Search This Blog

Monday, May 13, 2013

Gubernur Diminta Hentikan Operasi Pertambangan di Aceh

Gubernur Diminta Hentikan Operasi Pertambangan di Aceh

Jakarta - Banjir bandang yang melanda berbagai kawasan di Aceh, harus menjadi momentum bagi Gubernur Aceh menghentikan operasi pertambangan dan perkebunan sawit  tanpa izin.
Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia, Elfian Effendi menyatakan hal itu menanggapi banjir bandang yang mengantam Singkil, Nagan Raya, Aceh Tengah, Pidie dan Pidie Jaya.
“Saya kira ini saat tepat bagi gubernur meninjau seluruh pertambangan dan perkebunan sawit tanpa izin,” kata Elfian, Senin (13/5/2013) di Jakarta.
Ia mengatakan, saat ini terdapat operasi pertambangan tanpa izin di kawasan hutan seluas lebih dari 700 ribu hektar, serta perkebunan sawit yang berada dalam kawasan hutan yang belum mengantongi izin pelepasan kawasan hutan oleh menteri kehutanan.
Menurut Elfian, Gubernur Aceh yang pernah menetap lama di negara skandinavia, harus berani menjaga dan melestarikan hutan Aceh. “Ekologi Aceh sangat memprihatinkan, karenanya harus menjadi perhatian, terutama pemerintah Aceh,” tukas Elfian Effendi.
Elfian mengimbau agar gubenrur ikut bermalam di tempat pengungsian terutama di Nagan Raya dan Singkil yang dilaporkan banjir bandang kali ini merupakan yang terparah sejak satu dekade terakhir.
Secara terpisah Forum Seniman Hijau yang dimotori sejumlah seniman Indonesia menyerukan agar dilakukan penyelamatan  hutan Aceh.
“Kami pro perbaikan lingkungan. Kami kontra kerusakan lingkungan. Kami pasti perangi para perusak lingkungan,” demikian antara lain bunyi pernyataan sikap Forum Seniman Hijau.(fik)

Di Simeulue, Aceh Di Temukan Ratusan Milliar Barel Kandungan Minyak Bumi dan Gas Yang Di Prediksi Melebihi Arab Saudi

Bendera China dan Macau Yang Berdampingan.

Foto: Reportase dari China: Macau Yang Terus Berkembang Dan Diberikan Wewenang Penuh, Tapi Tetap Di Bawah China, Bagaimana Dengan Indonesia, Untuk Opsi Ini Bagi Aceh ? 

Foto : Bendera China dan Macau Yang Berdampingan.

- Sebagai daerah khusus, Macau tidak diperkenankan membuka kedutaan sendiri di luar negeri. Polisi China juga tidak punya kewenangan yurisdiksi di Macau.

Dengan berbagai kewenangan itu, toh Macau tetap berada di bawah China. Sebagai sesama negara republik, tak ada salahnya Indonesia belajar membagi kewenangan untuk daerah khusus seperti Aceh. Mau?

Macau tidak diperkenankan membuka kedutaan sendiri di luar negeri. Polisi China juga tidak punya kewenangan yurisdiksi di Macau. Dengan berbagai kewenangan itu, toh Macau tetap berada di bawah China

TANGGAL 20 Desember 1999 dikenang lelaki itu sebagai sejarah baru Macau. Pada sebuah gedung, tepat tengah malam, bendera Portugis dan bendera Macau yang berlogo serupa bendera Portugis, tetapi berlatar warna biru, diturunkan. Sebagai gantinya, berkibarlah dua bendera lain: bendera China dan bendera Macau yang berlogo bunga lotus dinaungi lima bintang dengan latar belakang warna hijau.

“Sejak itu, Macau resmi menjadi Special Administrative Region dalam negara China,” kata lelaki yang lebih fasih berbahasa Portugis daripada bahasa Inggris itu.

Saya menemuinya saat ia sedang bekerja di sebuah museum yang disebut Handover Gift Museum. Diresmikan pada 2005, museum yang berdampingan dengan Macau Art Museum itu menyimpan benda-benda bersejarah saat penyerahan Macau dari tangan Portugis ke China.

Sayangnya, karena ia sedang sibuk melayani pengunjung, saya tak dapat menggali informasi lebih banyak darinya.
Saat serah terima Macau dari genggaman Portugis ke China, presiden kedua hadir. Dari China, hadir Presiden Jiang Zemin, sementara dari Portugis datang Presiden Jorge Sampaio.
“Setelah kembalinya Macau, Pemerintah China akan teguh menerapkan kebijakan satu negara dua sistem, dengan sistem otonomi tingkat tinggi,” kata Presiden Jiang Zemin kala itu seperti dikutip situs berita BBC. “Daerah Administratif Khusus Macau akan punya eksekutif, legislatif dan kekuasaan kehakiman yang independen."

China juga melindungi kepentingan Macau dengan tidak membuat undang-undang yang mengatur Macau dan Hongkong.
Presiden Portugal Jorge Sampaio kembali menegaskan hal itu dalam sambutannya. “Di bawah undang-undang baru, dengan mengutamakan hukum, orang-orang Macau akan mengatur tanah air mereka secara bebas dan demokratis seperti telah disepakati oleh China dan Portugal dalam Deklarasi Bersama pada 1987. Dengan demikian, penduduk wilayah ini akan terus menikmati jaminan hak-hak  kebebasan  untuk kemakmuran negeri ini,” kata Sampaio. “Namun demikian, Portugal berkomitmen untuk masa depan Macau.”

Empat belas tahun setelah serah terima itu, ketika saya menginjakkan kaki di sana, Macau benar-benar menikmati status otonomi khusus. Gemerlap kasino bertabur di sekujur kota. Hotel-hotel raksasa yang sekaligus dijadikan kasino tumbuh subur. Beberapa di antaranya dimiliki oleh pengusaha judi asal Las Vegas, seperti Sands, Galaxy Macau, dan Venetian yang disebut sebagai salah satu bangunan terbesar di Asia. Macau adalah satu-satunya daerah di China yang diizinkan menjalankan bisnis judi secara sah.

Macau juga menjalankan kebijakan ekonomi yang berbeda dengan China daratan. Sebagai negara komunis, China menganut sistem ekonomi sosialis. Namun, tidak begitu dengan Macau. Meski termasuk wilayah China, Macau diizinkan menjalankan sistem ekonomi kapitalis.

Sejak 1887, Macau resmi diserahkan oleh Pemerintah China ke Portugis. China memberi hak Portugal untuk menguasai koloni itu sampai 1974. Hak penguasaan koloni itu lalu diperpanjang 25 tahun lagi. Pada 20 Desember 1999, Macau resmi kembali ke pangkuan China dengan status daerah otonomi khusus.

Yang bikin saya kaget, ternyata penduduk Macau memiliki paspor sendiri yang berbeda dengan warga China daratan. Suatu sore, di pintu gerbang perbatasan, saya menyaksikan seribuan warga China daratan dengan langkah tergesa-gesa berjalan ke sebuah gedung. Itu adalah tempat mereka harus menyerahkan paspornya untuk diperiksa.

Liputan lebih lengkap tentang wilayah otonom di Cina simak tabloid The Atjeh Times pekan ini dengan cover story "Reportase Bendera dari China."

Konsulat Amerika Serikat Bertemu DPRA Aceh Tanyakan Nasib Qanun Bendera Aceh

Konsulat Amerika Serikat Bertemu DPRA Aceh Tanyakan Nasib Qanun Bendera Aceh


Jendela BANDA ACEH - Polemik pengesahan bendera Bintang Bulan sebagai Bendera Aceh oleh DPRA beberapa waktu lalu, ternyata juga menarik perhatian  perwakilan pemerintah Amerika Serikat di Indonesia. Hal ini terlihat saat Konsul Amerika Serikat untuk Sumatera, Kathryn Crockart, mempertanyakan persoalan ini dalam pertemuan dengan pimpinan DPRA, di Banda Aceh, Jumat 
( 26/4) siang.
Pertemuan itu dihadiri oleh Wakil Ketua II DPRA Sulaiman Abda, Ketua  Komisi A, Adnan  euransyah, Wakil Ketua Nurzahri, serta Sekretaris Komisi   A, M Harun, di ruang kerja Wakil Ketua II.  Kathryn juga mempertanyakan rancangan qanun yang akan dibahas oleh DPRA  selama masa cooling down terkait bendera dan lambang Aceh, selama enam  bulan ke depan.

Terkait hal ini, Ketua Komisi A DPRA Adnan Beuransyah mengatakan, proses pembuatan Qanun Nomor 3 tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh, sudah memenuhi ketentuan. Artinya, tahapan pembahasan raqan itu sudah menempuh mekanisme standar pembuatan sebuah qanun atau perda yang berlaku  di Aceh dan Indonesia.

Pempinan DPRA dan Komisi A Berharap USA Menanamkan Modal Di Aceh Melalui Investasi Asing.  Pimpinan DPRA dan Komisi A itu pun berharap agar Konsul Amerika Serikat  untuk Sumatera bisa membantu mempromosikan Aceh kepada dunia usaha di Amerika Serikat, agar mereka mau datang ke Aceh dan menanamkan modalnya di 23 kabupaten/kota di Aceh.

Menanggapi ini, Konsul Kathryn Crockart mengatakan, pihaknya akan menyampaikan hal itu kepada Dubes Amerika Serikat di Jakarta. Ia juga meminta anggota legislatif dari Aceh, sering berkomunikasi padanya untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi. “Misalnya, tentang masalah politik, percepatanpembangunan ekonomi Aceh agar bisa lebih baik lagi ke depan, masalah pendidikan, kesehatan dan sosial budaya lainnya,” ujar  Kathryn (@ri)

Kopi ‘Besarkan’ Tanah Gayo

Kopi ‘Besarkan’ Tanah Gayo

Kopi1 (1)Aceh Tengah – Tanah Gayo, dataran tinggi dengan segenap anugerah Allah SWT berupa tanah subur dan pemandangan yang memanjakan mata. Tentu saja tidak hanya itu, banyak anugerah Yang Maha Kuasa lainnya yang dapat dinikmati siapa saja di negeri Raja Linge itu. Satu dari sekian banyak yang dibicarakan orang ialah Kopi Gayo.
Tanaman yang mudah dijumpai di setiap rumah warga disana adalah tulang punggung komoditi unggulan yang sudah diwarisi turun-temurun. Konon menurut penggalan cerita dalam masyarakat, bahan baku utama kopi ini sudah melekat dalam kehidupan masyarakat, bahkan diyakini kopilah satu-satunya komoditi sebagai pegangan ekonomi masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah.
Berbicara kopi Aceh identik berbicara kopi yang tumbuh di Gayo dan sedikit sekali kopi yang dihasilkan di luar tanah Gayo. Sejalan dengan itupula, banyak pihak menyadari bahwa kopi adalah satu komoditi bernilai tinggi dan dilirik oleh sejumlah negara luar. Dan mayarakat tanah Gayo dalam beberapa tahun kebelakang terus berbenah dan memfokuskan diri serta mengupayakan jaringan agar kopi Gayo tetap menjadi pilihan penikmat kopi, lokal maupun internasional.
Dalam beberapa tahun ini sejumlah lembaga swadaya masyarakat maupun perusahaan dalam lingkar perdagangan kopi sudah mulai mengajak petani kopi guna mencapai standarisasi komoditi sebagai syarat agar kualitas kopi Gayo tetap menjadi salah satu yang terbaik dalam pergadangan dunia dengan mengolah kopi secara organik dan higienis.
Nurdin (34), petani kopi yang dijumpai AtjehLINK, Sabtu (11/5/2013 ) di Kecamatan Bebesan menyadari benar jika kopi adalah pegangan ekonomi bagi sebagian besar masyarakat Aceh Tengah, sehingga dengan kopi masyarakat Aceh Tengah dapat memenuhi kebutuhan keluarganya, sebagai contoh untuk pendidikan anak-anaknya.
“Tidak hanya orang tua saja, pada hari libur anak-anaknya juga ikut membantu orang tua di kebun kopi. Memang masyarakat Aceh Tengah tidak mungkin dipisahkan dari kopi karena dari kecil saja dalam kesehariannya sudah akrab dengan kopi,” ujarnya.
Masih menurut Nurdin, mengikutsertakan anak-anak untuk bekerja di kebun walau hari libur itu sudah dinilai tidak baik oleh sejumlah lembaga standarisari atau LSM, namun budaya ke kebun saat hari libur itu sepertinya sudah mendarah daging bagi masyarakat setempat, jadi biarkan saja tetap ada dalam masyarakat selama tidak mengganggu hak anak. “Bahkan banyak positifnya jika kita lihat kopi adalah sesuatu yang harus diwariskan untuk anak cucu,” katanya.
Selanjutnya, sisi lain dari dunia kopi adalah dinamika harga kopi yang berkiblat pada harga kopi dunia. Bagi masyarakat yang tidak mengikat kontrak dengan pihak tertentu, jika harga dunia kopi dunia turun maka kopi petani akan dibeli murah, begitu pula sebaliknya. Dampak ini tidak akan ada jika petani sudah mengikat kontrak harga beli dengan pihak tertentu, namun jika harga kopi dunia melebihi harga kontrak, petani kopi tetap menerima seharga yang disepakati dalam perjanjian.
Dari informasi yang diperoleh dari pihak Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, hampir tidak ada masyarakat setempat yang tidak memiliki kebun kopi yang sering disebut emasnya tanah Gayo. Pernyataan ini tidak berlebihan karena memang intensitas interaksi masyarakat Aceh Tengah  dengan kopi tidak perlu diragukan, mulai dari menanam dan membersihkan kebun kopi, mengupas kopi, menjemur kopi, memilih kopi, menjual kopi dan tentu saja minum kopi.
Pemadangan yang paling mudah kita jumpai disepanjang jalan adalah aktivitas masyarakat menjemur kopi di halaman rumah mereka, banyak pula yang memanfaatkan sebagian badan jalan untuk area menjemur kopi, tidak jarang juga ini kita temukan di lapangan jemur perusahaan pengumpul kopi yang sudah berhasil mengekspor kopi Gayo hingga ke luar negeri, seperti Australia, China, Belanda dan beberapa negera besar lainnya di dunia.
Sebut saja Oro Coffe Gayo yang beralamat di Kampung Mongal, Bebesen, Aceh tengah. Usaha perdagangan kopi milik H Rasyid tersebut tergolong besar. Dalam gudangnya saja mampu menampung puluhan ton karung biji kopi dan sudah siap ekspor.
“Ada beberapa negara luar yang menjadi tujuan ekspor dan kami sudah merintisnya sejak beberapa tahun lalu,” ujar lelaki berpenampilan sederhana ini saat dijumpai AtjehLINK di tempat usahanya.
Katanya,  seluruh kopi dari pabriknya itu berasal dari kebun kopi masyarakat di Aceh Tengah dan sekitarnya yang dibeli dengan harga yang pantas. Masyarakat yang diperkerjakan disini untuk memilah (sortir) biji kopi juga dibedakan sesuai nama dan kelasnya, seperti Luwak, Long Berry, Pie Berry, Fenci dan Special.
Dari barang contoh dalam toples “Kedai Gratis” bertingkat dua miliknya yang terletak searea dengan pabrik, lebih dari 35 nama yang tertempel dibagian luar toples. Di “Kedai Gratis” itu pula, lelaki tamatan SPG Aceh Tengah ini memajang produk kopinya di etalase.
Tidak ada angka pasti berapa banyak sudah lidah penikmat kopi atau peminum kopi di penjuru dunia yang sudah tersentuh dengan cita rasa kopi Gayo. Namun semua masyarakat sadar jika tanah Gayo sudah memberikan yang terbaik untuk penduduknya hingga mereka masyhur ke seantero dunia karena karena satu potensi dari banyak potensi lainnya, yakni Kopi, tanaman berbiji kecil yang telah ‘membesarkan’ satu bangsa yang besar. (zamroe)

GAYO Nusantara.

Apa Kaoy: Menonton To’et seperti Menonton Michael Jackson

 

|

Apa Kaoy: Menonton To’et seperti Menonton Michael Jackson

IMG_9358
Banda Aceh | Lintas Gayo – Pelantun Him Aceh sekaligus penyair M Yusuf Bombang menilai To’et itu betul-betul seniman alami yang bukan mencari sensasi. Keseniannya muncul lahiriah sebagai seniman total.
“Dia bukan seniman biasa,” kata M Yusuf Bombang, penulis khas Apa Kaoy di Atjeh Post kepada Lintas Gayo di Banda Aceh, Minggu (12/05/2012).
Yusuf Bombang alias Apa kaoy pertama kali mengenal To’et di taman Budaya Banda Aceh, bahkan sejak awal dia berkesenian sudah menyukai To’et.
“Walau tidak mengetahui bahasa, dengan gaya dan mimiknya To’et sudah menterjemahkan maksud syairnya. Menonton To’et sama seperti kita menonton Michael Jackson,” kata Apa Kaoy.
Menurut Apa kaoy, To’et dipanggung cukup totalitas sehingga menontonya dipanggung menjadi menghibur.
“To’et pantas diabadikan sebagai aikon seni Gayo, karena dialah sosok yang bisa masuk kemanapun,karena seni rakyatnya memang cukup menghibur,” demikian kata Apa Kaoy. (Atia)

KSB Lintas Gayo akan Terbitkan Buku To’et

 

|

KSB Lintas Gayo akan Terbitkan Buku To’et

To'et, foto direpro dari postcard beberapa tahun silam oleh Kha A Zaghlul
To’et, foto direpro dari postcard beberapa tahun silam oleh Kha A Zaghlul
Takengon| Lintas Gayo – Aceh Tengah memiliki, seorang penyair besar, yang karya-karyanya masih melegenda hingga saat ini. Penyair tersebut bernama Abdul Kadir  lebih dikenal nama penyairnya dengan nama To’et. Nama To’et melekat padanya karena sebuah syair yang didendangkannya berjudul “Ret Ret Tum”.
Menurut seorang penyair nasional asal Gayo, LK Ara, Dia (To’et) adalah seorang penyair yang gigih dalam mempertahankan seni Tradisional Gayo: “Didong”—seni berdendang mendengarkan syair-syair tentang alam sekitar.
LK Ara, adalah penyair bertangan dingin memperkenalkan To’et pada masyarakat seni nasional dan internasional. Dimana, To’et bisa berkeliling sejumlah Negara di dunia, untuk bersyair. Sekaligus membuka mata dunia pada Gayo.
Pada 25 Mei ini, genap 8 tahun kepergian To’et. Banyak karyanya yang masih terkenang dan digandrungi hingga saat ini. Disamping itu, banyak juga teman, kerabat, penggemar dan masyarakat Gayo dan luar Gayo yang mengenalnya.
Berlatar belakang itulah, Komunitas Seni Budaya (KSB) Lintas Gayo, akan membukukan berbagai tulisan tentang To’et dimata masyarakat Indonesia. Dalam hal ini, siapa saja bisa menulisnya. Nantinya bagi 30 tulisan terbaik pilihan penyunting dan editor, akan kita terbitkan dalam buku, kumpulan tulisan tentang To’et.
“Buku ini kita harapkan, menjadi catatan sejarah tentang To’et, sehingga sampai kapanpun tidak akan pernah hilang,” ujar Khalisuddin, Pembina KSB Lintas Gayo, Minggu (13/5/2013).
Menyangkut teknis penulisan, lanjut Khalis, nanti akan disampaikan lagi dan diumumkan secara luas.(red.04)

Sunday, May 12, 2013

International Crisis Gropu : Ditolak atau Diterima Pusat, Partai Aceh Tetap Untung Soal Bendera Aceh




Foto: International Crisis Gropu : Ditolak atau Diterima Pusat, Partai Aceh Tetap Untung Soal Bendera Aceh

“Aceh semakin lama semakin kelihatan seperti daerah kekuasaan satu partai,” kata Jim Della-Giacoma, Direktur Program Asia untuk Crisis Group.

“Pertanyaannya adalah apakah mereka menggunakan kekuasaannya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, atau hanya untuk membangun elit baru,” tambah Giacoma. 
 
Jakarta - Kontroversi soal bendera Aceh saat ini tak hanya sedang menguji sejauh mana batas otonomi khusus tetapi juga membuat geram pemerintah pusat. Disamping itu polemik bendera ini juga meningkatkan ketegangan antar suku, menghidupkan kembali semangat pemekaran propinsi, dan menambah kekhawatiran munculnya kekerasan menjelang pemilu nasional 2014.

Untuk itu Internasional Crisis Group sebuah group yang memberikan kebijikan bagi negera-negara asing menerbitkan sebuah laporan dengan judul: Indonesia: Tensions over Aceh’s Flag (Ketegangan Seputar Bendera Aceh).

International Crisis Group (ICG) mengkaji dampak politik dari disahkannya sebuah qanun tentang Bendera dan Lambang Aceh oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) pada 25 Maret 2013. Laporan ICG biasanya dipakai para kepala negara, diplomat, inteligen, analis, serta pebisnis untuk mengetahui situasi terakhir sebuah wilayah di dunia ini.

Menurut ICG pengesahan bendera merupakan peresmikan bendera bekas gerakan pemberontak GAM (Gerakan Aceh Merdeka) menjadi bendera resmi propinsi Aceh. Pemerintah pusat menganggap qanun ini bertentangan dengan sebuah peraturan pemerintah yang melarang penggunaan simbol-simbol separatis, oleh karena itu harus diubah.

Sementara itu, Partai Aceh, partai politik lokal yang dibentuk oleh para petinggi GAM, mengatakan bendera itu tidak dapat dikatakan bendera separatis sejak pemimpin GAM menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah Indonesia di Helsinki tahun 2005 dimana tercantum pengakuan terhadap kedaulatan Republik Indonesia di Aceh.

Berikut beberapa point penting dalam laporan ICG:

1. Partai Aceh merasa tidak perlu berkompromi karena para petingginya yakin Jakarta akan tunduk pada keinginannya seperti tatkala pilkada gubernur tahun lalu. Partai Aceh juga ingin memanfaatkan kekuatan emosional yang sangat besar dari bendera Aceh untuk memobilisasi pemilih untuk pemilu 2014.

2. Apapun yang dilakukan Jakarta, Partai Aceh akan menang. Kalau Jakarta menolak bendera Aceh, Partai Aceh bisa menjadi populer di mata para pendukungnya, karena menentang pemerintah pusat. Sebaliknya, kalau pemerintah pusat menerima bendera Aceh, Partai Aceh menjadi yakin bahwa bersikap ngotot akan membawa hasil, dan kemungkinan para petingginya kemudian akan menuntut untuk mendapat lebih banyak wewenang.

3. Partai Aceh saat ini sedang membangun kendalinya secara sistematis terhadap lembaga-lembaga politik di propinsi Aceh, sehingga  makin susah mendepak mereka melalui pilkada di masa depan. Mereka sudah menguasai lembaga eksekutif dan legislatif di tingkat propinsi, dan di banyak kota dan kabupaten.

4. Partai Aceh juga sedang mengerahkan pengaruhnya terhadap  pegawai negeri sipil dan Komisi independen Pemilu (KIP) Aceh. Partai ini juga mengendalikan sebuah lembaga baru, yaitu Wali Nanggroe, yang dibentuk untuk melindungi nilai-nilai dan budaya masyarakat Aceh.

“Perdebatan ini lebih dari sekedar soal apakah bendera Aceh merupakan simbol separatis. Sesungguhnya perdebatan ini adalah tentang kemana Aceh akan menuju dan akan seperti apa hubungannya dengan Jakarta,” kata Sidney Jones, penasihat senior program Asia untuk Crisis Group. 

GAYO Nusantara.

Tuntutan Sosial Ekonomi dan Dampak Global Warming

Tuntutan Sosial Ekonomi dan Dampak Global Warming

(Oleh: Lentina Sitohang)
Kesehatan akan tercipta jika kita hidup di lingkungan yang bersih. Namun, di era globalisasi ini, kita sulit untuk menemukan lingkungan yang bersih  tersebut dan kebanyakan masalah lingkungan sekarang ini datangnya dari diri kita sendiri. Kita terlalu berambisi dengan kegiatan sosial ekonomi yang kita kerjakan, sehingga kita lupa atau bahkan tidak tahu-menahu mengenai dampak terhadap lingkungan. Buruknya lingkungan tersebut akan berpengaruh terhadap bumi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Persoalan global yang dihadapi masyarakat di dunia sekarang ini adalah global warming. Di saat bumi menerima energi yang dipancarkan oleh matahari akan menjadi hangat dan akan menjadi dingin jika melepaskan energi ke ruang angkasa. Apabila energi berada dalam keseimbangan, suhu bumi juga akan tetap stabil. Jika konsentrasi gas di udara (gas rumah kaca) yang berfungsi mencegah lepasnya energi ke ruang angkasa meningkat, terjadilah ketidakseimbangan dan suhu permukaan bumi akan meningkat. Meningkatnya  suhu rata-rata bumi berakibat pada melonjaknya jumlah penyakit menular seperti malaria, flu, demam kuning, dan lain-lain.
Global warming disebabkan oleh kegiatan manusia yang mengasilkan emisi gas rumah kaca dari industri, kendaraan bermotor, pembangkit listrik bahkan menggunaan listrik berlebihan. Sadar atau tidak, pemanasan global dan dampaknya bagi kesehatan kita terjadi atas perbuatan kita sendiri. Kita dapat menilik lingkungan sekitar kita pada saat ini. Hampir semua orang telah memiliki kendaraan bermotor mulai dari perkotaan hingga pedesaan, dan mulai dari para pekerja hingga para pelajar. Kendaraan bermotor kini tidak hanya digunakan untuk bepergian jauh, bahkan untuk pergi ke rumah tetangga sebelah saja harus menggunakan kendaraan bermotor. Sungguh boros, dan cueknya kita akan kebersihan lingkungan.
Kita juga telah melihat begitu banyak gedung yang berlomba-lomba untuk mencapai langit biru, dan begitu banyak lahan pepohonan yang ditebang hanya untuk dijadikan lahan pembangunan perusahaan/pabrik. Tidak masalah jika perusahaan/pabrik tersebut bersenyawa dengan alam, akan tetapi jarang sekali ada perusahaan yang demikian. Karena rata-rata perusahaan di negara kita ini, pasti mengakibatkan polusi atau limbah.
Nitrogen oksida dan hidrokarbon  yang dilepaskan dari kendaraan bermotor dan pabrik merupakan polutan primer dimana oksidan foto kimia ini memiliki sifat keasaman yang tinggi, dalam konsentrasi tinggi memberikan rangsangan pada mata atau tenggorokan, mengganggu organ pernafasan, dan juga pada produk pertanian.
Selain itu, asap rokok dan kotoran hewan juga sangat berpengaruh dalam pemanasan global. Asap rokok kini banyak ditemui di lingkungan kita, karena mulai dari orang dewasa hingga anak-anak sudah mengkonsumsi rokok. Padahal rokok  mengandung berbagai zat berbahaya seperti benzo-α-pyrene dan formaldehid yang dapat menimbulkan bermacam-macam penyakit seperti gangguan pernafasan, penyakit jantung dan kanker paru-paru. Kotoran hewan membantu meningkatkan efek rumah kaca dan mengakibatkan pemanasan global yang sangat berdampak besar bagi lingkungan dan kesehatan kita.
Beberapa  hal di atas merupakan sedikit penyebab pemanasan global dalam kehidupan kita sehari-hari, dan yang harus segera dicari jalan keluar guna mengatasinya. Apakah pernah terpikir dalam benak kita bagaimana cara mencegah atau meminimalisasi pemanasan global ini? Atau kita hanya berpikir bagaimana cara termudah untuk mencari kebahagiaan semata tanpa mengingat kesehatan kita?
Pemanasan global sudah dianggap oleh banyak orang sebagai masalah besar yang harus segera diatasi secara kolektif, pemerintah harus bekerja sama dengan mempromosikan kesadaran lingkungan kepada masyarakat, bagaimana mereka memberikan kontribusi dalam upaya mengatasi situasi yang amat serius ini tanpa mementingkan diri sendiri. Karena pemerintah juga memiliki tanggung jawab dalam melindungi bumi dan generasi kita mendatang.
Dalam tulisan (Belantara Indonesia.2013. 10 Dampak Pemanasan Global. 25 April 2013) dikatakan bahwa : “Akibat Global Warming, sedikitnya 2000 pulau kecil di kepulauan Indonesia mungkin akan hilang sebelum yahun 2030 dan hal ini diperparah sebagai konsekuensi penambangan liar dan aktivitas lain yang merusak lingkungan. Indonesia hingga saat ini telah kehilangan sedikitnya 24 dari 17.500 pulau – pulau di wilayahnya.”
Setiap orang dapat memberikan kontribusi dengan cara sederhana kita masing-masing dalam mencegah atau meminimalisasi pemanasan global ini. Kita harus memulainya dari diri kita sendiri, lingkungan kecil kita sendiri, misalnya mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, merokok lah jika tidak mengganggu orang-orang di dekat kita, dan manfaatkanlah kotoran hewan sebagai pupuk organik.
Andaikan saja kita dapat mendengar jerit tangis generasi penerus kita, dan andai saja kita dapat menerawang kondisi bumi kita di masa yang akan datang, kita pasti akan segera mencegah akibat dari pemanasan globalisasi ini. Jikalau pun tidak demikian, seharusnya kita tetap bertindak mencegah atau meminimalisasikannya, Ibarat pepatah mengatakan “sediakan payung sebelum hujan”.
Indonesia terletak di garis khatulistiwa, merupakan negara yang pertama sekali akan merasakan dampak global warming. Dampak tersebut telah dirasakan yaitu pada 1998 menjadi tahun dengan suhu udara terpanas dan semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Banyak orang memperkirakan bahwa 20 tahun ke depan Indonesia akan tenggalam akibat kenaikan permukaan air laut.
Nah, sebelum hal itu terjadi, mari kita bersama-sama atasi global warming dengan melakukan penghematan energi listrik, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, menghentikan penebangan dan pembakaran hutan, mengurangi hisap rokok bagi pecandu, dan menjaga kelestarian lingkungan kita, agar tercipta kesehatan yang baik.
Dalam penyerahan 5.000 bibit pohon di Aceh Timur pada Jumat, 28 April 2013, Aris Jatmiko mengatakan; “Mengatasi global warming jangan hanya didengungkan saja tanpa berbuat sesuatu”. Maka dari itu, mari kita melakukan gerakan perubahan. Kebahagiaan tanpa memikirkan kesehatan hanya dapat kita rasakan sekejap saja. Untuk apa kita bersusah payah mencari kekayaan atau kesuksesan, jika kesehatan kita harus kita pertaruhkan. Semua yang kita kerjakan sama saja dengan nihil. (op)
(Penulis adalah Mahasiswi Teknik Kimia, Universitas Malikussaleh)

Mantan Gerilyawan GAM Asal Papua

Mantan Gerilyawan GAM Asal Papua

Abdul Halim alias Ayah Papua

KONFLIK Aceh telah 7 tahun berakhir. Namun masih banyak kisah haru, heroik, dan sisi-sisi kemanusiaan yang belum terungkap. Salah satunya adalah tentang sosok Abdul Halim (52) alias Bang Yan alias Ayah Papua. Mungkin ia menjadi satu-satunya putra Papua yang berjuang di hutan Aceh.

Kini, saat Aceh mulai damai, ia memendam hasrat untuk memberi contoh kepada keluarga dan teman-temannya di tanah Papua, tentang bagaimana berjuang mengangkat harkat dan martabat rakyat Papua, tanpa harus lagi mengorbankan nyawa manusia.

Terlahir dari Keluarga Pendiri OPM

GAYA bicaranya blak-blakan, logat bahasa Indonesianya masih seperti orang Papua. Jika bukan dari gaya bicaranya, orang tidak menyangka kalau pria berperawakan kecil ini adalah orang Papua asli. Apalagi, rambut kriwil khas Papua, tertutup oleh topi pet berbahan campuran kain dan karet di kepalanya.

"Saya lahir di Manokwari, tanggal 21 Juli 1950, dari keluarga pejuang OPM (Organisasi Papua Merdeka). Ayah saya, Pieter Bonsapia adalah salah satu pendiri OPM," ujar Abdul Halim alias Ayah Papua, dalam bincang-bincang dengan Serambi di sebuah warung kopi, di Uleekareng, Banda Aceh, Sabtu (21/1).

Ia menyeruput kopi dalam-dalam. Rokok kretek merek Dunhill nyaris tidak pernah lepas dari celah dua bibirnya. Padahal, asbak di depan kami nyaris sudah penuh dengan puntung rokok miliknya.

Baru setengah jam duduk, dia sudah minta tambah satu gelas kopi lagi kepada pelayan warung. "Kami di Papua biasanya minum kopi dalam gelas besar," kata dia sambil memeragakan ukuran gelas dengan tangannya.

"Bukan 'kopi' dalam botol?" goda temannya yang juga mantan aktivis GAM. "Kadang-kadang juga," sahut Ayah Papua sambil cengar cengir.

Ayah Papua memang sosok yang enak diajak bicara. Meski baru kenal, dia langsung bisa akrab dan bercerita panjang lebar tentang kisah hidupnya. Mulai dari saat SMA di Sorong, hingga kisah-kisah heroik saat harus bergerilya di Aceh masa konflik dulu.

Sebagai putra pejuang, Ayah Papua sudah biasa ditinggal pergi oleh ayahnya. "Pada tahun 1974, ayah saya hijrah ke Vanuatu, dan mulai saat itu beliau kerap keluar masuk Papua-Vanuatu melalui jalur ilegal," ungkapnya.

Meski kerap ditinggal pergi ayahnya, tak membuat Abdul Halim tertinggal dari segi pendidikan. Selepas SMA di Sorong (kini Papua Barat), Abdul Halim melanjutkan pendidikannya ke Akademi Ilmu Pelayaran Surabaya. Namun, Halim hanya bertahan selama dua tahun. Ia kemudian memutuskan pindah ke Institut Ilmu Pemerintah (IIP) di Jakarta. Namun, lagi-lagi Halim hanya sanggup bertahan selama dua tahun. "Saya baru mendapat sarjana setelah ambil persamaan di Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang," ujarnya.

Ijazah S-1 dari Politeknik Semarang itu tidak disia-siakannya. Dengan dasar tersebut, Halim melanjutkan kuliah untuk mengambil spesialisasi bidang Well Control di University Austin Texas, Amerika Serikat.

Selepas dari Texas, Abdul Halim alias Ayah Papua, mulai bekerja di Continental Oil Company (Conoco), sebagai tenaga bidang pengeboran minyak lepas pantai. Pekerjaan ini lah yang mengantarnya bersentuhan dengan Aceh. "Tahun 1979, saya menikah dengan gadis Aceh Rosdiana Juned, di Tapanuli Selatan. Kami kenal di sana (Tapsel)," ujarnya.

Setahun di Tapsel, Abdul Halim dikontrak oleh perusahaan pengeboran minyak Mobil Oil untuk ditugaskan di wilayah Aceh Timur. Di sinilah dia mulai bersentuhan dengan para aktivis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). "Saat itu saya mulai tertarik dengan perjuangan mereka (GAM), tapi saya belum terlibat aktif," ujarnya.

Bergerilya di Rimba Aceh

Baru pada tahun 1986, dia mulai mencoba-coba aktif di GAM dengan tugas pertama sebagai petugas di bidang komunikasi (radio). Meski mulai aktif di GAM, Abdul Halim tetap menjalani tugas rutinnya yang pada tahun 1987 menjadi staf pengeboran di perusahaan Medco, subkontrak Mobil Oil di bidang pengeboran.

"Keterlibatan saya di GAM bukan serta merta, melainkan melalui sebuah pemikiran cukup panjang. Akhirnya saya ambil kesimpulan bergabung karena menurut saya ini adalah perjuangan mulia, untuk mengembalikan harkat dan martabat rakyat Aceh," ujarnya.

Keputusan Ayah Papua bergabung dengan GAM bukan tanpa konsekwensi, saat pemberlakuan status Daerah Operasi Militer (DOM) pada tahun 1989, Ayah Papua harus meninggalkan pekerjaan yang baru satu tahun digelutinya di Medco.

"Pada tahun 1989 saya hijrah ke Malaysia, dan baru kembali menjelang satu tahun pencabutan status DOM (1998). Setelah status DOM dicabut, kami kembali aktif membangun kekuatan dengan di bawah komando Analfiah Julok.

Sejak itu, berbagai kisah heroik dialaminya. Sebagai pejuang Ayah Papua, jarang berkumpul dengan keluarganya. Kondisi Ayah Papua Cs semakin terjepit saat pemerintah RI menetapkan status Darurat Militer pada tahun 2003.

"Saat itu kami kerap keluar masuk Aceh. Kebanyakan dari kami membuat basis di Kerinci, Jambi. Banyak dari teman-teman kami meninggal di medan perang. Alhamdulillah, saya masih dilindungi, hingga bisa menikmati perdamaian saat ini," ujarnya mengenang.

Dua dari tujuh anaknya (2 perempuan 5 laki-laki), juga aktif di GAM. "Satu orang TNA (tentara GAM) dan satu lainnya sipil," terang dia.

Panggilan Ayah Papua

Saat tsunami menerjang Aceh 26 Desember 2004, Ayah Papua menjadi salah satu orang pertama yang paling terpukul. Tanpa memedulikan statusnya sebagai buronan aparat keamanan, Ayah Papua bekerja keras untuk mengevakuasi mayat-mayat yang berserakan di seputar Banda Aceh dan Aceh Besar.

"Saat itu, banyak relawan datang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka lebih suka memanggil saya Ayah Papua. Padahal nama saya Abdul Halim, sementara saat konflik dulu, saya dikenal dengan nama Sofyan atau Bang Yan," ujarnya.

Aceh dan Papua Kerangka Indonesia

SEJAK menetap di Aceh pada tahun 1980, Abdul Halim alias Ayah Pupua telah melewati berbagai pengalaman hidup yang akan diceritakan kepada anak cucunya kelak. Tentang bagaimana ia meninggalkan pekerjaannya di perusahaan minyak, untuk kemudian keluar masuk hutan dengan memanggul senjata. Juga tentang bagaimana ia memunguti mayat para korban konflik dan korban bencana tsunami terdahsyat di abad ini.

Meski usianya sudah berkepala lima, bukan berarti Ayah Papua tidak lagi punya cita-cita. "Saya memendam hasrat untuk membagikan ilmu tentang perdamaian di Aceh ini kepada teman-teman di Papua. Bahwa berjuang itu tidak mutlak dengan senjata. Sudah cukup mereka berjuang puluhan tahun dengan senjata, kini saatnya mereka harus berjuang melalui jalur politik, seperti yang dilakukan teman-teman saya di Aceh," ujarnya.


Ia berpendapat, perdamaian Aceh yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, bukan saja telah menyelamatkan nyawa ribuan rakyat Aceh dan Indonesia. Tapi, perdamaian yang melahirkan butir-butir kesepahaman (MoU) Helsinki dan Undang-undang Pemerintah Aceh (UUPA), juga telah mengangkat harkat dan martabat rakyat Aceh.

"Orang-orang Aceh yang dulu terpinggirkan dan tinggal di desa-desa, kini telah bisa menjadi pemimpin formal yang diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia. Hasil perjuangan ini juga melahirkan para pemuda kritis dan pintar. Ini merupakan aset bagi Aceh untuk bisa berbicara lebih banyak lagi di tingkat nasional," ujarnya.

"Saat delegasi masyarakat adat Papua dan DPR Papua berkunjung ke Aceh beberapa waktu lalu, saya menyerahkan dokumen MoU Helsinki dan UUPA. Saya bilang, generasi Papua harus banyak belajar ke Aceh, harus banyak orang Papua datang melihat Sabang. Jangan hanya melihat Mereuke saja. Mereka harus sadar bahwa Aceh dan Papua adalah kerangka berdirinya Indonesia," tambah dia.

Pendapat bahwa Aceh dan Papua adalah kerangka Indonesia, kata Ayah Papua, didasarkan pada lirik lagu "Dari Sabang Sampai Mereuke" ciptaan R. Surarjo. Lirik yang dimaksudnya;

"Dari Sabang sampai Merauke, Berjajar pulau-pulau,...
"Sambung-menyambung menjadi satu Itulah Indonesia...."

"Dari lagu itu jelas bahwa pemilik Indonesia sesungguhnya adalah Aceh dan Papua, yang lainnya numpang. Makanya, saya selalu bilang, kalau mau memperbaiki Indonesia, maka perhatikan dulu Aceh dan Papua. Selama ini pemerintah hanya membangun wilayah tengah saja. Sedangkan kerangkanya (Aceh dan Papua) diabaikan. Apa tidak hancur bangsa ini," ujarnya penuh semangat.

Atas dasar itu pula, saat ini Ayah Papua sedang mencoba menjajaki memfasilitasi perdamaian di Papua melalui Interpeace, lembaga yang hingga kini masih mengawal perdamaian di Aceh. Dia akan mengajak para pemuda Aceh untuk menurunkan ilmunya kepada masyarakat di Papua.

"Mereka (warga Papua) harus meningkatkan harkat dan martabat bangsa Papua, tidak hanya sekedar berani mati. Kalau modal nekat, sudah dimiliki pejuang di Papua. Sekarang tinggal dikombinasikan dengan ilmu politik yang mumpuni," katanya.

Lalu apakah kondisi Aceh saat ini sudah cukup ideal?

"Belum, masih butuh perjuangan panjang. Tapi saya pikir, Aceh sudah lebih baik daripada Papua. Saya pikir, yang perlu dilakukan di Aceh setelah proses reintegrasi selesai, adalah regenerasi. Secara perlahan, para pemimpin Aceh harus menyerahkan tongkat kepemimpinan di beberapa bidang kepada para pemuda. Sehingga suatu hari nanti, mereka benar-benar telah siap memimpin dan mewujudkan kesejahteraan, serta mengangkat harkat dan martabat rakyat Aceh," ujarnya.

Ayah Papua yang kini aktif di Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Aceh ini juga punya saran kepada pemerintah pusat untuk tidak mengabaikan aspirasi dari para mantan kombatan GAM.

"Perjuangan hari ini adalah perjuangan dengan konsentrasi dan penuh perdamaian. Jadi bangsa ini tolong hargai aspirasi mereka. Sebab kalau tidak dihargai, kita akan membuka ruang bagi terjadinya upaya penghancuran kerangka Republik ini," tukas Ayah Papua.

Mengomentari tentang aksi penembakan yang marak terjadi di Aceh beberapa waktu lalu, Ayah Papua mengaku tidak yakin kalau aksi itu dilakukan oleh para mantan kombatan. Apalagi sampai dikait-kaitkan dengan sentimen anti-Jawa di Aceh.

"Saya sudah merasakan saat bergabung dengan GAM, tidak ada perbedaan ras dan warna kulit. Semua penduduk ber- KTP Aceh punya kesempatan yang sama untuk berkiprah di partai Aceh. Jadi kami para mantan kombatan, tidak pernah anti dengan pendatang. Bahkan banyak kombatan berasal dari suku Jawa," tukas Ayah Papua.[]

(*/Laporan Wartawan Serambi Indonesia Zainal Arifin M. Nur) | Minggu, 22 Januari '12

Teroris Sengaja Diciptakan?

Teroris Sengaja Diciptakan?

Jakarta - Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Indra mengkritisi operasi pemberantasan terorisme yang dilakukan tim Densus 88 Anti Teror. Indra menuding Densus selama ini sengaja menciptakan terorisme lantaran jaringan kelompok teroris tidak pernah berkurang dari waktu ke waktu.
“Sejak program terorisme digulirkan, teroris itu malah makin banyak, bukannya berkurang. Ini ada apa. Salah penanganan atau teroris memang sengaja diciptakan?” ujar Indra di Jakarta, Sabtu (11/5/2013).
Indra melihat, penggerebekan teroris layaknya drama yang sengaja dipertontonkan. Aksi tembak menembak selama delapan jam dalam penggerebekan di Bandung, Jawa Barat pun dinilainya sangat ganjil lantaran ketika itu Densus dipersenjatai lengkap dibandingkan kelompok teror yang bersembunyi.
Adanya dugaan bahwa sel-sel teroris sengaja diciptakan, kata Indra, juga dibuktikan dari banyak laporan masyarakat kepada Komisi III DPR yang memprotes aksi yang dilakukan Densus 88. Masyarakat protes sanak keluarganya dilibatkan dalam jaringan teroris.
“Apalagi Densus juga melakukan penembakan terhadap terduga teroris, jadi kita tidak tahu apa itu benar teroris atau bukan. Dengan dia tertangkap hidup-hidup, maka polemik publik akan terjawab,” tukas Indra.
Diberitakan sebelumnya, Densus 88 melakukan penangkapan di sejumlah lokasi sejak Selasa (7/5/2013). Lokasi tersebut antara lain Jakarta, Tangerang Selatan, Bandung, Kendal, dan Kebumen. Total terduga teroris yang diringkus sebanyak 20 orang, dan 7 orang di antaranya tewas. Penangkapan kemudian berlanjut di Lampung sebanyak empat terduga teroris.
Dari serangkaian penangkapan itu, Densus 88 juga menyita sejumlah senjata api, bom rakitan, hingga uang tunai. Pimpinan kelompok teror ini adalah Abu Roban alias Untung alias Bambang Nangka. Abu Roban juga disebut terlibat perampokan di BRI Batang, Jawa Tengah. Hasil perampokan diduga untuk mendanai aksi teror.
Abu Roban diketahui terkait DPO teroris Poso yang saat ini paling dicari Densus 88, yakni Santoso. Abu Roban tewas ditembak dalam penangkapan di Batang, Jawa Tengah, Rabu (8/5/2013).
Sumber: Kompas.com

85% Produksi Migas RI dikuasai Perusahaaan Asing

85% Produksi Migas RI dikuasai Perusahaaan Asing


Banyak tudingan lahan minyak dan gas bumi (Migas) di Indonesia dikuasai perusahaan asing. Namun ternyata, sebanyak 49% sumur migas Indonesia dikuasai oleh Pertamina dan semuanya masih perawan alias belum digali maksimal.

"Sebanyak 49% lahan migas yang ada di Indonesia saat ini dikuasai semua oleh Pertamina, dan semua lapangan migasnya saat ini masih virgin (perawan)," kata Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini ketika berkunjung ke Kantor Trans Corp, Jakarta.

Tapi, ujar Rudi, saat ini 85% produksi migas nasional masih disumbang oleh kontraktor-kontraktor multinasional atau asing seperti Chevron, Total E&P, Conoco, Mobil Cepu, Vico, dan lainnya.

"Dari produksi minyak nasional 840.000 barel per hari, sebanyak 39,7% disumbangkan oleh Chevron. Di gas bumi, terbesar dari Total sebesar 20,8% atau 1.93,98 juta kaki kubik per hari (mmscfd)," ungkapnya.

Mengapa Pertamina menguasai 49% ladang migas di Indonesia, namun produksinya baru 15% atau baru 120.000 barel per hari?

"Ya karena ladang migasnya masih virgin semua, semua sumur-sumur migas yang diproduksi Pertamina baru 20-30% saja (digali), sedangkan sumur minyak kontraktor multinasional seperti Chevron, Cepu dan lainnya sudah 70-80% jadi pantas produksinya besar," ungkap Rudi lagi.

Rudi mengatakan, apabila Pertamina menerapkan teknologi pengeboran lebih canggih seperti menggunakan teknologi EOR (injeksi sumur dengan gas), maka produksi migas Pertamina bisa lebih besar.

"Makanya kedepannya hanya kepada Pertamina produksi minyak nasional bisa berharap, sementara kontraktor lainnya hanya mempertahankan produksi minyak saja, kalau pakai teknologi EOR produksi minyak Pertamina bisa naik dari 120.000 barel per hari bisa mencapai 250.000-300.000 barel per hari," tandasnya. Demikian lansir detikfinance.

Friday, May 10, 2013

[Sebuah Refleksi] Kisah Paya Ilang dan Sang Burung Bangau


|

[Sebuah Refleksi] Kisah Paya Ilang dan Sang Burung Bangau

Oleh : Ihsan Fajri*
Poto(1)
Sepuluh tahun yang lalu sekitar tahun 2003, hidup seorang anak yang masih berusia 14 tahun, masa yang sedang beralih ke tingkat remaja dan sedang duduk di bangku MTsN, mengurungkan niat untuk melangkahkan kaki ke suatu tempat yang jarang di kunjungi oleh orang-orang berpakaian rapi, sebab mungkin hanya pakaian yang compang-camping saja yang berhak mengunjunginya, tempat itu bernama Rawa Merah atau lebih akrab di sebut sebagai Paya Ilang.
Sebagai masyarakat Takengen, Paya Ilang adalah tempat yang tidak asing lagi terdengar di telinga, penuh dengan lahan basah, airnya kelihatan berwarna merah dan memiliki berbagai macam spesies hidup dan tumbuh berkembang di dalamnya, konon tempat ini juga sering dikisahkan dengan cerita-cerita yang mistik, dari kemistikannya sering mendengar nasehat-nasehat dari kalangan masyarakat sekitar mengatakan : “Enti Dediang Ku Paya Ilang win, i one nume ton kin berdediang” (jangan bermain ke rawa-rawa itu nak, disitu bukan tempat untuk bermain), dan kata-kata lainpun terucap seperti “Inget enggeh Jin Paya Ilang’’.
Entah apa yang membuat tempat ini menjadi mistik anak muda ini pun tidak mengetahui secara mendetail, rasa penasaran pun muncul setelah mendengar nasehat ini.
Hari itu senja, warna langit merah kekuning-kuningan tampak di ufuk barat pancaran sinarnya seperti memberi arti sejuta misteri tentang dinamika kehidupan sosial dan budaya di alam semesta. Bersama satu niat dan satu tujuan, ada tiga orang anak muda pemberani sedang berjalan menuju Paya Ilang Tersebut dengan hentakan yang sederhana, sifat congkak dan ria pun dihindarinya, tujuan yang ada di benak mereka hanya meninggalkan jejak-jejak pertualangan.
Sesampai di rawa, ketiga orang anak muda ini melihat kehidupan-kehidupan yang terjadi di tempat itu, akan tetapi dari ketiga orang ini tidak ada seorang pun yang melihat sambil memperhatikan fenomena yang terjadi di sekelilingnya kecuali seorang saja yakni seorang pria ganteng yang sedang menulis kisah ini.
Aku mulai memperhatikan, waktu itu Tahun 2003, Paya Ilang penuh dengan kolam yang terabaikan dan sangat jarang di kunjungi oleh orang banyak, akibat minimnya tingkat perawatan, ditengah-tengah kolam tersebut muncul satu persatu tumbuhan yang berbentuk seperti lidi-lidi yang tajam dengan posisi menancap lurus berdiri tegak ke atas langit, dengan demikian kehadiran tumbuhan ini seketika membuat geger warga sekitar terutama terhadap kaum wanita, sebab kehadirannya sangat meresahkan, membuat sebagian wanita tinggal di sekitar lokasi tidak bisa tenang dan terus bergerak melakukan aksi-aksi yang jitu.
Hingga suatu ketika datang seorang wanita tua melakukan aksinya, dengan gagah, berpakaian sederhana sambil menggenggam alat sabit untuk memotong tumbuhan tersebut. setelah aku perhatikan dari dekat ternyata tumbuhan yang mistik itu adalah Kertan dan Cike, (Kertan dan Cike adalah tumbuhan yang bisa di olah untuk membuat tikar, sentong dan lain-lain).
Setelah itu, aku bergegas terus berjalan mengelilingi kolam, di tengah-tengah perjalanan secara reflek aku terkejut, seperti menekan rem secara tiba-tiba disaat roda kendaraan yang sedang berputar kencang melaju diatas kecepatan rata-rata, sesuatu terlintas di atas kepalaku, seekor burung bangau berwarna putih yang memiliki paruh panjang, sedang membentangkan sayap, melampai-lambai terbang di udara. Mataku tertuju kepadanya, sampai terbesit ungkapan dalam hati berkata :
“Oh sungguh mempesona andai saja aku punya sebuah kamera pasti sudah aku tembak dan aku abadikan burung itu, andai saja aku pintar bermain pena pasti sudah ku lantunkan nada-nada indah dengan cerita yang sempurna untuk ku jadikan mahakarya yang luar biasa.
Tapi tidak untuk waktu itu, hari itu hanya ada sosok seseorang yang masih dalam keadaan polos, yang pikirannya masih di kendalikan oleh orang lain.
Kicauan burung bangau membuat aku terkesima saat melambai terbang di udara seperti memberikan arti kata perpisahan : “selamat tinggal wahai anak muda, aku akan pergi ke suatu tempat untuk mencari ilmu dan penghidupan yang lebih layak, aku sudah tidak nyaman disini, suatu saat mungkin aku akan kembali lagi, dengan membawa langkah perubahan dan cerita yang baru, jika aku tidak kembali, aku memohon kepada mu untuk tidak mentangisi kepergianku”.
Melihat burung bangau itu pergi aku langsung teringat dengan salah satu group band legendaris asal gayo bernama Saba Group dengan lirik lagu :
“So bango iyo, nge ku elopen, munemah cerite temerbang ku langit iso, sayang gere ne ulak (disana ada bangau di sore hari, sedang membawa cerita sambil terbang ke udara, tapi sayang bangau itu tidak kembali)”.
Warna senja mulai terlihat pudar bertanda matahari akan tenggelam, perjalanan hidup burung bangau yang pergi meninggalkan kabar misteri kepada ku, apa yang akan terjadi di tanah Paya Ilang ini, apakah membawa sebuah cerita bahagia atau sebaliknya.
Hari demi hari, waktu terus waktu terus berlalu, zaman terus berputar hingga sampai tahun 2013 ini perubahan pun telah tampak di Paya Ilang, dulunya rawa kini telah tampak jalan pintas yang menghubungkan Desa Tan Saril ke Desa Lemah Burbana, setiap sisi jalannya mulai terlihat bangunan-bangunan kokoh, Rumah Toko (Ruko) dan Terminal Bus Antar Kota. <ihsan_fajrie[at]yahoo.com>
*Warga Masyarakat Takengen Kabupaten Aceh Tengah.

Mau Nikah di Mesjid Raya, Baca Ini Dulu!

img:atjehpost

KEPALA Kaur Sekretariat Masjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh, H. Sofyan Hasyim, mengakui bahwa banyak warga yang ingin menikah disana. 

“Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat antusias menjadikan masjid ini sebagai tempat pelaksanaan akad nikah. Tiap tahunnya jumlah pasangan yang menikah di Masjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh, terus meningkat,” kata Sofyan Hasyim.


Ini dinilai karena banyak pasangan yang menganggap menikah di masjid ini lebih berkah dan merasa lebih afdhal. 


“Ketika mendaftar jadwal nikah di sini, banyak pasangan yang mengaku alasan nikah di Masjid Raya Baiturrahman, untuk lebih mendapat berkah. Tapi mungkin juga kalangan masyarakat menganggap ada kebanggaan tersendiri dengan melaksanakan menikah di Masjid Raya Baiturrahman," ujar sofyan.

"Walaupun pada dasarnya kelanggengan rumah tangga suatu pasangan tidak tergantung dari tempat nikahnya di mana,” tambahnya.


Menurutnya, rata-rata pasangan yang menikah di Masjid Raya Baiturrahman adalah warga Kota Banda Aceh dan Aceh Besar.


“Kebanyakan yang menikah adalah warga sekitar sini. Cuma ada juga dalam sebulan, 2 atau 3 pasangan nikah yang berasal dari luar daerah, seperti dari Aceh Selatan, dan Aceh Timur dan tempat-tempat lain. Bahkan ada juga pasangan dari Jakarta yang menikah di sini,” kata Sofyan.

img:pkiranmerdeka

Pasangan yang ingin menikah di Masjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh, diharuskan mendaftar minimal 15 hari sebelum hari H.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Urusan Sekretariat Masjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh, H. Sofyan Hasyim, Minggu 17 Maret 2013.

“Untuk itu, pasangan nikah akan mengisi formulir yang disediakan pihak sekretariat masjid berikut dengan biaya tempat Rp300 ribu,” kata H. Sofyan Hasyim.

“Dalam hal ini, pihak masjid hanya memfasilitasi tempatnya saja. Urusan yang lain, tentu sudah diatur oleh KUA tempat tinggal pasangan nikah. Makanya, untuk biaya tempat sebanyak Rp300 ribu itu, untuk membayar petugas yang mengatur tempat,” ujarnya.

Biaya ini, kata dia, untuk yang petugas baca doa, yang baca Al-Quran, protokol, petugas kebersihan dan biaya administrasi pendaftarannya juga.

“Jumlah ini untuk semua kalangan. Jadi tidak benar jika ada kutipan di atas nilai tadi,” kata Sofyan.

Setiap bulannya, diberitakan sebanyak 80 pasangan menikah di Masjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh.

“Rata-rata dalam sebulan terdapat 80 pasangan yang melaksanakan akad nikah di Masjid Raya Baiturrahman. Dalam sehari, ada tiga atau dua pasangan,” kata H. Sofyan.

Menurut dia, pihaknya akan selalu memberikan pelayanan ekstra terhadap masyarakat yang menjadikan masjid kebanggaan masyarakat Aceh ini sebagai tempat pelaksanaan akad nikah.

GAYO Nusantara.

Anggota DPR Pembolos ‘Nyaleg’ Lagi, Nekat!

Anggota DPR Pembolos ‘Nyaleg’ Lagi, Nekat!

Jakarta - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang selama ini kerap membolos dan maju lagi sebagai bakal caleg dalam Pemilu 2014 dianggap nekat. Mereka dianggap tidak sadar dengan kegagalannya selama menjadi wakil rakyat. Demikian disampaikan Wakil Ketua Majelis Pemusyawaratan Rakyat Hajriyanto Y Thohari di Jakarta, Rabu (10/05/2013).
“Fenomena nekat nyaleg itu sama seperti fenomena tidak mau mundur bagi pejabat yang terang-terang gagal dalam menjalankan tugasnya. Sudah jelas gagal masih nekat juga menjabat. Fenomena mundur isin (malu) ini menjangkiti politik nasional,” ujar Hajriyanto.
Politisi Partai Golkar ini mengungkapkan, mencalonkan anggota DPR yang punya rekam jejak “hobi” membolos memang tidak melanggar undang-undang. Hal ini juga sama seperti caleg yang sudah menjadi tersangka, terdakwa, atau terhukum pidana yang tuntutannya di bawah lima tahun. Meski secara legal tidak ada aturan yang disalahi, tetapi secara etika politik dipandang tidak elok.
“Semuanya itu bertentangan dengan tatakrama politik (political fatsoen). Fenomena tidak adanya lagi fatsun politik ini memang semakin parah dalam perpolitikan nasional kita. Ini menunjukkan telah terjadinya dekadensi moral dalam perpolitikan kita,” ujar Hajriyanto.
Secara struktur dan format politik di Indonesia, lanjutnya, sudah demokratis. Tetapi, substansinya masih jauh sekali dari mentalitas demokrasi yang berbudi luhur.
“Sikap-sikap gentleman sudah sulit sekali ditemukan. Yang ada adalah sikap-sikap legalistik yang penting lolos dari jerat atau celah-celah hukum,” kata dia.
Mengenai perlu atau tidaknya data kehadiran dibuka ke publik, Hajriyanto pesimistis. Menurutnya, data kehadiran anggota Dewan hanya formalitas. Mereka menempelkan jari kemudian meninggalkan rapat. Yang terpenting, kata Hajriyanto, adalah kualitas kehadiran dari anggota Dewan dalam setiap kehadirannya.
“Datang rapat, berpartisipasi aktif dalam sidang, bicara, menyampaikan usulan, atau cuma diam saja? Atau bahkan cuma habis isi absensi terus pergi lagi? Ini yang perlu dilihat,” ujarnya.
Seperti diberitakan, Politisi PDI Perjuangan Sukur Nababan kembali maju sebagai bakal calon anggota legislatif periode 2014-2019. Selama menjadi anggota DPR periode ini, Sukur kerap tak hadir dalam rapat komisi hingga rapat paripurna. Ia sudah pernah dipanggil Badan Kehormatan DPR karena sering membolos. Dia bahkan sudah enam kali berturut-turut tidak hadir rapat apa pun di DPR. Hal inilah yang membuat BK DPR akhirnya bertindak. Surat panggilan pun dilayangkan BK DPR kepada Sukur pada bulan Februari lalu, namun dia tidak hadir dengan alasan sakit. PDI-P berdalih bahwa Sukur sakit keras.
Namun, menjelang Pileg 2014, Sukur dinyatakan sembuh dan bisa kembali maju sebagai calon anggota legislatif. Berdasarkan data bakal caleg yang dikeluarkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Sukur maju sebagai bakal caleg dari daerah pemilihan Jawa Barat VI dengan nomor urut nomor 1.
Sumber: Kompas.com