Search This Blog

Monday, December 9, 2013

Ketua Paguyuban Minang di Gayo Dukung Gagasan Dewan Adat Gayo

 Ketua Paguyuban Minang di Gayo Dukung Gagasan Dewan Adat Gayo

Ketua Paguyuban Minang di Gayo Dukung Gagasan Dewan Adat Gayo

Irvan Rasyid
Irvan Rasyid
Takengon-LintasGayo.co : Gagasan pembentukan Dewan Adat Gayo yang mulai mengemuka sejak acara Menatap Gayo di Takengon 7 Nopember 2013 lalu direspon positif oleh banyak kalangan, baik oleh Urang Gayo sendiri maupun sosok bersuku bangsa lain yang ada di Gayo.
Pendapat ketua paguyuban Minang Saiyo Aceh Tengah salah satunya, Irvan Rasyid kepada LintasGayo.co, Senin 10 Desember 2013 mengatakan pembentukan Dewan Adat Gayo merupakan suatu terobosan yang sangat baik.
“Kami mendukung sepenuhnya Dewan Adat Gayo tersebut, alasannya, sebagai mana yang berlaku di Aceh, Dewan ini kami yakini bisa dijadikan sebagai simbol pemersatu masyarakat adat yang ada dan berdomisili di Tanoh Gayo. Dan itu untuk kepentingan masyarakat Gayo itu sendiri,” kata Irvan Rasyid.
Dikatakan, secara umum di Aceh ada Majlis Adat Aceh (MAA) dan Wali Nanggroe, akan lebih baik di Gayo juga ada Dewan Adat Gayo yang akan menjadi perpanjangan tangan masyarakat adat yang terkait dengan kebudayaan dan sikap masyarakat dalam menghadapi berbagai hal yang terkait dengan kebudayaan Gayo.
“Kiranya pemerintah daerah dapat memberikan dukungan penuh terhadap terbentuknya Dewan Adat Gayo demi menjaga harkat dan martabat masyarakat Gayo dimanapun berada,” harap Irvan yang turut hadir di acara Menatap Gayo tersebut.
Irvan Rasyid adalah salah seorang sosok putra Minang yang lahir dan besar di Takengon. Dia sebagai pedagang seperti umumnya para perantau dari tanah Minang. Namun bedanya Irvan Rasyid juga sebagai kader partai di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) serta kader Muhammadiyah. Dalam kesehariannya banyak bergaul dengan berbagai kalangan, malah banyak yang tidak tau jika Irvan Rasyid bersuku Minang. (d’aKa)

Ibnu Hasyim: Gagasan Luar Biasa Pertemukan Saman dan Jazz

Ibnu Hasyim: Gagasan Luar Biasa Pertemukan Saman dan Jazz

Ibnu Hasyim: Gagasan Luar Biasa Pertemukan Saman dan Jazz

bupatigalusBanda Aceh–Lintas Gayo.co: Bupati Gayo Lues Ibnu Hasyim mengapresiasi gagasan luar biasa yang mempertemukan Saman Gayo dengan musik Jazz, yang kelak diharapkan dapat memperoleh pengakuan dunia

“Ini merupakan kegiatan terbaru yang sangat luar biasa dan  pertama kalinya dikolaborasi Saman Gayo dan Music Jazz,” kata Bupati Ibnu Hasyim dalam pidatonya yang disampaikan pada pelantikan pengurus HIMPEMAGAS Banda dan acara Kolaborasi Saman Gayo dan Musik Jazz di Gedung Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Sabtu lalu (7/12/2013).
Bupati juga menjelaskan kalau Tari Saman bukanlah sebagai seni yang kaku, karena saman merupakan tarian yang damai.
“Tari Saman bisa menjadi tari persahabatan yang dapat berkolaborasi dengan seni-seni tinggi seperti musik Jazz,” ujar bupati.
Untuk menjawab itu pemerintah Kabupaten Gayo Lues sedang mempersiapkan buku tentang saman, Kamus bahasa gayo dan pertunjukan tari saman dengan 5000 penari untuk mencapai rekor MURI pada Maret mendatang.
“Kami akan membuat buku tentang saman, kamus bahasa gayo dan Gayo Lues akan mengadakan saman dengan jumlah penari 5000 orang” kata Bupati.
Selain itu, kamus Gayo dipersiapkan agar tari Saman bisa ditarikan oleh masyarakat dunia dengan menggunakan bahasa Gayo.
“Dan akan kami persiapkan pula pelatih-pelatih saman Gayo yang memiliki sertifikasi,” lanjut Ketua Golkar Gayo Lues tersebut.
Acara ini dibuka oleh Gubernur Aceh yang diwakili Kepala Dinas Parawisata Banda Aceh Adami Umar,dan dihadiri sejumlah tokoh Drs Hasmani M.Pd,Tokoh masyarakat Gayo Lues Profesor Abubakar Karim, Guru Besar UI dan Staf Ahli Gubernur Lemhanas Prof.Yeni, dan sejumlah tamu dari mancanegara.(Andi Rahman)

Sunday, December 8, 2013

Ibnu Hasyim : Idealnya Dewan Adat Gayo mesti Kelar Akhir Januari 2014

 Ibnu Hasyim : Idealnya Dewan Adat Gayo mesti Kelar Akhir Januari 2014

Ibnu Hasyim : Idealnya Dewan Adat Gayo mesti Kelar Akhir Januari 2014

Bupati Gayo Lues Ibnu Hasyim (dua dari kanan) saat bertemu perwakilan inisiator pembentukan Dewan Adat Gayo di Banda Aceh, 7 Desember 2013. (LGco-Windo)
Bupati Gayo Lues Ibnu Hasyim (dua dari kanan) saat bertemu perwakilan inisiator pembentukan Dewan Adat Gayo di Banda Aceh, 7 Desember 2013. (LGco-Windo)
Banda Aceh-LintasGayo.co : Bupati Gayo Lues Ibnu Hasyim secara pribadi sangat menyayangkan ditundanya pembahasan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) sekaligus pertanda resminya terbentuk Dewan Adat Gayo yang semestinya dilaksanakan 7 Desember 2013.
“Jika tahap pembentukan telah selesai, sebenarnya kita sudah bisa melanjutkan ketahapan berikutnya,” kata Bupati yang dikenal sangat bersemangat jika diajak bicara soal adat budaya Gayo ini saat ditemui LintasGayo.co di Banda Aceh, Minggu malam 7 Desember 2013.
Pun demikian, kata dia, pergerakan yang diinisiasi oleh kawan-kawan dari Aceh Tengah dan Bener Meriah ini sangat brilian. “Kita sambut antusias dan kondisi ini bisa kita maklumi, karena selain persiapan-persiapan untuk penyelenggaraan acaranya, kita juga membutuhkan sinkronisasi antar masing-masing wilayah baik dari Aceh Tengah, Gayo Lues maupun Bener Merih serta daerah lainnya,” ujar Ibnu.
Penilaian dia setelah melihat tanggal yang sudah mendekati tgl 15 Desember, dirinya tidak terlalu yakin jika upaya melakukan pembentukan Dewan Adat Gayo dilaksanakan di bulan Desember ini dengan pertimbangan banyak hal, khususnya pendanaan.
“Walaupun proses pembentukannya tertunda, kita berharap semua terus begerak untuk mematangkan persiapan guna menyongsong pembentukan Dewan Adat Gayo dimaksud,” katanya bersemangat.
Ditanya soal kapan idealnya Dewan Adat Gayo harus dibentuk Ibnu Hasyim menjelaskan, sesuai dengan rencana semula bahwa acara pelantikan Dewan Adat Gayo ini dapat dilaksanakan bertepatan Seminar Linge yang akan diselenggarakan di Gayo Lues yang puncaknya pada tanggal 11 Maret 2013.
“Jadi kita berharap Dewan Adat Gayo ini bisa terbentuk sebelum itu dan karena pertimbangan dana, idealnya bisa kita bentuk pada pertengahan atau akhir Januari 2014,” saran Ibnu Hasyim.
Dia dengan tegas menyatakan komitmennya jika Gayo Lues siap sebagai tuan rumah pada acara pembentukan Dewan Adat Gayo ini. “Kami dari Gayo Lues siap untuk menjadi tuan rumah

Peresmian Dewan Adat Gayo Tertunda, Ini Kata Perwakilan Inisiatornya


Peresmian Dewan Adat Gayo Tertunda, Ini Kata Perwakilan Inisiatornya

Peresmian Dewan Adat Gayo Tertunda, Ini Kata Perwakilan Inisiatornya

Bazaruddin Banta Mude saat sampaikan pandangannya tentang pentingnya Dewan Adat Gayo di acara Menatap Gayo, Kamis 7 Nopember 2013 lalu. (LGco-Izal)
Bazaruddin Banta Mude saat sampaikan pandangannya tentang pentingnya Dewan Adat Gayo di acara Menatap Gayo, Kamis 7 Nopember 2013 lalu. (LGco-Izal)
Banda Aceh-LintasGayo.co : Rencana pembentukan Dewan Adat Gayo yang harusnya tuntas hingga 7 Desember 2013 terpaksa ditunda hingga beberapa waktu kedepan, hal ini dimaksudkan untuk mengakomodir beberapa hal yang berkembang terkait gagasan yang diamanahkan bersama oleh para inisiator yang hadir di acara Menatap Gayo, di hotel Linge Land Takengon, Kamis 7 Nopember 2013 lalu,
“Persiapan untuk pembentukan lembaga sebesar ini tidaklah mudah dan perlu persiapan yang lebih matang, maka pembentukan Dewan Adat Gayo yang seharus nya telah terbentuk hari ini (07 Desember 2013 – red) belum dapat kita laksanakan, namun kita para inisiator terus melakukan persiap-persiapan baik tentang draft AD/ART serta susunan pengurus,” kata salah seorang inisator, Bazaruddin Banta Mude di Banda Aceh, Sabtu 7 Desember 2013.
Selain itu kata dia, secara marathon para inisiator yang terus bertambah jumlahnya tanpa henti melakukan konsolidasi dan koordinasi berkaitan hal tersebut kepada beberapa Tokoh Gayo.
“Hal seperti ini biasa terjadi namun yang terpenting adalah semangatnya tidak boleh hilang, karena kalau tidak kali ini dan bukan kita Urang Gayo yang terus menjaga dan membentengi diri kita siapa lagi, apa mungkin orang dari Irian sana yang kita minta dan kita harap melakukannya,”kata mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka ini.
Selanjutnya Bazaruddin menambahkan keberadaan Dewan Adat Gayo bukanlah untuk kepentingan seseorang maupun golongan, namun Dewan Adat Gayo adalah milik dan dibentuk untuk kepentingan masyarakat Gayo dimanapun berada, jadi segala upaya maupun langkah-langkah yang dilakukan dalam persiapan serta pembentuk Dewan Adat ini harusnya mendapat dukungan dari semua kalangan.
Diakhir penjelasannya Bazaruddin yang didampingi sejumlah inisiator lainnya itu menyatakan jika diakui tentu masih banyak kalangan masyarakat gayo yang belum memahami fungsi dan manfaat Dewan Adat Gayo.
“Mari bersama-sama kita menularkan semangat positif kepada siapapun agar sosialisasi tentang keberadaan Dewan Adat Gayo bisa terlaksana dengan baik dan pembentukan Dewan Adat Gayo ini dapat terealisasi secepatnya,” himbau Bazaruddin. (WD)

Thursday, December 5, 2013

Kata M Jusin Saleh, Ada 4 “Ulu ni Tari” di Gayo Lut

 Kata M Jusin Saleh, Ada 4 “Ulu ni Tari” di Gayo Lut

Kata M Jusin Saleh, Ada 4 “Ulu ni Tari” di Gayo Lut

M Jusin Saleh
M Jusin Saleh
Takengon-LintasGayo.co : Tari asli Gayo di Aceh Tengah dan Bener Meriah atau disebut Gayo Lut itu pada dasarnya ada 4 macam dengan dasar penciptaan tersendiri sesuai dengan keadaan tertentu dalam hidup masyarakat Gayo. Demikian diterangkan tokoh seni Gayo, M. Jusin Saleh di Takengon, Kamis 5 Desember 2013.
Keempat tari yang disebut sebagai “Ulu ni Tari” (dasar tari) tersebut diantaranya tari Seneng, tari Turun Ku Lut, tari Cincang Nangka dan tari Guru Didong. Selanjutnya dijelaskan M Jusin Saleh, tari Seneng dilakukan pada mulanya saat mendirikan rumah yang ditarikan satu orang saja.
“Penari Seneng menari di atas ampang dan diatas tiang rumah sebelum di beri dinding dan atap. Tari ini butuh keahlian menyeimbangkan badan karena berbahaya,” kata M Jusin. Jika ingin tanya bagaimana menarikannya tanya ke Arifin Banta Cut, kerabat kejurun Syiah Utama, dia sempat menyaksikan tari tersebut. Timpal M Jusin.
Dalam perkembangannya, tari Seneng dilakukan saat acara kebesaran kerajaan atau pemerintahan. Filosofinya, segala kegiatan yang diprogramkan disiapkan lebih dahulu segala sesuatunya. “Tari Seneng pertanda sesuatu program sudah layak untuk dimulai, Asal muasal tari ini adalah tari Ni Wo,” terang M Jusin.
Selanjutnya tari Turun Ku Lut, menurutnya adalah tari yang dilakukan saat mengevaluasi atau menilai kebijakan seorang Raja dalam memimpin selama 1 tahun.
Dalam hal ini, tarian diiringi dengan pembacaan penilaian oleh para Sagi Pendari (satu orang tokoh masyarakat di satu Kampung yang memilih raja) tentang apa keluhan masyarakatnya selama 1 tahun.
Proses tari Turun Ku Lut biasanya diakhiri dengan memandikan raja ke sungai atau ke danau Lut Tawar pertanda kesalahan yang terdahulu sudah diakui sang raja dan memulai kembali pemerintahannya dengan menampung aspirasi yang disampaikan Sagi Pendari.
Ditanya kenapa Sagi Pendari yang menyampaikan koreksi kepada Raja, M Jusin menegaskan karena sang Raja dipilih Sagi Pendari. “Raja di Gayo tidak dipilih oleh Raja yang berkuasa, namun oleh Sagi Pendari,” kata dia.
Contoh kasus ini pernah terjadi di Kerajaan Bukit menjelang kemerdekaan RI. Saat itu mestinya Reje Maun yang berkuasa, namun karena usianya masih sangat muda akhirnya Sagi Pendari memilih Reje Ilang sebagai Reje Bukit hingga proklamasi kemerdekaan RI.
Tari Gayo selanjutnya adalah tari Cincang Nangka. Tarian ini perlambang keadaan sedang kacau, negeri sedang ada masalah. Dan terakhir, tari Guru Didong yang biasanya dilakukan sebagai tarian pembuka acara bergembira. “Tari Guel, termasuk dalam kategori tari Guru Didong,” kata M Jusin.
Gerakan tari Guel tidak cocok menyambut tamu
Gerakan tari Guel sangat tidak cocok ditarikan untuk menyambutan tamu. Demikian ditegaskan M Jusin Saleh. Pasalnya, dasar adanya tari Guel adalah ekspresi seni saat menaklukkan Gajah Putih, seekor hewan dalam sejarahnya akan diberikan oleh Reje Linge kepada Raja Aceh.
“Bagaimana bisa, tari menaklukkan hewan dilakukan untuk menyambut tamu, terlebih seorang pejabat sekelas presiden,” ujar M Yusin. Dia meminta agar segera dilakukan upaya-upaya menggali kembali tari-tari Gayo agar lestari, bukan saja dari gerakan dan iringan musik, namun juga filosofinya agar tidak salah penempatan.
“Penjelasan saya ini menurut hasil penelusuran dan pengkajian saya pribadi serta diskusi dengan berbagai pihak selama bertahun-tahun. Saya siap berdiskusi membahas adat, seni dan budaya Gayo,” kata M Jusin Saleh yang mengaku sedang menyiapkan sejumlah buku tentang adat dan budaya Gayo. (Kha A Zaghlul)

Penetapan Pemenang Lomba Disain Logo dan Bendera Dewan Adat Gayo

 Penetapan Pemenang Lomba Disain Logo dan Bendera Dewan Adat Gayo

Penetapan Pemenang Lomba Disain Logo dan Bendera Dewan Adat Gayo

Setelah dilakukan penilaian oleh tim juri bertempat di Takengon, Kamis 5 Desember 2013 terhadap disain logo dan bendera yang dikirimkan kepada panitia lomba disain logo dan bendera Dewan Adat Gayo maka ditetapkan logo karya Ihwan yang beralamat di Medan Sumatera Utara sebagai Pemenang.
K_5_Logo_DAG_2_Wan Art
Pemenang lomba disain Logo Dewan Adat Gayo, karya Ihwan beralamat di Medan Sumatera Utara
Selanjutnya untuk disain bendera Dewan Adat Gayo, para juri yang terdiri dari M Yusin Saleh, Mirda Alimi dan Julihan Darussalam memutuskan  tidak ada yang ditetapkan sebagai pemenang.
Berita Acara penetapan dewan juri dapat diunduh di BERITA ACARA Penetapan Pemenang Lomba Disain Logo dan Bendera Dewan Adat Gayo

Ini 21 Kandidat Logo dan Bendera Dewan Adat Gayo

 Ini 21 Kandidat Logo dan Bendera Dewan Adat Gayo

Ini 21 Kandidat Logo dan Bendera Dewan Adat Gayo

Takengon-LintasGayo.co : Sebanyak 21 disain logo dan bendera diikutsertakan dalam sayembara/lomba disain logo dan bendera Dewan Adat Gayo yang pengirimannya dibuka sejak 16 Nopember hingg 3 Desember 2013.
Berikut ke-21 logo dan bendera tersebut yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia :
21. Karya Ridwan Fuady M (Bandung)
K_21_logo-dewan-adat-gayo_Ridwan-Fuady-MK_21_bendera-dewan-adat-gayo_Ridwan-Fuady-M
20. Karya Eko Setiawan (Jember, Jawa Timur)
K_20_LOGO-DAG_Eko-SetiawanK_20_BENDERA-DAG_Eko-Setiawan
19. Karya Asnawi (Takengon, Aceh Tengah)K_19_logo-dag-8_Asnawi
18. Karya Situr Kuswantoro (Surakarta) :K_18_Logo-2-Gayo_Situr-KuswantoroK_18_Bendera-2-Gayo_Situr-Kuswantoro
17. Karya Hardiatha (Jakarta Timur) :
K_17_Ardhi-Design-Art-Logo-03K_17_Ardhi-Design-Art-Bendera-3
16. Karya Muammar Jufriandi (Banda Aceh) :
K_16_Muammar-Desain-LogoK_16_Muammar-Desain-Bendera
15. Karya Situr Kuswantoro (Surakarta) :
K_15_Logo-1-Gayo_Situr-Kuswantoro(1)K_15_Bendera-1-Gayo_Situr-Kuswantoro(1)14. Karya Pesga (Aceh Tengah) :
K_14_BENDERA-DAG_PesgaK_14_LOGO-DAG_Pesga
13. Adiet Firmansyah (Jember-Jawa Timur) :
K_13_Logo-DAG_Adiet-Firmansyah12. Karya Ari Wantona (Takengon, Kab. Aceh Tengah)
K_12_Bendera-Kedua_Ari-Wan-TonaK_12_kedua-Logo_Ari-Wan-Tona
11. Karya Asnawi (Gelelungi, Kab. Aceh Tengah) :
K_11_logo-dag-5_Asnawi
10. Karya karya Sovian Alim (Sadang Serang, Bandung) :
Logo-gayo-01_Sovian-AlimLogo-gayo-02_Sovian-Alim
9. Karya Hardiatha (Jakarta Timur) :
Ardhi-Design-Art-Logo-02Ardhi-Design-Art-Bendera-2
8. Karya Ihwan (Medan)
Logo_DAG_3_Wan-ArtBendera_DAG_3_Wan-Art
7. Karya Hardiatha (Jakarta Timur) :
Ardhi-Design-Art-Logo-01Ardhi-Design-Art-Bendera-1
6. Karya Eko Setiawan (Jember Jawa Timur :
Logo-DAG_Eko_setiawanBendera-DAG_eko_setiawan
5. Karya Ihwan (Medan)
Logo_DAG_2_IhwanBendera_DAG_2_Ihwan
4. Karya Asnawi (Takegon, Aceh Tengah)
LOGO-DAG-4_AsnawiDAG-bendera-4_Asnawi
3. Arief Santoso (Yogyakarta) :
logo_bendera_adatgayo_3_ariefsantoso
2. Karya Ihwan (Medan) :
Logo_DAG_1_Wan-ArtBendera_DAG_1_Wan-Art

1. Karya Ari Wantona (Takengon, Aceh Tengah) :
K_1_logo-DAG_Ari-WantonaK_1_Bendera-DAG-Ari-Wantona