Search This Blog

Monday, July 8, 2013

Presiden ke Aceh tinjau proses tanggap darurat

Presiden ke Aceh tinjau proses tanggap darurat

Senin, 8 Juli 2013 15:48 WIB | 567 Views
Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan melakukan kunjungan ke lokasi bencana gempa Aceh untuk memastikan proses tanggap darurat berjalan dengan baik, dan semua kebutuhan dipenuhi.

"Insya Allah besok saya ke Aceh untuk memastikan yang diperlukan terpenuhi. Saya simpulkan bahwa langkah-langkah pascatanggap darurat terus dilakukan. Proses rekonstruksi lebih cepat dan lebih baik," kata Presiden Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta, Senin, saat memimpin rapat paripurna kabinet mengenai penanganan bencana dan persiapan Ramadhan.

Dalam rapat kabinet yang juga dihadiri oleh Wakil Presiden Boediono tersebut, Presiden mengatakan secara rutin berkomunikasi dan mendapat laporan dari satuan tugas yang bertugas di Aceh.

Sementara itu pada akhir pekan, tim Staf Khusus Presiden telah mengunggah informasi mengenai rencana kunjungan Presiden itu di akun jejaring sosial twitter Presiden Yudhoyono, @SBYudhoyono.

"Presiden SBY pelajari laporan gempa Aceh. Pada 9 Juli 2013, beliau akan tinjau pusat bencana di Kabupaten Bener Meriah, Aceh," menurut keterangan dalam akun tersebut yang menyertakan sebuah foto Presiden tengah berada di meja kerjanya.

Di Aceh, Presiden Yudhoyono dijadwalkan berdialog dengan korban gempa dan meninjau langsung lokasi bencana terparah di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah.

Editor: Desy Saputra
COPYRIGHT © 2013
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Presiden akan tinjau wilayah gempa terparah di Aceh


Presiden akan tinjau wilayah gempa terparah di Aceh

Minggu, 7 Juli 2013 02:00 WIB | 1799 Views

BNPB siapkan Rp40 miliar untuk korban gempa Aceh

Antara News

BNPB siapkan Rp40 miliar untuk korban gempa Aceh

Rabu, 3 Juli 2013 22:35 WIB | 1487 Views

ilustrasi Sejumlah warga korban gempa berada ditempat pengungsian sementara di Desa Blang Mancom, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Senin (2/7). Gempa bumi berkekuatan 6,2 SR itu merobohkan ratusan rumah, fasilitas umum serta puluhan korban jiwa. (ANTARA FOTO/Rahmad)
Untuk penanganan darurat gempa Aceh belum ditentukan besaran dananya. Tapi BNPB ada dana Rp40 miliar yang siap dipakai untuk Aceh,"
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan dana hingga Rp40 miliar untuk darurat penanggulangan dampak gempa di wilayah Aceh.

"Untuk penanganan darurat gempa Aceh belum ditentukan besaran dananya. Tapi BNPB ada dana Rp40 miliar yang siap dipakai untuk Aceh," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Rabu.

Untuk penanggulangan gempa Aceh Kementerian Sosial mengalokasikan dana Rp1,2 miliar untuk 30 ton beras, sarden, tenda, selimut, dan lainnya.

Sedangkan BNPB, ia mengatakan menggunakan dana tersebut untuk melakukan hal-hal teknis penting seperti sewa pesawat untuk evakuasi korban. Sedangkan Kementerian Sosial biasanya juga mengalokasikan dana untuk logistik.

Menurut Sutopo, BNPB mengajukan anggaran Rp1 triliun untuk 2013 dan disetujui DPR. Namun Menteri Keuangan menyetujui dana tanggap darurat 2013 sebesar Rp200 miliar.

"Dana Rp25 miliar sudah terpakai untuk mengatasi kebakaran dan asap di Riau, jika diperlukan BNPB menyiapkan hingga Rp70 miliar. Untuk penanggulangan gempa di Aceh disediakan hingga Rp40 miliar, tapi semua penggunaannya sesuai keperluan," katanya.

Selain menyiagakan 1.524 personel yang ada di Riau untuk dikirim ke Aceh, ia mengatakan ada 110 Tagana dari Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah diterjunkan dan telah membuat dapur umum.

"Kebetulan masing-masing kabupaten (Aceh Tengah dan Bener Meriah) juga sudah mengirimkan dua ton beras ke tempat pengungsian," ujar Sutopo.

Terdapat lima titik pengungsian di Bener Meriah dan 10 titik di Aceh Tengah. "Saya belum dapat data pasti berapa total jumlah pengungsi, tapi di Kecamatan Ketol saja ada 700 pengungsi per lokasi".

Gempa bumi berkekuatan 6,2 SR dengan kedalaman 10 kilometer (km) terjadi di wilayah Aceh pada pukul 14.37 WIB, pada Selasa (2/7). Pusat gempa di daratan berada 35 km barat daya Kabupaten Benermeriah atau 43 km Tenggara Kabupaten Bireuen, atau 50 km Barat Laut Kabupaten Aceh Tengah.

Gempa selama 15 hingga 45 detik dirasakan sangat kuat oleh warga Bener Meriah dan Aceh Tengah. Sehingga, menurut Sutopo, masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah.

Berdasarkan peta guncangan gempa di Bener Meriah dan Aceh Tengah memiliki intensitas 6 MMI (kuat) menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Sedangkan menurut Badan Geologi Amerika Serikat gempa memiliki intensitas 7,4 MMI.

Berdasarkan laporan sementara Badan Penanggulangan Bencana Alam (BPBA) Aceh Tengah dan Bener Meriah, terdapat 24 korban meninggal, dua orang hilang, dan 249 luka-luka. Sebanyak 14 korban meninggal dari Bener Meriah, sedangkan 10 korban meninggal lainnya dari Aceh Tengah.
(V002/R010)

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2013
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Liputan 6: Kumpulan Artikel » gempa aceh


LIPUTAN 6 SCTV 

Editor. GAYO Nusantara.

Liputan 6: Kumpulan Artikel » gempa aceh

Editor. GAYO Nusantara

Sunday, July 7, 2013

Setelah Enam Hari, Gubernur Tetapkan Status Gempa Gayo


 Setelah Enam Hari, Gubernur Tetapkan Status Gempa Gayo

Setelah Enam Hari, Gubernur Tetapkan Status Gempa Gayo

Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah.(LGco-andinova)
Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah.(LGco-andinova)

Banda Aceh-LintasGayo: Setelah enam hari pascagempa Gayo, akhirnya Gubernur Aceh dr H Zaini Abdullah Minggu sore (7/7/2013), sesuai janjinya, bertempat di Pendapo Gubernur Aceh menetapkan dan mengumumkan kepada publik bencana gempa Gayo sebagai status tanggap darurat skala Provinsi Aceh.
Penetapan itu tertuang dalam Keputuisan Gubernur Aceh No 360/571/2013 tanggal 3 Juli 2013 tentang Penetapan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi Tektonik Bener Meriah dan Aceh Tengah di Provinsi Aceh.
Gubernur dalam konferensi pers dan dihadiri Sekda T Setia Budi dan jajaran SKPA itu mengumumkan darurat bencana tanah Gayo akibat gempa bumi berskala 6,2 SR itu selama 14 hari terhitung 3 – 16 Juli 2013.
Kepala SKPA diinstruksikan Gubernur untuk terus komit, fokus, memiliki pemetaan akurat tentang dampak bencana, dan serius merespons bencana Gayo. Masing masing SKPA mesti mengambil peran untuk mengatarkan tanah dan masyarakat Gayo kembali kepada kondisi normal.(ghassa)

Presiden: Cari (Korban Gempa Aceh) sampai Ketemu

Jumat, 5 Juli 2013

News

Presiden: Cari (Korban Gempa Aceh) sampai Ketemu

  • Penulis :
  • Sandro Gatra
  • Jumat, 5 Juli 2013 | 23:18 WIB
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono | KOMPAS/RIZA FATHONI
JAKARTA, KOMPAS.com —Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan kepada jajaran pemerintah di Aceh untuk serius menangani gempa di Aceh Tengah. Secara khusus, Presiden menginstruksikan mencari seluruh korban yang hilang. "Cari sampai ketemu," kata Presiden saat telekonferensi dengan jajaran pemerintah di Aceh, Jumat (5/7/2013) malam. Telekonferensi dilakukan SBY dari Istana Bogor, Jawa Barat. Selain soal gempa di Aceh, SBY juga meminta laporan penanganan kebakaran di Riau.
Instruksi itu diberikan SBY setelah mendengar laporan adanya delapan orang hilang. Delapan orang itu diduga tertimpa reruntuhan rumah yang ambles lantaran berada di daerah perbukitan. Pencarian dilakukan dengan alat berat di titik-titik longsor.
Dari laporan lain, ada 35 orang tewas dengan rincian 26 orang tewas di Aceh Tengah dan 9 di Bener Meriah. Sebanyak 275 orang luka-luka. Mereka dirawat di RSUD, RS swasta, dan puskesmas di Aceh. Gempa juga mengakibatkan 4.300 rumah dan 83 bangunan fasilitas umum rusak. Sebanyak 3.200 keluarga mengungsi.
Untuk penanganan gempa, sebanyak 900 personel TNI dan 350 anggota Polri dibantu berbagai unsur lain telah diterjunkan ke lapangan. Sebanyak 40 ton logistik dan peralatan juga sudah dikirim ke Aceh. Terkait anggaran, sebesar Rp 40 miliar dialokasikan selama tanggap darurat sampai 17 Juli. Ada juga dana siap pakai dari beberapa kementerian sebesar Rp 500 juta.
Untuk makanan, cukup, cuma perlu ditambah untuk gizi (korban gempa) karena semakin hari dengan kondisi yang serba kekurangan, mereka butuh vitamin untuk menghadapi cuaca, terutama malam hari. Demikian kata pejabat setempat.
Kunjungan ke lokasi
Presiden merasa perlu datang ke lokasi gempa. Supaya tidak mengganggu proses evakuasi maupun penanganan korban, Presiden menanyakan kapan dirinya bisa datang. "Yang paling baik kapan saya ke sana?" tanya Presiden.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Syamsul Maarif mengatakan, diperkirakan berbagai pihak masih sibuk hingga akhir pekan ini. Kesibukan mereka di antaranya memulihkan jaringan listrik. Syamsul menyarankan SBY datang awal pekan depan.
"Insya Allah hari Senin saya bermalam di sana (Aceh). Hari Selasa kembali (ke Jakarta)," kata Presiden.
Editor : Heru Margianto
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Gempa Aceh

Korban Gempa Aceh Bertambah, 40 Orang Tewas

Korban Gempa Aceh Bertambah, 40 Orang Tewas

Korban Gempa Aceh Bertambah, 40 Orang Tewas
Warga mengevakuasi barang-barang yang dapat diselamatkan dari reruntuhan rumahnya di Bener Meriah, Aceh (3/7). Tentara, polisi dan relawan dikerahkan untuk membantu evakuasi korban gempa. (AP Photo/Binsar Bakkara)
TEMPO.CO, Jakarta - Jumlah korban dan kerusakan akibat gempa berskala 6,2 skala Richter di Aceh terus bertambah. Hingga Ahad, 7 Juli 2013, tercatat 40 orang meninggal, sementara 63 orang luka berat dan masih dirawat di sejumlah rumah sakit.

Sedikitnya 2.362 orang sedang menjalani rawat jalan. Sedangkan jumlah pengungsi mencapai 22.125 orang. Kerusakan rumah mencapai 15.919 unit. Sedangkan 623 unit bangunan fasilitas umum mengalami kerusakan.

Jumlah korban gempa ini terus berlipat. Awalnya, 118 orang yang dirawat karena luka berat. Terdapat 19.870 orang mengungsi yang tersebar di 70 titik. Total rumah yang rusak ada 13.862 unit--5.516 rusak berat, 2.750 rusak sedang, dan 5.596 rusak ringan.

Hingga kini pencarian korban masih dilakukan. "Penyelamatan dan pencarian korban dengan mengerahkan lebih dari 2.000 personel," kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Ahad, 7 Juli 2013.

Menurut Sutopo, jumlah korban di Aceh Tengah terus bertambah karena dampak bencananya lebih parah ketimbang di Bener Meriah. Di Aceh Tengah, 232 desa dari 352 desa yang ada terdampak langsung gempa. Tiga puluh satu orang meninggal dunia dan empat orang hilang.

Sedangkan di Kabupaten Bener Meriah, sebanyak delapan desa dari 233 desa yang terdampak langsung oleh gempa. Sebanyak sembilan orang meninggal, sementara 23 orang luka berat masih dirawat. Lima di antaranya dirawat di Rumah Sakit Palang Merah Indonesia Lhokseumawe dan tiga lainnya dirawat di Rumah Sakit Umum Banda Aceh.

FEBRIANA FIRDAUS

Pengungsi Gempa Aceh Keluhkan Air Bersih


Pengungsi Gempa Aceh Keluhkan Air Bersih

Pengungsi Gempa Aceh Keluhkan Air Bersih
Dua anggota TNI AD melawan arus sungai saat dalam pencarian sejumlah korban bencana gempa bumi di Serempah, Aceh, (5/7). Gempa aceh ini terjadi pada (2/7) dan hingga kini korban meninggal terus bertambah. (AP Photo/Binsar Bakkara)
TEMPO.CO, Bener Meriah - Ribuan korban selamat dari gempa berkekuatan 6,2 Skala Richter (SR) yang mengungsi di sejumlah lokasi di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah mengeluh karena tidak adanya ketersediaan air bersih. Mereka terpaksa mengambil sendiri air sungai yang sangat jauh walau tidak terjamin kebersihannya untuk dikonsumsi.

Yusuf, Sekretaris Desa Blang Paku, desa Empus Segene, kecamatan Weh Pesam, Kabupaten Bener Meriah mengatakan, 283 kepala keluarga dan 1.022 jiwa di empat dusun di desa itu mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

"Akhirnya kami secara bergiliran mengambil air dari sungai kecil, walaupun belum tentu bersih. Itulah yang kami minum," katanya. Di wilayah tersebut, kata Yusuf, sebanyak 141 rumah warga dan dua fasilitas umum rusak parah.

Kekurangan air bersih juga dirasakan oleh pengungsi gempa di desa Timanga Rasa, kecamatan Kute Panang, Aceh Tengah. Pengungsi yang jumlahnya 330 jiwa dari 97 kepala keluarga, sangat sulit mendapatkan air bersih baik untuk kebutuhan memasak maupun mencuci. Hanya ada satu bak air milik warga untuk digunakan tiga ratusan warga lain.

BPBD Aceh Tengah yang coba dikonfirmasi tentang hal ini mengarahkan ke lead sektor masalah air bersih, Tempo kembali menghubungi lead sektor air bersih, namun tidak ada jawaban yang jelas. Dia hanya menyebutkan ada 14 mobil tangki untuk memasok air ke pengungsian. Namun truk tangki tersebut bukan dari Aceh Tengah saja, juga termasuk dari kabupaten Bener Meriah.

Gempa berkekuatan 6,2 SR. yang berpusat di daratan, berada 35 km barat daya Bener Meriah atau 50 km barat laut Aceh Tengah. Gempa dirasakan selama kurang lebih 15 detik. Gempa ini termasuk dalam gempa berkategori kuat, yang dapat menyebabkan bangunan mengalami kerusakan ringan hingga berat.

IMRAN MA