Search This Blog

Friday, November 29, 2013

Tenun Songket Melayu Riau Pekanbaru

Tenun Songket Melayu Riau Pekanbaru



”Bertuah orang berkain songket

Coraknya banyak bukan kepalang

Petuahnya banyak bukan sedikit

Hidup mati di pegang orang”

”Kain songket tenun melayu

Mengandung makna serta ibarat

Hidup rukun berbilang suku

Seberang kerja boleh di buat”

”Bila memakai songket bergelas

Di dalamnya ada tunjuk dan ajar

Bila berteman tulus dan ikhlas

Kemana pergi tak akan terlantar”

Tenun Songket Melayu Pekanbaru merupakan kekayaan asli negeri bertuah, khasanah songket melayu Riau ini amatlah kaya dengan motif dan serat dengan makna dan falsafahnya, yang dahulu dimanfaatkan untuk mewariskan nilai-nilai asas adat dan budaya tempatan. Seorang pemakai songket tidak hanya sekedar memakai sebagai busana hiasan tetapi juga untuk memakai dengan simbol-simbol dan memudahkannya untuk mencerna dan menghayati falsafah yang terkandung di dalamnya. Kearifan itulah yang menyebabkan songket terus hidup dan berkembang, serta memberikan manfaat yang besar dalam kehidupan mereka sehari-hari.



Songket Melayu Pekanbaru pada dasarnya berasal dari (turunan) Songket Melayu Siak. Bila dilirik dari sejarah seni dan budaya melayu di Pekanbaru , bermula pada saat Kesultanan Siak memindahkan pusat pemerintahan sekaligus ibukota kerajaan dari mempura (Siak) ke Kampung Bukit, Senapelan (Pekanbaru) dan dari kawasan yang berada di tepian sungai Siak itulah bermula negeri yang bernama Pekanbaru. Pada awalnya daerah Pekanbarupun merupakan salah satu negeri bahagian dari "Negara" Kesultanan Siak ini. Dengan berpindahnya pusat Kesultanan, tentu saja semua pusat perangkat negeri dan pusat kebudayaan melayu Kerajaan Siak pun juga berpindah ke Pekanbaru, sehingga, seiring waktu bergulir, Kesenian dan kebudayaan melayu pun berkembang pesat di daerah ini. Termasuk juga seni kerajinan Songket melayu yang pada saat itu sebagai simbol busana resmi kerajaan.



Seiring bergulirnya waktu pula, hingga sampai masa Riau bergabung dengan Indonesia merdeka, berkembangnya zaman dan kemajuan teknologi, seni dan budaya asli Pekanbarupun perlahan-lahan mulai hampir pudar dan terlupakan, khususnya kerajinan tenun songket melayu ini. Dan untuk mencegah pudarnya seni dan budaya melayu, maka pemerintah pada saat itu pun mulai kembali mengangkat dan mengembangkan nilai-nilai budaya melayu sebagai ciri khas dari daerah ini. Namun tidak begitu maksimal.

Dan seiring berkembangnya era demokrasi Indonesia hingga pasca otonomi daerah yang memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengembangkan dan memajukan daerah termasuk dalam hal seni dan budaya lokal, maka dimulailah ide untuk kembali mengangkat batang yang terendam di Bumi melayu Lancang Kuning ini khususnya di kota bertuah Pekanbaru.


Tenun songket Melayu Pekanbaru digagas Puan Gemilang Songket Negeri Hj Evi Meiroza Herman. Bahkan apresiasi dan prestasi beliau mendapat penghargaan khusus dari Museum Rekor Indonesia (MURI).


Muri menilai tenun songket Melayu memberikan inspirasi dan motivasi kaum perempuan. “Tenun Songket Melayu Pekanbaru menimbulkan inspirasi kreatif yang dapat dikenakan kepada seluruh negara di dunia” ungkap Paulus Pangka, Manager Muri, pada acara penganugerahan rekor Muri tersebut di halaman Bandar Serai Pekanbaru



Selalu ingin berbuat lebih banyak dan bermanfaat bagi masyarakat dan negeri tercinta adalah cerminan sikap sejati dari seorang Hj Evie Mairoza Herman, yang mempunyai gelar Puan Sri Julang Songket Negeri.

Persebatian ide dan keinginan sangat kuat dalam dirinya untuk mengembangkan dan melestarikan tenun songket peninggalan masa silam mengantarkan dia berhasil menjulang marwah Negeri Bertuah. Sehingga Kota Pekanbaru menjadi kota cemerlang di tingkat nasional. Berbagai penghargaan pun di terimanya. Mulai dari penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI) songket terpanjang di Indonesia 2005, dengan panjang songket 17 meter. Selanjutnya 2008 kembali MURI memberikan penghargaan dengan panjang songket 45 meter. Sedangkan akhir 2009, dirinya mendapat Penghargaan Upakarti Jasa Pengabdian dari Kementrian Kebudayaan Indonesia.


Jari-jari lembutnya memang tak begitu lihai menyusun benang demi benang menjadi tenunan songket yang bisa dipakai, tapi hati dan pikirannya terus bergerak, menyulam benang menjadi tenun yang lebih berani, lebih berarti, cerah dan indah dipandang mata.

Pemikiran besar mulai muncul, kata Evie Mairoza, sejak 1999. Saat itu sempat membuat dirinya gundah sehingga harus mewujudkan menjadi kenyataan. Agar terwujudnya tenun songket terkemuka, dirinya terus belajar dan bertukar pikiran dengan siapapun juga. Tidak hanya dengan tokoh budaya, tapi juga dengan para penenun terdahulu.

‘’Tak ada maksud lain dari keinginan dan hasrat yang kuat tersebut, melainkan membangkitkan kembali warisan budaya Melayu di tengah masyarakat dengan niat meningkatkan perekonomian warga melalui tenung songket,’’ kata Evie Mairoza lagi yang merasa senang dengan kerja sama dengan seluruh penenun dan masyarakat membuahkan hasil penghargaan dari Kementrian Pariwisata.

Diakuinya, songket memang sudah ada sejak lama, tapi songket yang dicerahkan dengan motif syarat makna dan filosofi bisa berkembang, terkenal, memasyarakat, meningkatkan ekonomi dan membawa nama harum negeri, itulah tujuan yang ingin dicapai dari pengabdiannya tersebut.

Pembelajaran, didukung sepenuhnya suami tercintanya, Drs H Herman Abdullah yang sehari-hari menjabat sebagai Wali Kota Pekanbaru. Menurutnya agar belajar menenun maksimal dirinya mulai mengumpulkan berbagai tenun songket terdahulu. Terutama yang berumur 50-200 tahun dan dari penenun aslinya. Bahkan diakuinya, dia tak segan-segan meminta tenunan itu untuk mempelajari setiap motif benang yang terpapar pada songket.

‘’Untuk belajar membuat motif, jujur saya tak segan untuk meminta songket kepada penenun aslinya,’’ ucapnya saat itu. Dengan belajar dan terus belajar itulah, diakuinya telah melahirkan 10 motif baru yang kemudian menjadi inovasi terbaru pada tenun songket dengan gaya dan warna berbeda namun tidak meninggalkan motif aslinya. Dari ke 10 motif baru inilah Evie menggandeng beberapa penenun dari 14 penenun yang sudah ada di Pekanbaru untuk membuat songket dengan warna-warna baru, meski diakuinya itu bukanlah hal yang mudah.

Ceritanya, setiap kuntum bunga yang dihasilkan selalu indah dan mengundang hasrat untuk menyentuh, membeli dan memakainya. ‘’Tidak ada bunga pada tenunannya yang tidak menyenangkan mata yang memandang. Jadi berbeda sekali dengan motif tempo dulu yang selalu menawarkan pilih-pilih selera karena minimnya motif,’’ ucapnya.

Dikatakannya 10 motif songket menjadi andalannya, yaitu siku keluang, dengan artian kepribadian yang memiliki sikap dan tanggung jawab menjadi idaman setiap orang Melayu Riau. Selanjutnya motif siku awan, dengan artian budi pekerti, sopan santun dan kelembutan akhlak menjadi asas tamadun Melayu, pengayoman terhadap masyarakat dengan budi pekerti yang luhur.

Selanjutnya pucuk rebung kaluk pakis bertingkat, melambangkan kemakmuran hidup lahiriyah dan batiniah. Sifat yang penting sesuai dengan ungkapan tahu diri dengan perintah, tahu duduk dan tegaknya, tahu alur dan patutnya. Kemudian motif pucuk rebung bertabur bunga cermai, dalam motif ini melambangkan nilai kasih sayang, hormat menghormati, lemah lembut dan bersih hati menjadi acuan dalam budaya Melayu Riau.

Motif berikutnya yaitu siku tunggal, mencerminkan sikap atau perilaku orang Melayu yang amat mengutamakan persebatian iman atau perpaduan umat baik antar sesama Melayu atau pendatang. Sedangkan motif daun tunggal mata panah tabir bintang, mengandung arti nilai falsafah keluhuran dan kehalusan budi, keakraban dan kedamaian. Begitu juga dengan motif wajik sempurna melambangkan sifat Allah SWT yang maha pemurah.

Dan motif tak kalah menarik di antaranya, kata Evie Mairoza yaitu pucuk rebung bertali, yang melambangkan nilai budaya Melayu yang sangat dipengaruhi nilai-nilai Islam. Tambahnya, setelah menghasilkan beberapa motif songket tersebut dirinya terus mengembangkan kerajinan tenun tersebut. Menurutnya, yang semula di Pekanbaru hanya 14 penenun kemudian jumlahnya terus melonjak di Pekanbaru yaitu menjadi 38 penenun. ‘’Pada umumnya para penenun yang saya gandeng para tenaga muda dan masih bersemangat untuk menenun,’’ jelasnya.

Tak hanya menggandeng kata Evie lagi, tapi pembinaan dan pembiayaan terus diberikan. Namun tidak dilepas begitu saja, sebab setiap ada kesempatan dirinya selalu berkunjung ke tempat penenun tinggal dan menjalankan aktivitasnya. Ternyata dalam karya yang membawa tuah negeri Pekanbaru ini tidak hanya sekadar rangkaian benang dan motif yang ditawarkan Evie. Sebab dalam karyanya tersebut, Evie juga menyampaikan syiar agama melalui tenun songketnya.

‘’Sebagian tenun saya bertuliskan salawat yang disuguhkan kepada masyarakat dengan iringan lagu-lagu islam beriramakan melayu berjudul ’’Riau Kemilau’’,’’ jelasnya. Makanya tak heran jika ada pagelaran baik dalam kota maupun luar kota bahkan manca negara Sanggar Mahratu yang dipimpinnya sendiri menyuguhkan penampilan dan atraksi seni songket beriring salawat dipadu dengan musik dan irama lagu Melayu.
Keberhasilan dirinya juga tak cukup dengan memperkenalkan Pekanbaru melalui benang meas dari panggung ke panggung untuk melakukan atraksi perkenalan songket yang ditenunnya. Akan tetapi Evie Mairoza juga menggoreskan karyanya itu dalam buku berjudul Songket dan Budaya Melayu 2005 lalu.

Ternyata kerja kerasnya itu benar-benar menghasilkan prestasi maksimal dan mencengangkan dan membawa semangat baru untuk terus maju mengangkat marwah negeri. ‘’Pujian dan elu-eluan bukan segalanya, tapi saya tetap akan melangkah bagaimana tenunan songket benar-benar membudaya dan dicintai masyarakat luas Riau dan khususnya di Pekanbaru ini,’’ ujarnya.




Angkat Kebudayaan jadi Sumber Ekonomi

Seorang Evie Mairoza tak akan berhenti berkarya, mungkin hal inilah bisa diucapkan setiap ide cemerlangnya terus dituangkan untuk kepentingan masyarakat Pekanbaru. Karena dorongan suami tercintanya, Drs H Herman Abdullah MM terhadap dirinya sangat besar, makanya dia tak berpuas hati sampai di situ saja untuk berbuat.

Kemudian dirinya saat sekarang sedang berupaya mengangkat kebudayaan menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat. Sudah pasti ini sangat menari disimak. Sebab jika hidup berbudaya sudah pasti mengangkat martabat dan marwah seseorang. Karena orang berbudaya naik setingkat lebih tinggi dibandingkan mereka yang tak mengenal budaya.



Bayangkan bagaimana jika budaya sudah menjadi adat (kebiasaan) dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian bayangkan lagi jika adat menjadi sumber rezeki yang mampu mengangkat perekonomian masyarakat. Tentu tidak ada yang sulit jika kita mau membuka diri. Jika ada kemauan di situ ada jalan. Budaya mengangkat marwah, budaya menjadi adat sudah lazim didengar. Akan tetapi adat menjadi sumber perekonomian masyarakat, adalah sebuah gagasan cemerlang, Evie Mairoza Herman yang sudah dikenal dengan gelar Puan Sri Julang Songket Negeri Pekanbaru ini.

Dirinya menggagas lahirnya sebuat adat resam menjadi sumber perekonomian rakyat. Hati dan pikiran Evie Mairoza, memang tak pernah berhenti untuk berkarya dan mengembangkan potensi negeri yang suda ada menjadi sesuatu yang membanggakan. Tenunan benang-benang emas menjadi butir-butir penghargaan yang mengagumkan yang telah dia terima selama ini.

Karyanya di bidang tenun menenun yang ditunjukkan untuk mengangkat perekonomian masyarakat kurang mampu, tetap terus berlangsung hingga saat sekarang. Sekarang ini, ide untuk mengangkat budaya serupa dari sisi yang berbeda telah pun dirancangnya, yakni pernak-pernik adat pelaminan pengantin Melayu yang tetap disandingkan dengan tenung songket sebagai simbol kebudayaan Melayu.

Simbol-simbol budaya di dalam tradisi pengantin Melayu sangat banyak,sangat menarik dan unik. Terutama mulai dari acara merisik, mengantar belanja, malam berinai, tepung tawar dan masih banyak lainnya. Namun jika ditelusuri semua peralatan yang melengkapi perhelatan ini jika digesa dengan baik dan sesuai adat, sudah pasti akan mengangklat harga dan martabat keluarga pengantin perempuan.

Mungkin lebih dari soal marwah, pernak-pernik perlengkapan tersebut jika diolah dengan baik dan bagus, maka akan menjadi kerajinan yang mampu mengangkat perekonomian keluarga. Apalagi keluarga pengantin akan membeli dengan jumlah besar untuk seluruh tamu undangan yang datang dalam acara pernikahan tersebut.

Evie Mairoza mencontohkan, cenderamata yang dibawa pulang tamu undangan. Keluarga pengantin selalu membeli dengan jumlah besar tapi berasal dari daerah lain atau dari luar Pekanbaru, terutama di Jogjakarta dan Bandung. ‘’Dengan begitu tentu uang akan berputar di dua daerah tersebut. Makanya kita berharap pernak-pernik atau cenderamata yang dibawa pulang tamu berasal di Pekanbaru. Dengan begitu tentu harga lebih murah dan perekonomian para masarakat kerajinan tangan kita terangkat, ’’ jelas Evie Mairoza lagi.

Kemudian dia juga mencontohan hal lainnya, yakni saat pengantin pria mengantar belanja. Banyak pernak-pernik yang diperlukan seperti keranjang tempat hantaran. Jadi pengerajin lokal Pekanbaru bisa menyediakan peralatan ini dalam jumlah besar lengkap dengan isinya serta dilengkapi dengan simbol-simbol negeri pada setiap sisinya.

‘’Telur merah yang dibawa pulang tamu, juga sisi lain budaya yang bisa diharap dengan baik dan lagi-lagi menghasilkan uang dan mengangkat perekonomian warga,’’ lanjutnya lagi. Dengan begitu semakin bermakna dan terpandang jika semua pernak-pernik dalam perhelatan ini dilengkapi makna-makna sehingga keluarga penganti mengetahui apa yang tidak diketahuinya selama ini. ‘’Tak kenal maka tak mau. Tak kenal maka tak sayang,’’ ujar Evie Mairoza lagi.

Mungkin orang berusaha keras memakai adat Melayu dalam perkawinan tapi tidak mengetahi maknanya sehingga kesannya hanya setengah-setengah. Oleh sebab itu kalau mereka tahu makna dan simbol adat itu, marwah keluarga akan terangkat. Misalnya, kata Evie Mairoza, cenderamata yang dibawa pulang oleh tamu seperti telur merah. Itu perlu disosialisasikan lengkat dengan maknanya.

‘’Jika semua lengkap, marwah pengantin perempuan dan keluarganya akan jadi sanjungan. Bukan sebaliknya menjadi bahan perbincangan yang tidak enak didengar. Semua pernak-pernik ini akan menjadi sumber ekonomi. Dan sisi kerajinan seperti inilah perlu kita angkat,’’ jelasnya lagi.

Soal pengrajin di Pekanbaru, kata Evie Mairoza, sudah ada, bahkan lumayan banyak. Hanya saja menjadi persoalan, penetapan makna setiap pernak-pernik yang diperlukan dalam adatpernikah. Oleh sebab itu dia berharap, Lembaga Adat Melayu (LAM) bergegas menetapkan makan dan mensosialisasikan kepada setiap sanggar pengantin yang ada sehingga akan lebih tersosialisasi dengan baik jika itu dilakukan. Menurutnya, jika sudah ada penetapan makna, akan lebih bagus jika diseminarkan secara terbuka. Seminar ini juga sebagai salah satu bentuk sosialiasi kepada masyarakat agar mengetahui makna setiap simbol yang ada dalam pernikahan Melayu. Dikatakannya, sebagian besar warga Pekanbaru sudah menggunakan tradisi Melayu meski hanya sebentar.

‘’Maklum saja di pekanbaru ini sangat hetrogen. Misalnya masyarakat dari luar tetap akan memakai adat Melayu, meskipun mereka juga memakai adat mereka. Oleh sebab itu walaupun mereka memakai adat Melayu sebentar tapi ini perlu dipadatkan segala maknanya melalui simbol-simbol tadi. Walaupun memakai adat Melayu hanya sebentar tapi tepat dan bermarwah, sehingga tak terkesan hanya asal-asalan saja. Sebab selama ini masyarakat dari luar tak tahu simbol-simbol adat Melayu tersebut,’’ ucapnya.

Dikatakannya, pernak-pernik tersebut kini sudah banyak dijual masyarakat di Pasar Bawah. Sebagian merupakan hasil karya pengrajin kota lain, namun tak sedikit pula pernak pernik itu hasil karya masyarakat Kota Pekanbaru. ‘’Jika pasaran ini dikuasai warga Pekanbaru secara utuh, lagi-lagi Pekanbaru akan menjadi pusat perdagangan, dan dampaknya dirasakan utuh oleh warga Pekanbaru,’’ tegasnya.



Evie juga mencontohkan pernak-pernik lain yang jika digarap dengan serius dan dilengkapi dengan makna khusus akan mengandung makna yang tinggi. Misalnya, kata dia, meja beralas tenun songket motif pucuk rebung sebagai tempat hantaran belanja. Menurutnya, selama ini, hantaran belanja hanya diletakkan di lantai oleh tuan rumah. Padahal dengan meja khusus dan alas khusus yang mengandung makna, marwah pengantin perempuan dan keluarga terangkat setingkat.

‘’Selama ini, hantaran belanja dipamerkan di lantai. Setelah itu dibawa ke kamar, diangkat lagi ke tempat lain. Jadi tidak bermarwah. Coba kalau diletakkan di meja khusus beralaskan kain tenun pucuk rebung, maknanya akan berbeda. Dari sisi ekonomi, pengrajin alas meja dapat duit. Berputar lagi ekonomi warga ,’’ kata istri Wali Kota Pekanbaru ini.

Keinginannya untuk menjadikan simbol kebudayaan sebagai sumber perekonomian masyarakat tersebut diharapkan akan tercapai seperti yang telah dilakukan terhadap tenun songket. Tenun songket yang dirancang penuh dengan makna pada setiap garis dan baris benangnya itu, kini menjadi sumber pendapatan bagi kaum ibu di Pekanbaru.

Ini terbukti dengan semakin banyaknya jumlah pengrajin tenun songket. Konsumen yang datang memesan juga selalu bertambah setiap harinya.ang dikembangkan benar-benar mampu menjadi sumber ekonomi yang pastinya mendukung pekanbaru sebagai kota perdagangan.

Begitu juga diharapkan pada keperluan pernak-pernik pengantin nantinya. Setelah makna dari setiap simbol ditetapkan, dilanjutkan dengan produksi yang banyak sehingga akan diketahui masyarakat banyak. Dengan demikian pesanan akan terus berdatangan kepada pengrajin. ‘’Kalau saya hanya mendukung saja. Tukang mengajak mengayo-ayokan saja karena yang tahu segala makna itu pasti LAM. Kalau soal pembinaan kepada pengrajin, itu memang tugas saya bersama pengurus PKK. Itu sudah kita lakukan, bahkan kita sudah punya pengrajinnya. Sosialisasi lagi yang perlu, baik segi makna simbol ataupun penggunaannya,’’ beber Evie.

Kembali kata Evie, berhasilnya kerajinan tangan pernak pernik penuh dengan adat dan budaya tersebut tak terlepas dari sosialisasi.


Tenun Songket

Tenunan yang lazim di sebut songket itu dalam sejarah yang panjang telah melahirkan beragam jenis motif, yang mengandung makna dan falsafah tertentu. Motif-motif yang lazimnya di angkat dari tumbuh-tumbuhan atau hewan (sebagian kecil) di kekalkan menjadi variasi-variasi yang serat dengan simbol-simbol yang mencerminkan nilai-nilai asas kepercayaan dan budaya melayu.



Selanjutnya, ada pula sebagian adat istiadat tempatan mengatur penempatan dan pemakaian motif-motif di maksud, serta siapa saja berhak memakainya. Nilainya mengacu kepada sifat-sifat asal dari setiap benda atau makhluk yang dijadikan motif yang di padukan dengan nilai-nilai luhur agama islam. Dengan mengacu nilai-nilai luhur yang terkandung di setiap motif itulah adat resam tempatan mengatur pemakaian dan penempatannya, dan menjadi kebanggaan sehingga diwariskan secara turun temurun .
Orang tua-tua menjelaskan bahwa kearifan orang melayu menyimak islam sekitarnya memberikan mereka peluang besar dalam memilih atau menciptakan motif. Hewan yang terkecil seperti semut, yang selalu bekerja sama mampu membuat sarang yang besar, mampu mengangkat barang-barang yang jauh lebih besar dari badannya, dan bila bertemu selalu berangkulan, memberi ilham terhadap pencintaan motif untuk mengabadikan perihal semut itu dalam motif tersebut sehingga lahirlah motif yang dinamakan motif semut beriring.



Begitu pula halnya denagn itik yang selalu berjalan beriringan dengan rukunnya melahirkan motif itik pulang petang atau itik sekawan. Hewan yang selalu memakan yang manis dan bersih (sari bunga), kemudian menyumbangkannya dengan mahkluk lain dan bentuk madu dan selalu hidup berkawan-kawan dengan damainya melahirkan pula motif lebah bergantung atau lebah bergayut.



Bunga-bungaan yang indah, wangi dan segar melahirkan motif-motif bunga yang mengandung nilai dan filsafah keluhuran dan kehalusan budi, keakraban dan kedamaian seperti corak bunga setaman, bunga berseluk daun dan lain-lain. Burung balam, yang selalu hidup rukun dengan pasangannya, melahirkan motif balam dua setengger sebagai cermin dari kerukunan hidup suami istri dan persahabatan. Ular naga, yang di mitoskan menjadi hewan perkasa penguasa samudra, melahirkan motif naga berjuang serindit mencerminkan sifat kearifan dan kebijakan. Motif puncak rebung dikaitkan dengan kesuburan dan kesabaran. Motif awan larat dikaitkan dengan kelemah-lembutan budi, kekreatifan, dan sebagainya.

Dahulu setiap pengrajin diharuskan untuk memahami makna dan falsafah yang terkandung di dalam setiap motif. Keharusan itu dimaksudkan agar mereka pribadi mampu menyerat dan menghayati nilai-nilai yang dimaksud, mampu menyebarluaskan, dan mampu pula menempatkan motif itu sesuai menurut alur dan patutnya. Karena budaya melayu sangat ber-sebati dengan ajaran islam, inti sari ajaran itu terpateri pula dengan corak seperti bentuk segi empat dikaitkan dengan sahabat Nabi Muhammad SWT yang berempat, bentuk segi lima dikaitkan dengan rukun islam, bentuk segi enam dikaitkan dengan rukun iman, bentuk wajik dikaitkan dengan sifat Allah yang maha pemurah, bentuk bulat dikaitkan dengan sifat Allah yang maha mengetahui dan penguasa alam semesta, dan sekitarnya. Menurut orang tua melayu Riau, makna dan falsafah di dalam setiap motif, selain dapat meningkatkan minat-minat orang untuk menggunakan motif tersebut, juga dapat menyebar-luaskan nilai-nilai ajaran agama Islam yang mereka anut, itu lah sebabnya dahulu pengrajin diajarkan membuat atau meniru corak.

No comments:

Post a Comment

Adat dan Resam

Sunday, February 28, 2010

Adat dan Resam

Adat resam ataupun disebut juga dengan adat istiadat merupakan bahagian dari kebudayaan, sementara kebudayaan itu sendiri merupakan peristiwa penting dan utama dalam sejarah dari kehidupan manusia. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa manusia dapat sampai pada aras modern seperti ini, dikarenakan sejak dini manusia diperkenalkan dengan kebudayaan.

Kebudayaan merupakan dasar gerak kehidupan, oleh karenanya tiadalah mengherankan, kalau kemudiannya kebudayaan menjadi tempat bagi orang untuk mengenal sesuatu. Dari mulai pembagian fase kehidupan secara luas sampai kepada suatu komunitas masyarakat, bahkan sampai kepada kehidupan keluarga dan pribadi. Dengan demikian kebudayaan merupakan implementasi dari seperangkat pemahaman, harapan dan sekaligus kehendak manusia dalam membangun dirinya. Dengan kata lain, kebudayaan merupakan sebuah sisi yang paling adil dari eksistensi manusia. Kebudayaan tidak
disembunyikan, ianya terdedah secara alami dan menyiapkan sebuah jalan yang terbentang dan mempersilakan orang untuk masuk kedalamnya.

Ketinggian kebudayaan sebuah negeri lebih kepada nilai dan penetapan identitasnya, demikian juga halnya kebudayaan yang ada di Indonesia yang begitu banyak dan beragam, akan tetapi justru dengan keberagaman yang ada menjadikannya sebagai bunga rampai yang indah dan berbau harum sekaligus meninggikan kepada nilai budaya itu sendiri. Tidaklah terkecuali dengan kebudayaan Orang Melayu.

Kebudayaan Melayu yang hampir menjadi "batang terandam" karena pengaruh perkembangan zaman, haruslah ianya diangkat kembali oleh orang-orang Melayu khususnya, dan orang-orang Indonesia pada umumnya. Dengan memperkenalkan adat resam Melayu kepada seluruh pelosok negeri dan seluruh pelosok dunia dengan harapan bahwa sisi lahiriah dan filosofis budaya Melayu dapat terus berkembang, selain itu juga bahwa adat resam Melayu adalah sebagai identitas atau jati diri orang Melayu sebagai sumber nilai kehidupan orang-orang Melayu itu sendiri.

sumber : butang emas

M. Jihad : DAG adalah sebuah Lembaga yang Menjaga Filosofi Gayo


M. Jihad : DAG adalah sebuah Lembaga yang Menjaga Filosofi Gayo

M. Jihad : DAG adalah sebuah Lembaga yang Menjaga Filosofi Gayo

tmp_20131129_155808-1626465825Takengon – LintasGayo.co : Falsafah Gayo ditemukan dalam komunitas adat-istiadat, karena hal tersebut sebagai landasan atau garis start membangun Tanoh Gayo, kata salah seorang pemerhati adat-istiadat Gayo, M. Jihad, Jum’at (29/11/2013) di Takengon.
Dia menambahkan, pembentukan Dewan Adat Gayo (DAG), akan menjadikan sebuah lembaga yang memegang teguh nilai dari falsafah Gayo itu sendiri.
“Lembaga ini adalah yang terdepat dalam menjaga nilai adat dan istiadat Gayo sebagai salah satu falsafah hidup orang Gayo yang berdasarkan sarak opat”, ujar M. Jihad.
Pembentukan DAG, ini merupakan langkah awal dari cita-cita dari urang Gayo itu sendiri, jika lembaga ini tidak terbentuk maka urang Gayo akan begini-begini saja.
“DAG ini harus segera terbentuk, karena lembaga inilah menjadi corong terdepan dalam membangun tanoh Gayo sesuai dengan filosofi Gayo itu sendiri, Reje musuket sifet, petue musidik sasat, imem muperlu sunet, rakyat genap mufakat, empat komponen inilah yang akan termuat dalam sistem Dewan Adat Gayo”, pungkasnya.
(Darmawan Masri)

Thursday, November 28, 2013

Minggu ini, Budi Laskar Pelangi dan Musisi Gayo Cerita Kopi di Wapres Takengon


 Minggu ini, Budi Laskar Pelangi dan Musisi Gayo Cerita Kopi di Wapres Takengon

Minggu ini, Budi Laskar Pelangi dan Musisi Gayo Cerita Kopi di Wapres Takengon

Budi Kurniawan dan kawan-kawan. (d'aKa)
Budi Kurniawan dan kawan-kawan. (d’aKa)
Takengon-LintasGayo.co : Kehadiran pekerja film nasional Budi Kurniawan dan kawan-kawan ke Gayo beberapa hari ini untuk menggarap film dokumenter “Biji Kopi Indonesia” tidak disia-siakan oleh Komunitas Seni Budaya Lintas Gayo (KSB-LG).
Minggu ini 1 Desember 2013 akan digelar malam kebersamaan para penikmat kopi Gayo dan para musisi muda dengan sosok pekerja film komersial yang pernah menangani film Laskar Pelangi itu.
“Ya, sepertinya acaranya oke, kita akan bicara kopi Gayo sambil ngopi bareng musisi dan seniman Gayo,” kata Budi Kurniawan kepada LintasGayo.co, Kamis sore 28 Nopember 2013 saat ditanya kesediaannya hadir di Wapres Cafe Takengon.
Terpisah, penggagas acara, Edy Linting menbenarkan wacana tersebut. “Kita sudah bertemu dengan Budi dan kawan-kawan, mereka kita tawarkan hadir di Wapres Cafe untuk lebih mengenal Gayo melalui para penikmat kopi dan musisi muda Gayo, dia setuju,” kata Edy Linting.
Dijelaskan, di acara tersebut akan tampil musisi muda Gayo Ervan Ceh Kul dengan lagu barunya “Kupi Gayo”, Hendra dengan musik garapan bersama tim KSB-LG dan Ecek dengan Ciqita Band serta tari Guel oleh T. Aga.
“Acara tersebut bertema Melek Kopi Bersama Budi Kurniawan dimulai pukul 20.30 Wib,” pungkas Edy Linting. (d’aKa)

Film “Biji Kopi Indonesia” mulai Digarap di Gayo

 Film “Biji Kopi Indonesia” mulai Digarap di Gayo

Film “Biji Kopi Indonesia” mulai Digarap di Gayo

Budi Kurniawan (kiri) beserta kru di Bener Lampahan Bener Meriah. (LGco | Khalis)
Budi Kurniawan (kiri) beserta kru di Bener Lampahan Bener Meriah. (LGco | Khalis)
Redelong-LintasGayo.co : Penggarapan film dokumenter tentang kopi yang bertajuk “Biji Kopi Indonesia” dimulai di dataran tinggi Gayo, Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah setelah Budi Kurniawan dan kawan-kawan berada di Redelong hari ini, Kamis 28 Nopember 2013.
“Hasil riset saya, harusnya kopi Gayo mampu mensejahterakan petaninya karena citarasanya yang ternama, Kopi dan petaninya diabaikan, kasihan terus menerus di eksploitasi,” kata Budi Kurniawan kepada LintasGayo.co saat ditemui bersama tokoh masyarakat Gayo, Iklil Ilyas Leube dan Fauzan Azima di Bener Lampahan, sore tadi.
“Itu salah satu sebab munculnya ide pembuatan film ini,” timpal Budi pekerja film komersial yang pernah menangani Laskar Pelangi, Badai pasti berlalu (Remake) dan sejumlah iklan itu.
Selanjutnya diterangkan Humas PT. Kopi Radja Gayo, Fauzan Azima yang mendampingi kru film ini selama di Gayo, pembuatan film ini akan berlangsung selama beberapa hari kedepan dengan mengambil lokasi di Kab. Bener Meriah dan Aceh Tengah.
“Semoga dapat berjalan dengan baik dan dapat menyuarakan kondisi ril kopi Gayo ke dunia luar,” ujar Fauzan. (Khalis)

Sejarah Aceh


VISIT ACEH YEARS 2013 JOINT US NOW

Sejarah Aceh

Pada zaman kekuasaan zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, Aceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur. Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh di zaman tersebut, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau. Kekuasaan Aceh pula meliputi hingga Perak. Kesultanan Aceh telah menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di dunia Barat pada abad ke-16, termasuk Inggris, Ottoman, dan Belanda.

Kesultanan Aceh terlibat perebutan kekuasaan yang berkepanjangan sejak awal abad ke-16, pertama dengan Portugal, lalu sejak abad ke-18 dengan Britania Raya (Inggris) dan Belanda. Pada akhir abad ke-18, Aceh terpaksa menyerahkan wilayahnya di Kedah dan Pulau Pinang di Semenanjung Melayu kepada Britania Raya.

Pada tahun 1824, Persetujuan Britania-Belanda ditandatangani, di mana Britania menyerahkan wilayahnya di Sumatra kepada Belanda. Pihak Britania mengklaim bahwa Aceh adalah koloni mereka, meskipun hal ini tidak benar. Pada tahun 1871, Britania membiarkan Belanda untuk menjajah Aceh, kemungkinan untuk mencegah Perancis dari mendapatkan kekuasaan di kawasan tersebut.

Kesultanan Aceh

Kesultanan Aceh merupakan kelanjutan dari Kesultanan Samudera Pasai yang hancur pada abad ke-14. Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatera dengan ibu kota Kutaraja (Banda Aceh). Dalam sejarahnya yang panjang itu (1496 - 1903), Aceh telah mengukir masa lampaunya dengan begitu megah dan menakjubkan, terutama karena kemampuannya dalam mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, komitmennya dalam menentang imperialisme bangsa Eropa, sistem pemerintahan yang teratur dan sistematik, mewujudkan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan, hingga kemampuannya dalam menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain. Sultan Aceh merupakan penguasa/raja dari Kesultanan Aceh, tidak hanya sultan, di Aceh juga terdapat sultanah (sultan perempuan).

Gelar-Gelar yang Digunakan dalam Kerajaan Aceh

* Tengku
* Tuanku
* Pocut
* Teuku
* Laksamana
* Uleebalang
* Cut
* Panglima Sagoe
* Meurah

Segala Hal Tentang Kerajaan Aceh

* Dalam
* Istana Darut Donya
* Cap Sikureung (cap sembilan)
* Meuligoe
* Gajah Putih
* Pasukan Gajah

Perang Aceh
Perang Aceh dimulai sejak Belanda menyatakan perang terhadap Aceh pada 26 Maret 1873 setelah melakukan beberapa ancaman diplomatik, namun tidak berhasil merebut wilayah yang besar. Perang kembali berkobar pada tahun 1883, namun lagi-lagi gagal, dan pada 1892 dan 1893, pihak Belanda menganggap bahwa mereka telah gagal merebut Aceh.

Dr. Snouck Hurgronje, seorang ahli Islam dari Universitas Leiden yang telah berhasil mendapatkan kepercayaan dari banyak pemimpin Aceh, kemudian memberikan saran kepada Belanda agar serangan mereka diarahkan kepada para ulama, bukan kepada sultan. Saran ini ternyata berhasil. Pada tahun 1898, J.B. van Heutsz dinyatakan sebagai gubernur Aceh, dan bersama letnannya, Hendricus Colijn, merebut sebagian besar Aceh.

Sultan M. Dawud akhirnya meyerahkan diri kepada Belanda pada tahun 1903 setelah dua istrinya, anak serta ibundanya terlebih dahulu ditangkap oleh Belanda. Kesultanan Aceh akhirnya jatuh seluruhnya pada tahun 1904. Saat itu, hampir seluruh Aceh telah direbut Belanda.

Bangkitnya nasionalisme

Sementara pada masa kekuasaan Belanda, bangsa Aceh mulai mengadakan kerjasama dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia dan terlibat dalam berbagai gerakan nasionalis dan politik. Aceh kian hari kian terlibat dalam gerakan nasionalis Indonesia. Saat Volksraad (parlemen) dibentuk, Teuku Nyak Arif terpilih sebagai wakil pertama dari Aceh. (Nyak Arif lalu dilantik sebagai gubernur Aceh oleh gubernur Sumatra pertama, Moehammad Hasan).

Saat Jepang mulai mengobarkan perang untuk mengusir kolonialis Eropa dari Asia, tokoh-tokoh pejuang Aceh mengirim utusan ke pemimpin perang Jepang untuk membantu usaha mengusir Belanda dari Aceh. Negosiasi dimulai di tahun 1940. Setelah beberapa rencana pendaratan dibatalkan, akhirnya pada 9 Februari 1942 kekuatan militer Jepang mendarat di wilayah Ujong Batee, Aceh Besar. Kedatangan mereka disambut oleh tokoh-tokoh pejuang Aceh dan masyarakat umum. Masuknya Jepang ke Aceh membuat Belanda terusir secara permanen dari tanah Aceh.

Awalnya Jepang bersikap baik dan hormat kepada masyarakat dan tokoh-tokoh Aceh, dan menghormati kepercayaan dan adat istiadat Aceh yang bernafaskan Islam. Rakyat pun tidak segan untuk membantu dan ikut serta dalam program-program pembangunan Jepang. Namun ketika keadaan sudah membaik, pelecehan terhadap masyarakat Aceh khususnya kaum perempuan mulai dilakukan oleh personil tentara Jepang. Rakyat Aceh yang beragama Islam pun mulai diperintahkan untuk membungkuk ke arah matahari terbit di waktu pagi, sebuah perilaku yang sangat bertentangan dengan akidah Islam. Karena itu pecahlah perlawanan rakyat Aceh terhadap Jepang di seluruh daerah Aceh. contoh yang paling terkenal adalah perlawanan yang dipimpin oleh Teungku Abdul Jalil, seorang ulama dari daerah Bayu, dekat Lhokseumawe.

Masa Republik Indonesia

Sejak tahun 1976, organisasi pembebasan bernama Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah berusaha untuk memisahkan Aceh dari Indonesia melalui upaya militer. Pada 15 Agustus 2005, GAM dan pemerintah Indonesia akhirnya menandatangani persetujuan damai sehingga mengakhiri konflik antara kedua pihak yang telah berlangsung selama hampir 30 tahun.

Pada 26 Desember 2004, sebuah gempa bumi besar menyebabkan tsunami yang melanda sebagian besar pesisir barat Aceh, termasuk Banda Aceh, dan menyebabkan kematian ratusan ribu jiwa.

Pasca Gempa dan Tsunami 2004, yaitu pada 2005, Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka sepakat mengakhiri konflik di Aceh. Perjanjian ini ditandatangani di Finlandia, dengan peran besar daripada mantan petinggi Finlandia, Marti Ahtisaari

Atjeh Institute,Dokumen Sejarah dan Budaya Aceh Terlengkap Di Atjeh Institute, Belanda


VISIT ACEH YEARS 2013 JOINT US NOW

Atjeh Institute,Dokumen Sejarah dan Budaya Aceh Terlengkap Di Atjeh Institute, Belanda



Sejarah dan budaya Aceh banyak ditulis oleh kaum orientalis barat. Konon, dokumen sejarah dan budaya Aceh terlengkap tidak dimiliki Aceh, tapi ada di Belanda dalam Atjeh Institute.
Atjeh Institute dibangun pada 31 Juli 1914 atas prakarsa Prof Dr Cristian Snouck Hurgronje, yang kemudian ditetapkan dengan surat keputusan KB nomor 61 oleh pemerintah Kolonial Belanda.
Tulisan-tulisan tentang Aceh yang ditulis oleh ahli ketimuran, baik dari Belanda maupun penulis-penulis barat yang pernah membuat penelitian di Aceh, semuanya dihimpun di Atjeh Institute tersebut.
Prof Dr Aboe Bakar Atjeh dalam makalah tentang “Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah” yang disampaikan pada seminar kebudayaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) kedua tahun 1972, menyebutkan susunan pengurusan Atjeh Institute ketika itu, Ketua Prof Dr Cristian Snouck Hurgronje. Sekretaris Dr C Janssen dan Prof J V.Van Werde C J Haselman sebagai Bendahara.
Untuk kepentingan pemerintah kolonial Belanda kala itu dalam usaha menaklukan Aceh, maka berbagai adat dan budaya serta karakteristik masyarakat Aceh diteliti di Atjeh institute. Lalu dibukukan dengan menggunakan bahasa Belanda. Buku-buku yang terlengkap tentang sejarah dan budaya Aceh yang sampai saat ini terpelihara.
Kesungguhan pemerintah kolonial Belanda dalam mendalami dan meneliti karakteristik dan budaya Aceh, tercermin dari pembentukan Atjeh Institute tersebut. Bahkan, Snouck dikirim ke Mekkah untuk mendalami Islam agar lebih mudah berintegrasi dengan masyarakat Aceh dalam melakukan penelitiannya.
Ketika itu orang Aceh menerimanya dan menempatkannya setara ulama. Sebagaimana sejarah mencatat, dimana Snouck sering menjadi khatib dimesjid-mesjid ditempat dia melakukan penelitian. Sehingga Snouck dipanggil oleh orang Aceh saat itu dengan gelar “Teungku Puteh” yang dibermakna ulama dari barat. Padahal dia sebenarnya bukan muslim, melainkan orang yang punya banyak pengetahuan tentang agama islam.
Buah dari investigasi pura-pura Islam Snouck tersebut, maka lahirlah buku budaya Aceh. Ia melakukan penelitian langsung ke Aceh setelah sebelumnya mengumpulkan data-data dari pelawatan Aceh dan Cina yang pernah singgah di Aceh, baik masa Hindu maupun setelah kedatangan Islam. Seperti Dr G A J Hazuee, dan J Kreemer.
Semua biaya penelitian mereka ditanggung oleh Atjeh Institute. Dari penelitian mereka, lahir pulalah buku-buku tentang kebudayaan dan Sejarah zaman keemasan Aceh yaitu buku “Atjeh” yang ditulis oleh Kreemer dan buku “Encyopedie Van Ned Indie”.

Buku “Atjeh” yang ditulis oleh Kreemer merupakan yang terluas cakupannya tentang identitas dan budaya rakyat Aceh. Hal itu dilatari kepentingannya menulis buku tersebut yang lebih didominir rasa tanggung jawabnya sebagai pakar sejarah dari pada kepentingan politik pemerintah kolonial Belanda saat itu.

Sementara dari kalangan jurnalis, muncul H C Zentgraaf, redaktur Kepala surat kabar Java Bode. Mantan serdadu Belanda yang pernah ikut dalam perang Aceh, setelah pensiun dari militer dan bekerja sebagai wartawan perang. Ia menulis tentang kebrutalan serdadu Moersose bentukan Belanda dalam memerangi rakyat Aceh.

Rangkuman dari pengalamannya itulah yang kemudian dikumpulkan dealam buku “Atjeh”. Zentgraaf dengan gamblang menulis tentang karakteristik, keperkasaan serta ketangguhan rakyat Aceh dalam menghadapi serangan Belanda. Zentgraaf tidak segan-segan mencela bangsanya (Belanda-red) sendiri yang terlalu arogan.

Buku Zentgraaf tersebut dengan berani diterbitkan pada masa pemerintahan kolonial Belanda masih menguasai nusantara, banyak kritikus menilai buku tersebut merupakan gondam yang memukul pemerintah Belanda kala itu.

Pada masa itu ada juga beberapa penulis lainnya, yang menulis tentang Aceh, diantaranya, Van Veer, Van Graaff, van Den Plass, Van Den Nomensen, semuanya dari Belanda. Kemudian Prof. Dr Griff dari Inggris, Marcopolo dari Spanyol, dan Prof Dr. Wit Shing dari Cina.

Soal dokumentasi budaya, rakyat Jawa lebih beruntung, atas prakarsa almarhum Prof Dr DA Husein Djajninggrat berhasil melobi pemerintah kolonoal Belanda untuk membangun Java Institute di Yogyakarta dengan Museum Sono Budoyo dan majalah Jowo. Sampai sekarang masih terpelihara dengan baik.

Begitu juga di Surakarta walau tidak begitu lengkap, masih mempunyai pusat kebudayaan yang mencerminkan karakteristik daerahnya. Pusat kebudayaan yang dikenal Radio Putoko itu terdapat di lokasi latihan dan manifestasi kebudayaan yang dinamai Taman Sriwidari.

Namun Aceh, karena keunikannya dan oleh Belanda Atjeh Institute tidak dibangun di Aceh, melainkan di negeri Belanda. Karena Belanda menilai sangat penting dokumentasi tentang Aceh ketimbang daerah lainnya di nusantara yang berhasil ditaklukkannya.
Diplomasi 1602

Ketertarikan Belanda Terhadap Aceh sudah dimulai sejak diplomat Aceh, Abdul Hamid mengunjungi Belanda, yang konon katanya merupakan diplomat pertama dari asia yang menjalin hubungan dengan Kerajaan Belanda waktu itu.

Abdul Hamid diutus oleh Sultan Alauddin Al Mukamil ke negeri kincir angin tersebut. Rombongan duta Aceh itu tiba pada Agustus 1602, tapi pada 9 Agustus Abdul Hamid meninggal di negeri Eropa itu dan dimakamkan diperkarangan gereja St Pieter di Middelburg, Zeeland.

Menurut Prof Osman Raliby dalam sebuah tulisan tentang Aceh, dunia orang Aceh berubah cepat karena pengaruh agama Islam. Hal itu kemudian ditambah dengan bersentuhannya Aceh dengan pedagang-pedagang internasional yang mencari rempah-rempah ke Aceh sejak abad ke 14.

Namun, sejak 18 Agustus 1511, Portugis yang menduduki Malaka menjadi ancaman bagi perdagangan rempah-rempah di Aceh. Raja Aceh yang sudah melakukan kontak dagang dengan kerajaan-kerajaan Islam di India, Persia, Mesir, Turki, dan Bandar-bandar dagang di Laut Merah, menyadari hal tersebut. Akan tetapi tetap menjaga hubungan dengan Portugis.

Persaingan dagang kemudian membuat hubungan itu renggang, karena Portugis berhasrat untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah di Selat Malaka. Karena itu pula Portugis berusaha menghentikan semua pengangkutan rempah-rempah dari pelabuhan Aceh.

Malah, pada tahun 1520 Laksamana dan Raja Muda Portugis di Goa, Dirgo Lopez De Sequeira mengancam dengan mengultimatum akan menyerang kapal-kapal yang melakukan kontak dagang dengan Aceh. Aceh dan Portugis pun menjadi musuh bubuyutan di selat Malaka.

Sembilan tahun kemudian (1529) Portugis ingin merebut pelabuhan Pidie dan Pase yang menjadi bandar perdagangan rempah-rempah. Namun usaha Portugis tersebut gagal. Raja Aceh berhasil menghalau Portugis untuk kembali ke Malaka. Malah pada Desember 1529, kapal-kapal Aceh muncul di depan Canannore di Pantai barat India, membantu armada Raja Kalicut yang bertempur melawan angkatan laut Portugis di Goa.

Selanjutnya, menurut Prof Dr H Aboebakar Atjeh, dalam tahun 1599–saat itu Aceh dipimpin Sultan Alauddin Riayatsyah yang dikenal dengan sebutan Sayid Al Mukammal (1588-1604)— Belanda datang ke Aceh merintis perdagangan rempah-rempah.

Orang pertama Belanda yang datang ke Aceh itu adalah dua bersaudara Cornelis de Houtman dan Frederik de Houtman. Keduanya diutus oleh Zeewsche reeder Balthazar de Moecheron, Belanda. Keduanya datang dengan dua kapal besar dan berlabuh di Pelabuhan Kerajaan Aceh.

Menyadari adanya misi dagang Belanda ke Aceh, Portugis yang sudah duluan menduduki Malaka menghasut Kerajaan Aceh untuk tidak menerima misi dagang Belanda itu. Pasalnya, Portugis tetap berkeinginan untuk memonopoli perdagangan renpah-rempah. Apalagi waktu itu Portugis bermusuhan dengan Belanda.

Raja Aceh pun terpengaruh, dua utusan dagang Belanda itu, Frederick de Houtman dan Cornelis de Houtman ditahan. Karena negoisasi ekonomi yang gagal maka Cornelis pun kemudian dibunuh. Sementara Frederick ditangkap dan ditawan. Kedua kapal Belanda itu pun berlayar kembali ke Middelburg, Belanda.

J Kreemer, seorang penulis Belanda dalam buku “Atjeh” menjelaskan, pada November 1600 Paulus van Caerden, teman sepelayaran dengan Pieter Both memerintahkan kembali dua buah kapal dari Brabantsche Compagnie untuk merintis hubungan dagang dengan Aceh.

Paulus van Caerden berhasil membuat suatu perjanjian dagang dengan Aceh, tapi karena saat itu Aceh masih terus dihasut oleh Portugis untuk tidak bekerja sama deangan Belanda. Muatan rempah-rempah dibongkar kembali dari kapal Belanda, mereka pun kembali ke Belanda tanpa hasil apa-apa.

Saat itulah Federick de Houtman berhasil lari dari tawanan orang Aceh dan naik ke kapal Van Caerden untuk melarikan diri. Tapi ia kemudian mengurungkan niatnya dan kembali menyerahkan diri kepada Sultan Aceh. Cerita tentang peristiwa tersebut terangkum dalam De Europeers in den Maleishen Archipel, dan Het handelsverdrag van V Caerden, dalam buku J.E Heeres: Corpus Diplomaticum. Sebuah catatan tentang diplomasi dagang Belanda ke Malaka.

Pun demikian, Belanda terus berusaha untuk merintis perdagangan rempah-rempah ke Aceh. Diminasi Portugis di Selat Malaka dalam perdagangan ingin direbut Belanda. Karena pedagang pedagang dari Belanda terus saja berdatangan ke Kerajaan Aceh untuk melakukan kontak dagang hubungan dagang antara Aceh dan Portugis jadi putus.
Hubungan Dagang

Hubungan dagang Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Belanda pun resmi terjalin pada tahun 1601. Ketika itu Raja Belanda, Print Maurist melalui utusannya ke Aceh yang merintis kembali urusan dagang, mengirim sepucuk surat serta hadiah-hadiah dari Kerajaan Belanda untuk Raja Aceh.

Pedagang-pedagang dari Belanda yang membawa surat dan hadiah tersebut datang dari misi dagang Gerard le Roy dan Laurens Bicker dengan beberapa buah kapal dari maskapai Zeeuw yang merupakan sebuah eskader dari Middelburg.

Utusan Raja Belanda itu ipun diterima dengan baik oleh Raja Aceh. Kepada mereka diberikan ijin mendirikan maskapai dagang untuk membeli rempah-rempah di Aceh. Sementara Frederick de Houtman dan teman-temanya yang ditahan oleh Sultan Aceh dibebaskan.

Ketika kapal Zeeuw berangkat dari Aceh membawa rempah-rempah ke Belanda, Sultan Aceh mengirim utusannya ke Belanda dengan menumpang kapal tersebut untuk menguatkan perjanjian persahabatan antara Aceh dan Belanda. Utrusan Aceh yang dikirim Sultan Alauddin Riayatsyah al Mukamil itu adalah, Abdul Hamid, duta besar Kerajaan Aceh, Laksamana Sri Muhammad, Mir Hasan, dan seorang bangsawan Aceh, serta penerjemah Leonard Werner.

Rombongan ini tiba di Belanda pada bulan Agustus 1602. kedatangan mereka disambut besar-besaran. Pada 9 Agustus Duta besar Aceh, Abdul Hamid meninggal di sana dan dimakamkan diperkarangan gereja St Pieter di Middelburg, Zeeland. Sejarah pertemuan duta Aceh dengan Raja Belanda, Print Maurist tersebut kemudian ditulis oleh Dr J J F Wap dalam buku “Het gezantschap van den sultan van Achin (1602) aan Print Maurits van Nassau en de Oud-Nederlandsche Republiek,” 1862.

Riwayat Hidup Syeh Abdul Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili

VISIT ACEH YEARS 2013 JOINT US NOW

Riwayat Hidup Syeh Abdul Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili

Ada dua legenda yang dikaitkan dengan Abdul Rauf Singkel. Legenda pertama menyatakan bahwa ia adalah mubaligh pertama yang mengislamkan Aceh (lihat Liaw Yock Fang, 1975: 198 dan Braginsky, 1998: 474). Legenda kedua menyatakan bahwa khotbah-khotbahnya telah membawa “para pelacur” dari “bordil”, yang konon dibuka oleh Hamzah Fansuri di ibukota Aceh, untuk kembali ke jalan yang benar (Snouck Hurgronje dalam Braginsky, 1998: 474). Braginsky (1998) menegaskan bahwa kedua legenda itu tentu saja tidak sesuai dengan kebenaran sejarah.

Namun, tentang peranan Abdul Rauf sebagai mualim, ulama dan pendakwah yang berpengaruh dalam kedua legenda tersebut, tentu saja tidak bisa disangkal. Arah gagasannya selalu praktis. Sebagai seorang mualim ia selalu menaruh perhatian besar pada murid-muridnya. Karya-karyanya selalu bertolak dari perhatiannya yang demikian itu, yaitu untuk membantu mereka memahami Islam dengan lebih baik lagi, menasehati mereka supaya tidak tertimpa musibah, memperteguh kesalehan mereka, dan menghindarkan mereka dari tindakan salah dan tidak toleran (A. Johns dalam Braginsky, 1998: 474).

Abdul Rauf Singkel, yang bernama panjang Syeh Abdul Rauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili, lahir di Fansur, lalu dibesarkan di Singkil pada awal abad ke-17 M. Ayahnya adalah Syeh Ali Fansuri, yang masih bersaudara dengan Syeh Hamzah Fansuri. A. Rinkes memperkirakan bahwa Abdul Rauf lahir pada tahun 1615 M. Ini didasarkan perhitungan, ketika Abdul Rauf kembali dari Mekah, usianya antara 25 dan 30 tahun (lihat Abdul Hadi WM, 2006: 241). Namun, Abdul Hadi WM (2006) menyatakan bahwa perkiraan itu bisa meleset, karena Abdul Rauf berada di Mekah sekitar 19 tahun, dan kembali ke Aceh pada 1661. Bila dalam usia 30 tahun ia kembali dari Mekah, berarti ia dilahirkan pada 1630.

Selama sekitar 19 tahun menghimpun ilmu di Timur Tengah, Abdul Rauf tidak hanya belajar di Mekah saja. Ia juga mempelajari ilmu keagamaan dan tasawuf di bawah bimbingan guru-guru yang termasyhur di Madinah. Di kota ini, ia belajar kepada khalifah (pengganti) dari tarekat Syattariyah, yaitu Ahmad Kusyasyi dan penggantinya, Mula Ibrahim Kurani (Braginsky, 1998: 474). Dalam kata penutup salah satu karya tasawufnya, Abdul Rauf menyebutkan guru-gurunya. Data yang cukup lengkap tentang pendidikan dan tradisi pengajaran yang diwarisinya ini merupakan data pertama tentang pewarisan sufisme di kalangan para sufi Melayu. Ia juga menyebutkan beberapa kota Yaman (Zabit, Moha, Bait al-Fakih, dan lain-lain), Doha di Semenanjung Qatar, Madinah, Mekah, dan Lohor di India. Di samping itu, ia juga menyebutkan daftar 11 tarekat sufi yang diamalkannya, antara lain Syattariyah, Kadiriyah, Kubrawiyah, Suhrawardiyah, dan Naqsyabandiyah (Braginsky, 1998: 474).

Sepeninggal Ahmad Kusyasyi, Abdul Rauf memperoleh izin dari Mula Ibrahim Kurani untuk mendirikan sebuah sekolah di Aceh. Sejak 1661 hingga hampir 30 tahun berikutnya, Abdul Rauf mengajar di Aceh. Liaw Yock Fang (1975) menyebutkan bahwa muridnya ramai sekali dan datang dari seluruh penjuru Nusantara. Dan, karena pandangan-pandangan keagamaannya sejalan dengan pandangan Sultan Taj al-‘Alam Safiatun Riayat Syah binti Iskandar Muda (1645-1675), Abdul Rauf kemudian diangkat menjadi Syeikh Jamiah al-Rahman dan mufti atau kadi dengan sebutan Malik al-Adil, menggantikan Syeh Saif al-Rijal yang wafat tidak lama setelah ia kembali ke Aceh (Abdul Hadi WM, 2006: 241-242). Selain itu, ia juga bersikap keras terhadap orang-orang yang menolak berkuasanya seorang raja perempuan (lihat Mat Piah et.al, 2002: 61).

Walaupun disibukkan oleh tugas mengajar dan pemerintahan, Abdul Rauf masih sempat menulis berbagai karya intelektual dan juga karya sastra berbentuk syair—banyak di antaranya yang masih tersimpan sampai sekarang.

Mulanya, ketika dititahkan oleh Sultanah untuk menulis Mir‘at al-Tullab pada 1672, ia tidak bersedia karena merasa kurang menguasai bahasa Melayu setelah lama bermukim di Haramayn (Arab Saudi). Tetapi setelah mempertimbangkan masak-masak perlunya kitab semacam ini ditulis dalam bahasa Melayu, ia pun mengerjakannya, dengan dibantu oleh dua orang sabahat (Zalila Sharif dan Jamilah Haji Ahmad dalam Abdul hadi WM, 2006: 243). Oman Fathurrahman (dalam Osman, 1997: 242) mencatat bahwa karyanya tidak kurang dari 36 kitab berkenaan dengan fikih dan syariat, tasawuf, dan tafsir Al-Qur‘an dan hadis.

Pengaruh Abdul Rauf juga mencapai umat Islam di Jawa. Braginsky (1998) menyebutkan bahwa Abdul Rauf pernah berkunjung ke Banten. Sedangkan Liaw Yock Fang (1975) menyebutkan bahwa salah satu karya Abdul Rauf dikutip dalam sebuah risalah sufi yang terkenal di Jawa. Sementara itu, tarekat Syattariyah, yang juga banyak penganutnya di Jawa, membubuhkan nama Abdul Rauf dalam silsilah para sufi besar penganut tarekat tersebut. Sehingga, Abdul Rauf jelas dikenal oleh orang-orang Jawa yang menganutnya.

Barangkali yang paling diingat orang tentang Abdul Rauf adalah bahwa ia berpenting sekali dalam menengahi silang pendapat antara Nuruddin al-Raniri dan Hamzah Fansuri tentang aliran wujudiyyah. Braginsky (1998) telah menguraikan pendekatan Abdul Rauf yang lebih sejuk dan damai terhadap aliran yang diajarkan oleh Hamzah Fansuri tersebut.

Ketika wafat pada tahun 1693, Abdul Rauf dimakamkan di muara sebuah sungai di Aceh, di samping makam Teuku Anjong yang dikeramatkan oleh orang Aceh (Abdul Hadi WM, 2006: 246), sehingga ia dikenal juga sebagai Syeh Kuala atau Tengku di Kuala (Liaw Yock Fang, 1975: 198).

B. Pemikiran

1. Tasawuf

Dalam banyak tulisannya, Abdul Rauf Singkel menekankan tentang transendensi Tuhan di atas makhluk ciptaan-Nya. Ia menyanggah pandangan wujudiyyah yang menekankan imanensi Tuhan dalam makhluk ciptaan-Nya. Dalam karyanya yang berjudul Kifayat al-Muhtajin, Abdul Rauf berpendapat bahwa sebelum Tuhan menciptakan alam semesta, Dia menciptakan Nur Muhammad. Dari Nur Muhammad inilah Tuhan kemudian menciptakan permanent archetypes (al-a‘yan al-kharijiyyah), yaitu alam semesta yang potensial, yang menjadi sumber bagi exterior archetypes (al-a‘yan al-kharijiyyah), bentuk konkret makluk ciptaan. Selanjutnya, Abdul Rauf menyimpulkan bahwa walaupun a‘yan al-kharijiyyah adalah emanasi (pancaran) dari Wujud Yang Mutlak, ia tetap berbeda dari Tuhan. Abdul Rauf mengumpamakan perbedaan ini dengan tangan dan bayangannya. Walaupun tangan sangat sukar untuk dipisahkan dari banyangannya, tetapi bayangan itu bukanlah tangan yang sebenarnya (lihat Azyumardi Azra dalam Osman, 1997: 174).

Secara umum, Abdul Rauf ingin mengajarkan harmoni antara syariat dan sufisme. Dalam karya-karyanya ia menyatakan bahwa tasawuf harus bekerjasama dengan syariat. Hanya dengan kepatuhan yang total terhadap syariat-lah maka seorang pencari di jalan sufi dapat memperoleh pengalaman hakikat yang sejati. Pendekatannya ini tentu saja berbeda dari pendekatan Nuruddin al-Raniri yang tanpa kompromi. Abdul Rauf cenderung memilih jalan yang lebih damai dan sejuk dalam berinteraksi dengan aliran wujudiyyah. Maka, walaupun ia menentang aliran yang diajarkan oleh Hamzah Fansuri itu, ia tidak menyatakannya secara terbuka. Lagipula, ia juga tidak setuju dengan cara-cara radikal yang ditempuh oleh Nuruddin (lihat Azyumardi Azra dalam Osman, 1997: 174).

Menariknya, dalam karya-karyanya ia tidak menyebut Nuruddin al-Raniri, yang karya-karyanya mungkin sekali telah dikenalinya, tetapi seolah-olah mengisyaratkan peristiwa tragis yang pernah terjadi, melalui kutipan sebuah hadis: “Jangan sampai terjadi seorang muslim menyebut muslim lain sebagai kafir. Karena jika ia berbuat demikian, dan memang demikianlah kenyataannya, lalu apakah manfaatnya. Sedangkan jika ia salah menuduh, maka tuduhan ini akan dibalikkan melawan ia sendiri” (Johns dalam Braginsky, 1998: 476).

Dengan caranya yang lebih damai ini, ia dapat menahan berkembangnya heterodoksi dalam Islam yang disebabkan oleh tafsir yang kurang tepat terhadap ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani (Abdul Hadi WM, 2006: 241).

Penekanannya tentang pentingnya syariat dalam tasawuf muncul dalam Umdat al-Muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufradin (Pijakan bagi Orang-orang yang Menempuh Jalan Tasawuf). Di dalam kitab ini, Abdul Rauf menguraikan masalah zikir. Zikir adalah dasar dari tasawuf dan karena itu merupakan metode yang penting dalam disiplin kerohanian sufi. Abdul Rauf membagi zikir menjadi dua, yaitu zikr hasanah dan zikir darajat. Zikir yang pertama tidak mengikuti aturan tertentu, sedangkan zikir yang kedua terikat aturan yang ketat (Abdul Hadi WM, 2006: 241).

Zikir darajat dilakukan setelah seseorang bertobat, kemudian menjalani upacara tertentu seperti duduk bersila menyilangkan dua kaki dan berpakaian bersih, menghadap kiblat, memilih tempat yang gelap agar dapat berkonsentrasi dan memejamkan mata. Setelah itu ia mulai berzikir, mengucapkan kalimat la ilaha Illa Allah. Kalimat ini dibaca dengan irama tertentu sambil menggoyang-goyangkan kepala. Zikir dilakukan dengan nafas teratur, lidah menyentuh langit-langit bagian belakang, sembari mengucapkan kalimat la ilaha Illa Allah dengan pikiran. Biasanya 24 kalimat itu diucapkan baru nafas dihela (Abdul Hadi WM, 2006: 244).

Abdul Rauf mengajarkan dua metode zikir, yaitu zikir keras (jabr) dan zikir pelan (sirr). Zikir keras dimulai dengan zikir nafiy (pengingkaran) dan isbat (penegasan), yaitu mengucap la ilaha Illa Allah berulangkali. Zikir ini mengandung penegasan untuk mengingkari selain Tuhan dan peneguhan bahwa satu-satunya Tuhan adalah Allah Ta‘ala. Ini dapat dibaca juga dalam Syair Perahu. Di samping itu terdapat zikir gaib dengan mengucap Hu Allah dan zikir penyaksian (al-syahadah) dengan mengucapkan Allah, Allah. Zikir pelan dilakukan dengan nafas teratur, dengan membayangkan kalimat la ilaha saat menghela nafas dan illa Allah saat menarik nafas ke dalam hati. Tujuan zikir ini adalah pemusatan diri, bukan untuk membayangkan kehadiran gambar Tuhan seperti dalam praktik Yoga Pranayama (Abdul Hadi WM, 2006: 244-245).

Semua ajaran tasawuf didasarkan pada gagasan sentral Islam yang sama, yaitu tauhid, tetapi para sufi mempunyai beragam cara dalam menafsirkannya. Dasar pandangan Abdul Rauf tentang tauhid antara lain tertera dalam kitab Tanbih al-Masyi. Ia mengajarkan agar murid-muridnya senantiasa mengesakan al-Haq (Yang Maha Benar) dan menyucikan-Nya dari hal-hal yang tidak layak baginya, yaitu dengan mengucap la ilaha Illa Allah. Kalimat ini mengandung empat tingkatan tauhid. Pertama, penegasan penghilangan sifat dan perbuatan pada diri yang tidak layak disandang Allah. Tiga tingkatan tauhid berikutnya adalah uluhiya, yaitu mengesakan ketuhanan Allah, sifat, yaitu mengesakan sifat-sifat Allah, dan zat, mengesakan Zat Tuhan (Othman Mohd. Isa dalam Abdul Hadi WM, 2006: 245-246).

Menurut Abdul Rauf, “Salah satu bukti keesaan Allah SWT adalah tidak rusaknya alam. Allah berfirman, ‘Sekiranya di langit dan di bumi ini ada tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak dan binasa‘.” Berangkat dari pengetahuan inilah kemudian ia membicarakan hubungan ontologis atau kewujudan antara Pencipta dan ciptaan-ciptaan-Nya, antara Yang Satu dan “yang banyak”, antara al-wujud dan al-maujudat. Alam adalah wujud yang terikat pada sifat-sifat mumkinat atau serba mungkin. Oleh karena itu alam disebut sebagai sesuatu selain al-Haq (Oman Fathurrahman dalam Abdul Hadi WM, 2006: 246).

2. Syariat

Abdul Rauf Singkel juga menulis kitab dalam bidang syariat. Yang terpenting adalah Mirat al-Turab fi Tashil Ma‘rifah al-Ahkam al-Syar‘iyyah li al-Malik al-Wahab (Cermin Para Penuntut Ilmu untuk Memudahkan Tahu Hukum-hukum Syara‘ dari Tuhan, bahasa Melayu). Kitab ini merupakan kitab Melayu terlengkap yang membicarakan syariat. Sejak terbit, kitab ini menjadi rujukan para kadi atau hakim di wilayah Kesultanan Aceh. Dalam kitabnya ini, Abdul Rauf tidak membicarakan fikih ibadat, melainkan tiga cabang ilmu hukum Islam dari mazhab Syafii, yaitu hukum mengenai perdagangan dan undang-undang sipil atau kewarganegaraan, hukum perkawinan, dan hukum tentang jinayat atau kejahatan (Ali Hasmy dalam Abdul Hadi WM, 2006: 243).

Bidang pertama termasuk fikih muamalah dan mencakup urusan jual beli, hukum riba, kemitraan dalam berdagang, perdagangan buah-buahan, sayuran, utang-piutang, hak milik atau harta anak kecil, sewa menyewa, wakaf, hukum barang hilang, dan lain-lain. Bidang yang berkaitan dengan perkawinan mencakup soal nikah, wali, upacara perkawinan, hukum talak, rujuk, fasah, nafkah, dan lain-lain. Sedangkan jinayat mencakup hukuman pemberontakan, perampokan, pencurian, perbuatan zinah, hukum membunuh, dan lain-lain (Ali Hasmy dalam Abdul Hadi WM, 2006: 243).

3. Tafsir

Dalam bidang tafsir, Abdul Rauf menghasilkan karya berjudul Tarjuman al-Mustafid. Pada hakikatnya, karya ini merupakan terjemahan Melayu dari kitab tafsir yang lain, yaitu tafsir al-Jalalain. Karya ini diselesaikan oleh muridnya, Daud Rumi, dan beberapa pengarang belakangan lainnya, dengan mengambil agak banyak bagian dari tafsir al-Baidawi dan al-Kazin (Riddel dalam Braginsky, 1998: 275). Walaupun kitab ini tergolong sebagai tafsir, tetapi Braginsky (1998) menganggapnya sebagai terjemahan lengkap Al-Qur‘an dalam bahasa Melayu yang pertama, yang seperti lazimnya berbentuk sebagai tafsir dan bukan karangan eksegesis yang rinci.

4. Sastra

Walaupun kuatrin terpisah-pisah, yang tidak lain merupakan bait-bait syair, terkadang terdapat dalam Bustan as-Salatin karya Nuruddin al-Raniri, tetapi penerus tradisi penulisan “syair religius-mistik” adalah Abdul Rauf Singkel. Braginsky (1998: 491-484) telah membahas syair-syair tesebut dan menyimpulkan bahwa dalam syair-syairnya, Abdul Rauf Singkel menegaskan tentang Sifat Kekekalan (Kadim) Tuhan di satu pihak, dan sifat kemakhlukan (muhadas) manusia di pihak lain, yang menyebabkan adanya perbedaan mutlak di antara keduanya. Jadi, karya sastra Abdul Rauf yang berupa syair ini masih memiliki hubungan yang sangat erat dengan keyakinan tasawufnya.

Dalam sebuah naskah yang disalin di Bukit Tinggi pada 1859, diberitakan bahwa Abdul Rauf-lah yang telah mengarang Syair Makrifat. Dalam syair ini, dibahas tentang empat komponen agama Islam, yaitu iman, Islam, tauhid, dan makrifat, dan tentang makrifat sebagai pengenalan sufi yang memahkotai keempat komponen itu. Syair ini juga menegaskan bahwa hanya orang yang paham akan makna semuanya yang layak disebut sebagai orang yang telah menganut agama yang sempurna.

C. Karya

Oman Fathurrahman (dalam Osman, 1997: 242) mencatat tidak kurang dari 36 kitab berkenaan dengan fikih dan syariat, tasawuf, dan tafsir Al-Qur‘an dan hadis, di antaranya adalah:

1.Daka‘ik al-Huruf (Kehalusan-kehalusan Huruf), dikutip dalam al-Tuhfa al-mursala ila ruh al-nabi, risalah ilmu tasawuf yang sangat penting di Jawa.
2.Tafsir Baidhawi (terjemahan, 1884, diterbitkan di Istambul).
3.Mirat al-Turab fi Tashil Ma‘rifah al-Ahkam al-Syar‘iyyah li al-Malik al-Wahab (Cermin Para Penuntut Ilmu untuk Memudahkan Tahu Hukum-hukum Syara‘ dari Tuhan, bahasa Melayu).
4.Umdat al-muhtajin ila Suluk Maslak al-Mufradin (Pijakan bai Orang-orang yang Menempuh Jalan Tasawuf).
5.Tanbih al-Masyi al-Mansub ila Tariq al-Qusyasyi (Pedoman bagi Penempuh Tarekat al-Qusyasyi, bahasa Arab).
6.Bayan al-Arkan (Penjelasan tentang Rukun-rukun Islam, bahasa Melayu).
7.Bidayah al-Baligah (Permulaan yang Sempurna, bahasa Melayu).
8.Sullam al-Mustafiddin (Tangga Setiap Orang yang Mencari Faedah, bahasa Melayu).
9.Piagam tentang Zikir (bahasa Melayu).
10.Tarjuman al-Mustafid bi al-Jawy.
11.Syarh Latif ‘Ala Arba‘ Hadisan li al-Imam al-Nawawiy (Penjelasan Terperinci atas Kitab empat Puluh Hadis Karangan Imam Nawawi, bahasa Melayu).
12.Al-Mawa‘iz al-Ba‘diah (Petuah-petuah Berharga, bahasa Melayu).
13.Kifayat al-Muhtajin.
14.Bayan Tajilli (Penjelasan tentang Konsep Manifestasi Tuhan).
15.Syair Makrifat.
16.Al-Tareqat al-Syattariyah (Untuk Memahami jalan Syattariyah).
17.Majmu al-Masa‘il (Himpunan Petranyaan).
18.Syam al-Ma‘rifat (Matahari Penciptaan).

D. Pengaruh

Syeh Abdul Rauf Singkel memiliki banyak murid yang tersebar di kepulauan Nusantara. Dua muridnya juga masyhur, yaitu Syeh Jamaluddin al-Tursani dan Syeh Yusuf al-Makasari. Jamaluddin al-Tursani adalah seorang ahli hukum ketatanegaraan terkenal dan pernah menjadi Kadi Malik al-Adil di istana Aceh pada awal abad ke-18 M. Ia terkenal berkat karya hukum ketatanegaraannya yang komprehensif, Syafinat al Hukam (Bahtera Para Hakim), yang merupakan perluasan baik terhadap Taj al-Salatin maupun Bustan al-Salatin. Sedangkan Syeh Yusuf al-Makasari adalah seorang ulama dari Makassar. Ulama inilah yang mendampingi Sultan Ageng Tirtayasa dalam perjuangannya melawan kolonialisme Belanda (Abdul Hadi WM, 2006: 246).

Pada saat Abdul Rauf menjadi mufti, Aceh adalah kesultanan yang sangat penting di dunia Melayu karena menjadi tempat persinggahan para jemaah haji. Orang dari Jawa dan daerah lain di Indonesia yang pergi naik haji, harus singgah di Aceh. Sewaktu di Aceh, tidak sedikit pula dari jemaah haji belajar agama dan ilmu tasawuf kepada Abdul Rauf (A.H. Johns dalam Liaw Yock Fang, 1975: 197). Mungkin inilah sebabnya tarekat Syattariyah agak populer di Jawa dan nama Abdul Rauf sering disebut dalam silsilah tarekat tersebut. Sebuah karangan Abdul Rauf, yaitu Dakai‘ik al-Huruf, dikutip dalam al-Tuhfa al-mursala ila ruh al-nabi, sebuah risalah ilmu tasawuf yang sangat penting di Jawa (Liaw Yock Fang, 1975: 197).

Bersama dengan Nuruddin al-Raniri, Abdul Rauf Singkel menunjukkan bahwa Islam, sebagaimana yang dipraktekkan di Asia Tenggara, adalah bagian dari pasang surut gagasan dan praktek religius dan mistisisme di dunia. Gagasan dan praktek ini berakar pada Al-Qur‘an dan kehidupan komunitas Islam awal, tetapi kemudian berkembang ke berbagai arah yang berbeda-beda. Perdebatan yang terjadi di Aceh, dan juga di dunia Melayu pada umumnya, tidak bersifat unik bagi daerah ini saja, karena telah muncul juga di berbagai belahan dunia Islam lainnya. Menurut Piah dkk (2002), Aceh menangkap gagasan dan praktek-praktek ini dan mengeskpresikannya dengan cara yang rumit dan menantang bagi kaum Muslim yang memahami keimanan mereka melalui medium bahasa Melayu.
 

SEJARAH MESJID RAYA BAITURRAHMAN BANDA ACEH

VISIT ACEH YEARS 2013 JOINT US NOW

SEJARAH MESJID RAYA BAITURRAHMAN BANDA ACEH





Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, merupakan Masjid yang memiliki lembaran sejarah tersendiri, yang kini merupakan Masjid Negara yang berada di jantung kota Propinsi Nanggro Aceh Darussalam. Nama Masjid Raya Baiturrahman ini berasal dari nama Masjid Raya yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 H/1612 M. Mesjid raya ini memang pertama kali dibangun oleh pemerintahan Sultan Iskandar Muda, namun telah terbakar habis pada agresi tentara Belanda   kedua pada bulan shafar 1290/April 1873 M, dimana dalam peristiwa tersebut tewas Mayjen Khohler yang kemudian diabadikan tempat tertembaknya pada sebuah monument kecil dibawah pohon ketapang/geulumpang dekat pintu masuk sebelah utara mesjid.




Empat tahun setelah Masjid Raya Baiturrahman itu terbakar, pada pertengahan shafar 1294 H/Maret 1877 M, dengan mengulangi janji jenderal Van Sweiten, maka Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman yang telah terbakar itu. Pernyataan ini diumumkan setelah diadakan permusyawaratan dengan kepala-kepala Negeri sekitar Banda Aceh. Dimana disimpulakan bahwa pengaruh Masjid sangat besar kesannya bagi rakyat Aceh yang 100% beragama Islam. Janji tersebut dilaksanakan oleh Jenderal Mayor Vander selaku Gubernur Militer Aceh pada waktu itu. Dan tepat pada hari Kamis 13 Syawal 1296 H/9 Oktober 1879 M, diletakan batu pertamanya yang diwakili oleh Tengku Qadhi Malikul Adil. Masjid Raya Baiturrahman ini siap dibangun kembali pada tahun 1299 Hijriyah bersamaan dengan kubahnya hanya sebuah saja.
Pada tahun 1935 M, Masjid Raya Baiturrahman ini diperluas bahagian kanan dan kirinya dengan tambahan dua kubah. Dan pada tahun 1975 M terjadinya perluasan kembali. Perluasan ini bertambah dua kubah lagi dan dua buah menara sebelah utara dan selatan. Dengan perluasan kedua ini Masjid Raya Baiturrahman mempunyai lima kubah dan selesai dekerjakan dalam tahun 1967 M. Dalam rangka menyambut Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional ke-XII pada tanggal 7 s/d 14 Juni 1981 di Banda Aceh, Masjid Raya diperindah dengan pelataran, pemasangan klinkers di atas jalan-jalan dalam pekarangan Masjid Raya. Perbaikan dan penambahan tempat wudhuk dari porselin dan pemasangan pintu krawang, lampu chandelier, tulisan kaligrafi ayat-ayt Al-Qur’an dari bahan kuningan, bagian kubah serta intalasi air mancur di dalam kolam halaman depan.
Dan pada tahun 1991 M, dimasa Gubernur Ibrahim Hasan terjadi perluasan kembali yang meliputi halaman depan dan belakang serta masjidnya itu sendiri. Bagian masjid yang diperluas,meliputi penambahan dua kubah, bagian lantai masjid tempat shalat, ruang perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula dan ruang tempat wudhuk, dan 6 lokal sekolah. Sedangkan. perluasan halaman meliputi, taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama dan dua buah minaret.
Dilihat dari sejarah, Masjid Raya Baiturrahman ini mempunyai nilai yang tinggi bagi rakyat Aceh, karena sejak Sultan Iskandar Muda sampai sekarang masih berdiri megah di tengah jantung kota Banda Aceh. Mesjid Raya ini mempunyai berbagai fungsi selain shalat, yaitu tempat mengadakan pengajian, perhelatan acara keagamaan seperti maulid Nabi Besar Muhammad SAW, peringatan 1 Muharram, Musabaqah Tilawatil Qur’an (yang baru selesai MTQ Telkom-Telkomsel Nasional), tempat berteduh bagi warga kota serta para pendatang, salah satu obyek wisata Islami.
Waktu gempa dan tsunami (26 Desember 2004) yang menghancurkan sebagian Aceh, mesjid ini selamat tanpa kerusakan yang berarti dan banyak warga kota yang selamat di sini. Kawasan/lingkungan mesjid ini juga dijadikan kawasan syariat Islam, jadi sebaiknya kita jaga dan jangan dikotori oleh perbuatan-perbuatan yang melecehkan mesjid serta melanggar syariat Islam.

Sejarah terbentuknya Daerah Istimewa Aceh

Sejarah terbentuknya Daerah Istimewa Aceh



Pada zaman kekuasaan zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, Aceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur. Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh di zaman tersebut, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau. Kekuasaan Aceh pula meliputi hingga Perak. Kesultanan Aceh telah menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di dunia Barat pada abad ke-16, termasuk Inggris, Ottoman, dan Belanda.

Kesultanan Aceh terlibat perebutan kekuasaan yang berkepanjangan sejak awal abad ke-16, pertama dengan Portugal, lalu sejak abad ke-18 dengan Britania Raya (Inggris) dan Belanda. Pada akhir abad ke-18, Aceh terpaksa menyerahkan wilayahnya di Kedah dan Pulau Pinang di Semenanjung Melayu kepada Britania Raya.

Pada tahun 1824, Persetujuan Britania-Belanda ditandatangani, di mana Britania menyerahkan wilayahnya di Sumatra kepada Belanda. Pihak Britania mengklaim bahwa Aceh adalah koloni mereka, meskipun hal ini tidak benar. Pada tahun 1871, Britania membiarkan Belanda untuk menjajah Aceh, kemungkinan untuk mencegah Perancis dari mendapatkan kekuasaan di kawasan tersebut.Nanggröe Aceh Darussalam adalah sebuah Daerah Istimewa setingkat provinsi yang terletak di Pulau Sumatra dan merupakan provinsi paling barat di Indonesia. Daerah ini berbatasan dengan Teluk Benggala di sebelah utara, Samudra Hindia di sebelah barat, Selat Malaka di sebelah timur, dan Sumatra Utara di sebelah tenggara dan selatan.

Ibukota NAD ialah Banda Aceh. Pelabuhannya adalah Malahayati-Krueng Raya, Sabang, Lhokseumawe dan Langsa. Aceh merupakan kawasan yang paling buruk dilanda gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Beberapa tempat di pesisir pantai musnah sama sekali. Yang terberat adalah Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Singkil dan Simeulue.

Aceh mempunyai kekayaan sumber alam seperti minyak bumi dan gas alam. Sumber alam itu terletak di Aceh Utara dan Aceh Timur. Aceh juga terkenal dengan sumber hutannya, yang terletak di sepanjang jajaran Bukit Barisan, dari Kutacane, Aceh Tenggara, sampai Seulawah, Aceh Besar. Sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) juga terdapat di Aceh Tenggara.


Sumber



 

Seperti Apa Bendera Aceh yang Sebenarnya ?

Seperti Apa Bendera Aceh yang Sebenarnya ?

Seperti Apa Bendera Aceh yang Sebenarnya ?

Oleh: Sabardi*
Alam Peudeung (sumber google.com)
Alam Peudeung (sumber google.com)
PADA pertengahan tahun 2012 yang lalu Dewan perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) telah mengesahkan Rancangan Qanun Wali Nanggroe menjadi Qanun Wali Nanggroe. Namun pengesahan qanun tersebut menuai banyak kirtik dari berbagai pihak maupun elemen lainnya baik itu masyarakat bagian tengah, barat selatan, bahkan sebagian mayarakat bagian pesisir timur aceh juga menolak pengesahan rancangan qanun tersebut menjadi qanun.
Belum selesai dengan masalah wali nanggroe, rancangan qanun lambang dan bendera pun naik rating dan timbul kepermukaan,dan rancangan qanun lambang dan bendera acehpun kembali menuai kritik dan pro kontra hingga saat ini.
Banyak pihak yang menolak pengesahan qanun lambang dan bendera Aceh karena dianggap masih berbau separatis dan tidak boleh dinaikan. Bukan hanya dari kalangan aktivis saja yang menolak qanun ini dari kalangan pemerintah juga angkat bicara soal masalah ini.
Seperti yang dikatan oleh Pangdam IM kala itu, Mayjen TNI Zahari Siregar pihaknya menolak lambang dan bendera yang berbau separatis itu dinaikan dan agar dievaluasi. Gamawan Fauzi selaku Mendagri, yang pada saat itu berada di Jakarta juga mengatakan hal yang serupa, agar bendera Aceh dievaluasi kembali sebelum disahkan.
Lalu muncul pertanyaan seperti apa bendera Aceh yang tidak berbau separatis. Pada zaman dahulu ketika Aceh masih dalam masa kerajaan Aceh sudah memiliki bendera. Namun bendera pada masa saat itu bukanlah bulan bintang tetapi bendera pada masa zaman kerajaan dulu adalah “alam peudeung”.
Alam itu dalam bahasa arab maknanyabendera sedangkan peudeung maknanya pedang. Makanya bendera pada masa zaman dahulu selalu ada pedang, kelewang, bulan bintang, dan kaligrafi Arab.
Bendera aceh pada masa sekarang ini yaitu bulan bintang pertama kali ditetapkan oleh Tgk.DR.Hasan Tiro, 4 Desember 1976 dan ditetapkan sebagai bendera GAM. Dan Aceh sudah damai dan melakukan peradamaian pada tanggal 15 agustus 2005 lalu.
Dalam masa damai ini kehadiran Aceh kedalam bingkai NKRI bukanlah untuk merusak melainkan untuk hidup secara damai dan beradab.(sabardi123@yahoo.com)
*Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala