Search This Blog

Thursday, July 18, 2013

Seminar Nasional: Bencana Alam dalam Perspektif Islam dan Science

Seminar Nasional: Bencana Alam dalam Perspektif Islam dan Science

  
Dikirim oleh prasetya1 pada 04 Mei 2007 | Komentar : 0 | Dilihat : 790
Bencana Alam
Bencana Alam
Pemanasan global merupakan fenomena yang teramati dalam beberapa dekade berupa kenaikan temperature rerata atmosfir bumi dan laut yang diperkirakan akan terus berlanjut. Akibat yang ditimbulkan pemanasan global meliputi perubahan iklim global serta perubahan yang mengikuti perubahan iklim global. Demikian ungkap Dr Ir Andang Widi Harto MT dalam seminar nasional bertajuk ?Bencana Alam dalam Perspektif Islam dan Science?, yang berlangsung di Widyaloka Universitas Brawijaya dan dibuka oleh PD III FMIPA Drs Warsito MS  Kegiatan ini diselenggarakan disela-sela perhelatan Muktamar Jaringan Rohani Islam MIPA tingkat nasional yang berlangsung pada 4-6 Mei 2007.
Lebih lanjut alumnus teknik nuklir Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu mengungkapkan, perubahan iklim global yang terjadi seperi kenaikan permukaan laut, pelelehan lapisan es, serta perubahan pola penguapan dan jatuhan air. Sementara perubahanyang mengikuti perubahan iklim global meliputi kepunahan beberapa spesies tumbuhan dan binatang, peningkatan penyakit dan vektor-vektor penyakit, serta perubahan pola pertanian.
Penyebab Pemanasan Global
Dalam makalahnya yang berjudul ?Global Warming, Bencana Global Ideologis? Andang mengungkapkan, penyebab fisik pemanasan global adalah peningkatan CO2 sebagai factor utama, serta peningkatan gas rumah kaca selain di atmosfir seperti CH4 di atmosfir. Gas itu ungkap Andang, menimbulkan efek alami yang disebut efek rumah kaca. Namun demikian Andang menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan penyebab utama pemanasan global. Pertumbuhan ekonomi lanjut Andang, membawa konsekuensi yang dapat meningkatkan emisi CO2 diantaranya peningkatan kebutuhan bahan baku industri, peningkatan kebutuhan energi, peningkatan produksi limbah serta perubahan gaya hidup.
Solusi Mengatasi Pemanasan Global
Berbagai solusi telah ditawarkan oleh para peneliti pemanasan global. Salah satunya dan sebagian besar solusi ditawarkan dari aspek teknologi. Diantaranya adalah melakukan penghematan energi (penggunaan bahan bakar fosil), sequestrasi CO2 dengan media pelesap alami, penangkapan dan penyimpanan CO2, serta penggantian bahan bakar, misalnya dengan penggunaan bahan bakar biomassa limbah. Namun berbagai solusi teknologi itu menurut Andang, tidak akan dapat diterapkan bilamana terdapat pandangan baru dalam memandang kedudukan manusia dan alam dalam peradaban. Dan Islam merupakan satu-satunya ideologi alternatif yang mampu untuk menyelesaikan problema peradaban manusia. Konsep dalam Islam meliputi konsep tauhid, dimana memandang bahwa manusia, alam dan kehidupan adalah ciptaan Allah SWT dan diciptakan dengan tujuan yang telah ditentukan. Konsep kedua yaitu konsep ibadah, dimana memandang bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.
Konsep Ekonomi Islam sebagai Solusi Penyelesaian Kerusakan Alam
Aspek Ekonomi Islam dikenal dengan istilah ekonomi syariah. Segala perbuatan manusia dalam aspek ekonomi pun tanpa terkecuali, harus tunduk pada hukum syariat Islam. Secara makro maupun mikro menurut Andang, konsep ekonomi Islam mengarah pada empat hal yaitu memperlambat pertumbuhan ekonomi dengan salah satu tujuan utamanya penghematan sumber daya alam dengan mengurangi eksploitasinya. Kedua, mengutamakan produksi kebutuhan pokok manusia pada taraf yang layak untuk kehidupan normal. Ketiga, menciptakan keadilan ekonomi dengan cara melakukan pemberdayaan serta penciptaan sistem distribusi ekonomi yang adil. Terakhir, mendudukan ekonomi sebagai salah satu komponen peradaban. [nik]

Bencana Menurut Prespektif Islam

Bencana Menurut Prespektif Islam

Oleh: MUHAMMAD BIN HJ TAIB
Tidak ada di kalangan manusia yang suka pada bencana. Kerana bencana itu sangat menyusahkan manusia.Kerana itulah manusia bersedih sedih hati dengan bencana.Walaupun demikian tidak ada di kalangan manusia baik itu secara perseorangan maupun secara kelompok, dapat mengelak atau dapat terlepas daripada bencana, sekalipun dia seorang yang berkuasa atau seorang yang kaya. Cuma ada orang yang ditimpa bencana sekali-sekali saja, ada yang selalu, ada yang ringan, ada yang berat, ada terjadi pada dirinya, keluarga dan harta bendanya atau kedudukannya dan lain-lain lagi. Diantara bencana-bencana itu mana yang lebih berbahaya?Sebenarnya bencana terbagi menjadi dua:
Pertama: Yang bersifat hissi atau bersifat lahir
Bencana ini berbagai macam bentuknya, di antaranya seperti sakit, harta hilang, kematian keluarga yang tercinta, difitnah, dipermalukan, dipukul orang, jatuh miskin, turun pangkat, perniagaan rugi, diPHK, harta musnah oleh bencana alam, tidak naik pangkat, dipenjara dan lain-lain.
Kedua: Yang bersifat maknawi atau rohani

Berbagai macam bentuk pula, di antaranya seperti melupakan ilmu yang telah dipelajari, tercabut iman, atau iman berkurang, ilmu tidak diamalkan, iman tercabut yang ada hubungan dengan akidah. Iman merosot karena beberapa sebab, diantaranya seperti ada amalan yang biasa dikerjakan tidak dikerjakan,atau memlakukan dosa baik itu kecil maupun besar. Dosa itu, ada dosa lahir dan ada dosa batin.Di antara dosa-dosa itu ialah seperti berzina, riba, korupsi,mencuri, menipu, minum arak, judi, mengumpat, memfitnah,menghina, menghasut, hasad, tamak, bakhil, pemarah, mengadu domba dan lain-lain.
Di antara dua bentuk bencana ini, bencana yang paling berbahaya ialah bencana yang bersifat rohani dan maknawi, karena bencana ini akan membawa ke Neraka.Sebaliknya bencana yang bersifat hissi tidak membawa ke Neraka. Bahkan mungkin menguntungkan karena mungkin dapat menghapuskan dosa atau mendapat derajat di dalam Syurga, asalkan pandai menerimanya.

Oleh karena itu bencana yang bersifat rohani dan maknawi ini sangat dibenci dan wajib dijauhi. Maksudnya, setiap dosa adalah bencana, maka wajib dijauhi. Tapi bencana yang bersifat hissi tidak perlu dibenci. Ia hanya menyusahkan. Dan tidak menjadi satu kesalahan untuk berusaha mengelaknya. Juga tidak salah kalau setelah ditimpa suatu bencana, kita berusaha menghilangkannya karena bagi orang yang lemah iman dan tidak tahan dengan ujian dapat jatuh pada dosa atau tercabut iman dengan ujian yang berat itu.

Tapi bagi orang yang mampu berhadapan dengan ujian atau orang yang imannya kuat, tidak salah pula untuk tidak berusaha menghilangkannya. Karena sifat redha dengan ketentuan Allah itu salah satu sifat terpuji. Ia merupakan sifat-sifat Rasul. Dan itu pahalanya amat besar di sisi Allah yang Maha Pemurah.

Di akhir zaman ini oleh karena kebanyakan umat Islam sudah jahil dengan ilmu agama, kemudian cinta dunianya pula begitu mendalam, maka mereka hanya terpaut dan terpengaruh dengan kehidupan yang terdekat yaitu dunia ini. Kehidupan di Akhirat sekadar tahu adanya Akhirat, namun hatinya tidak ke sana. Timbullah acuh tak acuh dengan Akhirat. Maka timbullah salah berfikir. Kita memandang perkara yang terdekat itu amat besar dan serius sekali. Nikmatnya pun dipandang besar. Bencananya pun dipandang besar. Akibatnya nikmat dan bencana di Akhirat dipandang kecil saja. Maka sebab itulah kita lupa daratan dengan nikmat dunia. Terasa sangat menderita dengan bencana dunia. Justeru itu banyak dikalangan umat Islam apabila ditimpa bencana yang bersifat hissi di dunia ini, seperti sakit, miskin, dipecat, tidak naik pangkat, turun pangkat, difitnah, hilang harta, rugi di dalam perniagaan, dipukul, dipenjara dan lain-lain, masya-Allah bukan main sedihnya. Derita jiwanya, kusut fikirannya, marah-marah saja, merungut-rungut, tidak bahagia, gelisah, rasa kesal tidak sudah. Mengadu di sana, mengadu di sini, jumpa siapa saja diluahkan perasaan susahnya. Kekusutan fikirannya sampai begitu terlihat sekali, kelihatan pada wajahnya. Melakukan apa saja serba tidak kena. Begitulah perasaan kecewa dengan ujian itu.

Bila iman tiada atau iman terlalu lemah, kemudian langsung putus asa. Ada yang mau bunuh diri untuk menyelesaikan masalahnya. Dia pikir dengan cara itu dapat menyelesaikan masalah. Dia ditipu oleh syaitan terkutuk karena memandang besarnya dunia ini. Tersesat jalan di dunia ini, dan ke Neraka akibatnya. Wal’iyazubillah.

Bagi orang Islam yang kuat imannya, dengan ujian dan bencana dunia ini yang bersifat hissi, dia tidak begitu ambil pusing. Bahkan bagi golongan muqarrobin dan siddiqin seperti para nabi, para Sahabat dan para auliya, mereka sangat terhibur dengan ujian dunia itu. Mereka merrasa dosa mereka terampuni dengan ujian dunia dan bencana itu.
Contohnya cerita di bawah:

Di zaman Rasulullah SAW, ada seorang perempuan mempunyai tiga orang anak lelaki. Dia sanggup melepaskan semua anaknya ke medan perang. Dia tersenyum ketika anak sulung dan anak keduanya mati syahid di medan perang. Dia menangis apabila diberitahu bahwa anak bungsunya turut mati syahid. Bila ditanya mengapa dahulu senyum, sekarang baru menangis, beliau menjawab, “Aku sedih karena tiada lagi anak yang hendak kukorbankan untuk jihad fisabilillah.” Umat Islam di zaman gemilang dan di zaman keemasan terutama di sekitar 300 tahun selepas Rasulullah SAW, mereka sangat sensitif dengan bencana yang bersifat maknawi dan rohani.

Mereka sangat memandang besar akan bencana itu. Mereka terlalu takut dengan ujian yang bersifat maknawi dan rohani itu. Jiwa mereka sangat tersiksa dengan ujian itu. Bahkan bencana yang bentuk ini, belum datang pun mereka amat takut kalau-kalau di masa depan akan ditimpa dengan bencana ini, baik itu secara sedar atau tidak. Karena bencana ini adalah dimurkai oleh Allah dan kalau Allah tidak mengampuni, akan ke Neraka, wal’iyazubillah.

Justeru itulah jika mereka ditimpa bencana ini, hati mereka menderita.Mereka menangis mengalirkan air mata. Hilang selera makan, hilang rangsangan dengan isteri, tidak senyum berbulan-bulan. Mereka akan tebus dengan apa sahaja kebaikan bahkan jika mereka tertinggal amalan yang sunat sekalipun mereka merasa telah berdosa, mereka merasa ini adalah satu bencana.

Hayati cerita di bawah ini:

“Pada suatu hari, Sayidina Abu Bakar pergi ke kebunnya untuk melihat hasil tanamannya itu. Dilihatnya pohon-pohon dan tanamannya banyak yang sudah berbuah. Karena terlalu asyik melihat buah-buahnya yang sudah masak itu, beliau terlena dan tertinggal shalat berjemaah Ashar bersama Rasulullah SAW. Dengan rasa takut dan kesal yang tidak terkira, kebun itu langsung diwakafkan untuk umat Islam dan digandakan shalatnya sebanyak 70 kali.”
Sebaliknya kebanyakan umat Islam di akhir zaman ini tidak sensitif dengan bencana maknawi dan rohani. Kita tidak terasa apa-apa dengan bencana ini. Kita rileks saja. Kita tidak merasa bersalah bahkan ada yang melupakan sama sekali seolah-olah bencana ini tidak terjadi dan tidak pernah terjadi kepada dirikita.

Sebagai contoh, kita tidak terasa bencana apabila meninggalkan shalat atau terlewat shalat. Kita tidak terrasa bencana dengan mengumpat, dengan memfitnah, dengan menghina, dengan mendurhakai ibu bapak, kepada guru, dengan zina, berbohong, dengan menipu, dengan korupsi, dengan membuka aurat, dengan pergaulan bebas, dengan tidak berzakat, tidak berpuasa, dengan sombong, riyak, dengan tamak, bakhil, dengan pemarah, berdendam, hasad dengki, mengadu domba, menghasut, bertengkar, membunuh, riba, tidak belajar, tidak berbelas kasihan, tidak tenggang rasa, tidak bertoleransi, tidak sabar, tidak pemurah, tidak redha, tidak membantu orang dan lain-lain.

Oleh karena bencana maknawi dan rohani ini tidak dianggap dan tidak dipandang bencana, maka adakalanya dianggap kebiasaan dan diamalkan setiap hari hingga dijadikan budaya. Sebagai contoh, bila kita berkumpul-kumpul, mengumpat dan mengatai orang sering kita dengar bersama, tertawa bersama, rasa senang bersama, sambung-menyambung antara satu sama lain mengumpat orang lain. Adakalanya yang diumpat itu kawan sendiri,ibu ayahnya, gurunya, pemimpin sendiri, isteri dan suami sendiri, hingga terlewat atau tertinggal shalat. Bertambah lagi membesar bencana itu yang tidak lagi dianggap bencana. Kemudian setelah selesai ada yang menipu orang, ada yang pulang ke rumah marah-marah pada isteri, membentak-bentak tidak menentu Bertambah merebak lagi bencana itu, ibarat orang sakit, sakitnya telah kronik. Namun tidak terasa itu adalah bencana yang memecah-belah rumah tangga, keluarga, satu masyarakat, satu bangsa kemudian akhirnya terjun ke Neraka.

Sikap Seorang Mukmin Dalam Menghadapi Musibah

Sikap Seorang Mukmin
Dalam Menghadapi Musibah

(Oleh: Ustadz Abdullâh bin Taslîm Al-Buthoni)
 
Sebagai hamba Allâh Ta'âla, semua manusia dalam kehidupan di dunia ini tidak akan luput dari berbagai macam cobaan, baik berupa kesusahan maupun kesenangan. Hal itu merupakan sunnatullâh yang berlaku bagi setiap insan, yang beriman maupun kafir.
Allâh Ta'âla berfirman:
(Qs al-Anbiyâ’/21:35)
Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan
sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya),
dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan

(Qs al-Anbiyâ’/21:35)


Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:
“(Makna ayat ini) yaitu: Kami menguji kamu (wahai manusia), terkadang dengan bencana dan terkadang dengan kesenangan, agar Kami melihat siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar, serta siapa yang bersabar dan siapa yang berputus asa”.[1]

KEBAHAGIAAN HIDUP DENGAN BERTAKWA KEPADA ALLAH TA'ALA
Allâh Ta'âla dengan ilmu-Nya yang Maha Tinggi dan hikmah-Nya yang Maha Sempurna menurunkan syariat-Nya kepada manusia untuk kebaikan dan kemaslahatan hidup mereka. Oleh karena itu, hanya dengan berpegang teguh kepada agama-Nyalah seseorang bisa merasakan kebahagiaan hidup yang hakiki di dunia dan akhirat.
Allâh Ta'âla berfirman:
(Qs al-Anfâl/8:24)
Hai orang-orang beriman,
penuhilah seruan Allâh dan seruan Rasul-Nya
yang mengajak kamu kepada suatu
yang memberi (kemaslahatan)[2] hidup bagimu

(Qs al-Anfâl/8:24)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:
“(Ayat ini menunjukkan) bahwa kehidupan yang bermanfaat hanya didapatkan dengan memenuhi seruan Allâh Ta'âla dan Rasul-Nya Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Maka, barang siapa tidak memenuhi seruan Allâh Ta'âla dan Rasul-Nya Shallallâhu 'Alaihi Wasallam, dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik) meskipun fisiknya hidup, sebagaimana binatang yang paling hina. Jadi, kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang dengan memenuhi seruan Allâh Ta'âla dan Rasul-Nya Shallallâhu 'Alaihi Wasallam secara lahir maupun batin”[3].
Allâh Ta'âla berfirman:
(Qs Hûd/11:3)
“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya.
(Jika kamu mengerjakan yang demikian),
niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepadamu (di dunia)
sampai kepada waktu yang telah ditentukan
dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang
yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya (di akhirat nanti)”

(Qs Hûd/11:3)

Dalam mengomentari ayat-ayat di atas, Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:
“Dalam ayat-ayat ini Allâh Ta'âlamenyebutkan bahwa Dia akan memberikan balasan kebaikan bagi orang yang berbuat kebaikan dengan dua balasan: balasan (kebaikan) di dunia dan balasan (kebaikan) di akhirat. [4]

SIKAP SEORANG MUKMIN DALAM MENGHADAPI MASALAH
Seorang Mukmin dengan ketakwaannya kepada Allâh Ta'âla, memiliki kebahagiaan yang hakiki dalam hatinya, sehingga masalah apapun yang dihadapinya di dunia ini tidak akan membuatnya mengeluh atau stres, apalagi berputus asa. Hal ini disebabkan keimanannya yang kuat kepada Allâh Ta'âla membuat dia yakin bahwa apapun ketetapan yang Allâh Ta'âla berlakukan untuk dirinya maka itulah yang terbaik baginya.
Dengan keyakinannya ini pula Allâh Ta'âla akan memberikan balasan kebaikan baginya berupa ketenangan dan ketabahan dalam jiwanya. Inilah yang dinyatakan oleh Allâh Ta'âla dalam firman-Nya:
(Qs at-Taghâbun/64:11)
Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang)
kecuali denga izin Allâh;
barang siapa yang beriman kepada Allâh,
niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya.
Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu

(Qs at-Taghâbun/64:11)

Imam Ibnu Katsîr rahimahullâh berkata:
“Maknanya: seseorang yang ditimpa musibah dan dia meyakini bahwa musibah tersebut merupakan ketentuan dan takdir Allâh Ta'âla, kemudian dia bersabar dan mengharapkan (balasan pahala dari Allâh Ta'âla), disertai (perasaan) tunduk berserah diri kepada ketentuan Allâh Ta'âla tersebut, maka Allâh Ta'âla akan memberikan petunjuk ke (dalam) hatinya dan menggantikan musibah dunia yang menimpanya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya, bahkan bisa jadi Allâh Ta'âla akan menggantikan apa yang hilang darinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya.”[5]
Inilah sikap seorang Mukmin yang benar dalam menghadapi musibah yang menimpanya.
Meskipun Allâh Ta'âla dengan hikmah-Nya yang Maha Sempurna telah menetapkan bahwa musibah itu akan menimpa semua manusia, baik orang yang beriman maupun orang kafir, akan tetapi orang yang beriman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang kafir, yaitu ketabahan dan pengharapan pahala dari Allâh Ta'âla dalam menghadapi musibah tersebut. Dan tentu saja semua ini akan semakin meringankan beratnya musibah tersebut bagi seorang Mukmin.
Dalam menjelaskan hikmah yang agung ini, Ibnul Qayyim rahimahullâh mengatakan:
“Sesungguhnya semua (musibah) yang menimpa orang-orang yang beriman dalam (menjalankan agama) Allâh Ta'âla senantiasa disertai dengan sikap ridha dan ihtisâb (mengharapkan pahala dari-Nya). Kalaupun sikap ridha tidak mereka miliki maka pegangan mereka adalah sikap sabar dan ihtisâb. Ini (semua) akan meringankan beratnya beban musibah tersebut. Karena, setiap kali mereka menyaksikan (mengingat) balasan (kebaikan) tersebut, akan terasa ringan bagi mereka menghadapi kesusahan dan musibah tersebut.
Adapun orang-orang kafir, mereka tidak memiliki sikap ridha dan tidak pula ihtisâb. Kalaupun mereka bersabar (menahan diri), maka (tidak lebih) seperti kesabaran hewan-hewan (ketika mengalami kesusahan).
Sungguh Allâh Ta'âla telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya yang artinya:
”Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari Allâh apa yang tidak mereka harapkan”
(Qs an-Nisâ/4:104)
.
Jadi, orang-orang Mukmin maupun kafir sama-sama menderita kesakitan, akan tetapi orang-orang Mukmin teristimewakan dengan pengharapan pahala dan kedekatan dengan Allâh Ta'âla."[6]

HIKMAH COBAAN
Di samping sebab-sebab di atas, ada lagi faktor lain yang bisa meringankan semua kesusahan yang dialami seorang Mukmin di dunia ini, yaitu merenungi dan menghayati hikmah-hikmah agung yang Allâh Ta'âla jadikan dalam setiap ketentuan yang terjadi pada hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Dengan merenungi hikmah-hikmah tersebut, seorang Mukmin akan semakin yakin bahwa semua cobaan yang menimpanya pada hakikatnya adalah kebaikan bagi dirinya, untuk menyempurnakan keimanannya dan semakin mendekatkan diri-Nya kepada Allâh Ta'âla.
Semua ini, di samping akan semakin menguatkan kesabarannya, juga akan membuatnya selalu bersikap husnuzh zhann (berbaik sangka) kepada Allâh Ta'âla dalam semua musibah dan cobaan yang menimpanya.
Dengan sikap ini, Allâh Ta'âla akan semakin melipatgandakan balasan kebaikan baginya, karena Allâh Ta'âla memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya dalam sebuah hadits qudsi yang artinya:
“Aku (akan memperlakukan hamba-Ku) sesuai dengan persangkaannya kepada-Ku”.[7]
Maknanya: Allâh Ta'âla akan memperlakukan seorang hamba sesuai dengan persangkaan hamba tersebut kepada-Nya, dan Dia akan berbuat pada hamba-Nya sesuai dengan harapan baik atau buruk dari hamba tersebut, maka hendaknya hamba tersebut selalu menjadikan baik persangkaan dan harapannya kepada Allâh Ta'âla.[8]
Di antara hikmah yang agung tersebut adalah:
1.
Allâh Ta'âla menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai obat pembersih untuk mengeluarkan semua kotoran dan penyakit hati yang ada pada hamba-Nya. Kalau seandainya kotoran dan penyakit tersebut tidak dibersihkan maka dia akan celaka (karena dosa-dosanya), atau minimal berkurang pahala dan derajatnya di sisi Allâh Ta'âla. Jadi musibah dan cobaanlah yang membersihkan penyakit-penyakit itu, sehingga hamba tersebut meraih pahala yang sempurna dan kedudukan yang tinggi di sisi Allâh Ta'âla[9].
2.
Allâh Ta'âla menjadikan musibah dan cobaan tersebut sebagai sebab untuk menyempurnakan penghambaan diri dan ketundukan seorang Mukmin kepada-Nya, karena Allâh Ta'âlamencintai hamba- Nya yang selalu taat beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, susah maupun senang.[10]
Inilah makna sabda Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :
“Sungguh mengagumkan keadaan seorang Mukmin, semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang Mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.”[11]

3.
Allâh Ta'âla menjadikan musibah dan cobaan di dunia sebagai sebab untuk menyempurnakan keimanan seorang hamba terhadap kenikmatan sempurna yang Allâh Ta'âla sediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa di surga kelak. Inilah keistimewaan surga yang sangat jauh berbeda keadaannya dengan dunia Allâh Ta'âla menjadikan surga-Nya sebagai negeri yang penuh kenikmatan yang kekal abadi, serta tidak ada kesusahan dan penderitaan padanya selamanya. Sehingga kalau seandainya seorang hamba terus-menerus merasakan kesenangan di dunia, maka tidak ada artinya keistimewaan surga tersebut, dan dikhawatirkan hatinya akan terikat kepada dunia, sehingga lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang kekal abadi di akhirat nanti.[12]
Inilah di antara makna yang diisyaratkan dalam sabda Rasûlullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :
”Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.”[13]
PENUTUP
Sebagai penutup, ada sebuah kisah yang disampaikan oleh imam Ibnul Qayyim rahimahullâh tentang gambaran kehidupan guru beliau, imam Ahlus sunnah wal jama’ah di jamannya, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullâh. Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada kita tentang bagaimana seharusnya seorang Mukmin menghadapi cobaan dan kesusahan yang Allâh Ta'âla takdirkan bagi dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata:
“Dan Allâh Ta'âla yang Maha Mengetahui bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau (Ibnu Taimiyyah rahimahullâh). Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan (siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allâh Ta'âla), yang berupa (siksaan dalam) penjara, ancaman dan penindasan (dari musuh-musuh beliau). Tapi di sisi lain (aku mendapati) beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya serta paling tenang jiwanya.
Terpancar pada wajah beliau sinar keindahan dan kenikmatan hidup (yang beliau rasakan). Dan kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah rahimahullâh), jika ditimpa perasaan takut yang berlebihan, atau timbul (dalam diri kami) prasangka-prasangka buruk atau (ketika kami merasakan) kesempitan hidup, kami (segera) mendatangi beliau (untuk meminta nasehat).
Dengan hanya memandang (wajah) beliau dan mendengarkan ucapan (nasehat) beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.”[14]
[1]
Tafsîr Ibnu Katsîr (5/342- cet Dâru Thayyibah).
[2]
Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr (4/34).
[3]
Kitab Al-Fawâ-id (hal 121- cet. Muassasatu Ummil Qura’)
[4]
Al-Wâbilush Shayyib (hal 67- cet. Dârul Kitâbil ‘Arabi).
[5]
Tafsîr Ibnu Katsîr (8/137)
[6]
Ighâtsatul Lahfân (hal 421-422 – Mawâridul Amân)
[7]
HR al-Bukhâri (no 7066- cet. Dâru Ibni Katsîr) dan Muslim (no 2675)
[8]
Lihat kitab Faidhul Qadîr (2/312) dan Tuhfatul Ahwadzi (7/53)
[9]
Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighâtsatul Lahfân (hal 422 – Mawâridul Amân)
[10]
Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh dalam Ighâtsatul Lahfân (hal 424 – Mawâridul Amân)
[11]
HR Muslim (no 2999)
[12]
Lihat keterangan Imam Ibnul Qayyim dalam Ighâtsatul lahfân (hal 423 – Mawâridul amân), dan imam Ibnu Rajab dalam Jâmi’ul ‘Ulûmi wal Hikam (hal 461- cet. Dâr Ibni Hazm).
[13]
HR al-Bukhâri (no. 6053)
[14] Kitab Al-Wâbilush Shayyib (hal 67- cet. Dârul Kitâbil ‘Arabi)

(Majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun XIII)

Tuesday, July 16, 2013

Fakta Ilmiah Seputar 2012

Fakta Ilmiah Seputar 2012

gunung-bawahlaut-bengkulu
Fakta Pertama :
1. Senin 27 Agustus 1883 pukul 10.00 WIB adalah saat terakhir penduduk di sekitar Selat Sunda melihat Matahari tengah naik ke puncaknya. Setengah jam kemudian, mereka meregang nyawa diseret gelombang laut setinggi sampai 40 meter.Jumlah seluruhnya 36.417 orang berasal dari 295 kampung di kawasan pantai Banten dan Lampung. Keesokan harinya dan keesokan harinya lagi, penduduk sejauh sampai Jakarta dan Lampung tak melihat lagi Matahari, gelap gulita. Apa yang terjadi di hari yang seperti kiamat itu adalah letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda.
krakatau
Suara letusannya terdengar sampai sejauh 4600 km dan di dengar di kawasan seluas 1/8 permukaan Bumi. Telah banyak tulisan dan film di seluruh dunia dibuat tentang kedahsyatan letusan Krakatau ini. University of North Dakota, Volcanic Explosivity Index (VEI) mencantumkan dua gunung api di seluruh dunia yang letusannya paling hebat dalam sejarah moderen : Krakatau 1883 (VEI : 6) dan Tambora 1815 (VEI : 7). Dan tahukah juragan bahwa belum lama ini Tim yang terdiri dari gabungan para pakar geologi Indonesia, AS, dan Perancis berhasil menemukan gunung api raksasa di bawah perairan barat Sumatera. Gunung api tersebut berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter & berada 330 km arah barat Kota Bengkulu. Saat ini sedang dilakukan penelitian yg intensif Tim ahli dari Indonesia, AS, dan Perancis. Menurut hasil penelitian terahir, besar kemungkinan akan kembali terulang seperti kejadian (letusan) di tahun 1883 tsb, yang diawali dengan Tsunami yg bisa mencapai belasan kali lebih besar dibanding tsunami aceh.
medan-magnet1
Fakta Kedua :
2.Medan magnet yang melindungi Bumi dari radiasi berbahaya telah retak di berbagai tempat tanpa diketahui sebabnya. Rekahan terbesar sepanjang 160.000 km.
Yellowstone
Fakta Ketiga :
3.Supervulkanik Yellowstone, yang meletus dahsyat setiap 600.000 sampai 700.000 tahun sekali, sedang bersiap-siap untuk meletus lagi. Letusan terakhir dengan kekuatan setara terjadi di Danau Toba , INDONESIA, 74.000 tahun lalu, menewaskan lebih dari 90 persen populasi dunia saat itu. Kita tahu bahwa penutup dari siklus bumi terakhir dikatakan adalah letusan mahadashyat Gunung Toba. Ya benar, Danau Toba di Sumatera itu adalah sisa letusan terdahsyat yang pernah terjadi di bumi. Jauh lebih dahsyat dari letusan Krakatau ato Gunung Helena (Skala 8 Vulcanic Eruption Index).
patahan-lembang
Fakta Keempat :
4. Patahan Lembang yang berada di utara Kota Bandung akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian dan kajian sains, oleh LIPI, maupun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung. Sesar yang diyakini aktif ini menyimpan ancaman besar akan gempa.
Dengan panjang bentang Patahan Lembang 22 kilometer, Eko menuturkan bahwa potensi gempa bisa mencapai 6,7 skala Ritcher. "Itu adalah skenario terburuknya, jika gerakan yang terjadi adalah berbarengan," ucapnya.
Gempa permukaan dengan kekuatan sebesar ini, menurutnya, akan berdampak luar biasa terhadap kawasan di sekitarnya. Ia bahkan memperkirakan, dampak gempa itu nantinya mampu menyamai kejadian gempa di Yogya, Mei 2006, yang menewaskan ribuan warga.
Untuk itu, cukup dengan kekuatan kecil seperti terjadi di DIY, gempa dangkal yang terjadi bisa menimbulkan efek merusak luar biasa. Bahkan, mengutip pernyataan dari Brian Atwater, peneliti Paleotsunami ternama dari United States Geological Survey (USGS) yang menjadi rekan kerjanya dalam serangkaian riset, ancaman bencana Patahan Lembang termasuk kategori kelas dunia.
"Sebab, patahan ini ternyata berada di dekat kawasan kota yang sangat padat. Hal yang jarang terjadi di dunia," ucapnya. Menurutnya, ancaman potensi gempa Patahan Lembang yang disampaikannya ini bukan untuk membuat resah warga.
meteor-bone1
Fakta Kelima :
5.Pakar astronomi mengungkapkan bahwa ledakan besar yang terjadi di perairan Teluk Bone pada 8 Oktober 2009 lalu adalah akibat jatuhnya meteorit yang berasal dari asteroid berdiameter sekitar 10 meter ke bumi.
Sistem pemantau internasional untuk larangan percobaan nuklir dari 11 stasiun, ujarnya, melaporkan telah mendeteksi adanya ledakan besar yang berpusat di sekitar lintang 4,5 LS dan bujur 120 BT, sekitar pukul 11.00 Wita pada 8 Oktober. Analisis ledakan menunjukkan bahwa kekuatan ledakan sekitar 50 kiloton TNT (trinitrotoluena) dan sinyal ledakan tersebut juga mencapai stratosfer yang tingginya lebih dari 20 km. Bayangkan saja jika bom bali yg hanya berkekuatan 25 kg tnt saja bisa membunuh lebih dari 200 jiwa, apa yang akan terjadi jika meteor dgn kekuatan ratusan kali ini jatuh ditengah pemukiman warga?
Besar kemungkinan volume masuknya meteor menembus atmosfer bumi akan semakin besar ditahun-tahun mendatang, dengan perkiraan ledakan ratusan kali jauh lebih besar dibanding ledakan bom WTC.
potongan-es
Fakta Keenam :
6.Apakah anda tahu bahwa sejak tanggal 3 September 2007 (hanya dalam 6 hari), 69.000 mil persegi Kutub Utara telah mencair dan menghilang? Potongan es itu seperti luas Negara Bagian Florida, AS. Badan ruang angkasa Amerika, NASA, baru-baru ini mengungkapkan fakta tentang foto satelit yang menunjukkan bahwa di musim panas ini saja, 552 milyar ton es telah mencair dari lapisan es Greenland. Ahli iklim NASA Jay Zwally mengatakan, -Dengan kecepatan mencair seperti ini, maka Laut Kutub Utara akan kehilangan lapisan esnya pada akhir musim panas 2012, lebih cepat daripada ramalan sebelumnya.
Dampaknya bagi manusia akan sangat besar. artinya, jika suhu rata-rata global naik antara tiga sampai empat derajat Celsius, lapisan es abadi di Greenland akan mencair seluruhnya. Sebagai akibatnya, permukaan air laut global akan naik rata-rata tujuh meter. Semua negara kepulauan kecil akan tenggelam. Kota-kota besar di kawasan pantai, sebagian juga akan lenyap.
swine-flu
Fakta Ketujuh :
7.Mutasi kecil dari virus flu burung sehingga dapat menginfeksi manusia dengan perantara manusia akan mengakibatkan epidemis global. Apabila saat ini pemerintah mengendalikan virus flu burung dengan pembantaian secara besar-besaran terhadap perantara unggas, apa yang akan dilakukan pemerintah apabila perantaranya adalah manusia ??
Tinggal menunggu waktu kita akan menghadapi strain virus pembunuh. Karena proses alamiah, atau karena ilmuwan yang gila...
magnetic-pole-shift
Fakta Kedelapan :
dan pada ahirnya
Magnetic Pole Shift - And where the Sun will rise?
"Tidak akan tiba hari kiamat sebelum matahari terbit dari barat"
Investigasi lanjutan mengenai anomali-anomali 2012 tiba pada verifikasi ilmiah yang paling menggetarkan : Prediksi NASA bahwa dalam beberapa tahun ke depan ada kemungkinan terjadi perubahan kutub magnet bumi-yang merupakan siklus ribuan tahun dari planet dan bintang. Meski sulit dipercaya, sebagai contoh NASA mengatakan bahwa pada tahun 2001 bintang kita -matahariku, yang dinyanyikan Agnes- telah mengalami perubahan kutub tersebut. Namun karena massa matahari relatif uniform dan kita tidak tinggal disana maka manusia relatif tidak merasakan perubahan ini.
Seperti kita ketahui bumi dapat diibaratkan sebutir telur dimana kulit telur adalah daratan dan lautan tempat kita berpijak, dan cairan telur adalah material vulkanis logam cair dan inti bumi adalah kuning telur yang merupakan logam padat bersuhu tinggi. Dan inti bumi inilah yang memiliki medan magnet yang keluar dari kutub utara menuju kutub selatan yang dikenal dengan Sabuk Van Hallen. Medan magnet ini melindungi bumi dari sinar kosmis matahari yang memungkinkan kehidupan berjalan dengan normal.
Dalam beberapa dekade terakhir dinyatakan kutub utara telah bergeser dalam derajat yang signifikan, dan tidak ada yang bisa memastikan kapan terjadi pergeseran total kutub Utara menjadi kutub Selatan ini. Bisa dalam hitungan tahun, atau masih ratusan tahun lagi (ref:NASA). Bukan berarti bumi yang berputar balik, tapi karena inti bumi dan kerak bumi diisi oleh cairan, posisi inti dan keraklah yang sebenarnya berputar (Seperti kuning telur berputar didalam telur yang sedang diam)
Jadi apakah efeknya terhadap kehidupan di dunia ini? Satu hal yang bisa dipastikan adalah jarum kompas kita tidak akan lagi menunjuk ke arah utara namun mengikuti kutub magnet Utara yang sudah pindah di Selatan.
That's it? Cuma jarum kompas berubah arah? Mungkin saja. Worst scenarionya malah kemungkinan terjadi sedikit gangguan magnetik yang bisa merusak peralatan elektronik, satelit, pembangkit listrik atau piranti teknologi lainnya. Ooh, jadi sebenarnya kita tidak perlu khawatir kan? Seperti prediksi badai matahari di tahun 2012 yang diulas kompas, upaya pemerintah mungkin lebih kepada mitigasi terhadap kerusakan peralatan GPS dan sarana telekomunikasi.
Jadi benarkah kita tidak perlu khawatir? Coba dipikirkan lagi, apabila kutub magnetik Utara bumi ada di Selatan, darimanakah Matahari kita akan terbit?
Sumber: http://www.indoboards.us/threads/7257-Fakta-Ilmiah-Seputar-2012

Terlalu Dekat dengan Bumi, 2012 DA14 akan Alami Gempa


Terlalu Dekat dengan Bumi, 2012 DA14 akan Alami Gempa

Dibandingkan dengan gempa di Bumi, gempa di asteroid terlihat kecil. Gempa baru terlihat jika ada astronaut yang terbang melayang di dekatnya.

nasa,asteroidIlustrasi NASA mengenai kedatangan asteroid 2012 DA14 pada pertengahan Februari 2013. (DOK.NASA)
Peneliti yang terlibat dalam pengamatan asteroid 2012 DA14, memprediksi akan terjadi gempa di benda langit itu. Ini terjadi karena asteroid 2012 DA14 berjarak terlalu dekat dengan ladang gravitasi Bumi.
Asteroid 2012 DA14 diprediksi mendekati Bumi pada Jumat (15/2) atau Sabtu (16/2) dini hari WIB. Meski dianggap sebagai objek terbesar yang pernah mendekati planet kita, pengamatan tidak bisa dilakukan dengan mata telanjang.
"Kita akan melihat secara dekat bukti adanya aktivitas seismik pada asteroid 2012 DA14 saat ia melintas," ujar Richard Binzel, profesor ilmu planet di Massachusetts Institute of Technology (MIT), AS, Kamis (14/2).
Ditambahkan Binzel, ini adalah kasus pertama sebuah objek mendekati Bumi dan mengalami gempa. "Dan kita cukup mendapat informasi untuk kemudian merencanakan observasi."
Saat asteroid menjelajah luar angkasa, mereka secara perlahan berubah menjadi merah gelap. Fenomena ini, ujar Binzel, disebut sebagai ruang pelapukan yang disebabkan oleh lamanya paparan sinar kosmik dan radiasi Matahari.
Meski demikian, selama beberapa dekade, manusia hanya menyaksikan asteroid kecil dan terlihat dalam warna cerah. "Mereka tidak mengalami pelapukan," tambah Binzel.
Dibandingkan dengan gempa di Bumi, gempa di asteroid terlihat kecil. Gempa baru bisa terlihat jika ada astronaut yang terbang melayang di dekat asteroid. Dengan demikian baru nampak adanya getaran atau terjadinya "longsor kecil".
Asteroid 2012 DA14 merupakan objek besar yang paling mendekati Bumi, lebih dekat dari pada satelit komunikasi buatan manusia yang berada di orbit geosynchronous. Diperkirakan, asteroid sebesar 45 meter dengan massa 130 ribu metrik ton ini hanya akan berselisih 27.600-an kilometer dari Bumi.
(Zika Zakiya. Sumber: SpaceDaily, NASA)

NASA: Ini Foto Keajaiban Tsunami Aceh

NASA: Ini Foto Keajaiban Tsunami Aceh

Dalam foto terlihat fitur melingkar berwarna putih. Itu adalah sebuah masjid yang selamat.

Jum'at, 24 Desember 2010, 06:16 Elin Yunita Kristanti
Aceh pasca tsunami (lihat fitur berwarna putih)
Aceh pasca tsunami (lihat fitur berwarna putih) (Ikonos National University of Singapore)
VIVAnews - Pada 26 Desember 2004, gempa bumi bawah laut 9,1 skala Richter mengguncang Samudera Hindia di lepas pantai Sumatera Utara, Indonesia. Dampak gempa itu begitu kuat sampai 1.200 kilometer dari pusat gempa, hingga mencapai Alaska.

Gempa dahsyat itu memicu tsunami mematikan. Tsunami menyapu sejumlah pantai di Samudera Hindia hingga ketinggian 30 meter. Lebih dari 230.000 orang tewas dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Situs Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, mengabadikan foto Aceh, sebelum dan sesudah diterjang gelombang gergasi, tsunami.

Salah satu foto menggambarkan kondisi Kota Lhoknga, di pantai barat Sumatera dekat Ibukota Aceh, Banda Aceh. Kota itu rata dengan tanah.

Namun, sebuah keajaiban tampak. Dalam foto terlihat fitur melingkar berwarna putih. Itu adalah sebuah masjid yang selamat dan berdiri kokoh di tengah segala kehancuran.
NASA: Aceh pasca tsunami1
NASA: Aceh sebelum tsunami1
Foto selanjutnya direkam menggunakan instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) di Satelit Terra milik NASA.

Foto ini menggambarkan kondisi sebelum tsunami pada pada 17 Desember 2004, dan tiga hari paska bencana, 29 Desember 2004 (atas).

Awalnya, terlihat vegetasi hijau di sepanjang pantai barat, juga bentangan pasir putih. Setelah gempa dan tsunami, wilayah pantai tampak berwarna coklat keunguan.
NASA: Aceh pasca tsunami3
NASA: Aceh sebelum tsunami3
Foto lain diambil instrumen Landsat 7 Enhanced Thematic Mapper Plus (ETM +) menunjukkan area kecil di sepanjang pantai Sumatera di Provinsi Aceh, di mana tsunami menghancurkan jalan darat.

Di daerah ini, gelombang raksasa menyebabkan kerusakan total di area 1,5 kilometer persegi dari bibir pantai. (art)
NASA: Aceh pasca tsunami2
NASA: Aceh sebelum tsunami2

© VIVA.co.id

FOTO KEAJAIBAN TSUNAMI ACEH YANG TEREKAM NASA

FOTO KEAJAIBAN TSUNAMI ACEH YANG TEREKAM NASA

Posted by Kun Kurokawa
Foto keajaiban tsunami aceh yang terekam NASA ini merupakan kelanjutan dari 6 fenomena misterius yang belum terpecahkan oleh sains, salah satunya adalah Masjid Baiturrahim di Aceh yang selamat dari musibah tsunami dahsyat 2004, sementara di sekitarnya porak poranda diterjang gelombang. Nah pada postingan ini akan diperlihatkan foto foto dari Situs Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA yang memperlihatkan detil keajaiban tsunami aceh, baik sebelum maupun sesudah terjadinya gelombang tsunami.

Gempa dahsyat dengan kekuatan 9,1 skala richter yang terjadi di lepas pantai Sumatera Utara, Indonesia (bawah laut) itu telah memicu tsunami mematikan. Tsunami menyapu sejumlah pantai di Samudera Hindia hingga ketinggian 30 meter. Lebih dari 230.000 orang tewas dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Salah satu foto menggambarkan kondisi Kota Lhoknga, di pantai barat Sumatera dekat Ibukota Aceh, Banda Aceh. Kota itu rata dengan tanah. Namun, sebuah keajaiban tampak. Dalam foto terlihat fitur melingkar berwarna putih. Itu adalah sebuah masjid yang selamat dan berdiri kokoh di tengah segala kehancuran.

FOTO KEAJAIBAN TSUNAMI ACEH YANG TEREKAM NASA

FOTO KEAJAIBAN TSUNAMI ACEH YANG TEREKAM NASA

Foto selanjutnya direkam menggunakan instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) di Satelit Terra milik NASA. Foto ini menggambarkan kondisi sebelum tsunami pada pada 17 Desember 2004, dan tiga hari paska bencana, 29 Desember 2004 (atas).

Awalnya, terlihat vegetasi hijau di sepanjang pantai barat, juga bentangan pasir putih. Setelah gempa dan tsunami, wilayah pantai tampak berwarna coklat keunguan.



FOTO KEAJAIBAN TSUNAMI ACEH YANG TEREKAM NASA

FOTO KEAJAIBAN TSUNAMI ACEH YANG TEREKAM NASA

Foto lain diambil instrumen Landsat 7 Enhanced Thematic Mapper Plus (ETM +) menunjukkan area kecil di sepanjang pantai Sumatera di Provinsi Aceh, di mana tsunami menghancurkan jalan darat yang menyebabkan kerusakan total di area 1,5 kilometer persegi dari bibir pantai.

FOTO KEAJAIBAN TSUNAMI ACEH YANG TEREKAM NASA

FOTO KEAJAIBAN TSUNAMI ACEH YANG TEREKAM NASA

Foto keajaiban tsunami Aceh yang terekam Nasa tersebut merupakan sebagai mukjizat, bahwa rumah Allah diselamatkan dari gelombang ganas tsunami...

.: Gempabumi Terkini | BMKG :.

.: Gempabumi Terkini | BMKG :.

Monday, July 15, 2013

Definisi Bencana



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA



A. Definisi Bencana
UU No. 24 tahun 2007 mendefinisikan bencana sebagai “peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis”. Sementara Asian Disaster Preparedness Center (ADPC) mendefinisikan bencana dalam formulasi “The serious disruption of the functioning of society, causing widespread human, material or environmental losses, which exceed the ability of the affected communities to cope using their own resources” (Abarquez & Murshed, 2004).

Definisi bencana seperti dipaparkan diatas mengandung tiga aspek dasar, yaitu:
·        Terjadinya peristiwa atau gangguan yang mengancam dan merusak (hazard).
·        Peristiwa atau gangguan tersebut mengancam kehidupan, penghidupan, dan fungsi dari masyarakat.
·        Ancaman tersebut mengakibatkan korban dan melampaui kemampuan masyarakat untuk mengatasi dengan sumber daya mereka.

Bencana dapat terjadi, karena ada dua kondisi yaitu adanya peristiwa atau gangguan yang mengancam dan merusak (hazard) dan kerentanan (vulnerability) masyarakat. Bila terjadi hazard, tetapi masyarakat tidak rentan, maka berarti masyarakat dapat mengatasi sendiri peristiwa yang mengganggu, sementara bila kondisi masyarakat rentan, tetapi tidak terjadi peristiwa yang mengancam maka tidak akan terjadi bencana.


B. Jenis-Jenis Bencana
Bencana terdiri dari berbagai bentuk. UU No. 24 tahun 2007 mengelompokan bencana ke dalam tiga kategori yaitu:
·        Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.  
·        Bencana non-alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa non-alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
·        Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok  atau antar komunitas masyarakat, dan teror.

Ethiopian Disaster Preparedness and Prevention Commission (DPPC) mengelompokkan bencana berdasarkan jenis hazard, yang terdiri dari:
·        Natural hazard. Ini adalah hazard karena proses alam yang manusia tidak atau sedikit memiliki kendali. Manusia dapat meminimalisir dampak hazard dengan mengembangkan kebijakan yang sesuai, seperti tata ruang dan wilayah, prasyarat bangunan, dan sebagainya. Natural hazard terdiri dari beragam bentuk seperti dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.1 Natural Hazard

·        Human made hazard. Ini adalah hazard sebagai akibat aktivitas manusia yang mengakibatkan kerusakan dan kerugian fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Hazard ini mencakup:
o   Technological hazard sebagai akibat kecelakaan industrial, prosedur yang berbahaya, dan kegagalan infrastruktur. Bentuk dari hazard ini adalah polusi air dan udara, paparan radioaktif, ledakan, dan sebagainya. 
o   Environmental degradation yang terjadi karena tindakan dan aktivitas manusia sehingga merusak sumber daya lingkungan dan keragaman hayati dan berakibat lebih jauh terganggunya ekosistem.
o   Conflict adalah hazard karena perilaku kelompok manusia pada kelompok yang lain sehingga menimbulkan kekerasan dan kerusakan pada komunitas yang lebih luas.


C. Model Manajemen Bencana
Bencana adalah hasil dari munculnya kejadian luar biasa (hazard) pada komunitas yang rentan (vulnerable) sehingga masyarakat tidak dapat mengatasi berbagai implikasi dari kejadian luar biasa tersebut. Manajemen bencana pada dasarnya berupaya untuk menghindarkan masyarakat dari bencana baik dengan mengurangi kemungkinan munculnya hazard maupun mengatasi kerentanan.  Terdapat lima model manajemen bencana yaitu:
  • Disaster management continuum model. Model ini mungkin merupakan model yang paling popular karena terdiri dari tahap-tahap yang jelas sehingga lebih mudah diimplementasikan. Tahap-tahap manajemen bencana di dalam model ini meliputi emergency, relief, rehabilitation, reconstruction, mitigation, preparedness, dan early warning.
  • Pre-during-post disaster model. Model manajemen bencana ini membagi tahap kegiatan di sekitar bencana. Terdapat kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan sebelum bencana, selama bencana terjadi, dan setelah bencana. Model ini seringkali digabungkan dengan disaster management continuum model.
  • Contract-expand model. Model ini berasumsi bahwa seluruh tahap-tahap yang ada pada manajemen bencana (emergency, relief, rehabilitation, reconstruction, mitigation, preparedness, dan early warning) semestinya tetap dilaksanakan pada daerah yang rawan bencana. Perbedaan pada kondisi bencana dan tidak bencana adalah pada saat bencana tahap tertentu lebih dikembangkan (emergency dan relief) sementara tahap yang lain seperti rehabilitation, reconstruction, dan mitigation kurang ditekankan.
  • The crunch and release model. Manajemen bencana ini menekankan upaya mengurangi kerentanan untuk mengatasi bencana. Bila masyarakat tidak rentan maka bencana akan juga kecil kemungkinannya terjadi meski hazard tetap terjadi. 
·        Disaster risk reduction framework. Model ini menekankan upaya manajemen bencana pada identifikasi risiko bencana baik dalam bentuk kerentanan maupun hazard dan mengembangkan kapasitas untuk mengurangi risiko tersebut.

Pendekatan lain adalah lingkaran manajemen bencana (disaster management cycle) yang terdiri dari dua kegiatan besar. Pertama adalah sebelum terjadinya bencana (pre event) dan kedua adalah setelah terjadinya bencana (post event). Kegiatan setelah terjadinya bencana dapat berupa disaster response/emergency response (tanggap bencana) ataupun disaster recovery. Kegiatan yang dilakukan sebelum terjadinya bencana dapat berupa disaster preparedness (kesiapsiagaan menghadapi bencana) dan disaster mitigation (mengurangi dampak bencana). Ada juga yang menyebut istilah disaster reduction, sebagai perpaduan dari disaster mitigation dan disaster preparedness (Makki, 2006).


Terkait dengan manajemen penanggulangan bencana, maka UU No. 24 tahun 2007 menyatakan “Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi”. Rumusan penanggulangan bencana dari UU tersebut mengandung dua pengertian dasar yaitu:
·        Penanggulangan bencana sebagai sebuah rangkaian atau siklus.
·        Penanggulangan bencana dimulai dari penetapan kebijakan pembangunan yang didasari risiko bencana dan diikuti tahap kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.

Penanggulangan bencana sebagaimana dimaksud dalam UU No. 24 tahun 2007 secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:



D. Kebijakan Manajemen Bencana
Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan manajemen bencana mengalami beberapa perubahan kecenderungan seperti dapat dilihat dalam tabel. Beberapa kecenderungan yang perlu diperhatikan adalah:
·        Konteks politik yang semakin mendorong kebijakan manajemen bencana menjadi tanggung jawab legal.
·        Penekanan yang semakin besar pada peningkatan ketahanan masyarakat atau pengurangan kerentanan.
·        Solusi manajemen bencana ditekankan pada pengorganisasian masyarakat dan proses pembangunan.

Dalam penetapan sebuah kebijakan manajemen bencana, proses yang pada umumnya terjadi terdiri dari beberapa tahap, yaitu penetapan agenda, pengambilan keputusan, formulasi kebijakan, implementasi kebijakan, dan evaluasi kebijakan. Di dalam kasus Indonesia, Pemerintah Pusat saat ini berada pada tahap formulasi kebijakan (proses penyusunan beberapa Peraturan Pemerintah sedang berlangsung) dan implementasi kebijakan (BNPB telah dibentuk dan sedang mendorong proses pembentukan BPBD di daerah). Sementara Pemerintah Daerah sedang berada pada tahap penetapan agenda dan pengambilan keputusan. Beberapa daerah yang mengalami bencana besar sudah melangkah lebih jauh pada tahap formulasi kebijakan dan implementasi kebijakan.

Kebijakan manajemen bencana yang ideal selain harus dikembangkan melalui proses yang benar, juga perlu secara jelas menetapkan hal-hal sebagai berikut:
·        Pembagian tanggung jawab antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
·        Alokasi sumberdaya yang tepat antara Pemerintah Pusat dan Daerah, serta antara berbagai fungsi yang terkait.
·        Perubahan peraturan dan kelembagaan yang jelas dan tegas.
·        Mekanisme kerja dan pengaturan antara berbagai portofolio lembaga yang terkait dengan bencana.

























Tabel 2.2
Kecenderungan Di dalam Kebijakan Manajemen Bencana
            Sumber: Handmer & Dovers, 2007

Sistem kelembagaan penanggulangan bencana yang dikembangkan di Indonesia dan menjadi salah satu fokus studi bersifat kontekstual. Di daerah terdapat beberapa lembaga dan mekanisme yang sebelumnya sudah ada dan berjalan. Kebijakan kelembagaan yang didesain dari Pemerintah Pusat akan berinteraksi dengan lembaga dan mekanisme yang ada serta secara khusus dengan orang-orang yang selama ini terlibat di dalam kegiatan penanggulangan bencana.

Melalui UU No. 24 tahun 2007, Pemerintah Indonesia telah memulai proses penyusunan kebijakan menajemen bencana. Beberapa PP yang terkait telah dikeluarkan (PP No. 21, 22, 23 tahun 2008), sementara beberapa PP lain sedang dipersiapkan.

E. Pembagian Tanggung Jawab Manajemen Bencana
UU No. 24 tahun 2007 telah menetapkan bahwa pemerintah (pusat) memiliki tanggung jawab dalam penyelenggaraan pennggulangan bencana. Tanggung jawab tersebut mencakup:
a.      pengurangan risiko bencana (PRB) dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan;
b.      perlindungan masyarakat dari dampak bencana;
c.       penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana secara adil dan sesuai dengan standar pelayanan minimum;
d.      pemulihan kondisi dari dampak bencana;
e.      pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang memadai;
f.        pengalokasian anggaran penanggulangan bencana dalam bentuk dana siap pakai; dan
g.      pemeliharaan arsip/dokumen otentik dan kredibel dari ancaman dan dampak bencana.
Sementara tanggung jawab Pemerintah Daerah dirumuskan sebagai berikut:
a.      penjaminan pemenuhan hak masyarakat dan pengungsi yang terkena bencana sesuai dengan standar pelayanan minimum;
b.      perlindungan masyarakat dari dampak bencana;
c.       pengurangan risiko bencana (PRB) dan pemaduan pengurangan risiko bencana dengan program pembangunan; dan
d.      pengalokasian dana penanggulangan bencana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang memadai.

Pada tataran operasional, UU No. 24 tahun 2007 telah mengamanatkan pembentukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 8 tahun 2008. Di dalam Peraturan Presiden tersebut dinyatakan BNPB memiliki tugas sebagai berikut:
a.      memberikan pedoman dan pengarahan terhadap usaha penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan bencana, penanganan tanggap darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi secara adil dan setara;
b.      menetapkan standardisasi dan kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan bencana berdasarkan peraturan perundang-undangan;
c.       menyampaikan informasi kegiatan penanggulangan bencana kepada masyarakat;
d.      melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada Presiden setiap sebulan sekali dalam kondisi normal dan setiap saat dalam kondisi darurat bencana;
e.      menggunakan dan mempertanggungjawabkan sumbangan/bantuan nasional dan internasional;
f.        mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
g.      melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan; dan
h.      menyusun pedoman pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

Selain ketiga pihak yang telah disebutkan di atas yaitu Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan BNPB, UU No. 24 tahun 2007 juga mengenali peran serta pihak lain, yaitu lembaga usaha dan lembaga internasional. Pasal 28 UU No. 24 tahun 2007 merumuskan peran lembaga usaha dengan “Lembaga usaha mendapatkan kesempatan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, baik secara tersendiri maupun secara bersama dengan pihak lain.” Lebih jauh lagi diatur bahwa lembaga usaha yang terlibat dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana perlu “menyesuaikan kegiatan dengan kebijakan penyelenggaraan penanggulangan bencana”, “menyampaikan laporan kepada pemerintah dan/atau badan yang diberi tugas…”, “mengindahkan prinsip kemanusiaan”.  Peran serta lembaga internasional dan lembaga asing non pemerintah dalam penanggulangan bencana dijamin melalui Pasal 30 ayat (1) UU No. 24 tahun 2007. Tata cara berperan dalam penangulangan bencana telah diatur melalui Peraturan Pemerintah  No. 23 tahun 2008.