Search This Blog

Sunday, April 28, 2013

Kontroversi Supersemar dan Fakta Radio Rimba Raya



                                Dok. GAYO Nusantara. ( Ikmal Gopy Istri & Edy linethink )

SERANGAN Umum 1 Maret 1949, hingga saat ini dikenal pasukan TNI menyerbu kota Jogja yang dikuasai Belanda melalui Agresi Militer kedua pada Desember 1948.

Pada saat itu serangan yang dilancarkan pasukan TNI bertujuan untuk merebut kembali ibukota Jogjakarta dari tangan penjajah Belanda. Ok, kita setuju!!

Persoalannya, dalam perjalanan sejarah serangan umum 1 Maret sudah terlalu banyak peristiwa dikebiri dan di rekayasa.

Salah satunya, sejarah SU 1 Maret seolah hanya menokohkan pejuang yang berperan dalam serangan tersebut, mulai dari penggagas yang masih menjadi perdebatan sampai dengan pelaksana serangan yang jelas-jelas menokohkan pejuang yang notabene laki-laki yang satu satunya aktor dibalik SU Maret tersebut.

Sejarawan DR. Anhar Gonggong berpendapat bahwa penggagas SU 1 Maret bukan Soeharto. Menurutnya inisiatif penyerangan seperti itu bukan berasal dari komandan brigade akan tetapi berasal dari pejabat yang lebih tinggi. Hal ini juga dipertanyakan oleh Soedarisman, mantan wali kota Jogjakarta ( 1947-1966 ) beliau mempertanyakan gagasan serangan berasal.

Sumber lain menyebutkan gagasan SU Maret 1949 adalah inisiatif Panglima Besar Sudirman. Sebab panglima Sudirman pucuk pimpinan militer tertinggi pada saat itu, bahkan Sultan Hamengkubuwono memberikan dukungan terhadap rencana ini.

Keterangan lain menyebutkan bahwa penggagas atau inisiator SU Maret 1949 adalah dr. Wiliater Hutagalung yang sejak September 1948 diangkat menjadi Perwira Teritorial yang bertugas membentuk jaringan di wilayah divisi II dan III, pemikiran yang dikembangkan Hutagalung adalah perlu meyakinkan dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih ada, ada pemerintahan, ada organisasi TNI dan tentaranya. Ia menambahkan perlunya melakukan serangan spektakuler terhadap isolasi Belanda atas ibukota Yogyakarta.

Sri Sultan HB IX, seperti dikutip buku Momoar Oei Tjoe Tat: Pembantu Presiden Soekarno, pernah bertutur:

”Sayalah yang semula membicarakan gagasan itu dengan Jenderal Sudirman yaitu minta izinnya untuk mendapatkan kontak langsung dengan Soeharto, ketika itu berpangkat mayor, untuk menjalankan tugas melaksanakan gagasan saya.”

Hal itu juga terungkap dalam buku biografi Sultan HB IX, Takhta untuk Rakyat (1982).

Ironisnya, dalam buku-buku sejarah, data-data sejarah tidak ada jawaban yang pasti mengenai siapa penggagas atau inisiator SU 1 Maret yang monumental tersebut.

Menariknya, yang menjadi pembahasan sekarang ini hanya melulu mengenai pelaksananaan SU Maret 1949, jelas digambarkan bahwa laki-laki yang menjadi aktor utama dalam serangan itu adalah Letkol.

Soeharto. Selama 32 tahun berkuasa, Soeharto seakan melakukan penggiringan bahwa dialah yang menggagas SU 1 Maret 1949, Sepeti film “Janur Kuning” misalnya, melukiskan kepahlawanan soeharto memimpin penyerangan Jogjakarta, kemudian “Majalah Tokoh Indonesia 24 Edisi Khusus 60 Tahun RI” juga menyebutkan bahwa Letkol Soeharto merancang dan melancarkan serangan umum ke sejumlah markas dan pos pertahanan tentara Belanda di dalam kota Yogya, tanggal 1 Maret 1949.

Terlepas dari semua itu, SU 1 Maret yang terlanjur tercatat menjadi sejarah masih perlu pengkajian, agar tidak terkesan hanya melanggengkan kepentingan dan penokohan tehadap pelaku yang terlibat dalam peristiwa SU 1 Maret tersebut.

Di tengah kontroversi sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949, satu fakta sejarah yang tidak terbantahkan adalah peran penting Radio Rimba Raya pada saat agresi militer Belanda ke II.

Melalui informasi yang disiarkan Radio Rimba Raya yang berada di pedalaman Aceh, tepatnya di Aceh Tengah ( sekarang Bener Meriah ) tentang resolusi dewan keamanan PBB yang ditolak oleh Belanda yang disusul dengan propaganda Belanda bahwa Indonesia sudah tidak ada lagi, muncul gagasan untuk melakukan counter serta melakukan serangan spektakuler, hal inilah yang melatar belakangi Serangan Umum 1 Maret 1949.

Setelah melakukan serangan, sekitar 2 hari kemudian informasi keberhasilan kembali disiarkan oleh Radio Rimba Raya seperti di dalam Keterangan Website Sekretariat Negara Republik Indonesia “Radio Rimba Raya milik Republik di Sumatera, sekitar dua hari kemudian, mencatat bahwa serangan terhadap Yogyakarta dan pendudukan kota itu (adalah) prestasi militer yang luar biasa”.

Fakta sejarah tentang Radio Rimba Raya juga pernah disiarkan di TVRI nasional. Acara Forum Dialog tersebut berlangsung hari Jum’at tanggal 19 Desember 1998 pukul 21.30, pokok pembahasan yaitu sejarah PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia ), para peserta dialog malam itu yaitu Umar Said Noor mantan Wakil Kepala Stasiun Radio AURI Bukittinggi, Aboebakar Loebis mantan Diplomat RI, Bapak Halim mantan Wakil Gubernur Militer Sumatera Barat, dan didampingi oleh seorang sejarawan terkemuka Prof. Dr. Taufik Abdullah serta dengan moderator TVRI Bapak Purnama.

img:tengku-muda.com
Dalam dialog tersebut terungkap peran pemancar Radio Rimba Raya yang memperlancar tugas pemerintahan PDRI.

Masih banyak lagi fakta sejarah lain yang mengungkap peran penting Radio Rimba Raya dalam perjuangan kemerdekaan. Anehnya, semua peristiwa ini tidak pernah mencuat dalam sejarah nasional Indonesia.

Data dan fakta tentang sejarah Radio Rimba Raya yang begitu mudah [di] hilangkan seakan memberikan pembenaran bahwa hanya peristiwa SU 1 Maret 1949 yang menyimpan kontoversi satu satunya bentuk perjuangan nasional yang mengesahkan keberadaan RI, jangan lupa! Radio Rimba Raya berperan menghantarkan Indonesia mendapatkan kedaulatannya melalui Konferensi Meja Bundar (KMB).

Akhirnya, lakukan penulisan, penggalian sejarah dengan benar agar netralitas sejarah dapat dipertahankan. Jangan Lupakan Sejarah.[]

Penulis Pemerhati Sejarah Gayo, Aceh

Radio Rimba Raya

Radio Rimba Raya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Radio Rimba Raya (Desember 1948 - ... 1949) adalah Radio Republik Indonesia Darurat yang disiarkan dari Dataran tinggi Gayo, atau tepatnya di Kecamatan Pintu Rime, yang sekarang menjadi wilayah bagian Kabupaten Bener Meriah, oleh Tentara Republik Indonesia Divisi X/Aceh pimpinan Kolonel Husin Yusuf.

Daftar isi

Masa penyiaran

Radio yang berdaya pancar 1 kilowatt dan bekerja pada frekuensi 19,25 dan 61 meter ini mulai bersiaran sejak terjadinya Agresi Belanda I sampai dengan Konferensi Meja Bundar berakhir dan tentara pendudukan Belanda ditarik dari Indonesia.

Penyiar

Penyiar-penyiarnya adalah W. Schutz, Raden Sarsono, Abdullah Arief, M. Syah Asyik, Syarifuddin, Ramli Melayu, Syarifuddin Taib, Syamsudin Rauf, dan Agus Sam.[1]

Pesan kemerdekaan

Melalui radio inilah disiarkan pesan–pesan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Karena pada saat itu Yogyakarta yang merupakan ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia telah dikuasai Belanda. Radio ini memiliki panggilan sinyal: “Suara Radio Republik Indonesia”, “Suara Indonesia Merdeka”, “Radio Rimba Raya”, “Radio Divisi X”, “Radio Republik Indonesia”.

Membantah provokasi Belanda

Radio Rimba Raya berperan sangat besar terhadap kelangsungan pemerintahan Republik Indonesia. Pada saat itu Belanda telah menguasai ibu kota pemerintahan Indonesia. Dan mengumumkan lewat radio Hilversum (milik Belanda) kepada dunia, bahwa Negara Indonesia tidak ada lagi. Tapi dengan suara yang sayup lantang dari Dataran Tinggi Tanah Gayo, Radio Rimba Raya membatalkan berita tersebut dan mengatakan bahwa Indonesia masih ada. Siaran itu dapat ditangkap jelas oleh sejumlah radio di Semenanjung Melayu (Malaysia), Singapura, Saigon (Vietnam), Manila (Filipina) bahkan Australia dan Eropa. Akhirnya, akibat berita yang disuarakan itu, banyak negara dunia dengan serta merta mengakui kemerdekaan Indonesia. Dan dengan ada berita yang disiarkan Radio Rimba Raya merupakan pukulan “KO” bagi Pemerintahan Belanda.

Sejarah

Kontroversi pengadaan peralatan siar

Perangkat Radio Rimba Raya itu dipesan oleh tentara Divisi Gajah I dan dibeli melalui raja penyelundup Asia Tenggara waktu itu, John Lie (seorang pahlawan nasional, Tionghoa dari Manado) yang menjadi perantara pembelian perangkat radio tersebut, menjelang Agresi Militer Belanda I bulan Juli 1947.[2] Perangkat Radio Rimba Raya itu dibeli di Malaya dan dibawa ke kota juang Bireuen.
Untuk mengangkut perangkat penyiaran dari Malaya ke Aceh, John Lie menggunakan dua buah speedboat, yang satu berisi bahan makanan dan kelontong, yang satunya lagi berisi alat pemancar radio. Ketika berpapasan dengan patroli laut Belanda, speedboat yang berisi bahan makanan dan kelontong melaju dengan kencang untuk memberi kesan mencurigakan. Patroli Belanda terpancing lalu mengejar speedboat tersebut dan berhasil dilumpuhkan. Sedangkan speedboat yang berisi alat pemancar dengan enak melaju menuju pantai Sumatera dan mendarat di Sungai Yu, Aceh Timur.
Tapi, keterangan lain menyebutkan, orang yang membeli peralatan itu adalah Nip Xarim, pernah menjabat Wakil Pemerintah Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo yang berkedudukan di Pangkalan Brandan. Gubernur Militer waktu itu dijabat Daud Beureueh. Nip Xarim membeli perakatan radio itu bersama Dr. Sofyan, justru sebelum Agresi Militer I 1947 dan disimpan di Pangkalan Brandan. Peralatan dibeli di Malaya. Sejarawan UGM, Mukhtar Ibrahim membenarkan hal ini.[3]
Keterangan serupa ditulis dalam buku “Peranan Radio di Masa Kemerdekaan di Sumatera Utara,” yang ditulis Drs. Muhammad TWH. Anggota Divisi X, Syarifuddin Thaib, yang juga Wakil Ketua/Ajudan Komandan Divisi X Kolonel M. Hoesein Yoesoef, dan John Ekel, serta anggota Divisi X membenarkan hal ini. Tapi Ali Hasyim, dan TA Talsya menyebut John Lie-lah yang membeli peralatan tersebut.
Ikmal Gopi sendiri setelah meneliti riawayat John Lie, seorang keturunan Tionghoa-Manado, menjabat Kepala Syahbandar Cilacap, menyebutkan John Lie baru berangkat ke Singapura menumpang kapal Inggris pada 1947 saat meletus Agresi Militer I. Baru pada bulan September 1947, John Lie singgah ke Pelabuhan Bilik Medan dan kemudian Pelabuhan Raja Ulak di Kuala Simpang.

Tiba di Aceh

Terlepas dari siapa yang membeli peralatan pesawat tersebut, Radio Rimba Raya dibawa ke Bireuen. Setelah beberapa bulan dengan pertimbangan agar bisa menyiarkan secara cepat dan luas, pemancar tersebut dipindahkan ke Koetaradja (Banda Aceh) dan sempat dirangkai komponen-komponennya pada akhir tahun 1948, namun belum sempat mengudara. Pemancarnya dipasang di kawasan pegunungan sebelah selatan Banda Aceh, Cot Gue, sebagai cadangan sewaktu-waktu bisa digunakan apabila Koetaradja direbut musuh. Studio siarannya berada di sebuah rumah peninggalan Belanda Peunayong. Sayangnya, pemancar radio di Cot Gue sama sekali tidak pernah bisa digunakan, karena pada saat yang sama terjadi Agresi Militer Belanda II, 19 Desember 1948. Dalam situasi yang tidak mendukung itu, Gubernur Militer Teungku Muhammad Daud Beureueh memerintahkan alat pemancar dipindahkan ke tempat lain. Maka disepakatilah Aceh Tengah sebagai daerah tujuan. Daerah ini dianggap lebih aman karena wilayahnya bergunung dan berhutan-hutan.
Sebelumnya, perangkat radio itu direncanakan akan dibawa ke kampung Burni Bies, kecamatan Silih Nara. Namun karena kondisi keamanan di kawasan itu tidak baik, penjajah Belanda sedang memantau proses pengiriman perangkat radio itu, maka oleh pejuang-pejuang Aceh, perangkat radio itu dibawa ke kampung Rime Raya yang saat itu masuk Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Aceh Tengah.[4]
Peralatan “diungsikan” ke Aceh Tengah tanggal 20 Desember 1948, dalam suatu pengawalan ketat dan rahasia. Daerah yang hendak dituju Burni Bies. Perjalanan menuju Tanah Gayo dilukiskan begitu dramatis. Berkali-kali rombongan terpaksa menyingkir dari jalan raya untuk bersembunyi dari kejaran Belanda yang mengintai dengan pesawat udara. Karena risiko perjalanan sangat tinggi, akhirnya rencana yang semula menuju Burni Bies dialihkan ke tempat lain, yakni Rime Raya (Rimba Raya).
Pada awalnya pemancar tersebut dipasang di Krueng Simpo, lebih kurang 20 km dari Bireuen arah Takengon. Di tempat inilah akhirnya pemancar didirikan. Namun, waktu itu muncul kesulitan, tak ada mesin listrik. Ny Ummi Salamah, istri Kolonel Husein Yoesoef berusaha mendapatkannya ke Lampahan dan Bireuen. Usaha itu gagal. Mesin listrik akhirnya diperoleh Ummi dari Kuala Simpang. Beres soal listrik, muncul masalah lain, kabel tak cukup. Kabel dicari lagi ke Lampahan dan Bireuen, dan berhasil ditemukan.
Sender radio dibangun di pucuk gunung dan tersembunyi, hingga sukar dideteksi musuh. Sebuah rumah juga dibangun untuk tempat peralatan kelengkapan radio. Kolonel Husein Yoesoef sendiri kemudian mendirikan rumah di Areal Pertanian Tentara Pembangunan di Rime (Rimba) Raya. Daerah itu sebelumnya bernama Desa Tanoh Ilang (Tanah Merah). Studionya berada di salah satu kamar rumah kediaman Komandan Divisi X, Kolonel Husein Yoesoef.

Mulai mengudara

Setelah melewati perjuangan berat dalam mendirikan Radio Rimba Raya, akhirnya Desember 1948, Radio Rimba Raya mengudara yang memberitakan bahwa Republik Indonesia masih eksis kepada dunia luar. Dari Radio Rimba Raya ini para pahlawan Aceh mengumandangkan pesan kepada pejuang-pejuang kemerdekaan lainnya untuk terus berjuang mempertahankan negara dari penjajahan Belanda. Selain berita kemerdekaan Republik Indonesia yang diinformasikan, Radio Rimba Raya juga menyiarkan berita tentang kenduri akbar di Aceh.
Selain mengudara untuk kepentingan umum, para awak radio ini juga melakukan monitor, mengirim berbagai pengumuman dan instruksi penting bagi kegiatan angkatan bersenjata. Selain bahasa Aceh dan bahasa Indonesia, siaran Radio Rimba Raya di tengah hutan belantara Aceh Tengah itu, menampilkan lima bahasa, yakni bahasa Inggris, Belanda, Cina, Urdu, dan Arab.
Sebagai pemancar gerilya, Radio Rimba Raya juga menyajikan acara pilihan pendengar dengan menghidangkan nyanyian-nyanyian rakyat yang dapat membakar semangat pejuang, bahkan merupakan satu-satunya sarana diplomasi politik Indonesia.

Kontak dengan India

Radio Rimba Raya setiap hari juga melakukan kontak dengan perwakilan Republik Indonesia di New Delhi, India. Berita-berita itu selain diterima langsung oleh petugas sandi perwakilan RI di New Delhi, juga dikutip oleh All India Radio dan seterusnya disampaikan ke alamat yang dituju.
Ketika Konferensi Asia tentang Indonesia digelar tanggal 20-23 Januari 1949 di New Delhi, jam kerja Radio Rimba Raya diperpanjang mengingat banyaknya berita yang harus dikirim ke wakil-wakil Indonesia yang menghadiri konferensi tersebut.

Akhir penyiaran

Radio ini terus berperan sampai saat pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintahan Belanda pada 27 Desember 1949 di Jakarta sebagai hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag.

Dimuseumkan

Perangkat tua radio Rimba Raya itu teronggok di salah satu sudut ruang Museum Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat Yogyakarta. Teregistrasi dengan No 60.607.318. Tertera sebuah keterangan pendek, “Pemancar hasil selundupan dari Malaya, digunakan oleh Pemerintah RI di Sumatera/Aceh 1948.” Sama sekali tidak ada keterangan lain tentang Radio Rimba Raya di museum itu. Ironi dan menyedihkan. Padahal, Radio Rimba Raya pernah menjadi penyelamat Indonesia, dan satu-satunya radio yang menyuarakan keberadaan Indonesia, setelah RRI Jogjakarta jatuh ke tangan Belanda pada 19 Desember 1948.[5]

Monumen peringatan

Monumen Radio Rimba Raya dibangun untuk mengenang sejarah Radio Rimba Raya yang berperan sangat besar dalam mempertahankan Indonesia dari agresi Belanda. Monumen ini diresmikan oleh Menteri Koperasi/Kepala Badan Urusan Logistik, Bustanil Arifin pada 27 Oktober 1987 pukul 10.30 WIB. Monumen tersebut terletak di Kmpung Rime Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah. Tugu ini selain menjadi tempat bersejarah juga menjadi salah satu obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi.[6]

Pengoperasionalan kembali

Sejak tahun 2008, Pemerintah Kabupaten Bener Meriah berupaya mengoperasionalkan kembali stasiun radio ini dengan membeli seperangkat alat penyiaran radio yang dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Bener Meriah sebesar Rp. 287.000.000,00[7].
Materi penyiaran yang direncanakan adalah informasi dan hiburan bagi masyarakat Bener Meriah dan sekitarnya. Bagaimanapun pelaksanaan penyiaran kembali radio ini mengalami beberapa hambatan, misalnya krisis listrik yang belum juga usai.

Pemfilman

Peristiwa heroik dan peran Radio Rimba Raya telah difilmkan dengan dibuatnya film dokumenter yang dibuat oleh Kanca Mara Production. Film ini berdurasi 90 menit, mengambil gambar dengan setting masa lalu di Kota Jakarta, Yogyakarta, Padang, Banda Aceh (Koetaradja), Kota Bireuen, dan Takengon.
Persiapan pembuatan film dokumenter Radio Rimba Raya memakan waktu dua tahun lebih yang didahului dengan riset dan mulai pengambilan gambar sejak tanggal 1 Agustus 2008. Film sejarah itu dibuat dengan format layar lebar dengan sistem suara stereo digital.[8]

Referensi

Pranala luar

sekarang ini sedang di buat film dokumenternya yang akan realase pada 2010 ini

Masa-Masa Awal Kemunculan Islam

Masa-Masa Awal Kemunculan Islam

GAYO Nusantara 28 April 2013.

Halo para pembaca semua akhirnya kita bertemu lagi di artikel kali ini. Selamat tahun baru buat para pembaca semua meski memang agak terlambat. Mudah-mudahan di era tahun 2012 ini kita dapat lebih maju di segala hal terutama masalah beribadah kepada Allah SWT.

Baiklah kali ini saya akan membahas tentang masa-masa pemerintahan Islam dahulu. Dimana pada artikel kali ini saya akan membahas tentang masa pemerintahan di masa Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya saya akan membahas sedikit tentang profil beliau.

Nabi Muhammad SAW dilahirkan di kota Mekkah, kota yang sangat terkenal di dunia hingga sampai saat ini menjadi tempat para umat Islam melaksanakan ibadah Haji hingga saat ini. Beliau lahir tahun 570 M dimana tahun itu bertepatan dengan kegagalan Abrahah, sang penguasa Yaman yang ingin menyerang Ka'bah akibat kemarahannya karena Gerejanya dicorat-coret oleh kotoran manusia yang setelah diselidiki adalah orang gila yang berasal dari Mekkah.

Hal inilah yang menyebabkan Abrahah menyerang kota Mekkah, tepatnya ingin menyerang Ka'bah, tempat peribadahan umat Islam untuk melaksanakan Haji. Abrahah datang dengan pasukan gajah lengkap dengan senjata yang canggih di masa itu. Abdul Muthalib (Kakek Muhammad) selaku ketua suku Quraisy yang letaknya berdekatan dengan Ka'bah memerintahkan semua suku Quraisy untuk mengungsi karena jika melawan pasukan Abrahah sama saja dengan menyerahkan nyawa. Abdul Muthalib berkata kepada semua penduduk "Segeralah cepat mengungsi. Kita tidak mungkin melawan pasukan Abrahah yang begitu banyak. Kita Serahkan saja kepada Tuhan yang menguasai Ka'bah ini"!

Ketika pasukan Abrahah sudah datang ke dekat Ka'bah beliau melihat tidak ada yang penduduk Quraisy yang memberikan perlawanan bahkan rumah-rumah mereka sudah kosong. Akhirnya Abrahah memerintahkan kepada tentara bergajahnya untuk segera menghancurkan Ka'bah. Tetapi anehnya gajah-gajah Abrahah tidak mau melaksanakan perintah itu. Mungkin gajah-gajah itu sudah mengetahui bahwa yang diperintahkan Abrahah adalah perbuatan yang sangat jahat. Saking geramnya dengan gajah-gajahnya yang tidak mau menurut kepadanya, Abrahah memukul gajahnya dengan pentungan. Tentu saja gajahnya berteriak dan melemparkan Abrahah dengan belalainya ke tanah. Untungnya Abrahah hanya sedikit terluka. Abrahah pun semakin heran melihat kelakuan gajah-gajahnya.

Akhirnya sesuai dengan bunyi Al-Fiil ayat 1-6, datanglah burung-burung Ababil yang membawa batu-batu yang terbakar kemudian dilemparkan ke atas mereka. Tentu saja mereka terluka bahkan lama-lama satu persatu pasukan Abrahah mati. Abrahah yang menyaksikan kejadian itu segera lari dari tempat kejadian dengan kondisi terluka namun terlambat beliau dilempari terus hingga tewas dalam perjalanan pulang ke Yaman. Tidak ada yang selamat dalam kejadian itu.

Setelah pasukan Abrahah tewas semua. Kembalilah pengungsi-pengungsi Quraisy ke kampung halamannya dan melihat pasukan-pasukan Abrahah yang tewas. Dan semua penduduk heran terutama Abdul Muthalib yang menyaksikan Ka'bah tetap kokoh berdiri. Dia pun berkata, "Ini semua berkat dari Tuhan pemilik Ka'bah ini yang melindungi Ka'bahnya sehingga tetap berdiri dengan kokoh"! Lalu penduduk Quraisy mulai membersihkan mayat-mayat tentara Abrahah. Beberapa lama kemudian lahirlah Muhammad pada tanggal 20 April 570 M (meski ini tanggal yang belum pasti). Tetapi sayangnya sang ayah, Abdullah meninggal ketika Muhammad masih dalam kandungan ketika melakukan perjalanan dagang di Madinah, yang dulu bernama Yatsrib.

Setelah berumur 6 tahun ibunya, Aminah mengajak Muhammad untuk mengunjungi keluarganya serta makam Ayahnya di Yatsrib. Sekembalinya pulang ke Mekkah, dalam perjalanan Ibunya Aminah menderita sakit dan beberapa hari kemudian meninggal di desa 'Abwa yang terletak tidak jauh dari Yatsrib. Akhirnya beliau diasuh oleh kakeknya sekaligus kepala suku Quraisy, Abdul Muthalib. Seiring berjalan waktu umur kakenya semakin lanjut dan kakeknya memerintahkan paman Muhammad, Abu Thalib untuk mengasuh dan melindungi Muhammad dari segala macam bahaya. Tidak berapa lama kemudian kakeknya pun meninggal. Akhirnya segala tanggung jawab Muhammad menjadi tanggungan Abu Thalib, sang Paman.

Setelah itu, Muhammad disuruh untuk menggembalakan kambing-kambingnya di sekitar Mekkah dan juga selalu menemani Pamannya pergi berdagang ke negeri Syam (Suriah, Lebanon, Palestina). Setelah beberapa kali ikut dalam perjalanan dagang, Abu Thalib beserta Muhammad bertemu dengan seorang pendeta Kristen bernama Bushra yang masih memegang kitab Injil yang asli. Dia melihat Muhammad dengan perasaan heran, sebab ciri-ciri Muhammad sangat cocok dengan kisah Nabi terakhir dalam kitab Injilnya yang masih asli tersebut. Beliau pun berbicara dengan Abu Thalib agar segera membawa pulang anak ini karena dikhawatirkan orang-orang Yahudi akan membunuh anak ini sebab mereka sedang mencari-cari Nabi terakhir yang dikabarkan dalam Injil yang asli berasal dari bangsa Arab. Mereka kesal karena Nabi terakhir tersebut bukan dari bangsa mereka. Itulah sampai sekarang orang Yahudi selalu memusuhi Islam.

Setelah kejadian itu, Abu Thalib bertambah senang kepada Muhammad dan membawanya kembali pulang ke Mekkah. Setelah menjadi remaja dan mulai beranjak dewasa beliau mempelajari ilmu bela diri dan kemampuan memanah dan berkuda. Begitu juga dengan keterampilan beliau dalam hal berdagang. Hal inilah yang membuat kemampuan dagangnya semakin bertambah dan kejujurannya dalam berdagang. Akhirnya Muhammad pun dipercaya menjadi seorang agen penjual perantara barang dagangan penduduk Mekkah

Akhirnya kejujuran beliau pun diketahui oleh seorang Janda kaya yang bernama Khadijah. Sebagai seorang pedagang, ia juga sering mengirimkan barang dagangan ke seluruh pelosok Arab. Reputasi Muhammad yang baik menjadikan Khadijag untuk mempercayakan barang dagangannya untuk dijual dan dijanjikan akan dibayar dua kali lipat. Khadijah pun sangat gembira melihat Muhammad pulang dengan hasil dagang yang lebih dari yang biasanya.

Seiring waktu Muhammad akhirnya jatuh cinta kepada Khadijah, pada waktu itu berumur umur Muhammad berusia 25 tahun sedangkan Khadijah berumur 40 tahun tetapi kecantikan Khadijah masih memika Muhammad. Akhirnya mereka menikah meski perbedaan umur dan status yang jauh tetapi tidak menjadi halangan bagi mereka untuk melangsungkan pernikahan. Tentu saja sejak menikah dengan Khadijah, kekayaan Muhammad menjadi semakin bertambah. Tetapi Muhammad tetap hidup sederhana. Ia menggunakan hartanya untuk hal-hal yang penting saja.

Ketika Muhammad berusia 35 tahun, banjir besar melanda Ka'bah dan akibatnya Hajar Aswad pun lepas dari tempatnya. Pada saat itu pemuka-pemuka Quraisy berdebat tentang siapa yang meletakkan Hajar Aswad itu ke tempatnya kembali. Muhammad datang dan mengatakan, "Lebih baik kita putuskan barang siapa yang duluan datang ke Masjidil Haram, maka dialah yang berhak meletakkan Hajar Aswad itu kembali. Setelah dilaksanakan ternyata Muhammad juga yang pertama kali datang ke Masjidil Haram. Akhirnya para pemuka Quraisy menyerah dan menyerahkan peletakan Hajar Aswad kepada Muhammad.

Namun Muhammad tetap bersikap bijaksana. Beliau mengeluarkan sorbannya dan memerintahkan para pemuka Quraisy agar memgang tiap-tiap sudut sorbannya dan Hajar Aswad diletakkan di tengah. Muhammad lalu mengangkat Hajar Aswad tersebut dan menaruhnya kembali ke tempat asalnya. Para pemuka Quraisy akhirnya tersenyum lega dan sangat puas dengan kebijakan Muhammad. Beliau pun dijuluki Al-Amin artinya "orang yang dapat dipercaya".


Pada umur 40 tahun, Muhammad diangkat menjadi Nabi yang terakhir pada tanggal 17 Ramadhan/6Agustus 611 M. Dikisahkan penurunan wahyu kepada Rasulullah terjadi ketika beliau sedang bertapa di Gua Hira Peristiwa pengangkatan sebagai Nabi sekaligus juga sebagai penurunan Alqur'an pertama yaitu Al 'Alaq 1-5. Setelah menerima wahyu tersebut, beliau pun langsung pulang ke rumah. Sesampai di rumah badannya langsung panas-dingin akibat menerima wahyu tersebut. Dan oleh istrinya, Khadijah langsung diselimuti suaminya yang tampak sangat pucat tersebut. Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Muhammad untuk menemui saudara sepupunya yang juga beragama Nasrani, Waraqah bin Naufal. Waraqah banyak mengetahui nubuat Nabi terkahir dari kitab suci Agama Nasrani dan Yahudi yang masih asli.

Setelah mendengar berita dari Waraqah, Muhammad beserta istrinya, Khadijah mengucapkan terima kasih dan pulang ke rumah.

Setelah itu, Muhammad dengan secara sembunyi-sembunyi mulai mengajarkan agama Islam yang diwahyukan kepadanya. Orang-orang yang pertama kali mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW diantaranya adalah : Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar Ash Shiddiq, Bilal bin Rabah, Zaid bin Haritsah dan juga Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW juga. Pada waktu pengikutnya masih sedikit, Rasullullah dan para pengikutnya setiap malam berkumpul di rumah Arqam.

Ketika pada awal tahun 613 M, barulah Nabi Muhammad SAW menyiarkan agama Islam secara terang-terangan karena Umar bin Khattab, (pada waktu itu baru masuk Islam) langsung menyuruh Muhammad untuk menyiarkan agama Islam secara terang-terangan. Hal ini dapat dimaklumi karena Umar bin Khattab di masa dulunya dijuluki "Singa Padang Pasir" oleh karena sifatnya sangat keras, tegas dan tidak takut terhadap siapapun. Karena terus didesak oleh Umar dan Hamzah, akhirnya beliau pun bersedia untuk menyebarkan agama Islam secara terang-terangan.

Berbagai reaksi dari masyarakat Quraisy muncul. Ada yang senang dan ada yang tidak senang. Yang masuk Islam pada waktu itu adalah tokoh-tokoh besar seperti : Abdurrahman bin Auf, Ubaidah bin Harits, Ustman bin Affan dan lain-lain. Tetapi tokoh-tokoh yang tidak senang dengan ajaran tersebut seperti Umayyah bin Khalaf yang menyiks Bilal bin Rabah, budaknya karena masuk Islam. Bilal pun akhirnya dimerdekakan oleh Abu Bakar. Serta Abu Jahal dan paman Muhammad juga, Abu Lahab dan tokoh Quraisy lainnya, seperti Abu Sufyan. Mereka-mereka inilah yang selalu menindas umat Islam bahkan Nabi Muhammad pun hampir saja dibunuh. Namun Allah mengetahui rencan itu dan menyelamatkan Nabi Muhammad.

Meskipun mendapat perlakuan yang semena-mena dari kaum Quraisy tetapi pengikut Muhammad semakin banyak saja. Pengikutnya menyebarkan agama Islam melalui perdagangan ke Syam, Persia. Banyak yang datang langsung ke Mekkah dan Madinah (kota hijrah Muhammad dan pengikutnya) untuk mengetahui ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW. Salah satu pengikut Muhammad berasal dari Persia, yaitu seorang Ilmuwan bernama Salman Al-Farisi yang kemudian menjadi sahabat Muhammad SAW.

Karena penyiksaan kepada Muhammad dan para pengikutnya semakin menjadi-jadi, turunlah wahyu kepada Muhammad untuk berhijrah dari kota Mekkah. Banyak pengikut Islam berhijrah ke Habsyah (sekarang Ethiopia) karena Raja waktu itu, Negus mempersilahkan untuk berhijrah ke negaranya dan akan melindunginya. Muhammad pun pada tahun 622 hijrah ke Yatsrib (sekarang Madinah) dengan pengikutnya yang dari Mekkah maupun dari Habsyah.

Demikian yang dapat saya ceritakan. Mohon maaf bila ada kesalahan kata-kata Segala kritik silahkan beri komentar di bawah ini. Terima Kasih

GAYO Nusantara.

Kerajaan Kutai


Kerajaan Kutai

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Salah satu yupa dengan inskripsi, kini di Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta.
Artikel ini bagian dari seri
Sejarah Indonesia
Sejarah Indonesia .png
Lihat pula:
Garis waktu sejarah Indonesia
Sejarah Nusantara
Prasejarah
Kerajaan Hindu-Buddha
Kutai (abad ke-4)
Tarumanagara (358–669)
Kalingga (abad ke-6 sampai ke-7)
Sriwijaya (abad ke-7 sampai ke-13)
Sailendra (abad ke-8 sampai ke-9)
Kerajaan Medang (752–1006)
Kerajaan Kahuripan (1006–1045)
Kerajaan Sunda (932–1579)
Kediri (1045–1221)
Dharmasraya (abad ke-12 sampai ke-14)
Singhasari (1222–1292)
Majapahit (1293–1500)
Malayapura (abad ke-14 sampai ke-15)
Kerajaan Islam
Penyebaran Islam (1200-1600)
Kesultanan Samudera Pasai (1267-1521)
Kesultanan Ternate (1257–sekarang)
Kerajaan Pagaruyung (1500-1825)
Kesultanan Malaka (1400–1511)
Kerajaan Inderapura (1500-1792)
Kesultanan Demak (1475–1548)
Kesultanan Aceh (1496–1903)
Kesultanan Banten (1527–1813)
Kesultanan Cirebon (1552 - 1677)
Kesultanan Mataram (1588—1681)
Kesultanan Siak (1723-1945)
Kerajaan Kristen
Kerajaan Larantuka (1600-1904)
Kolonialisme bangsa Eropa
Portugis (1512–1850)
VOC (1602-1800)
Belanda (1800–1942)
Kemunculan Indonesia
Kebangkitan Nasional (1899-1942)
Pendudukan Jepang (1942–1945)
Revolusi nasional (1945–1950)
Indonesia Merdeka
Orde Lama (1950–1959)
Demokrasi Terpimpin (1959–1965)
Masa Transisi (1965–1966)
Orde Baru (1966–1998)
Era Reformasi (1998–sekarang)
Kutai Martadipura adalah kerajaan bercorak Hindu di Nusantara yang memiliki bukti sejarah tertua. Berdiri sekitar abad ke-4. Kerajaan ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur, tepatnya di hulu sungai Mahakam.[1][2] Nama Kutai diberikan oleh para ahli mengambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menunjukkan eksistensi kerajaan tersebut. Tidak ada prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini dan memang sangat sedikit informasi yang dapat diperoleh.

Daftar isi

Sejarah

Yupa

Prasasti Kerajaan Kutai
Informasi yang ada diperoleh dari Yupa / prasasti dalam upacara pengorbanan yang berasal dari abad ke-4. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai. Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan yang dibuat oleh para brahman atas kedermawanan raja Mulawarman. Dalam agama hindu sapi tidak disembelih seperti kurban yang dilakukan umat islam. Dari salah satu yupa tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan Kutai saat itu adalah Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena kedermawanannya menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana. Dapat diketahui bahwa menurut Buku Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno yang ditulis oleh Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto yang diterbitkan oleh Balai Pustaka halaman 36, transliterasi prasasti diatas adalah sebagai berikut:
“ śrīmatah śrī-narendrasya; kuṇḍuṅgasya mahātmanaḥ; putro śvavarmmo vikhyātah; vaṅśakarttā yathāṅśumān; tasya putrā mahātmānaḥ; trayas traya ivāgnayaḥ; teṣān trayāṇām pravaraḥ; tapo-bala-damānvitaḥ; śrī mūlavarmmā rājendro; yaṣṭvā bahusuvarṇnakam; tasya yajñasya yūpo ‘yam; dvijendrais samprakalpitaḥ.
”
Artinya:
“ Sang Mahārāja Kundungga, yang amat mulia, mempunyai putra yang mashur, Sang Aśwawarmman namanya, yang seperti Angśuman (dewa Matahari) menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aśwawarmman mempunyai putra tiga, seperti api (yang suci). Yang terkemuka dari ketiga putra itu ialah Sang Mūlawarmman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Sang Mūlawarmman telah mengadakan kenduri (selamatan yang dinamakan) emas-amat-banyak. Untuk peringatan kenduri (selamatan) itulah tugu batu ini didirikan oleh para brahmana.
”

Mulawarman

Mulawarman adalah anak Aswawarman dan cucu Kundungga. Nama Mulawarman dan Aswawarman sangat kental dengan pengaruh bahasa Sanskerta bila dilihat dari cara penulisannya. Kundungga adalah pembesar dari Kerajaan Campa (Kamboja) yang datang ke Indonesia. Kundungga sendiri diduga belum menganut agama Budha.

Aswawarman

Aswawarman adalah Anak Raja Kudungga.Ia juga diketahui sebagai pendiri dinasti Kerajaan Kutai sehingga diberi gelar Wangsakerta, yang artinya pembentuk keluarga. Aswawarman memiliki 3 orang putera, dan salah satunya adalah Mulawarman.
Putra Aswawarman adalah Mulawarman. Dari yupa diketahui bahwa pada masa pemerintahan Mulawarman, Kerajaan Kutai mengalami masa keemasan. Wilayah kekuasaannya meliputi hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur. Rakyat Kutai hidup sejahtera dan makmur.
Kerajaan Kutai seakan-akan tak tampak lagi oleh dunia luar karena kurangnya komunikasi dengan pihak asing, hingga sangat sedikit yang mendengar namanya.

Berakhir

Kerajaan Kutai berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu ibukota di Kutai Lama (Tanjung Kute).
Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam. Sejak tahun 1735 kerajaan Kutai Kartanegara yang semula rajanya bergelar Pangeran berubah menjadi bergelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris) dan hingga sekarang disebut Kesultanan Kutai Kartanegara.

Nama-Nama Raja Kutai

Peta Kecamatan Muara Kaman
  1. Maharaja Kudungga, gelar anumerta Dewawarman (pendiri)
  2. Maharaja Aswawarman (anak Kundungga)
  3. Maharaja Mulawarman (anak Aswawarman)
  4. Maharaja Marawijaya Warman
  5. Maharaja Gajayana Warman
  6. Maharaja Tungga Warman
  7. Maharaja Jayanaga Warman
  8. Maharaja Nalasinga Warman
  9. Maharaja Nala Parana Tungga
  10. Maharaja Gadingga Warman Dewa
  11. Maharaja Indra Warman Dewa
  12. Maharaja Sangga Warman Dewa
  13. Maharaja Candrawarman
  14. Maharaja Sri Langka Dewa
  15. Maharaja Guna Parana Dewa
  16. Maharaja Wijaya Warman
  17. Maharaja Sri Aji Dewa
  18. Maharaja Mulia Putera
  19. Maharaja Nala Pandita
  20. Maharaja Indra Paruta Dewa
  21. Maharaja Dharma Setia

Lain-lain

Nama Maharaja Kundungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan sebagai nama asli orang Indonesia yang belum terpengaruh dengan nama budaya India. Sementara putranya yang bernama Asmawarman diduga telah terpengaruh budaya Hindu. Hal ini di dasarkan pada kenyataan bahwa kata Warman berasal dari bahasa Sanskerta. Kata itu biasanya digunakan untuk ahkiran nama-nama masyarakat atau penduduk India bagian Selatan.

Pranala luar

Catatan kaki