Search This Blog

Sunday, December 29, 2013

FOTO-FOTO ACEH DI ZAMAN KOLONIAL BELANDA


FOTO-FOTO ACEH DI ZAMAN KOLONIAL BELANDA


http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/6?q_searchfield=atjeh

Mengenang 9 Tahun Tsunami Aceh di Padangpanjang IPMA Gelar Seni Budaya Aceh

 Mengenang 9 Tahun Tsunami Aceh di Padangpanjang IPMA Gelar Seni Budaya Aceh

Mengenang 9 Tahun Tsunami Aceh di Padangpanjang IPMA Gelar Seni Budaya Aceh

IPMAPadangpanjang-Lintasgayo.co : Mengenang 9 tahun Tsunami 2004, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Aceh (IPMA) Padangpanjang laksanakan Pagelaran Seni Budaya Aceh dengan tema Saweu Gampong  (Pulang Kampung). Kegiatan ini berlangsung Kamis, (26/12) di Gedung Pertemuan M. Syafe’i Kota Padangpanjang Sumatera Barat.
Purwanto Ketua Pelaksana dalam kegiatan tersebut mengatakan kegiatan ini dilaksanakan selain sebagai ajang silaturahmi masyarakat Aceh se Sumatera Barat juga sebagai ucapan terima kasih kepada masyarakat Padangpanjang dan Sumatera Barat.
“Kami sengaja menyuguhkan acara ini dalam konsep pulang kampung, dalam waktu singkat ini kami akan menghadirkan suasana Aceh dalam Gedung ini,” ungkap Purwanto.
Sementara Ansar Salihin Ketua IPMA mengatakan organisasi yang dimpimpinnya merupakan perkumpulan mahasiswa dan pelajar yang berasal dari Aceh. Kegiatan ini merupakan salah satu program IPMA di bidang kesenian dengan tujuan mempublikasikan kebudayaan dan kesenian Aceh kepada masyarakat umum.
“Kelanjutan dari program ini, IPMA akan melakukan pementasan dibeberapa tempat di Sumatera Barat bekerja sama dengan Organisasi mahasiswa dan masyarakat yang ada di Sumatera Barat. Selain itu, IPMA akan bekerja sama dengan pemerintah Kota Padangpanjang untuk turun ke sekolah-sekolah memberikan pembelajaran tentang seni dan budaya Aceh,” terang Ansar Salihin.guel
Terkait gagasan didirikannya IPMA dijelaskan Sulaiman Juned selaku penasehat sekaligus Pendiri IPMA.
“IPMA ini didirikan pada tahun 1997 oleh mahasiswa dan pelajar yang berasal dari Aceh. Tujuan pendirian ini sebagai penampung aspirasi dan silaturahmi mahasiswa dan pelajar yang ada di Padangpanjang. Semoga program dan kegiatan IPMA untuk masa yang akan datang dapat berjalan dengan baik. Program-programnya diharapkan dapat bermanfaat untuk anggota dan masyarkat Padangpanjang,” papar Sulaiman Juned.
Dijelaskan lagi jika kegiatan tersebut juga dilaksanakan sebagai ucapan terima kasih masyarakat Aceh kepada dunia (Tanks To The World) terutama masyarakat Padangpanjang Sumatera Barat. Sebab saat terjadi Tsunami di Aceh 26 Desember 2004 yang lalu, masyarakat Padangpanjang khususnya dan Sumatera Barat umumnya sangat antusias membantu korban Tsunami Aceh baik secara materil maupun moral. Termasuk ISI Padangpanjang yang waktu itu masih berstatus STSI Padangpanjang mengirimkan bantuan dana dan bahkan relawan untuk mencari korban Tsunami yang dipimpin oleh Murtala salah seorang mahasiswa jurusan tari STSI asal Aceh yang juga anggota IPMA Padangpanjang.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan yang baik dari pemerintah Kota Padangpanjang, baik dari segi izin pemakaian gedung maupun izin pelaksanaan kegiatan. Sekaligus menanggapi tawaran Pengurus IPMA untuk melakukan kerja sama dalam bidang kesenian dengan pemerintah kota Padangpanjang..
“Pemerintah Kota Padangpanjang sangat mendukung kegiatan ini, hal ini tentu menjadi bagian  silaturahmi antar masyarakat Padangpanjang dengan masyarakat Aceh. Sementara kerja sama yang ditawarkan Pengurus IPMA dengan pemerintah akan kita komunikasikan serta ditindaklanjuti secara teknis. Pemerintah siap membantu program IPMA,” Ungkap Wali Kota yang diwakili oleh Asisten Ahli bidang Kebudayaan dan Pariwisata. (pr)

Hamdan Guru Gama Himbau Isolirkan Penjahat Politik

 Hamdan Guru Gama Himbau Isolirkan Penjahat Politik

Hamdan Guru Gama Himbau Isolirkan Penjahat Politik

Hamdan Guru Gama
Hamdan Guru Gama
Takengon-LintasGayo.co : Bupati Aceh Tengah diminta segera melantik komisioner Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Tengah karena jika berlama-lama dikhawatirkan akan memunculkan persoalan dalam tahapan penyelenggaraan Pemilu 2014.
“Tidak ada alasan lagi bagi Bupati tidak melantik KIP Aceh Tengah, PTUN sudah ditolak, jadi tidak ada alasan lagi untuk menunda pelantikan KIP,” ujar H. Hamdan Guru Gama, politisi Partai Nasdem Aceh Tengah di Takengon, Sabtu 27 Desember 2013.
Jika persoalan personal komisioner KIP atau proses perekrutan yang dipersoalkan kenapa tidak dari awal, kata ketua umum Garda Nasdem Aceh Tengah bernada tanya.
Dia mengaku resah dengan kondisi perpolitikan di Aceh Tengah yang menurut penilaiannya seperti dijerumuskan ke konplik politik yang akan meledak suatu saat.
“Tolong jangan biarkan masalah ini berlarut-larut yang mungkin saja justru menimbulkan persoalan lain yang lebih besar lagi kedepan,” himbau Hamdan.
Dia juga mengajak masyarakat untuk cerdas menyikapi suhu politik yang menurutnya tidak sehat saat ini yang ditenggarai sarat money politic untuk meraih suara di Pemilu nanti.
“Politik uang sulit dicegah, namun masyarakat mesti cerdas tentukan pilihan,  dan seyogyanya perangkat hukum juga berperan sesuai tugas dan fungsinya. Mari isolirkan penjahat politik di daerah ini,” ujar Hamdan menghimbau. (Win Aman)

Gayo Art Summit Dipercepat, Digelar 8 Januari 2014

 Gayo Art Summit Dipercepat, Digelar 8 Januari 2014

Gayo Art Summit Dipercepat, Digelar 8 Januari 2014

logoBanda Aceh-LintasGayo.co: Perhelatan seni budaya Gayo yang dikemas dalam Gayo Art Summit (GAS) yang rencana semula akan terselenggara pada 11 Januari 2014 diputuskan dipercepat. Acara itu diselenggarakan pada Rabu 8 Januari 2014 di gedung AAC Dayan Dawood Banda Aceh.
Ketua panitia, Ramadhan Wr, sabtu malam (28/12/2013) kepada LintasGayo.co menyatakan perubahan jadwal acara ini dilakukan dengan sejumlah pertimbangan. “Kami sudah musawarahkan, Gayo Art Summit dipercepat,” ujar Ramadhan Wr.
Berubahnya jadwal ini panpel mesti bekerja ekstra dalam mempersiapkan acara tersebut, kata dia. “Divisi acara juga sudah siap menampilkan sejumlah atraksi seni budaya walau ada peruibahan jadwal,” kata Ramadhan.
Dijelaskan, acara puncak nanti akan ada penampilan dari beberapa musisi ternama. “Ma’af untuk sementara kami belum mempublikasikan siapa mereka,” pungkas Ramadhan Wr. (Boby Mulya)

Kakekku Sang Seniman Gayo

 Kakekku Sang Seniman Gayo

Kakekku Sang Seniman Gayo

(Ibrahim Kadir)
*Catatan Ridho Nazila
Ibrahim Kadir (tengah)
Ibrahim Kadir (tengah)
ADALAH seorang seniman Gayo dan seorang kakek yang luar biasa bagiku. Beliau lahir pada tahun 1942. Pada saat umur kakek masih belia, kira-kira sepuluh tahun. Beliau telah  membuat syair dan lagu didong pertamanya. Saat itu, karya kakek belum terkenal di masyarakat Gayo. Tetapi sekitar 25-30 tahun kemudian, masyarakat Gayo terkejut setelah mendengar ulang karya kakek yang sebelumnya. Sehingga karya 25- 30 tahun yang lalu itu, menjadi sangat populer di telinga masyarakat Gayo. Hal yang menarik lainnya dari kakekku adalah sejak kecil hingga sekarang, beliau sangat hobi memancing.
“Alam ini sangat dekat dengan kakek. Kakek merasa tidak dapat dipisahkan dengan alam. Alam memberikan banyak hal, seperti ketenangan jiwa, refleksi untuk dapat menciptakan syair-syair yang kakek gali dari cerita rakyat Gayo dan terkadang pula, kakek menciptakan puisi- puisi didong pada saat kakek memancing di Danau Lut Tawar. Kakek terus saja menciptakan puisi-puisi. Bagi kakek, itu sangatlah penting. Di samping hal-hal lain seperti berkebun ataupun bersawah, kakek merasa terpanggil oleh gunung-gunung, burung-burung karena keindahannya.” Suatu ketika, kakek bercerita padaku saat kami sedang memancing di Danau Lut Tawar.
Hingga sekarang ini, kakek masih saja menulis puisi. Walaupun sudah tak serajin dulu, sebab kesibukan beliau yang mengurus masjid di kampung kami tepatnya di Kemili. Pernah suatu ketika, saya bertanya pada kakek mengenai pendapatnya mengenai didong sekarang ini dengan didong zaman beliau. Beliau menjawab dengan nada kecewa bahwa didong sekarang ini, tidaklah sama seperti didong pada masa beliau masih muda dulu. Jika sekarang ini kakek perhatikan, adab para pedidong sudah berkurang. Di dalam menembangkan sebuah lagu didong itu, sebenarnya haruslah memliki suatu ciri khas.  Menembangkan didong, harus ada ciri-ciri yang mengikutinya seperti Guk, Jangin, Denang, Sarik, dan Tuk. Tanpa kelima unsur itu, didong yang akan ditembangkan akan salah di mengerti. Misalnya didong yang seharusnya bernada sedih, akan terdengar gembira kalau tidak ada kelima unsur tersebut. Dan menurut kakek, kelima unsur inilah sekarang ini sudah sangat jarang terdengar ada digunakan oleh pedidong.
Juri Didong Jalu, Ibrahim Kadir
Juri Didong Jalu, Ibrahim Kadir
 Kakek banyak berbagi cerita pengalamannya padaku, seperti pengalaman beliau lainnya pada masa pemberontakan. Ketika beliau sedang berdidong, mengisi acara pernikahan di sebuah kampung. Tiba-tiba terdengar suara tembakan, dari pemberontak Pasukan Islam Merdeka. Saat itu, grup didong kakek dengan grup lawannya sontak berlarian. Para penonton menjerit histeris dan semuanya menunduk. Pengalaman itu, tidak akan pernah dilupakan kakek dan teman-teman kakek yang merupakan seniman Gayo juga seperti Sali Gobal, Ceh Tujuh, Ceh Semaun, Ceh Lakiki, Ceh Damha, Ceh Win Kul, Ceh Apit, M. Din, Abdul Rauf, dan Ceh To’et.  Selain berdidong dan penulis syair, kakek juga piawai dalam hal lainnya seperti menari (Tari Guel), membuat lagu, seperti lagu tingkis, batil, gere mukunah, emun beriring, bebalun berukir dan masih banyak lagi. Lagu-lagu kakek, sebagiannya lagi juga diaransement langsung oleh maestro Gayo Alm. Ar. Moese.
Kakekku adalah debar banggaku, selain kepiawaiannya dalam hal mencipta ternyata kakekku juga piawai dalam ber-acting. Hal ini dibuktikan dengan keterlibatannya dalam sebuah film. Film yang kakekku pernah mainkan yaitu film Tjoet Nya Dien dan Puisi Tak Terkuburkan, disutradarai oleh Garin Nugroho dan diperankan oleh berbagai artis bintang film Indonesia salah satunya seperti Christine Hakim. Film kakek lainnya ada juga Penyair dari Negeri Linge  yang distutradarai oleh  Aryo Danusiri.
Di film Puisi Tak Terkuburkan, khusus menceritakan tentang pengalaman kakek yang di penjara pada tanggal 12 Oktober 1965. Tanpa pengadilan karena dituduh sebagai komunis. Saat di penjara, kakek pertama kalinya menyaksikan bagaimana cara petugas di penjara tersebut membunuh para tahanan.
“Saya melihat para tahanan yang dipancung, hingga mayatnya bertimbun dan kemudian saya melihat, kaki mereka yang menggelepar.”
“Kupikir, kalau dia berpisah antara tubuh dengan kepala, sakit sekali rasanya. Kematian itu, memang semua. Kita mengalami mati, berpisah kepala dengan tubuh ini. Sedih rasanya, sedih, sedih sekali. Pada saat lahir, badannya utuh. Mulai dari kaki, sampai ke rambut. Diciptakan Tuhan lengkap, tapi kita menceraikannya. Ciptaan Tuhan itu! Heey, aku tidak suka dengan ciptaan ini katanya. Kemudian dia memotongnya..“  Salah satu kutipan dalam film tersebut.  Kakekku juga menciptakan puisi ketika beliau berada di dalam penjara. Salah satu puisinya berbunyi:
Sudah renggaskah rumput di halaman?
Layukah sudah pucuk terinjak manusia?
Luruhkah sudah putik-putik bunga kembang di Telaga?
Akan tetapi film ini tidak selesai dibuat, lantaran kakek yang sudah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan syuting. Beliau tidak tahan, jika harus terus mengingat kejadian-kejadian yang dialaminya selama di penjara. Namun di Film Puisi Tak Terkuburkan ini, kakek telah berhasil mendapatkan penghargaan Silver Screen Award for Best Asian Actor pada festival Film Singapura (2001) dan kakek juga berhasil mendapat penghargaan The Best Actor dalam cinefan India (2001) serta penghargaan pemeran terbaik ke-2 dalam festival Film Jokarno, Italia (2000). Itulah sekerat kisah, jalan hidup kakekku yang penuh dengan inspirasi dan motivasi untukku.  Mengajarkanku untuk terus berkarya dan semoga bisa menjadi penerus untuk melestarikan budaya Gayoku.  (Editor: Ana)
 Ridho Nazila
*Ridho Nazila, siswa kelas XI SMA N 4 Takengon dan perwakilan provinsi Aceh, mengikuti Gita Bahana Nusantara di Istana Merdeka tahun 2012 lalu.

Jongok Lut Tawar Terancam Punah

 Jongok Lut Tawar Terancam Punah

Jongok Lut Tawar Terancam Punah

Takengon-LintasGayo.co : Kerusakan ekosistem Danau Lut Tawar semakin hari semakin nyata dirasakan, penurunan kuantitas dan kualitas air berdampak pada berkurangnya populasi ikan-ikan lokal dan terancamnya beberapa jenis ikan endemik, meningkatnya tekanan akibat aktivitas masyarakat terhadap lingkungan sekitar danau juga mengancam kelestarian burung-burung yang biasa hidup di sekitar Danau Lut Tawar, salah satunya adalah Cangak (Gayo : Jongok).
Salah seorang tokoh masyarakat Toweren Toa Kecamatan Lut Tawar, Ansar. AK, sabtu 28 desember 2013 menaggapi gejala kepunahan burung jongok ini mengaku terkahir melihatnya sekitar 8 tahun silam.
“Saya tidak pernah lagi melihat burung tersebut. Semasa saya kecil dulu bukan hal yang sulit untuk mendapatkan Jongok, karena jumlahnya  pada saat itu masih banyak, tetapi sekarang jangankan menangkapnya mengidentifikasi keberadaannya pun sangat sulit,” kata Ansar. AK, pria berumur 47 tahun ini.
Kini keberadaan jongok sudah semakin langka ditemukan, bahkan dalam penelusuran LintasGayo.co bersama aktivis LSM Tajuk selama beberapa hari di bagian selatan pinggiran Danau Lut Tawar belum berhasil menemukan keberadaan Jongok.
“Menyikapi ini LSM Tajuk mulai tahun 2014 ini akan fokus pada upaya-upaya pemulihan kualitas lingkungan Danau Lut Tawar dengan beberapa aksi yang sudah direncanakan sebelumnya,” ujar Kasman salah seorang aktivis LSM Tajuk.
Menurutnya, hari ini burung Cangak/Jongok yang langka, bukan tidak mungkin di masa-masa yang akan datang juga akan kehilangan burung-burung khas lainnya yang menjadi ikon Danau Lut Tawar.
“Jika tidak ada upaya-upaya serius dari para pihak untuk menekan laju ancaman kerusakan ekosistem Danau Lut Tawar, maka semua tinggal cerita saja,” pungkas Kasman.
Penelusuran Lintasgayo.co, Cangak (Jongok) adalah spesies burung yang berukuran besar, sekitar 60 cm. Warna abu-abu coklat berangan. Iris kuning, paruh coklat, kaki coklat kemerahan. Bulu lainnya pada burung ini berwarna coklat kemerahan. Terdapat setrip hitam menurun sepanjang leher yang merah-karat khas. Punggung dan penutup sayap abu-abu, bulu terbang hitam.
Suaranya yang nyaring dan khas mewarnai kicauan burung-burung Danau Lut Tawar pada senja hari, biasanya jongok akan pulang ke sangkar ketika senja hari menjelang magrib sambil mengeluarkan suara nyaring dan khas. (A. Muperala | kha)