmara dalam kesempatan itu memberikan penjelasan tentang kondisi perkebunan kopi dan para petani kopi di Aceh Tengah.
Diantaranya, Khairul mengemukakan komitmen pemerintah dan masyarakat untuk menjaga lingkungan terutama hutan sebagai faktor pendukung kualitas tanaman kopi di daerah yang berhawa sejuk itu.
Khairul juga mengungkapkan dari berbagai uji cita rasa, Kopi Arabica Gayo memiliki peringkat premium, dan saat ini telah diekspor ke 17 negara di Eropa, Amerika dan sebagian negara Asia.
Wakil Bupati juga menjelaskan luas lahan Kopi arabica di Aceh Tengah yang mencapai 48.300 hektare, dengan rata-rata produksi 720 kg/hektar. Saat ini melalui sertifikat Indikasi Geografis yang diperoleh pada tahun 2010 lalu, menurutnya semakin menguatkan merek kopi Arabica Gayo berdasarkan daerah asal produk.
Kunjungan tim YEL ini berlangsung hangat dan informal. Rombongan Coffee Tour lainnya yang turut serta adalah Welz Holen asal Swis, kemudian Drews Thullo, Renale Faust, Harald Faust, Gehnke Michael, Wessel Ellermaun, keempatnya merupakan Coffee Roaster asal Jerman.
Selanjutnya David Porteous, Jim Olesnik, dan Philip Smith, ketinganya dari perusahaan United Coffee asal Inggris. Berikutnya Andrej Godina seorang Coffee Expert asal Italia, dan terakhir Bock Max seorang Coffee Sales asal Jerman.(izq)

Didong, Tari Kesenian Etnik Gayo yang Unik

Didong, Tari Kesenian Etnik Gayo yang Unik

(Foto: id.wikipedia.org)
(Foto: id.wikipedia.org)
AtjehLINK – Didong merupakan salah satu kesenian tradisional gayo yang dimainkan dengan paduan suara tepukan tangan dan nyanyian. Suara-suara yang dihasilkan dari tepukan tangan dijadikan sebagai musik pengiring nyanyian salah seorang syeh (orang yang menjadi penyanyi).
Adapun isi nyanyian yang disampaikan biasanya berupa kata-kata amanat yang disesuaikan dengan tujuan didong tersebut. Misal pada acara khitanan nyanyian amanat khitan,  perkawinan nyanyian amanat berumah tangga dan sebagainya. Selain itu ada juga sindiran dan candaan yang menghibur penonton yang hadir.
Yang tak kalah menariknya adalah sebelum dimulainya didong, seorang pemberi amanat biasanya yang ditetuakan terlebih dahulu memberikan wejangan kepada penonton dan pemain untuk tetap menjaga keamanan dan Sumang (aturan yang tidak baik yang tidak boleh diikuti), ini dikarenakan didong biasanya dimulai pada malam hari sehabis Isya sampai dengan sebelum masuk waktu Subuh.
Tepukan-tepukan tangan dan perpaduan tangan kosong dengan tambahan tepukan bantal menghasilkan irama yang terdengar sangat etnik, ini menunjukkan betapa besarnya nilai seni yang dimiliki masyarakat gayo, sehingga mampu mengolah keduanya menjadi sebuah pertunjukkan yang menarik. (Fauraria )

Awqaf Aceh Promosikan Kopi Gayo ke Dunia Internasional

Awqaf Aceh Promosikan Kopi Gayo ke Dunia Internasional

Taufik AbdullahAceh Tengah – Awqaf Aceh pada tanggal 10 hingga 12 Mei 2013 lalu telah melakukan study kelayakan bisnis terhadap mutu dan kuantitas kopi Gayo. Hasil dari kunjungan tersebut akan dibawa ke pertemuan dan ajang promosi kopi Gayo di Penang, Malaysia dalam waktu dekat ini yang difasilitasi oleh Costumer Association Penang (CAP), Selasa (14/05/2013).
Dalam study kelayakan tersebut, Awqaf Aceh berkunjung ke beberapa tempat penghasil kopi di Aceh Tengah, mulai dari perkebunan kopi rakyat hingga ke pabrik pengumpul sebelum diekspor ke luar Aceh. Awqaf Aceh juga berdiskusi dengan sejumlah pengusaha kopi Gayo yang sudah memasarkan kopi Gayo hingga ke belahan dunia luar.
Menurut Taufik Abdullah selaku representatif Awqaf Aceh, studi kelayakan yang dilakukan oleh Awqaf Aceh ke Aceh Tengah adalah sebagai penjajakan awal guna menciptakan peluang pasar yang lebih luas lagi di dunia internasional berdasarkan kualitas kopi Gayo pada kegiatan promosi.
“Kami mencoba membuka satu lagi peluang pasar internasional guna mempromosikan kopi Gayo ke dunia internasional. Study kelayakan bisnis adalah salah satu yang semestinya dilakukan sebelum nanti kami presentasikan di hadapan masyarakat luar,” jelasnya.
Sementara Thameemul Ansari Jainullabudeen, penasehat ekonomi Awqaf International yang juga merangkap sebagai Wali Amanat Awqaf Australia yang bertempat di Australia-Sydney melalui pers rilis-nya mengungkapkan, sebenarnya study kelayakan bisnis yang telah dilakukan di Gayo merupakan tindak lanjut dari agenda tur dakwah Yasmin Mogahed ke Sydney, Australia pada 21 April 2013 lalu.
“Dalam tur tersebut dilakukan penggalangan dana dan pelelangan untuk mendukung berbagai proyek di negara-negara Muslim yang diselenggarakan oleh penyelenggara Muslim Without Borders Australia dan Awqaf Australia,” ungkapnya.
“Kami melihat ini adalah sebuah peluang bisnis yang akan membawa dampak besar bagi petani kopi Gayo dan ekonomi Aceh tentunya, karena memang kualitas kopi Gayo sudah dikenal bagus, jadi kita hanya perlu menjaga kepercayaan itu saja. Ini juga merupakan dan bagian dari program fair trade coffe organic  dari Awqaf Aceh,” pungkasnya. (zamroe)

Master Seni Anton Sabang Siap Beri Workshop Tari di Takengon

 

|

Master Seni Anton Sabang Siap Beri Workshop Tari di Takengon

sebuah garapan tari (Lintas Gayo - ist)
sebuah garapan tari (Lintas Gayo – ist)
Banda Aceh | Lintas Gayo – Kehadiran Master Seni dan Koreografer Anton Sabang ke Takengon selain diminta panitia Festival Seni Lut Tawar 2013 menjadi juri tari, dia ingin berbagi ilmu tari dengan penari di Takengon.
“Saya ingin meluangkan waktu saya untuk memberi workshop tari di Takengon,” kata Anton Sabang kepada Lintas Gayo di Banda Aceh Rabu (15/5/2013).
Anton akan berada di Takengon sejak 22 sampai 26 Mei 2013 untuk menghadiri  festival Seni Lut Tawar 2013 yang di Gelar Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemudadan Olah Raga Aceh Tengah.
“Saya siap, kalau panitia mengijinkan,” sebut Anton.
Anton menyebutkan, selama di Takengon dirinya akan berada di kawasan perkebunan nenas Pegasing, dan berharap sekaligus dapat bergabung dengan masyarakat di Pegasing.
“Saya akan gelar workshop di pegasing,” ujar Anton.
Festival Seni Lut Tawar menghadirkan sejumlah seniman dari Banda Aceh untuk menjadi Juri beberapa jenis seni yang diperlombakan. Mereka yang hadir adalah Seniman Tari Anton Sabang, Ana Kobat, Seniman Musik Jamal Abdullah, Penyair dan motor musikalisasi Aceh Rahmad Sanjaya, dan Seniman Seni Rupa Reins Asmara.
Sementara seniman lokal yang dipastikan ada seniman senior Ibrahim Kadir, pemusik Zainal, pelukis dan wartawan Julihan Darussalam, serta beberapa seniman lainnya.(Atia/red.04)

Catat! Mabes Polri: “Jangan Mudah Percaya Razia Polisi!”


Divisi Humas Mabes Polri merilis imbauan bagi para pengendara bila ada polisi yang melakukan razia di tempat gelap atau di tikungan jalan. Biasanya, razia dilakukan pada malam hari, tanpa tanda apapun.

Dalam imbauannya, Selasa (19/3/2013) Divisi Humas Polri memberi tips yang harus dilakukan pengendara. Jangan takut untuk bertanya kepada para pemeriksa. Bila ada yang oknum yang nakal segera dilaporkan.

"Pemeriksaan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh pemeriksa terhadap pengemudi dan kendaraan bermotor mengenai pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan serta pemenuhan kelengkapan persyaratan administratif. Pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan dapat dilakukan oleh Polisi Negara Republik Indonesia (Polri) dan Pegawai Negeri Sipil yang memiliki kualifikasi tertentu di bidang lalu lintas dan angkutan jalan," tulis Divisi Humas Polri.

Berikut Tata cara pemeriksaan yaitu: Pemeriksa yang melakukan pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan wajib dilengkapi dengan surat perintah tugas yang dikeluarkan oleh:

1. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk pemeriksaan yang dilakukan oleh Petugas Polisi Negara Republik Indonesia;

2. Menteri untuk pemeriksaan yang dilakukan oleh pemeriksa Pegawai Negeri Sipil.

Surat perintah tugas sekurang-kurangnya memuat:

1. Alasan dan jenis pemeriksaan;
2. Waktu pemeriksaan;
3. Tempat pemeriksaan;
4. Penanggung jawab dalam pemeriksaan;
5. Daftar petugas pemeriksa;
6. Daftar pejabat penyidik yang ditugaskan selama dalam pemeriksaan.

"Tempat pemeriksaan wajib dilengkapi dengan tanda yang menunjukkan adanya pemeriksaan kendaraan bermotor. Tanda dimaksud harus ditempatkan pada jarak sekurang-kurangnya 100 meter sebelum tempat pemeriksaan," tulis Humas Polri.

Untuk pemeriksaan yang dilakukan pada jalur jalan yang memiliki lajur lalu lintas dua arah yang berlawanan dan hanya dibatasi oleh marka jalan. Tanda harus diletakkan pada jarak sekurang-kurangnya 100 meter sebelum dan sesudah tempat pemeriksaan.

"Khusus untuk pemeriksaan yang dilakukan pada malam hari, selain harus dilengkapi tanda yang menunjukkan adanya pemeriksaan, juga wajib dipasang lampu isyarat bercahaya kuning terang. Petugas pemeriksa pada saat melakukan pemeriksaan wajib menggunakan pakaian seragam, atribut yang jelas, tanda-tanda khusus sebagai petugas pemeriksa, dan perlengkapan pemeriksaan," demikian tips Polri. (*/detik)

Digugat, Uji Baca Alquran Gunakan Aksara Bahasa Indonesia

 

|

Digugat, Uji Baca Alquran Gunakan Aksara Bahasa Indonesia

pileg 2014Takengon | Lintas Gayo – Lima bakal calon yang telah dinyatakan gugur sebagai bakal calon legislatif dari Partai NasDem dan Partai Aceh (PA) Aceh Tengah, setelah gagal uji baca Al-Quran, menggugat balik putusan KIP Aceh Tengah.
Mereka memohon dengan segala kearifan dan kebijaksanaan Gubernur Aceh, KIP Aceh dan DPR Aceh agar dapat meluruskan tahapan Tes Baca Al-Qur’an Bakal Caleg Kabupaten Aceh Tengah yang cacat hukum dan memerintahkan KIP Kabupaten Aceh Tengah untuk mengulang keseluruhan tahapan Tes Baca Al-Qur’an para peserta Bakal Calon Anggota Legislatif Kabupaten Aceh Tengah Periode 2014-2020.
Disamping itu, meminta jaminan dan kepastian hukum pelaksanaan Pemilu Legislatif Kabupaten Aceh Tengah Periode 2014-2020, dengan meminta agar KIP Provinsi Aceh mengambil alih KIP Kabupaten Aceh Tengah atau turut mengawasi secara langsung tahapan Tes Baca Al-Qur’an para peserta Bakal Calon Anggota Legislatif Kabupaten Aceh Tengah Periode 2014-2020.
Jika sekiranya tahapan Tes Baca Al-Qur’an diperkenankan untuk diulang dan perlu para Pemohon informasikan ketidakpercayaan terhadap KIP Kabupaten Aceh Tengah sewaktu Pilkada Kabupaten Aceh Tengah yang mana salah satu Bakal Calon Wakil Bupati yang terpilih sama sekali tidak mampu membaca Kitab Suci Al-Qur’an namun diluluskan oleh KIP Kabupaten Aceh Tengah.
Demikian, inti dari surat dari lima bakal calon legislatif yang ditujukan ke Gubernur, KIP Aceh, DPRA yang tembusannya dikirimkan kesejumlah media massa termasuk Lintas Gayo, Rabu (15/5/2013).
Kelima Bacaleg tersebut yakni Hamidi Umang, Bakal Calon Legeslatif Kabupaten Aceh Tengah dari Partai Nasional Demokrat, alamat Kampung Umang Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah. Yusri Hasan, Bakal Calon Legeslatif Kabupaten Aceh Tengah dari Partai Nasional Demokrat, alamat Kampung Bies Kecamatan Bies, Aceh Tengah dan Hamdan Sabri, Bakal Calon Legeslatif Kabupaten Aceh Tengah dari Partai Nasional Demokrat, alamat Kampung Gele Lungi Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah.
Dua Bacaleg lainnya dari Subhan P.Bale, Bakal Calon Legeslatif Kabupaten Aceh Tengah dari Partai Aceh, alamat Kampung Blang Mersah Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah dan Hairiah, Bakal Calon Legeslatif Kabupaten Aceh Tengah dari Partai Aceh, alamat Kampung Bale Atu Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah.
Dalam surat tersebut, kelima penggugat/pemohon ini membeberkan alasan penolakan hasil uji baca Al-Quran tersebut. Dimana menurut mereka Bahwa KIP Kabupaten Aceh Tengah dan Tim Penguji Tes Baca Al-Qur’an dari Departemen Agama dan Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Tengah telah melakukan pelecehan terhadap Kitab Suci Al-Qur’an.
Bahwa Kitab Suci Al-Qur’an yang digunakan atau dibaca oleh para peserta Bakal Calon Anggota Legislatif Kabupaten Aceh Tengah Periode 2014-2020 adalah Al-Qur’an yang berejaan Bahasa  Arab dan berejaan Bahasa Indonesia.
Bahwa tahapan Tes Baca Al-Qur’an yang menggunakan Al-Qur’an berejaan Bahasa Indonesia merupakan penyesatan dan penghinaan terhadap Kitab Suci Al-Qur’an karena pembacaan Kitab Suci Al-Qur’an yang memakai Al-Qur’an berejaan Bahasa Indonesia maka Maghrizal Huruf dan Tajwid dipastikan tidak dapat dinilai secara objektif oleh Tim Penguji Baca Al-Qur’an sebagaimana yang disyarakatkan oleh Qanun Aceh Nomor 5 Tahun 2012.
“Demi menjaga kehormatan dan kesucian Kitab Suci Al-Qur’an serta penegakkan keadilan dan kebenaran, maka kiranya Uji baca Al-quran dibatalkan,” demikian isi surat yang juga ditembuskan kepada Presiden RI,  Ketua DPR RI,  Ketua Mahkamah Konstitusi, Menteri Agama, Menteri Pendidikan, Kapolri, Ketua MUI Pusat,  Ketua Komisi Pemilihan Umum Pusat dan Ketua BAWASLU Pusat yang semuanya di Jakarta.
Sejauh ini, belum ada konfirmasi dari pihak KIP Aceh Tengah dan tim penguji baca Al-quran Kabupaten Aceh Tengah.(SP/red.04)

Tuesday, May 14, 2013

Puisi Salman Yoga dan Hikayat Muda Balia untuk Ceh To’et

 
|

Puisi Salman Yoga dan Hikayat Muda Balia untuk Ceh To’et

 M Ali Meukek_0007
Salman Yoga merupakan penyair aktif yang hingga kini tidak putus menulis puisi. Untuk Ceh To’et sudah dia tulis pada tahun 2004, sebelum beliau wafat. Sedangkan Muda Balia merupakan penatun danderia yang oleh seniman seangkatan To’et Teungku Adnan menamainya dengan sebutan PMTOH. Muda Balia adalah pemain Danderia atau pembaca cerita hikayat yang sudah memperoleh rekormuri dengan membaca hikayat selama 26 Jam Nonstop. berikut dipublis puisi Salman Yoga dan hikayat singkat Muda Balia khusus untuk Ceh To’et.
Salman Yoga S
REK-REK TUM TO’ET
Kekasih mari saling mengulum bibir
maniskan semua masa silam
sebagai gula yang jatuh dari pelepah  tebu
kalaupun kita mati nanti
toh tepukan didong tak sengeri belati
sebab nyanyian telah menjadi udara
dan gamit yang dipuji sebagai arti kekuatan
dengan lugu telah kita dustai bersama mimpi
Kekasih mari berangkulan
dalam dingin Takengon yang mulai teralinasi
pahitkan air liur sebagai jalan hidup
yang nyaris rampung kita jejaki
sebagai penghormatan dan kesejatian
Takengon,  Januari 2004
Muda Balia
To’et
Assalamu’alaikum hai cehdara lon di Tanoh Gayo
Nibak Malamnyoe bacut ulon pinta
Neutulong Peugot uro renungan
Keu Sidroe Seniman di nanggro Antara
Seniman nyang sidroenyoe tingkat donya ka meumet-met
Gelar ceh To’et Luar Biasa
Teuma Uronyoe gobnyan ka tanle
Sayang bukon le wahe syedara
Wassalam Muda Balia
(Assalamu’alaikum Saudaraku di Tanoh Gayo
Sedikit kupinta di malam ini
tolonglah  diberi renungan
kepada seorang seniman negeri antara
Seniman ini membuat dunia terasa bergerak
Gelar Ceh To’et sangat luar biasa
cuma kini dia tak ada lagi
cukup disayang wahai saudaraku)

[Foto] Didong Gayo di Yogyakarta

 
|

[Foto] Didong Gayo di Yogyakarta

New Picture (2)
DIDONG GAYO - Penampilan Didong Gayo dari Sanggar Lungun Ikatan Pemuda Mahasiswa Lut Tawar Yogyakarta (IPEMAH LUTYO) berhasil memukau para peserta Table Manner yang merupakan serangkaian penutup pada acara Diplomatic Course, Rabu 8 Mei 2013 lalu di Jogja Plaza Hotel.
Diplomatic Course merupakan pelatihan khusus bagi para calon diplomat yang diselenggarakan oleh Korps Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (KOMAHI UMY).(Lintas Gayo | Fariz)

Monday, May 13, 2013

Gubernur Diminta Hentikan Operasi Pertambangan di Aceh

Gubernur Diminta Hentikan Operasi Pertambangan di Aceh

Jakarta - Banjir bandang yang melanda berbagai kawasan di Aceh, harus menjadi momentum bagi Gubernur Aceh menghentikan operasi pertambangan dan perkebunan sawit  tanpa izin.
Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia, Elfian Effendi menyatakan hal itu menanggapi banjir bandang yang mengantam Singkil, Nagan Raya, Aceh Tengah, Pidie dan Pidie Jaya.
“Saya kira ini saat tepat bagi gubernur meninjau seluruh pertambangan dan perkebunan sawit tanpa izin,” kata Elfian, Senin (13/5/2013) di Jakarta.
Ia mengatakan, saat ini terdapat operasi pertambangan tanpa izin di kawasan hutan seluas lebih dari 700 ribu hektar, serta perkebunan sawit yang berada dalam kawasan hutan yang belum mengantongi izin pelepasan kawasan hutan oleh menteri kehutanan.
Menurut Elfian, Gubernur Aceh yang pernah menetap lama di negara skandinavia, harus berani menjaga dan melestarikan hutan Aceh. “Ekologi Aceh sangat memprihatinkan, karenanya harus menjadi perhatian, terutama pemerintah Aceh,” tukas Elfian Effendi.
Elfian mengimbau agar gubenrur ikut bermalam di tempat pengungsian terutama di Nagan Raya dan Singkil yang dilaporkan banjir bandang kali ini merupakan yang terparah sejak satu dekade terakhir.
Secara terpisah Forum Seniman Hijau yang dimotori sejumlah seniman Indonesia menyerukan agar dilakukan penyelamatan  hutan Aceh.
“Kami pro perbaikan lingkungan. Kami kontra kerusakan lingkungan. Kami pasti perangi para perusak lingkungan,” demikian antara lain bunyi pernyataan sikap Forum Seniman Hijau.(fik)

Di Simeulue, Aceh Di Temukan Ratusan Milliar Barel Kandungan Minyak Bumi dan Gas Yang Di Prediksi Melebihi Arab Saudi

Bendera China dan Macau Yang Berdampingan.

Foto: Reportase dari China: Macau Yang Terus Berkembang Dan Diberikan Wewenang Penuh, Tapi Tetap Di Bawah China, Bagaimana Dengan Indonesia, Untuk Opsi Ini Bagi Aceh ? 

Foto : Bendera China dan Macau Yang Berdampingan.

- Sebagai daerah khusus, Macau tidak diperkenankan membuka kedutaan sendiri di luar negeri. Polisi China juga tidak punya kewenangan yurisdiksi di Macau.

Dengan berbagai kewenangan itu, toh Macau tetap berada di bawah China. Sebagai sesama negara republik, tak ada salahnya Indonesia belajar membagi kewenangan untuk daerah khusus seperti Aceh. Mau?

Macau tidak diperkenankan membuka kedutaan sendiri di luar negeri. Polisi China juga tidak punya kewenangan yurisdiksi di Macau. Dengan berbagai kewenangan itu, toh Macau tetap berada di bawah China

TANGGAL 20 Desember 1999 dikenang lelaki itu sebagai sejarah baru Macau. Pada sebuah gedung, tepat tengah malam, bendera Portugis dan bendera Macau yang berlogo serupa bendera Portugis, tetapi berlatar warna biru, diturunkan. Sebagai gantinya, berkibarlah dua bendera lain: bendera China dan bendera Macau yang berlogo bunga lotus dinaungi lima bintang dengan latar belakang warna hijau.

“Sejak itu, Macau resmi menjadi Special Administrative Region dalam negara China,” kata lelaki yang lebih fasih berbahasa Portugis daripada bahasa Inggris itu.

Saya menemuinya saat ia sedang bekerja di sebuah museum yang disebut Handover Gift Museum. Diresmikan pada 2005, museum yang berdampingan dengan Macau Art Museum itu menyimpan benda-benda bersejarah saat penyerahan Macau dari tangan Portugis ke China.

Sayangnya, karena ia sedang sibuk melayani pengunjung, saya tak dapat menggali informasi lebih banyak darinya.
Saat serah terima Macau dari genggaman Portugis ke China, presiden kedua hadir. Dari China, hadir Presiden Jiang Zemin, sementara dari Portugis datang Presiden Jorge Sampaio.
“Setelah kembalinya Macau, Pemerintah China akan teguh menerapkan kebijakan satu negara dua sistem, dengan sistem otonomi tingkat tinggi,” kata Presiden Jiang Zemin kala itu seperti dikutip situs berita BBC. “Daerah Administratif Khusus Macau akan punya eksekutif, legislatif dan kekuasaan kehakiman yang independen."

China juga melindungi kepentingan Macau dengan tidak membuat undang-undang yang mengatur Macau dan Hongkong.
Presiden Portugal Jorge Sampaio kembali menegaskan hal itu dalam sambutannya. “Di bawah undang-undang baru, dengan mengutamakan hukum, orang-orang Macau akan mengatur tanah air mereka secara bebas dan demokratis seperti telah disepakati oleh China dan Portugal dalam Deklarasi Bersama pada 1987. Dengan demikian, penduduk wilayah ini akan terus menikmati jaminan hak-hak  kebebasan  untuk kemakmuran negeri ini,” kata Sampaio. “Namun demikian, Portugal berkomitmen untuk masa depan Macau.”

Empat belas tahun setelah serah terima itu, ketika saya menginjakkan kaki di sana, Macau benar-benar menikmati status otonomi khusus. Gemerlap kasino bertabur di sekujur kota. Hotel-hotel raksasa yang sekaligus dijadikan kasino tumbuh subur. Beberapa di antaranya dimiliki oleh pengusaha judi asal Las Vegas, seperti Sands, Galaxy Macau, dan Venetian yang disebut sebagai salah satu bangunan terbesar di Asia. Macau adalah satu-satunya daerah di China yang diizinkan menjalankan bisnis judi secara sah.

Macau juga menjalankan kebijakan ekonomi yang berbeda dengan China daratan. Sebagai negara komunis, China menganut sistem ekonomi sosialis. Namun, tidak begitu dengan Macau. Meski termasuk wilayah China, Macau diizinkan menjalankan sistem ekonomi kapitalis.

Sejak 1887, Macau resmi diserahkan oleh Pemerintah China ke Portugis. China memberi hak Portugal untuk menguasai koloni itu sampai 1974. Hak penguasaan koloni itu lalu diperpanjang 25 tahun lagi. Pada 20 Desember 1999, Macau resmi kembali ke pangkuan China dengan status daerah otonomi khusus.

Yang bikin saya kaget, ternyata penduduk Macau memiliki paspor sendiri yang berbeda dengan warga China daratan. Suatu sore, di pintu gerbang perbatasan, saya menyaksikan seribuan warga China daratan dengan langkah tergesa-gesa berjalan ke sebuah gedung. Itu adalah tempat mereka harus menyerahkan paspornya untuk diperiksa.

Liputan lebih lengkap tentang wilayah otonom di Cina simak tabloid The Atjeh Times pekan ini dengan cover story "Reportase Bendera dari China."

Konsulat Amerika Serikat Bertemu DPRA Aceh Tanyakan Nasib Qanun Bendera Aceh

Konsulat Amerika Serikat Bertemu DPRA Aceh Tanyakan Nasib Qanun Bendera Aceh


Jendela BANDA ACEH - Polemik pengesahan bendera Bintang Bulan sebagai Bendera Aceh oleh DPRA beberapa waktu lalu, ternyata juga menarik perhatian  perwakilan pemerintah Amerika Serikat di Indonesia. Hal ini terlihat saat Konsul Amerika Serikat untuk Sumatera, Kathryn Crockart, mempertanyakan persoalan ini dalam pertemuan dengan pimpinan DPRA, di Banda Aceh, Jumat 
( 26/4) siang.
Pertemuan itu dihadiri oleh Wakil Ketua II DPRA Sulaiman Abda, Ketua  Komisi A, Adnan  euransyah, Wakil Ketua Nurzahri, serta Sekretaris Komisi   A, M Harun, di ruang kerja Wakil Ketua II.  Kathryn juga mempertanyakan rancangan qanun yang akan dibahas oleh DPRA  selama masa cooling down terkait bendera dan lambang Aceh, selama enam  bulan ke depan.

Terkait hal ini, Ketua Komisi A DPRA Adnan Beuransyah mengatakan, proses pembuatan Qanun Nomor 3 tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh, sudah memenuhi ketentuan. Artinya, tahapan pembahasan raqan itu sudah menempuh mekanisme standar pembuatan sebuah qanun atau perda yang berlaku  di Aceh dan Indonesia.

Pempinan DPRA dan Komisi A Berharap USA Menanamkan Modal Di Aceh Melalui Investasi Asing.  Pimpinan DPRA dan Komisi A itu pun berharap agar Konsul Amerika Serikat  untuk Sumatera bisa membantu mempromosikan Aceh kepada dunia usaha di Amerika Serikat, agar mereka mau datang ke Aceh dan menanamkan modalnya di 23 kabupaten/kota di Aceh.

Menanggapi ini, Konsul Kathryn Crockart mengatakan, pihaknya akan menyampaikan hal itu kepada Dubes Amerika Serikat di Jakarta. Ia juga meminta anggota legislatif dari Aceh, sering berkomunikasi padanya untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi. “Misalnya, tentang masalah politik, percepatanpembangunan ekonomi Aceh agar bisa lebih baik lagi ke depan, masalah pendidikan, kesehatan dan sosial budaya lainnya,” ujar  Kathryn (@ri)

Kopi ‘Besarkan’ Tanah Gayo

Kopi ‘Besarkan’ Tanah Gayo

Kopi1 (1)Aceh Tengah – Tanah Gayo, dataran tinggi dengan segenap anugerah Allah SWT berupa tanah subur dan pemandangan yang memanjakan mata. Tentu saja tidak hanya itu, banyak anugerah Yang Maha Kuasa lainnya yang dapat dinikmati siapa saja di negeri Raja Linge itu. Satu dari sekian banyak yang dibicarakan orang ialah Kopi Gayo.
Tanaman yang mudah dijumpai di setiap rumah warga disana adalah tulang punggung komoditi unggulan yang sudah diwarisi turun-temurun. Konon menurut penggalan cerita dalam masyarakat, bahan baku utama kopi ini sudah melekat dalam kehidupan masyarakat, bahkan diyakini kopilah satu-satunya komoditi sebagai pegangan ekonomi masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah.
Berbicara kopi Aceh identik berbicara kopi yang tumbuh di Gayo dan sedikit sekali kopi yang dihasilkan di luar tanah Gayo. Sejalan dengan itupula, banyak pihak menyadari bahwa kopi adalah satu komoditi bernilai tinggi dan dilirik oleh sejumlah negara luar. Dan mayarakat tanah Gayo dalam beberapa tahun kebelakang terus berbenah dan memfokuskan diri serta mengupayakan jaringan agar kopi Gayo tetap menjadi pilihan penikmat kopi, lokal maupun internasional.
Dalam beberapa tahun ini sejumlah lembaga swadaya masyarakat maupun perusahaan dalam lingkar perdagangan kopi sudah mulai mengajak petani kopi guna mencapai standarisasi komoditi sebagai syarat agar kualitas kopi Gayo tetap menjadi salah satu yang terbaik dalam pergadangan dunia dengan mengolah kopi secara organik dan higienis.
Nurdin (34), petani kopi yang dijumpai AtjehLINK, Sabtu (11/5/2013 ) di Kecamatan Bebesan menyadari benar jika kopi adalah pegangan ekonomi bagi sebagian besar masyarakat Aceh Tengah, sehingga dengan kopi masyarakat Aceh Tengah dapat memenuhi kebutuhan keluarganya, sebagai contoh untuk pendidikan anak-anaknya.
“Tidak hanya orang tua saja, pada hari libur anak-anaknya juga ikut membantu orang tua di kebun kopi. Memang masyarakat Aceh Tengah tidak mungkin dipisahkan dari kopi karena dari kecil saja dalam kesehariannya sudah akrab dengan kopi,” ujarnya.
Masih menurut Nurdin, mengikutsertakan anak-anak untuk bekerja di kebun walau hari libur itu sudah dinilai tidak baik oleh sejumlah lembaga standarisari atau LSM, namun budaya ke kebun saat hari libur itu sepertinya sudah mendarah daging bagi masyarakat setempat, jadi biarkan saja tetap ada dalam masyarakat selama tidak mengganggu hak anak. “Bahkan banyak positifnya jika kita lihat kopi adalah sesuatu yang harus diwariskan untuk anak cucu,” katanya.
Selanjutnya, sisi lain dari dunia kopi adalah dinamika harga kopi yang berkiblat pada harga kopi dunia. Bagi masyarakat yang tidak mengikat kontrak dengan pihak tertentu, jika harga dunia kopi dunia turun maka kopi petani akan dibeli murah, begitu pula sebaliknya. Dampak ini tidak akan ada jika petani sudah mengikat kontrak harga beli dengan pihak tertentu, namun jika harga kopi dunia melebihi harga kontrak, petani kopi tetap menerima seharga yang disepakati dalam perjanjian.
Dari informasi yang diperoleh dari pihak Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, hampir tidak ada masyarakat setempat yang tidak memiliki kebun kopi yang sering disebut emasnya tanah Gayo. Pernyataan ini tidak berlebihan karena memang intensitas interaksi masyarakat Aceh Tengah  dengan kopi tidak perlu diragukan, mulai dari menanam dan membersihkan kebun kopi, mengupas kopi, menjemur kopi, memilih kopi, menjual kopi dan tentu saja minum kopi.
Pemadangan yang paling mudah kita jumpai disepanjang jalan adalah aktivitas masyarakat menjemur kopi di halaman rumah mereka, banyak pula yang memanfaatkan sebagian badan jalan untuk area menjemur kopi, tidak jarang juga ini kita temukan di lapangan jemur perusahaan pengumpul kopi yang sudah berhasil mengekspor kopi Gayo hingga ke luar negeri, seperti Australia, China, Belanda dan beberapa negera besar lainnya di dunia.
Sebut saja Oro Coffe Gayo yang beralamat di Kampung Mongal, Bebesen, Aceh tengah. Usaha perdagangan kopi milik H Rasyid tersebut tergolong besar. Dalam gudangnya saja mampu menampung puluhan ton karung biji kopi dan sudah siap ekspor.
“Ada beberapa negara luar yang menjadi tujuan ekspor dan kami sudah merintisnya sejak beberapa tahun lalu,” ujar lelaki berpenampilan sederhana ini saat dijumpai AtjehLINK di tempat usahanya.
Katanya,  seluruh kopi dari pabriknya itu berasal dari kebun kopi masyarakat di Aceh Tengah dan sekitarnya yang dibeli dengan harga yang pantas. Masyarakat yang diperkerjakan disini untuk memilah (sortir) biji kopi juga dibedakan sesuai nama dan kelasnya, seperti Luwak, Long Berry, Pie Berry, Fenci dan Special.
Dari barang contoh dalam toples “Kedai Gratis” bertingkat dua miliknya yang terletak searea dengan pabrik, lebih dari 35 nama yang tertempel dibagian luar toples. Di “Kedai Gratis” itu pula, lelaki tamatan SPG Aceh Tengah ini memajang produk kopinya di etalase.
Tidak ada angka pasti berapa banyak sudah lidah penikmat kopi atau peminum kopi di penjuru dunia yang sudah tersentuh dengan cita rasa kopi Gayo. Namun semua masyarakat sadar jika tanah Gayo sudah memberikan yang terbaik untuk penduduknya hingga mereka masyhur ke seantero dunia karena karena satu potensi dari banyak potensi lainnya, yakni Kopi, tanaman berbiji kecil yang telah ‘membesarkan’ satu bangsa yang besar. (zamroe)

GAYO Nusantara.

Apa Kaoy: Menonton To’et seperti Menonton Michael Jackson

 

|

Apa Kaoy: Menonton To’et seperti Menonton Michael Jackson

IMG_9358
Banda Aceh | Lintas Gayo – Pelantun Him Aceh sekaligus penyair M Yusuf Bombang menilai To’et itu betul-betul seniman alami yang bukan mencari sensasi. Keseniannya muncul lahiriah sebagai seniman total.
“Dia bukan seniman biasa,” kata M Yusuf Bombang, penulis khas Apa Kaoy di Atjeh Post kepada Lintas Gayo di Banda Aceh, Minggu (12/05/2012).
Yusuf Bombang alias Apa kaoy pertama kali mengenal To’et di taman Budaya Banda Aceh, bahkan sejak awal dia berkesenian sudah menyukai To’et.
“Walau tidak mengetahui bahasa, dengan gaya dan mimiknya To’et sudah menterjemahkan maksud syairnya. Menonton To’et sama seperti kita menonton Michael Jackson,” kata Apa Kaoy.
Menurut Apa kaoy, To’et dipanggung cukup totalitas sehingga menontonya dipanggung menjadi menghibur.
“To’et pantas diabadikan sebagai aikon seni Gayo, karena dialah sosok yang bisa masuk kemanapun,karena seni rakyatnya memang cukup menghibur,” demikian kata Apa Kaoy. (Atia)

KSB Lintas Gayo akan Terbitkan Buku To’et

 

|

KSB Lintas Gayo akan Terbitkan Buku To’et

To'et, foto direpro dari postcard beberapa tahun silam oleh Kha A Zaghlul
To’et, foto direpro dari postcard beberapa tahun silam oleh Kha A Zaghlul
Takengon| Lintas Gayo – Aceh Tengah memiliki, seorang penyair besar, yang karya-karyanya masih melegenda hingga saat ini. Penyair tersebut bernama Abdul Kadir  lebih dikenal nama penyairnya dengan nama To’et. Nama To’et melekat padanya karena sebuah syair yang didendangkannya berjudul “Ret Ret Tum”.
Menurut seorang penyair nasional asal Gayo, LK Ara, Dia (To’et) adalah seorang penyair yang gigih dalam mempertahankan seni Tradisional Gayo: “Didong”—seni berdendang mendengarkan syair-syair tentang alam sekitar.
LK Ara, adalah penyair bertangan dingin memperkenalkan To’et pada masyarakat seni nasional dan internasional. Dimana, To’et bisa berkeliling sejumlah Negara di dunia, untuk bersyair. Sekaligus membuka mata dunia pada Gayo.
Pada 25 Mei ini, genap 8 tahun kepergian To’et. Banyak karyanya yang masih terkenang dan digandrungi hingga saat ini. Disamping itu, banyak juga teman, kerabat, penggemar dan masyarakat Gayo dan luar Gayo yang mengenalnya.
Berlatar belakang itulah, Komunitas Seni Budaya (KSB) Lintas Gayo, akan membukukan berbagai tulisan tentang To’et dimata masyarakat Indonesia. Dalam hal ini, siapa saja bisa menulisnya. Nantinya bagi 30 tulisan terbaik pilihan penyunting dan editor, akan kita terbitkan dalam buku, kumpulan tulisan tentang To’et.
“Buku ini kita harapkan, menjadi catatan sejarah tentang To’et, sehingga sampai kapanpun tidak akan pernah hilang,” ujar Khalisuddin, Pembina KSB Lintas Gayo, Minggu (13/5/2013).
Menyangkut teknis penulisan, lanjut Khalis, nanti akan disampaikan lagi dan diumumkan secara luas.(red.04)