Search This Blog

Sunday, July 14, 2013

BENCANA ALAM MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’AN

BENCANA ALAM MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’AN


BENCANA MENURUT PERSPEKTIF AL-QUR’AN
A.    Pendahuluan
Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang pandangan al-Qur’an mengenai bencana, yang meliputi bentuk-bentuk bencana serta Penyebab dan maksud diturunkannya bencana tersebut.
Pembahasan akan dimulai dengan penjelasan secara sepintas mengenai makna bencana, kemudian barulah masuk ke dalam pembahasan pokok dari makalah ini, seperti term-term yang dipakai al-Qur’an untuk menunjukkan bencana, bentuk-bentuk bencana, Penyebab dan maksud diturunkannya bencana. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jauh, penulis akan merujuk ke dalam berbagai kitab tafsir seperti Tafsîr al-Misbah, Tafsîr al-Marâghiy dan Tafsîr ibn Katsîr serta berbagai kitab tafsir lainnya. Khusus untuk menjelaskan berbagai istilah-istilah penting  yang berhubungan dengan ayat al-Qur’an penulis akan lebih banyak merujuk ke dalam kitab Mufradât Alfâdz al-Qur’ân karya al-Ashfahâniy.
B.     Bencana dan Pembagiannya
1.      Pengertian Bencana
Bencana  secara etimologis adalah sesuatu yang menyebabkan dan menimbulkan kesusahan, kerugian, penderitaan, malapetaka, kecelakaan dan marabahaya, dan dapat juga berarti  gangguan, godaan serta tipuan.[1] Kata bencana selalu identik dengan sesuatu dan situasi negatif yang dalam bahasa Inggris sepadan dengan kata disaster. Disaster berasal dari Bahasa Yunani, disatro, dis berarti jelek dan astro yang berarti peristiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi.
1
 
Pengertian bencana atau disaster menurut Wikipedia: disaster is the impact of a natural or man-made hazards that negatively effects society or environment[2] (bencana adalah pengaruh alam atau ancaman yang dibuat manusia yang berdampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan).
Dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dijelaskan bahwa Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.[3]
2.      Bentuk-bentuk Bencana
Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dijelaskan beberapa macam bencana diantaranya:
a.       Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.[4]
Menurut G. Bankoof, bencana alam adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. menurutnya Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka.[5]
b.      Bencana nonalam, yaitu bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian  peristiwa  nonalam  yang  antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
c.       Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror.[6]
3.      Bencana Menurut Perspektif al-Qur’an
a.       Term-term yang Digunakan al-Qur’an untuk Mengungkapkan bencana
Di dalam al-Qur’an, terdapat beberapa istilah yang memiliki kaitan erat dengan bencana ini, di antaranya adalah mushîbah, balâ’, ’iqab dan fitnah dan ‘adzâb, sayyiât, ba’s, dharra’.
Kata musibah berasal dari bahasa Arab, مصيبة, yaitu dari kata اصاب - يصيب  yang berarti “sesuatu yang menimpa atau mengenai”. Kata اصاب ini digunakan untuk yang baik dan yang buruk (وأصاب: جاء في الخير والشر).[7] Menurut al-Râghib al-Asfahâniy, asal makna kata mushîbah (مُصِيْبَةٌ) adalah lemparan (al-ramiyyah), kemudian penggunaannya lebih dikhususkan untuk pengertian bahaya atau bencana, seperti yang beliau ungkapkan berikut ini: والمصيبة أصلها في الرمية، ثم اختصت بالنائبة[8] . Ibn Manzhur juga mengartikan mushîbah dengan sesuatu yang menimpa berupa bencana.[9]
Di dalam tafsir Ruh al-Bayân, Isma’il Haqqiy mendefinisikan mushîbah dengan “apa saja yang menimpa manusia, berupa sesuatu yang tidak menyenangkan” ({مُّصِيبَةٌ} هي ما يصيب الإنسان من مكروه).[10]
Sedangkan menurut hadîts Nabi, yang dimaksud dengan mushîbah adalah segala sesuatu yang tidak menyenangkan bagi orang yang beriman. Sebagaimana pada hadîts berikut:
روى عكرمة أن مصباح رسول الله صلى الله عليه وسلم انطفأ ذات ليلة فقال : " إنا لله وإنا إليه راجعون" فقيل : أمصيبة هي يا رسول الله ؟ قال : "نعم كل ما آذى المؤمن فهو مصيبة".[11]
Artinya:
“Ikrimah meriwayatkan bahwa pada suatu malam lampu Rasul Allah Saw pernah mati, lalu beliau membaca: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُوْنَ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami kembali). Para sahabat bertanya: “Apakah ini termasuk musibah hai Rasulullah?” beliau menjawab, “Ya, apa saja yang menyakiti orang mukmin disebut musibah.”
Al-Qur'an menggunakan kata mushîbah untuk sesuatu sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia. Di dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa musibah merupakan sesatu yang menimpa karena ulah manusia dan atas izin Allah. Ini seperti ditegaskan oleh firman Allah:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيْرٍ. [الشورى، 42: 30]
Artinya:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [QS. asy-Syura (42): 30]
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. [التغابن، 64: 11]
Artinya:
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali atas izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. at-Taghabun (64): 11]
Sedangkan kata balâ’, pada dasarnya  berarti nyata/tampak,[12] seperti firman Allah:
 يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِلُ. [الطارق، 86: 9]
Artinya:
“Pada hari dinampakkan segala rahasia.” [QS. ath-Thariq (86): 9]
Sesuatu bencana disebut dengan balâ’, karena dengan bencana tersebut dapat menampakkan kualitas keimanan seseorang. Atau dengan kata lain balâ’ juga diartikan dengan ujian[13] (berasal dari kata bala-  yablu)  sehingga dengan adanya bencana tersebut dapat menguji mana yang beriman dan mana yang tidak.  Dari beberapa ayat yang menggunakan kata bala’ dalam berbagai bentuknya dapat diperoleh beberapa hakekat berikut:
1)      Balâ’ (ujian) adalah keniscayaan hidup. Itu dilakukan Allah, tanpa keterlibatan manusia yang diuji dalam menentukan cara dan bentuk ujian tersebut. Yang menentukan cara, waktu, dan bentuk ujian adalah Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:
اَلَّذِي خَلَقَ اْلمَوْتَ وَالحْيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ العَزِيْزُ الْغَفُوْرُ. [الملك، 67: 2]
Artinya:
“(Dia) Yang menciptakan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu (melakukan bala’), siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” [QS. al-Mulk (67): 2]
Karena balâ’ adalah keniscayaan bagi manusia mukallaf, maka tidak seorang pun yang luput darinya. Semakin tinggi kedudukan seseorang semakin berat pula ujiannya, karena itu ujian para nabi pun sangat berat. Dikarenakan balâ’ adalah keniscayaan hidup, maka ada pula balâ’ (ujian) tersebut berupa sesuatu yang menyenangkan. Adapun contoh dari balâ’ (ujian) yang menyenangkan adalah anugerah yang diberikan Allah kepada Nabi Sulaiman yang menyadari bahwa fungsi nikmat tersebut adalah sebagai ujian.
هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ. [النمل، 27: 40]
Artinya:
“Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk menguji aku (melakukan bala’), apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” [QS. an-Naml (27): 40]
2)      Anugerah/nikmat yang berupa ujian itu, tidak dapat dijadikan bukti kasih Allah sebagaimana penderitaan tidak selalu berarti murka-Nya. Hanya orang-orang yang tidak memahami makna hidup yang beranggapan demikian. Hal ini antara lain ditegaskan-Nya dalam QS. al-Fajr (89): 15-17:
فَأَمَّا اْلإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاَهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ. وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلاَهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ. كَلاَّ بَل لاَّ تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ. [الفجر، 89: 15-17]
Artinya:
“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka ia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim.” [QS. al-Fajr (89): 15-17]
3)      Balâ’ (ujian) yang menimpa seseorang dapat merupakan cara Allah mengampuni dosa, mensucikan jiwa, dan meninggikan derajatnya. Dalam perang Uhud tidak kurang dari tujuh puluh orang sahabat Nabi Muhammad saw yang gugur. Al-Qur'an dalam konteks ini membantah mereka yang menyatakan dapat menghindar dari kematian sambil menjelaskan tujuannya:
قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحَّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ. [آل عمران، 3: 154]
Artinya:
“Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumah kamu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji (melakukan bala’) apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” [QS. Ali Imran (3): 154]
Adapun kata yang satu turunan dengan kata fitnah dalam al-Qur’an mengandung banyak arti, di antaranya:
1)      Membakar dalam neraka, membakar dalam arti dimasukkan ke dalam
2)      Menyiksa atau siksaan
3)      Kesesatan atau dosa
4)      Gila
5)      Serta Ujian atau cobaan, baik berupa nikmat maupun kesulitan.[14]
Arti fitnah yang terakhir itulah yang kemudian akan digunakan untuk memahami makna bencana dalam al-Qur’an.
وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ. [الأنفال، 8: 28]
Artinya:
“Dan ketahuilah, bahwa harta kamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan (fitnah) dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. al- Anfal (8): 28][15]
Bahkan pada QS. al-Anbiya’: 35 Allah mempersamakan antara kata balâ’ dan fitnah. Allah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوَكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ. [الأنبياء، 21: 35]
Artinya:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan  menguji kamu (melakukan bala’) dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan/ fitnah (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” [QS. al-Anbiya’ (21): 35]
Ini berarti bahwa fitnah/cobaan diturunkan Allah sebagai peringatan, dan tentu saja apabila peringatan tidak juga diindahkan—setelah berkali-kali— maka adalah wajar menjatuhkan tindakan yang lebih keras. Dalam konteks uraian tentang fitnah, al-Qur'an menggarisbawahi bahwa fitnah tidak hanya ditimpakan kepada orang-orang kafir/zalim saja, melainkan juga  kepada mereka yang taat kepada-Nya:
وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ. [الأنفال، 8: 25]
Artinya:
“Dan peliharalah diri kamu dari pada siksaan (fitnah) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksa-Nya.” [QS. al-Anfal (8): 25]
Ayat di atas menggunakan tiga kata yang kesemuanya dapat berarti sesuatu yang tidak menyenangkan. Yaitu kata fitnah, tushibanna yang seakar dengan kata mushîbah, serta ‘iqâb yang terambil dari kata ‘aqiba yang berarti belakang/kesudahan. Kata ‘iqab digunakan dalam arti kesudahan yang tidak menyenangkan/ sanksi pelanggaran. Berbeda dengan ‘aqibah/ akibat yang berarti dampak baik atau buruk dari satu perbuatan. Dan dari ayat di atas dapat difahami bahwa fitnah dapat menimpa orang yang tidak bersalah.[16]
Beberapa kesimpulan yang dapat dipetik dari ayat-ayat di atas, antara lain adalah bahwa musibah terjadi atau menimpa manusia akibat kesalahan manusia sendiri, bala’ merupakan keniscayaan dan dijatuhkan Allah SWT, walau tanpa kesalahan manusia. Adapun fitnah, maka ia adalah bencana yang dijatuhkan Allah dan dapat menimpa yang bersalah dan tidak bersalah.
Di samping tiga istilah kunci di atas penulis juga akan menelusuri ayat-ayat yang mengungkap bencana ini lewat kata-kata yang berhubungan langsung bencana tersebut seperti  سيل، طوفان، رجفة، صاعقة (banjir, topan, gempa, petir).
b.      Bentuk-bentuk Bencana yang Terdapat al-Qur’an
Di dalam al-Qur’an telah diisyaratkan berbagai bencana yang pernah terjadi, di antaranya adalah bencana alam, bencana non alam serta bencana kemanusiaan.
Di antara bencana alam yang pernah dijelaskan al-Qur’an adalah banjir, topan,  gempa dan petir dan hujan batu.
1)      Banjir dan topan
Di dalam al-Qur’an istilah banjir disebutkan dengan istilah al-sail. Menurut al-Ashfahâniy, kata al-Sail secara bahasa merupakan mashdar dari kata سال yang penggunaannya digunakan untuk menunjukkan air yang melanda manusia, yang –air tersebut bukan- dari hujan ([17]سال... والسيل أصله مصدر، وجعل اسما للماء الذي يأتيك ولم يصبك مطره), dan bentuk jamak dari kata al-sail adalah al-suyûl.[18]
Selain itu istilah banjir juga digunakan dengan istilah طوفان dan طغى الماء . Kata thûfân adalah segala peristiwa atau kejadian yang meliputi/mengepung. Maka banjir juga disebut dengan thûfân karena air yang datang waktu itu memang mengepung manusia. Ini penulis simpulkan dari Mufradat Alfadz al-Qur’an, seperti pada kutipan berikut ini:
 “والطوفان: كل حادثة تحيط بالإنسان، وعلى ذلك قوله: {فأرسلنا عليهم الطوفان} [الأعراف/133]، وصار متعارفا في الماء المتناهي في الكثرة لأجل أن الحادثة التي نالت قوم نوح كانت ماء[19]
Sedangkan طغى الماء /air yang melampaui batas juga dapat diartikan dengan banjir. Pada Kata tagha berarti melampaui batas di dalam kemaksiatan (تجاوز الحد في العصيان). Istilah tagha ini tidak hanya dikhususkan kepada manusia, melainkan juga air. Maka banjir dapat juga disebut sebagai air yang melampaui batas kewajaran. Ini penulis fahami dari kutipan berikut ini:
أن الطغيان لا يخلص الإنسان، فقد كان قوم نوح أطغى منهم فأهلكوا. وقوله: {إنا لما طغى الماء} [الحاقة/11]، فاستعير الطغيان فيه لتجاوز الماء الحد، وقوله: {فأهلكوا بالطاغية} [الحاقة/5]، فإشارة إلى الطوفان المعبر عنه بقوله: {إنا لما طغى الماء} [الحاقة/11][20]
“… tughyân tidak terbatas dilakukan oleh manusia, dan sungguh kaum Nuh  mereka ditimpa oleh sesuatu yang berlebihan, yang menyebabkan mereka hancur, seperti firman Allah {إنا لما طغى الماء} [الحاقة/11], dan kata tughyan dipakai untuk air yang melampaui batas, seperti pada ayat  {فأهلكوا بالطاغية} [الحاقة/5], maksudnya adalah thûfân. Seperti pada ayat: {إنا لما طغى الماء} [الحاقة/11]
Di dalam al-Qur’an terdapat beberapa kisah yang erat kaitannya dengan banjir ini. Di antaranya adalah banjir yang terjadi pada masa Nabi Nuh, Umat Nabi Musa  dan bangsa Saba’
1)      Banjir Zaman nabi Nuh
Peristiwa Banjir yang menimpa umat nabi Nuh digambarkan oleh ayat berikut:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ
Artinya:
Dan Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya, Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. 29:  14
Umat nabi Nuh ditimpa oleh banjir yang sangat dahsyat, sehingga digambarkan di dalam surat (QS. Hud: 42) bahwa gelombang pada waktu itu menyerupai sebuah gunung.[21] Demikianlah gambaran betapa dahsyatnya banjir yang terjadi di waktu itu.
Adapun penyebab dari banjir ini, dijelaskan oleh ujung ayat, bahwa semua itu terjadi akibat kezaliman dari umat nabi Nuh itu sendiri. Secara hukum alamnya, air tersebut berasal dari dua arah yaitu air yang berasal dari air hujan serta air yang berasal dari lautan/bumi. Karena itu ketika  peristiwa banjir itu akan selesai Allah berfirman:
وَقِيلَ يَاأَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan Hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan[720] dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi[721], dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim ." (QS. Hud: 44)
Peristiwa banjir yang menimpa umat nabi Nuh ini dipahami oleh Quraish Shihab dengan bencana Tsunami, seperti bencana yang menimpa bangsa Indonesia belakangan ini. Beliau berdalil dengan QS. Hud: 40
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ وَمَنْ ءَامَنَ وَمَا ءَامَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ
“Hingga apabila perintah kami datang dan periuk telah mendidih,[22] kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang Telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.”
Kata فَارَ التَّنُّورُ /””periuk mendidih” dipahami sebagai bumi yang bergoncang (gempa terjadi serupa dengan periuk yang menggelegar karena mendidihnya air). Menurut Quraish Shihab ini menggambarkan bahwa banjir yang melanda umat Nabi Nuh didahului oleh peristiwa gempa bumi.[23] Sehingga tepat dikatakan bahwa tersebut adalah rangkaian peristiwa tsunami. 
Bagi umat nabi Nuh yang taat, tatkala air tersebut telah mencapai puncaknya, Allah menyelamatkan mereka dengan menyuruh mereka naik ke bahtera yang telah dibuat Nabi Nuh sebelumnya (QS. Al-Haqqah: 11-12)   
   
2)      Banjir Zaman Nabi Musa
Bencana banjir yang menimpa umat yang hidup di zaman nabi Musa/pendukung Fir’aun adalah seperti yang terdapat di dalam ayat berikut:
فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ ءَايَاتٍ مُفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ
Artinya
Maka kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.”(QS: al-A’raf: 133)
Menurut al-Marâghi, sebagai tanda kenabian bagi nabi Musa terhadap umatnya yang tidak patuh, maka Allah mengirimkan kepada mereka 5 buah bencana, yang salah satunya adalah thûfân. Thûfân menurut beliau adalah banjir yang sangat dahsyat yang terjadi karena hujan yang sangat lebat  dan menenggelamkan negri mereka. Hujan tersebut juga disertai dengan cuaca yang sangat dingin.[24] Bahkan Quraish Shihab menjelaskan bahwa  banjir ketika itu juga disertai dengan kilatan guntur dan api, sehingga gambaran bencana di waktu itu betul-betul sangat dahsyat.
Selain dari banjir di dalam ayat ini juga dijelaskan jenis bencana lain yang menimpa mereka yaitu berupa wabah belalang, katak dan penyakit. Sehingga pengikut Fir’aun betul-betul merasakan iqab yang sangat berat dan akhirnya mereka memohon kepada Nabi Musa untuk didoa’kan agar mereka diampuni oleh Allah (QS. al-‘A’raf: 134-135). Dan di antara dosa yang pernah dilakukan umat Nabi Musa ini adalah karena telah mempersekutukan Allah, tidak mensyukuri nikmat serta menganggap Nabi Musa sebagai orang yang membawa sial (QS. al-‘A’raf: 131).   
3)      Banjir pada masa Saba’
Kerajaan Saba’ merupakan suatu kerajaan yang hidup di bawah pimpinan ratu Saba’, yang hidup di daerah Yaman Selatan. Kerajaan ini berkuasa pada abad VIII SM, yang wilayah kekuasaannya meliputi Ethiopia dan salah satu negri yang cukup terkenal ketika itu yaitu Ma’rib dengan kandungan yang sangat besar. Pada awalnya kerajaan ini adalah sebuah kerajaan yang dianugrahi nikmat yang berlimpah, berupa kebun-kebun yang subur.[25]
Adapun yang menjadi perintah Allah bagi kaum ini yaitu supaya mereka memakan  dari rezki yang halal serta dituntut untuk mensyukuri nikmat Allah (QS. Saba’: 15). Namun justru kaum ini berpaling, sehingga Allah menghukum mereka dengan banjir yang menghancurkan seluruh ladang mereka, seperti yang dijelaskan ayat berikut:
فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ
Artinya:
Tetapi mereka berpaling, Maka kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. (QS.Saba’: 34: 16)
Di dalam ayat ini dijelaskan bahwa bencana yang ditimpakan Allah adalah sail al-‘arim. Sail berarti banjir dan kata ‘arim terdapat beberapa perbedaan penafsiran di antaranya: a. kata ini terambil dari kata ‘aramah (keras atau besar), b. ‘arim dianggap sebagai nama dari banjir tersebut, dan. c. ‘arim bermakna tempat yang dibangun untuk menampung air/bendungan.[26]
Meski terdapat perbedaan pemahaman mengenai kata ‘arim ini, namun ketiga makna ini menunjukkan jika banjir yang menimpa kerajaan Saba’ adalah banjir yang sangat dahsyat.
Adapun alasan kenapa Allah menurunkan banjir ini berdasarkan ayat berikutnya dari Surat Saba’ ini adalah karena akibat dari kekafiran manusia. (QS. Saba’:17)  
2)      Gempa
Di dalam al-Qur’an gempa disebut dengan istilah rajfah. Kata rajfah atau rajf adalah bahasa Arab yang artinya الاضطراب الشديد (goncangan yang sangat dahsyat). Kata rajfah ini dipakai untuk berbagai goncangan baik di darat maupun di laut seperti pada perkataan, “رجفت الأرض ورجف البحر” (bumi dan berguncang, dan laut berguncang).[27] Di dalam al-Qur’an penggunaan kata rajfah ini ada yang menunjukkan makna gempa, dan adapula yang bermakna goncangan dahsyat yang ada kaitannya dengan huru-hara kiamat. Di antara peristiwa gempa yang pernah diabadikan oleh al-Qur’an adalah gempa yang pernah menimpa umat Nabi Shaleh (Tsamud[28]) dan umat Nabi Syu’aib (Madyan) serta umat Nabi Musa. Adapun gempa yang menimpa umat Nabi Shaleh adalah seperti yang terdapat di dalam ayat:    
فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا يَاصَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ(77)فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
Artinya:
Kemudian mereka sembelih onta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. dan mereka berkata: "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)". Karena itu mereka ditimpa gempa, Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. (al-A’raf: 77-78)
Kepada Kaum Tsamud Allah telah mengutus seorang rasul yang bernama Shaleh. Ia diutus untuk memberi peringatan kepada umatnya yang berlaku sombong dan cenderung mengabaikan perintah Allah (Qs. Al-Dzariyat: 44).  Namun kedatangan Shaleh sebagai pembawa peringatan justru tidak membawa arti apa-apa, karena mereka tetap saja engkar, bahkan mereka menghina Shaleh dan menganggapnya sebagai seorang kadzdzab (pembohong) dan atsir (sombong).[29] Ketika keengkaran mereka semakin menjadi-jadi maka  Allah menguji mereka dengan seekor nâqah/onta. Di mana antara mereka dan onta tersebut telah di atur pembagian jatah air minum, serta mereka dilarang untuk membunuh onta tersebut, karena dengan membunuh onta tersebut akan dapat mendatangkan azab Allah.[30] Tetapi larangan ini tidak mereka acuhkan, bahkan mereka menantang Nabi Allah untuk mendatangkan azab yang telah diancamkan kepada mereka, sehingga akhirnya Allah mengazabnya dengan gempa yang sangat dahsyat, sedangkan di dalam ayat lain azab tersebut berupa sha’iqah atau shaihah wâhidah (petir). Menurut Quraish Shihab ini menunjukkan bahwa betapa besarnya petir yang terjadi waktu itu sehingga ia tidak hanya menggoncangkan hati orang yang mendengarnya namun juga dapat menggoncang bumi (gempa).[31]    
Sedangkan gempa yang menimpa umat Nabi Syu’aib adalah seperti yang dijelaskan oleh firman Allah (QS. Al-A’raf:: 91)
فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
Artinya:
“Kemudian mereka ditimpa gempa, Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka (al-A’raf: 91)
Adapun penyebab diturunkannya azab berupa gempa ini adalah karena kedurhakaan mereka terhadap Agama Allah dan perangai mereka  yang merusak tatanan sosial dengan mengurangi takaran dan timbangan dan gemar melakukan kerusakan serta berlaku sombong.  (QS. al-‘A’raf: 85). Peristiwa gempa yang menimpa umat Nabi Syu’aib ini juga ditegaskan pada ayat berikut:
فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ
Artinya:
Maka mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka. (al-Angkabut: 37)
Di dalam ayat-ayat di atas dijelaskan bahwa kondisi mereka yang ditimpa gempa tersebut sungguh sangat memprihatinkan, yaitu digambarkan dengan kata جَاثِمِينَ. Kata جَاثِمِينَ merupakan bentuk jamak dari جَاثِمِ yang bermakna tertelungkup dengan dadanya sambil melengkungkan betis sebagaimana halnya kelinci. Ini merupakan gambaran dari ketiadaan gerak anggota tubuh, atau dengan kata lain ini menggambarkan kematian.[32] Sedangkan menurut al-Biqa’iy kata جاثم bermakna kondisi terpaku dengan tidak bergerak sedikitpun.[33]
Peristiwa gempa tidak hanya melanda dua umat Nabi di atas, namun juga menimpa umat Nabi Musa, sebagaimana  digambarkan oleh ayat al-Qur’an berikut ini.
وَاخْتَارَ مُوسَى قَوْمَهُ سَبْعِينَ رَجُلًا لِمِيقَاتِنَا فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُيَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ ءَامَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya:
“Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan Taubat kepada kami) pada waktu yang Telah kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: "Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan Aku sebelum ini. apakah Engkau membinasakan kami Karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara Kami? itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah yang memimpin kami, Maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah pemberi ampun yang sebaik-baiknya".(al-A’raf: 155)
Di zaman nabi Musa, selain ditimpa oleh lima buah bencana, sebagaimana yang dijelaskan pada ayat sebelumnya, mereka juga pernah ditimpa oleh gempa. Gempa ini tidak hanya menimpa pengikut Fir’aun tetapi juga pengikut Nabi Musa. Menurut ibn ‘Abbas mereka ditimpa oleh gempa karena mereka tidak melarang kaumnya untuk menyembah anak sapi.[34] Pendapat ini juga diperpegangi oleh Muhammad ibn Ka’ab al-Qarzhiy, meskipun beliau hanya mengungkapkan bahwa umat Nabi Musa ini ditimpa musibah karena mereka tidak melaksanakan ‘amar ma’rûf.[35] Dan di dalam ayat ini juga dapat disimpulkan bahwa sesuatu yang menimpa tersebut tidak hanya sekedar azab bagi umat yang durhaka, melainkan cobaan bagi manusia secara umum. Yaitu apakah mereka akan beriman, atau justru sebaliknya, engkar setelah adanya cobaan tersebut.   
3)      Angin Badai
Angin di dalam bahasa Arab disebut dengan الريح. Ini sebagaimana yang didefenisikan oleh al-Ashfahâniy, menurutnya الريح معروف، وهي فيما قيل الهواء المتهرك[36] (al-rîh adalah istilah yang sudah populer, yaitu sebagaimana dikatakan sebagai udara yang bergerak). Kata al-rîh di dalam al-Qur’an ada yang menunjukkan angin yang membawa rahmat dan ada pula untuk menunjukkan angin yang membawa bencana. Angin yang membawa bencana di dalam al-Qur’an diungkapkan dengan kata الريح  yang disifati dengan berbagai sifat seperti قاصفا، عاسف، عقيم atau dengan kata azab. Kata ‘ashif  pada dasarnya dipakai untuk penyebutan tanaman yang hancur. Dan angin yang disifati dengan ‘ashif ini berarti angin tersebut adalah angin yang dapat menghancurkan apa saja yang mengenainya sebagai mana hancurnya tanaman.[37] Demikian juga dengan qâshif, kata ini juga berarti sesuatu yang dapat menghancurkan segala sesuatu yang dilewatinya.[38] Sedangkan ‘aqîm  bermakna gersang. Seseorang disebut dengan aqîm jika ia tidak bisa memiliki anak.[39]
 Bencana angin pernah menimpa umat terdahulu seperti angin yang melanda kaum ‘Ad,[40] sebagaimana yang terdapat di dalam ayat berikut:
وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ(6)سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَى كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ
Artinya:
”Adapun kaum ‘Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. al-Haaqqah: 69: 6-7)
Selain ayat ini, di dalam QS. Fushshilat: 16 juga memakai istilahرِيحٍ صَرْصَر. Kata صَرْصَر ada yang memahaminya terambil dari kata  al-shirr dengan meng-kasrah-kan huruf shad, yaitu angin yang sangat dingin yang menusuk ke tulang-tulang, atau dari kata al-shar dengan men-fatah-kan huruf shad, yaitu angin yang sangat panas. Adalagi yang memahami bahwa ia terambil dari kata al-sharrah yaitu bermakna suara yang sangat keras.[41] jadi angin tersebut, demikian dahsyatnya sehingga mengeluarkan suara gemuruh yang sangat keras.
Sebelum angin dingin yang kencang ini melanda kaum ‘Ad mereka menyangka bahwa angin tersebut merupakan kumpulan awan yang akan membawa hujan buat mereka, namun setelah sampai, ternyata ia adalah angin yang sangat dingin sebagai azab buat kaum tersebut, sebagaimana yang terdapat di dalam (QS.Ahqaf: 24).[42] Hal ini berlanjut selama tujuh malam delapan hari sehingga ini membuat mereka mati bergelimpangan. Di dalam ayat di atas kondisi mereka diumpamakan seperti tunggul-tunggul pohon kurma yang telah lapuk bagian dalamnya. Dan di dalam QS.al-Dzariyat digambarkan kondisi mereka tak obahnya seperti serbuk.      
وَفِي عَادٍ إِذْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الرِّيحَ الْعَقِيمَ(41)مَا تَذَرُ مِنْ شَيْءٍ أَتَتْ عَلَيْهِ إِلَّا جَعَلَتْهُ كَالرَّمِيمِ
Artinya:
Dan juga pada (kisah) Aad ketika kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasahkan. Angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. (al-Dzariyat: 41-42)
Adapun tabi’at dari kaum ‘Ad yang diungkapkan oleh al-Qur’an, sehingga mereka ditimpa oleh angin dingin ini, adalah karena mereka adalah umat yang menyombongkan diri di atas bumi (Qs. Ahqaf: 15), sedangkan di dalam Qs. Haqqah: 4 diungkapkan karena mereka umat yang mengingkari hari kiamat. Sedangkan di dalam Qs. al-A’raf: 65-72 juga diungkapkan kesalahan dari kaum ‘Ad ini, yaitu mereka umat yang tidak mengindahkan seruan Nabi Allah Hud as, bahkan mereka menganggap nabi Hud sebagai orang yang kurang akal dan menantang untuk didatangkan azab kepada mereka.
Di samping bencana angin badai yang menimpa kaum ‘Ad di dalam al-Qur’an juga dijelaskan bahwa dengan adanya angin badai  yang dingin ini, Allah juga pernah menghancurkan tentara yang merupakan musuh umat Islam. Ini merupakan salah satu nikmat Allah kepada tentara Islam waktu itu. 
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang Telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. dan adalah Allah Maha melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (QS: al-Ahzab: 9)
Peristiwa ini terjadi ketika perang Khandak/Ahdzab.[43] Di mana pada waktu itu tentara Islam yang hanya berjumlah 3.000 orang, berperang menghadapi kaum Kafir yang berjumlah 12.000  tentara. Adapun bentuk pertolongan Allah waktu itu, salah satunya adalah lewat angin kencang yang dingin. Angin ini menyerang dan merusak seluruh perbekalan yang mereka bawa.
Meskipun Umat-umat terdahulu pernah dihancurkan oleh Allah dengan angin azab, namun hal ini juga tidak tertutup akan melanda umat-umat yang hidup belakangan, terutama ketika mereka melakukan pelayaran. Di mana pada waktu itu manusia tidak bisa merasa aman dari bahaya badai yang dapat menenggelamkan kapal yang mereka tumpangi. Ini sesuai dengan ayat berikut yang mencela perilaku kaum musyrikîn yang selalu lupa diri setelah mereka diselamatkan oleh Allah dari berbagai azab, baik di daratan maupun di lautan:
أَمْ أَمِنْتُمْ أَنْ يُعِيدَكُمْ فِيهِ تَارَةً أُخْرَى فَيُرْسِلَ عَلَيْكُمْ قَاصِفًا مِنَ الرِّيحِ فَيُغْرِقَكُمْ بِمَا كَفَرْتُمْفَيُغْرِقَكُمْ بِمَا كَفَرْتُمْ ثُمَّ لَا تَجِدُوا لَكُمْ عَلَيْنَا بِهِ تَبِيعًا
Artinya:
“Atau apakah kamu merasa aman dari dikembalikan-Nya kamu ke laut sekali lagi, lalu dia meniupkan atas kamu angin taupan dan ditenggelamkan-Nya kamu disebabkan kekafiranmu. dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun dalam hal Ini terhadap (siksaan) kami.” (QS: al-Isra’: 69)
4)      Petir
Di dalam al-Qur’an petir disebut dengan istilah صاعقة. Kata صاعقة dalam bahasa Arab berarti الصوت الشديد من الجو (suara yang sangat dahsyat dari udara).[44] Di dalam al-Qur’an penggunaan kata صاعقة ini selain bermakna petir/api ada juga yang berarti kematian, seperti yang terdapat di dalam QS. Al-Zumar: 68.
Di antara peristiwa petir yang pernah diabadikan oleh al-Qur’an adalah petir yang pernah menimpa  bangsa Tsamud, umat Nabi Musa dan Kaum ‘Ad. Adapun petir yang menimpa kaum Tsamud adalah seperti yang terdapat di dalam ayat:
وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Dan adapun kaum Tsamud, Maka mereka Telah kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, Maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang Telah mereka kerjakan. (QS. Fussilat: 17)
وَفِي ثَمُودَ إِذْ قِيلَ لَهُمْ تَمَتَّعُوا حَتَّى حِينٍ(43)فَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ وَهُمْ يَنْظُرُونَ
Dan pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka: "Bersenang-senanglah kalian sampai suatu waktu. Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya, lalu mereka disambar petir dan mereka melihatnya. (Qs. Al-Dzariyat: 43-44)
Jika di dalam surat al-A’raf Allah menjelaskan bahwa bencana yang menimpa bangsa Tsamud adalah gempa, maka di dalam ayat ini disebut dengan shâ’iqah/petir. Menurut Quraish Shihab antara keduanya saling memiliki keterkaitan karena begitu kerasnya petir tersebut, sehingga ia tidak hanya menggoncangkan hati orang yang mendengar, namun juga dapat menggoncang bumi dan sekalian bangunan yang ada padanya, Atau yang kita namakan dengan gempa.[45] Jika diperhatikan pendapat Quraish Shihab ini sangat dapat diterima, mengingat, tidak hanya pada kisah Tsamud, melainkan pada kisah Musa juga demikian.[46] Di mana terkadang Allah mengungkapkan azab yang mereka terima adalah shâ’iqah/petir, dan pada ayat lain Allah mengatakannya dengan rajfah/gempa.  
Demikian dahsyatnya peristiwa ini, sehingga pada ayat lain bencana yang diterima bangsa Tsamud ini disebut dengan istilah thâghiyah (QS. Haqqah: 5), yang dapat diartikan dengan teriakan yang luar biasa menggelegar, yakni suara guntur yang bercampur dengan kilat. Sedangkan di dalam Qs. Al-Qamar: 32 bencana tersebut disebut dengan shaihah al-wahidah (suara keras yang mengguntur) sehingga menyebabkan mereka mati bergelimpangan tak obahnya seperti batang-batang yang kering lagi lapuk (hasyîm al-muhtazhir).
Adapun dosa yang dilakukan oleh bangsa Tsamud adalah seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya (ketika mereka ditimpa gempa).
Di dalam ayat lain juga dijelaskan bahwa petir yang melanda kaum ‘Ad dan Tsamud ini merupakan sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi generasi berikut, supaya mereka tidak engkar dan tidak dilanda petir seperti ini. Sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat berikut:
فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ
Artinya:
Jika mereka berpaling Maka Katakanlah: "Aku Telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Aad dan Tsamud".(QS. Fussilat: 13)
5)      Hujan Batu
Sebuah bencana yang luar biasa dahsyat yang pernah terjadi adalah hujan batu yang menimpa kaum Luth, sebagaimana yang dijelaskan QS. Hud: 82-83.
 فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ(82)مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ
Artinya:
Maka tatkala datang azab kami, kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, 83.  Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.
Ketika kaum Luth melakukan tindakan penyimpangan seksual, dan tidak lagi menghiraukan ajakan Luth (QS. al-A’raf: 80-81), maka Allah mendatangkan kepada mereka bencana yang sangat dahsyat. Allah menghancurkan negri tersebut sehancur-hancurnya dengan membalikkannya, yang di dalam ayat di atas diungkapkan dengan istilah “menjadikan yang di atasnya ke bawahnya”. Negri itu semakin hancur setelah Allah menghujani mereka dengan hujan sijjil/batu. Sijjil yaitu batu yang terbuat dari tanah, atau tanah yang bercampur air lalu membeku dan mengeras menjadi batu, sebagaimana yang disebutkan di dalam QS. Al-Dzariyat: 33 dengan sebutan hijarah min thîn. Masing-masing batu yang ditimpakan tersebut telah diberi tanda oleh Allah yang khusus dijadikan untuk menghancurkan umat Luth, yang juga melakukan perbuatan maksiat khusus/di luar fitrah. Menurut banyak ahli tafsir pada masing-masing batu tersebut telah terdapat nama-nama orang yang akan dihancurkannya. Ini sebagaimana yang ditulis oleh ibn Katsir,[47] Qurthûbiy dan mufassir lainnya.    
Di antara yang termasuk bencana yang non alam dan kemanusiaan yang dijelaskan al-Qur’an adalah:
a)     Bencana Kemanusiaan, berupa ketakutan, kela­paran dan kemiskinan seperti di dalam QS. Al-Baqarah [2]: 156
Bencana kelaparan merupakan sesuatu yang telah sering dan biasa terjadi di dalam peradaban umat manusia. Di Zaman Nabi Musa merekapun juga pernah mengalami kesusahan pangan setelah Allah mengirim kepada mereka hukuman banjir, yang diiringi wabah belalang dan kutu yang merusak tanaman mereka serta katak-katak menghancurkan persediaan logistik yang mereka miliki. Di samping itu mereka juga ditimpa oleh penyakit darah.[48]
Di antara yang dapat menyebabkan bencana kelaparan adalah terjadinya kemarau yang panjang, seperti yang terjadi pada kisah Yusuf. Di mana untuk mengatasi paceklik Yusuf mengusulkan untuk menanami tanaman sebelum masa kemarau itu datang.[49]
Bencana-bencana kekurangan pangan ini boleh jadi merupakan ujian dari Allah (Qs. al-Baqarah: 150) atau merupakan peringatan dan azab karena keingkaran yang dilakukan manusia (QS. Al-Nahl: 112).
b)  Musibah Kematian, seperti Firman Allah dalam QS. Al-Mâ’idah [5]: 106
Di dalam ayat ini Allah mengungkapkan istilah mushibah al-maût yaitu tanda-tanda akan datangnya kematian. Jika hal ini menimpa seseorang yang berada di perjalanan, ia ingin berwasiat dan tidak ada orang yang beriman, maka ia boleh menjadikan saksi selain dari orang yang beriman.
c)     Kekalahan di medan perang
Kekalahan di medan perang menurut al-Qur’an dianggap sebagai sebuah bencana. Sebagai contoh adalah apa yang menimpa umat Islam ketika perang Uhud. Di dalam perang itu tentara Islam mengalami kekalahan dan sekian banyak dari sahabat Nabi meninggal. Ketika itu turun Firman Allah (QS. Ali ‘Imran: 140-141) yang menjelaskan bahwa bencana yang dialami tentara Islam merupakan bala’ dari Allah, sehingga jelas mana yang betul-betul beriman dan mana yang tidak. 
c.       Penyebab dan Maksud Diturunkannya Bencana
Dari penjelasan dan isyarat ayat al-Qur’an, setidaknya bencana yang menimpa manusia dapat dilihat dari beberapa sudut pandang yaitu:
1)      Bencana/Musibah  tidak terjadi kecuali atas izin Allah
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ. [التغابن، 64: 11]
Artinya:
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali atas izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. al-Taghabun (64): 11]
Menurut Sayyid Quthub apa yang diungkapkan di dalam ayat ini merupakan dasar atau hakikat keimanan. Di mana segala sesuatunya terjadi adalah atas izin Allah. Sehingga seseorang yang ditimpa musibah akan sadar bahwa itu semua terjadi adalah atas kehendak Allah. Dengan ini orang yang beriman hatinya akan tetap tenang ketika terjadi bencana, sedangkan bagi yang sempat lalai mereka akan ingat kembali kepada Allah dan senantiasa mengintrospeksi diri atas kesalahan yang diperbuat. Sedangkan terhadap bagi orang yang engkar semuanya ini diturunkan oleh Allah sebagai hukuman atas apa yang telah mereka perbuat.
2)      Musibah Sebagai Dampak Kesalahan Manusia (human eror)
Manusia sebagai penyebab timbulnya musibah digambarkan dengan beberapa istilah di dalam al-Qur’an seperti: karena tangan manusia, karena kezhaliman yang mereka lakukan, karena keengkaran mereka atau dosa yang mereka lakukan, sehingga semuanya itu terjadi sebagai hukuman atas apa yang telah mereka perbuat, baik secara langsung maupun tidak. Ini seperti yang ditegaskan oleh firman Allah berikut:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيْرٍ. [الشورى، 42: 30]
Artinya:
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” [QS. al-Syura (42): 30]
Di antara bentuk perbuatan mereka tersebut adalah berbagai dosa dan kesalahan yang dilakukan manusia, sebagaimana ayat berikut:
أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
Artinya:
Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Maidah:49)
Surat al-Syura: 30, menurut ibn ‘Asyur memiliki kaitan yang erat dengan ayat ke-28, yang menguraikan tentang diturunkannya hujan setelah sebelumnya masyarakat Mekah menderita paceklik. Di sini mereka diingatkan bahwa petaka yang mereka alami adalah akibat kedurhakaan mereka terhadap Allah.[50]  Meski ayat ini secara konteks tertuju kepada kafir Mekah, namun dari segi kandungannya tertuju kepada seluruh masyarakat, kapanpun dan dimanapun.  
Maka berbagai bencana yang timbul, pada dasarnya diakibatkan oleh manusia dengan ragam dosa-dosa yang dilakukannya sendiri, al-Qur’an telah membuktikannya, bagaimana Musibah menimpa umat terdahulu karena dosa dan kekafiran mereka.
Kaum Nabi Hud mendustakan Nabinya, maka mereka dibinasahkan oleh Allah dengan angin (QS. al-Hâqqah: 69: 6-7), kaum Nabi Shaleh angkuh, kafir, dan menyembelih onta mukjizat yang tidak boleh diganggu, maka dilanda dahsyatnya bermacam-macam azab, seperti petir dan gempa (QS. Al-A’raf: 77-79), Kaum Nabi Nuh diazab oleh Allah karena kemusyrikan  dan kemaksiatan yang mereka lakukan. Mereka ditenggelamkan dengan banjir, hingga salah seorang anak Nabi Nuh sendiri, yang bernama Qan’an pun turut tenggelam karena keinkarannya, seperti disebutkan dalam surat Huud : 41-44, Kaum Nabi Luth terlibat praktek penyimpangan seksual hubungan sejenis– sehingga diazab Allah dengan hujan batu panas dan buminya dibalik, sedangkan kaum Nabi Syu’aib di Madyan penduduknya menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan akibat dihantam gempa karena telah meluasnya tindak kecurangan dalam menakar dan menimbang (al-A’raf: 85-94). Begitupun Fir’aun dan kroni-kroninya dihujani bencana beruntun dengan angin topan, belalang, kutu, kodok, dan darah, serta gempa (Al-A’raf: 133-136)
Meski manusia sebagai penyebab diturunkannya musibah, namun pada hakekatnya menurut penulis semua tetap diturunkan oleh Allah. 
3)      Bencana/Musibah bertujuan untuk menempa manusia
Al-Qur'an menegaskan bahwa:
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي أَنفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ. لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ. [الحديد، 57: 22-23]
Artinya:
“Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kamu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. al-Hadid (57): 22-23]
Jadi di samping untuk menghukum manusia-manusia yang engkar, bencana atau musibah juga dapat melatih manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang sadar. Sehingga ini dapat meningkatkan derajat mereka.
Selain itu dengan adanya bencana juga akan dapat menampakkan mana yang betul-betul hamba Allah yang beriman, dan mana mereka yang munafik.
C. Penutup
  1. Kesimpulan
Dari pembahasan singkat terhadap ayat-ayat al-Qur’an mengenai bencana dapat disimpulkan bahwa bencana yang terjadi di muka bumi ini, baik bencana alam maupun nonalam, merupakan fitnah yang diturunkan atas izin Allah. Di mana bencana tersebut tidak hanya menimpa orang-orang yang berdosa saja melainkan juga mereka yang tidak berdosa (berbuat salah). Ketika yang ditimpa itu adalah orang yang engkar, itu merupakan ‘iqab dari dosa yang ia lakukan,  sedangkan bagi yang beriman itu dapat dijadikan ujian yang akan meningkatkan derajatnya di sisi Allah. Selain itu dengan adanya bencana juga akan tampak mana yang betul-betul orang yang memihak kepada Agama Allah dan mana yang munafik.
  1. Saran
Berhubung penulis tidak sempat menelusuri seluruh ayat (beserta penafsirannya) yang di sana terdapat kata-kata yang berhubungan dengan bencana ini, maka demi keutuhan pembahasan, penulis mengharapkan juga ada  peneliti lain yang mau membahas tema ini
DAFTAR KEPUTAKAAN
Al-Ashfahâniy, Abiy al-Qâsim Al-Husain ibn Muhammad ibn Mufadhdhal, al-ma’ruf bi al-Rhâghib, Mufradât Alfâz al-Qur’ân, Damaskus: Dar al-Qalam, 2002
Al-Biqa’iy, Burhan al-Dîn abiy al-Hasan Ibrahim ibn ‘Umar,  Nazm al-Durar fi Tanâsub al-Ayat  wa al-Suwar, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1415 H
Al-Hâim, Syihab al-Dîn Ahmad ibn Muhammad al-Mishriy, Al-Tibyân fi Tafsîr Gharîb al-Qur’an, Al-Qahirah: Dar al-Shahabah al-Turats bi Thantha, 1992
Jalal al-Dîn Ahmad ibn Muhammad al-Mahalliy dan Jalal al-Dîn ‘abd  al-Rahmân ibn Abiy Bakr  al-Suyûthiy, Tafsîr Jalaian, Qahirah: Dar al-Hadîts, [t.th]
Ibn Katsîr, Abu al-Fidâ’ Ismâ’îl ibn ‘Umar al-Qursyiy al-Dimasyqiy, Tafsîr al-Qur’an al-Azhîm, Tahqiq Sami Muhammad Salamah, Majma’ al-Mulk Fahd: Dar al-Thayyibah, 1999
Al-Khalwatiy, Isma’il Haqqiy ibn Mushthafa all-Istanbûliy al-Hanafiy, Tafsîr  Ruh al-Bayân, Al-Qahirah: Dar al-Ihyya’ al-Turats, [t.th]
Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyyah,  al-Mu’jam al-Washith, Kairo: Maktabah al-Syuruq, 2004
Ibn Manzur, Al-Imam al-‘Alamah, Lisân al-Arab, Beirut: Dar al-Shadir, [t.th]
Al-Maraghiy, Ahmad Mushtafa, Tafsîr al-Maraghiy, Mesir: Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Mushthafa al-Bâbiy al-Halabiy wa Auladuhu, 1946
Al-Qurthûbiy, abiy ‘abd Allah Muhammad ibn Ahmad Ahmad abiy Bakr ibn Farah al-Anshariy al-Khazrajiy Syams al-Dîn, al-Jâmi’ li Ahkam al-Qur’an, Riyad: Dar al-Kutub, 2003
Al-Rhaziy, Muhammad ibn abi Bakr ibn ‘abd al-Qâdir, Mukhtar al-Shihah, Beirut: Maktabah Libnan  al-Nasyirun, 1995
Shihab, M. Quraish, Menabur pesan ilahi, al-Qur’an dan dinamika Kehidupan Masyarakat, Jakarta: Lentera hati, 2006
__________, Tafsir al-Misbah: pesan, kesan dan keserasian al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2008
Al-Suyuthi, ‘Abd al-Rahman ibn Kamal Jalaluddin, Al-Dur al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur, Beirut: Dar al-Fikr, 1993
Tim Penyusun Kamus, Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1990
‘Umar, Ahmad Mukhtar, al-Mu’jam al-Maushû’iy li Alfâdz al-Qur’ân al-Karîm wa Qirâ’âtuhu, Qism al-Alfadz Riyadh: Muassasah Sutur al-Ma’rifah, 1423
Undang-undang Nomor. 24  tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, Bab I, Pasal. 1
http:// wikipedia.org/wiki/Bencana_alam

lilin-ar: Doa mendapatkan jodoh menurut Al Quran Doa bagi wa...

lilin-ar: Doa mendapatkan jodoh menurut Al Quran Doa bagi wa...: Doa mendapatkan jodoh menurut Al Quran   Doa bagi wanita yang berharap jodoh : “ROBBI HABLII MILLADUNKA ZAUJAN THOYYIBAN WAYAKUUNA...

lilin-ar: BENCANA ALAM

lilin-ar: BENCANA ALAM: BENCANA ALAM YANG TERJADI DI INDONESIA DILIHAT MELALUI SUDUT PANDANG AL QURAN Sebelum membahas topik ini harus kita ketahui apa arti musi...

lilin-ar: BENCANA ALAM MENURUT AL-QURAN

lilin-ar: BENCANA ALAM MENURUT AL-QURAN: Bencana Alam Antara Ujian dan Azab dikaitkan dalam Al-Quran Pada saat bencana datang dan menimbulkan banyak korban bahkan kerugian yang be...

Kesiapsiagaan bencana; dalam Al Qur’an.

Feeds:
Posts
Comments

Kesiapsiagaan bencana; dalam Al Qur’an.

Sejak manusia pertama kali menghuni bumi, sejak saat itu pula manusia sudah berhadapan dengan fenomena alam yang berpotensi bencana. Hujan, panas, angin, gelombang, pergerakan bumi yang menimbulkan gempa dll adalah pendamping manusia dibumi ini.
Beberapa kisah  Nabi-Nabi Allah yang terdapat bencana di dalamnya dan terdapat upaya kesiapsiagaan, mitigasi bencana, dan peringatan dini serta rehabilitasi dan rekonstruksi. Semoga menjadikan kita inspirasi dalam kesiapsiagaan dan upaya pengurangan risiko bencana ketimbang merenungi nasib dan panik.
Kisah Nabi Yusuf dalam mempersiapkan musim kering dan kelaparan yang akan terjadi dengan menyiapkan segala logistik selama tujuh tahun untuk musim kering selama tujuh tahun setelah adanya warning atau peringatan, merupakan contoh bahwa Allah menyuruh kita untuk memitigasi bencana dan bersiaga. (QS Yusuf ayat 43 – 49)
Kisah yang lebih tua adalah kisah Nabi Nuh untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi bencana banjir besar di dunia. Nabi Nuh menyiapkan segala logistik, dan sarana untuk memitigasi bencana yaitu perahu besar. Juga membuktikan bahwa kita harus berusaha memitigasi bencana, karena bencana tidak semata-mata takdir yang tidak bisa ditolak. 
Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya). (QS Al A’raaf 7 : 64)
Kisah diperintahkannya mengungsi pada Nabi Luth dan Umatnya sebelum terjadinya bencana yang mungkin adalah gempa bumi, dimana kota atau daerah tempat Nabi Luth berdakwah dibalikkan oleh Allah SWT, merupakan contoh bahwa kita wajib mengungsi bila sebuah bencana akan terjadi, bukannya pasrah dan hanya berdo’a.
Para utusan (malaikat) berkata: “Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?.” (QS Huud 11 : 81)
Demikian pula yang terdapat dalam kisah Nabi Shaleh sebelum bencana ditimpakan di daerah dakwahnya, Allah memerintahkan untuk mengungsi ke daerah yang aman.
Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-Lah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS Huud 11 : 66)
Mengungsi menghindari bencana adalah ibadah, karena beriktiar untuk menyelamatkan jiwa. Juga diwajibkan bagi mereka yang mengungsi untuk membawa logistik/perbekalan untuk selama mengungsi. Janganlah kamu membunuh dirimu.
Janganlah kamu membunuh dirimu
Bila kita tidak melakukan kesiapsiagaan dan mitigasi (mengungsi termasuk didalamnya) maka berarti kita bunuh diri, sedangkan bunuh diri adalah sangat dilarang dalam agama Islam.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS An Nisaa’ 4 : 29 – 30)
Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana
Bukankah Allah juga memerintahkan para Nabi untuk menata kembali setelah suatu bencana menghantamnya? Ya dalam berbagai kisah, para Nabi diperintahkan untuk menata kembali setelah bencana terjadi.
Pemerintah/Ulil Amri anda wajib menyelamatkan wargamu
Selain itu, bila kita tidak melakukan kesiapsiagaan dan mitigasi berarti kita juga telah membunuh sesama manusia, bukankah ini juga dilarang dalam islam? Apalagi bila pemerintah tidak menjalankan kewajibannya dalam melindungi warganya, maka para pemimpin itu telah membunuh. Dan membunuh satu jiwa saja maka berarti sudah membunuh semua jiwa.
Hai pegiat pengurangan risiko bencana, janganlah depresi
Namun, bagaimana bila kita sudah melakukan ikhtiar dalam kesiapsiagaan dan memitigasi bencana atau mengurangi risiko bencana tetap saja ada yang meninggal? Allah sudah menetapkan usia manusia dan sebab dia meninggal untuk kembali menghadapNya.
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS Ali ‘Imraan 3 : 145)
Hai pegiat pengurangan risiko bencana, janganlah sombong
Inipula yang membuat kita aktivis pengurangan risiko bencana untuk tidak menyombongkan diri dalam amalnya/pekerjaanya di ranah manajemen bencana. Bahwa anda tidak akan bisa menyelamatkan jiwa tanpa seizin Allah sang pemilik kehidupan adalah sebuah kenyataan.
Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.” (QS Al ‘Araaf 7 : 13 – 14)
sumber : http://pgis-sigap.blogspot.com/

Bencana dalam Alquran

Bencana dalam Alquran

Oleh Moch Syarif Hidayatullah
(Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta)
Abstrak
Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan pandangan Islam ihwal bencana alam. Pandangan itu diambil dari Alquran dan hadis sebagai rujukan utama idiom, istilah, konsep, dan tema pokok dalam Islam.Ini terkait dengan sembilan kata yang diketahui berisi pandangan Islam soal bencana: zhulumat, al-kubar, al-karb, su', nailan, 'adzab, sayyi'ah, da'irah, dan mushIbah. Ada enam bencana alam yang disinggung Alquran, seperti banjir, gempa, angin topan, hujan batu, kemarau, dan kelaparan. Dari keenam bencana alam itu, diskusi mengenai bencana apakah sebagai ujian atau siksa, diketahui lebih banyak sebagai siksa. Meski demikian, bencana tidak bisa dicegah, hanya bisa diantisipasi saja. Cara orang melalui bencana juga ada beraneka, yang berbanding lurus dengan misteri bencana, yang kemudian dianggap sebagai hikmah. Ada delapan hikmah yang bisa didapat saat bencana. Semua data yang berkaitan dengan bencana diunduh untuk menghasilkan pandangan Islam secara utuh.
Kata kunci : bencana alam, Islam, ujian, siksa
PENDAHULUAN
Yang disebut bencana alam itu--sesuai definisi yang diberikan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 131)--adalah sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan yang disebabkan oleh alam. Biasanya bencana ini menyangkut segala kejadian yang menimpa dalam skala yang besar dan efek yang luar biasa. Ada banyak bencana alam yang mengitari kehidupan ini, seperti gempa bumi, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, dan kekeringan. Selain bencana alam, ada bencana lain yang juga bisa berakibat fatal, yaitu bencana akibat ulah tangan manusia, seperti pengeboman, peperangan, kecelakaan beruntun, kecelakaan pesawat, dan kebakaran.Tulisan ini disajikan ketika bencana dalam skala besar datang silih berganti seperti hela nafas. Tsunami, gempa bumi, banjir, lumpur Porong, dan kekeringan, susul-menyusul menghabiskan air mata kita sebagai bangsa. Ini tidak memasukkan bencana ekonomi, politik, budaya, keamanan, pertahanan, dan moral, yang tak akan pernah bisa dibincangkan dalam tulisan sederhana ini. Indonesia benar-benar tak berdaya di tengah keterpurukan di berbagai bidang. Kejatuhan yang bertubi-tubi melanda bumi pertiwi persis seperti pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”. Lalu, apa sebetulnya yang terjadi dengan bencana yang tak juga menampakkan tanda-tanda akan berhenti? Ada apa dengan negeri ini? Adakah bencana itu ada kaitannya dengan ulah sebagian kita yang mengabaikan merawat dan menjaga anugerah Ilahi, sehingga yang semula anugerah berubah menjadi nestapa? Atau, bencana itu menjadi penanda negeri ini akan diangkat derajatnya? Pandangan Islam yang tercermin dalam Alquran dan sabda Nabi Muhammad (hadis) terkait dengan banyaknya bencana, akan disajikan di tulisan ini, yang diharapkan sebisa mungkin melengkapi beberapa tinjauan Islam sebelumnya terkait dengan masalah ini yang terlihat belum utuh dan sistematis.
METODOLOGI
Dalam tulisan ini, ragam bahasa tulis yang dipergunakan sebagai data dengan pertimbangan bahwa ragam tulis lebih mantap dan terencana. Bahasa Arab tulis yang dipergunakan sebagai data tulisan ini adalah bahasa Arab baku (fusha), terutama yang diperoleh dari Alquran dan hadis. Pemilihan Alquran dan hadis sebagai sumber data didasarkan pada pandangan bahwa ragam bahasa tulis Alquran dan hadis adalah ragam bahasa baku yang dipahami oleh semua penutur Arab dan kegramatikalannya pun tidak diragukan (Holes 1995). Alasan lain dipilihnya Alquran dan hadis adalah karena keduanya menjadi sumber utama semua idiom, istilah, dan tema pokok Islam. Data yang menjadi objek tulisan saya adalah semua kata yang berkaitan dengan bencana alam yang terdapat dalam Alquran dan hadis. Untuk melihat masing-masing kata dalam konstruksi kalimat, tulisan ini memanfaatkan sumber data utama dari Al Quran Digital Versi 2.0 (CD-ROM).2004. Pengumpulan data dilakukan dengan menginventariskan data yang diambil dari sumber data di atas dengan teknik sadap dan catat (Mahsun 2000: 66-67). Ayat dan hadis yang memuat data dikumpulkan untuk memudahkan pengamatan terhadap konteks masing-masing kata di atas. Data yang dikumpulkan berperan sebagai percontoh untuk menemukan kaidah yang pada akhirnya diharapkan juga menjangkau data yang pada saat diteliti tidak ditemukan.Tulisan ini merupakan studi kasus yang bersifat kualitatif (Merriam 1988: 16 dalam Nunan 1992: 77). Dengan kata lain, tulisan ini akan mengamati, mendeskripsikan, menganalisis, dan menjelaskan pandangan Islam, terutama dalam Alquran (dalam beberapa kasus melibatkan hadis), terkait dengan bencana alam. Secara umum, metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah kajian lapangan. Namun, tulisan ini juga memanfaatkan kajian pustaka, yaitu pada saat menjelaskan makna kata dalam konstruksi kalimat. Dengan pertimbangan untuk menghasilkan konteks makna yang akurat berdasarkan intuisi penutur asli bahasa Arab, tulisan ini memanfaatkan pendapat para ahli tafsir Alquran, seperti Al-Qurthubi (1997) dan Ibn Katsir (1997). Tulisan ini juga memanfaatkan terjemahan Alquran yang dipergunakan untuk memperbandingkan makna kata yang diteliti dengan buku tafsir di atas. Terjemahan Alquran yang dipergunakan berasal dari Tim Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an. 2004. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama RI. Langkah pemerolehan data kata pada konstruksi kalimat, secara kronologis dapat dirinci sebagai berikut: (1) menemukan kata yang termasuk dalam kategori musibah dan bencana alam, melalui fasilitas mesin pencari yang tersedia pada CD-ROM; (2) mengamati makna yang terdapat pada kata itu berdasarkan konteks dan koteksnya; (3) mengklasifikan data yang sudah teridentifikasi berdasarkan ciri semantis untuk memperoleh klasifikasi jenis bencana alam.Untuk analisis pada saat kata itu berada dalam konstruksi kalimat, tulisan ini memanfaatkan teori Cruse (1986) dan (2000). Cruse (2000: 105) menyebut sebuah kata bisa saja tidak hanya mempunyai satu makna. Kasus seperti itu bisa saja terjadi bila sebuah kata merujuk pada acuan yang berbeda sesuai dengan konteks pemakaian kata itu.Interpretasi yang diberikan pada kata tertentu akan sangat beragam dari satu konteks ke konteks yang lain. Sebagai contoh kalimat (a) They moored the boat to the bank dan (b) He is the manager of a local bank. Berdasarkan konteksnya, kata bank pada kalimat (a) harus bermakna ‘sloping side of river’ dan pada kalimat (b) harus bermakna ‘financial institution’. Cruse (1986: 8) menyebut dua sumber utama pada data primer dalam kasus seperti itu: (1) keluaran yang produktif dari seorang penutur asli suatu bahasa baik yang tertulis maupun yang terucap; (2) keputusan makna intuitif yang dikemukakan oleh penutur asli pada materi bahasa dalam satu jenis atau yang lain. Jadi, secara intuitif penutur asli pada umumnya bisa membedakan perbedaan makna yang terjadi pada kata itu.
HASIL DAN DISKUSI
Kata Bencana dalam AlquranDalam bahasa Arab, segala hal yang tidak disukai yang menimpa seseorang disebut mushIbah (lih. Al-Ayid, 2003: 754). Kata ini diserap dalama bahasa Indonesia menjadi musibah yang mempunyai dua makna: pertama, ‘kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa’; kedua, ‘malapetaka’ (lih. Alwi dkk., 2002: 766). Alquran juga menggunakan kata ini di antaranya untuk memaknai apa yang kita kenal sebagai bencana. Ini paling tidak terlihat dalam bentuk verba perfektif pada QS 3: 146 (ashaba); dalam bentuk verba imperfektif pada QS 13: 31 (y[t]ushIbu); dan dalam bentuk nomina pada QS 9: 50 (mushIbah).         
Selain kata ini, Alquran--sesuai terjemahan yang dilakukan oleh tim ahli Departemen Agama (Al Quran Digital 2.0, CD-ROM 2004)—menggunakan kata lain yang berkonsep bencana. Sedikitnya ada delapan kata yang kemudian dipadankan dengan bencana.Pertama, kata zhulumat (bentuk plural dari zhulmah), seperti terdapat pada QS 6: 23. Kedua, kata al-kubar, seperti terdapat pada QS 74: 35. Ketiga, kata al-karb, seperti terdapat pada QS 37: 115, 37: 76, 21: 76, 6: 64. Keempat, kata su', seperti terdapat pada QS 33: 17. Kelima, kata nailan, seperti terdapat pada QS 9: 120. Keenam, kata 'adzab, seperti terdapat pada QS 9: 26. Ketujuh, kata sayyi'ah (bentuk tunggal), seperti terdapat pada QS 3: 120, 4: 78—79; kata sayyi'at (bentuk jamak), seperti terdapat pada QS 7: 168. Kedelapan, kata da'irah, seperti terdapat pada QS 5: 52.              
Namun demikian, kata mushIbah-lah yang paling banyak dipergunakan sebagai pengganti konsep bencana dalam bahasa Indonesia. Kata ini sendiri sedikitnya terdapat pada 50 ayat di Alquran. Kelima puluh ayat itu dikelompokkan oleh al-Zuhayli (2002: 762) menjadi  16 tema. Keenam belas tema itu masing-masing: (1) ketika musibah datang, seperti pada QS 2: 214, 38: 25; (2) meramalkan musibah, seperti pada QS 7: 131; (3) musibah itu takdir dari Allah, seperti pada QS 3: 166, 4: 78, 9: 51, 57: 22, 64: 11; (4) Allah saja yang bisa menyirnakan musibah, seperti pada QS 6: 17, 10: 12, 10: 107, 16: 53—54, 3: 33; (5) sabar dalam menghadapi musibah, seperti pada QS 2: 155—156, 3: 165, 3: 172, 22: 35, 31: 17; (6) siksa berupa musibah, seperti pada QS 3: 165, 4: 62, 7: 100, 16: 34, 24: 63, 28: 47, 30: 36, 39: 51, 42: 30, 42: 48; (7) musibah mengenai siapa saja, seperti pada QS 8: 25; (8) putus asa saat musibah datang, seperti pada QS 17: 83, 30: 36; (9) kufur ketika musibah datang, seperti pada QS 22: 11, 42: 48; (10) kepanikan menghadapi musibah, seperti pada QS 7: 95; 22: 11; 14: 49; 41: 51; 70: 19—20; (11) musibah yang menjadi siksa, seperti pada QS 7: 156; 9: 52; 11: 81; 13: 31; (12) musibah di jalan Allah, seperti pada QS 3: 146; (13) musibah akibat kelalaian manusia, seperti pada QS 3: 165; 4: 106; (14) musibah berupa kematian, seperti pada QS 5: 106; (15) musibah yang disukai musuh, seperti pada QS 3: 120; 4: 72; 9: 50; (16) musibah akibat kezaliman, seperti pada QS 3: 117.         
Hanya saja kata mushIbah berikut derivasi dan infleksinya yang terdapat di Alquran itu tidak selalu mengacu pada konsep bencana alam yang menjadi bahasan tulisan ini. Kata mushIbah dalam Alquran itu mengacu pada definisi kata ini dalam bahasa Arab. Konsepnya lebih luas daripada kata bencana alam, karena musibah apa pun meskipun skala dan efeknya kecil tetap saja bisa disebut mushIbah, yang tentu saja dalam bahasa Indonesia tidak bisa disebut bencana alam. 
Ujian atau Siksa? Pertanyaan ini selalu saja menarik peneliti yang mengkaji tema bencana alam dalam tinjauan agama apa pun. Dalam Islam pun, pertanyaan ini juga banyak muncul. Kesan ini pun tercermin dalam beberapa ayat Alquran. Sejauh pengamatan saya, Alquran mengelompokkan bencana menjadi dua kelompok ini. 
Kelompok bencana yang menjadi ujian terdapat setidaknya pada ayat berikut: "Mengapa ketika ditimpa bencana (pada Perang Uhud), padahal kalian telah mengalahkan dua kali lipat musuh-musuhmu (pada Perang Badar), kalian berkata, 'Darimana datangnya (bencana berupa kekalahan) ini?' Katakanlah, 'Itu (berasal) dari (kesalahan) dirimu sendiri.' Allah Mahakuasa atas segala sesuatu," (QS Ali Imran [3]: 165). Kelompok bencana yang menjadi siksa yang diakibatkan perilaku zalim terdapat pada ayat berikut: "Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, seperti angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menyapu tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri," (QS Ali Imran [3]: 117). Bencana akibat perilaku maksiat terdapat pada ayat berikut: "Ketika mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami (Allah) menyelamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang lalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat maksiat," (QS Al-A'raf [7]: 165). Bencana yang menjadi siksa terdapat pada ayat berikut: "Orang yang tidak beriman senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga janji Allah itu terbukti. Allah tidak menyalahi janji," (QS Al-Ra'd [13]: 31).                
Pada ayat-ayat di atas parameternya sangat jelas, mana bencana yang menjadi ujian dan mana bencana yang menjadi siksa. Bila bencana itu diakibatkan karena kesalahan yang tidak disengaja, maka bencana itu menjadi ujian bagi pelakunya, untuk kemudian mengukur seberapa besar kadar keimanannya. Sebaliknya, bila bencana itu diakibatkan oleh perilaku maksiat, zalim, dan tidak beriman yang disengaja, maka bencana itu menjadi siksa.        
Namun, bila yang dimaksudkan bencana alam, maka Alquran selalu mengelompokkannya ke dalam bencana yang menjadi siksa dan berkait dengan perilaku tidak beriman. Ada lima bencana alam yang disinggung dalam Alquran: gempa, banjir, angin topan, petir, hujan batu, dan paceklik. Terkait dengan gempa, Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut:
  1. Ayat
  2. (1)       
"Katakanlah, 'Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan siksa kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu," (QS Al-An'am [6]: 65).
  1. (2)       
"Karena itu mereka ditimpa gempa, lalu mereka menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka," (QS. Al-A'raf [7]: 78).
  1. (3)       
"Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Lalu, ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata, 'Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya,"(QS Al-A'raf [7]: 155).
  1. (4)       
"Mereka tidak mengimani Syuaib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka,"(QS Al-Ankabut [29]: 37).
Data (1) memang tidak secara eksplisit menyebut gempa, tetapi yang dimaksud siksa yang dari bawah kakimu adalah gempa bumi. Ayat ini berkaitan dengan orang yang tidak beriman atas Alquran sebagai kitab suci. Data (2) juga berkaitan dengan sekelompok orang yang tidak mengimani kenabian Shaleh. Sementara itu, data (3) terkait dengan perbuatan sekelompok orang yang membuat patung anak lembu untuk dijadikan sesembahan selain Allah. Data (4) dengan tegas menyebut sekelopok orang yang tidak mengimani kenabian Syuaib.Keempat data di atas sangat jelas menunjukkan bahwa gempa bumi itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman.Terkait dengan banjir, Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut:
  1. (5)       
"Tetapi mereka berpaling, Kami pun datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl, dan sedikit dari pohon Sidr," (QS Saba' [34]: 16).
  1. (6)       
"Lalu Kami wahyukan kepadanya, 'Buatlah bahtera di bawah pantauan dan petunjuk Kami. Lalu, apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan," (QS Al-Mukminun [23]: 27).
  1. (7)       
"Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun, lalu mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim," (QS Al-Ankabut [29]: 14).
Menurut Al-Qurthubi (1997), data (5) terkait dengan kaum Saba' yang mengingkari nikmat Tuhan. Banjir itu sebagai akibat atas ketidakberiman mereka pada Zat yang memberi nikmat. Banjir besar itu sendiridisebabkan oleh runtuhnya bendungan Ma'rib. Tanur yang disebutkan pada data (6) adalah semacam alat pemasak roti yang diletakkan di dalam tanah terbuat dari tanah liat. Biasanya, tidak ada air di dalamnya. Terpancarnya air di dalam tanur itu menjadi tanda bahwa banjir besar akan melanda negeri itu. Informasi pada data (6) itu dilengkapi oleh data (7) bahwa banjir itu diakibatkan perilaku tidak beriman kaum Nuh terhadap kenabian Nuh (Noah).Ketiga data di atas sangat jelas menunjukkan bahwa banjir itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman.Terkait dengan angin topan, Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut:
  1. (8)       
"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Kepunyaan Allahlah tentara langit dan bumi. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,"(QS Al-Fath [48]: 4).
  1. (9)       
"Tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.' (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera, (yaitu) angin (topan) yang mengandung azab yang pedih,"(QS Al-Ahqaf [46]: 24).
  1. (10)     
 "Kami meniupkan angin (topan) yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksa yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Padahal, siksa akhirat lebih menghinakan, sementara mereka tidak diberi pertolongan,"(QS Fushshilat [41]: 16).
  1. (11)     
"Atau apakah kamu merasa aman dari dikembalikan-Nya kamu ke laut sekali lagi, lalu Dia meniupkan atas kamu angin topan dan ditenggelamkan-Nya kamu disebabkan kekafiranmu.Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun dalam hal ini terhadap (siksaan) Kami," (QS Al-Isra [17]: 69).
  1. (12)     
"Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu lihat. Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan,"(QS Al-Ahzab [33]: 9).
  1. (13)     
"Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus," (QS [54]: 19).
  1. (14)     
"Apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkirbalikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu,"(QS Al-Isra [17]: 68).
  1. (15)     
"Kaum 'Ad telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang," (QS Al-Haqqah [69]: 6).
  1. (16)     
"Angin itu tidak membiarkan satu pun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk," (QS Al-Dzariyat [51]: 42).
  1. (17)     
"Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus. Kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk),"(QS Al-Haqqah [69]: 7).
  1. (18)     
"Pada (kisah) 'Ad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan," (QS Al-Dzariyat [51]: 41).
  1. (19)     
"Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing,"(QS Al-Qamar [54]: 34).
Data (8) memang tidak disebutkan soal angin topan. Namun, menurut Ibn Katsir (1997), tentara langit dan bumi yang ada di ayat itu ialah penolong yang dijadikan Allah untuk orang-orang mukmin seperti malaikat-malaikat, binatang-binatang, angin topan, dan sebagainya. Dengan kata lain, tentara langit dan bumi akan memukul orang yang tidak beriman. Data (9) terkait dengan kaum 'Ad yang tidak beriman atas kenabian Hud. Data (10) juga terkait dengan kaum 'Ad. Data (11) terkait dengan orang yang tidak beriman atas kenikmatan yang diterima. Data (12) terkait dengan sekelompok orang menentang Allah dan Rasul-Nya. Data (13) juga terkait dengan kaum 'Ad. Data (14) terkait dengan orang yang tidak beriman atas kenikmatan yang diterima. Data (15) juga terkait dengan kaum 'Ad.Data (16) pun terkait dengan kaum 'Ad. Data (17) juga terkait dengan kaum 'Ad. Data (18) pun terkait dengan kaum 'Ad. Data (19) terkait dengan kaum Luth yang tidak mengimani ajakan Luth untuk hidup normal dalam kecenderungan seksual. Ketiga ayat di atas sangat jelas menunjukkan bahwa banjir itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman. Data di atas sangat jelas menunjukkan bahwa angin topan itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman.Terkait dengan hujan batu, Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut:    
  1. (20)     
"Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu), lalu amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu,"(QS Al-Naml [27]: 58).
  1. (21)     
"Mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui sebuah negeri (Sadum) yang (dulu) dihujani dengan hujan terburuk ( hujan batu). Apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu?"(QS Al-Furqan [25]: 40).
  1. (22)     
"Kami hujani mereka dengan hujan (batu). Amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu," (QS Al-Syuara [26]: 173). 
 "Kami turunkan kepada mereka hujan (batu). Perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu," (QS Al-A'raf [7]: 84).
  1. (23)     
"Masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri,"(QS Al-Ankabut [29]: 40).
Semua data yang menginformasi siksa berupa hujan batu di atas berkaitan dengan kaum Luth yang tidak mengimani kenabian Luth serta tidak mengindahkan anjuran Luth untuk hidup normal secara seksual.  Terkait dengan petir, Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut:
  1. (24)     
"Jika mereka berpaling, maka katakanlah, 'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan Tsamud,'"(QS Al-Syura [41]: 13).
  1. (25)     
"Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata, 'Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata." Mereka disambar petir karena kezalimannya. Mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami aafkan (mereka) dari yang demikian. Kami telah berikan kepada Musa keterangan yang nyata," (QS Al-Nisa [4]: 153).
  1. (26)     
"(Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan)[377], disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, juga karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah, karena membunuh para nabi tanpa (alasan) yang benar, dan karena mengatakan, 'Hati kami tertutup.' Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka,"(QS Al-Nisa [4]: 155).
  1. (27)     
"Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini). Mudah-mudahan Dia mengirimkan keputusan (berupa petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin,"(QS Al-Kahf [18]: 40).
  1. (28)     
"Kaum Tsamud telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk. Karenanya mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan,(QS Fushshilat [41]: 17).
  1. (29)     
"Mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya, lalu mereka disambar petir dan mereka melihatnya," (QS Al-Dzariyat [51]: 44).
  1. (30)     
"Kaum Tsamud telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa," (QS Al-Haqqah [69]: 5).
Data (24) menyinggung petir yang telah menyambar kaum 'Ad dan Tsamud. Data (25) menyinggung ihwal orang Yahudi pada zaman Nabi Musa juga tersambar petir karena ingin melihat Allah sebagai buah dari ketidakimanan mereka. Data (26) memang tidak menyebut secara langsung ihwal petir, tetapi pada frasa beberapa tindakan, menurut Al-Qurthubi (1997), salah satu yang dimaksudkan orang Yahudi disambar petir. Data (27) menginformasikan ihwal perilaku sseorang yang syirik sehingga kebunnya disambar petir. Data (28) menyinggung siksa yang diterima kaum Tsamud. Demikian pula dengan data (29). Data (30) pun berkaitan dengan siksa yang diterima kaum Tsamud, meskipun tidak disebutkan kata petir di ayat itu. Hanya yang dimaksud dengan kejadian luar biasa itu, menurut Ibn Katsir (1997), ialah petir yang amat keras yang menyebabkan suara mengguntur yang dapat menghancurkan. Ayat-ayat di atas sangat jelas menunjukkan bahwa bencana alam yang berhubungan dengan petir berkaitan langsung dengan perilaku tidak beriman dan syirik yang berbuah siksa.          
Terkait dengan kemarau, paceklik, dan kelaparan, Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut:
  1. (31)     
"Andaikata mereka Kami belas kasihani, dan Kami lenyapkan kemudaratan yang mereka alami, mereka benar-benar akan terus menerus terombang-ambing dalam keterlaluan mereka,"(QS Al-Mukminun [23]: 75).
  1. (32)     
"Kami telah menghukum (Firaun dan) kaumnya dengan (mendatangkan)  musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran," (QS Al-A'raf [7]: 130).
  1. (33)     
"Untuk orang-orang yang zalim ada azab selain daripada itu, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui," (QS Al-Thur [52]: 47).
  1. (34)     
"Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena itu, Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat,"(QS Al-Nahl [16]: 112).
  1. (35)     
"Tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata," (QS Al-Dukhan [44]: 10).
Data (31) terkait dengan kaum musyrikin yang mengalami kelaparan, karena tidak ada bahan makanan yang datang dari Yaman ke Mekah. Padahal, saat ittu Mekah dan sekitarnya dalam keadaan paceklik. Data (32) sangat gamblang menginformasikan hukuman yang diterima Firaun beserta pendukungnya yang tidak mengimani Allah. Data (33) memang tidak secara eksplisit menginformasikan kemarau, tetapi yang dimaksud azab yang lain ialah musim kemarau, kelaparan malapetaka yang menimpa mereka, azab kubur, dan lain-lain. Data (34) terkait dengan penduduk suatu negeri yang mengingkari keneikmatan Tuhan lalu mendapat bencana kelaparan dan ketakutan. Data (35) juga tidak secara gamblang menginformasikan kelaparan, tetapi yang dimaksud kabut yang nyata, menurut Ibn Katsir (1997), ialah bencana kelaparan yang menimpa kaum Quraisy karena mereka menentang Nabi Muhammad Saw.        
 Data yang terhimpun pada bagian ini membantah pandangan yang menyatakan bahwa bencana alam yang terjadi murni akibat gejala alam semata. Dari data yang ada, bencana alam selalu berkaitan erat dengan perilaku tidak beriman yang berbuah siksa. Gejala alam memang ada, tetapi itu bukan satu-satunya. Ada kesalahan yang kita buat baik sebagai pribadi maupun sebagai bangsa, sehingga Tuhan melalui alam sebagai makhluk-Nya menunjukkan kekuatan-Nya.
Mengantisipasi BencanaDalam Islam, semua yang sudah ditentukan Tuhan pasti akan terlaksana. Rela atau tidak, ketentuan Tuhan tetap berlaku. Allah Swt. berfirman, “Ketika Allah dan Rasul-Nya memutuskan sesuatu, maka mereka tidak mempunyai pilihan lain,” (QS Ali Imran [3]: 36). Bila mengikuti logika ayat ini, bencana alam yang memang sudah menjadi keputusan dan skenario Allah, maka siapa pun tidak punya pilihan lain untuk menghindarinya. Lalu, apakah tidak ada celah untuk bisa menghindarinya? Sebetulnya masih ada celah, meski itu hanya meminimalisasi kemungkinan bencana menjadi lebih banyak dampaknya. Caranya dengan mengantisipasi segala kemungkinan sehingga bisa lebih siap dalam menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Meskipun ini tidak bisa menjadi jaminan sepenuhnya, karena setiap bencana punya rahasia dan misterinya tersendiri.          
Mengenai mengantisipasi musibah, kisah perahu Nabi Nuh menjadi pelajaran tersendiri. Nabi Nuh memang sudah diperintahkan Allah untuk menyiapkan perahu untuk keselamatannya dan keselamatan orang-orang yang berada di barisannya. Allah memerintahkan membuat perahu itu karena akan ada banjir bandang luar biasa di negeri yang ditinggalinya. “Buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami Jangan bicarakan di hadapan-ku tentang orang-orang yang zalim itu. Mereka itu akan ditenggelamkan,” (QS Hud [11]: 37). Perahu ini adalah bagian dari antisipasi untuk menghindari musibah. Ketika banjir bandang benar-benar terjadi, Nabi Nuh bersama kaumnya yang taat selamat.          
Kisah Nabi Nuh ini memberikan pelajaran amat berharga. Upaya antisipasi harus tetap dilakukan, meski upaya itu tidak boleh membuat takabur akan kemampuan yang dimiliki. Ketakaburan akan antisipasi ini pernah ditunjukkan oleh Qan'an, putra Nuh, yang tidak mau mengikuti ajakan Nuh untuk naik ke atas kapal. "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" (QS Hud [11]: 43). Padahal, Nuh sudah melarang. "Nuh berkata, 'Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang,'" (QS Hud [11]: 43). Karena tidak mendengar perintah sang ayah, Qan'an termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. Ini juga memberi pelajaran agar kita mau              mendengar orang-orang yang diberikan kemampuan lebih oleh Allah yang memang diyakini kejujuran dan reputasinya. Orang-orang itu bisa berangkat dari kalangan ilmuwan atau bisa juga dari kalangan awam yang memiliki kearifan lokal. Masalah gempa misalnya, seseorang yang berada di daerah rawan gempa mesti mendengar apa nasihat para ahli tentang rumah tahan gempa. Masalah tsunami, seseorabf juga harus mendengar dan mengamalkan nasihat para cerdik pandai untuk membuat bangunan yang bisa menyelamatkannya dari bencana dahsyat bila kita berada di wilayah yang rawan tsunami dan siklus tsunami sudah dekat waktunya. Selain para ilmuwan, patut juga mendengar orang-orang yang memiliki kearifan lokal, yang memang dianugerahi Allah kemampuan membaca penanda situasi dan kemampuan mengakrabi alam. Belakangan negeri ini punya Mbah Maridjan, yang dengan gagah berani menyatakan Gunung Merapi aman. Bangsa ini pun tidak pernah kehabisan orang-orang seperti Mbah Maridjan ini. Dulu ada Ronggowarsito dan tentu saja para wali songo.
Nabi Muhammad semenjak 15 abad lalu sudah menitipkan prinsip penting dalam masalah antisipasi ini. Ketika ada sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lantaran ia bertawakal sepenuhnya pada Allah, Nabi langsung menegur orang itu, “Ikat dulu, baru tawakal,” (HR Al-Tirmidzi). Dari sabda Nabi Muhammad ini pula Islam mengajarkan bahwa manusia tidak bisa mengandalkan usaha, tanpa disertai tawakal. Manusia hanyalah hamba yang dikendalikan skenario Tuhan. Manusia juga tidak boleh hanya mengandalkan tawakal, tanpa disertai usaha, karena Tuhan juga tidak menurunkan hujan emas begitu saja. Lalu, optimalisasi peran usaha dan tawakal hanya bisa mantap apabila diiringi doa. Dengan berdoa, siapa saja menjadi lebih tenang menerima ketentuan Allah, positif atau negatif dalam pandangannya. Doa sekaligus menunjukkan ketidakmampuannya mencapai apa yang diinginkannya dalam berusaha dan bertawakal.         
Kerelaan akan ketentuan yang sudah digariskan-Nya juga membuat seseorang mampu menerimanya dengan ikhlas. Terkait dengan ini, Nabi Muhammad pernah mewanti-wanti, "Siapa saja yang rela (akan ketentuan Allah), maka dia akan memperoleh kerelaan Allah. Sebaliknya, siapa saja yang marah (pada ketentuan Allah), maka dia akan mendapat murka Allah," (HR Al-Thabrani). Keyakinan bahwa Dia berlaku adil dan tidak ceroboh dalam menentukan takdir-Nya seperti ini, hanya bisa diperoleh bila seseorang berprasangka baik terhadap-Nya. Dalam salah satu hadis qudsi, Allah Swt. berfirman, “Aku ini bergantung dengan prasangka hamba-Ku pada-Ku,” (HR Al-Bukhari). Itu berarti bila seseorang berprasangka positif pada Allah, maka positif juga takdir yang akan didapatkan. Namun, bila negatif prasangka negatif, maka takdir yang akan ditetapkan-Nysa juga akan negatif. Sikap berprasangka positif ini ditandai dengan mau bersabar melalui bencana dan rela menerima takdir sembari terus berusaha. Sikap seperti ini pasti akan menghantarkannya pada jalan keluar. Allah berfirman, “Bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu. Kamu berada dalam penglihatan-Ku,” (QS Al-Thur [52]: 48). Melalui Bencana dan Sikap PascabencanaSemua orang pasti tidak mengharapkan mendapat bencana, meskipun mereka tahu bencana itu penting dalam proses kemanusiaan, keberagaamaan, dan penghambaan. Namun sesuai sunatullah, tidak jarang sesuatu yang tidak diinginkan justru menjadi sesuatu yang banyak manfaatnya di kemudian hari. Sebaliknya, sesuatu yang menyenangkan justru banyak mendatangkan madarat di belakang hari. Bukankah banyak penyakit yang disebabkan oleh sesuatu yang sangat disukai, seperti daging, yang manis-manis, es, dan lain sebagainya? Sebaliknya, bukankah sebagian besar obat justru rasanya tidak sangat disukai? Inilah sunatullah yang sudah diabadikannya dalam ayat kauniyah di atas dan ayat qauliyah berikut: “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal sesuatu itu sangat baik buat kalian. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu sangat tidak baik buat kalian,” (QS Al-Baqarah [2]: 216).               
Terkait dengan bencana ini, banyak cara orang dalam menyikapinya. Masyah (2007) menyebut beberapa variasi orang dalam menyikapi musibah, seperti reaktif, emosional, arif, kontemplatif, korektif, antisipatif, administratif, informatif, introspektif, inovatif, responsif, produktif, kontraproduktif, traumatis, histeris, koruptif, pasif, aktif, solider, altruistif, bahkan proaktif, atau hanya sekadar rekreatif. Semua sikap ini, menurutnya, berhubungan erat dengan kualitas orang yang bersangkutan.Saat bencana datang di menit-menit pertama, biasanya memang belum disadari dampak yang akan timbul setelahnya. Beberapa saat setelah bencana itu menimpa, barulah terpikirkan banyak hal yang mungkin terjadi di kemudian hari. Saat itulah biasanya seseorang mulai bersedih, menangis, dan berkeluh kesah. Pertanyaannya, apa salah seseorang menangis dan bersedih setelah mendapat bencana dalam pandangan Islam? Jawabnya, tidak, karena kedua hal itu manusiawi. Nabi Muhammad saja saat ditinggal putranya yang bernama Ibrahim pergi menghadap Sang Khalik, beliau juga bersedih dan bahkan menangis. Saat ditinggal istrinya yang pertama, Khadijah, dan pamannya yang selalu membela perjuangannya, Abu Thalib, Nabi Muhammad juga sangat terpukul. Beliau begitu bersedih hingga tahun itu dinamakan dengan ‘am al-huzn (tahun kesedihan).          
Ketika ada seorang sahabat yang bertanya setelah melihat Nabi menangis atas kematian Ibrahim, putranya, “Apa Anda menangis? Bukankah Anda melarang kita menangis di saat seperti ini?” Apa jawab Nabi? “Aku hanya dilarang berteriak-teriak histeris. Mata ini tak kuasa menahan tetes air mata. Hati pun tak sanggup menahan sedih. Tapi, aku hanya mengatakan apa yang diridai Allah.”         
Jawaban Nabi ini sekaligus memberi kunci menyikapi bencana. Karena, memang ternyata banyak yang salah sangka seolah-olah dilarang menangis dan bersedih saat mendapat bencana. Padahal, anggapan seperti itu tidak benar adanya. Memang, ada hadis Nabi yang menyatakan—kalau benar ini hadis—mayat akan disiksa lantaran teriakan histeris keluarganya. Hadis ini yang sering dijadikan alasan orang menyalahkan orang lain yang menangisi dan bersedih saat mendapat bencana seperti kematian. Namun, bila teliti melihat redaksi hadis itu, yang dilarang bukan menangis dan bersedih, tapi berteriak histeris. Tangapan Nabi atas pertanyaan sahabat di atas juga semakin meyakinkan kita semua bahwa menangis dan bersedih bukan suatu yang salah.            Mengapa berteriak histeris dilarang? Berteriak histeris itu simbol keputusasaan, seolah-olah semuanya sudah berakhir. Dengan bersikap seperti itu, seolah-olah tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Biasanya ini dilakukan oleh orang yang mengidap sindrom Firaun. Ini juga biasa dilakukan orang-orang yang biasa mendramatisasi persoalan. Berteriak histeris juga merupakan reaksi berlebihan atas bencana yang menimpa. Ini juga melanggar asas proporsionalitas.         
Seorang muslim harus menyadari bahwa dirinya milik Allah. Ia bahkan tidak mempunyai kekuatan sedikit pun menolak bencana yang menghampiri, meski itu sekecil titik sariawan yang menghiasi bagian mulutnya. Dengan kata lain, ia sesungguhnya tidak memiliki apa pun, bahkan atas apa yang melekat, apalagi hanya sekadar menempel di tubuhnyaa. Semua yang ada pada dirinya hanya semata-mata titipan ilahi, yang memang dipergunakan-Nya untuk menguji sejauh mana ia memanfaatkannya untuk kepentingan yang memang disukai-Nya. Karena sifatnya merupakan titipan, ia pasti tak sanggup menolak ketika Pemiliknya meminta kembali. Dan, yang mesti ddisadari dari awal bahwa semua ini pasti akan diminta-Nya kembali, bahkan nyawa yang mengalirkan nafas kehidupan ini juga tak akan sanggup ditolak ketika Dia memintanya.          
Nah, apakah ketika satu demi satu atau semua yang sudah diberikan-Nya itu diambil, seseorang tidak punya harapan lagi? Tentu saja tidak. Ini sudah menjadi sunatullah (hukum alam) bahwa ketika ada yang datang pasti ada yang pergi. Bila ada yang hilang pasti akan ada ganti. Kesadaran akan sunatullah yang paling mendasar ini sebetulnya akan banyak membantu proses pemulihan pascabencana. Asalkan ini dipahami dengan arif dan sanggup dijalani proses demi proses yang harus dilalui sebagai bagian dari ketentuan Allah, tentu apa pun yang dialami, bahkan seberat apa pun, akan menjadi mudah saja, atau setidaknya tidak terlalu didramatisasi seolah dunia sudah berakhir.       
Optimisme seperti ini yang tersembul dalam doa yang biasa dipanjatkan orang-orang saleh setelah mendapat bencana: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlifni khairan minha” (kita semua milik Allah dan kita pasti akan kembali pada-Nya. Ya Allah, selamatkan aku dalam menghadapi musibah ini dan berikan aku ganti yang lebih baik daripada sesuatu yang sudah pergi).        
Doa ini memberikan penyadaran luar biasa bahwa yang memiliki semua ini, termasuk hidup ini dan seluruh perangkat pendukungnya, adalah Allah. Sesuai dengan mekanisme dan manajemen ilahi semenjak zaman azali, semua yang menjadi milik-Nya pasti akan kembali pada-Nya, satu demi satu atau sekaligus, perlahan atau langsung mendadak. Seseorang hanya bisa berharap diberi keselamatan dalam menghadapi musibah itu, baik keselamatan ragawi maupun keselamatan rohani, baik kesalamatan imani maupun kesalamatan materi. Harapan ini pun juga dibarengi dengan optimisme bahwa Allah akan mengirimkan ganti yang lebih baik daripada milik-Nya yang sudah diambil-Nya sebelum bencana.          
Kunci lain yang bisa mempercepat pemulihan pascamusibah dan pascamasalah ialah menata diri untuk tetap berada di jalan-Nya. Dengan kata lain, seseorang harus tetap konsisten menjalankan apa yang menjadi kewajiban dan menjauhi apa yang bukan menjadi hak sebagai orang yang beragama. Inilah yang dalam bahasa agama biasa disebut takwa. Kata ini memang terlalu populer, tetapi implementasinya tidak mengakar dalam kehidupan keseharian. Padahal, ini sesungguhnya yang mampu menjamin kesempurnaan keberagamaan seseorang. Tidak hanya itu, sikap ini juga mampu mengantarkan seseorang pada kesempurnaan kemanusiaan. Sikap ini pun sangat bermanfaat untuk mengembalikan dan memulihkan sisi kemanusiaan yang terkoyak pada saat mengalami bencana. Dengan memiliki sikap ini, kehambaan dan penghambaan tidak labil. Kalaupun berfluktuasi, bukan fluktuasi yang mengantarkannya pada sisi negatif. Ia stabil meski digoncang apa pun.          
Allah telah menjamin akan memberikan jalan keluar atas semua kesulitan hidup bila seseorang memiliki sikap ini. Dia juga berjanji akan selalu memberi rezeki dari pintu yang tak terduga pada orang yang memiliki sikap ini. Apalagi bila mau menambahkan sikap ini dengan kepasrahan yang disertai usaha dan doa, maka yakinlah Dia pula yang akan mencukupi apa pun yang kita butuhkan. “Siapa saja yang bertakwa pada Allah, maka Allah akan memberinya jalan keluar dan membukakan pintu rezeki dari tempat yang tak terduga. Siapa yang pasrah kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupi kebutuhannya,” (QS Ath-Thalaq [65]: 2-3). “Siapa saja yang bertakwa pada Allah, niscaya Allah memudahkan segala urusannya,” (QS Ath-Thalaq [65]: 4). Dan, yang terpenting, jaminan dan janji Allah tidak pernah diingkari-Nya. Biasanya hanya soal waktu saja.          
"Setiap ada kesulitan pasti ada kelapangan," (QS Al-Insyirah [94]: 5). Setiap habis hujan deras pasti mentari bersinar lebih indah. Setiap kemacetan separah apa pun, pasti setelahnya ada kelengangan yang menjadi penghibur bagi pengendara yang melaluinya. Seperti sudah disinggung sebelumnya, manusia memang tidak bisa menolak bencana. Ia hanya bisa meminimalisasinya. Itu pun jika Allah berkehendak. Karena, semua yang dikehendaki-Nya pasti terlaksana. Nah, ketika kehendak-Nya itu sudah terlaksana, yakinilah bahwa semua sudah diukurnya. Dia juga pasti adil memperlakukan ketentuan-Nya. Kehendak-Nya pun pasti diiringi kehendak-Nya yang lain, yang meskipun mulanya terlihat menyusahkan, tetapi pada akhirnya akan menyenangkan. Dia tidak akan memberikan bencana melebihi kadar yang sanggup ditanggung. "Allah pasti melaksanakan semua yang dikehendaki-Nya. Allah juga telah menentukan kadar segala sesuatu," (QS Ath-Thalaq [65]: 2-3-). Hikmah di Balik BencanaKesadaran seperti itu juga harus dibarengi dengan optomisme bahwa Allah yang memberi bencana itu telah menyiapkan hikmah di balik bencana.

Posted by. GAYO Nusantara.

Add comment

Bencana, Penyebab & Akibatnya Menurut Pandangan Islam

Bencana, Penyebab & Akibatnya Menurut Pandangan Islam

Antara Cuaca Ekstrim dan Angin Puting Beliung
Angin Puting Beliung
Beberapa hari yang lalu, saya terima surat dari Bupati Kepulauan Selayar, yang ditandatangani oleh Wakil Bupati Kepulauan Selayar H. Saiful Arif, perihal Himbauan Materi Khutbah. Surat tersebut ditujukan kepada seluruh Khatib Jum'at Terpadu sekota Benteng dan Sekitarnya.

Disebutkan dalam isi surat tersebut bahwa : "Dalam rangka menghadapi perubahan cuaca yang ekstrim hari-hari terakhir ini, maka untuk pelaksanaan Shalat Jum'at  pada tanggal 21 Desember 2012 kepada saudara diminta agar menyampaikan materi khutbah berdasarkan thema "BENCANA, PENYEBAB DAN AKIBATNYA MENURUT PANDANGAN AGAMA ISLAM".

Surat tersebut seharusnya diterima sesuai dengan tanggal yang tertera disudut kanan atas yaitu pada hari Kamis, 20 Desember 2012, tapi ternyata suratnya diantar di pagi hari Jum'at.

Bagiku membuat konsep khutbah untuk membahas thema diatas, dalam waktu kurang dari 3 jam termasuk sesuatu yang sulit, terlebih lagi listrik padam, otomatis harus ditulis tangan, kalaupun diketik pakai laptop, tetap tidak mungkin bisa dicetak, karena print tidak bisa nyala. Kesulitan lainnya karena harus MENURUT PANDANGAN AGAMA ISLAM, seandainya menurut pandangan saya pribadi tentu lebih mudah.

Walhasil, khutbah jum'at pada tanggal 21 Desemberr 2012 berlangsung tanpa konsep, hanya ditemani Mushaf Terjemahan diatas mimbar. Berbeda pada hari Jum'at berikutnya 28 Desember 2012, waktu untuk membuat konsep lumayan lama, sehingga khotbah jum'at disampaikan dengan ditemani selembar konsep.

Berbicara tentang bencana, dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan bahwa bencana itu adalah sesuatu yg menyebabkan (menimbulkan) kesusahan, kerugian, atau penderitaan, adapun Bencana Alam maksudnya adalah bencana yg disebabkan oleh alam (seperti gempa bumi, angin kencang, dan banjir)

Apakah Bencana Alam murni disebabkan oleh alam...???

{فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ} [الأعراف: 78]
Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayit-mayit yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. [Al A'raf : 78]

Ayat diatas menggambarkan tentang Gempa Bumi yang menimpa kaum Tsamud, karena kesyirikan, kekafiran dan maksiat serta pembangkangan mereka terhadap saudara mereka Sholeh, sebagaimana diceritakan pada ayat sebelumnya :

{قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [الأعراف: 73]
(Shaleh) berkata. "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apa pun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih." [Al A'raf : 73]

Allah berfirman tentang penduduk Madyan :

{فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ} [الأعراف: 91]
Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayit-mayit yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka [Al A'raf : 91]

Penyebab gempa bumi yang menimpa mereka, tidak lain karena dosa, kesyirikan, kekafiran dan maksiat serta pembangkangan mereka terhadap saudara meraka Syu'aib;

{قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ} [الأعراف: 85]
(Syu'aib) berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman". [Al A'raf : 85]

Percayakah kita kisah Kaum Nabi Nuh yang dibinasakan dengan bencana banjir dan angin topan;

{وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ} [العنكبوت: 14]
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang lalim. [Al Ankabut : 14]

Penyebab bencana yang melanda mereka tidak lain karena pembangkangan mereka terhadap Nabi Nuh Alaihissalam yang mengajak mereka untuk men-Tauhid-kan Allah Subhanahu wata'ala;

{لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ} [الأعراف: 59]
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). [Al A'raf : 59]

Tampak jelas dari kisah umat terdahulu yang disebutkan diatas bahwa penyebab bencana yang membinasakan mereka adalah karena dosa-dosa mereka dalam bentuk : Kesyirikan, Kekufuran, serta Maksiat.

Perkara selanjutnya yang dapat menyebabkan bencana adalah hilangnya loyalitas terhadap sesama orang beriman dan hilangnya sikap berlepas diri dari orang-orang kafir, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata'ala :

{وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ} [الأنفال: 73]
Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. [Al Anfal : 73]

Perkara yang diperintahkan Allah dalam ayat diatas adalah senantiasa loyal terhadap sesama kaum muslimin dan berlepas diri dari orang-orang kafir.

Kesimpulannya, bencana yang terjadi penyebabnya berkaitan dengan dosa yang diperbuat oleh tangan-tangan manusia itu sendiri, Allah Subhanahu wata'ala berfirman :

{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ} [الروم: 41]
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [Ar Rum : 41]

{وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ} [الشورى: 30]
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). [Asy Syuro : 30]

{فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ} [العنكبوت: 40]
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. [Al Ankabut : 40]

Akibat yang ditimbulkan dari sebuah bencana yang melanda tidaklah terbatas dan terkhusus hanya ditujukan bagi para pendosa, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata'ala :

{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [الأنفال: 25]
Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. [Al Anfal : 25]

Setelah mengetahui PENYEBAB & AKIBAT yang ditimbulkan oleh BENCANA, mari kita senantiasa ber-amar ma'ruf dan nahi mungkar serta senantiasa istigfar dan bertobat kepada Allah Subhanahu wata'ala, senantiasa memperbaiki diri pribadi, keluarga dan masyarakat, agar Allah Subhanahu wata'ala menjauhkan kita dari Bala dan Bencana;

{وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ} [هود: 117]
Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. [Hud : 117]

Oleh karena itu, sebagai PENUTUP dari postingan kali ini, mari kita senantiasa berbuat kebaikan, jauhi kesyirikan, kekafiran, maksiat dan dosa-dosa lainnya, kalaupun ada diantara kita yang menjadi korban bencana semoga Allah memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang mati syahid, Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam bersabda :

« الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ » (رواه مالك ، والبخارى ، ومسلم ، والترمذى عن أبى هريرة)
Orang-orang yang mati syahid itu ada lima :
  1. Meninggal karena wabah penyakit,
  2. Meninggal karena sakit perut atau muntaber,
  3. Meninggal karena tenggelam,
  4. Meninggal karena tertimpa reruntuhan,
  5. Meninggal karena terbunuh di medan perang
(HR. Malik, Al Bukhory, Muslim dan At Tirmidzi Rahimahumullah dari Abu Hurairah Radhiallohu 'anhu)

Read or download FAKTA-FAKTA YANG MENGUNGKAP HAKIKAT HIDUP

Read or download FAKTA-FAKTA YANG MENGUNGKAP HAKIKAT HIDUP